Journal

Utopia, Thomas More

Rada aneh membaca sebuah novel tentang pembunuh bayaran, pada saat bersamaan juga membaca Utopia karya Thomas More: saya tiba-tiba membayangkan diri sebagai seorang pembunuh bayaran, dan pada saat bersamaan terdampar di Republik Utopia. Sudah jelas keahlian saya tak berguna di sana, sebab tak seorang pun akan menyewa saya untuk melenyapkan nyawa manusia lain. Memang bisa saja pemerintah setempat menyewa saya jadi prajurit bayaran, tapi apa boleh buat, sudah lama mereka tak mengenal perang dan tampaknya akan butuh waktu lama perang berikutnya terjadi antara mereka dan negeri lain. Pada saat yang sama, saya juga tak bisa berleha-leha di sana sebagaimana turis di negeri-negeri lain, sebab mereka menganggap bermalas-malasan merupakan tindakan kriminal (meskipun mereka juga melarang memaksa orang bekerja di luar batas. Waktu kerja mereka cuma enam jam sehari). Negeri itu sebenarnya terbuka untuk pelancong, selama kalian bisa menyumbangkan keahlian. Tidak, mereka tak butuh uang. Tidak pula butuh emas atau perak (besi lebih berguna untuk mereka, dan mereka punya cadangan besi yang melimpah). Tapi, sekali lagi, keahlian mengirim manusia ke dunia lain sama sekali tak berguna di sini. Jadi apa yang bisa dilakukan seorang pembunuh bayaran di Utopia? Saya bisa melamar jadi tukang jagal, sebab umumnya tak ada penduduk negeri itu yang bersedia membunuh hewan yang bisa mengikis sifat kemanusiaan mereka. Menyembelih hewan merupakan tugas budak dan dilakukan di luar permukiman. Tapi menyembelih hewan bagi seorang pembunuh bayaran, kemerosotan bukan, sih? Lagipula saya tak mau jadi budak (di negeri ini, orang asing yang sukarela menjadi budak diterima dengan tangan terbuka, dan bisa pergi kapan saja, berbeda dengan budak yang berasal dari warga hukuman). Ada profesi lain sebenarnya yang mungkin cocok dengan saya, dan secara umum legal. Jadi di Utopia, kalau ada orang sakit menahun dan memperlihatkan gejala tak bakal sembuh, para perawat tak akan menghiburmu dengan basabasi, melainkan akan bilang terus-terang bahwa, “Hadapilah, kau tak akan bisa menjalani kehidupan yang normal. Kau hanya jadi gangguan untuk orang lain dan beban untuk dirimu sendiri […] Karena kehidupan menderitakanmu, kenapa tidak mati saja?” Jika si orang sakit ngotot ingin tetap hidup, penduduk Utopia dengan sukacita akan merawatnya terus. Jika ia memilih mati, nah, bukankah dibutuhkan algojo? Tapi lagi-lagi, rasanya dokter yang bisa membunuh dengan tanpa rasa sakit lebih dibutuhkan daripada seorang pembunuh bayaran. Ini memang negeri yang aneh. Jika kau sempat melancong ke sana, kau tahu apa yang saya maksud sebagai aneh. Terutama jika kau berniat untuk mencari peruntungan di sana. Mau berdagang? Jangan ngarep. Meskipun tak ada yang melarang kau melakukan sesuatu, menawarkan dagangan, kemungkinan besar orang-orang Utopia tak akan datang ke tokomu dan membeli sesuatu dari sana. Selain mereka tak pegang uang, mereka praktis sudah terpenuhi kebutuhannya oleh toko pemerintah di mana mereka bisa ambil apa saja yang mereka butuhkan di sana. Ambil apa saja? Ya. Dan jangan kuatir, penduduk Utopia tak akan mengambil banyak-banyak. Untuk apa? Untuk ditimbun di rumah? Ngapain nimbun? Mereka bisa memperoleh barang itu kapan pun mereka butuh. Mau makan sekenyang-kenyangnya? Kapasitas perutmu juga ada batasnya. Gagasan berjualan dan mencari laba lalu menumpuknya, pasti akan dilihat sebagai sesuatu yang norak dan menggelikan untuk penduduk Utopia. Kau juga akan heran melihat batu permata berserakan di pantai. Orang Utopia tak peduli dengan benda-benda kecil berkilauan, “Selama kau memiliki bintang-bintang di langit untuk dilihat.” Kalau Thomas More berharap banyak hal yang berlaku di Republik Utopia juga diterapkan di negeri-negeri Eropa, saya ngarep ada orang punya duit menjadikan Republik Utopia sebagai taman bermain, untuk menyaingi Disneyland dan Universal Studio. Salah satu wahana yang boleh dicoba adalah, tempat ibadah di mana semua orang apa pun agama dan keyakinannya, bisa datang ke sana dan beribadah kepada Tuhan masing-masing (yang menurut mereka, sebenarnya sama saja). Atau wahana ini: sebagaimana ditiru dari adat istiadat Utopia, kalau ada pasangan yang mau menikah, telanjangi mereka dan perlihatkan satu sama lain. Ketika kau memilih sesuatu (katakanlah kuda), kau memeriksanya dengan seksama. Tapi, menurut orang Utopia, “Ketika kau memilih istri (atau suami), sesuatu untuk hal baik maupun buruk akan berlaku sepanjang hidupmu, kau anehnya sangat ceroboh.” Ya, jangan ceroboh pilih pasangan. Telanjangi dan periksa baik-baik. Itu di Republik Utopia, entahlah bisa berlaku di republik lain atau tidak. Meskipun aneh, saya rasa masuk akal sebenarnya.

