Story of the Eye, Georges Bataille

Menghadapi novel ini, batas antara pornografi dan erotika bisa sekabur batas malam dan siang di waktu senja. Jika pornografi disederhanakan sebagai karya yang ditulis dengan tujuan untuk memberi rangsangan seksual, novel ini memenuhinya, tapi menyederhanakannya di titik itu saja tentu mengabaikan hal-hal lain yang terkandung di dalamnya. Seperti kisah-kisah fantasi, novel pornografi pada sudut tertentu bisa dilihat juga sebagai perayaan atas fantasi seksualitas, tentang dunia serba kemungkinan. Georges Bataille merupakan salah satu penyokong Surealisme Prancis (meski sempat berseteru dengan André Breton), dan novel Story of the Eye (terbit pertama kali 1928), saya rasa membiaskan juga hal itu. Dalam pornografi yang umum, akar realisme biasanya sangatlah kuat karena niatnya untuk mendekatkan diri kepada kenyataan, kepada fantasi yang mungkin dilakukan. Di novel ini kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan masih ada di sana, tapi sekaligus ia memberi ruang kepada wilayah-wilayah gelap ketidaksadaran. Sebelum ngalor-ngidul, saya ingin gambarkan dulu ini kisah tentang apa. Seperti umumnya novel pornografi, alur ceritanya ringkas saja. Seorang anak muda, sang narator, bertemu sepupu jauhnya, Simone. Mereka berdua di sebuah vila, si narator mulai tertarik kepadanya dan, “Aku mulai menyadari ia juga berbagi rasa gelisah yang sama denganku melihatnya, dan aku semakin merasa gelisah hari itu sebab aku berharap ia tak mengenakan apa-apa di balik pakaian luarnya.” Selanjutnya, dengan berlumuran susu di tubuh Simone, mereka larut dalam fantasi seksual masing-masing, berkahir dengan, “Kami mencapai orgasme hampir di waktu bersamaan tanpa menyentuh satu sama lain.” Petualangan masturbasi pertama itu terus terjadi hingga muncul tokoh lain, Marcelle. Mereka bercinta, kadang masturbasi, bertiga. Marcelle menjadi fantasi mereka yang lain, yang tanpa kehadirannya, fantasi seksual itu terasa basi. Terbayang? Itu baru separoh jalan. Akan muncul dua tokoh lain yang penting: orang Inggris yang (saya rasa) hasrat seksualnya terdapat pada hasrat melihat aktivitas seks orang lain, dan satu sosok tragik-komik, seorang pendeta. Di antara mereka, obsesi seksual Simone merupakan hal paling menarik. Ia menyiratkan sejenis simbolisme, yang pastinya perlu ditelaah lebih jauh. Pertama, ia tergila-gila kepada telur. Ia bisa sangat terangsang dengan meletakkan telur-telur rebus (dengan atau tanpa cangkang) di antara kedua pahanya, digelindingkan, mendekati kemaluannya. Apakah ini sejenis simbol feminitas? Perempuan dan telur? Mungkin. Ketika mereka menonton pertunjukan adu banteng, Simone juga terobsesi untuk memperoleh biji kemaluan banteng yang kalah. Biasanya itu diperebutkan untuk dijadikan menu makan malam, lambang persitisius sebagai penghormatan penonton kaya untuk petarung. Tapi di tangan Simone, sepasang biji kemaluan banteng itu merupakan alat rangsangan sesksual yang lain. Seperti telur-telurnya, ia meletakkan kedua biji kemaluan banteng itu di nampan dan mendudukinya, tentu tanpa celana dalam. Obsesi terhadap sperma jantan? Atau karena bentuknya, ia juga menyimbolkan telur? Puncaknya adalah hubungan ganjil dan mengerikan antara seks dan kematian. “Kau tahu bahwa lelaki yang digantung atau dicekik-jerat akan memiliki burung yang mengacung keras sesaat setelah pernapasannya terputus, hingga mereka ejakulasi …” kata Sir Edmund, si orang Inggris kepada si pendeta. Anda bisa bayangkan apa yang mereka lakukan kepada si pendeta di hadapan Simone? Ya, membunuhnya, agar … (bayangkan saja sendiri, meskipun di novel digambarkan sangat jelas). Apakah ini pornografi atau erotika?Membaca novel ini, saya semakin yakin kedua istilah itu hanya ada untuk menegaskan sejenis hirarki. Bahwa pornografi adalah sampah, bahwa erotika itu memiliki mutu. Novel ini saya rasa memorakporandakan hirarki seperti itu.

Politik yang Mengancam

Politik kita hari ini memang sangat riuh. Dan terdengar semakin berisik ketika nama Tuhan mulai dibawa-bawa. Sekelompok partai politik diklaim seseorang sebagai partai Tuhan, sedangkan lawannya dianggap partai setan. Selembar bendera menjadi perdebatan sengit karena berisi ikrar keesaan Tuhan. Jangan lupa, bahkan ada orang yang menganggap bencana sebagai azab Tuhan karena perilaku atau pilihan politik.

Dalam skala kecil yang remeh, itu juga terjadi. Tak jauh dari rumah saya di pinggiran Jakarta, pada sebuah tanah kosong di pinggir jalan, berdiri papan pengumuman.

Yang menarik adalah apa yang tertulis di sana, yang sekilas terlihat seperti sebaris doa: “Ya Allah, aku rela mendapat azab dari-Mu jika membuang sampah di sini. Amin YRA.”

Seingat saya, itu bukan satu-satunya pengumuman sejenis. Ada beberapa variasi lain di tempat yang berbeda. Semua diawali dengan “Ya Allah”, dilanjutkan dengan “aku rela masuk neraka” atau “aku rela miskin tujuh turunan”.

Akhirannya, jika bukan “buang sampah sembarangan”, tentu saja “kencing sembarangan”. Kita bisa menemukannya di gang yang gelap, di pinggir kali, atau di halaman rumah kosong.

Jika urusan sampah di lingkungan perumahan -yang seharusnya merupakan pekerjaan ketua RT- saja diserahkan kepada Tuhan, saya rasa tak mengherankan jika untuk hal lain, politik misalnya, Tuhan pun dibawa-bawa. Orang bisa berkilah bahwa Tuhan memang ada di mana-mana dan segala hal ada atas kehendak-Nya. Tetapi, saya kira persoalannya tak semata-mata itu.

Kita bisa belajar banyak dari papan ancaman azab tersebut dengan mencoba membacanya secara lebih teliti. Apa yang tertancap di sana bukan semata-mata sebuah pengumuman. Juga bukan sesederhana sebaris doa aneh. Ada sesuatu yang lebih dari itu, yang tersirat.

Memang pengumuman semacam itu bisa dianggap sebagai unjuk diri bahwa kita manusia religius. Kita manusia yang masih percaya kepada Tuhan, yang mengawasi perilaku kita. Tapi, di baliknya, kita bisa menangkap sejenis rasa frustrasi. Kita bisa membayangkan si pemilik tanah didera ketidakpercayaan pada tingkah laku manusia lain. Ia tak percaya pada kinerja ketua RT, juga para petugas kebersihan.

Bisakah hal itu diterapkan dalam skala yang lebih luas, terhadap jargon-jargon politik? Apakah dengan membawa nama Tuhan juga menunjukkan rasa frustrasi sekelompok orang?

Bisa jadi, meskipun sumber rasa frustrasinya bisa bermacam-macam. Termasuk kemungkinan rasa frustrasi kepada dirinya sendiri. Karena tak mampu mengubah tatanan dunia sebagaimana diharapkan. Maka, sekali lagi, ia mengharapkan sesuatu di luar dirinya.

