<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Adonis</title>
	<atom:link href="http://ekakurniawan.com/blog/adonis-528.php/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekakurniawan.com/blog/adonis-528.php</link>
	<description>Menulis dan petualangan-petualangan lainnya</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 16:10:27 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<item>
		<title>By: ekakurniawan</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/adonis-528.php/comment-page-1#comment-2242</link>
		<dc:creator>ekakurniawan</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Apr 2009 09:55:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=528#comment-2242</guid>
		<description>@andi:
saya pilih yang paling sulit saja: jadi eka kurniawan :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@andi:<br />
saya pilih yang paling sulit saja: jadi eka kurniawan :)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: andi</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/adonis-528.php/comment-page-1#comment-2241</link>
		<dc:creator>andi</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Apr 2009 08:32:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=528#comment-2241</guid>
		<description>pak.Eka! aku ingin anda jadi Adonisnya Indonesia</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>pak.Eka! aku ingin anda jadi Adonisnya Indonesia</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Putri Sarinande</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/adonis-528.php/comment-page-1#comment-1240</link>
		<dc:creator>Putri Sarinande</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Feb 2009 15:34:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=528#comment-1240</guid>
		<description>boz... keren kalipun wacana yang diangkat dalam hastakaryamu ini. dan, saya setuju dengan tanggapanmu pada sarastia n makki.

semoga, pemikiran saya bisa turut tercerahkan pula. agar tidak hidup bagai zombie, percuma jadi sarjana. haha!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>boz&#8230; keren kalipun wacana yang diangkat dalam hastakaryamu ini. dan, saya setuju dengan tanggapanmu pada sarastia n makki.</p>
<p>semoga, pemikiran saya bisa turut tercerahkan pula. agar tidak hidup bagai zombie, percuma jadi sarjana. haha!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Perlukah Berbahasa Indonesia yang Benar dalam Blog? &#171; Ahmad Makki</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/adonis-528.php/comment-page-1#comment-1066</link>
		<dc:creator>Perlukah Berbahasa Indonesia yang Benar dalam Blog? &#171; Ahmad Makki</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Dec 2008 15:28:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=528#comment-1066</guid>
		<description>[...] Di tempat ini Eka menulis berbagai hal, mulai dari kecintaannya terhadap grup musik Guns and Roses, pengalaman mengikuti sebuah diskusi, sampai catatan perjalanan dan kegagalan pulang kampung. Sebagai seorang pengagumnya, wajar jika [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Di tempat ini Eka menulis berbagai hal, mulai dari kecintaannya terhadap grup musik Guns and Roses, pengalaman mengikuti sebuah diskusi, sampai catatan perjalanan dan kegagalan pulang kampung. Sebagai seorang pengagumnya, wajar jika [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: iqbal dawami</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/adonis-528.php/comment-page-1#comment-996</link>
		<dc:creator>iqbal dawami</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Dec 2008 07:35:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=528#comment-996</guid>
		<description>Ada hal terlewatkan oleh Adonis, ia tidak menyinggung tradisi puisi &#039;mu&#039;allaqot&#039; di mekkah dan kritik Thaha Husain atas sastra (baca:puisi) arab jahili yang katanya banyak palsunya. saya lihat data-data Thaha Husain lumayan logis, dia memakai teori projecting back.
salam kenal mas eka
Trims</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ada hal terlewatkan oleh Adonis, ia tidak menyinggung tradisi puisi &#8216;mu&#8217;allaqot&#8217; di mekkah dan kritik Thaha Husain atas sastra (baca:puisi) arab jahili yang katanya banyak palsunya. saya lihat data-data Thaha Husain lumayan logis, dia memakai teori projecting back.<br />
salam kenal mas eka<br />
Trims</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Makki</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/adonis-528.php/comment-page-1#comment-989</link>
		<dc:creator>Makki</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Nov 2008 16:23:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=528#comment-989</guid>
		<description>Hahahaha. Sulit sekali ya.

Mas setuju kalau ada yang bilang bahwa bangsa kita telah tercerabut dari akar? Saya sedikit membaca Lombard, gara-gara Mas Eka sempat menyebutnya. Saya melihat gambaran kebesaran bangsa kita di sana.

