Eka Kurniawan

Journal

Author: Eka Kurniawan (page 2 of 33)

Akhirnya keempat versi Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash (Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas) dari penerbit dan wilayah berbeda berada di meja saya. Dari kiri ke kanan: Australia (Text Publishing), Amerika (New Directions), India (Speaking Tiger), dan Inggris (Pushkin Press). Isinya sama, diterjemahkan oleh Annie Tucker, hanya beda sampul dan ukuran, dan tentu saja wilayah distribusi.

Sila baca ulasan saya di Mojok.co tentang novel Six Balax, super spy pribumi yang semoga “still going strong menumpas kriminalitas yang menjamur di negeri yang kemerdekaannya sering-sering encok ini.”

Juga ada ulasan Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash di koran Australia, The Saturday Paper.

The Lottery and Other Stories, Shirley Jackson

“The Intoxicated”. Kisah komikal tentang seorang lelaki parobaya yang jengkel harus mendengarkan seorang gadis enam belas tahun nyerocos tentang masa depan dunia yang berantakan dengan penuh sok tahu. Mungkin ia jengkel bukan karena gagasan si anak gadis, tapi jengkel kepada dirinya karena terintimidasi oleh si gadis muda. Di dunia di mana kaum lelaki merasa lebih superior daripada perempuan, dan orang tua merasa lebih hebat dari orang muda, menemukan seorang gadis muda duduk di meja makan dan bicara dengan penuh percaya diri, memang mengintimidasi. Sampai-sampai si lelaki menyuruh si anak gadis untuk membeli saja majalah film (daripada mikirin masa depan dunia). Saya sering melihat lelaki yang terintimidasi oleh perempuan dengan cara seperti ini, sebagaimana orang tua oleh anak muda. Dan itu menyedihkan. Atau menurut Shirley Jackson, menggelikan. “The Daemon Lover”. Kisah kocak yang lain, tentang seorang gadis yang dipermainkan lelaki pemberi-harapan-palsu. Shirley Jackson memang pengamat yang jitu, dengan dingin memblejeti sisi menggelikan maupun menyedihkan dari manusia, perempuan maupun lelaki. Di hari pernikahannya si gadis mencari-cari calon suaminya yang menghilang. Dia bertanya ke sana-sini, dan pada saat itu pula kita melihat aneka warna manusia, sekilas demi sekilas, tapi seperti di cerpen-cerpen lainnya, membentuk juga watak konyol (dan bengis) masyarakat. “Like Mother Used to Make”. Seperti kamu memelihara seekor kucing, dan kucing itu kemudian menjadi raja di rumahmu sementara kamu menjadi budak. Pesan moral: jangan kelewat baik, orang-orang akan merampokmu. “Trial by Combat”. Cerpen-cerpen karikaturalnya, terus-terang, mengingatkan saya kepada O. Henry. Tentu saja dengan warna yang lebih urban, olok-olokan kejam kepada tokoh-tokohnya, terutama kepada kelemahan jiwa mereka. Tentang seseorang yang jengkel karena kehilangan barang-barang sepele, dan ketika menemukan siapa pencurinya … baca saja ceritanya. “The Villager”. Shirley Jackson merupakan biang yang sering membuat tokoh-tokohnya tiba-tiba menjadi aktor dalam situasi kikuk dan aneh. Tidak, mereka tidak mendadak berubah karakter. Mereka semata-mata memerankan seseorang lain dalam situasi yang aneh. Katakanlah di cerpen ini, seseorang datang ke sebuah apartemen kosong untuk melihat perabot yang akan dijual. Mendadak muncul calon pembeli lain, dan si orang pertama, dalam kekikukkan yang aneh, menemukan dirinya berpura-pura menjadi tuan rumah pemilik perabot. Tentu saja di bagian seperti itulah kisah-kisah ini demikian kocak, sekaligus menguak bagian terdalam dari jiwa-jiwa yang rawan, seperti orang-orang desa yang terserak di kota besar macam New York ini. “My Life with R.H. Macy”. Satir gokil tentang karyawan Macy (ini nama jaringan toko). Bagi tempat kerjanya, ia hanya dikenal dengan kode: 13-3138. Tiba-tiba saya membayangkan sebuah novel tanpa nama-nama, kecuali deretan angka seperti itu. Bisa mampus mengingatnya dan untunglah ini cuma cerita super pendek.