Satu hal yang paling menarik adalah bagaimana nama Tuhan ini diekspresikan. Jika kembali ke doa aneh tersebut, segera kita merasakan sesuatu yang nyata: sebuah ancaman. Kata-katanya memang tak persis seperti itu, tapi artinya jelas. Jika membuang sampah di sini, kau akan memperoleh azab. Jika kencing sembarangan, kau akan masuk neraka atau miskin tujuh turunan.

Tuhan dihadirkan bukan sebagai pembawa harapan yang menyenangkan, atau sebagai penyelamat untuk segala hal, tapi sebagai penghukum. Lebih lucunya lagi, hukuman Tuhan hadir bukan lagi karena perkara berbuat dosa, tapi karena urusan tata tertib hidup di dunia.

Tiba-tiba saya juga teringat dengan ancaman jenazah yang tak akan disalati jika ia atau keluarganya memilih calon tertentu di pemilihan kepala daerah tahun lalu. Tak ada bedanya, bukan?

Mungkin berlebihan membandingkan situasi dunia politik kita dengan urusan membuang sampah sembarangan. Meskipun begitu, ketika nama Tuhan dilibatkan, baik sebagai upaya untuk menakut-nakuti maupun sebagai sikap melemparkan urusan, manusia menjadi tersingkir. Manusia diasumsikan tak lagi perlu mengurusi urusan sendiri. Atau dianggap tak mampu melakukannya.

Bayangkan jika urusan sampah sungguh-sungguh selesai dengan doa aneh minta diazab. Saya kira masyarakat tak perlu lagi memiliki ketua RT, tak perlu lagi ada dinas kebersihan, dan tak perlu risau dengan segala limbah maupun gerakan daur ulang. Pemerintah Jakarta tak perlu bertengkar dengan masyarakat dan pemerintah Bekasi untuk urusan pembuangan sampah, apalagi sampai mengeluarkan anggaran besar.

Hal yang sama bisa kita terapkan dalam urusan yang lebih luas sebagaimana nama Tuhan dilibatkan dalam jargon-jargon politik. Pejabat pemerintah tak perlu pusing memikirkan bagaimana mengatasi banjir, atau sebaliknya, kemarau berkepanjangan. Ia hanya perlu mengumpulkan orang di stadion dan ramai-ramai berdoa. Gubernur juga hanya perlu menancapkan pengumuman sejenis di tiap-tiap sungai.

Dalam kasus membuang sampah sembarangan di dekat rumah, setiap hari saya masih melihat sampah di sana. Saya tak tahu siapa yang membuangnya, apakah orang tersebut memperoleh azab atau tidak, seketika atau kelak. Yang saya tahu, ancaman itu ternyata tak berguna sama sekali.

Di titik ini, saya mencoba membayangkan pembacaan yang berbeda. Barangkali si pemilik tanah tak benar-benar hendak mengancam, apalagi merendahkan posisi Tuhan hingga pada pengurus sampah.

Ia mungkin tengah mengingatkan kita bahwa kita tak becus mengurus perilaku sendiri. Bahwa kita tak punya malu. Bahwa kita mengaku beragama, tapi moral kita buruk. Papan pengumuman itu sejenis cermin untuk mengolok-olok.

Jika tujuannya seperti itu, rakyat yang frustrasi terhadap kegaduhan para politikus yang membawa nama Tuhan dan agama mungkin bisa membalas. Kita bisa memasang pengumuman di depan istana, misalnya, dengan tulisan: “Ya Allah, aku rela memperoleh azabmu jika tak menyelesaikan pelanggaran HAM di negeri ini.” Dan di depan gedung DPR: “Ya Allah, aku rela miskin tujuh turunan jika tertidur saat sidang.”

Kenapa tidak? Sepertinya itu tak melanggar aturan, bukan? Masak rakyat terus yang diancam dan ditakut-takuti?

Diterbitkan di Jawa Pos, 17 November 2018.

Banjir Kebohongan

Ada sebuah dongeng tentang seorang anak yang di sore hari sering berteriak dari pinggiran desa meminta tolong, ”Serigala! Serigala!”

Tapi, setiap kali penduduk desa berhamburan untuk menyelamatkannya, diketahui bahwa teriakan itu bohong belaka. Hingga suatu hari, si anak sungguh-sungguh dihadang serigala dan dia berteriak meminta tolong. Kali ini nahas, tak lagi ada yang percaya kepadanya.

Dalam beberapa waktu terakhir, politik Indonesia penuh dengan seliweran kabar bohong. Beberapa barangkali hanya mengundang geleng kepala.

Tapi, beberapa yang lain membuat masyarakat bereaksi dan para pelakunya diseret ke pengadilan.

Yang terakhir, dan saya yakin bukan puncaknya, adalah kasus yang menimpa Ratna Sarumpaet. Seniman teater itu diberitakan oleh kawan-kawan koalisi politiknya mengalami penganiayaan oleh orang tak dikenal di Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Belakangan, masyarakat (dan polisi) menemukan, wajah Ratna yang bengkak ternyata merupakan efek operasi plastik.

Banyak yang percaya pelaku-pelaku kebohongan itu pada akhirnya akan bernasib seperti si anak dan teriakannya. Mereka akan dimakan serigala kebohongannya sendiri.

Contoh kasus Ratna. Tak berapa lama setelah kebohongannya terbongkar, dia ditangkap di bandara sebelum terbang ke Cile. Bahkan, meskipun dia mengaku hendak menghadiri Konferensi Internasional Dramawati Ke-11, orang telanjur tak percaya. Banyak orang yang menudingnya hendak kabur dari masalah hukum.

Benarkah hal ini selesai hanya dengan membongkar kebohongan dan pelakunya kehilangan kepercayaan? Saya tak yakin. Pokok utamanya bukan soal kebohongan yang terkuak atau pelakunya ditangkap dan tak lagi dipercaya.

Pokok soalnya, kebohongan-kebohongan itu seperti nyaris tanpa akhir. Bermunculan setiap waktu, diteriakkan bahkan oleh orang yang berbeda-beda.

Jelas, ini bukan masalah kebohongan yang bisa dihadapi dengan pesan moral semacam, “Jika kau berbohong, hidungmu akan terus memanjang”. Bahwa tak ada asap tanpa api. Untuk menjelaskan kebohongan yang ditutupi pasti akan terkuak.

Bukan. Ini bukan saatnya kita ceramah masalah itu.

Masih ingat kartun Donald Trump dengan hidung menyerupai Pinocchio pada masa kampanye pemilihan presiden Amerika Serikat? Pesan moral jadi tak lagi penting.

Kenyataannya, Trump bahkan terpilih sebagai presiden Amerika Serikat meskipun banyak yang membuktikan kebohongan-kebohongannya. Di sini pun saya yakin, kebohongan tak akan berakhir hanya karena Ratna Sarumpaet ditangkap polisi dan bahkan dibuang kawan-kawannya sendiri.

Pertanyaannya, apa yang bisa dilakukan jika kebohongan semacam itu datang ganti-berganti? Dari waktu ke waktu?

Kita kembali ke kisah si anak yang diterkam serigala karena kebohongannya. Bayangkan, pada saat yang sama, seorang nenek berteriak-teriak karena cucunya tenggelam di sungai.

