Eka Kurniawan

Journal

Author: Eka Kurniawan (page 2 of 31)

A School for Fools, Sasha Sokolov

Bagaimana jika seorang tolol mengisahkan sebuah cerita? Hasilnya kurang-lebih tentu saja A School for Fools. Si tukang cerita bahkan tak sanggup melihat dirinya siapa, kadang ragu apakah dirinya seorang narator atau seseorang yang sedang diceritakan, atau bahkan seorang pembaca. Ia juga tak bisa membedakan waktu, bingung apa bedanya hari ini, kemarin dan besok. Juga tak mengerti perbedaan beberapa hari dan beberapa tahun. Dengan semua kekacauan-berpikir seperti itu, bagaimana dia bisa diandalkan sebagai seorang pencerita? Buat Anda pembaca yang waras dan cerdas, mungkin akan frustasi mengikuti novel Sasha Sokolov ini. Persis seperti profesor fisika atau astronomi yang harus menghadapi manusia-manusia yang percaya bumi itu datar dan langit itu sejenis kubah. Frustasi, Kawan. Tapi kalau kita mau menghadapinya dengan ringan, kita bisa menertawakan mereka. Menertawakan kebodohan-kebodohan ini. Maka hasilnya kita berhadapan dengan novel penuh humor, komedi tolol yang tak hanya menertawakan kebodohan penceritanya, tapi juga mungkin menertawakan (sok) kecerdasan pembacanya. Oh, kadang-kadang ia waras, mengisahkan cerita cerdas sebagaimana barangkali yang sebagian kita harapkan. Ini muncul, misalnya, saat ia menceritakan seorang tukang kayu di tengah padang pasir. Sebuah parabel yang mengharukan, tentang betapa tak bergunanya seorang tukang kayu, tanpa paku dan kayu untuk diolah. Hingga ia akhirnya sekelompok orang datang memberinya dua palang kayu dan paku, serta seorang lelaki untuk disalibkan di sana. Ia melakukannya demi memperoleh beberapa bilah kayu dan apa pun untuk membuat keahliannya sebagai tukang kayu di tengah gurun pasir berguna. Jadi, sebenarnya ia tidak bodoh? Entahlah, yang jelas ia dimasukkan ke sekolah khusus, sekolah untuk orang-orang bodoh. Jadi jelas, ia setidaknya dianggap bodoh. Ngomong-ngomong tentang sekolah, bukankah sekolah dibuat untuk menghapus kebodohan? Untuk menjadikan si bodoh sebagai si pintar? Tapi tengok sekolah-sekolah di negeri ini, bahkan mungkin di semua tempat di dunia. Untuk masuk ke sekolah, Anda harus menghadapi test. Anak-anak yang memperoleh nilai terbaik, memperoleh kursi untuk belajar di sekolah. Artinya? Sekolah tidak mencari orang bodoh untuk dibikin pintar. Hampir semua sekolah mencari anak pintar, untuk dijejali pengetahuan. Sebagian menjadi lebih pintar, sebagian malah menjadi bodoh. Untuk orang yang bodoh sejak awal, inilah dia: sekolah khusus untuk orang bodoh. Satu di antaranya, mencoba menceritakan pengalaman hidupnya, melalui novel ini. Dengan cara bercerita yang amburadul dan berantakan. Tapi tunggu, apa itu amburadul dan berantakan? Jangan-jangan, itu cuma prasangka kita saja, yang terbiasa membaca novel atau cara bercerita yang lain daripada yang kita hadapi di novel ini? Jangan-jangan, menurut si narator ini, caranya bercerita tak kurang tertib dan adikuat dibandingkan yang seharusnya, dan jangan-jangan cara orang lain menulis, justru menurutnya amburadul dan berantakan? Siapa berhak menentukan mana yang tertib dan mana yang berantakan? Kita telah lama, dan mungkin akan terus begitu, hidup di tengah prasangka bahwa manusia lain tolol dan bodoh, atau lebih tolol dan bodoh dari kita. Jika mereka bercerita atau menulis, berbeda dari cara kita biasanya bercerita atau memperoleh cerita, kita menganggapnya sebagai narator tolol yang tak meyakinkan. Novel ini, jelas secara langsung mempertanyakan itu semua. Mempertanyakan siapa sebenarnya lebih bodoh dari siapa, dan adakah satu sistem naratif yang bisa dianggap lebih cerdas daripada yang lainnya?

Giovanni aka Ipang: Mas Eka, saya ingin membuat photo essay tentang Mas Eka, tentang kehidupan sehari-hari Mas Eka. Saya bukanlah seorang fotografer profesional, cuma seorang yang punya passion di fotografi.

