28  June  2008

Bagaimana Menulis Novel? (2)

Foto oleh: Ella’s Dad, Some rights reserved.

Saya terpaksa menulis posting ini sepenggal-sepenggal karena masih di tengah proses “membereskan” novel saya. Dan saya memposting ini, sama seperti semula, juga sebagai catatan untuk mengingat-ingat.

Barangkali saya pernah mengatakannya: novel ketiga saya berlatar masuk dan perkembangan Islam di Nusantara. Ada dua hal yang harus saya perbaiki dalam beberapa hari ini. Pertama, konsistensi menyangkut penanggalan. Saya memutuskan untuk mempergunakan penanggalan Hijriah dalam novel ini. Itu berarti saya harus mengkonversi semua penanggalan Masehi ke Hijriah. Kedua, saya juga harus membereskan beberapa transliterasi Arab ke Bahasa Indonesia agar lebih konsisten. Kalau ada yang tahu sejenis software untuk konversi penanggalan dan rujukan transliterasi yang baku, let me know.

Sekarang kembali ke “Bagaimana Menulis Novel” Bagian 2.

3. Nada dan Irama
Jujur saja, saya tak tahu harus memakai istilah apa. Saya mempergunakan kata “nada” sebagai padanan kata “tone” dalam bahasa Inggris, dan “irama” dari “rhythm“. Sebagaimana dalam lagu, saya percaya dalam novel juga ada yang disebut “nada” dan “irama”. Istilah ini saya rujuk sebagai “cara seseorang menulis”. Berbeda dengan cerita pendek, saya menaruh perhatian yang besar terhadap “nada” dalam novel. Kenapa? Sederhana saja: novel berdurasi panjang, sangat mudah bagi seorang penulis untuk “terpeleset”, atau kalau dalam nyanyian, sangat mudah untuk menjadi fals.

Baiklah, saya akan mencoba membuatnya lebih jelas. Barangkali kita pernah membaca sebuah tulisan yang kita anggap santai, ringan. Di tempat lain, kita membaca sebuah tulisan yang membuat kita nyengir-nyengir kecil. Ada juga tulisan yang membuat kita berpikir, tapi tanpa harus membuat kepala terbakar. Saya percaya, itu sangat tergantung “nada” yang dipakai. Dengan kata lain, kita bisa menulis hal yang sama dengan nada yang berbeda. Seorang penulis harus memilih satu pilihan nada tertentu yang paling cocok untuk novelnya.

Dalam Cantik itu Luka, saya mempergunakan penulisan yang cenderung sederhana, dengan kata-kata sehari-hari. Saya pikir saya tak perlu mengatakan kenapa saya memilih itu. Tapi jika kamu membaca novel saya berikutnya, Lelaki Harimau, pasti bisa menemukan bahwa saya memakai pilihan kata dan cara menulis yang berbeda. Dengan kata lain, saya memakai “nada” yang berbeda. Kurang lebih itulah maksud saya.

Sementara itu, “irama” tidak saya samakan dengan plot. Irama lebih mengacu kepada bagaimana kita mengatur aliran intensitas cerita. Misalnya dimana kita harus meringkas sebuah fragmen, dimana kita berpanjang-panjang.

Problemnya, sekali lagi, novel nyaris tidak mungkin ditulis dalam sekali tulis. Bahkan novel yang ditulis secara spartan pun, saya yakin, pasti membutuhkan waktu beberapa hari. Dan pasti ada jeda istirahat. Dalam kasus saya, jika tak hati-hati, kadang-kadang, kita bisa “terpeleset”. Irama dari satu bab ke bab berantakan. Bab pertama cerita berjalan cepat, bab kedua cepat, bab ketiga cepat, eh, bab keempat tiba-tiba bertele-tele. Di novel yang ditulis selama berbulan-bulan, di mana bab pertama ditulis bulan Januari dan bab kelima ditulis bulan November, dengan mudah keterpelesetan ini bisa terjadi.

Begitu pula dengan nada menulis. Bahkan suasana hati seorang penulis bisa sangat berpengaruh terhadap tulisannya.

