Bisakah “Hidup” dengan Menulis? Bisakah Hidup “Tanpa” Menulis?


(Update)


Yang saya maksud bukan pekerjaan yang penulisnya memperoleh upah bulanan dari perusahaan: katakanlah wartawan atau copy editor di perusahaan iklan. Yang saya maksud adalah, bisakah “hidup” hanya menjadi penulis tanpa terikat kepada perusahaan tertentu. Artinya, penulis bisa bekerja dimana saja, untuk siapa saja, dan bahkan, menulis apa yang disukainya saja — dan ia dibayar per tulisan yang dibuatnya?

Benar, ini sudah sangat sering ditanyakan. Saya akan mencoba menghitung-hitung (untuk ukuran Indonesia), juga sedikit membocorkan resep-resep yang dilakukan beberapa teman saya (yang memang bisa dikatakan sebagai “penulis penuh waktu”).

Pertama-tama, saya mengasumsikan menjadi penulis penuh waktu berarti enggan untuk hidup di ruang dan waktu tertentu (bekerja di kantor dari pukul 9 sampai 5 sore). Sering saya mendengar keluhan teman-teman (yang masih ngantor) bahwa mereka, “Tak punya waktu memadai untuk menulis.”

Tentu saja problem ini tidak berlaku untuk semua orang. Penulis seperti Kurnia Effendi, nyatanya bisa tetap produktif menulis sementara ia tetap bekerja (yang juga menyibukkan) di satu perusahaan otomotif. Tapi baiklah, kita asumsikan, berkonsentrasi penuh kepada penulisan barangkali jauh lebih baik daripada harus membagi perhatian dengan pekerjaan lain. Paling tidak itu berlaku bagi saya. Terakhir kali saya bekerja (kantoran) lebih dari dua tahun lalu sebagai editor naskah di satu rumah produksi. Ketika saya memutuskan untuk menulis novel baru, saya merasa membutuhkan waktu yang lebih luang: maka saya berhenti bekerja (kantoran).

1. Untuk Apa Menulis?

Pertama-tama, mari bertanya dulu: untuk apa saya menulis? Pertanyaan ini bisa diajukan untuk profesi apa pun. Kakek saya (ia baru saja meninggal belum lama ini), menanam padi untuk dimakannya sendiri (dibagi-bagikan ke keluarga anak-anaknya); sementara petani lain menanam padi untuk dijual. Tentu saja kakek saya tak mungkin berharap memperoleh penghasilan sebagaimana petani komersial (meskipun bisa saja salah satu anaknya mengirimi ia uang lebih banyak daripada seandainya beras yang ia hasilkan dijual ke cukong).

Begitu pula penulis: ada penulis yang memang menulis untuk mencari uang, di sisi lain ada penulis yang sama sekali tak memedulikan uang (saya menghindari kata “idealis”, sebab penulis yang menulis untuk mencari uang juga tidak bisa dikatakan “tidak idealis” — jujur saja, kata ini sangat rancu dan perlu dibedah aspek filosofisnya, hehehe). Berdasarkan maksudnya, tentu saja tulisan ini dimaksudkan untuk penulis yang ingin memperoleh penghasilan dari tulisannya.

2. Menjual Tulisan

Semua orang tahu, secara kasar, semakin banyak orang yang suka dengan karya seseorang, maka semakin besar kemungkinan ia memperoleh penghasilan. Ini hukum pasar yang sederhana saja.

Belajar dari para penjual yang baik, ada dua kemungkinan seorang penulis bisa menjual tulisannya.

Pertama: menulis apa yang sekiranya disukai oleh kebanyakan pembaca. Pergi ke toko buku dan cari buku yang best-seller. Atau baca surat kabar dan majalah, dan cari tahu tulisan seperti apa yang disukai surat kabar atau majalah tersebut. Artinya, penulis menyesuaikan “selera”nya dengan selera pasar (bisa pembeli buku atau redaktur, atau klien lain).

Kedua: Jika risih dengan pilihan pertama (meskipun bagi saya kualitas karya tak ada hubungannya dengan pilihan pertama atau kedua), alternatif lainnya adalah: menulis apa dan dengan cara yang disukai saja, tapi bikin pembaca menyukainya. Artinya, penulis berupaya membuat “selera” pembaca mengikuti “selera” penulis. Pilihan ini membutuhkan strategi pemasaran, tentu saja.

Tentu saja yang paling gampang adalah, jika “kebetulan” selera penulis dan pembaca umum sama. Yang ini anggap saja anugerah Tuhan!

3. Berapa?

Jika seorang penulis sudah memutuskan ia ingin memperoleh penghasilan dari tulisannya, juga sudah memilih apakah ia akan menyesuaikan selera tulisannya dengan selera pembaca atau membuat selera pembaca mengikuti seleranya, ia bisa mulai bertanya: berapa yang bisa ia peroleh dari tulisan? Beberapa teman saya yang masih pemula sering menanyakan hal ini, dan itu wajar sebab ia tak ingin penghasilannya tiba-tiba drop (maklum ia harus menghindari kemarahan istri dan kerewelan anak yang minta uang saku).

Sejauh ini, ada beberapa cara memperoleh uang dari tulisan yang sudah umum, dan penghasilan yang diperoleh juga tergantung dari hal itu:

Pertama, menulis buku. Pada umumnya, penghasilan dari penjualan buku untuk penulis adalah royalti sebesar 10% dari harga buku (bisa kurang bisa lebih, tergantung negosiasi). Bayangkan jika seorang menulis buku cerita yang sangat digemari: bukunya terjual katakanlah 15.000 kopi dengan harga Rp. 30.000,-. Itu artinya ia memperoleh Rp. 30.000 x 15.000 x 10% = Rp. 45.000.000. Jika ia menulis 2 buku setahun, penghasilannya Rp. 90.000.000 setahun (hayo, jangan lupa bayar pajak penghasilan). Penulis mestinya bisa memperkirakan secara kasar, kira-kira berapa banyak bukunya bisa terjual. Dengan cara itu, penulis juga bisa memperkirakan penghasilannya. Tidak bisa memperkirakan? Sebagai gambaran, buku puisi (dengan sedih harus saya katakan), barangkali hanya bisa terjual 1000 kopi (menurut yang saya dengar dari beberapa penerbit) dengan harga rata-rata tak lebih dari Rp. 20.000. Silakan menghitung sendiri.