Belum usai mereka memeriksa kebenarannya, seorang petani berteriak ada gerombolan begal mencuri sapi ternaknya. Seorang istri menangis karena anak di kandungannya hilang dicuri. Seseorang membawa kabar karena gunung di daerah mereka akan meletus. Penduduk lain minta tolong karena ada perampok di rumahnya.

Setelah peristiwa dengan si anak dan kebohongan serigalanya, tentu penduduk menyangsikan semua kabar tersebut. Dan berharap bisa memeriksa kebenarannya satu per satu.

Tapi, yang mana? Dan jika mereka bisa berhasil membongkar kebohongan yang satu, apakah mereka akan bergerak ke kebohongan yang lain? Jika mereka kemudian menemukan sebagian besar adalah kebohongan, bagaimana dengan berita yang benar?

Simulasi semacam itu kini benar-benar terjadi pada era digital dengan penetrasi media sosial yang luar biasa di masyarakat. Sebelumnya, dunia digital ditandai dengan keadaan ketika informasi disajikan melimpah kepada kita.

Mari kita tengok berbagai informasi yang berseliweran di waktu yang kurang lebih sama di seputar kasus Ratna Sarumpaet. Sandiaga Uno menyatakan, makan nasi dan ayam di Singapura lebih murah daripada di Jakarta.

Apakah itu benar atau salah? Anda akan menemukan banyak orang sibuk untuk membantah maupun mendukung pernyataan tersebut.

Lantas, bagaimana dengan pernyataan Ma’ruf Amin yang bilang mobil Esemka akan meluncur bulan Oktober? Benar atau salah? Bergantung pihak mana, orang akan membela atau membantahnya juga.

Kita bisa menemukan informasi sejenis, juga pada hari-hari mendatang. Polanya sama: sebagian besar ada hubungannya dengan politik.

Apa yang bisa kita pelajari dari semua keributan ini? Bagi saya jelas, para elite politik dari berbagai kubu tengah menyeret kita dalam banjir semacam ini. Teriakan-teriakan minta tolong dan cari perhatian yang tak jelas. Kita dibuat bingung, ragu, saling curiga, dan dalam keadaan seperti itu, mereka berharap kita bisa dikendalikan.

Tujuannya hanya satu tentu: ambisi kekuasaan mereka belaka, bahkan meskipun taruhannya melihat kita tenggelam satu per satu. Tenggelam dalam pertikaian tanpa akhir, tenggelam dalam keributan yang tidak produktif.

Banjir jelas sulit dihadang. Tapi, kita bisa menyelamatkan diri dengan menolak tenggelam bersama mereka. Menolak terseret arus. Terutama jika tak mampu membuat mereka berhenti menciptakan banjir kebohongan.

Diterbitkan di Jawa Pos, 10 Oktober 2018.

Karena Tribalisme Tak Dikelola Seutuhnya

Catatan Sepak Bola

Ada apa di balik kebrutalan supoter Persib yang mengeroyok hingga mati seorang suporter Persija bernama Haringga Sirila? Pertama, jelas itu kasus pembunuhan dan harus ditangani sebagai kasus kriminal berat. Kedua, yang membuatnya berbeda dari kasus pembunuhan umumnya, meskipun pembunuhan tetaplah pembunuhan, ada unsur tribalisme yang menyedihkan di sini, dan jelas penanganannya tak bisa dilepaskan dari pokok penting tersebut.

Sepak bola modern memang merupakan wujud baru dari tribalisme, dengan kultus nyaris buta kepada klub dengan segala ritual pemujaannya. Jika sepak bola merupakan agama, stadion sebagai altar tempat pemujaan, maka klub sepak bola merupakan ordo-ordo di mana orang mengelompokkan diri dalam sejenis kesukuan. Sialnya, klub sepak bola kemudian tak hanya menjadi bagian dari ekosistem sepak bola itu sendiri, ordo bagi satu agama, tapi merembet menjadi identitas bahkan di luar persepakbolaan, terutama ketika pranata sosial tradisional mulai hancur perlahan-lahan.

Tengok misalnya Jakmania dan Persija. Orang akan berpikir bahwa Persija merupakan klub sepak bola Jakarta, maka suporternya yang sebagian bergabung atau menggabungkan diri menjadi Jakmania dibayangkan sebagai orang Jakarta pula. Kenyataannya tidak begitu.

Di pinggiran, di wilayah-wilayah yang secara administrasi masuk ke Depok, Bekasi, Tangerang, bahkan Karawang, dengan mudah kita akan menemukan kantong-kantong suporter Jakmania. Siapa mereka? Bisa jadi mereka memang orang-orang Jakarta yang tergusur oleh pembangunan dan harus menetap di luar wilayah Jakarta. Hal ini saya yakin juga berlaku untuk klub sepak bola lain dan suporternya, bahkan termasuk klub sepak bola mancanegara.

Problem terbesar kenapa kasus kebrutalan suporter ini terus-menerus terjadi, saya pikir terletak dalam keengganan mengelola unsur tribalisme ini secara menyeluruh. Kita tahu kebrutalan suporter hingga menewaskan sesama suporter bukan kali ini saja terjadi. Jika harus menyebut, sekelompok suporter Persija juga pernah melakukannya, tapi tentu saja ini tak bisa dijadikan pembenaran atas kasus yang baru terjadi. Pertanyaan pentingnya, kenapa ini terus terjadi dan apa upaya radikal untuk menghentikan kebrutalan ini?

Pada dasarnya naluri tribalisme dalam sepak bola modern sudah banyak diketahui dan bahkan dengan jitu dimanfaatkan. Kelangsungan sepak bola modern sebagai industri rasanya tak akan sebesar ini tanpa kesadaran akan adanya sentimen kesukuan ini. Ikatan yang kuat antara suporter dan klub mereka tak hanya memastikan stadion dipenuhi umat pemuja, tapi juga menjamin penjualan merchandise dan menjadi alasan kuat untuk menarik sponsor.

Dalam sepak bola Indonesia, ikatan-ikatan primordial baru ini bahkan seringkali dianggap sebagai pintu masuk untuk memperoleh dukungan politik. Tak mengherankan jika kepala daerah atau politikus lokal merasa harus mengidentifikasikan diri dengan klub setempat. Bahkan ketua umum PSSI tak mau meletakkan jabatannya meskipun ia terpilih sebagai gubernur.

Industri sepak bola mengeksploitasi sentimen tribalisme ini untuk tujuan-tujuan ekonomi dan politik, tapi gagal mengelola aspek-aspek primitifnya. Kegagalan inilah yang selalu membawa banyak masalah, dari sekadar vandalisme fasilitas stadion, kerusuhan di lapangan, hingga tawuran dan pengeroyokan yang mengakibatkan kematian.

Untuk memahami selintas kecenderungan tribalisme ini, kita bisa menengok sejenak kepada sebuah novel penting yang banyak menjadi rujukan bahkan para ilmuwan. Novel ini memang tak ada hubungannya dengan sepak bola, tapi barangkali bisa membuat kita paham mengenai perilaku suporter. Novel ini berjudul Lord of the Flies, karya William Golding.

Secara singkat novel ini berkisah tentang sekelompok anak yang terdampar di sebuah pulau selepas pesawat mereka jatuh. Terisolir dari mana-mana, mereka secara alamiah membentuk kelompok, kemudian suku. Ada hasrat untuk mengatur diri sendiri, hasrat untuk berkuasa, pada saat yang sama, juga timbul persaingan, rasa cemas akan ditinggalkan, di mana aspek-aspek negatif ini akan berakhir menjadi semua memangsa semua.