“The Witch”. Pernah ngelarang anak untuk ngobrol dengan orang asing? Pernah juga menyuruh anak untuk bersikap ramah kepada orang lain? Bagaimana kalau anak bersikap ramah dengan seorang penyihir? Shirley Jackson selalu berhasil membuat kita gelisah dengan kelakuan tokoh-tokohnya. Mereka senang saling menyiksa satu sama lain. Kalau tak mau menderita, mendingan kita tertawa di atas penderitaan mereka. “The Renegade”. Anjing. Ini memang tentang anjing. Gara-gara anjing mengigit ayam peliharaan, hidup menjadi anjing. Urusan sepele, di tangan Jackson menjadi drama satu babak yang anjing. Kita harus belajar perkara ini dari Jackson: menciptakan arus tenang di permukaan untuk menyembunyikan arus kencang di kedalaman. Anjing. “After You, My Dear Alphonso.” Saya dibikin nyengir oleh rasa terluka Nyonya Wilson, yang menawari seorang anak negro baju-baju bekas anaknya. Si anak negro menolaknya karena punya baju banyak di rumah. Terluka. Benar-benar terluka sampai si nyonya ngomong, “Banyak anak sepertimu, Boyd, yang akan sangat berterima kasih untuk pakaian yang diberikan seseorang dengan sangat baik kepada mereka.” Ledekan perih untuk rasialisme. Seolah anak negro selalu harus jadi tempat orang berderma. “Charles”. Ketika anakmu untuk pertama kali masuk ke taman kanak-kanak, kamu berpikir tahapan baru dalam hidupmu berubah. Juga anakmu. Kamu bangga anakmu tumbuh. Yang kamu tidak sadar, barangkali anakmu tumbuh menjadi sesuatu yang tak kamu duga. Kembali Shirley Jackson menikammu dengan telikungan cerita ala sopir bajaj Jakarta. Kamu harus selalu berpegangan erat jika tak mau terpelanting. “Afternoon in Linen”. Sama seperti cerpen sebelumnya, ini tentang kelakuan anak-anak. Kali ini seorang gadis kecil yang jago main piano dan bikin puisi. Setidaknya itulah yang dikatakan si nenek. Ia tak pernah tahu, si anak punya pendapat sendiri mengenai dirinya sendiri, dan tak ada yang bisa mencegahnya. Kadang-kadang orangtua memang perlu dipermalukan di muka umum. Setidaknya begitulah menurut Shirley Jackson. “Flower Garden”. Kesongongan orang tua, masyarakat, dan rasialisme (atau dengan kata lain: kesongonan kulit putih), merupakan tema yang berkali-kali muncul di cerita-ceritanya. Ia selalu menemukan sudut paling menarik untuk diceritakan. Bayangkan seorang janda beranak satu pindah ke satu kota. Lalu untuk mengurus kebun bunganya, ia memperkerjakan seorang negro duda yang kalau bekerja bertelanjang dada. Bayangkan apa yang dipikirkan lingkungannya yang puritan dan penuh prasangka itu. “Dorothy and My Grandmother and the Sailors.” Kembali Shirley Jackson mengolok-olok praduga masyarakat. Kali ini tentang para pelaut yang dibayangkan bejat dan suka mengganggu anak-anak gadis.