Kedua, menulis untuk media massa. Secara umum, penghasilannya sangat tergantung dari medianya. Sebagai gambaran, honorarium tulisan di Kompas berkisar antara Rp. 500.000 hingga Rp. 2.000.000. Koran Tempo rata-rata Rp. 850.000. Majalah seperti Playboy membayar cerita pendek saya Rp. 2.000.000. Majalah Esquire dan Java Kini membayar tulisan Rp. 1.000.000. Tapi jangan dilupakan, masih ada surat kabar lokal yang barangkali hanya membayar tulisan Rp. 100.000. Katakanlah, kita membuat rata-rata setiap media membayar Rp. 500.000. Untuk memperoleh penghasilan Rp. 3.000.000 setiap bulan, seorang penulis hanya perlu menulis 6 tulisan per bulan. Ia bisa menulis cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, bahkan catatan perjalanan! Banyak hal bisa ditulis. Sebagai tambahan: bagi yang gemar makan, bisa menulis catatan kuliner. Bagi yang menyukai gossip, menulis tentang gaya hidup. Apa pun bisa ditulis, kan? Bahkan kalau menulis cerita bersambung, honornya bisa sekitar Rp. 200.000 per pemuatan (kalikan saja, jika dimuat selama 365 hari!) atau dibayar rata sebesar Rp. 10.000.000. Hmm …

Ketiga, menulis untuk televisi. Untuk penulis yang malas bekerja di kantor tapi tak keberatan dengan tekanan kerja dan jadwal deadline, menulis naskah untuk acara televisi bisa menjadi pilihan yang menyenangkan. Seperti sudah saya bilang, saya pernah bekerja sebagai editor naskah di satu rumah produksi, karena itu saya bisa dikatakan tahu penghasilan para penulis naskah televisi (tapi saya tak akan menyebut nama-nama penulisnya, sebab ini menyangkut rahasia dapur mereka). Honorarium dihitung per episode acara: untuk pemula barangkali Rp. 1.000.000 per episode, untuk yang sudah punya nama bisa sampai Rp. 10.000.000 (jangan lupa bayar pajak juga! hehe) per episode. Biasanya ini berlaku untuk sinetron. Hitung sendiri, jika sinetron itu ditayangkan per minggu! Hitung pula berapa jika sinetronnya ditayangkan 4 hari dalam satu minggu seperti sering terjadi sekarang-sekarang ini! Jangan heran kalau penghasilan penulis jauh melebihi penghasilan editornya, hehe.

Menulis untuk televisi tak hanya berarti menulis naskah sinetron. Hampir setiap acara pasti membutuhkan penulis. Saya sendiri pernah menulis naskah untuk acara jalan-jalan memperkenalkan produk. Lumayan, kerjanya jalan-jalan masuk ke toko-toko di mall. Naskahnya cuma satu halaman ketik. Honornya Rp. 1.000.000 per naskah. Lumayan, kan?

4. Beberapa Alternatif Lain

Kebanyakan penulis menggabungkan semua itu untuk menambah penghasilan mereka. Seorang teman penyair (nama tidak usah disebut, ya), yang barangkali tidak bisa mengharapkan royalti daru dua buku puisinya, menulis artikel di surat kabar paling tidak 5 kali dalam sebulan. Ia juga menjadi pembicara berbagai acara diskusi penulisan (honornya dari Rp 500.000 hingga Rp. 2.000.000) yang bisa dilakukannya paling tidak sekali sebulan.

Alternatif lain? Menjadi penulis hantu (ghost writer). Banyak public figur yang ingin menulis untuk menambah-nambah reputasinya. Kebanyakan dari mereka mungkin benar-benar tidak bisa menulis, beberapa di antaranya tak punya waktu untuk menulis. Mereka biasanya menyewa penulis hantu, yakni menyewa penulis untuk menulis atas nama si public figur. Bisa sekadar artikel untuk media massa, bisa pula menulis buku. Honornya tergantung negosiasi.

Dan jangan dilupakan kemungkinan untuk menulis naskah teater (saya belum pernah melakukannya, tapi lagi mau belajar dengan anak-anak Taeter Garasi), menulis lirik lagu, menulis press release (banyak perusahaan tak bisa menulis release dengan baik, juga tak memiliki kontak dengan media), atau menulis company profile. Ada juga kemungkinan memperoleh penghasilan tambahan jika karyamu meraih penghargaan (karya terbaik Khatulistiwa Literary Award mencapai Rp. 100.000.000). Atau cobalah mengirim aplikasi untuk residensi atau felowship (novel pertama saya, Cantik itu Luka, ditulis dengan grant dari Akademi Kebudayaan Yogyakarta).

5. Saya?

Saat ini saya penulis penuh waktu, dalam arti saya tak terikat dengan perusahaan apa pun dan sebagian besar waktu saya didedikasikan untuk menulis. Saya menulis buku, satu buku saya sudah diterjemahkan ke bahasa Jepang (ini bisa menjadi gambaran, selain cetak ulang, penerjemahan juga bisa melipatgandakan penghasilan penulis buku dari royalti — juga hitung seandainya novel diapdaptasi ke bentuk lain, misalnya film). Saya juga menulis untuk koran maupun majalah. Saya menjadi pembicara berbagai topik penulisan. Kadang saya menulis naskah untuk televisi. Saya juga kadang menjadi penulis hantu (saya menulis untuk orang lain tanpa menyebut nama saya). Oh ya, saya juga menulis blog (yang ini pro bono, hehe)!

Tapi saya harus jujur, tidak semua penghasilan saya berasal dari menulis. Saya juga memiliki proyek desain grafis, meskipun juga tidak terikat. Saya juga tak keberatan bekerja kantoran, tapi jika saya memerlukan waktu lebih luang (biasanya untuk proyek penulisan yang panjang seperti novel), saya berhenti dan mengurangi aktivitas yang lain.

Bagaimanapun, jika kamu punya pekerjaan yang menyenangkan (buatmu), mungkin ada baiknya tidak ditinggalkan. Kadang-kadang hal itu sangat membantu penulisan — paling tidak memberi perspektif yang lebih luas untuk tulisan. Gabriel Garcia Marquez seorang wartawan — kita bisa melihat pekerjaannya sebagai wartawan memberi pengaruh yang positif untuk karya-karya kreatifnya. Jorge Luis Borges penjaga perpustakaan — dan tanpa itu saya kira cerpen-cerpennya tak akan seperti yang kita kenal. Umberto Eco seorang dosen. Ahmad Tohari seorang pemimpin sebuah pesantren. Dewi Lestari (Dee), seorang penyanyi. Dan mereka tetap bisa menulis, bukan? Bagus pula!

Semoga kamu juga!!!

Update, 7 April 2008

Di atas semuanya, hal yang sebenarnya paling penting ditanyakan, terutama buat saya adalah: Bisakah hidup “tanpa” menulis?

Sila Baca Tulisan Lainnya:

Kategori: Penulisan · Kata kunci: , , , , · 56 Pesan · Ditayangkan: 26-03-2008 

Pesanmu

56 pesan untuk “Bisakah “Hidup” dengan Menulis? Bisakah Hidup “Tanpa” Menulis?”
  1. teguh ab says:

    saya sudah baca cerpen “pesan moral”. bagus sekali mas, bahasanya lancar sekali, tiba-tiba cerpen itu sudah selesai saya baca. padahal banyak cerpen di suara merdeka yang tidak kubaca sampai habis.
    salam kenal ya? aku tinggal di semarang, kenal juga dg triyanto. kumpulan cerpen la undercover apa dah terbit ya? syukur kalau aku bisa diberi he he..

    teguh ab:
    buku LA Underlover belum terbit. Mudah-mudahan pertengahan tahun ini terbit :)
    (ekakurniawan)

  2. wa2 c' dodol says:

    ka..foto di blognya g ada ya..masukin donk..yang mana az lah,,,

    wa2:
    maksudnya foto yg mana, sih? di blog-mu?