Standard
Journal

Dua Pamflet

Imperialism: The Highest Stage of Capitalism, V.I. Lenin. Apa urusannya seorang novelis baca pamflet beginian? Ya, enggak apa-apa, toh? Kepala saya juga butuh pijatan yang berbeda daripada biasanya, kan? Isinya sebagian besar sudah saya dengar dari zaman nongkrong-nongkrong di kelompok diskusi akhir milenium yang lalu, tapi baru kali ini saya benar-benar membacanya, dan ternyata menyenangkan untuk mengetahui pikiran Lenin tentang puncak kapitalisme, terutama tahap-tahap perkembangannya, sambil bertanya-tanya apa yang akan dikatakannya jika ia melihat zaman sekarang, ketika kriptokurensi diperkenalkan? Saya sering sedikit meremehkan istilah “pamflet”, yang kepikiran selalu brosur-brosur tipis dengan maksud menawarkan jualan. Tentu saja pamflet ini tak jauh dari itu, memang. Buku kecil dengan niat menjual gagasan. Tapi isinya ditulis dengan dingin, bahkan saya tak melihat persuasi atau retorika berlebihan, sebagian besar isinya data, perbandingan, argumen, dan kesimpulan. Ia bahkan memberi ruang untuk gagasan-gagasan yang berseberangan dengannya, sambil memberi sanggahan, beserta data-data lain, untuk menunjukkan kelemahan-kelemahan pihak yang disanggahnya. Saya jadi bertanya juga, apakah pamflet macam begini masih ditulis di zaman sekarang? Mungkin masih, tapi saya jarang melihatnya, atau mutunya tak sebagus ini sehingga tak banyak menarik perhatian orang. Bagi yang tertarik bagaimana ekonomi politik dunia kiwari berkembang, saya rasa bisa menengok buku ini, meskipun ditulis di tahun 1915. Saya rasa hal-hal penting di dalamnya masih relevan untuk melihat ekonomi dunia sekarang. Apakah kapitalisme mensyaratkan kompetisi bebas? Ya. Apakah ia akan mengarah ke monopoli? Ya. Bukankah kompetisi bebas dan monopoli itu bertentangan? Ya. Itu bagian paling menarik dari pamflet ini, sungguh. Tentu saja termasuk fakta yang bahkan kini sudah dianggap lumrah: komoditas ekspor-impor yang menjadi puncak kapitalisme bukanlah bahan mentah atau barang hasil produksi, tapi kapital itu sendiri. Dalam bentuk investasi maupun utang. Mau bikin jalan tol berapa panjang? Butuh berapa duit? Seperti kata Lenin, yang berubah pemain-pemainnya saja.