Setelah separoh dari cerpen-cerpennya saya baca, saya mulai merasa Shirley Jackson merupakan penulis yang kejam. Bahkan cenderung brutal. Brutal mengolok-olok, kejam memblejeti topeng-topeng karakternya. Ia seperti pyton pembunuh, yang dengan dingin membelit dengan cerita-ceritanya. Perlahan, tapi makin lama makin kencang, hingga membuat orang terengah-engah menggapai oksigen. Demikian perlahan, cerita-ceritanya sekilas tampak seperti rekaman percakapan, atau lebih tepatnya gosip ibu-ibu (dan bapak-bapak) di lingkungan rumah, dan ketika sampai di ujung cerita, kita baru sadar telah tercengkeram dengan hebat. “Colloquy.” Percakapan aneh antara dokter (yang pasti jengkel dan tak sabar) dengan pasennya. Apa sih kegilaan? “Elizabeth”. Saya paling tak suka membaca kisah tentang para penulis, atau lingkungan mereka (meskipun ada beberapa perkecualian). Cerpen ini bercerita tentang seorang agen sastra, tapi tak banyak bicara soal pekerjaan itu. Justru ia bicara tentang hal yang bisa terjadi di mana pun, di kantor mana pun: perasaan cemburu. Selalu menarik mengamati bagaimana seseorang dibakar api cemburu dan pada saat yang sama menampik perasaan tersebut. Hingga akhirnya terbakar sendiri oleh api tersebut. “A Fine Old Firm.” Sekali lagi percakapan para perempuan. Di luar perkara arus tenang di permukaan dan arus deras yang mengalir di kedalaman, percakapan-percakapan di cerita-cerita Shirley Jackson juga memancarkan kilau yang berpencaran ke mana-mana, barangkali dipantulkan oleh riak-riak dalam percakapan tersebut. Dua ibu yang baru pertama kali bertemu, membicarakan dua anak lelaki mereka yang bersahabat dan sedang membela negara di tempat jauh. Tampak sederhana tapi riaknya menyenangkan untuk dinikmati. “The Dummy.” Dua nyonya masuk ke restoran dan meledak dalam kejengkelan. Sekali lagi, Shirley Jackson memang garang dan brutal. “Seven Types of Ambiguity.” Sepasang lelaki-perempuan tua masuk ke toko buku ingin membeli beberapa koleksi buku. Pokoknya buku yang keren, macam Dickens. Aku suka Dickens waktu kecil. Pokoknya yang kayak Dickens. Saya tak tahu apakah Shirley Jackson sedang menertawakan orang-orang snob yang sok melek sastra, yang saya tahu, ia kemudian menghadirkan bocah kecil yang sering datang ke toko itu untuk numpang baca (tapi tak mampu beli). Kadang-kadang memang perlu seseorang memberi tahu apa artinya senang membaca, dan bukan sekadar gaya-gayaan suka membaca. “Come Dance with Me in Ireland.” Kembali ke isu prasangka. Kali ini korbannya seorang penjual asongan yang pingsan di depan rumah. Ia kelaparan atau mabok? Antara menolong orang kelaparan dan melarang membawa masuk lelaki asing ke rumah, mana yang lebih penting?