  3. Thanks for this complete info, mas.
    Help me a lot to think whether I will still work 9-to-5 or do full-time writing.

  4. roslan jomel says:

    Saya telah mengikuti siri cerpen yang ditulis mengambil negara Amerika Syarikat. Dari Pentafsir Kebahagiaan, Gerimis Yang Sederhana, Pesan Moral dan La Cage aux Folles. Kemudian saya dapat tahu bahawa kesemua cerpen itu akan diterbitkan dalam buku, seperti sudah Eka maklumkan sebelum ini.

    Jika tidak berhalangan, saya ingin membaca cerpen yang ke lima itu, sebagai pelengkap siri cerpen yang ditulis untuk projek La Underlover itu.

    Terima kasih.

  5. ekakurniawan says:

    roslan yang baik,
    Ya saya menulis lima cerpen yang bersetting Los Angeles – Amerika. Rencananya akan diterbitkan dalam satu buku bersama empat penulis lain. Keempat cerpen itu benar adanya: Penafsir Kebahagiaan dan Gerimis yang Sederhana ada di laman sriti.com, La Cage aux Folles dan Pesan Moral ada di blog ini. Cerpen kelima berjudul “Pelajaran Memelihara Burung Beo” sudah dipublikasikan di majalah Esquire Indonesia. Sayangnya, majalah itu belum on-line, jadi tak ada link. Tapi sekiranya ingin membaca, akan saya kirim via e-mail untuk dibaca pribadi saja. Semoga bisa menikmati.

  6. Giovanni says:

    gimana ya manggilnya, kalau Mas boleh khan?

    Mas Eka, saya adalah seorang yang baru mencoba menulis selama beberapa bulan terakhir, dan alhamdulliah, sampai sekarang sudah 3 cerpen saya “disimpan” Kompas (sebenarnya saya sedih karena menunggu bukanlah pekerjaan yang menyenangkan). beberapa di koran lain tanpa ada kejelasan, dan melalui email ini saya ingin berkorespondensi dengan Mas Eka, karena saya berkeinginan untuk menjadi seorang “penulis penuh waktu”, itupun jika Mas tidak berkeberatan, dan membaca email di atas dari roslan, saya tidak akan keberatan jika Mas Eka mengirimkan hal yang serupa pada saya, he-he-he

    PS: boleh minta alamat email media massa, karena saya pernah mencoba mengirim kr Suara Merdeka, namun email saya selalu gagal masuk atawa failure notice

    Di atas segalanya, terimakasih.

    Hi, Giovanni:
    kalau kamu menjelajahi blog ini, kamu enggak bakal kesulitan menemukan link cerpen-cerpen saya. Sila berbagi pengalaman penulisan melalui blog ini: saya juga biasanya ngobrol dengan teman-teman lain di blog ini mengenai penulisan atau hal2 yang lebih luas dari itu.

    untuk e-mail media massa, saya sendiri biasanya memakai alamat yang mereka sediakan. tak ada e-mail khusus. misalnya, untuk kompas di opini@kompas.com dan koran tempo di ktminggu@tempo.co.id. suara merdeka di swarasastra@yahoo.com. kalau bouncing mungkin perlu ditanyakan ke kantor redaksinya langsung.
    (ekakurniawan)

  7. salam kenal, mas eka kurniawan. saya baru dan sedang belajar menulis. nama sampeyan sdh lama kukenal lewat cerpen2 yang tersebar di berbagai media. minggu yang lalu kalo ndak salah cerpen mas eka juga dimuat di suara merdeka. dunia menulis kayaknya memang sudah bisa menjadi profesi, mas. banyak orang yang bisa hidup mapan dari dunia menulis. contoh yang pasti aja misalnya mas eka atau mbak ratih kumala. semoga peluang ini direspon oleh temen2 yang selama ini sudah memiliki pemikiran2 kreatif, tetapi selalu gagal ditulis. ok, mas eka, salam kreatif.

    sawali:
    mungkin keadaannya belum sebagaimana kami harapkan, tapi menulis tentu saja merupakan pekerjaan menyenangkan. dan itu saya pikir sangat berarti.
    (ekakurniawan)

  8. indrafx says:

    HEHEHHE minta juga dunkss krya nya mas ekaa ya mas yahhhhh…….
    masa g blehhhhh?? hehehhehe
    tak tunggu di email ini yoooo

  9. Wah dahsyat. Ka, iklanmu sudah keluar di tempatku. 1000 rupiah per klik ya! Wis teken kontrake. Tapi linknya ke toko buku mana? Masa ke blogmu. Kamu bikin kontrak sama toko buku online apa gitu, dan jangan lupa minta komisinya! SERIUSS!!!

  10. mufti says:

    Tanya mas, kalo karya yang dikirim ke koran/media massa, terus lama nggak muncul2 (dimuat) apa boleh dikirim ke koran lain? Sesekali saya liat puisi/cerpen di koran yang tanggal muat dan penulisannya berjerak jauh, itu penulisnya yang lama menyimpan sendiri atau redaksi koran yang tidak segera memuat? Terimakasih. :D

    mufti:
    biasanya kalo karya saya tidak dimuat melewati 3-4 bulan, saya menganggap tidak dimuat. dan biasanya memang begitu. saya biasanya memang mengirimkannya ke media lain, tapi biasanya saya simpan dulu saja. ada beberapa kemungkinan kenapa tanggal dan pemuatan berjarak jauh: pertama, mungkin memang ngendon di redaksi sangat lama (saya belum pernah ngalamin begini, tapi kemungkinannya ada. kalau sudah lewat tiga bulan dan kebetulan saya kenal editornya, saya lebih suka tanya saja, “cerpen saya mau dimuat apa enggak?”). kedua, ditulisnya lama, tapi dikirim ke media, baru saja. saya enggak pernah mencantumkan tanggal pembuatan karya (karena bagi saya itu membingungkan), tapi sebagai contoh, cerpen “kutukan dapur” saya buat sekitar dua tahun sebelum saya kirimkan ke media indonesia (dan dimuat sebulan kemudian). bisa juga satu cerpen dikirim ke satu media, ditolak, dikirim ke media lain, ditolak, begitu beberapa kali hingga akhirnya dimuat, dan mau-tidak-mau tanggal pembuatan dan pemuatannya pasti jauh juga.
    (ekakurniawan)

  11. zeni says:

    hai.. met kenal mas Eka,

    sudah lama saya ingin kenalan dg mas tapi blm sempat, saya bingung mulai dari mana?he..
    Memang saya blm pernah baca nvl mas eka, tapi saya suka baca tulisan mas di web ini.
    Jujur saya sangat suka menulis(hoby menulis) Tapi saya bingung mulai dari mana? saya ingin mempublikasikan tulisan saya, sempat saya coba ikutan lomba menulis novel. tapi blm pernh menang(tdk dipublikasikan) apa memang tulisan saya ini tidak layak muat?( tdk dinikmati pembacanya?) Padahal mimpi saya ingin jai seorang penulis. Bebas berekspresi. saya ingin kerja sbg penulis.
    Umur saya 21thn dan skrg bkrja di salah satu prushn. Jujur saya tidak menikmati pkrjaan saya, saya ingin menulis. tapi bagaimana caranya?
    Mungkin mas Eka punya saran utk saya, langkah pertama apa yang harus saya tempuh?

    senang sekali saya punya kesempatan berkenalan dengan mas Eka.

