Cool Stuff

Here are some recent reviews for Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash (New Directions, Pushkin Press, Text Publishing, Speaking Tiger):

“And as high-end pulp fiction, Vengeance is Mine, All Others Pay Cash is superb.” – Tim Hannigan, Asian Review of Books.

“A darkly comic tale of boyhood” – Jane Yong Kim, The Atlantic.

Vengeance is wonderfully entertaining, and highly cinematic, its critique of patriarchal Indonesian society wrapped in picaresque adventure and anarchic comedy.” – Keshava Guha, The Hindu.

“Indonesian-born Eka Kurniawan is one of the most exciting writers active today. Vengeance Is Mine, All Other Pay Cash is a madcap noir featuring an impotent gangster who undertakes a violent and epic quest to regain use of his ‘little bird’. encountering bewitching martial artists, truck drivers, and vicious criminals along the way.” – The Culture Trip.

I had some interviews with Italian media when I was in Mantova last week, here one of them form Il Libraio (for those who read Italian): Eka Kurniawan, che ha portato “il realismo magico nella varietà della letteratura indonesiana”.

And here is my short story published by Vice, translated by Annie Tucker. Originally published in Indonesian as “Pengantar Tidur Panjang”. This is one from my first story collection in English translation, Kitchen Curse, forthcoming from Verso Books.



Reviews, Story and Interview

Aside
Journal

The Saint-Fiacre Affair, Georges Simenon

Di lobi hotel itu ada perpustakaan kecil. Tak tertahankan, saya mendatanginya meskipun di sudut-sudut lain ada tawaran lain: komputer dengan internet gratis, permainan sepakbola meja, bahkan camilan. Tak banyak bukunya memang, mungkin sekitar seratus jilid. Sebagian besar berbahasa setempat. Jika ada yang berbahasa Inggris, biasanya novel klasik yang sangat tebal, tak mungkin dibaca sambil bersantai di lobi. Bahkan dibawa masuk ke kamar pun, mungkin membutuhkan waktu berhari-hari tanpa melakukan apa pun. The Saint-Fiacre Affair karya Georges Simenon tergeletak di sana, seperti bekas dibaca seseorang. Saya belum pernah membaca Simenon dan tokoh inspektur polisi rekaannya, Inspektur Maigret. Tapi saya tahu ia menulis novel-novel fiksi kriminal, dan ia penulis berbahasa Perancis asal Belgia. Seperti pelancong yang memutuskan untuk mengarungi setapak atau gang di tengah kota yang tak dikenalinya, saya mengambil buku itu, membawanya ke kamar dan mulai membacanya. Adakah cerita kriminal di mana inspektur polisinya nyaris enggak ngerjain apa-apa dan pelaku kejahatan akhirnya ketahuan dengan sendirinya? Setidaknya, novel ini salah satunya. Tapi itu bukan masalah. Setidaknya buat saya, fiksi kriminal yang ideal bukanlah terletak di jagonya sang detektif memecahkan kasus kriminal melalui tanda-tanda (dan betapa jagonya penulis mengecoh pembaca melalui tanda-tanda yang sama), melainkan terletak