Lelaki dan Rumah
Aibkah bagi seorang lelaki dewasa untuk terus tinggal di rumah orang tua? Bagi kebanyakan orang mungkin iya. Lelaki semacam itu bisa dianggap kurang macho. Tidak maskulin. Bahkan beberapa tradisi (Minang, misalnya), seperti mewajibkan lelaki untuk keluar rumah bahkan di usia yang sangat muda. Lelaki harus pergi dari rumah, hingga kelak boleh kembali untuk menguasai rumah. Dari manakah sebenarnya stereotif semacam itu berawal?
Pikiran tentang rumah, tentang pergi dari rumah dan kembali untuk menguasai rumah, barangkali sudah ada dalam pikiran asali manusia. Kisah jatuhnya Adam dari surga bisa juga dibayangkan sebagai simbol pergi dari rumah. Di rumah bernama surga itu, Adam tinggal bersama keluarga besarnya: Sang Pencipta, Iblis, Malaikat, benda-benda yang telah diberi nama, dan kemudian Hawa. Di usia yang disimbolkan sebagai dewasa, Adam diusir dari rumah, tapi tentu dengan sebuah janji: jika sudah tiba waktunya, jika misinya sudah berhasil, ia boleh kembali ke rumah. Kembali ke surga. Kembali ke pelukan keluarga.
Membaca “Sekali Peristiwa di Banten Selatan”
Barangkali disebabkan kecenderungan politik dan ideologinya, serta plot yang cenderung didaktis, novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan sering dikesampingkan para pengamat karya Pramoedya Ananta Toer, jika tidak dianggap karyanya yang paling tidak berhasil.
A. Teeuw dalam Citra Manusia Indonesia dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer, hanya membahas novel ini dalam sub bab pendek dibandingkan bahasan atas karya Pramoedya yang lain. A. Teeuw, misalnya menulis: “Watak-watak semuanya digambar dengan warna hitam-putih, latarnya sangat konvensional.” Benar bahwa karakter di novel ini tidak penuh warna sebagaimana kita temukan dalam novel-novel puncak Pramoedya, tapi mengatakannya sebagai hitam-putih tentu penyederhanaan berlebihan. Tokoh Juragan Musa, sang antagonis, bisa menjadi contoh yang menarik. Baca selengkapnya …
Identitas Film Asia
Majalah Time Asia, salah satunya memilih Akira Kurosawa sebagai bagian dari daftar “60 Years of Asian Hero”. Pertama-tama, tentu saja yang dimaksud adalah tokoh-tokoh Asia, berdarah Asia. Dalam daftar ini, juga terdapat animator ulung Jepang Hayao Miyajaki (sutradara Spirit Away), serta aktor Cina, Gong Li. Artikel mengenai Kurosawa di majalah itu dibuka dengan kalimat pembuka bahwa selama ini dunia tak mengenal kebudayaan Jepang selain beberapa patah kata serupa “harakiri” atau “sayonara”, hingga sebuah film Jepang memenangkan hadiah tertinggi di Festival Film Vanice: Rashomon karya Akira Kurosawa.
Dari ungkapan itu seperti jelas bahwa Rashomon dan Akira Kurosawa merupakan representasi kulutural Jepang, bahkan mungkin Asia.
Baca selengkapnya …
Tetralogi Buru dan Novel ‘Modern’
Tetralogi Buru bisa dibilang merupakan satu upaya Pramoedya Ananta Toer untuk menjawab apa itu menjadi Indonesia. Di akhir tahun 50an, ketika perkara menjadi Indonesia sedang hangat, jika tak bisa dikatakan panas, ia mulai memikirkan satu seri novel yang bisa mencari dan melacak jejak-jejak nasionalisme Indonesia.
Jawaban Pramoedya adalah kembali ke akhir abad 19 hingga awal abad 20. Itulah memang masa subur benih-benih nasionalisme Indonesia mulai disemai dan bertunas. Dalam hal ini, Pramoedya berhasil menemukan tokoh ideal anak kandung semangat ini: Tirto Adhi Soerjo. Bukan politikus yang kelak menjadi presiden pertama semacam Soekarno, atau aktivis kiri yang bergerak tanpa batas geografis semacam Tan Malaka, tapi seorang wartawan sekaligus penulis roman.
Baca selengkapnya …
Sebab Kode Adalah Puisi
Sekiranya Borges masih hidup, barangkali ia akan menjadi penulis paling getol on-line. Bagaimana tidak, banyak orang yang percaya, sebelum internet ditemukan, Borges telah “memimpikan” dunia internet dalam cerita-cerita pendeknya. Ingat perihal ensiklopedia yang disusun secara diam-diam oleh sekelompok orang sehingga menghasilkan dunia yang baru? Bukankah hal ini sekarang menjadi mungkin dengan perangkat lunak wiki sebagaimana dipergunakan di wikipedia.org? Atau perihal teks yang bisa merujuk ke teks lain tanpa batas? Sejak ditemukan internet, kita sudah mengenal “link”.
Terlepas dari impian Borges tersebut, tak terelakkan internet telah menjadi rujukan penting bagi kebanyakan orang, termasuk para penulis. Saya mempergunakan Google Book untuk membaca beberapa catatan perjalanan orang-orang Eropa yang datang ke Indonesia di masa kolonial, untuk satu riset tulisan fiksi saya, misalnya. Demikian pula Google Map, dengan teknologi citra satelit yang konon paling telat umurnya dua tahun ke belakang, kita bisa memastikan detail geografis satu tempat. Dalam hal ini, Anda bisa jauh lebih akurat daripada Karl May sekiranya mengisahkan kehidupan suku Indian tanpa pergi ke Amerika.
Baca selengkapnya …