    Hi, Zeni:
    Kalau saya, belajar menulis hanya dengan cara membaca sebanyak mungkin dan menulis sesering mungkin. Atau kalau ini masih tidak membantu, cobalah membaca “Mengarang itu Gampang” karya Arswendo Atmowiloto. Mungkin buku itu berguna buatmu.

    Ada yang bisa nambahin?
    (ekakurniawan)

  12. sarastia says:

    mas eka,aku juga minta pelajaran burung beonya ya……..oh ya,aku dah beli lelaki harimau.dah baca mpe bagian marno mulai menyadari ada harimau putih di dirinya.iya sih,detinya dapat. tapi nggak touching untukku.he3.soalselera aja sihkayaknya.maksudku, tema harimau jadi2anmungkin lg gak kusuka.gak membuatku pingin tahu.padahal kan kisahmu ini, sudah menunjukkanpembunuhnya adalah marno yang di dlam tubuhnya ada harimau.ke belakang pastimenjelaskan bgm harimau putih bisa berada dlam tubuh marno dan motif2 marno kan?.dan aku gak tertarikdengan itu.gitu aja.intinya aku tidk sedang berkata bahwa ini jelek.tap[i soal selera aja.tapi benerlho,aku tu berharapbanyak padamu dan ugo, bisa memberi sesuatulah.segerrrrrrrrrrrrrr gituloh.tampaknyalelaki harimau yg dibilang arsukalebih licin dripada cantik ituluka masih jauh dari bayanganku tentang mas eka!padahalaku menemukanmu danmemilihmu diantara ratusanpenulis lain yg menurutku aduhhhhh,capek dechhhhhh.tu Puthut,Damhurimuhamad,dewi utari,linda,ucu,azhari.mungkinlaksmi pamuncak ya?tapi borjuis gitu!!!!!!!!!huuuuuuuuuuu!!!!!!!!!!!
    Diksi2di lelaki harimau masih berasapatah2 ya mas.belum bisa membangun suasana bahasa-bahwa masekasedang menejlaskan suasana tu sepertinya belumbisa menyentuh perasaan,beda malah dengan caronang waktu melukiskan secara singkat perjalanan diantara delta2 tu.krasa aroma perjalanannya.bahasamasih beku menurutku di novelmu yg kubaca ini. dan milih tema kayaknya kerja berat untukmu dah. semoga ilham yang cemerlangmenghampirimu seiring baby yang diamanatkan kepadamu.benar kan dahpunya baby?.selamat ya…
    salam biasa-biasaaja.he3.(Lelaki harimau mengecewakankusoalnya.Huh.Huh.Huh)

  13. ekakurniawan says:

    Buat yang mau baca “Pelajaran Memelihara Burung Beo”, saya akan coba men-scan dari edisi majalah Esquire dan menampilkannya di blog. Semoga dan terima kasih.

  14. zeni says:

    Met Pagi…mas Eka,

    Saya akan coba saran mas Eka,
    Saya cenderung bisa menulis fiksi enath itu cerpen atau novel. teman saya pernnah baca tulisan saya, dia bilang “ada baiknya kamu coba kirimkan tulisankamu”. Cuma aku bingung mesti ke mana? apa merekomendasikan ke penerbit? caranya?

    Klo lewat media masa seperti majalah kira2 majalah apa yang bisa menerima cerpen-cerpen. Pernah saya coba mengirimkan cerpen saya ke G atau A (red, salah satu majalah remaja yg ada di indonesia). Tapi tak pernah ada jawaban. jadi cerpen2 saya masih ada disana. Apa cerpen-cerpen yang tidak di muat itu masih saya bisa kirim ke redaksi lain?(karena mereka kan tak memuatnya!).
    O, iya.. Mas Eka lahir di Tsm ya? dari sunda juga dong… aku juga asli sana.
    Thanks ya.. mas eka atas sarannya.
    Aku jadi semangat lagi utk menulis… : )

  15. zeni says:

    Oya, aku mau menambahkan neh…

    Jujur ya mas ya, Tulisan mas di atas ungkapan ” Tak punya waktu memadai utk menulis” Itu aku rasakan sekarang mas. Memang aku bukan penulis. Tapi aku suka menulis. Cita2ku ingin jadi seorang penulis(tak kesampaian)he… Skrg aku krj di sbuah perushann yang menyitaku waktu. (g sempat menulis lagi).
    Padahal aku ingin sekali berkreasi…! Mungkin mulai sekarang aku harus pintar2 membagi wktu kali ya mas…( boleh minta email ga mas?) selain yang ini. Sya pgn crita( off air)he…

  16. Richard Oh says:

    Ketika seseorang memutuskan untuk hidup sebagai penulis, secara otomatis dia memutuskan untuk hidup dalam dunia pemikiran dan penciptaan. Apa pun yang dilakukan dalam hidupnya, dia akan memusatkan semuanya ke dalam pemikiran dan karya-karyanya. Jadi pertanyaan Bisakah “hidup” dengan menulis? Yang perlu dipertanyakan adalah seberapa besar ambisi penulis itu? Dari penulis-penulis yang disebut Eka, saya kira yang kita bicarakan adalah menjadi penulis orisinal. Karena untuk bisa hidup dan menulis, itu bukan sesuatu hal yang sulit. Semua manusia yang punya pen dan kertas bisa menulis di mana saja. Tapi seberapa jauh komitmennya pada tulisannya? Ini saya kira yang sebenarnya dipersoalkan oleh Eka. Dan ini tentunya menyangkut ambisi masing-masing penulis. Ketika ia ingin menjadi seorang penulis yang orisinal, ia akan memerlukan banyak ruang dan waktu untuk menekuni dunianya untuk bisa terus menerus mencoba mencari sebuah celah dalam gaya atau pun pemikiran untuk membuat sebuah terobosan baru dalam dunia sastra. Saya menyebutkan gaya dan pemikiran karena pada dasarnya semua penulisan sastra berkisar pada dua kategori ini. Ada penulis-penulis dunia yang berhasil menciptakan gaya-gaya tertentu sehingga bisa menampilkan karya-karya yang terasa begitu unik dan menyegarkan. Gaya penulisan sekaligus juga merupakan sebuah cerminan pribadi sang penulis. Jadi mau tidak mau pemikiran sang penulis sekaligus juga tercermin pada gaya penulisannya. Maka sering kita dengar Style is Thought. Namun, ada beberapa penulis yang sengaja mengeksplorasi gaya penulisan untuk menguji sejauh mana gaya mampu menampilkan sebuah gagasan atau pun cerita yang paling sederhana, maka kita menyebut mereka sebagai stylist. Truman Capote, e.e.cummings, gabrielle garcia marquez, Gertrude Stein, Salman Rushdie, Javier marias, Julio Cortazar, Marcel Proust,etc. Di Indonesia kita punya Joko Pinurbo, Sapardi Djoko D, Ayu Utami, Sutardji Calzoum Bahri, Ahmad Tohari, Sitok Srengenge, Djenar Maesa Ayu, Budi Darma dll. Kemudian ada juga penulis yang eksplorasinya lebih merujuk ke pemikiran seperti Thomas Mann, Leo Tolstoi dan Robert Musil, Alexandre Solzhenitsyn, Joseph Conrad, yang muatan pemikirannya jauh lebih dahsyat daripada punya Gabrielle Garcia Marquez. Di Indonesia, mungkin penulis2 seperti Iwan Simatupang, Arifin C. Noer, Goenawan Mohamad, Pramoedya Ananta Toer dll. Di satu kategori khusus kita menemukan penulis2 yang bisa memadukan keduanya, gaya dan pemikiran, secara maksimal, seperti Milan Kundera, Umberto Eco, Virginia Woolf, Albert Camus, Kafka, T.S Eliot, James Joyce. Hemingway, Jose Saramago, Gunter Grass, William Faulkner dll. Di Indonesia, mungkin Danarto, Chairil Anwar, Mochtar Lubis (?), dll. Sejauh mana kita sebagai penulis ingin mengikuti jejak penulis seperti yang saya sebutkan di atas, sangat tergantung komitmen kita dalam berkarya dan seberapa jauh kita ingin mengorbankan semuanya untuk menggapai capaian seperti mereka di atas. Dari biografi masing2 penulis di atas, kita juga belajar bahwa sebelum mereka menjadi penulis terkenal, mereka juga menjalankan hidup dengan cara2 yang berbeda. Joseph Conrad pernah menjadi pelaut, Kafka bekerja di perusahaan asuransi, John Steinbeck malang melintang di Amerika bekerja apa saja, dari pekerja peternakan hingga pekerjaan bangunan etc. Pekerjaan mereka tidak pernah mengusik mereka dari hasrat mereka untuk berkarya. Bahkan ada kesan mereka tidak begitu memusingkan apakah tipe pekerjaan yang mereka pilih bermanfaat buat penulisan mereka. Bagi mereka pekerjaan asli mereka adalah menulis.