pada watak-watak di dalamnya. Watak-watak kriminal di mana setiap tersangka memiliki jejak kemungkinan untuk menjadi pelaku kejahatan, tak hanya karena motif, tempat dan waktu memungkinkan. Telaah mengenai watak manusia yang tampak dan tak tampak (atau hanya tampak dalam situasi tertentu, seperti menghadapi peristiwa kejahatan), bagi saya merupakan hal paling mengasyikan dari fiksi kriminal. Lagipula adegan “pembunuhannya” juga tidak normal: seorang perempuan setengah baya, mati mendadak di kursi gereja. Kata dokter, kena serangan jantung. Tak ada luka, tak ada bekas kekerasan. Satu-satunya petunjuk untuk Inspektur Maigret bahwa itu pembunuhan, hanyalah karena ia menerima surat yang meramalkan kematian perempuan itu beberapa hari sebelumnya, dan bahwa ia menemukan potongan berita palsu di buku doa perempuan itu, yang kemungkinan besar terbaca dan membuatnya kena serangan jantung. Pelaku yang edan sekaligus jenius, bukan? Bagian itu saja pasti bisa bikin pengadilannya menjadi ruwet, jika cerita berlanjut hingga pengadilan. Satu hal yang menarik dari Maigret, ia tak hanya ada di sana sebagai detektif yang dingin memecahkan masalah, tapi juga bagian dari persoalan cerita. Perjalanannya ke Saint-Fiacre tak hanya untuk mengungkapkan kasus kematian yang telah diramalkan, tapi juga perjalanan emosional dirinya: Saint-Fiacre merupakan masa lalunya. Saya tak tahu apakah hal yang sama bisa saya temukan di judul-judul lainnya (Simenon menulis 75 novel Maigret), saya akan coba membaca yang lain jika ada kesempatan. Yang jelas novel ini melebihi harapan saya mengenai fiksi kriminal, seperti hal-hal mengejutkan bisa saya temukan di gang asing yang dengan nekat saya masuki. Bahasanya yang ekspresif, bahkan awalnya agak aneh, seperti grafiti di dinding rumah yang awalnya terasa meneror tapi kemudian menjadi hiburan yang akrab. Misal penggunaan kalimat pasif yang saya jarang temukan di dalam bahasa Inggris: dari dalam kamar bahasa Inggris terdengar diucapkan (alih-alih dari dalam kamar terdengar mereka bicara dalam bahasa Inggris). Mungkin perkara terjemahan, mungkin memang gayanya seperti itu, tapi setelah terbiasa, saya menemukan keasyikan sendiri. Dan kembali soal bagaimana kasus ini terbuka dengan sendirinya: si inspektur polisi bukanlah dewa yang menentukan mana dan bagaimana kebenaran. Intinya novel ini merupakan drama pembunuhan, dan inspektur polisi hanyalah satu dari sekian bidak di dalam drama tersebut. Bidak dengan persoalannya sendiri, sebagaimana para tersangka pembunuhan: anak si perempuan, seorang pemuda yang merupakan sekretaris sekaligus simpanannya, pastor, manajer keuangannya, serta anak si manajer keuangan. Kadang-kadang mengasyikkan menyesatkan diri ke bacaan-bacaan yang terasa asing, baru, dan mungkin di luar radar pengetahuan kita. Lagipula, kalau William Faulkner dan André Gide saja membaca Simenon, masa saya tidak tertarik?