The Communist Manifesto, Karl Marx & Friedrich Engels. “Kelas borjuis telah mengubah para dokter, pengacara, pendeta, penyair, ilmuwan, menjadi buruh upahannya.” Saya rasa tak perlu ngomong banyak untuk pamflet yang ini. Banyak yang sudah tahu dan mungkin membacanya, apalagi di zaman internet macam sekarang, dan mengerti isinya. Yang jelas, komunisme sampai sekarang mungkin satu-satunya ideologi, atau setidaknya yang terbesar, yang tak berhubungan dengan agama, yang bisa melintasi batas-batas negara dan generasi, dan memiliki rujukan teks yang jelas. Manifesto ini bisa dianggap salah satu teks pentingnya, bahkan mungkin yang paling mudah untuk dipahami (dengan gaya retorika, bahasa yang sederhana, sangat berbeda dengan karya-karya Marx maupun Engels yang lain, yang umumnya merupakan analisa ekonomi, filsafat maupun sejarah). “Kalian ketakutan dengan niat kami menghapus kepemilikan pribadi [catatan: istilah ‘property’ mungkin perlu didiskusikan lebih lanjut untuk memperoleh padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia]. Padahal dalam masyarakat yang ada, kepemilikan pribadi sudah lenyap dari sembilan puluh persen populasi.” Dengan kata lain, sebelum komunisme muncul pun, petani sudah kehilangan tanahnya, dan para pengrajin tak memiliki akses terhadap alat produksi. Maka tak heran jika pamflet ini ditutup dengan, “Kaum proletar tak akan kehilangan apa pun kecuali rantai yang membelenggu.” Pamflet ini juga dipenuhi banyak pengantar untuk berbagai terjemahan, yang sebagian ditulis Marx dan Engels, sisanya ditulis Engels sendiri, dan itu bagian lain yang sama menariknya. Termasuk ketika Engels menyinggung terjemahan Rusia yang dilakukan Bakunin, yang menurutnya “hanya karena penasaran intelektual saja” (hahaha, orang macam saya juga harusnya tersindir juga). Bagian pengantar edisi Italia, Engels juga membuka ruang rasa penasaran lain ketika mengatakan, “Negeri kapitalis pertama adalah Italia. Penutupan Abad Pertengahan yang feodal, pembukaan era kapitalisme modern ditandai oleh satu sosok kolosal: seorang Italia, Dante, penyair terakhir Abad Pertengahan sekaligus penyair pertama zaman modern.” Apakah Engels pernah membicarakan Dante lebih jauh di buku-bukunya yang lain? Serius, ini menarik dan bikin penasaran.