  17. sarastia says:

    mas eka, boleh tau gak gimana proses cantik itu luka bisa diterjemahkan dalam bahasa jepang?. dan juga karya2 pram?.trus apa aja sih karya indonesia yang diterjemahkan di luaran?.aku baca tulisan katrin bandel di republika, menarik dah kayaknya apa yang diungkap katrin mengenai dapur para penulis.katrin dan saut memberi perspektif yang lain atas sastra indonesia. dulu aku benci ma tulisan saut.norak. tapi sekarang aku mulai mengerti duduk perkaranya. dan, asyik kayaknya.

    sarastia:
    perspektif apakah yang sudah kamu mengerti, jika boleh saya tahu — soalnya saya sendiri belum baca esai itu? soal proses bagaimana CIL diterjemahkan, karena enggak mungkin dalam satu-dua kalimat pendek, akan saya tulis di blog ini jika waktu saya sudah cukup luang. saat ini saya masih mengedit tulisan saya yang lain dan sangat menyita waktu.
    (ekakurniawan)

  18. sarastia says:

    terimakasih mas eka.

  19. anton says:

    kalo aku termasuk yg mana, ka? :P

    anton:
    yang jelas kamu enggak bisa menulis tanpa hidup, hehehe …
    (ekakurniawan)

  20. sarastia says:

    mas eka, aku tadi habis ntn idol, baca beberapa esay mas eka lagi. marquez,borgez,puthut,leontin dewangga, dan mojave tu.kereeeeeeennnnnnnnnnnnn….huhhhhhhhhh bikin sebel tauk baca cara baca yang keren.he3. tapi sayangnya waktu baca puthut kok malu2 gitu ya, maksudku, gak setegas saat baca marquez di melancholy marquez tu.he3.soalnya aku keqi ma puthut.gitu2 aja kok, tapi temenku banyak yang ngefans.huh.ini bagian dari perspektif yang akan kuceritakan kepadamu nanti, sebagai jawaban atas pertanyaanmu. agak panjang kayaknya.jadi akan kuketik dulu aja yang baik. tadi juga temenku kebetulan telfon, dia habis baca cerpenmu yang tentang asterik .katanya:KERENNNNNNNNNNN…tapi dia ada tambahannya: tapi mas eka tu menurutku terlalu rendah hati, dia mesti rada kemaki kayak ugo kok, karna mestinya ne cerpen bisa sangat kerennnnnnnnnnn!!!bisa fantastik dalam ukuran simon cowell, gitu dia bilang.aku belum ngerti apa yang dia maksud sihhhh.aku juga belum baca cerpen tu.tapi seleraku ma dia banyak samanya, dia sahabat membaca terbaikku dah!jadi aku yakin juga akan sama dah kalau membca tu cerpen.gitu.

  21. sarastia says:

    oh ya, mas eka, aku juga mau belajar menulis seperti teman2 lain di atas. mas, tolong beri aku tugas ya.tugas menulis cerpen. kalau ada waktu aja sih.beri aku tugas ya.aku kalau disuruh dosen buat tugas, biasanya serius.misalnya, Tugas :buatlah cerpen dengan tema bla3 tapi yang sangat spesifik. mpe bentuknya.dll.he3.kalau jadi tu cerpen, dan menurutmu bagus, ntar kukirim apa deh ke rumahmu.he3

    sarastia:
    bener, nih, mau belajar bikin cerpen? gimana kalo kamu mulai dengan bikin blog dulu (saya saranin di wordpress.com atau blogger.com), lalu kamu masukin beberapa tulisanmu ke blog itu. setelah itu saya akan mengunjungi blogmu untuk melihat seperti apa kamu menulis. baru setelah itu kita bisa diskusiin tulisanmu, kan. gimana, oke?
    (ekakurniawan)

  22. sarastia says:

    bener mas mau bikin cerpen. tu cita2 terbesar dah. satu cerpen saja yang keren, dan hidupku akan lebih bahagia kayaknya.sangat bahagia.bikin blog?.aduhhhh..pingin sihhh.hhh…tapi kata kakakku, aku gak boleh bikin blog.belum saatnya katanya. ntar, ilusi semakin membesar katanya.dia bilang, aku tu ilusionis, maksudnya:karna baca buku2 para maestro, trus berasa bagian dari mereka.padahal…..he3.sebel kan dibilang gitu?.tapi aku setuju juga sih.liat aja tuh anak2 yang tergabung di komunitas2 sastra.gayanyaaaaaaaaaaaaa……huhhhhhhhhhh……nyeniman gitu dah.tapi kebanyakan bodoh kok.SWEAR…blog bergubungan dengan perayaan kan.sedangkan faseku sekarang-lagi2 kata kakakku-menyerap semua sumber yang tersedia.menyusun stamina.perjalanan masih teramat panjang untuk membacakan sesuatu dari diriku sendiri kepada publik.sekarang, baca aja aku masih belum bener mas.terlalu sering kembali ke alam lupa.he3.oh ya mas, aku belum sempet ngetik bacaanku atas katrin tu.mungkin selasa ya kukirim.malem ini aku lagi sedih.michael Johns tersingkir.padahal tu salah satu favoritku.mestinya syesya atau kristi lee cook dah yang terdingkir duluan.hih.tapi juaranya pasti DAVID COOK!he3.bener lho, tu aku jagoin Jordin Sparks sejak awal.