Standard
Journal

Some Prefer Nettles, Junichirō Tanizaki

Saya ingin memulai perbincangan mengenai novel ini dari satu percakapan: “… para lelaki yang terlalu tergila-gila perempuan di waktu muda umumnya menjadi kolektor benda antik ketika tua. Perabot minum teh dan lukisan menggantikan seks.”//“Tapi ayah tetap ngeseks. Dia punya O-hisa.”//“Perempuan itu salah satu benda antiknya.” Itu perbincangan antara Kaname dan istrinya, Misako dalam Some Prefer Nettles karya Junichirō Tanizaki. Percakapan itu tak semata-mata sebuah ledekan anak dan menantu kepada ayah, atau sekadar ledekan terhadap generasi tua, tapi menurut saya menggambarkan apa yang ada di novel ini secara keseluruhan. Pertama-tama, tentu mengenai hubungan pernikahan Kaname dan Misako sendiri. Mereka digambarkan sebagai pasangan yang sebenarnya nyambung dalam pikiran, selera, gaya, tapi satu sama lain tak memiliki gairah seks. Atau dengan kata lain: mereka tak saling memuja tubuh pasangannya. Pernikahan dan hubungan ranjang yang hambar, yang membawa mereka kepada keputusan untuk bercerai. Urusan perceraian ini merupakan tulang punggung keseluruhan novel. Kedua, kontras atas hubungan mereka yang hambar, adalah hubungan si lelaki tua (ayah Misako) dengan simpanannya yang muda bernama O-hisa. Mereka berbeda dalam banyak hal, tapi O-hisa yang ditempatkan laksana geisha memiliki sejenis submisivisme yang senang melakukan hal-hal yang diinginkan si lelaki tua. Belajar menyanyi, memainkan alat musik, menjamu teh, nonton pertunjukan teater boneka, bahkan menulis kaligrafi. Ketiga, ini tentang benturan “peradaban baru” dan “tradisi lama”. Pernikahan dan perceraian berhadapan dengan tradisi perempuan penghibur layaknya geisha (di novel ini juga digambarkan Misako sebagai penyuka Jazz dan banyak hal dari barat, sementara ayahnya menyukai musik tradisional). Jujur, biasanya saya tak terlalu suka dengan novel-novel ala “kartu pos”. Yang saya maksud dengan “kartu pos” adalah, novel-novel yang mengeksploitasi keindahan, keunikan, bahkan keeksotisan suatu kebudayaan atau adat-istiadat untuk menyenang-nyenangkan pembaca. Seperti kartu pos, orang yang membaca novel itu kemudian akan bilang, “ah, begini toh tradisi mereka,” seperti kita melihat kartu pos. Membaca tema seperti itu dalam bentuk kajian antropologi atau esai (seperti di buku esai Tanizaki, In Praise of Shadows tentang arsitektur Jepang, misalnya), bagi saya merupakan pilihan yang lebih baik. Tapi rupanya saya bisa menikmati novel ini, meskipun di sana-sini terselip serpihan-serpihan pandangan Tanizaki mengenai kebudayaan dan tradisi Jepang. Saya dengan tak berdaya dibawa oleh Tanizaki ke dalam percakapan mengenai teater boneka, kegelisahannya, kekagumannya, keindahannya dan bahkan reportoarnya. Di bagian lain, juga tanpa daya, Tanizaki mengajak kita mendiskusikan perbedaan-perbedaan antara teater boneka Osaka dan Awaji, daerah yang dianggap sebagai asal-muasal teater boneka Jepang. Menurut saya, rahasia kecerdikan Tanizaki (yang memang, setelah terpengaruh kebudayaan barat di masa mudanya, di puncak karirnya sebagai penulis justru kembali ke habitat kebudayaan tradisional Jepang) dalam mengolah hal ini tanpa membuatnya terasa seperti “kartu pos”, karena ia memang tak menempatkan keunikan tradisi (di sini teater boneka), sebagai pusat novelnya. Inti novel ini, sekali lagi, adalah usaha Kaname dan Misako untuk bercerai, yang diulur-ulur karena memikirkan anak, orang tua, dan kesiapan mereka sendiri. Pembahasan perceraian ini, dengan segala dramanya, seringkali berganti-ganti tempat: di gedung teater, di festival teater boneka, di pelabuhan, di rumah orang tua yang sangat rigid dengan arsitektur tradisional. Nah, pada kesempatan itulah, Tanizaki masuk dengan cerdik ke berbagai topik tradisi. Menjadikannya taut-bertautan dengan melodrama kehidupan perkawinan Kaname dan Misako. Di sinilah saya rasa, suatu tradisi lokal menjadi unik sekaligus tidak asing.



Standard
Cool Stuff

“This is an almost unbelievably fun and weird novel.” A starred review for Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash from Publishers Weekly.

“Avec une fable mémorable, sur une lignée de femmes redoutables, Eka Kurniawan signe un chef-d’œuvre.” This is a review from Livres Hebdo for Les Belles de Halimunda, French edition of Cantik Itu Luka.