Suporter sepak bola bisa dilihat dari kaca mata itu juga. Ada hasrat untuk mengelompokkan diri, tentu terpusat pada satu klub. Di dalam kelompok akan tercipta suatu persaingan antara kelompok-kelompok kecil, siapa lebih berkuasa atas yang lain. Dan pada saat yang sama, jangan lupa keberadaan kelompok lain. Sementara klub mereka bersaing dalam kompetisi yang resmi, kelompok suporter dengan beragam masalah mereka juga berkompetisi satu sama lain, kali ini tanpa wadah yang jelas.

Sifat tribalisme ini seharusnya bisa dikelola dengan memberi ruang bagi kelompok-kelompok suporter sebagai bagian tak terpisahkan dari komunitas persepakbolaan. Suporter seharusnya menjadi bagian dari klub, sehingga ambisi tribalisme bisa disalurkan ke lapangan. Ke dalam pertandingan, melalui klub.

Suporter di Indonesia dalam tingkat tertentu mirip anak-anak di Lord of the Flies. Mereka hidup di alam rimba yang tak ada hukum, tak ada aturan main. Mereka berebut untuk menancapkan panji-panji kelompok, dan pada titik tertentu mengobarkan perang.

Mereka tercampak dari sistem persepakbolaan itu sendiri. Sebagian besar dari mereka tak pernah punya akses terhadap kebijakan-kebijakan klub. Pada saat yang sama, mereka terus dieksploitasi untuk kepentingan klub dan industri sepakbola secara umum. Kompetisi mereka berkobar di luar lapangan. Menjadi kebrutalan.

Lihat bagaimana sikap PSSI, otoritas tertinggi sepak bola, atas kasus ini. Mereka hanya menyampaikan belasungkawa, menyerahkan tragedi ini kepada kepolisian. Seolah PSSI tak punya wewenang apa pun. Padahal jelas, PSSI memiliki otoritas, tapi enggan mempergunakannya. Itu bukti bahwa masalah suporter seolah bukan masalah sepakbola.

Mengelola tribalisme suporter seharusnya merangkul mereka menjadi bagian dari klub, dan dalam hal ini, klub seharusnya ikut bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Dengan kata lain, Persib seharusnya bertanggung jawab atas tragedi ini. Otoritas sepak bola seharusnya punya nyali untuk bertindak, misalnya mendiskualifikasi atau menghukum Persib tidak bertanding selama sekian tahun. Menghukum Persib hanya bertanding tanpa penonton mempertunjukan sikap lembek, mendidik klub untuk tak pernah bertanggung jawab dan merasa tak perlu mengelola suporternya.

Jika suporter bisa kita anggap rakyat, jelas ada keengganan para pemegang otoritas, elit sepak bola, untuk berbagi kuasa dengan mereka.

Kematian Haringga tak hanya tragedi kemanusiaan, tapi juga wujud nyata bahwa suporter hanya dianggap ada untuk dieksploitasi secara ekonomi dan politik. Nyawa mereka hanya berharga beberapa pertandingan tanpa penjualan tiket. Itu membuat tragedi ini lebih memilukan lagi.

Diterbitkan di Jawa Pos, 25 September 2018.

Barthes Mengajari Saya Memahami Bahasa Kucing

Image Music Text, Roland Barthes

Saya memelihara seekor kucing persia pemberian seorang teman. Konon, kucing akan mengeong dengan bunyi serta ekspresi yang berbeda kepada orang yang berbeda, seperti kita punya panggilan yang berbeda kepada orang yang berbeda. Mungkin benar. Setidaknya saya sering merasa tahu jika ia mengeong untuk saya (Anda bisa juga menganggap saya sok merasa tahu saja). Tapi lama-kelamaan, saya toh terpaksa belajar “bahasa” kucing, setidaknya bahasa Si Puspita (nama kucing saya, jika bahasa yang dipergunakannya ternyata berbeda dengan bahasa kucing lain). Saya bisa tahu persis jika ia mengeong dengan suara tertentu, ditambah gerakan-gerakan tertentu di dekat pintu kamar mandi, artinya “Aku ingin minum, ambilin air, dong!” Nah, ketika saya membaca buku Roland Barthes berjudul Image Music Text, terpikir juga oleh saya, barangkali buku ini bisa membantu saya memahami bahasa kucing, atau membuat saya mengerti kenapa saya paham bahasa kucing (dalam hal ini, Si Puspita). Kenapa tidak? Membaca buku ini saya merasa diajak untuk kembali belajar membaca. Ya: belajar membaca. Belajar memahami bahasa, tak melulu sebagai ekspresi linguistik, tapi juga sebagai ekspresi narasi. Bahwa “Bond saw a man about fifty” (dari Goldfinger, Ian Fleming) tak semata-mata informasi yang tersurat, tapi juga memiliki fungsi tentang deskripsi seseorang yang ditandai dengan perkiraan umur, dan informasi bahwa Bond tak begitu kenal orang tersebut, sesuatu yang akan bermakna dalam novel itu. Bahwa “meong” bukan sekadar suara seekor kucing, sebab bisa juga berarti “Aku boleh lompat ke pangkuanmu, enggak?” Buku ini merupakan kumpulan esai terpilih Barthes. Bagi banyak orang mungkin yang paling populer adalah esai berjudul “The Death of the Author” yang begitu sering dikutip (dan sering pula disalah-pahami), jadi terasa basi dan saya tak akan menyinggung-nyinggungnya lagi. Esai paling menarik menurut saya adalah “Introduction to the Structural Analysis of Naratives”. Esai itu seperti merangkum seluruh esai di buku ini, dan secara ringkas bisa dikatakan sebagai esai tentang “belajar membaca”. Begini lho cara membaca kalimat. Begini lho cara membaca wacana. Begini lho cara membaca cerita. Dan kalau ilmu dari esai itu bisa saya pakai untuk belajar membaca novel-novel James Bond, kenapa saya tak mencoba pakai untuk membaca meong-meong kucing saya? Jadi meskipun Barthes mengaku bahwa bentuk-bentuk narasi di dunia ini tak terhitung, dan mustahil meneliti semuanya untuk menemukan sejenis “kesimpulan”, ia toh mencoba mengorek-ngorek strukturnya, memotong-motongnya. Dan menurut saya, ini sungguh mengasyikkan. Saya sudah sebutkan bahwa “meong” bukan semata-mata “meong”. Ada berlapis-lapis tingkatan makna di baliknya. Setidaknya ada berlapis-lapis tingkatan deskripsi dalam setiap narasi. Yang tadi saya sebut baru tingkat fungsi. “Fifty” dalam “Bond saw a man about fifty” memiliki fungsi untuk menciptakan karakter juga. Luntang-lantung Si Puspita di depan pintu kamar mandi memiliki fungsi untuk menjelaskan bahwa ia ingin minum. Dan fungsi ini, tanpa harus diterang-jelaskan, juga merujuk ke suatu makna lain yang lebih kompleks: saya harus membuka pintu kamar mandi, ambil air dengan gayung, meletakkan gayung berisi air di lantai agar kucing saya bisa minum. Anda mungkin berpikir apakah kucing saya secerdas itu sampai bisa menyampaikan pesan sekompleks demikian kepada saya? Tidak. Kucing saya tidak secerdas itu. Dalam beberapa hal dia tolol. Dia sering tak bisa mengukur jarak, melompat tak tepat sasaran hingga jatuh atau terbentur. Pokok soalnya bukan itu. Pokok soalnya adalah bagaimana kita (saya) membaca pesan si kucing. Membaca tak hanya di tingkat harafiah, apalagi sekadar bunyi dan aksi (kucing luntang-lantung di depan pintu kamar mandi), tapi membaca tingkat-tingkat makna narasi lainnya. Baiklah, Barthes mungkin tak pernah memaksudkan esainya ini untuk dipergunakan balajar membaca atau memahami meong si kucing. Tapi apa pedulinya? Saya membaca bukunya, dan terserah saya lah menarik makna dan mempergunakan pengertian saya untuk apa. Ya, kan? (Iya, pernyataan terakhir itu terpaksa merujuk ke esainya yang lain, apa boleh buat).