Standard
Journal

Crimes of Conscience, Nadine Gordimer

Jika bertemu dengan seseorang, biasanya ada dua pertanyaan yang umum ditujukan kepada saya. 1) Sedang menulis tentang apa? Yang tentu saja saya tak menjawabnya. Dalam beberapa tahun terakhir, itu menjadi sejenis tabu untuk saya mengatakan tentang apa yang sedang ditulis. 2) Sedang membaca apa? Yang ini, paling banter saya menjawab satu atau dua judul buku secara spesifik. Belakangan saya jarang membaca novel, setidaknya tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Apa yang ada di rak buku saya nyaris sudah terjamah semua (memang isinya tak banyak), dan dalam beberapa waktu saya kembali ke berbagai karya klasik. Beberapa memberi kesenangan yang baru, beberapa memberi kejengkelan yang lama. Bahkan secara acak, tanpa niat untuk mempelajari pemikiran seseorang atau sebuah mazhab, atau sebuah bidang, saya membaca buku-buku filsafat. Hanya untuk menghibur diri, syukur-syukur membuat diri tambah pintar, dan mengomentarinya sesuka hati. Hingga seseorang bertanya, pernah membaca Nadine Gordimer? Ya, pernah. Saya tahu persis, punya bukunya meskipun hanya satu, tapi tak ingat di mana buku itu saya simpan. Itu memberi saya dorongan untuk mencarinya, menemukannya, dan membacanya kembali. Sebuah kumpulan cerita pendek berjudul Crimes of Conscience, yang tampaknya dipilih dari buku-bukunya yang lain. Sejilid buku bekas yang saya lupa peroleh dari mana, penuh coretan (mungkin mahasiswa atau orang yang sedang belajar bahasa) tinta abu-abu, oranye dan merah. Membaca kesebelas cerita di buku ini, kita bisa melihat kisah-kisah di seputar konflik, lebih tepatnya perang Afrika Selatan dari berbagai sudut. Selama konflik, di tengah euforia kemerdekaan, maupun hari-hari setelahnya. Dari sudut pandang gerilyawan, penduduk kulit putih, maupun orang-orang biasa yang harus menghadapi situasi ini dengan cara mereka sendiri juga. Meskipun jelas terlihat simpati Gordimer terhadap perjuangan (membebaskan diri terutama dari politik apartheid) orang kulit hitam untuk memiliki pemerintahan hitam sendiri, cerpen-cerpennya tak jatuh kepada semangat glorifikasi yang membabi-buta. Ia justru masuk ke kondisi-kondisi kemanusiaan, jiwa-jiwa yang tak tertebak, dari manusia-manusia di dalamnya, baik hitam maupun putih, lelaki maupun perempuan. Di cerpen pembuka, “A City of the Dead, A City of the Living”, kita bertemu dengan seorang perempuan yang berkhianat, memberitahu pihak berwenang bahwa di rumahnya tengah bersembunyi seorang gerilyawan yang lama dicari. Tapi pada saat yang sama, kita tak bisa semena-mena memakinya, kecuali memiliki perasaan kecut betapa hal-hal besar seperti perang maupun hal-hal kecil seperti keadaan hidup sehari-hari di dalam rumah, bisa menentukan sikap atau keputusan seseorang. Di cerpen lainnya, “At the Rendezvous of Victory”, kita bertemu seorang pemimpin gerilya, seorang Jenderal yang perkasa dan kharismatik, yang justru menjadi beban di pemerintahan kulit hitam yang dibelanya. Ia tak cocok untuk masuk ke tentara reguler, karena kuatir pengaruhnya yang besar akan mengacaukan peleburan tentara putih dan hitam, hingga diberi tempat di kementrian “rekreasi dan olahraga”, yang perlahan justru membunuhnya, dan menjadikannya benalu bagi kawan-kawan seperjuangannya di masa damai dan demokratis. Penuh ironi, sekaligus kita sadar, hal-hal seperti itu sering terjadi di berbagai situasi di belahan dunia yang berbeda-beda. Salah satu cerpen yang paling saya suka adalah yang terakhir, “The Ultimate Safari”, di mana perang dilihat dari orang-orang desa biasa, korban paling mengerikan dari perang semacam ini. Ini kisah satu keluarga (nenek dan cucu-cucunya) melintasi taman nasional (yang tak hanya dihuni gajah liar, tapi juga singa) untuk menemukan tempat pengungsian. Sebuah cerpen getir tentang pertanyaan yang sangat mendasar dalam situasi seperti itu: di manakah rumah?