Cerpen-cerpen Shirley Jackson bukan jenis cerita yang penuh drama. Sekilas ia tampak seperti sketsa, bahkan pada cerita-ceritanya yang panjang sekalipun. Ia membiarkan orang-orangnya bicara satu sama lain. Kadang-kadang ia mengeluarkan isi hati mereka, pikiran mereka. Ia akan membuka ceritanya dengan kejadian-kejadian yang sangat biasa: tokohnya bangun tidur, atau bertemu seseorang dan bicara, atau sedang memasak dan mendengar anaknya bicara dengan seseorang. Ia bahkan sering tak terlalu peduli, setidaknya tidak berlebihan, kepada lanskap. Ia menjelaskan sekilas tentang rumah, apartemen, jalanan kota, atau kantor. Sekilas saja. Yang terpenting dalam cerpen-cerpennya selalu manusia dan apa yang mereka bicarakan. “Of Course”. Setiap bertemu sekelompok orang dan sebagian di antara mereka adalah perempuan berjilbab, saya selalu bingung harus memutuskan sesuatu dalam sepersekian detik: apakah perlu bersalaman atau tidak? Soalnya kadang ada yang mau salaman, dan ada yang tidak (saya sendiri senang bersalaman dengan orang). Kalau di antaranya ada yang bilang, “Maaf saya tak bersalaman dengan yang bukan muhrim”, saya kira saya akan tersenyum dan berkata, “Tentu saja.” Of course. Sial, cerpen ini bahkan bisa diterapkan untuk banyak situasi, bahkan di tempat dengan peradaban dan kerumitan sosial yang jauh berbeda. “Pillar of Salt”. Problem manusia modern, bahkan sejak masa Shirley Jackson, ternyata tetap sama: bagaimana mengelola waktu. Bahkan banyak di antara kita tak tahu bagaimana caranya bersenang-senang di waktu liburan. Tahu-tahu kita sudah menghabiskan beberapa hari dan tak merasa telah menikmati hidup. Waktu dan tempat tak hanya merupakan dua perkara kosmologis, tapi juga bisa menjadi pembunuh yang keji. “Men With Their Big Shoes”. Pernah merasa pembantu rumah tanggamu berkuasa melebihi dirimu di rumah? Tidak persis seperti itu, memang. Juga tak persis seperti kucing peliharaan yang menindas tuannya. Tapi perasaan memiliki kuasa penuh atas orang lain mungkin hanya perkara untuk menutupi bahwa kita tak memiliki kuasa apa-apa sebenarnya. Cerpen-cerpen Shirley Jackson, terutama di cerpen ini, seperti puncak dari sejenis filsafat. Filsafat kejengkelan dan prasangka diri yang berlebihan. “The Tooth”. Ini komedi yang gila-gilaan tentang seorang perempuan yang harus melakukan perjalanan mempergunakan bus malam ke New York karena sakit gigi. Jangan tertawa. Sakit gigi sama sekali tak lucu. Saya pernah mengalaminya. Beberapa kali. Dan ini tidak lucu. Cuma Shirley Jackson yang membuatnya terasa lucu, sebab dia memang sadis dan kurang ajar. “Got A Letter from Jimmy”. Seperti pelampiasan dendam kaum perempuan terhadap kaum lelaki. Jangan pikir lelaki juga tak cengeng dan kalau sudah bertengkar, sering membuatnya berlarut-larut. “The Lottery”. Sering disebut-sebut sebagai cerpen terbaiknya. Ketika dimuat pertama kali di The New Yorker, cerpen ini memperoleh tanggapan (surat-surat berdatangan ke meja redaksi) paling banyak dalam sejarah mereka, sebagian besar terkejut oleh kebrutalan cerpen ini (tak hanya surat berisi makian, tapi juga bahkan banyak yang memutuskan berhenti berlangganan majalah itu). Sekali lagi, Shirley Jackson memang brutal, dan cerpen ini memang puncaknya. Segala hal yang saya sebut-sebut di cerpen-cerpen sebelumnya, nyaris bisa ditemukan di cerpen ini. Ketenangan yang menggoda, percakapan-percakapan sepele yang seolah tanpa juntrungan, tokoh-tokoh yang berseliweran, lanskap yang sekilas-sekilas saja. Kejadiannya hanya sekitar dua jam, di suatu hari bertanggal 27 Juni, hari di mana kota itu (sebagaimana kota-kota lain) mengadakan undian. Semua orang datang bergegas agar tak kehilangan momen penting tersebut. Anak-anak datang lebih dulu, penuh kegembiraan. Orangtua mereka datang kemudian. Sekilas tampak seperti acara kota sebagaimana biasa, hingga kau tahu, bahwa ini tidak biasa. Ini bukan sesuatu yang kau inginkan terjadi di kotamu. Kau tak akan merasa bahwa cerpen ini merupakan cerpen horor, tapi ia lebih meneror dari kebanyakan cerpen horor yang pernah kau baca.