Dengan sangat menyesal, saya tak bisa memenuhinya. Sebagai penulis, jika berkenan sila membaca tulisan saya yang sudah terbit. Kehidupan pribadi saya, kehidupan sehari-hari saya, sangatlah tidak penting untuk kebanyakan orang. Biarlah itu menjadi milik saya sendiri, yang saya bagi cuma dengan sedikit orang.

(dari Tanya dan Jawab)

Karakter Datar dan Karakter Bulat

Sebagai penulis yang cenderung “memungkinkan segala cara”, saya sering berpikir-pikir ketika ditawari untuk memberikan semacam bengkel kerja penulisan. Kecenderungan memungkinkan segala cara lahir dari ketidakpercayaan saya kepada otoritas apa pun dalam menulis: saya tak percaya ada aturan tunggal untuk menyampaikan gagasan dalam bentuk tertulis, sebagaimana saya tak percaya ada otoritas tunggal yang menentukan makna hasil tulisan. Saya percaya beragam kemungkinan bisa dilakukan, yang penting penulisnya nyaman. Setelah itu, pembacanya semoga juga nyaman. Kenapa semoga? Sebab tak ada yang bisa menjamin penerimaan pembaca bisa seragam. Karya paling hebat di dunia pun tak akan mungkin membuat nyaman apalagi senang semua pembaca. Lah, jika saya tak memercayai satu otoritas, satu jenis “school” (itulah kenapa disebut “school”, saya rasa!), bagaimana saya menyampaikan pelatihan menulis? Banyak teman suka mengingatkan, penulis pemula akan pusing mengikutinya (beberapa juga suka pusing mengikuti jurnal saya ini). Mereka berkeyakinan bahwa satu paradigma tertentu harus dipilih, satu jenis “aliran” (“school”) harus diterapkan. Baiklah. Paradigma saya tentu saja bersifat anarki, dan “aliran” saya sudah jelas: pergunakan segala kemungkinan yang paling cocok untuk dirimu. Buat saya sangat penting bahwa setiap penulis harus menemukan cara mereka sendiri untuk menulis; demikian pula, sangat penting bagi pembaca memiliki kemerdekaan untuk bebas membaca dengan cara mereka. Otoritas (siapa pun yang teriak-teriak “harus begini, harus begitu”) sudah saatnya istirahat di lubang kakus. Teriakan mereka tak membuktikan kepala mereka ada isinya, hanya membuktikan mereka punya bacot dan berisik (ini berlaku di sastra maupun di kehidupan politik). Kita bisa mengikuti jalan setapak yang pernah dirintis oleh pendahulu kita (kalau mau), sebagaimana kita juga boleh membuat jalan setapak baru (kalau mau), atau menimbun semua jalan setapak (juga kalau mau), atau apa pun. Mari membuat ilustrasi: selama beberapa dekade, E.M. Forster (melalui bukunya Aspects of the Novel) menjadi sejenis otoritas dalam membangun karakter. Menurutnya, karakter yang baik di dalam novel haruslah bulat (dengan begitu, karakter yang datar berarti buruk, atau setidaknya kelas dua). Kenapa begitu? Tentu karena karakter yang bulat konon dekat dengan kehidupan. Juga memiliki aspek-aspek mengejutkan (yang dibutuhkan oleh drama. Drama, saudara-saudara!), karena karakter bisa terlihat dari berbagai sudut. Beberapa ditampilkan, beberapa yang lain tersembunyi, atau samar-samar, sebelum muncul di belakang. Karakter yang bulat juga memungkinkan mereka berkembang, berubah, mengikuti alur cerita atau problem-problem yang dihadapinya. Sekali lagi, seperti dalam kehidupan manusia. Pertanyaannya: benarkah itu seperti kehidupan? Semua orang juga tahu novel, tulisan, teks, tak pernah bisa menggambarkan kehidupan ini dengan sempurna. Itu kan hanya ilusi kaum realis ortodoks saja. Coba kita lihat argumen ini dari sisi sebaliknya, mengenai karakter yang datar. Benarkah karakter yang datar tidak menarik? Karakter datar biasanya dikritik karena ia hanya memperlihatkan bentuk yang mudah dikenali, tetap begitu dari awal sampai akhir. Komik. Seperti kartun. Nah, itu! Apa salahnya seperti komik, dan kartun? Banyak karakter seperti itu dalam kesusastraan (yang adiluhung sekalipun), dan tetap menarik. Don Quixote? Dia tak ada bedanya dengan Donal Bebek, sayangku! Dijungkir-balikkan seperti apa pun, Don Quixote akan tetap seperti itu, dan bagi saya tetap menarik. Pangeran Myshkin dalam The Idiot Dostoyevsky juga mendekati datar. Kita belum bicara tentang karakter-karakter minor. Yang tolol adalah menilai Don Quixote seperti kamu menilai Mrs. Dalloway atau Madame Bovary (meskipun tak dilarang, tapi saya tetap akan menganggapnya tolol). Dalam hal ini, Cervantes mungkin akan bilang, “Ngentot dulu lah, biar otak seger dikit!” Itu hanya satu contoh bahwa sejenis otoritas yang telah lama berkuasa memang perlu dipertanyakan dan ditantang (Poetic Aristoteles, juga). Lantas, jika saya tak memercayai satu jenis pilihan tertentu, apa yang bisa saya sampaikan di bengkel kerja penulisan? Jawabannya sederhana: memberi pilihan-pilihan itu, kemungkinan-kemungkinan itu. Anda tak perlu mengikuti jalan setapak yang ada (termasuk setapak yang saya lampahi); juga boleh mengubur setapak yang ada (termasuk mengubur gagasan saya tentang menulis ini). Tapi penting untuk memilih sesuatu dan merasa nyaman dengan itu, dan jika ada yang menganggap pilihanmu salah, punya nyali untuk mengacungkan jari tengahmu (kalau perlu, berilah sedikit orgasme). Pelajaran menulis, pada akhirnya merupakan pelajaran berpolitik.