Misreadings, Umberto Eco

Di satu malam di satu lorong kota Bologna, seorang profesor dihadang seseorang yang tanpa basa-basi langsung memukulnya jatuh, menendangnya, dan ketika mencoba bangkit, dipukul lagi. Setelah dibawa ke rumah sakit oleh dua biarawati yang kebetulan lewat dan melihatnya tergeletak, diketahui profesor tersebut adalah Umberto Eco. Si penyerang baru diketahui beberapa hari kemudian setelah berhasil ditangkap oleh polisi. Ia seorang penulis muda bernama Dante Alighieri. Rupanya Dante kesal atas komentar sang profesor, yang diperkerjakan oleh penerbit untuk menyaring naskah dan membuat ulasan ringkas, atas karyanya yang berjudul The Divine Comedy. Sang profesor antara lain bilang, “Alighieri merupakan tipikal penulis sambilan.” Kemudian, meskipun mengakui kualitas teknisnya, ia menyarankan penerbit untuk menolak buku tersebut, sebab menurutnya buku ini terlalu posmo, ditulis dengan dialek Florence yang berat. Kalau mau menerbitkannya secara luas, harus menerbitkan versi dialek Milan dan lainnya. “Itu pekerjaan penerbit kecil.” Profesor Eco memang sering menulis di Il Verri, kadang ulasan ringkas atas karya yang akan atau telah terbit, kadang esai tentang beberapa isu, tapi gayanya yang nyeleneh dan seringkali kasar, tak urung memancing emosi banyak orang. Masih untung jika hanya mendapat sanggahan yang sama kerasnya di majalah sastra, seperti sudah ditulis di muka, kadang ia memperoleh serangan fisik. Kasus pemukulan oleh Dante jelas bukan yang pertama. Sebelumnya, sekelompok (atau seseorang?) yang menamakan dirinya sebagai Anonymous juga menghadangnya, tepat di depan apartemennya ketika ia baru pulang dari kampus agak larut malam. Polisi tak pernah berhasil mengusut siapa Anonymous ini, mereka hanya curiga, “Mungkin sekelompok hacker internet yang berusaha cari perhatian dengan cita-cita meruntuhkan tatanan lama yang telah bobrok”. Tapi tak ada klaim apa pun di internet oleh Anonymous ini mengenai penyerangan atas Profesor Eco. Apa yang terjadi, sepenuhnya bersumber dari satu sisi, sang profesor sendiri. Semuanya bermula dari ulasannya mengenai buku The Bible, yang menurut profesor ditulis oleh Anonymous. Sebenarnya profesor memuji naskah tersebut dengan bilang, “Beberapa ratus halaman pertama benar-benar mencengkeramku. Penuh aksi, memiliki segala yang diinginkan pembaca kiwari dalam sebuah cerita yang baik. Ada seks (banyak, termasuk perzinahan, sodomi, inses), juga pembunuhan, perang, pembantaian, dan lain sebagainya.” Tapi kemudian ia curiga buku tersebut sebenarnya antologi banyak penulis, terlalu banyak puisi, dan ungkapan-ungkapan yang membosankan. Segalanya ada. “Buku ini seperti hendak menyenangkan semua orang, tapi akhirnya tak membuat senang siapa pun.” Bahkan sang profesor menyarankan, buku itu harus dipenggal, terbit bagian depannya saja. Cukup lima bab. Selain itu harus ganti judul. Anonymous menyerangnya dengan kesal, mengata-ngatainya tak tahu apa-apa soal sastra dan, bahwa buku tersebut memiliki nilai jauh melebihi sekadar cerita. “Kamu salah baca,” kata Anonymous. Profesor Eco, kemudian tak yakin apakah yang menyerangnya satu orang atau beberapa orang. Ia ditemukan pagi hari dalam keadaan babak belur dan tak sadarkan diri. Di luar itu, ia juga pernah membuat kesal sekelompok sutradara film, karena membocorkan resep mereka dalam membuat cerita. Resep yang disimpan dalam lemari terkunci di studio, tapi entah bagaimana Profesor Eco berhasil mendapatkannya. Ia diadukan ke pengadilan oleh Antonioni, Jean-Luc Godard, Luchino Visconti dan beberapa yang lain dengan tuduhan, “Membocorkan rahasia hak cipta pola menulis cerita film”. Ia kalah di pengadilan dan harus membayar denda yang membuatnya nyaris bangkrut. Untunglah tak lama selepas itu, novel sang profesor, The Name of the Rose, meledak tak hanya di Italia tapi di seluruh dunia, membuat kondisi finansialnya membaik, bahkan melebihi sebelumnya. Rupanya kasus pengadilan itu tak membuatnya kapok, ia terus menulis ulasan dan esai di majalah sastra Il Verri, dan terus membuat masalah dengan banyak orang. Ia mengomentari Justine karya Sade sebagai terlalu banyak filosofi. “Pembaca sekarang mau lebih banyak seks, seks, dan seks.” The Trial, karya seorang bujangan bernama Franz Kafka dikatainya sebagai “seolah ditulis di bawah rezim otoriter” dan harus diedit, sementara Finnegans Wake karya James Joyce dianggapnya tidak jelas ditulis dalam bahasa apa, yang jelas bukan bahasa Inggris. Tapi kasus yang mungkin merusak reputasinya adalah ketika Porfesor Eco menerbitkan cerita (masih di majalah yang sama) berjudul “Granita”. Banyak orang langsung menuduhnya melakukan plagiat atas novel berjudul Lolita. Memang tak sama persis. Di cerita yang ditulisnya, Eco mengganti si gadis kecil Lolita dengan seorang nenek bernama Granita. Ya, ini tentang seorang lelaki yang tergila-gila kepada perempuan yang sudah tua. Meskipun ada perbedaan tersebut, orang tetap menganggapnya melakukan plagiat. Coba lihat pembukaan ceritanya: “Granita. Bunga masa remajaku, derita malam-malamku. Akankah aku melihatmu lagi? Granita. Granita. Gran-i-ta.” Bahkan akhirnya Vladimir Nabokov menyeretnya ke pengadilan. Ini pengadilan kedua untuk Profesor Eco. Kali ini, dengan pembelaan yang penuh semangat dan melibatkan begitu banyak referensi, Eco berhasil meyakinkan hakim tentang perbedaan plagiat dan parodi. Pengadilan membebaskan Eco dalam kasus tersebut. Meskipun begitu, banyak mahasiswanya yang dipenuhi jiwa-jiwa muda yang membara, tetap merasa kecewa. Mereka mulai mempertanyakan reputasinya sebagai profesor, dan berombongan meninggalkan kuliah-kuliah semiotiknya, beralih ke kuliah teologi yang menurut mereka lebih memberi kepastian mengenai bagaimana menafsir segala sesuatu. Dengan berbagai kasus tersebut (tidak semuanya ditulis di sini), Profesor Eco akhirnya berhenti menulis di Il Verri. Tapi ketika namanya sebagai novelis maupun profesor semiotik semakin moncer, penerbit berniat untuk menerbitkan tulisan-tulisan tersebut dalam sejilid buku. Meski awalnya ragu, akhirnya Profesor Eco setuju. Tapi untuk menghindari masalah-masalah lebih lanjut, terutama serangan mematikan di jalanan dari penulis atau orang yang kecewa, dan teringat kepada Anonymous, Profesor Eco memberi judul buku tersebut sebagai Misreadings.