Kita Semua Medioker dengan Cara Sendiri

Belakangan beberapa teman penulis ikutan marah dengan fenomena ustadz karbitan. Ustadz yang menurut mereka enggak punya riwayat pendidikan panjang dalam soal agama, enggak jelas sanad keilmuannya, tapi dengan mudah berkhotbah bahkan di layar televisi nasional. Hasilnya tentu saja kegaduhan dan pendapat-pendapat yang tak jelas dasarnya. Hal yang sama juga terjadi ketika orang tak punya latar pendidikan dan kepakaran dalam soal sejarah atau antropologi, tiba-tiba bicara tentang agama yang dianut Majapahit, atau tentang siapa yang membangun Borobudur. Sebagian jengkel, marah, meskipun ada juga yang menanggapinya sebagai sejenis lelucon. Jujur saja, kadang saya pengin juga bertanya, kok elo enggak marah dan jengkel dan tersinggung, kalau melihat fenomena yang sama di kesusastraan atau kesenian? Banyak kok yang enggak jelas riwayat keilmuannya, tapi koar-koar seolah paling tahu tentang kesusastraan, tapi jadi juri misalnya, tapi jadi pemegang meja editor misalnya (dan lulusan filsafat sok-sokan nulis novel)? Kadang memang mudah marah untuk hal-hal lain, dan mudah memaafkan jika itu terjadi di lingkungan sendiri. Permisif, kata orang. Kita marah untuk fenomena di bidang ilmu agama atau sejarah, menuntut mereka untuk menegakkan kompetensi, memberlakukan ilmu-ilmu terebut dengan standar yang ketat; tapi abai untuk menuntut hal yang sama di bidang sendiri. Kenapa? Mungkin karena berpendapat, semua orang boleh bersastra dan semua orang boleh membicarakan hal itu. Ini fenomena yang sama dengan kebiasaan kita, kaum penulis dan seniman, yang garang mengkritik praktek-praktek kekuasaan. Kita benci kekuasaan yang korup, benci raja yang tak mau turun dari singgasana. Tapi pernahkah terpikir bahwa kita sendiri adalah “raja-raja kecil” dalam kesusastraan yang tak mau turun dari singgasana? Yang memiliki kekuasaan sedikit kemudian menyalahgunakan kekuasaan tersebut? Sederhana saja: jika di koran ada 52 minggu setahun, berapa banyak yang mau turun dari “singgasana” dengan tak menulis cerpen di sana, untuk memberi tempat pada tunas baru (ya saya tahu, pertanyaan ini menjengkelkan)? Tentu saja kritik seperti itu ada, tapi biasanya dari gembel jelata. Raja jarang mengkritik raja, apalagi mengkritik dirinya sendiri. Baiklah, kembali kepada kompetensi. Produk bawaan dari zaman modern. Rohnya masih gentayangan tentu saja sampai sekarang. Sebagian orang masih berharap hanya ustadz atau santri yang boleh bicara tentang ilmu agama. Sebagian masih berharap profesor atau peneliti