We Have Always Lived in the Castle, Shirley Jackson

Kamu kirim pesan pendek ke gebetan dan lama tidak dibalas? Kamu gelisah? Saya yakin banyak yang pernah mengalami kejadian seperti itu. Tak hanya gelisah, tapi pikiranmu mulai mereka-reka cerita, sebagian cerita menakutkan, dan pada akhirnya urusan pesan pendek jadi sejenis horor dalam hidupmu. Kamu merasa diabaikan. Saya sering melihat bahwa tema-tema novel (atau film) horor seringkali berurusan dengan “yang lain”, sesuatu yang berbeda, yang tidak akrab, dan akhirnya menimbulkan rasa takut. Tentu saja hantu menjadi sosok paling mudah sebagai perwakilan “yang lain” ini. Tapi di novel We Have Always Lived in the Castle, Shirley Jackson si penulis Amerika yang sangat unik ini, memperlihatkan sisi lain dari rasa takut (setidaknya itulah yang saya rasakan ketika membaca novel ini) lewat sebuah pertanyaan yang provokatif: bagimana jika kamu yang dipaksa menjadi “yang lain”? Jika kamu “diabaikan”? Dicerabut dan bahkan dianggap dalam situasi yang khusus, “tidak ada”? Dengan kata lain, menakutkan tak lagi masalah kamu melihat sosok hantu (yang kamu tak kenali, yang kamu anggap berbeda dari dirimu), tapi bisa juga merupakan perasaan si hantu itu sendiri (yang merasa dianggap berbeda, dianggap yang lain, dianggap tak dikenali). Novel ini tidak bercerita tentang hantu, tapi tentang pengabaian. Tentang perasaan dipaksa menjadi berbeda, tentang tidak menjadi bagian dari masyarakat yang lebih luas. Novel ini kisah mengenai dua bersaudari, Constance dan adiknya, Mary Katherine (yang sering dipanggil Merricat oleh kakaknya), serta paman mereka yang sudah tua dan tampaknya pikun, Julian Blackwood. Mereka merupakan tiga orang yang tersisa dari keluarga besar Blackwood, yang beberapa tahun sebelumnya mati dalam “pembunuhan massal” di meja makan oleh racun arsenik di dalam gula. Tiga orang selamat merupakan mereka yang tak makan gula tersebut. Constance merupakan tersangka pembunuhan keluarganya itu, dan di pengadilan ia memang mengakuinya, meskipun kita tahu kisah sebenarnya lebih rumit dari itu dan tak tampak seterang-benderang yang dipercaya orang. Mereka jelas bukan hantu, tapi penduduk desa di sekitar rumah mereka (rumah besar yang disebut kastil) jelas telah menjadikan mereka hantu. Mendorong mereka menjauh dari kehidupan sosial (dan akhirnya membuat mereka juga menarik diri), hingga kehidupan ketiganya terkungkung di dalam kastil itu saja. Tentu Merricat dua kali seminggu harus pergi ke desa, untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari dan meminjam dan mengembalikan buku ke perpustakaan. Itu satu-satunya hubungan keluarga itu dengan dunia, dan itu pun harus dihadapi Merricat dengan penuh horor. Penolakan terjadi di setiap sudut jalan, di dalam toko, bahkan di meja kedai kopi langganannya. Ketika membaca novel ini, saya tak hanya “melihat” peristiwa-peristiwa yang terpapar di halaman-halaman buku. Buku ini membawa saya ke banyak hal. Dari hal seseorang yang barangkali merasa pesan pendeknya diabaikan oleh gebetannya, hingga hal-hal yang jauh lebih serius: tentang kaum minoritas yang diabaikan oleh mayoritas, tentang ruang yang tak lagi (atau tak pernah) menjadi milik bersama, tentang perasaan tercerabut. Ketika saya memutuskan menulis jurnal di blog ini di akhir tahun 2012, sejujurnya saya tak tahu persis apa yang akan saya lakukan. Satu-satunya yang terpikir, saya hanya akan berkomentar tentang buku-buku yang saya baca. Saya punya sejenis program sepanjang empat tahun untuk menjelajah berbagai tradisi kesusastraan. Tak terasa saya punya ketabahan untuk melakukannya, dan tanpa terasa kini menjelang akhir tahun 2016. Saya belajar banyak hal dari membaca, menemukan cara membaca yang berbeda dari satu novel ke novel lain, dan berkali-kali merasa dihantam palu keras, seperti ketika saya kelar membaca novel ini. Saya belum tahu apa yang akan saya lakukan dengan blog atau jurnal ini di tahun depan, tapi pengalaman empat tahun membuat saya semakin yakin, tak ada pilihan lain bagi seorang penulis kecuali terus membaca apa yang telah ditulis orang lain, terutama para pendahulunya.