  23. sarastia says:

    mas eka, ternyata gara2 kamu memintaku menjelaskan tulisannya katrin di republika tu, saya justru terperangkap dalam banyak kebingungan.maksud saya: ternyata tidak sesederhana yang saya kira. rumit sekali mau membaca apa yang sebenarnya sedang terjadi. terlalu mudah untuk bilang bahwa katrin jadi kesaut2an. terlalu gampang untuk sekedar ambil posisi, Utan Kayu atau Saut Wowok Cs. Saya kira mestinya, perdebatan kacangan mereka bisa diangkat ke level yang lebih serius: mengenai Kritikus, Distribusi Produksi Konsumsi Bacaan, dan lain-lain. Tapi yang jelas, Saya suka dengan beberapa hal pada posisi Katrin soal Saman. Bahwa saman keren, ya keren, pada puncak pencapaiannya, bahasa indonesia seperti cahaya.tapi tidak ada yang berjarak dari perayaan atas saman. berturut2 setelah itu Spardi bilang Masa Depan pegarang indonesia ada pada perempuan. dan seterusnya karya esek2 tu yang juga bisa kita liat di luar sastra kan. sex mendapatkan momentumnya, adalah hal yang wajar,kan. Inul heboh, jakarta undecover best seller, panti pijat merajalela di sepanjang jalan,diskotik baru bermunculan, dsb.kebebesan lebih mudah diinterpetrasi oleh psar lewat sex.nah, sayangnya, di sastra jarang ada yang mampu berjarak dari itu semua kan. saman (dan epigon2nya) dirayakan sampai teler.dari tindak reaktif tersebut wajar muncul sesuatu yang reaktif pula kan. bahwa caranya berlebihan, ini cuma soal kadar.tapi esensinya sama: bahwa Yang Terhormat Para Sastrawan tidak bisa berjarak dari pesta2.
    Dan soal besarnya ada pada Jakarta.seluruh jalus distribusi terlalu kuat berpusat di sana. liat aja: koran, televisi, para penstudi humaniora, dsb. ambil contoh: gadis arivia, pentudi Gender, bisa kita chek berapa kali dia membiacarakan saman larung untuk studinya. Gadis contoh otoritas yang kusebut terseret pesta tu.lalu media mengutip,lalu studi gender daerah mengutip, dst.padahal darimana produksi wacana berasal, ya dari aktipis2 di semua lini itu kan.tu juga bisa kita buat utk bertanya Brapa saman terjual, berapa Cantik Itu Luka, berapa di Etalase?. saya tidak mengandaikan keadilan dalam pengertian yang paling kaku.tapi setidaknya itu bisa jadi sebuah ukuran untuk membaca:siapa yang bekerja, bagaimana,mengapa?. dll.rumit banget dahhhhhhh.belum lagi saya baca di horison2 lama soal perseteruan arif bidiman dan GM, Sapardi,Abdul Hadi. juga di taetre kan rendra – putu.
    mas, bantu saya memecah tema rumit itu ya…..kepala bisa pecah neh.he3.

  24. sarastia says:

    oh ya mas, saya pingin tanya tentang murakami? di after dark dan wind bird tu ada dunia bukan sehari2nya gak?.maksud saya: saya kan baca norwegian wood dan kafka ots.(saya baca kafka ots duluan, dan edan tu novel.stres dibuatnya,membaca kafka ots gara2 perempuan yang 100 persen sempurna di suara merdeka, cerpen yang superb saya kira, tema yang enteng,bahasa yang renyah, tapi GILA!, lalu di norwegian wood saya berharap nemu keajaiban alur main2 seperti di cerpennya dan kerumitan seperti di kafka ots, tapi gak ada kan?.sedikit menyesal waktu baca norwegian wood 30 halaman pertama, tapi sampai akhir : ya lumayanlah, dah lama gak baca novel cinta yang uhhhhhh), nah di sana ada yang berulang kan – selain dunia urban barat- yaitu adanya dunia yang bukan dunia sehari2. di kafka ots tu di hutan tu, di norwegian wood di rumah sakit naoko. nah di karya2nya yang lain gimana?.trus pengulangan apa lagi ya yang terus ada?.punya cerpennya yang lain gak?.oh ya kalo punya cerpennya O’henry daun terakhir, saya bisa minta gak?aduuhhhh gimana caranya ya?.saya bikin blog gak bisa.he3.saya gaptek mas. taunya cuma Mrs.Google dan Email Yahoo.he3.kemaren malu ngakuinnya.

  25. sarastia says:

    oh ya mas temennya binhad ya?.dia pernah ke bali 2 tahun yang lalu. di acara pelucuran cerpennya jengky. gayanya dah kaya pejabat.huhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh.sebel liat mukanya tuh. untuk pusi dia saya setuju dah ma wowok tu. kami _saya and temen2-menyebutnya PENYAIR ANUS. huhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh.biasa2 aja mas……sampain tuh mas.sebel.tu puisi kakus dia tu puisi terburuk yang pernah saya baca sepanjang zaman-semoga sampai akhir zaman-.bahwa dia bilang dia sedang bicara kesenian iyalahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh.nonton idol lah tu binhad.Ingat2 tu kata Simon: ini semua tentang bgm kamu memilih lagu diantara pilihan yang tidak terbatas.bicara kesetiaan lewat kakus emang bisa.begitu juga bicara kesetiaan lewat lubang kelamin ibunya kan.jangan norak ah mas….dan gayanya jangan brasa sudah jadi penyair besar lah.tu,ikut kelas kepribadian.huh.mangkel saya dah liatnya.tulisan2nya banyak sih di kompas dan sebagainya.tapi mana sih yang penting?.huh.huh.huh.huh.huh.mas kan baik hati, kok mau temenan ma binhad sih?.huh.jengky tu juga.males dah gaul ma orang2tu.palagi di bali.huhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh.gayanya tu gak tahan.hari gini gitu loh.semua orang bisa baca kok.Mrs.Google lebih setia daripada kakus(kadang ngadat),huh.huh.huh.mbak ratih juga baik sekaliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii, jangan gaul ma binhad dkk mbakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk.