yang melakukan kajian dengan standar ilmiah bicara tentang sejarah. Profesor fisika yang menerangkan apakah bumi itu bulat atau datar, dan bagaimana posisi planet-planet. Kita marah karena kuatir, tradisi keilmuan yang telah dibangun berabad-abad bisa runtuh oleh ocehan-ocehan tak jelas dari gerombolan medioker ini. Tapi sekali lagi, elo enggak marah jika hal itu terjadi di kesusastraan atau kesenian? Itu juga terjadi, dan mungkin lebih sering. Atau karena sering banget, sampai kebanyakan tidak sadar dan lupa untuk marah dan jengkel? Mungkin. Saya juga pernah marah, juga pernah jengkel. Mungkin karena saya menganggap kesusastraan sama pentingnya dengan ilmu sejarah, ilmu agama, antropologi atau fisika. Atau bahkan lebih penting. Tapi itu kemarin dulu, sih. Sekarang sudah enggak jengkel lagi. Sudah selow. Pascamodernisme sudah mengajari kita, bukan? Bahwa iklan obat kuat bisa sama pentingnya dengan tetralogi buru Pramoedya, dari aspek semiotik, sejarah maupun estetik? Bahwa segala sesuatu, termasuk kebenaran, adalah konstruksi pemaknaan yang relatif (tergantung siapa yang ngomong, di mana, di zaman apa, konteksnya apa). Dan berlaku sebaliknya, dong: mau gembel atau profesor, raja maupun jelata, boleh dong ngomong politik, sejarah, agama, atau sastra? Orang boleh merasa risi dengan fenomena kaum medioker bicara gaduh di sana-sini seolah-olah ahli, tapi pikirkanlah: kita semua medioker kok, dengan cara sendiri-sendiri. Satu-satunya hal yang perlu dilakukan, saya rasa, adalah kejujuran untuk mengungkapkan kekurangan di bidang-bidang ini (yang kita geluti atau tidak), semacam disclaimer, tanpa mengurangi hak-hak siapa pun untuk memiliki gagasan dan pendapat. Sejarah ilmu (juga filsafat, sastra, seni, dll), kenyataannya juga dipenuhi oleh gagasan-gagasan konyol dan tolol, dan dengan itulah peradaban berjalan. Saya sendiri percaya bumi itu datar. Datar sedatar-datarnya, tapi massa membuat ruang dan waktu melengkung. Datar seperti permukaan bola. Saya memang tak percaya surga tempat pesta seks (kalau mau, bisa melakukannya di dunia). Tapi seperti Borges, saya percaya di surga ada perpustakaan yang sangat komplet di mana saya bisa membaca semua buku yang ada (jangan tanya saya apa dalilnya, saya enggak tahu). Kalau mau jengkel, setidaknya jengkellah pada hal-hal yang lebih dekat dulu, siapa tahu itu membuat peradaban maju lebih cepat. Ambil segelas bir (atau kopi), duduk manis, dan nikmati hidup. Terakhir, jangan tersinggung dengan tulisan ini. Sesama medioker mbok jangan gampang tersinggung.