Publishers Weekly

Aside
Journal

Ferdydurke, Witold Gombrowicz

Sebuah novel yang sangat sensual tanpa sekali pun ada adegan seks; sebuah novel politik tanpa buih-buih khotbah tentang kekuasaan lalim dan kelas jelata yang tertindas; juga sebuah novel brutal tanpa sekali pun menumpahkan darah; dan di sisi lain ini sebuah novel filosofis tanpa rujukan garing kepada pemikiran-pemikiran filsafat; kau bisa menyebut novel ini sebagai novel apa pun dan pada saat yang sama hal itu tersembunyi di belantara komentar-komentar dan pelintiran kisah yang nyeleneh. Seperti itulah Ferdydurke karya Witold Gombrowicz. Komentator kelas dunia menyebutnya sebagai mahakarya “pascamodern”, sementara yang lain menganggapnya sebagai puncak karya “modernisme Eropa”. Nah, bahkan para komemtator pun tak bisa bersepakat apakah ini karya modern atau pascamodern. Dibuka oleh kisah seorang pemuda 30 tahun bernama Joey, yang kelewat banyak mikir dan melamun dan meracau, hingga ia melihat cermin dan menemukan dirinya yang lain. Dirinya berumur 17an tahun, dan semua petualangan setelahnya adalah kisah tentang remaja yang merasa bukan remaja, tentang orang dewasa yang harus menghadapi problem-problem a-be-geh. Jika ada yang membandingkannya dengan petualangan Alice masuk ke lubang kelinci, tentu saja tak mengherankan. Tapi Joey tak bertemu makhluk-makhluk fantastis sebagaimana terjadi di dunia Alice, meskipun teman-temannya di sekolah, guru-gurunya, keluarga yang menampungnya mondok, keluarga bibinya yang kemudian menemukannya, semua tak kalah fantastis. Petualangannya menghadapi dunia di antara yang dewasa dan a-be-geh yang tak bisa dipahami tapi memerangkapnya, bisa membuat orang memperbandingkannya juga dengan dunia Kafka. Tak berlebihan juga, meskipun dalam Gombrowitcz ini menjadi sejenis humor ketimbang teror. Oh, novel ini juga merupakan novel tentang novel, tentang seni bercerita, meskipun lagi-lagi kita tak menemukan hal terang-benderang mengenai hal itu, kecuali kau mau manyun sedikit dan menenangkan diri, kemudian manggut-manggut di beberapa bagian menyadari novel ini berkisah tentang dirinya sendiri. Apakah seni harus melayani manusia, ataukah manusia harus melayani seni? Jawab saja sendiri. Tantangan terberat membaca novel ini tentu saja memahami humornya. Sebagaimana penerjemahnya mengakui, bukan hal mudah menerjemahkan Gombrowitcz. Ia tak semata-mata menulis dalam bahasa Polandia, tapi terutama ia menulis dalam bahasa Gombrowitcz. Hanya penulis yang sudah mencapai tingkat ilmu ketujuh bisa melakukannya, dan si penerjemah harus mengupas ilmunya selapis demi selapis, agar pembaca jelata macam tutup botol Fanta bisa mengerti sekaligus tak tersesat dan dibikin gila. Kenapa saya mempergunakan metafor-metafor jelek macam begitu? Itu tidak jelek, Kawan. Grombowitcz jelas sudah melakukannya lebih dulu daripada a-be-geh-a-be-geh di media sosial, dan ia melakukannya dengan lebih baik, lebih bertubi-tubi. Ini novel yang harus dibaca banyak orang, betapa pun sulitnya, untuk menjajal apakah kita punya kepala benar-benar kepala atau sekadar “mangkuk”, dan bokong kita benar-benar bokong dan bukan sekadar alas untuk gaplokan tangan. Dan jangan tersinggung dengan kata-kata yang agak kasar tersebut. Itu tak ada apa-apanya dengan cara sang penulis menutup novelnya: “It’s the end, what a gas. And who’s read it is an ass!” Salam kepala isi mangkuk!



Standard
Cool Stuff

“Whether or not a political fable is intended, the squelch of blood and the crack of breaking bones tends to muffle any deeper message.” Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash review from Financial Times.

“Despite Vengeance Is Mine’s consistent bloodshed, it’s a very funny book.” And this one is from Los Angeles Review of Books.



Vengeance Is Mine, Financial Times

Aside