Standard
Journal

Fear and Trembling, Søren Kierkegaard

Saya sedang selow. Demikian selow sampai saya baca buku beginian, dan dengan senang hati memberi komentar yang saya pikir sangat cerdas dan membanggakan, tajam dan menggembirakan. Siapa tahu delapan puluh tahun dari sekarang saya jadi filsuf beneran, dan bukan lagi tukang sablon, obsesi yang diwariskan ayah saya. Tapi bener, awalnya cuma mau nyari kata-kata bagus yang bisa dikutip buat disablon di kaos, tapi ya begitulah, entah kenapa ambil buku beginian. Fear and Trembling dibuka dengan pembicaraan tentang keyakinan, berhadapan dengan keragu-raguan. “Descartes, sebagaimana dia sendiri berkali menekankan, bukanlah seorang peragu dalam perkara keyakinan,” demikian buku ini di pengantarnya. (Kutipan itu tak menarik untuk disablon, percayalah). Keragu-raguan Descartes hanyalah metode, dan itu pun dipakai untuk dirinya sendiri. Ya, ya, situ yang belajar filsafat pasti tahu itu. Selepas itu kita akan bertemu dengan kisah Abraham, yang disuruh mengorbankan Isaac oleh Tuhan. Di situlah mulai muncul tentang wajah Abraham yang menakutkan, dan Isaac yang menggigil dan memohon ampun Tuhan (Abraham senang, baginya lebih baik Isaac menganggapnya sebagai monster daripada kehilangan iman kepada Tuhan). Saya masih belum menemukan kutipan yang asyik buat disablon. Tentu saja soal keyakinan ini, Abraham dan kisah pengorbanannya dipuji. “Dia yang berjuang dengan dunia menjadi hebat dengan menaklukkan dunia, dan dia yang berjuang dengan dirinya menjadi lebih hebat dengan menaklukkan dirinya, tapi dia yang berjuang dengan Tuhan menjadi yang terhebat dari semuanya.” Ini keren, nih, buat dikutip. Tapi kepanjangan enggak, sih? Saya terus membaca, berharap di bagian berikutnya Søren Kierkegaard bercerita tentang Star Wars dan bicara tentang pergumulan batin Obi-Wan Kenobi atau Darth Vader (membayangkan gambarnya bakal bagus kalau dicetak), kemudian muncul kalimat-kalimat yang asyik, sebelum sadar saya mulai ngaco soal waktu. Lupa kalau Søren Kierkegaard sudah mati sebelum kisah besar perang antar bintang itu diturunkan ke umat manusia di bumi. Tapi dia akhirnya menyerempet juga beberapa cukilan dari kisah-kisah tragedi Yunani, lumayanlah, dan saya bersua dengan obyek yang sering menarik perhatian saya: “tragic hero”, alias sosok tragis dalam karya-karya tragedi. Menurutnya, Abraham (ya, kembali ke dia, soalnya ini buku ternyata bolak-balik membahas kisah pengorbanan Abraham dari berbagai sudut) bukanlah sosok tragis. Sebab sosok tragis, seperti Agamemnon misalnya, mengasumsikan sesuatu yang partikular naik menempati sesuatu yang universal. Seorang individu, kalau boleh saya menerjemahkan dengan bahasa tukang sablon, mengorbankan dirinya untuk prinsip-prinsip, nilai-nilai, etik komunitas yang lebih luas (keluarga, bangsa, dunia). Lha, memangnya Abraham enggak seperti itu? Dia tidak mewakili prinsip-prinsip keimanan, ketertundukan umat kepada perintah Tuhan? Otak saya mulai agak berat. Maklum keseringan ngisep aroma cat plastisol yang lama-lama kayaknya bikin kepala saya jadi dodol. Tidak, dia berbeda, kata Kierkegaard. Ia melakukannya bukan untuk hal seperti itu, melainkan “untuk Tuhan, atau sama juga dengan, untuk dirinya. Ia melakukannya untuk Tuhan sebab Tuhan menuntut bukti akan keyakinannya.” Perbandingan antara sosok ini dengan sosok-sosok tragis, perbandingan antara jalan keyakinan dan jalan etik, memunculkan beberapa problem (di sini ada tiga problem). Satu yang paling menarik perhatian saya: Adakah penangguhan teologis atas etik? Atau seperti ditunjukan buku ini (artinya bukan pertanyaan yang dibikin-bikin si tukang sablon ini) dengan pertanyaan sederhana: di mana batas untuk menyebut Abraham seorang pembunuh (problem etik) dan seorang hamba yang saleh (ekspresi kepatuhan religius)? Urusan ini, biarlah para teolog dan filsuf macam Kierkrgaard mencoba menjawab dan menjelaskannya. Lagipula akhirnya ia tak jadi membunuh Isaac, kan, sebab Tuhan mengganti anaknya dengan domba. Tapi problem ini sungguh membawa saya ke pertanyaan lanjutan yang mengganggu saya. Bagaimana jika di zaman kita, ada orang yang juga merasa memperoleh perintah dari Tuhan, dan ia merasa harus mengorbankan keluarganya? Tetangganya? Saudaranya? Bangsanya? Sesama manusia lain? Bahkan meskipun itu bertentangan dengan nilai etik sesama manusia? Apakah ada jaminan Tuhan mengganti korban-korban ini dengan domba-domba pula? Baiklah, ini terlalu berat untuk otak tukang sablon, yang lebih sering salah baca daripada mengerti apa yang dibacanya. Berat. Berat banget. Saya sampai “fear and trembling”, nih. Baca buku dan problem filsafat memang berat. Bukannya memperoleh jawaban, tapi malah nambah pertanyaan baru. Mana cat plastisol? Mana?

