Eka Kurniawan

Journal

Author: Eka Kurniawan (page 3 of 33)

The Call of Cthulhu and Other Weird Stories, H.P. Lovecraft

Kesusastraan dengan cara sederhana merupakan dua kutub penjelajahan terhadap yang gelap, yang tak diketahui, didorong oleh rasa ingin tahu maupun hasrat untuk menguasai. Penjelajahan pertama adalah menafsir hal-hal gelap menjadi sesuatu yang bisa dipahami, dengan menjalin simpul-simpul yang mencuat ke dunia yang lebih benderang. Ini berlaku untuk novel-novel detektif maupun fiksi sains, bahkan dalam cerpen-cerpen filosofis nan magis Borges. Penjelajahan kedua adalah menceburkan diri ke dalam kegelapan, melihat sendiri ada apa di sana, bahkan meskipun hasilnya merupakan sesuatu yang tak terjelaskan alias tetap gelap. Ini berlaku untuk kebanyakan novel-novel horor, weird, sebagian fiksi sains, dan saya kira H.P. Lovecraft berada di sana. Ia merupakan penunjuk jalan, pemandu dunia gelap, dan sialnya ia tak pernah bermaksud menjadi pemandu yang baik dalam arti membebaskan kita dari ketersesatan. H.P. Lovecraft bisa dianggap sebagai pemandu dunia gelap dan ia sendiri adalah bagian dari dunia itu, bagian dari terornya sendiri. Itulah yang paling brengsek dari penulis satu ini. Sebagian besar cerpen-cerpennya, setidaknya di kumpulan The Call of Cthulhu and Other Weird Stories ini, merupakan sejenis laporan yang dituliskan, atau diceritakan oleh penyintas dunia gelap yang sanggup melarikan diri dari teror. Itu cara terbaik untuk menggambarkan dunia Lovecraft. Paparannya yang membabi buta adalah kegandrungannya terhadap peta: ia menghadirkan apa saja untuk menggambarkan lanskap di sekeliling dunianya. Dalam cerpen yang paling mendekati mimpi buruk, “The Shadow Over Innsmouth” di mana si tokoh terjebak di satu kota aneh (dengan bus yang menuju kota itu hanya berisi tiga penumpang saking tak ada yang mau lewat di sana, dan penduduk dari daerah lain yang terpaksa bekerja di sana tak berani kelayapan di malam hari, dan makhluk-makhluk berbadan manusia dan berkepala ikan bisa lewat di depanmu), Lovecraft menggambarkan peta kota itu. Jalan-jalannya, gedung-gedungnya, taman-tamannya. Bagian mana yang terpapar sinar rembulan, bagian mana yang menguarkan aroma amis. Di cerpen “The Haunter of the Dark”, ia menggambar peta sebuah gereja tua, yang menyimpan misteri berbeda bagi pengunjung nekat yang berbeda. Sebagai pemandu, tentu ia memang harus melakukannya. Peta itu bukan untuk membuat kita mengerti hamparan lanskap di sana; tapi terutama dibuat agar kita mengerti, di sanalah teror itu akan berada dan kita sadar hanya celah-celah kecil yang bisa membuat kita terbebas dari sana. Kita memerlukan peta semacam itu sebab, dalam cerpen-cerpennya, Lovecraft selalu mengajak kita ke sebuah dunia yang kita kenali, tapi sekaligus dunia lain. Dunia lain dalam makna yang sebenarnya: kaum pendatang dari negeri antah-berantah, makhluk yang tak pernah ada dalam khasanah bumi dan penghuninya, makhluk semi dewa. Cerpen-cerpennya penuh dengan kisah dan upacara pemujaan terhadap makhluk-makhluk ini, dan menampilkan ekspresi yang bengis dari manusia: tak berdaya dan menjadi budak, jika bukan buronan. Kadang-kadang dunia asing itu muncul dalam bentuknya yang paling aneh, tidak mawujud kecuali dalam berkas cahaya seperti di cerpen “The Colour Out of Space”. Cahaya itu datang bersamaan dengan jatuhnya batu meteor ke sebuah lahan peternakan, dan sejak itu, cahaya tersebut menjadi teror “yang mengisap kehidupan”. Orang-orang di kota Arkham (kota ini selalu muncul, secara langsung atau tidak) bahkan tak berani membicarakannya lagi. Melalui kisah-kisah horor atau aneh (kadang dengan balutan fiksi sains dalam cerpen semacam “Herbert West — Reanimator”, sisi lain dari Frankenstein yang kocak sekilagus mengerikan), Lovecraft menyajikan tragedi manusia menghadapi dunia lain yang asing dan gelap. Kita mencoba bersahabat dengan kegelapan untuk terjebak di dalamnya, dan mencoba melawan hanya untuk dikalahkan. Lovecraft tak menyajikan dunia terang yang menghibur, ia pemandu kejam dunia kegelapan itu sendiri.