My essay about sending my daughter to school, for The Guardian: The most loaded question in Jakarta: ‘What school would you like to go to?’

The Lost Honour of Katharina Blum, Heinrich Böll

Sejak awal, The Lost Honour of Katharina Blum sudah buka-bukaan bahwa ini kisah mengenai pembunuhan yang dilakukan oleh Katharina Blum atas seorang wartawan bernama Werner Tötges. Namun kita segera tahu ini bukan sejenis fiksi kejahatan, meskipun tentu saja ada irisan ke sana. Kita sudah tahu peristiwa kejahatannya, dan tak lama kemudian, kita juga sudah bisa tahu motif di belakang tindakan kejahatan tersebut. Bahkan jika kita masih bersikeras menyebutnya sebagai fiksi kejahatan, ini tidak seperti fiksi jenis itu dalam maknanya yang tradisional. Bagi saya, novel ini membuka aspek lain dari peristiwa-peristiwa kejahatan yang kita ketahui, bahkan hingga hari ini: bagaimana liputan media, bahkan desas-desus, spekulasi yang tak berdasar, yang dilatar-belakangi oleh berbagai kepentingan atau sekadar pemuasan rasa ingin tahu, seringkali merupakan kejahatan itu sendiri. Banyak novel mengulas aspek-aspek kejahatan, tak melulu mengenai siapa membunuh siapa, atau siapa yang melakukan satu kejahatan dan bagaimana seseorang (polisi, detektif), mengungkapkannya. Dalam The Trial Franz Kafka, kita melihat bagaimana sistem dan birokrasi hukum yang korup bisa menjadi begitu ganas menyiksa, bahkan lebih jahat daripada kejahatan yang mungkin dituduhkan kepada korbannya, dalam hal ini Joseph K yang tanpa melakukan kejahatan apa pun ditangkap dan harus melalui lika-liku labirin hukum. Crime and Punishment karya Fyodor Dostoyevsky bahkan melangkah jauh memperkarakan aspek moral: niat baik kadang (atau bahkan sering?) merupakan sumber kejahatan. Kita memiliki banyak kasus bahkan di dunia nyata. Perang (untuk menciptakan perdamaian?). Terorisme (melawan ketidakadilan atau sejenisnya?). Dalam kasus novel ini, Raskolnikov melakukan kejahatan demi uang, agar ia bisa mempergunakan uang itu untuk tujuan baik. Di novel Heinrich Böll ini, kita akan bertemu sosok Katharina Blum yang “dihukum”, bukan oleh sistem hukum, tapi oleh media yang penuh prasangka, hanya karena ia memberi tempat (dan cara melarikan diri) kepada seorang buronan. Tentu saja membantu seorang buronan, dalam banyak sistem hukum, merupakan tindakan kriminal juga. Tapi prasangka media bisa berubah menjadi jauh lebih kejam, bisa melangkah melampaui kajahatan yang benar-benar telah dilakukannya (yakni membantu si buronan, yang adalah kekasihnya, untuk kabur). Media tak bekerja sendiri. Di belakang itu tentu saja ada kepentingan bisnis dari media itu sendiri, dan di belakang itu, ada rasa ingin tahu publik yang mengharapkan drama, mengharapkan skandal yang lebih hebat daripada sekadar seorang perempuan yang membantu kekasihnya. Masa lalunya diungkap: ia seorang janda, dan suaminya menuduhnya seorang komunis (di banyak situasi, seperti Jerman selepas perang, menjadi komunis bisa berarti dekat dengan aib dan kejahatan), bahkan keputusannya untuk keluar dari gereja juga dipersepsikan sebagai kejahatan. Tak hanya itu, si wartawan dari media tersebut, juga mengungkap hal-hal yang barangkali tidak relevan untuk kasusnya: ada pria yang pernah datang ke apartemennya, mengindikasikan ia seorang “perempuan yang tidak baik”. Berapa sering Anda mendengar kasus kejahatan di mana media membully dan meruntuhkan karakter seorang tersangka bahkan sebelum kasus pengadilan berlangsung? Media, dengan hasratnya untuk “menghukum” jelas jahat. Tapi hasrat kita yang berlebihan terhadap suatu kasus, seringkali dengan asumsi-asumsi sendiri, juga hasrat atas skandal dan drama, barangkali merupakan minyak bagi api media. Itu belum termasuk kepentingan-kepentingan ekonomi, politik, bahkan ideologi, seringkali menumpang kepada kasus yang sesungguhnya bersifat pribadi dan tak memiliki aspek kepentingan umum yang luas. Saya senang telah membaca novel yang ternyata jauh lebih kaya daripada apa yang tampak di permukaan. Jujur, ini kali pertama saya membaca novel Heinrich Böll. Itu pun gara-gara satu telepon di satu hari yang potongannya kira-kira: “… mungkin Anda belum pernah mendengar namanya, tapi ia salah satu penulis besar …” Tentu saja saya pernah mendengar nama Heinrich Böll, tapi memang belum pernah membaca satu pun karyanya. Saya agak merasa malu dan memutuskan membaca satu di antaranya. Ini akan menjadi langkah kecil untuk penjelajahan yang lebih luas, saya yakin.