  26. ekakurniawan says:

    “after dark” kebetulan ceritanya hanya semalam dengan empat tokoh: artis yang tidur enggak bangun2, adiknya yang doyan begadang, teman baru si adik yang suka main band malam2 dan seorang ahli komputer yg suka lembur. jadi bisa dibilang sehari-hari. “wind-up” yang justru banyak peristiwa magisnya: ada orang yang nasib hidupnya sudah ditentukan, lelaki yang bertapa di sumur dan masuk ke dunia lain. sebenarnya norwegian wood merupakan novel murakami yg lain sendiri. tema utama seluruh karya murakami memang rata-rata urban, ya.

    binhad?
    wah, kamu ini gampang mangkel sama orang, ya? hehehe. saya berteman baik dengan binhad, dan suka nongkrong dengerin dangdut bareng. saya orangnya mau berteman dengan siapa saja yang asik buat saya, dan enggak peduli apa kata orang ttg teman2 saya. sederhananya, saya belum tentu lebih baik dari mereka. saya sendiri bukan penggemar puisi binhad (buat saya gampang saja, kalau enggak suka karya seseorang, enggak usah dibaca daripada bikin senewen. hehe. lebih baik manfaatkan waktu yg singkat ini buat baca karya yg saya pikir asik); tapi ada satu puisi binhad yang saya suka: “tuhan beri aku perempuan; perempuan beri aku tuhan“. puisi itu cuma dua baris, menurut saya bagus (dan saya jarang sekali menyukai puisi).

    soal wowok-tuk: saya juga tidak tertarik dengan perdebatan itu. banyak hal yang lebih penting buat saya daripada memikirkan mereka. selain itu saya juga tak punya waktu lagi buat ikut2an mereka, sebab saya sendiri sedang berkelahi dan musuh saya jauh lebih besar (dan banyak) daripada mereka: saya melawan seluruh hal di luar dan di dalam diri saya :)

    tapi saya penggemar Yojimbo (film Akira Kurosawa), dan percaya bisa menjadi the last man standing, hehehe! (cheers!)

  27. sarastia says:

    iya sih mas, makasih, bener banget, gak boleh terlalu menganggap personal semua hal?.right?.iya, saya mangkel tu karna saya kan gak punya karya, dan menilai orang lain berdasarkan karya mereka, bersikap dengan kehangatan emosi, tetapi saya mau dinilai oleh orang lain dengan dingin berdasarkan rencana2 saya.he3..Yojimbo?.saya belum nonton.baru rashomon aja ama samurai pa ya?.gimana, mau ngajarin blajar bikin cerpen gak mas?.bagaimana kalo lewat sini aja, mas kasih tugas pada saya.Tugas: Bikin cerpen dengan tema(yang spesifik ya), genre:horor, atau apalah pokoknya tentukan, panjang?.deadline?.gitu mas, plisssss….waktu sebulan ya.

    sarastia:
    jujur saja aku sendiri enggak ngerti caranya ngajar. aku mau berbagi pengalaman saja. kalau ada yang kamu mau tanya, dan aku bisa, aku akan jawab. gimana?

  28. relevantiana juniarti says:

    mas, kenalan dlu ya. aku nana aku dah lama pengen nulis tapi gak bisa ,gmn ya caranya?

  29. relevantiana says:

    mas, aku nana.kok gak dibalas sih pertanyaanku?Aku tu pengen pengen nulis tapi kalau dah mau nulis susah bikin kalimat pertamanya. trus hasilnya juga juga gak bisa bagus . Gmn teori dasar biar bisa menulis?

  30. ekakurniawan says:

    Nana:
    menulis, terlepas dari bagus dan tidak, merupakan keterampilan. perlu belajar dan berlatih. tentu saja ada teori-teori dasarnya, tapi kayaknya enggak bakalan cukup di forum ini. tapi yang jelas, hal pertama yang harus kamu miliki tentu saja keterampilan berbahasa. apakah kamu sudah menguasai sistem ejaan? bagaimana meletakkan titik dan koma, menyambung kata dengan imbuhan, dan lain-lain? apakah kamu juga sudah menguasai sistem tata-bahasa, mengerti apa yang disebut kalimat, anak kalimat, dan paragraf? kata atau frasa? ini semua pelajaran anak sekolah setingkat SMU ke bawah, mestinya semua orang bisa. tapi memang kadang gurunya enggak bener mengajarkannya, atau muridnya enggak perhatian. tapi itu teori dasar menulis. jika kamu sudah menguasai sistem ejaan dan sistem tata-bahasa, pada dasarnya kamu sudah bisa menulis.

    tahap berikutnya, tentu saja menulis bagus. karena bagus dan tidak ini relatif dan enggak ada standarnya, satu-satunya yang perlu kamu lakukan hanyalah membaca dan melatih keterampilanmu sebanyak mungkin. menulis bagus jelas tak mungkin diajarkan orang (termasuk saya), tapi kita bisa mengasahnya bersama. itulah salah satunya kenapa saya menulis blog ini, agar kita juga bisa terus belajar. untuk belajar bersama, mungkin kamu tidak cukup membaca jawaban saya di komentar ini, tapi barangkali kamu perlu juga menjelajah seluruh isi blog ini. barangkali itu membantu.

  31. aizzt says:

    i want to be writer.

  32. hakam ahdiyat abadi says:

    kayaknya untuk para pemula kayak saya dan rekan-2 yang merasa masih pemula dalam hal tulis – menulis, mari kita mulai menulis dari sekarang…. jng banyak berkhayal tentang katakutan ini dan itu pokoknya kita niat kan diri trus mulai….kalo masih ada kekurangan di sana- sini he he he namanya juga masih belajar.. baru mulai belajar malah he he he…..
    YUK NULIS YUk…….

  33. Ellisa says:

    Halo Mas Eka, saya sangat menyukai tulisan-tulisan Mas Eka di blog ini.

    Pada dasarnya, saya juga menyimpan obsesi untuk menjadi penulis dan obsesi itu dimulai karena kesenangan saya akan membaca. Namun memang sayang, sampai saat ini impian itu belum terealisasikan karena kesibukan sehari-hari, dan saya sulit meluangkan waktu untuk memikirkan sebuah konsep cerita atau plot untuk bahan tulisan saya.
    Yang saya mau tanyakan nih Mas Eka, apabila bahan tulisan itu sudah ada dan kita mau menerbitkannya, darimana kita harus memulai? Apa langsung saja kita serahkan kepada perusahaan penerbit? Saya benar-benar hijau dalam hal ini =)

    • ekakurniawan says:

      @Ellisa
      kalau kamu sudah punya naskah dan yakin sudah layak terbit, langsung saja kirim ke penerbit. kalau masih ragu, coba dulu aja tampilin di blog, atau kirim ke majalah/surat kabar. pada dasarnya, sebagian besar penerbit selalu terbuka kepada penulis baru (semua penulis lama pada awalnya penulis baru, kan? hehe …)

  34. latif says:

    wah,, terima kasih banget nih buat mas eka yang udah sekiranya ngasih spirit buat kita yang masih pemula atau baru dalam hal penulisan… mungkin yang disampaikan sangat berguna… huhuhuhu…. tengkiu mas…! SAATNYA JADI PENULIS…hehehehehe

  35. yoana says:

    Salam kenalya Mas Eka Kurniawan,tadinya saya blogwalking keblognya Raditya Dika “Ngocok-Ngocok Inbox” dan ternyata mata saya langsung tertuju kepada linknya blog Mas Eka yang berjudul “Bisakah hidup dengan menulis” terus saya klik dan masuk kesini.

    Saya merasa kekuatan untuk menulis saya lebih membara lagi setelah masuk keblog ini meski saya masih pemula dan masih belum mateng dalam menulis.
    Tetapi setelah saya baca isi tulisan dan comment-commentnya,semangat saya kini lebih bertambah lagi untuk menulis dan terus menulis.

    Terimakasih buat sebuah kata yang berbunyi “Bisakah hidup tanpa menulis ?” yang saya rasa menjadi sebuah semangat lagi buat diri saya.