“Eka Kurniawan’s hugely inventive fiction is a potent blend of grounded realism and flighty fantasy.”

The Economist on Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash, “The secrets of Indonesia’s finest novelist”.

“Thrilling … an engrossing, emotionally rankling speed-read … original and sure-footed.”
– Jane Graham, The Big Issue

The first review of my third novel (in English translation), Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash.

A Grain of Wheat, Ngũgĩ wa Thiong’o

“Kami pergi ke gereja. Mubia, dengan jubah putih, membuka Injil. Ia berkata, berlututlah untuk berdoa. Kami berlutut. Mubia berkata: Pejamkan mata. Kami melakukannya. Kau tahu, ia tetap membuka mata sehingga ia bisa tetap membaca. Ketika kami membuka mata, tanah kami telah lenyap dan pedang api berdiri berjaga.” Saya tak menemukan ungkapan sesederhana sekaligus tepat ke jantungnya tentang kolonialisme, melebihi apa yang saya baca di novel Ngũgĩ wa Thiong’o, penulis Kenya, A Grain of Wheat. Seseorang pernah mengingatkan saya bahwa agama, uang dan negara (bangsa, kerajaan, dan segala ide tentang komunitas-bangsa) merupakan tiga kekuatan yang sering menyatukan umat manusia. Saya bisa menambahkan: tiga hal itu juga yang sering menghancur-leburkan manusia dan peradabannya. Persekutuan agama dan hasrat menyebarkan peradaban dan nilai-nilai serta kerakusan yang didorong oleh uang telah menyebabkan kolonialisme, salah satu kebrutalan dalam sejarah dunia modern, dan ide tentang negara-bangsa berkelindan di sana membuatnya semakin rumit. Jelas ini novel politik, dalam tradisi yang sangat gamblang tentang perjuangan kaum tertindas melawan kaum penindas. Kisahnya sendiri berkelindan di sekitar hari-hari menjelang kemerdekaan Kenya dari pendudukan Britania, melibatkan beberapa tokoh yang tak hanya membuat novel ini sebagai sebuah novel sejarah, tapi juga sebuah epik sosial dalam sebuah pertanyaan besar, “Apa artinya menjadi bebas, menjadi merdeka?” Kita dihadapkan kepada aksi-aksi heroik, tapi sekaligus dihajar oleh pertanyaan mendasar, apa artinya menjadi pahlawan? Siapa sebenarnya pahlawan? Setelah membaca novel ini, saya rasa hal terbaik untuk membicarakannya adalah dengan mengambil satu-dua kutipan darinya dan melihat kembali apa yang terpancar dari sana. “Pengecut hidup untuk melihat ibunya sementara sang pemberani mati di medan pertarungan,” begitu novel ini berkata di satu tempat. Perjuangan kaum tertindas melawan para penindas, kita tahu tak sesederhana satu pihak lemah melawan pihak yang kuat. Novel ini menunjukkan hal yang lebih rumit dari itu: adalah perjuangan melawan ambisi-ambisi pribadi, baik di kalangan kaum tertindas maupun penindasnya sendiri. Aksi paling heroik justru bukanlah ketika seorang pahlawan berdiri menghadapi musuh dan menembaknya dengan dingin, atau bertahan dalam interogasi yang membawanya pada penyiksaan fisik; tapi justru ketika kita menghadapi manusia-manusia yang mengakui kelemahan-kelemahannya, kebusukannya, bahkan