Yang Melukai Halimunda, Kerabat Macondo Itu
Oleh: Berto TukanSumber: Kecoa Merah

Tentu judul di atas akan mengingatkan anda pada dua novel tebal yang sempat menarik perhatian para penikmat sastra dan buku itu. Ya benar! Macondo adalah sebuah kota imajiner dalam Seratus Tahun Kesunyian (STK) karya Gabriel Garcia Marquez dan Cantik Itu Luka bold (CIL) karya Eka Kurniawan berkisah di Halimunda. Tentu sudah sering kedua tempat ini dan kedua karya ini dibahas dalam berbagai kaca mata pembacaan. Karya sastra memang tak pernah bisa habis untuk dibahas. Lihatlah Layar Terkembang, Romeo dan Juliet, atau Madame Bovary. Apakah ketiganya sudah bosan diperbincangkan? Menurut hemat saya tidak. Kreatifitas pengarang bisa dipandang sebagai kerja tanpa sadar untuk mengungkapkan sesuatu yang tidak disadari pula. Jadi, karya sastra mengungkapkan sesuatu yang tak disadari dalam keadaan yang tak sadar (Kutha Ratna, 2008). Di sinilah peran pembacaan atas karya sastra nampak; mencari yang tak disadari sebagai hasil kerja yang tanpa sadar pula. Maka, setiap pembacaan dengan kaca mata pembacaannya masing-masing sangat mungkin mengungkapkan ketidak sadaran-ketidak sadaran yang berbeda-beda. Sama dengan hasil pembacaan saya atas STK dan CIL yang berkelindan-bersetubuh dengan hasil pembacaan saya atas hasil pembacaan-pembacaan terhadap STK dan CIL lainnya yang terkristalkan dalam tulisan ini; mencoba mengungkapkan sesuatu yang (mungkin) tak terungkap.
Baca selengkapnya …
Bi wa Kizu and the Image of Cultural Globalization in Contemporary Japan
(A Case Study of an Indonesian Novel Translation)
Oleh: Indah S. PratidinaSumber: ispdina.blogspot.com

Photo by ahisgett, Some rights reserved.
Japan’s role in globalizing Asia has been widely recognized. Ever since the 1990’s, Japan has been exporting waves of it’s cultural products such as anime or animated films, television dramas, music, manga or comics, novels, and so on. These spreads of cultural products across the borders of Asia have sprung new hope for Japan’s relationship with other Asian countries. Through the consumption of Japan’s cultural products, it can promote cultural dialogue, and hopefully Japan can overcome its unfortunate history with the rest of Asia, especially regarding to the World War II.
However, globalization not only demands an integration of cultural diversity in the global community. It also reflects peoples’ (nations’) needs to develop a strong self or cultural identity (ies). In this light, one can see that Japan is not only an exporter of media. Rather, Japan has also been receiving various media from other Asian countries; such as Korea with its television dramas.
Baca selengkapnya …
Cantik Itu Luka Sebuah Terobosan Literer
Oleh: Titon RahmawanSumber: langitkubiru.blogspot.com