    Sekali lagi terima kasih bayakya Mas Eka dan jika ada waktu luang silahkan mampir keblog saya http://yoana.blogdetik.com
    Saya tunggu kedatangannya dan kalau boleh minta comment Mas Eka jugaya,wassalam.

  36. Wilda says:

    hmmm… mas eka…
    tengkyuh buat post nya…

    sepertinya saya musti banyak belajar menulis lagi …. ^^

    dan harus lebih pede buat kirim ke penerbit bbrp tulisan saya ^^

  37. white rose says:

    Ass.hai eka ni aku teman sekolah kamu waktu SLTP.belum banyak sih aku baca karya kamu,tapi sejauh ini BAGUS.SEMANGAT terus yach………kapan ngadain reunian ….?

  38. jadi makin berniat menulis…

  39. rigiansyah says:

    salam kenal mas,saya rigian,mungkin saya menganggap,bahwa saya penulis gagal yang merasa dihantui rasa takut untuk menuangkan karya saya dalam tulisan,saya punya segudang imajinasi tapi entah kenapa rasa takut gagal kian menghantui batin saya .mohon bantuan

  40. Salam kenal Mas Eka,

    Gw Hil.
    Pas lagi search Marquez di google, eh ada blognya Mas Eka.

    Trus baca postingan yg ini, bener2 memotivasi gw utk perdalam menulis khususnya nulis naskah. Lagi mau ambil kelas private sama Kak Ita Sembiring (sama lagi nabung buat bayarin kelasnya.. hehehe). Mumpung deket rumah jd bisa hemat waktu.

    Udah buat blog juga, walaupun jarang posting, tapi kalo nulis pasti tiap hari, entah itu diary atau nulis ide2 cerita (plot) yg muncul tiba2 (munculnya biasanya pas ngelamun kalo mo tidur)

    Thanks bgt udah bagi2 ilmu & pengalamannya..

    -hiL-
    hilariushuwa.wordpress.com

  41. TupaiTambun says:

    Sepertinya kalau mau ditekuni dan pantang menyerah.. Writer bisa menjadi sebuah profesi yang menjanjikan..
    thanks infonya mas..
    bermanfaat sekali buat saya.

  42. Nissa says:

    Haii ..
    Salam kenal Mas Eka ..

    Hmmm … Mau nanya nih, Mas.
    Obsesi saya untuk menjadi seorang penulis memang ga pernah hilang dari waktu saya duduk di bangku SMP. Tapi yang selalu jadi kendalanya, ketika saya sedang asyik-asyiknya membuat cerita yang akan saya tulis itu,tiba-tiba ide yang akan saya tulis itu hilang dipikiran saya. Sementara “emosi” saya masih ingin untuk menulis. Saya suka kesel dengan hal seperti itu.
    Gimana sih Mas supaya ide cerita yang akan kita tulis itu selalu ada dipikiran kita?Dan kenapa terkadang juga ide itu suka melenceng ke imajinasi (positif) yang lain?
    Makasih, Mas Eka ..

    • ekakurniawan says:

      @nissa
      agar ide nggak lupa, saya terbiasa mencatatnya. kadang cuma sebaris ide, tp bisa jg satu cerita yg belum selesai. “ide”, seperti yg lain2nya, juga bersifat “survival the fittest”. ide yg lbh menarik kemungkinan mengalahkan yg nggak menarik. Itulah kenapa ketika bekerja dg satu ide, kita suka melantur sebab menemukan ide lain. seorang penulis sebaiknya enggak berpikir idenya sangat menarik. bersikaplah obyektif. catat semuanya, bandingkan, dan kerjakan yg terbaik. itu cara kerja saya, jika cocok, boleh dipakai (tapi percaya deh, semua org punya cara kerja sendiri2).

  43. dietha hinata says:

    saya dietha…saya suka n sering bgt bikin puisi..dan saya berfikir untuk memasukan puisi saya ke dalam media,,,iya itung” untuk ngebantu ortu,,biar gag ngegantungin ma ortu,,kira kira biasa gag masukin hasil puisi saya…dan cara nya gmn???
    thanks….

  44. kamal says:

    jujur (kacang ijo dech Om)… aku tuh terinspirasi banget ea… sama tulisannya tentang penulis… bisa ga ea aku jadi penulis juga’

  45. Asri Nursifa says:

    Salam kenal,sejak SMP saya sangat suka menulis cerpen sampai SMA,dan saya memajangnya d Mading sekolah,banyak teman saya yang suka cerita saya waktu itu cuma sebatas hoby saja,tapi sekarang ketika sy jadi Ibu Rumah Tangga dengan satu anak saya selalu berpikir bisakah hobi saya menghasilkan uang?saya meyakininya bisa,tapi saya bingung,kemanakah saya harus menjualnya jika saya sudah membuat karya saya? adakah yang mau membelinya? mohon informasinya,terima kasih

    • ekakurniawan says:

      @Asri: kalau cerita pendek, kirim saja ke majalah atau surat kabar. kalau dimuat tentu memperoleh honorarium. kalau naskah buku, bisa dikirim ke penerbit. sekarang ini banyak sekali penerbit. di setiap buku, biasanya di sampul belakang atau di halaman awal ada alamat mereka. jika naskahmu layak diterbitkan, tentu kamu bisa memperoleh royalti.

  46. miyosi says:

    memotivasi

    :D

  47. adam says:

    wah bagus tuh kepikiran buat nulis

  48. thanks infonya mz :’) sngt mmbantu bagi saya yg baru mau mulai menulis :’) slm kenal y mz :’) sy metha dri semarang ;’) mhsswa di slh satu prguruan tinggi negri disemarang,, udh lama sy pny hobby menulis, tpi sayangnya, sy blm pnya keberanian untuk mencoba menawarkanny kepenerbit T,T merasa tulisan saya blm pantas T,T mungkin mz eka bs mmberikn masukan pd saya ;’) trma ksh seblmnya :’)

  49. Na says:

    salam…
    mas, baru lihat blognya, dan pertama kali mampir. isinya bagus, tulisannya bagus, tampilannya juga bagus. pokoknya semuanya keren. saya juga pingin jadi penulis. meski sudah banyak yang ditulis tapi gak pernah mengirimkannya ke media atau penerbit.
    malu. karena tulisan saya gak bagus.

    anyway, tulisan ini mencerahkan. suka sangat.

  50. Na says:

    oya mas, sekarang saya sedang bekerja di salah satu media di kota medan. redakturnya, wuiihhh…. amit-amit jabang bayi. semua tulisan yang saya kirim, di pangkas, bukan di edit. (kayaknya sensi banget nih orang). pernah pula, tulisan saya dibuang gitu aja tanpa konfirmasi.
    huaaahh…. kesal …
    makanya pingin resign.

Trackbacks

Tautan yang terhubung ke artikel ini ...
  1. [...] Interestingly, penulis Eka Kurniawan menulis lebih lengkap tentang ini, bisa dilihat di http://ekakurniawan.com/blog/bisakah-hidup-dengan-menulis-111.php [...]

  2. [...] (yg blog nya blum sempat g liat )..juga untuk tips ngeblog yg g dapat di google (radityadika.com, ekakurniawan.com [...]



Cantik itu Luka