pengkhianatan-pengkhianatannya. Tak hanya pengkhianatan kepada kawan-kawan seperjuangan, tapi terutama pengkhianatan kepada tanah air dan bangsanya. Seluruh sosok di novel ini, dengan cara yang menyakitkan, pahlawan di hari kemerdekaan sekaligus pengkhianat dan pengecut yang menyedihkan, dan mereka menyambut hari tersebut dalam kabut ketidakpastian [dan bukan ironi: pejuang yang dipuji-puji di novel ini, yang kemudian menjadi penguasa Kenya, di kemudian hari mengirim penulis novel ini ke penjara]. Penuh kebrutalan tapi juga kejujuran, Ngũgĩ tak hanya melucuti watak-watak kolonial yang bengis, rakus, juga menelanjangi watak-watak budak yang menyerah dan menerima keadaan. Ada satu episode kecil tentang sebuah keluarga. Si ayah sering menyiksa si ibu, hingga akhirnya si anak lelaki datang melawan ayahnya. Tapi apa yang terjadi? Si ibu datang dan membela si ayah, menyerang si anak. “Baru belakangan ia melihat begitu banyak orang Kenya dengan bangga mempertahankan perbudakannya di mana ia bisa mengerti reaksi ibunya,” demikian si anak menyadari. Seperti kebanyakan novel politik, kisah ini juga memperlihatkan arsitektur tentang kekuasaan yang tak selalu bersikap dikotomis penindas dan tertindas. Sebagian kaum tertindas bersekutu dengan penindasnya, memperoleh sedikit kekuasaan, untuk menindas yang jauh lebih lemah. Kaum tertindas mengkhianati kawannya sendiri, untuk memperoleh sedikit kekuasaan, agar bisa bertahan di dunia yang menghancur-leburkan segala. Dan bahkan di antara pejabat-pejabat kolonial, mereka saling sikut, untuk mempertahankan kuasa masing-masing, sehingga bolehlah kita tengok apa yang dikatakan novel ini di bagian nyaris akhir: “Belakangan, kesadaran akan kuasa, kemampuan untuk menghancurkan kehidupan manusia hanya dengan menarik pelatuk, begitu memberi obsesi kepadanya sehingga menjadi kebutuhan.”

Göteborg Book Fair 2017 seminar program booklet is out now (in English). I will be in Sweden for the book fair, September 28-October 1, 2017. Swedish edition of Beauty Is a Wound is published by Nilsson Förlag.

Saya tumbuh di antaranya dengan membaca majalah remaja pria Hai, melebihi majalah remaja lainnya. Saya juga menulis beberapa cerita pendek di sana (diterbitkan di Corat-coret di Toilet). Hormat dan terima kasih untuk menemani masa remaja saya: Majalah Hai berhenti cetak sejak bulan ini.

“Kurniawan has become the rare Indonesian author to break through to a typically translation-allergic U.S. market […] Vengeance Is Mine promises dark, sexually charged and subversive comedy …” from “24 Incredible Books To Add To Your Shelf This Summer”, Huffington Post.

Buku kecil ini, Auman! Catatan Pembaca Prosa Eka Kurniawan, saya rasa merupakan buku pertama yang secara khusus membicarakan karya-karya saya. Isinya sekumpulan esai, atau resensi, dari beberapa penulis seperti Heri CS dan Widyanuari Eko Putra. Jika ada yang berminat (untuk penelitian skripsi, misalnya), bisa menghubungi penerbitnya, Kelab Buku Semarang.