Usaha Membaca Secara Anarki

Pada umur awal dua puluhan, untuk pertama kalinya Emma Goldman menonton dan mendengar orasi John Most, seorang anarkis pendahulunya. Dengan gelegak jiwa anak muda, Emma membayangkan dirinya bisa mencapai taraf tersebut: bicara berapi-api di depan kerumunan massa, memengaruhi dan menggerakkan mereka. Butuh beberapa tahun untuknya menyadari bahwa, “aku tak lagi percaya kata-kata lisan”, dan meyakini “betapa rapuhnya itu untuk membangunkan kesadaran, bahkan emosi.” Ia menganggap orasi semacam itu hanya meninggalkan kesan yang sejenak, yang terbaik darinya adalah mengguncang keyakinan orang, tapi tak mencukupi untuk membawa mereka kepada kesadaran untuk belajar dan berpikir secara mendalam.

Ia mulai menulis banyak esai-esai politik sambil memperkenalkan anarkisme. Ia menulis tentang problem mayoritas-minoritas, tentang psikologi kekerasan, penjara, patriotisme, emansipasi perempuan, bahkan pernikahan dan cinta. Hingga pertanyaan berikutnya muncul: memangnya apa itu anarkisme? Sebagai sebuah paham, seperti apa metodenya? Pertanyaan itu sangatlah lumrah, apalagi jika dibandingkan dengan sepupu “kiri”nya, Marxisme, yang sangat ketat dan cenderung punya hasrat untuk “mengilmu-pengetahuan”kan filsafat progresif.

Dalam esainya tentang anarkisme, Emma memberi sedikit gambaran yang saya pikir berguna untuk pembicaraan kita selanjutnya. Ia mencoba menjawab tuduhan banyak kelompok bahwa anarkisme sangatlah tidak praktis, dengan mengatakan:

“Skema praktis (ia mengutip Oscar Wilde), merupakan sesuatu yang memang sudah berjalan, atau skema yang memang bisa dijalankan di suatu kondisi yang sudah ada, tapi masalahnya justru kondisi yang ada inilah yang kita tentang, dan skema apa pun yang bisa berjalan di kondisi ini jelas salah dan tolol.”

Kita bisa menduga ketika ia bicara “kondisi yang ada” merujuk kepada kondisi sosial, politik dan ekonomi, tapi saya pikir secara tersirat juga bicara tentang kondisi struktur pengetahuan. Ilmu pengetahuan dengan segala metodenya merupakan wilayah yang sama kakunya, penuh hirarki, penuh lembaga-lembaga otoritatif, dan terkadang bisa dibilang jauh lebih mapan daripada keadaan sosial, ekonomi, apalagi politik secara umum. Emma memberi kita jalan keluar: “Anarkisme, setidaknya sebagaimana saya mengerti, mewariskan kebebasan untuk mengembangkan sistem uniknya sendiri, selaras dengan kebutuhan.”

Ia bicara tentang pembebasan terus-menerus, pemberontakan terus-menerus terhadap keadaan yang salah dan curang ini. Dengan kata lain, skema harusnya sesuatu yang lentur, dan bukan sebuah sistem yang akhirnya memenjarakan diri sendiri.

Dalam konteks inilah saya ingin mengajak untuk melakukan ini, setidaknya, dalam cara kita membaca. Membaca apa pun, novel, puisi, traktat, bahkan iklan di jalanan, sebagai tindakan untuk terus-menerus membebaskan diri dan memberontak, sebab dalam tindakan yang seolah remeh ini, pembaca terus-menerus dihadapkan kepada begitu banyak otoritas: kuasa pengarang, kuasa pengetahuan, bahkan kuasa modal yang menyediakan apa yang bisa kita baca. Persis dalam titik inilah saya rasa Benedict Anderson melakukan dan menunjukkannya melalui buku Di Bawah Tiga Bendera: Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial.

***

Di masa sekarang, mungkin tak terbayangkan sebuah novel bisa menggerakkan sebuah bangsa, juga memberi landasan bagi imajinasi tentang bangsa tersebut, yang memang belum ada ketika novel itu diterbitkan, dan penulisnya tak hanya menjadi seorang martir, tapi juga dianggap sebagai Bapak Pendiri Bangsa. Tapi itu terjadi pada Noli me Tangere (serta sekuelnya, El Filibusterismo) serta sang penulisnya, Jose Rizal.

Filipina, seperti ditunjukan oleh Ben Anderson, jikapun menjadi warga negara Republik Global Kesusastraan, tentunya hanya warga pinggiran saja. Tak hanya di masa ketika Jose Rizal hidup di mana produksi novel-novel besar dimonopoli Perancis dan Inggris, yang lalu dibayang-bayangi dan diteruskan oleh Amerika dan Rusia, tapi bahkan sampai sekarang bisa dibilang masih saja merupakan warga pinggiran saja, sebagaimana apa yang terjadi dengan seluruh kesusastraan di wilayah Asia Tenggara ini. Siapa penulis Filipina yang Anda baca (atau setidaknya Anda kenal namanya) selepas Jose Rizal? Saya yakin sebagian besar di antara kita muncul dengan pikiran kosong.

Tapi kenapa novel itu bisa mencuat dari pinggiran, bersanding dengan raksasa-raksasa lain dari pusat-pusat Republik Global Kesusastraan ini? Ben meminjam argumentasi kuat Pascale Casanova bahwa “penulis-penulis pinggiran … menemukan orisinalitasnya saat berusaha mendobrak … menentang premis-premis yang berlaku dengan gaya yang berbeda.”

Saya rasa di sinilah Ben menunjukkan kejeniusan Rizal yang menentang “premis-premis yang berlaku dengan gaya yang berbeda” tersebut, sebab ini mengisyaratkan bahwa Rizal mengetahui terlebih dahulu “premis-premis yang berlaku” untuk menciptakan “gaya yang berbeda”. Sesuatu yang tentulah sulit dilakukan dari pinggiran, tapi menjadi mungkin dalam kasus Rizal. Ben menjelajah berbagai kemungkinan, melintasi batas-batas teritori, tak hanya bangsa-negara dan kebudayaan, tapi disiplin-disiplin ilmu, dari usaha melakukan perbandingan sastra, hingga sejarah ekonomi dan kolonial, bahkan pertarungan ordo-ordo gereja.

Seperti kaum anarkis yang mencoba merubuhkan segala sekat bangsa-bangsa, tradisi, dan otoritas, demikianlah pula sang novelis bekerja bersama kesusastraannya. Menilik kedua novelnya, meskipun secara khusus Ben menunjukkan novel keduanya, kita serasa melihat berbagai saling-silang tradisi kesusastraan lintas-bangsa melebur di sana, tak hanya berbaur tapi juga dipermainkan oleh sang penulis. Jose Rizal memang sedikit beruntung dalam hal ini: ia tak semata-mata anak Filipina, ia bisa dibilang anak global tak hanya secara pikiran, tapi juga bahkan secara fisik.