Bukan hendak berromantisme dengan masa lalu, tapi inspirasi juga penting kan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hahahaha. Sulit sekali ya.</p>
<p>Mas setuju kalau ada yang bilang bahwa bangsa kita telah tercerabut dari akar? Saya sedikit membaca Lombard, gara-gara Mas Eka sempat menyebutnya. Saya melihat gambaran kebesaran bangsa kita di sana.</p>
<p>Bukan hendak berromantisme dengan masa lalu, tapi inspirasi juga penting kan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Makki</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/adonis-528.php/comment-page-1#comment-983</link>
		<dc:creator>Makki</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Nov 2008 19:23:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=528#comment-983</guid>
		<description>Saya menangkap kesan dari cerita Mas Eka bahwa melakukan tapak tilas akar budaya kita mestinya hal yang inheren dalam diri penyair kita. Saya setuju itu.
Lalu bagaimana pandangan Mas Eka dalam kehidupan bernegara pada umumnya, pentingkah penelusuran budaya kita dilakukan? Apa pentingnya  untuk kita? Terima kasih.

&lt;blockquote&gt;&lt;strong&gt;makki,&lt;/strong&gt;
untuk saya paling tidak, dengan mengetahui apa-apa yang sudah dicapai (dan belum), bisa menjadi ukuran bagi apa yang saya kerjakan hari ini. misalnya, saya tak akan menganggap diri saya mengerti politik, jika wawasan saya belum melampaui soekarno, hatta, syahrir, tan malaka ... :)
(eka)&lt;/blockquote&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya menangkap kesan dari cerita Mas Eka bahwa melakukan tapak tilas akar budaya kita mestinya hal yang inheren dalam diri penyair kita. Saya setuju itu.<br />
Lalu bagaimana pandangan Mas Eka dalam kehidupan bernegara pada umumnya, pentingkah penelusuran budaya kita dilakukan? Apa pentingnya  untuk kita? Terima kasih.</p>
<blockquote><p><strong>makki,</strong><br />
untuk saya paling tidak, dengan mengetahui apa-apa yang sudah dicapai (dan belum), bisa menjadi ukuran bagi apa yang saya kerjakan hari ini. misalnya, saya tak akan menganggap diri saya mengerti politik, jika wawasan saya belum melampaui soekarno, hatta, syahrir, tan malaka &#8230; :)<br />
(eka)</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: sarastia</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/adonis-528.php/comment-page-1#comment-936</link>
		<dc:creator>sarastia</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Nov 2008 06:19:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=528#comment-936</guid>
		<description>tu sih setuju. hehehe..saya gak pernah bosan ke blog kak eka. favorit blog dah.ne lagi cemas nungguin malam seribu bulan. mana cerpennya?. lama gak beredar. saya tunggu yang petualangan kak.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>tu sih setuju. hehehe..saya gak pernah bosan ke blog kak eka. favorit blog dah.ne lagi cemas nungguin malam seribu bulan. mana cerpennya?. lama gak beredar. saya tunggu yang petualangan kak.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: zen</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/adonis-528.php/comment-page-1#comment-932</link>
		<dc:creator>zen</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Nov 2008 02:49:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=528#comment-932</guid>
		<description>Mas Eka, sayang sekali saya gak bisa datang ke Salihara kemarin. Saya sudah membaca jilid pertama dari bukunya yang diterbitkan LKiS. Itu karya yang mengesankan, memang. Adonis mengkaji ribuan puisi Arab untuk menemukan kecenderungan untuk berubah dan kecenderungan untuk tetap mengabadikan masa lalu sbg standar segalanya. Tapi di bukunya itu, saya gak banyak menemukan kajian Adonis ttg puisi-puisi para sufi (saya blm baca jilid keduanya).

Mas, Adonis di ceramahnya menyinggung naskah-naskah para sufi? Saya kira itu penting. Setelah selama hampir 3-4 abad menjauh dari puisi (krn ada ayat yg menyebut penyair sbg tukang sihir), para sufi-lah yang --sedikit banyak-- cukup berhasil memulihkan kembali kedudukan puisi dalam masyarakat Arab. Sebelum itu, para penyair memang berada dalam posisi rawan. Boleh sih nulis puisi, tp jangan pernah berani menulis tema-tema transendental atau spiritual, karena dg mudah didakwa bid&#039;ah atau bahkan disangka hendak memalsukan Qur&#039;an.

Bahwa Qur&#039;an sendiri lantas menjadi standar dalam puisi Arab (seperti dikupas dg gemilang oleh Adonis di bukunya), itu menjadi ironi, lebih-lebih krn standar itu jg banyak memakan korban. Qur&#039;an sendiri sebenarnya membawa kode-kode penulisan yang revolusioner dalam standar kesusastraan Arab sebelumnya yang sudah mapan berabad-abad.