Disclaimer: penulis tak pernah belajar sastra secara formal, hanya gandrung baca dan tidak seberapa banyak. Kemudian sok-sokan menulis empat novel dan beberapa kumpulan cerita. Secara formal belajar filsafat, itu pun lulus dengan nilai pas-pasan

“… habitually drives his narra­tives between the extreme poles of the crass and the sublime, the tragic and the comedic, the surreal and the real.” – South China Morning Post, “Eka Kurniawan’s brutal novel on Indonesian masculinity is not for the faint-hearted”

“It’s funny, enraging, and touching.” – Village Voice, “NYC’s Best Independent Booksellers Share Their Picks For Summer Reading”

“I believe the phrase is ‘page-turner.’” – Words Without Borders, “The Watchlist: July 2017”

The Call of Cthulhu and Other Weird Stories, H.P. Lovecraft

Kesusastraan dengan cara sederhana merupakan dua kutub penjelajahan terhadap yang gelap, yang tak diketahui, didorong oleh rasa ingin tahu maupun hasrat untuk menguasai. Penjelajahan pertama adalah menafsir hal-hal gelap menjadi sesuatu yang bisa dipahami, dengan menjalin simpul-simpul yang mencuat ke dunia yang lebih benderang. Ini berlaku untuk novel-novel detektif maupun fiksi sains, bahkan dalam cerpen-cerpen filosofis nan magis Borges. Penjelajahan kedua adalah menceburkan diri ke dalam kegelapan, melihat sendiri ada apa di sana, bahkan meskipun hasilnya merupakan sesuatu yang tak terjelaskan alias tetap gelap. Ini berlaku untuk kebanyakan novel-novel horor, weird, sebagian fiksi sains, dan saya kira H.P. Lovecraft berada di sana. Ia merupakan penunjuk jalan, pemandu dunia gelap, dan sialnya ia tak pernah bermaksud menjadi pemandu yang baik dalam arti membebaskan kita dari ketersesatan. H.P. Lovecraft bisa dianggap sebagai pemandu dunia gelap dan ia sendiri adalah bagian dari dunia itu, bagian dari terornya sendiri. Itulah yang paling brengsek dari penulis satu ini. Sebagian besar cerpen-cerpennya, setidaknya di kumpulan The Call of Cthulhu and Other Weird Stories ini, merupakan sejenis laporan yang dituliskan, atau diceritakan oleh penyintas dunia gelap yang sanggup melarikan diri dari teror. Itu cara terbaik untuk menggambarkan dunia Lovecraft. Paparannya yang membabi buta adalah kegandrungannya terhadap peta: ia menghadirkan apa saja untuk menggambarkan lanskap di sekeliling dunianya. Dalam cerpen yang paling mendekati mimpi buruk, “The Shadow Over Innsmouth” di mana si tokoh terjebak di satu kota aneh (dengan bus yang menuju kota itu hanya berisi tiga penumpang saking tak ada yang mau lewat di sana, dan penduduk dari daerah lain yang terpaksa bekerja di sana tak berani kelayapan di malam hari, dan makhluk-makhluk berbadan manusia dan berkepala ikan bisa lewat di depanmu), Lovecraft menggambarkan peta kota itu. Jalan-jalannya, gedung-gedungnya, taman-tamannya. Bagian mana yang terpapar sinar rembulan, bagian mana yang menguarkan aroma amis. Di cerpen “The Haunter of the Dark”, ia menggambar peta sebuah gereja tua, yang menyimpan misteri berbeda bagi pengunjung nekat yang berbeda. Sebagai pemandu, tentu ia memang harus melakukannya. Peta itu bukan untuk membuat kita mengerti hamparan lanskap di sana; tapi terutama dibuat agar kita mengerti, di sanalah teror itu akan berada dan kita sadar hanya celah-celah kecil yang bisa membuat kita terbebas dari sana. Kita memerlukan peta semacam itu sebab, dalam cerpen-cerpennya, Lovecraft selalu mengajak kita ke sebuah dunia yang kita kenali, tapi sekaligus dunia lain. Dunia lain dalam makna yang sebenarnya: kaum pendatang dari negeri antah-berantah, makhluk yang tak pernah ada dalam khasanah bumi dan penghuninya, makhluk semi dewa. Cerpen-cerpennya penuh dengan kisah dan upacara pemujaan terhadap makhluk-makhluk ini, dan menampilkan ekspresi yang bengis dari manusia: tak berdaya dan menjadi budak, jika bukan buronan. Kadang-kadang dunia asing itu muncul dalam bentuknya yang paling aneh, tidak mawujud kecuali dalam berkas cahaya seperti di cerpen “The Colour Out of Space”. Cahaya itu datang bersamaan dengan jatuhnya batu meteor ke sebuah lahan peternakan, dan sejak itu, cahaya tersebut menjadi teror “yang mengisap kehidupan”. Orang-orang di kota Arkham (kota ini selalu muncul, secara langsung atau tidak) bahkan tak berani membicarakannya lagi. Melalui kisah-kisah horor atau aneh (kadang dengan balutan fiksi sains dalam cerpen semacam “Herbert West — Reanimator”, sisi lain dari Frankenstein yang kocak sekilagus mengerikan), Lovecraft menyajikan tragedi manusia menghadapi dunia lain yang asing dan gelap. Kita mencoba bersahabat dengan kegelapan untuk terjebak di dalamnya, dan mencoba melawan hanya untuk dikalahkan. Lovecraft tak menyajikan dunia terang yang menghibur, ia pemandu kejam dunia kegelapan itu sendiri.

“Eka Kurniawan’s hugely inventive fiction is a potent blend of grounded realism and flighty fantasy.”

The Economist on Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash, “The secrets of Indonesia’s finest novelist”.

“Thrilling … an engrossing, emotionally rankling speed-read … original and sure-footed.”
– Jane Graham, The Big Issue

The first review of my third novel (in English translation), Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash.