Tapi yang terpenting bukan semata-mata sumber-sumber berharga kesusastraan global yang secara istimewa bisa diaksesnya, melainkan bagaimana Jose Rizal mempergunakan itu semua untuk tujuan-tujuan “praktis”nya. Persis seperti dalam bayangan saya ketika merujuk kata-kata Emma Goldman, bahan-bahan kesusastraan yang disediakan untuknya dari berbagai peradaban itu dipergunakannya dalam konteks yang sangat berbeda: Filipina dan angan-angan kebebasannya.

Persis seperti dinamit yang ditemukan oleh Alfred Nobel, yang barangkali diciptakan demi memenuhi kebutuhan untuk meledakkan gunung-gunung demi eksploitasi pertambangan, di tangan kaum anarkis menjadi senjata ringkas yang bisa dibawa ke mana-mana dan mendobrak kebekuan zaman. Kita akan melihat bagaimana Ben menunjukkan seperti apa kesusastraan dan tradisi Eropa yang tersedia untuk Jose Rizal, bisa dipergunakannya bagaikan dinamit oleh kaum anarkis.

***

Saya bertemu Ben Anderson untuk pertama kali sekitar satu dekade yang lalu. Kami bicara tentang tempat-tempat di Jawa yang sering dikunjunginya, atau pernah dan ingin dikunjunginya kembali, dan sesekali menyarankan saya mengunjungi tempat-tempat tersebut. Adakalanya tempat-tempat itu demikian acaknya, dari mulai satu situ di Tasikmalaya selatan yang menurutnya dipenuhi kalong-kalong raksasaa, hingga sarannya untuk mengunjungi masjid yang pernah menjadi pusat Darul Islam di Garut, yang menyajikan percampuran arsitektur menarik.

Tapi di antara semua saran-sarannya, ia beberapa kali meminta saya membaca satu novel dari pengarang yang nyaris tak dikenal, setidaknya saya tak kenal namanya sampai Ben menyebut nama itu: Hino Minggo dengan seri bukunya berjudul Six Balax. Ia tak pernah mengajak saya membicarakan penulis-penulis sastra Indonesia dengan nama-nama besar, tidak juga menyarankan saya membaca nama-nama penulis tersebut. Melalui surel, atau ketika bertatap muka, satu-satunya penulis yang dengan ngebet disarankannya kepada saya hanyalah Hino Monggo.

Saya memang tak langsung menuruti sarannya, karena bukan hal yang gampang menemukan buku Hino Minggo. Dan ketika akhirnya saya menemukan buku itu, membacanya, saya terpana lama sambil berpikir keras, “Apa yang sedang Ben coba sarankan kepada saya?”

Six Balax sendiri dengan cepat memang menarik hati saya ketika membacanya. Itu kisah tentang detektif polisi dengan bandit-bandit tengil kelas coro, berbaur dengan gaya bahasa yang campur-aduk, adegan-adegan slapstik, komentar-komentar cunihin, hingga pesan moral yang seringkali agak brengsek. Meskipun saya merasa terhibur dengan bukunya, saya tak berpikir itu akan berguna bagi kerja kesusastraan saya, hingga saya mencoba untuk membaca “secara anarki” saran Ben Anderson tersebut.

Saya rasa ia menyadari latar belakang selera saya pada novel-novel hiburan semacam itu. Saya pembaca novel-novel horor dan silat, dan tak menyangkal pengaruh besar genre tersebut dalam karya yang saya tulis. Tapi saran Ben untuk membaca Six Balax membuat saya menjelajah ke berbagai karya lain, yang barangkali sama terlupakannya. Bahkan jika pun populer, barangkali tak memperoleh tempat dalam ruang-ruang emas kesusastraan dan kebudayaan Indonesia.

Di titik inilah saya menjelajah dari satu buku ke buku lain, dalam semangat “saran Ben untuk membaca Six Balax”. Saya tak hanya membaca kembali novel-novel silat (dari Kho Ping Hoo, SH Mintardja, Bastian Tito) dan novel horor (dari Abdullah Harahap hingga Tara Zagita), tapi juga menapaki kembali komik-komik Petruk-Gareng karya Tatang S, romans La Rose, hingga novel ala pulp fiction semacam Kaptin Umar Bey karya S. Puteradjaja. Sekali lagi, mereka mungkin tak memperoleh ruang emas yang sama dalam kesusastraan dan kebudayaan Indonesia sebagaimana mereka menempatkan Idrus, Sutan Takdir Alisjahbana, Iwan Simatupang, Chairil Anwar. Tapi selepas mengunjungi karya-karya ini, saya tak bisa mengelak dari sejenis pencerahan: saya melihat Indonesia, barangkali dengan mata dan perasaan yang jauh lebih segar.

Pikiran itu semakin menjadi-jadi setelah membaca Di Bawah Tiga Bendera, dengan silang-sengkarut kisah Jose Rizal dan Isabelo de los Reyes bersama pembentukan nasionalisme (bahkan identitas) Filipina. Menyadari bahwa wilayah yang kini menjadi Filipina tersebut terpisah-pisah tak hanya secara geografis, tetapi juga suku dan adat-istiadat, Isabelo menceburkan diri kepada kajian-kajian folklore. Mungkin bukan niat utamanya, tapi secara tak langsung ia membentuk sejenis dasar bagi imajinasi tentang Filipina. Pada saat yang kurang-lebih bersamaan, Jose Rizal meminjam dari berbagai khazanah luar, sebagaimana ditelusuri dengan detail oleh Ben, untuk menciptakan imajinasi mungkin tentang hal yang sama, dengan cara yang berbeda.

Membaca buku ini, dan kemudian mengikuti saran Ben dengan menafsirkannya secara agak liar, setidaknya bagi saya memberi sejenis titik pijak untuk melihat Indonesia, setidaknya sejarah kesusastraan Indonesia, dengan kacamata yang baru. Seperti bintang-bintang di langit kita gambar ulang membentuk rasi-rasi baru dalam konteks seperti “komparasi ilmu falak” yang disebut Ben.

***

Tentu saja menemukan cara baru bukan pokok pentingnya, demikian pula “komparasi ilmu falak” juga bukan pokok pentingnya. Kembali ke buku Benedict Anderson yang jadi tali simpul bagi pembicaraan ini, saya ingin mengutip apa yang ditulisnya di pendahuluan: “Atas nama kebebasan individu, anarkisme juga terbuka pada penulis-penulis dan seniman ‘borjuis’ (hal yang tak berlaku dalam Marxisme institusional). Meski sama sengitnya terhadap imperialisme, anarkisme tidak memendam syak wasangka teoritis terhadap paham-paham nasionalis ‘kecil’ dan ‘ahistoris’, termasuk yang berkembang di negeri jajahan.

Dalam kasus Jose Rizal, bisa jadi ia meminjam tradisi cerita bersambung yang antara lain dipelopori oleh Charles Dickens dan Eugene Sue, yang seringkali tujuan utamanya untuk hiburan, untuk merekatkan pembaca terus-menerus ke halaman koran/majalah yang menerbitkannya, dengan suspens dan kejutan dibuat dari episode ke episode; bisa pula ia meminjam bahasa Spanyol, yang merupakan bahasa kolonial yang bahkan tak memiliki akar mendalam di negerinya — mungkin hanya tiga persen yang bisa mempergunakannya di masa itu; tapi novelnya menjadi semacam dinamit dengan daya gebuk, membuatnya ditakuti penguasa kolonial dan para pemimpin gereja (bahkan dalam ketidakberdayaannya), dan memberi api bagi sebangsanya untuk memimpikan kebebasan.