Ironinya terletak di situ: apa yang sebelumnya revolusioner, justru menjadi standar kemapanan!

&lt;blockquote&gt;&lt;strong&gt;zen:&lt;/strong&gt;
ya, dalam ceramahnya adonis membicarakan puisi sufi. terutama Rumi.
(eka kurniawan)&lt;/blockquote&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mas Eka, sayang sekali saya gak bisa datang ke Salihara kemarin. Saya sudah membaca jilid pertama dari bukunya yang diterbitkan LKiS. Itu karya yang mengesankan, memang. Adonis mengkaji ribuan puisi Arab untuk menemukan kecenderungan untuk berubah dan kecenderungan untuk tetap mengabadikan masa lalu sbg standar segalanya. Tapi di bukunya itu, saya gak banyak menemukan kajian Adonis ttg puisi-puisi para sufi (saya blm baca jilid keduanya).</p>
<p>Mas, Adonis di ceramahnya menyinggung naskah-naskah para sufi? Saya kira itu penting. Setelah selama hampir 3-4 abad menjauh dari puisi (krn ada ayat yg menyebut penyair sbg tukang sihir), para sufi-lah yang &#8211;sedikit banyak&#8211; cukup berhasil memulihkan kembali kedudukan puisi dalam masyarakat Arab. Sebelum itu, para penyair memang berada dalam posisi rawan. Boleh sih nulis puisi, tp jangan pernah berani menulis tema-tema transendental atau spiritual, karena dg mudah didakwa bid&#8217;ah atau bahkan disangka hendak memalsukan Qur&#8217;an.</p>
<p>Bahwa Qur&#8217;an sendiri lantas menjadi standar dalam puisi Arab (seperti dikupas dg gemilang oleh Adonis di bukunya), itu menjadi ironi, lebih-lebih krn standar itu jg banyak memakan korban. Qur&#8217;an sendiri sebenarnya membawa kode-kode penulisan yang revolusioner dalam standar kesusastraan Arab sebelumnya yang sudah mapan berabad-abad.</p>
<p>Ironinya terletak di situ: apa yang sebelumnya revolusioner, justru menjadi standar kemapanan!</p>
<blockquote><p><strong>zen:</strong><br />
ya, dalam ceramahnya adonis membicarakan puisi sufi. terutama Rumi.<br />
(eka kurniawan)</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: sarastia</title>
		<link>http://ekakurniawan.com/blog/adonis-528.php/comment-page-1#comment-928</link>
		<dc:creator>sarastia</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Nov 2008 17:07:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ekakurniawan.com/?p=528#comment-928</guid>
		<description>Yang langsung terbaca oleh saya kak eka :
Adakah manfaat dari melakukan perbandingan antara Adonis dengan realitas penyair Indonesia?. Tentu saja ada. Jawaban bisa berlembarlembar. Tapi yang pasti sebelum melakukan kerja membandingkan itu, toh sudah jelas (dengan miris) hipotesa dan kesimpulannya : penyair kita kalah jauh. 
Artinya, kejelasan jawaban sesungguhnya tidak memerlukan pertanyaan yang diulang. Sebab, akan jadi stereotip. (berbeda jika pengulangannya terjadi di laboratorium)
Kita bisa cermati dari jutaan tulisan yang dibuat tiap hari, cemooh dari hasil perbandingan pencapaian luaran dengan dalam negeri, jadi godaan yang kelewat besar untuk dibubuhkan dalam tiap tulisan itu. Dalam setiap bidang : dari pengelolaan sampah, birokrasi, sepakbola, sastra, bahkan pemakaman umum. Hal yang terakhir saya baca dari tulisan dewanto di blognya. Jauhjauh ke buenos aires pun sampai tidak lupa untuk berkoar tentang buruknya pemakaman kita. 
Janganjangan ini jadi keahlian reflek kita, ‘seperangkat doksa yang dibikin makin ahli tiap harinya’?. Maka jangan heran jika, Syubah Ali-pun (liat tulisannya di kumpulan bentara tahun 2000) ketika menulis tentang rendra, dengan mudahnya bilang “orang prancis” pun dalam salah satu pertunjukan rendra terangterangan mengungkapkan kegagumannya. Hah?. “orang prancis” menjadi jaminan kwalitas apresiasi, sama persis dengan euphoria ‘impor’ sebagai jaminan mutu untuk garmen dan consumer good.(kita toh pastinya punya banyak temen orang rancis yang TOLOL minta ampun, kan?.he3)
Saya kira, sastrawan adalah makhluk pertama yang harus menyadari “bahasa” buruk dalam percakapan sehari-hari. Sebab mereka sadar : dalam bahasalah seluruh pandangan hidup sebuah bangsa disimpan sekaligus bisa dipermainkan. 
Dan hari ini, kita punya Obama, symbol untuk perubahan. Khususnya semua yang bertalian dengan stereotipstereotip. Dan padamulanya adalah kata, bukan?.