Kolomnis Karim Raslan (dikenal terutama melalui kolom yang kemudian menjadi buku Ceritalah Malaysia dan Ceritalah Indonesia), menulis tentang novel Cantik Itu Luka di kolom terbarunya. Bisa dibaca dalam versi bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.

Papa Hemingway

Akhir-akhir ini seringkali saya bertemu orang yang bertanya, “Sekarang sedang menulis novel apa?” Ketika saya jawab, tidak sedang menulis novel apa-apa, dan belum ada niat melakukannya, mereka memandang tak percaya. Bahkan ada yang langsung bilang, “Kamu bohong.” Memangnya berapa banyak novel harus dihasilkan seorang penulis? Sepuluh novel dalam sepuluh tahun? Seratusan novel dalam hidupnya? Saat ini saya belum berniat menulis novel apa pun lagi, itu benar. Jika masih tak percaya, cobalah membaca biografi atau memoar para penulis. Anda akan tahu, penulis tak selamanya selalu menulis, mereka juga hidup dengan hal-hal lain di luar urusan pekerjaannya, seperti juga manusia lainnya. Tentu saja sebagian kisah hidup mereka membosankan, sebagian lagi menyenangkan.

***

25 Januari 1954, dunia digemparkan dengan satu kabar: Ernest Hemingway meninggal dalam satu kecelakaan pesawat di belantara Uganda. Koran-koran menurunkan berita tentang itu, juga obituari, tentu saja. Tapi kemudian ia muncul dari tengah hutan, dengan setandan pisang dan sebotol gin. Ia selamat dari kecelakaan tersebut. Ini bukan fiksi. Ini kisah yang benar-benar terjadi atas pengarang agung tersebut, dan itu belum selesai. Pesawat penyelamat, de Havilland Rapide, datang menjemputnya. Untuk menerbangkannya dari pinggiran hutan ke Kenya, tempat ia tinggal sementara, hanya untuk mengalami nasib apes yang sama: Pesawat penyelamat itu kembali jatuh, juga terbakar. Kali ini ia benar-benar nyaris mati, tak hanya oleh benturan, tapi juga oleh api. Seperti kita tahu, ia juga selamat dari kecelakaan kedua tersebut. Saya membaca peristiwa itu dari sebuah buku berjudul Hemingway in Love karya A.E. Hotchner. Hostchner telah bersahabat dengan Papa (begitu Hotchner menyebutnya, sebagaimana banyak orang), meskipun Hostchner bisa dibilang jauh lebih muda. Persahabatan yang bermula dari hubungan seorang jurnalis muda dan pengarang besar. Dua kecelakaan pesawat beruntun itu sekilas saja memperlihatkan kehidupan macam apa yang digemari sang pengarang, di luar bayangan orang tentang penulis yang duduk berjam-jam menghadapi mesin tik (Hemingway menyukai mesin tik Corona, yang disebutnya sebagai “psikiater”nya). Legenda hidupnya penuh dengan segala yang macho (juga terlihat dari novel-novelnya): selain terbang dengan pesawat, ia juga gemar dengan matador, berlatih tinju, safari, dan tentu saja memancing di laut lepas. Tapi buku ini terutama mengisahkan hubungan pribadinya dengan isteri pertama dan kedua, di awal-awal karirnya, ketika ia masih menggelandang di jalanan dan bar kota Paris bersama rekan-rekannya sesama “generasi yang hilang”, sebutan umum generasi yang harus mengalami masa dua perang. Hubungan yang memperlihatkan dunia Hemingway yang sama sekali berbeda dari yang dikenal orang, dunia di dalam dirinya, yang