Standard
Journal

The Genealogy of Morals, Nietzsche

“Yang paling buruk, para seniman selalu butuh satu kubu, satu dukungan, satu otoritas yang sudah terbentuk: seniman tak pernah berdikari, berdiri sendiri berlawanan dengan insting mereka yang terdalam.” Hahaha, bangke sih, komentar ini. Meskipun tak selalu harus bergantung ke orang kuat, memang ada seniman-seniman yang suka mengikat diri ke gerombolan, seperti asu, tapi kan ada juga yang “serigala penyendiri” pastinya. Kutipan awal di atas datang dari Nietzsche di buku The Genealogy of Morals. Saya yakin komentar itu sangat bisa diperdebatkan, atau bisa bikin banyak seniman (dan para pemuja mereka) uring-uringan. Mungkin benar di zaman dulu, kala seniman sering menggantungkan diri kepada para patron. Tapi sekarang? Anggap saja itu kata-kata orang gila (atau kata-kata penggemar yang sedang kesal kepada sang komposer besar Wagner). Membaca Nietzsche memang siap-siap harus rada senewen, yang gampang naik darah sebaiknya jauh-jauhlah dari tulisan dia. Saya sendiri kadang berpikir, jika dia menyarankan berfilsafat harus dengan martil (untuk menggetok beragam berhala), saya sangat ingin mempergunakan martil itu untuk menggetok kepalanya, menyuruhnya berpikir lebih jernih, jangan kepedean, dan tentu saja dengan otak dingin. Tapi memang dia sangat sebel dengan segala hal yang lemah. Kalau kamu tukang mewek, merasa diri sebagai remah rengginang di dasar kaleng Khong Guan, atau seseorang yang sering berkata “siapalah saya”, saya sarankan: jangan, jangan jual lagak begitu di depan Nietzsche. Itu berat. Hidup kau bisa habis kena martil. “Bukan dari yang terkuat bahaya datang untuk orang kuat, tapi dari yang terlemah,” katanya. Ada hal-hal yang bikin saya ingin menggigit kupingnya juga. Misalnya, tendensi dia (tidak terang-terangan, tapi begitulah saya membacanya) untuk mencampur-adukkan moral, kebudayaan atau identitas Eropa dengan kekristenan. Eh, bukankah masih banyak yang berpikir begitu, sampai sekarang? Ganti Eropa dengan Amerika, dan lihat Donald Trump. Mungkin saja orang Eropa merasa kekristenan sebagai identitas mereka, tapi sebagai filsuf seharusnya bisa dijernihkan sejernih-jernihnya. Wong saya aja sering sebel kalau mendengar orang bicara tentang “budaya timur” atau “moral ketimuran” di Indonesia, padahal yang dia maksud adalah “moral Islam”. Apa hubungannya Islam dan ketimuran? Bahkan Arab dengan Islam pun harusnya merupakan definisi yang jelas berbeda. Tendensi seperti itu lebih terdengar politis daripada memiliki landasan argumen yang dapat dipertanggungjawabkan. Meskipun begitu, tentu saja ada hal-hal yang menarik dari buku ini, terutama cara Nietzsche mencoba berspekulasi mengenai asal-usul moral (seperti judulnya, itu memang pokok utama buku ini). Menentang “para psikolog Inggris” (entahlah, siapa-siapa yang dimaksud), ia membantah bahwa moral sudah ada dalam diri, bahwa perkara “baik” dan “buruk” lahir semata-mata karena aspek “kegunaan” dari hal-hal (benda, perilaku, dan lain-lain). Di sini Nietzsche melihat bahwa kelahiran predikat “baik” dan “buruk” erat kaitannya dengan struktur kelas, hirarki, dan kekuasaan. Siapa yang memberi nama-nama, dialah yang berkuasa (atas yang diberi nama-nama itu). Kaum aristokrat dan berkuasa, tentulah menciptakan nilai baik dan buruk ini, untuk membedakan “kita” dan “mereka”. Membedakan kaum aristokrat berkuasa dan kaum kere barbar. Demikian juga ketika dia mencoba menelisik rasa tanggung jawab dan rasa bersalah. Dia dengan radikal melihatnya sebagai problem kelas dan kekuasaan. Bayangkan dalam konteks pinjam-meminjam, utang-piutang. Yang meminjami atau yang memberi utang, akan menuntut “tanggung jawab”. Tanggung jawab untuk bayar kembali, tentu saja. Ketika seseorang gagal menunaikan tanggung jawab, ia akan jatuh ke penyesalan, ke rasa bersalah. Sialnya, Nietzsche membawa ini ke urusan agama, dengan mengambil konteks Yahudi. Dalam soal “baik” dan “buruk”, kaum Yahudi yang diposisikan sebagai “yang lain”, melawan balik dengan konsep “baik” dan “jahat”. Kaum aristokrat yang sewenang-wenang, yang korup, kemudian menjadi “jahat”. Saya merasa Nietzsche awalnya tampak mengagungkan perlawanan ini, sebelum mengempaskannya, membantingnya: kaum Yahudi dengan kemarahannya kepada kaum aristokrat, hanya berhenti di kemarahan, dan menyerahkan “pembalasan dendam hanya milik Tuhan”. Ia menutut, seharusnya mereka marah dan melampiaskan kemarahan. Hal yang sama terjadi dalam konteks utang-piutang. Hanya kepada Tuhan kita berutang paling besar (bukan kepada para penguasa), dan karenanya memiliki tanggung jawab untuk membayar kembali, ya kepada Tuhan. Sebenarnya, bukankah itu tidak melululu Yahudi, ya? Bukankah sebagian besar agama juga begitu? Baiklah, ini rada ambigu ketika menyebut Yahudi, sebagai bangsa atau sebagai ajaran agama. Dalam konteks Nietzsche, ia mengatakannya dalam konteks bangsa Yahudi, tapi kritik dia juga merujuk ke ajaran yang dipercaya mereka. Jadi kritik Nietszche mestinya ditujukan tak hanya kepada Yahudi, tapi juga kepada bangsa lain yang mempraktekkan beragam (sebagian besar) agama, yang menurut dia, dengan menghadirkan Tuhan sebagai pemilik “pembalasan”, sebagai pemberi “utang” terbesar, menempatkan manusia pada posisi lemah. Sekali lagi, dia benci kelemahan manusia. Dalam konteks ini, memang sangat mudah bagi kita atau siapa pun untuk menyudutkan Nietzsche sebagai seorang anti-semit. Tapi gayanya yang blak-blakan, memang terasa seperti martil yang menggetok kepala, tak hanya membuatnya terbuka, tapi mungkin tercerai-berai, meleleh dan berantakan.