Terkonfirmasi. Editor cerpen Kompas sendiri menyarankan inses intelektual semacam begini. Sama seperti dalam bidang biologi, hubungan sedarah kemungkinan (dikutip dari Wikipedia):

“… berpotensi tinggi menghasilkan keturunan yang secara biologis lemah, baik fisik maupun mental (cacat), atau bahkan letal (mematikan).”

The Street of Crocodiles, Bruno Schulz

Seorang pencerita adalah seorang penyihir yang mengubah benda-benda menjadi apa pun yang diinginkannya, persis sebagaimana dilakukan anak-anak dengan mainan mereka. Saya menyadari hal itu ketika satu hari melihat anak saya menjadikan botol bekas sebagai pesawat terbang, boneka sebagai monster, kotak-kotak pembungkus sebagai makanan yang lezat terhidang di atas meja, dan kolong meja sebagai istana megahnya, sambil menjadikan dirinya sendiri seorang puteri dari kerajaan antah berantah. Bruno Schulz adalah salah satu penyihir itu, penyihir yang memiliki kualitas terbaik sifat kekanak-kanakan abadi, yang menjadikan kecoa sebagai penyusup misterius di kolong meja, burung-burung membangun imperium dan menguasai loteng apartemen, seorang gelandangan yang tertidur di rerumputan menjelma Dewa Pan, koleksi perangko sebagai ensiklopedia yang mengetahui segala tempat dan seluruh sejarah dunia, dan peta kota dihidupkan menjadi lanskap tempat banyak peristiwa terjadi. Seorang pencerita adalah seorang penyihir yang bertarung dalam pertarungan abadi menghadapi kebosanan, melawan dunia yang beku dan hanya berputar dari satu musim ke musim lain dalam kemonotonan yang hambar. Cerita-cerita Schulz, yang sialnya hanya menyisakan dua kumpulan tipis The Street of Crocodiles dan Sanotarium Under the Sign of the Hourglass, serta tiga cerita pendek yang terpisah (buku yang saya baca merangkum semuanya), dipentaskan di lanskap yang seperti itu. Yang kehambarannya lebih menyiksa dan menderitakan melebihi sebagian besar tragedi umat manusia. Ia tak memerlukan dunia yang dilanda perang, ia tak memerlukan kota yang dilanda wabah penyakit, ia juga tak membutuhkan dunia misterius yang mengancam, maupun asmara yang menggelegak. Ia hanya membutuhkan lanskap kota dan musim yang membosankan, dan ia melawannya dengan keedanan seorang Don Quixote, sebab yang terpenting bagaimana ia menyihir semua itu menjadi lanskap yang hidup, dengan lelucon dan kesedihannya sendiri. Seorang pencerita adalah seorang penyihir yang menujum pembacanya dengan ramuan apa pun yang ada di tangannya. Di permukaan, kita tahu tak ada yang fantastik dari lanskap cerita-cerita Schulz. Ia hanya menceritakan sebuah keluarga, dari sudut pandang seorang anak (kadang ia menjelma remaja, lain kali menjadi lelaki dewasa). Seorang ayah yang gila, seorang ibu, kakak perempuan, penjaga toko, kadang-kadang muncul paman dan tetangga. Semuanya terjadi di apartemen mereka, kadang melebar ke kota, ke toko, ke sanotarium. Di luar itu, ia hanya memberi bumbu musim panas, atau musim semi, malam, topan. Sejujurnya saya sempat diserang pertanyaan, “Cerita macam apa ini? Mau dibawa ke mana kita?” Tapi di bawah permukaan, keluarga itu menjelma makhluk-makhluk fantastis, dengan peperangan, penemuan-penemuan spektakuler, petualangan asmara, pengalaman mencekam, dan saya kira hanya sedikit penulis, salah satunya Schulz, mampu melakukan hal itu untuk membuat kita terjebak di sana, diseret oleh pengaruhnya, tak berdaya untuk melepaskan diri. Seorang pencerita