rapuh, yang tercabik-cabik. Isteri pertamanya, Hadley, digambarkan Hemingway (sebagaimana ia katakan kepada Scott Fitzgerald) sebagai perempuan sederhana, bergaya lama, menerima, datar, dan baik. Cinta mereka tumbuh terutama karena kegemaran yang sama: bertualang. Berkali-kali Hemingway bercerita betapa hidupnya bahagia bersama Hadley, apalagi ada satu anak di antara mereka. Bumby. Kemudian datang perempuan lincah dari keluarga sangat kaya bernama Pauline, yang sudah dicurigai Scott sejak awal saat mengingatkan Hemingway dengan kata-kata kurang-lebih: “Perempuan ini datang untuk mencari suami. Dia tak cuma mau jadi simpananmu, dia mau kau mengawininya.” Pauline merupakan kontras: gaya, chick, agresif, dan non-tradisional. Di ranjang, mereka juga kontras: Hadley submisif, Pauline agresif. Scott, sahabat serta mentor Hemingway, tak menyerah ketika rumah-tangganya diambang kehancuran dan bertanya kepada Hemingway, apa yang kau cari dari Pauline? Dengan sinisme, Scott menjawab sendiri pertanyaan itu: “Kau ingin hidup seperti hidupku. Kau ingin meja langganan di Ritz, vila di d’Antibes, safari tingkat tinggi. Kau bosan dengan kemiskinan. Kemiskinan melindas dan menghancurkanmu.” Dengan kata lain: Pauline, dengan uang yang melimpah, memberi Hemingway hidup yang diinginkannya. Kita tahu tahun-tahun terakhir hidupnya (lama setelah itu, tentu), merupakan kehidupan tragis dari penulis ini. Ia menderita depresi, masuk rumah sakit dalam perawatan psikiater. Saya kira, yang menghancurkan hidupnya bukanlah semata-mata kisah cintanya, serta pernikahan-pernikahannya yang berantakan (setelah cerai dengan Hadley, ia menikahi Pauline, kemudian bercerai dan menikahi Martha. Bercerai lagi dan menikahi Mary, yang terakhir); juga bukan sekadar peristiwa kecelakaan pesawat yang dua kali itu, yang memang meninggalkan trauma mendalam, yang setelah itu Hotchner menganggap Papa tampak semakin tua; atau gangguan-gangguan dari FBI dan agen pajak IRS (jika semua paranoia dia atas mereka benar). Ada satu peristiwa yang sangat penting, setidaknya bagi saya saat membaca buku Hotchner ini, di masa penantian seratus hari. Itu waktu ketika Hemingway dan Hadley pisah rumah, Hadley memberi waktu seratus hari untuk memutuskan terus bersamanya atau memilih Pauline. Hemingway berkali-kali datang ke apartemen Hadley untuk bertemu Bumby. Lelaki berbadan besar ini, yang meliput perang, gemar bertinju, jatuh dari pesawat, sepanjang jalan menangis. Ketika anaknya bertanya kenapa ia menangis, ia bilang tangan kanannya terluka. Si kecil Bumby membalutnya, “Je t’aime, Papa,” kata si bocah. Bumby hanya bicara Prancis. “La vie est beau avec Papa.” Saya rasa hidupnya tak lagi sama setelah itu. Anak itu yang membuat segala yang rapuh di dirinya keluar, yang membuatnya melangkah meninggalkan si bocah dengan lelehan airmata di pipi. Sejak itu ia mencari sesuatu yang kosong di dalam dirinya, dan luka kecil di tangan kanan itu barangkali sekadar metafora untuk luka dalam yang tak kunjung sembuh. Saya rasa bukan kebetulan bahwa sebagian besar orang yang dikenalnya, kemudian sering memanggilnya “Papa”.