A Grain of Wheat, Ngũgĩ wa Thiong’o

“Kami pergi ke gereja. Mubia, dengan jubah putih, membuka Injil. Ia berkata, berlututlah untuk berdoa. Kami berlutut. Mubia berkata: Pejamkan mata. Kami melakukannya. Kau tahu, ia tetap membuka mata sehingga ia bisa tetap membaca. Ketika kami membuka mata, tanah kami telah lenyap dan pedang api berdiri berjaga.” Saya tak menemukan ungkapan sesederhana sekaligus tepat ke jantungnya tentang kolonialisme, melebihi apa yang saya baca di novel Ngũgĩ wa Thiong’o, penulis Kenya, A Grain of Wheat. Seseorang pernah mengingatkan saya bahwa agama, uang dan negara (bangsa, kerajaan, dan segala ide tentang komunitas-bangsa) merupakan tiga kekuatan yang sering menyatukan umat manusia. Saya bisa menambahkan: tiga hal itu juga yang sering menghancur-leburkan manusia dan peradabannya. Persekutuan agama dan hasrat menyebarkan peradaban dan nilai-nilai serta kerakusan yang didorong oleh uang telah menyebabkan kolonialisme, salah satu kebrutalan dalam sejarah dunia modern, dan ide tentang negara-bangsa berkelindan di sana membuatnya semakin rumit. Jelas ini novel politik, dalam tradisi yang sangat gamblang tentang perjuangan kaum tertindas melawan kaum penindas. Kisahnya sendiri berkelindan di sekitar hari-hari menjelang kemerdekaan Kenya dari pendudukan Britania, melibatkan beberapa tokoh yang tak hanya membuat novel ini sebagai sebuah novel sejarah, tapi juga sebuah epik sosial dalam sebuah pertanyaan besar, “Apa artinya menjadi bebas, menjadi merdeka?” Kita dihadapkan kepada aksi-aksi heroik, tapi sekaligus dihajar oleh pertanyaan mendasar, apa artinya menjadi pahlawan? Siapa sebenarnya pahlawan? Setelah membaca novel ini, saya rasa hal terbaik untuk membicarakannya adalah dengan mengambil satu-dua kutipan darinya dan melihat kembali apa yang terpancar dari sana. “Pengecut hidup untuk melihat ibunya sementara sang pemberani mati di medan pertarungan,” begitu novel ini berkata di satu tempat. Perjuangan kaum tertindas melawan para penindas, kita tahu tak sesederhana satu pihak lemah melawan pihak yang kuat. Novel ini menunjukkan hal yang lebih rumit dari itu: adalah perjuangan melawan ambisi-ambisi pribadi, baik di kalangan kaum tertindas maupun penindasnya sendiri. Aksi paling heroik justru bukanlah ketika seorang pahlawan berdiri menghadapi musuh dan menembaknya dengan dingin, atau bertahan dalam interogasi yang membawanya pada penyiksaan fisik; tapi justru ketika kita menghadapi manusia-manusia yang mengakui kelemahan-kelemahannya, kebusukannya, bahkan pengkhianatan-pengkhianatannya. Tak hanya pengkhianatan kepada kawan-kawan seperjuangan, tapi terutama pengkhianatan kepada tanah air dan bangsanya. Seluruh sosok di novel ini, dengan cara yang menyakitkan, pahlawan di hari kemerdekaan sekaligus pengkhianat dan pengecut yang menyedihkan, dan mereka menyambut hari tersebut dalam kabut ketidakpastian [dan bukan ironi: pejuang yang dipuji-puji di novel ini, yang kemudian menjadi penguasa Kenya, di kemudian hari mengirim penulis novel ini ke penjara]. Penuh kebrutalan tapi juga kejujuran, Ngũgĩ tak hanya melucuti watak-watak kolonial yang bengis, rakus, juga menelanjangi watak-watak budak yang menyerah dan menerima keadaan. Ada satu episode kecil tentang sebuah keluarga. Si ayah sering menyiksa si ibu, hingga akhirnya si anak lelaki datang melawan ayahnya. Tapi apa yang terjadi? Si ibu datang dan membela si ayah, menyerang si anak. “Baru belakangan ia melihat begitu banyak orang Kenya dengan bangga mempertahankan perbudakannya di mana ia bisa mengerti reaksi ibunya,” demikian si anak menyadari. Seperti kebanyakan novel politik, kisah ini juga memperlihatkan arsitektur tentang kekuasaan yang tak selalu bersikap dikotomis penindas dan tertindas. Sebagian kaum tertindas bersekutu dengan penindasnya, memperoleh sedikit kekuasaan, untuk menindas yang jauh lebih lemah. Kaum tertindas mengkhianati kawannya sendiri, untuk memperoleh sedikit kekuasaan, agar bisa bertahan di dunia yang menghancur-leburkan segala. Dan bahkan di antara pejabat-pejabat kolonial, mereka saling sikut, untuk mempertahankan kuasa masing-masing, sehingga bolehlah kita tengok apa yang dikatakan novel ini di bagian nyaris akhir: “Belakangan, kesadaran akan kuasa, kemampuan untuk menghancurkan kehidupan manusia hanya dengan menarik pelatuk, begitu memberi obsesi kepadanya sehingga menjadi kebutuhan.”

Göteborg Book Fair 2017 seminar program booklet is out now (in English). I will be in Sweden for the book fair, September 28-October 1, 2017. Swedish edition of Beauty Is a Wound is published by Nilsson Förlag.

Older posts Newer posts

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