adalah seorang penyihir yang menjebak kita di dunia ambang, dunia nyata yang kita kenali, sekaligus di dunia imajinasi yang asing dengan segala pengaruhnya: membuat kita senang ataupun takut. Kita tak pernah benar-benar yakin, ketika si anak tersesat dari gedung teater ke rumah hanya untuk mengambil dompet ayahnya, apakah ia mengalami petualangan yang nyata atau khayalan. Apakah kota dan sanotarium itu dunia mimpi atau kenyataan sesungguhnya. Bahkan Schulz memaksa kita untuk berada di ambang fantasi, metafor atau sejenis hiperbola, ketika misalnya menulis, “Ia demikian tak punya pikiran di mana ia kadang membuat saus putih dari surat dan kertas tagihan tua”, sebagaimana kita selalu berada dalam kebimbangan apakah sedang menghadapi situasi komedi atau tragedi. Kita bisa memercayai segala hal yang terjadi di sini, sekaligus meragukannya. Jebakan dunia ambang ini, saya rasa, sudah terjadi bahkan di bentuknya. Apakah yang kita hadapi ini sekumpulan cerita yang bisa berdiri sendiri, atau sebuah novel yang aneh? Kamu bisa menganggap satu di antaranya, atau meragukan keduanya. Ia adalah kesinambungan sekaligus keterputusan di sana-sini. Seorang pencerita adalah seorang penyihir yang seringkali menakutkan, memiliki dunia sendiri yang kadang tak dipahami oleh manusia-manusia awam. Saya selalu menaruh curiga kepada novel-novel yang menyenangkan. Sebab, seperti makanan yang penuh dengan gula atau garam, seenak apa pun seringkali memberi jebakan berbagai penyakit. Makanan yang sehat, kata ibu saya, lebih sering tak enak dimakan. Buku yang baik, yang mengganggu saya, juga seringkali begitu. Saya tak akan bilang buku ini menyenangkan. Membacanya menuntut tak hanya nyali dan ketabahan, tapi juga pengendalian diri. Saya merasa bukan bagian dari buku ini, terlempar dan tertolak. Tapi ketika menyelesaikannya, ia menyisakan rasa pahit yang lama, yang tak mau hilang, dan bagian-bagian terbaik dari isinya terus menghantui saya setelah itu. Saya yakin ia tak akan pergi, akan terus bersemayam, seperti wajah monster menakutkan jika kau pernah sekali saja menemukannya. “Sebab buku-buku yang biasa itu seperti meteor. Masing-masing dari mereka memiliki satu momen, momen ketika ia menjulang menjerit seperti burung hong, seluruh halamannya membara. Untuk momen tunggal itu kita mencintainya, meskipun setelahnya mereka luruh menjadi abu.” Schulz jelas tak menulis buku macam begitu. Ia menciptakan monster. Seorang pencerita adalah penyihir yang membuka banyak pintu dan berbagai kemungkinan, bahkan meskipun ia hanya meninggalkan sedikit saja untuk kita. Hidup Schulz terbilang tragis. Ketika tentara Nazi datang ke kotanya, sebagai seorang Yahudi, ia tak sempat melarikan diri. Bakat menggambarnya menarik minat seorang perwira Jerman, yang memintanya menggambar mural untuk kamar anak. Ia memperoleh perlindungan. Sial, pelindungnya membunuh Yahudi lain, dan Jerman pelindung Yahudi itu membalas dendam. Menembak mati Schulz di jalan sambil berkata kepada kolega Jermannya: “Kau bunuh Yahudiku, kubunuh milikmu.” Ia hanya meninggalkan buku ini, serta setumpuk gambar dan surat-surat, tapi saya kira buku ini merupakan pintu luar biasa. Pintu yang bisa membawamu ke berbagai kemungkinan. Sejenis pintu yang telah dibuka oleh Kafka atau Cervantes. Pintu yang mustahil untuk ditutup kembali.

Older posts Newer posts

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