Foto oleh venkane, Some rights reserved.
Bagi saya, “Cantik Itu Luka” karya Eka Kurniawan adalah merupakan sebuah terobosan literer di dalam khazanah sastra Indonesia. Cukup lama saya merasa tak mendapatkan kepuasan optimum setiap kali selesai membaca sejumlah novel-novel karya penulis asli Indonesia, yaitu semenjak terakhir kali saya membaca “Olenka” karya Budi Darma. Dan baru kali ini saya memperoleh kembali kenikmatan itu, setelah saya menyelesaikan pembacaan saya yang kedua kalinya atas “Cantik Itu Luka.”
Baca selengkapnya …
Novel “Cantik itu Luka” – Eka Kurniawan
Oleh: Wannofri Samry
Foto oleh: piccadillywilson, Some rights reserved.
Novel Cantik Itu Luka (2004) karya Eka Kurniawan bercerita mengenai keluarga besar Ted Stamler, seorang Belanda yang malang-melintang bekerja sebagai pejabat di akhir masa kolonial Belanda di Halimunda. Tempat itu adalah sebuah kota yang dilukiskan pengarang sebagai tempat menarik, penuh mitos dan begitu penting di ujung masa kolonial.
Tokoh sentral dalam novel ini adalah Dewi Ayu, anak Aneu Stamler atau cucu Ted Stamler. Dewi Ayu adalah anak perkawinan luar nikah dari dua bersaudara lain ibu. Namun kedua orang tua Dewi Ayu, Henri Stamler dan Anue Stamler meninggalkan Dewi Ayu begitu saja di depan pintu rumahnya dan mereka pergi angkat kaki ke negeri Belanda. Inilah awal kisahnya.
Baca selengkapnya …
Dua Novel Pembunuh Bapak
Oleh: Aquarini Priyatna Prabasmoro
Foto oleh giopuo, Some rights reserved.
Dua novel Eka Kurniawan Cantik itu Luka (2002) dan Lelaki Harimau (2004) telah saya baca sambil mengingat Freud dengan cerita terkenalnya yang dinamai psikoanalisis. Untuk menjadi diri sejati, demikian kata Freud dalam cerita itu, seorang anak harus melepaskan diri dari ibunya, dari tubuh ibunya. Seorang anak laki-laki yang menjatuhkan objek cinta pertamanya pada ibunya harus melepaskan ibunya karena takut bersaing dengan bapaknya yang mengancam akan memenggal penisnya. Dalam cerita ini, jika kemudian si anak tumbuh normal, dia akan mencari dan mendapatkan perempuan pengganti ibunya.
Baca selengkapnya …
Cantik itu Luka: Sebuah Catatan Perjalanan
Oleh: Nenie Muhidin, On/Off, 12/2003
Foto oleh ribena_wrath, Some rights reserved.
Jumat, 10 Januari 2003, lepas Isya.
Pertama kali dia menyapaku dengan “Harusnya bisa”. Datar dia mengucap itu padaku sambil sedikit tersenyum. Tidak ngakak dengan gigi-gigi putih yang bersih. Itu dia ucapkan karena sebelumnya aku sempat ngomong “Mudah-mudahan kawan-kawan di Bandung bisa bekerja sama”. Ini soal rencana awak ON/OFF launching ke Bandung. Ini soal tawaran dariku untuk mungkin bisa bekerja sama dengan beberapa komunitas sastra di Bandung yang kebetulan aku kenal. Waktu itu aku ngobrol soal toko buku kecil, Tarlen dan Klab Baca.
Baca selengkapnya …
Menulis Sejarah, Membangkitkan Tokoh dari Kubur
(Realisme Magis dalam Novel ‘Cantik itu Luka’)
Oleh: Alex SupartonoSumber: Kompas

Foto oleh T. Keller, Some rights reserved.
Dengan judul Cantik Itu Luka (CIL) dan desain sampul yang tidak memadai, kesan pertama yang muncul pada novel karya Eka Kurniawan ini adalah murahan. Namun demikian, kesan ini dengan cepat akan terbantah bila melihat ketebalannya. Novel debutan ini bahkan disebut-sebut sebagai yang terpanjang yang pernah ditulis dalam bahasa Indonesia, mengalahkan Arus Balik (1995) karya Pramoedya Ananta Toer. Sedangkan dari usianya, Eka Kurniawan (1974- ) juga menggetarkan nyali para penulis kawakan yang hanya sibuk mengais karya lama untuk dijadikan antologi. Ketebalan memang tidak berbanding lurus dengan kualitas, namun kerja keras bagaimanapun juga layak mendapat penghargaan yang memadai.
Baca selengkapnya …
Pascakolonialitas dalam Novel Cantik itu Luka
(Tetapi Kutukanku akan Terus Berjalan)
Oleh: Katrin BandelSumber: Meja Budaya

Foto oleh INTVGene, Some rights reserved.
Dalam eseinya “Air Bah dalam Novel ‘Cantik itu Luka’” di Media Indonesia 2 Maret 2003, tampak jelas kebingungan Maman S. Mahayana dalam menghadapi karya Eka Kurniawan itu. “Estetika model mana yang hendak dimainkan Eka Kurniawan dalam Cantik itu Luka?” tanyanya. Novel Eka itu bukan karya realis seperti karya Pramoedya Ananta Toer misalnya, tapi juga bukan karya eksperimental gaya Iwan Simatupang atau Putu Wijaya. Jadi karya apakah Cantik Itu Luka, dan di mana posisinya dalam peta sastra Indonesia?
Baca selengkapnya …
Pelacur Dibayar Uang, Istri Dibayar Cinta
Oleh: Raudal Tanjung Banua
Foto oleh gotplaid?, Some rights reserved.
Membaca novel “Cantik Itu Luka” karya Eka Kurniawan (Aky Press-Jendela, 2003) kita akan bersua cinta membara di antara tokoh-tokohnya. Di tengah ”kegilaan” nilai-nilai seperti pelacuran, perselingkuhan, perang, pembanditan, dan kekuasaan, cinta menjadi sangat esensial, baik bagi ”muatan moral” – kalau memang pertanggungjawaban kepada publik pembaca masih mempertimbangkan unsur ini – maupun bagi jalan cerita secara keseluruhan.
Ya, karena cinta, sebuah ungkapan tanpa tedeng aling-aling mengalir dari kalimat Eka: ”Pelacur dibayar pakai uang, istri dibayar dengan cinta!”
Baca selengkapnya …