&lt;blockquote&gt;&lt;strong&gt;sarastia:&lt;/strong&gt;
pokok soalnya bukan di situ, bukan soal perbandingan sebenarnya, tapi soal mengingatkan (terutama untuk diri saya sendiri) bahwa banyak pekerjaan yang belum kita kerjakan. semisal, sebagaimana saya sudah singgung, sejauh mana usaha kita mengkaji puisi-puisi pra-indonesia? juga negarakrtagama, pernahkah kita melakukan kajian sastra, tidak semata-mata sejarah? saya pikir ini salah satu tugas lain penyair (dan penulis), bukan demi siapa-siapa, tapi terutama demi dirinya sendiri. (ekakurniawan)&lt;/blockquote&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yang langsung terbaca oleh saya kak eka :<br />
Adakah manfaat dari melakukan perbandingan antara Adonis dengan realitas penyair Indonesia?. Tentu saja ada. Jawaban bisa berlembarlembar. Tapi yang pasti sebelum melakukan kerja membandingkan itu, toh sudah jelas (dengan miris) hipotesa dan kesimpulannya : penyair kita kalah jauh.<br />
Artinya, kejelasan jawaban sesungguhnya tidak memerlukan pertanyaan yang diulang. Sebab, akan jadi stereotip. (berbeda jika pengulangannya terjadi di laboratorium)<br />
Kita bisa cermati dari jutaan tulisan yang dibuat tiap hari, cemooh dari hasil perbandingan pencapaian luaran dengan dalam negeri, jadi godaan yang kelewat besar untuk dibubuhkan dalam tiap tulisan itu. Dalam setiap bidang : dari pengelolaan sampah, birokrasi, sepakbola, sastra, bahkan pemakaman umum. Hal yang terakhir saya baca dari tulisan dewanto di blognya. Jauhjauh ke buenos aires pun sampai tidak lupa untuk berkoar tentang buruknya pemakaman kita.<br />
Janganjangan ini jadi keahlian reflek kita, ‘seperangkat doksa yang dibikin makin ahli tiap harinya’?. Maka jangan heran jika, Syubah Ali-pun (liat tulisannya di kumpulan bentara tahun 2000) ketika menulis tentang rendra, dengan mudahnya bilang “orang prancis” pun dalam salah satu pertunjukan rendra terangterangan mengungkapkan kegagumannya. Hah?. “orang prancis” menjadi jaminan kwalitas apresiasi, sama persis dengan euphoria ‘impor’ sebagai jaminan mutu untuk garmen dan consumer good.(kita toh pastinya punya banyak temen orang rancis yang TOLOL minta ampun, kan?.he3)<br />
Saya kira, sastrawan adalah makhluk pertama yang harus menyadari “bahasa” buruk dalam percakapan sehari-hari. Sebab mereka sadar : dalam bahasalah seluruh pandangan hidup sebuah bangsa disimpan sekaligus bisa dipermainkan.<br />
Dan hari ini, kita punya Obama, symbol untuk perubahan. Khususnya semua yang bertalian dengan stereotipstereotip. Dan padamulanya adalah kata, bukan?.</p>
<blockquote><p><strong>sarastia:</strong><br />
pokok soalnya bukan di situ, bukan soal perbandingan sebenarnya, tapi soal mengingatkan (terutama untuk diri saya sendiri) bahwa banyak pekerjaan yang belum kita kerjakan. semisal, sebagaimana saya sudah singgung, sejauh mana usaha kita mengkaji puisi-puisi pra-indonesia? juga negarakrtagama, pernahkah kita melakukan kajian sastra, tidak semata-mata sejarah? saya pikir ini salah satu tugas lain penyair (dan penulis), bukan demi siapa-siapa, tapi terutama demi dirinya sendiri. (ekakurniawan)</p></blockquote>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