Dengan cara seperti itulah barangkali kita bisa membaca apa pun dengan cara apa pun, bahkan melenceng jauh dari niat-niat di balik bacaan tersebut. Maraknya novel-novel romans yang muncul di tahun 70an, dengan tokoh-tokoh (dan juga penulis perempuan seperti La Rose, Marga T dan lain-lainnya), bahkan dengan sampul-sampul buku yang dipenuhi wajah perempuan, bisa jadi di satu sisi merupakan eksploitasi kapital (dan dunia hiburan) atas perempuan; tapi kenapa tidak dibaca dengan cara yang progresif, katakanlah sebagai momentum bagi wacana untuk merebut ruang-ruang budaya yang bisa jadi sebelumnya didominasi oleh wajah lelaki (sebagai perbandingan, lihat poster-poster para pahlawan di dinding kelas, yang umumnya didominasi wajah lelaki).

Kemunculan berbagai genre seperti cerita silat, horor, pulp fiction, komik banyolan, atau seri seperti Six Balax, juga di era Orde Baru, di satu sisi bisa jadi merupakan upaya untuk meredam dan menjauhkan pembaca dari isu-isu serius macam politik, sejenis eskapisme; tapi dengan cara baca yang anarki, kita bisa menjadikannya politis. Novel-novel horor Abdullah Harahap, misalnya sebagaimana saya dan dua teman, Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad, pernah mencoba membaca ulang, bisa dipergunakan untuk membedah relasi urban dan rural, tak semata-mata urusan pesugihan babi ngepet.

Kita mungkin sedikit terpana melihat cara Benedict Anderson menulis atau menyajikan kisah tentang dua figur Filipina ini, tapi dari sana kita merasakan apa yang sudah disinggung dari Emma Goldman di muka, “Anarkisme mewariskan kita kebebasan” untuk melakukan hal ini dengan cara yang unik. Dan terutama sebenarnya bukan semata-mata apa yang ditulis pada sebuah buku, apalagi seringkali apa yang tersedia tak lebih apa yang disediakan oleh para penguasa jejaring perbukuan dan dunia intelektual, tapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita membaca itu semua. Menarik simpul-simpul baru macam ilmu falak, dan pada saat yang bersamaan, mempergunakannya sebagai dinamit yang enteng dibawa ke mana-mana.

Disampaikan pada Lokakarya BenAR (Benedict Anderson Reader) II di Lembaga Studi Realino (LSR), Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, 30 Agustus 2018.

Noli Me Tangere, José Rizal

Setelah beberapa lama cuma niat, akhirnya kesampaian juga membaca novel ini. Awalnya karena hendak membicarakan buku Benedict Anderson, Di Bawah Tiga Bendera: Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial, saya merasa harus membaca setidaknya satu (dari dua) novel José Rizal, sebab buku tersebut hampir sepertiganya bicara tentang sang revolusioner Filipina. Demikianlah akhirnya saya membaca Noli Me Tangere (saya membaca versi terjemahan Inggris lawas, yang judulnya jadi The Social Cancer, sementara edisi yang baru mempergunakan judul asli dengan terjemahan Inggris di dalam kurung sebagai: Touch Me Not). Ini sebuah novel dengan latar masa kolonial Spanyol di Filipina, dan bisa juga disebut sebagai novel epik Filipina, tak hanya karena isinya, tapi juga efek yang diciptakan oleh penerbitan novel ini. Membaca beberapa bab awal, kita sudah disajikan dengan kebrutalan kekuasaan kolonial. Dikisahkan Crisóstomo Ibarra, sang tokoh utama, selepas bertahun-tahun mengembara di daratan Eropa akhirnya pulang ke Filipina hanya untuk menemukan ayahnya sudah meninggal (dan selama itu tak ada yang memberitahunya). Ia kemudian tahu bahwa ayahnya telah dihukum mati oleh konspirasi penguasa-penguasa lokal, yang meliputi penguasa kolonial serta para pemimpin gereja. Tak hanya itu, ketika ia mencari kuburannya, Ibarra tak menemukan kuburan itu. Ia akhirnya bertemu seseorang yang memberitahu: mayat ayahnya telah digali dan dibuang ke danau. Di sinilah ia mulai terlecut, kemarahannya kepada kekuasaan kolonial mulai membara, tapi ternyata kebrutalan tersebut belum cukup sampai di sana. Apa yang membuat kekejian kolonialisme terasa menyayat, terutama karena di novel ini, José Rizal berhasil membawa masalah sosial tersebut menjadi kisah-kisah individu. Kisah cinta Ibarra dan María Clara memiliki porsi yang sangat signifikan di sini, di mana kisah cinta mereka harus berakhir tragis lagi-lagi oleh konspirasi jahat antek-antek kolonial dan gereja. Di titik ini, pembaca Indonesia mungkin akan teringat kepada novel Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer (dengan kisah Minke dan Annelisnya), setidaknya saya merasakan sejenis bayang-bayang tersebut. Mungkin Pram terinspirasi novel ini (Noli Me Tangere terbit 1887, hampir satu abad sebelum novel Pram)? Dan sekuelnya, El Filibusterismo mungkin juga membayangi Anak Semua Bangsa, terutama dalam konteks “globalisasi”-nya. Selain kisah cinta dua anak muda yang berakhir tragis dipisahkan oleh kuasa kolonial, ada hal-hal yang juga bisa diperbandingkan: baik Minke maupun Ibarra sama-sama bisa dibilang “elit lokal”, yang sama-sama memperoleh pendidikan kolonial (Ibarra lebih dari itu, ia bisa sekolah ke luar negeri, dan dalam tubuhnya juga mengalir darah Basque, ia seorang mestizo). Tapi tentu saja ada beberapa perbedaan mencolok. Bumi Manusia bisa dibilang roman sejarah, sementara novel ini justru bisa dilihat mendahului gerakan-gerakan revolusioner Filipina. Ia semacam inspirasi bagi kaum revolusioner Filipina untuk bangkit melawan, dan José Rizal sendiri, beberapa tahun kemudian, tak hanya diasingkan, tapi juga dihukum mati sebagai pahlawan bangsanya (dan banyak yang mengaitkan dirinya sebagai Ibarra). Selain itu, dua hal mencolok dalam novel Rizal: kebrutalannya (tak hanya hukuman mati, mayat digali, tapi juga penggantungan di muka umum, bahkan seorang anak dipenggal kepalanya dan digantung di muka rumah ibunya), juga keterlibatan kekuasaan gereja yang membuat rakyat Filipina seperti dijajah dari kiri dan kanan, di mana di-ekskomunikasi oleh gereja sama menakutkannya daripada dipenjara. Di luar itu, novel ini juga memberi sejenis keajaiban seperti dicatat Ben Anderson: Di Republik Kesusastraan Global, novel ini lahir dari pinggiran. Ia tak hanya merupakan novel modern paling awal yang menggetarkan Asia Tenggara, tapi juga mendahului banyak novel besar di Asia (ya, bahkan terbit duluan sebelum Max Havelaar, meskipun kemudian José Rizal juga mengagumi novel ini). Untuk memahami kenapa bisa seperti itu, buku Ben Anderson di awal tulisan ini mungkin perlu dibaca, sebagai pengantar yang menarik sebelum menikmati novel ini, terutama bagi yang tak terlampau akrab dengan sejarah Filipina atau konteks zaman di abad sembilan belas.