A Cup of Rage, Raduan Nassar

Sial, saya lagi susah tidur malam. Biasanya itu pertanda baik, dalam arti kepala saya bekerja lebih semangat daripada biasanya. Masalahnya saya sedang tak ingin ngapa-ngapain. Memaksakan diri, saya akhirnya membaca A Cup of Rage, novel tipis karya Raduan Nassar. Ini kisah hubungan seorang lelaki setengah baya dengan seorang perempuan muda. Di dapur, di ranjang, di kamar mandi, di meja sarapan. Si lelaki sok pura-pura enggak butuh, jual mahal. Si perempuan muda kelaparan oleh sentuhan, memandang penuh permohonan. Buat yang tahu banyak hal mengenai hubungan intim antar manusia, juga yang sering nonton bokep, pasti segera tahu, ini tentang hubungan antara yang dominan dan yang didominasi (submisif). Lalu mereka bertengkar, ini di bagian bab yang paling panjang, yang diawali hal yang sepele: si lelaki memarahi pembantunya karena suami si pembantu tak ada di tempat. Si perempuan menganggap si lelaki keterlaluan, sebagai fasis. Mereka bertengkar, hingga si lelaki menggampar pipi si perempuan. Si perempuan kesakitan, tapi pada saat yang sama hasratnya meninggi. Digampar lagi, ia semakin kepengen. Semakin digampar, semakin sakit, semakin nafsu. Akhir cerita … enggak usah, deh. Novelnya terlalu pendek, masa dibocorin semua. Kalau mau jujur, nyaris enggak ada ceritanya. Setidaknya tidak ada cerita dalam makna tradisional yang sering saya terima dengan naifnya: ada masalah, ada konflik, ada penyelesaian. Saya rasa novel ini simbolis, karena itu, saya jadi pengin coba-coba menafsirnya, gaya-gayaan kritikus. 1) Bolehlah ini dianggap sebagai metafora tentang hubungan kekuasaan. Tentang penguasa yang sewenang-wenang dan tentang masyarakat yang tak memiliki banyak pilihan dalam ketertindasan. Hmm, tafsir ini terlihat keren, kan? Segala simbol dan tafsir yang rada politis biasanya sih keren. Dan hubungan kekuasaan memang paling gampang digambarkan dalam hubungan seksual. 2) Keren karena novel ini tampak mengolok-olok kaum intelek. Si perempuan digambarkan sebagai seorang jurnalis dan intelek, tapi tak berdaya menghadapi si lelaki yang seorang peternak. Memang sih tak sekadar peternak, tapi peternak kaya. Kita sudah punya begitu banyak novel yang mengolok-olok diktator, mengolok-olok orang miskin kelaparan, mengolok-olok setan, juga orang saleh. Barangkali memang perlu lebih banyak novel untuk mengolok-olok orang-orang intelek. 3) Meletakkan perempuan dalam hubungan seksual sebagai pihak submisif merupakan sebuah klise. Setidaknya bagi kaum feminis, ini bisa menjadi contoh wacana mereka, meskipun tentu perlu dibelejeti lebih dalam lagi, apakah ini contoh yang baik atau contoh yang buruk. Setidaknya novel ini bisa memberi rangsangan perdebatan, bukan? 4) Cerita ini mungkin sebenarnya sederhana saja, ingin menggambarkan atmosfir peternakan. Hidup di peternakan (pemilik maupun ternak) bisa disederhanakan sebagai berikut: bangun, bercinta, makan, bertengkar, dan tidur. Bagian bertengkarnya paling panjang, tapi urusan selesai setelah bercinta. Terutama mungkin menggambarkan bagaimana susahnya mengembang-biakkan ternak, seberapa sering pun percintaan terjadi. 5) Novel ini hanya mau mengatakan, pekerjaan jurnalis itu membosankan, dan menjadi pemilik peternakan juga membosankan. 6) Bercinta setelah bertengkar itu baik, bertengkar setelah bercinta itu pahit. Mungkin saya bisa membuat lebih banyak tafsir atas novel ini, terutama jika ada yang dengan sukarela membayar saya mahal. Tapi untuk sementara cukup sekian dulu. Saya mencoba melihat kembali apa yang saya tulis. Lumayan juga, rupanya saya cukup berbakat menjadi juru tafsir, setidaknya menurut tafsiran saya sendiri.