Tentu saja saya tak bermaksud bahwa sebuah novel harus ditulis dengan nada dan irama yang sama sepanjang novel. Itu hanya akan menciptakan sebuah novel yang monoton dan datar, kan? Maksud saya lebih tertuju pada, nada dan irama ini harus diperhatikan, jangan sampai turun atau naik, atau berbelok, di tempat yang tak semestinya.

Sekali lagi, dalam kasus saya, karena novel ditulis dalam rentang waktu yang lama, tak mungkin menjaga nada dan irama ini persis sebagaimana yang diinginkan. Cara paling praktis yang sejauh ini sudah dua kali saya lakukan adalah: setelah menyelesaikan sebuah draft, saya menulis ulang semuanya secara berkesinambungan, sehingga nada dan irama tulisan lebih terjaga. Barangkali ada cara yang lebih mudah: melakukan penyuntingan yang ketat di akhir penulisan. Ini yang saya pilih untuk novel ketiga.

Barangkali ada yang bisa mengungkapkan hal ini lebih jelas dari saya? Maklum saya bukan teoritis novel …

(bersambung)

“Gerimis yang Sederhana” di Buku Kompas Google Books

9 Komentar untuk “Bagaimana Menulis Novel? (2)”

nana :

bikin novel itu susah, ya?

fatih :

jangan lupa dilanjutin lagi, ya mas ……..

ANAK FIKSI :

mas, nulis cerpen bagaimana strateginya?
tambah kolom untuk “bagaimana menulis cerpen” donk mas………saya penikmat cerpen-cerpen mas eka. saya penasaran, kok bisa orang nulis cerpen kayak gelak sedih dan cinta tak ada mati itu mas……….

mohon pengertiannya

ekakurniawan :

cerpen? habis ini aja, ya? hehehe … salam kenal.

iwan :

bagaimana dalam membuat karakter tokoh menjadi kuat, karena kalau saya menulis cerita teman sy kurang dalam penokohannya.
trims

iwan:
saya bukan teoritikus, tapi mungkin bisa berbagi pengalaman. bagi saya, karakter seseorang (bahkan dalam kehidupan sehari2), hanya mungkin muncul ketika ia menghadapi sesuatu. begitu juga dalam fiksi: konflik, drama, twist, dan sebagainyalah yang membuat sebuah karakter menjadi kuat. sebab tanpa melakukan sesuatu, atau menghadapi sesuatu, ia tak akan menjadi “tokoh”. artinya: karakter tidak diciptakan, ia muncul karena situasi. itu pendapat saya, lho.
(eka)

bagio :

mas.sepenting apakah budaya (waktu dan tempat tertentu) dalam sebuah novel.apa perlu mengetahui riset yang mengacu pada masa dan tempat itu.

bagio:
sepenting membuat pembaca yakin :)
(ekakurniawan)

diponegoro :

salam kenal.mas,cara menghidupkan karakter pada tiap tokoh gimana?…

diponegoro:
beri tokoh itu cerita, dengan sendirinya ia hidup.
(ekakurniawan)

Ari har :

siip juga tips-tipsnya, mudah2an sukses terus ya. tapi bagaimanapun saya masih bertanya-tanya apakah ada cara untuk memberi kesan menarik terhadap satu tokoh didalam sebuah novel bukan dua tokoh seperti yang mas utarakan???

justin :

novel harus bisa menyentuh perasaan si pembacanya,…tgl, dan tempat harus dapat menimbulkan imajinasi si pembaca,…silakan beli buku karya Putri Wong Kam Fu, di bukunya terdapat tgl masehi, imleks, hijirah, kejawen dari tahun 1900-2025, dan saya memiliki sebuah alat yg juga dapat melihat waktu dan tgl masa lampau, jika mas berminat saya dapat memberikan pada mas secara gratis. semoga dapat membantu mas,..salam….Justin Vieri

justin:
trims atas tawarannya. saya sudah memperoleh software untuk convert penanggalan tersebut dan berfungsi sebagaimana saya menginginkannya. Bagaimanapun terima kasih, ya.
(ekakurniawan)

Komentarmu