The Sleepwalkers (2): The Anarchist

Bagi August Esch, pekerjaan adalah penjara. Juga cinta dan waktu. Bahkan impian tentang kebebasan adalah penjara itu sendiri. Dalam dunia Esch, manusia seperti ditakdirkan dalam hidup yang tragis. Tanpa kebebasan dan tanpa jalan keluar. Saya membaca “The Anarchist”, bagian kedua dari trilogi The Sleepwalkers karya Hermann Broch ini sebagian besar di lambung pesawat, nyicil, dalam perjalanan panjang ke Eropa, kemudian menyeberang ke pantai timur Amerika. Juga di sela-sela waktu luang yang tak ada kerjaan, seperti selepas makan siang atau malam sendirian di kedai makan yang menyajikan nasi kotak dengan belut di perempatan Lexington Avenue dan 45th Street, Manhattan (sengaja saya sebut, biar ingat, soalnya nasi dan belut itu enak sekali). Satu malam, seseorang bertanya, bagaimana rasanya berpergian dengan pesawat lebih dari tujuh jam, bahkan ada yang sampai sebelas jam? Bagi banyak orang, itu mungkin hal menderitakan, atau setidaknya membosankan. Tak ada yang bisa dilihat (di malam hari, bahkan hamparan awan pun tak terlihat), tak bisa buka-buka internet (beberapa maskapai sudah bisa), dan tak bisa ngobrol (penumpang lain mungkin akan terganggu kalau diajak ngobrol). Bahkan tidur pun tidak nyaman. Bergerak susah. Tapi menurut saya, dikurung berjam-jam di lambung pesawat merupakan waktu yang tepat menikmati momen tanpa gangguan untuk banyak hal: membaca buku, menulis, menghayal, melamun, bahkan tidur. Jika kita bisa menikmati hal-hal itu, dikurung berjam-jam di lambung pesawat bukanlah hal buruk. Saya tak ingin mengulang klise bahwa kebebasan bukan perkara ruang, melainkan perkara bagaimana memanfaatkan ruang tersebut, meskipun dalam hal ini klise itu tetap berlaku. Bagi saya, menghubungkan dunia Esch dalam “The Anarchist” dengan lambung pesawat membawa saya kepada gagasan mengenai kepompong. Ya, bukankah lambung pesawat mirip kepompong? Bukankah dalam sudut pandang tertentu kepompong seperti penjara? Tapi pada saat yang sama, bukankah kepompong merupakan jembatan metamorfosis? Pembebasan diri dari satu bentuk ke bentuk lain? Kisah August Esch dalam “The Anarchist” menyiratkan sejenis kepompong. Hubungannya dengan berbagai perempuan merupakan serat-serat yang membungkus dirinya. Ia terpesona kepada Ilona, seorang artis panggung, tapi Korn (yang menyewakan kamar untuknya) malah menelikung. Ilona tidur bersama Korn. Korn sebenarnya hendak menjodohkan Esch dengan adiknya, yang sudah berumur tapi belum juga kawin, Erna. Sialnya ia enggak nafsu sama perempuan itu. Tapi ketika si tolol Lohberg muncul dan Erna melihatnya sebagai sasaran empuk, dan mereka bertunangan, Esch mulai menyelinap ke kamar Erna. Dengan perasaan campur-aduk yang tak dimengertinya. Demikian juga cintanya kepada Mother Hentjen, janda pemilik kedai makan, yang ke mana-mana membawa masa lalu pernikahan dengan mantan suaminya. Masa lalu Mother Hentjen merupakan sesuatu yang dibenci Esch, yang terus bertanya-tanya “Kenapa kamu mengawininya?”, dan sekonyong menjadi belenggu hubungan mereka yang sulit dituntaskan. Penjara yang lain. Tapi seluruh kungkungan itu merupakan kepompong yang siap melahirkan kembali Esch, seperti para penumpang yang keluar dari lambung pesawat, sebagian dilahirkan kembali. Dengan gagasan-gagasan baru, dengan pikiran yang segar, impian besar, atau setidaknya cara pandang yang baru. Tapi gagasan lambung pesawat sebagai kepompong mungkin akan berakhir. Dari waktu ke waktu semakin bertambah maskapai yang menawarkan sambungan telepon dan kemudian internet. Kepompong kemudian bukan lagi perkara ruang, tapi perkara pilihan. Ia bisa diciptakan di mana pun.

Older posts Newer posts

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