Standard
Journal

Mythologies, Roland Barthes

Kadang saya pengin nulis esai tentang fenomena-fenomena di sekitar saya. Katakanlah soal pesugihan yang membuat pelakunya harus merenovasi rumah terus-menerus, yang orang Jawa menyebutnya sebagai kandang bubrah. Atau para penjual roti keliling di pagi hari yang berebut perhatian dan pelanggan dengan lagu jingle masing-masing. Atau lembaga swadaya masyarakat yang menyebar sukarelawannya untuk mencegat orang-orang lewat di mal atau di jembatan penyeberang sambil berkata, “Boleh minta waktu sebentar, lima menit saja?”, yang ujung-ujungnya tak jauh berbeda dengan sales parfum, perumahan, atau asuransi untuk menodong isi dompet kita. Kadang pengin juga nulis tentang jalan raya di daerah saya, yang semakin macet justru di hari libur. Tapi cukup membaca buku macam Mythologies karya Roland Barthes, dan keinginan saya dengan segera rontok, serontok-rontoknya. Orang macam ini, sebagaimana esais macam Walter Benjamin atau yang lebih muda dari mereka, Umberto Eco, telah membuat aktivitas menafsir berbagai fenomena kebudayaan (populer) tampak seperti sejenis pengulangan dan tiru-tiruan belaka. Paling banter, kalaupun saya nekat melakukannya, hanya akan menjadi tiruan pemikiran kualitas kesekian, dengan omong-kosong tentang tanda dan apa yang saya pikir diwakilkan oleh tanda tersebut. Bayangkan di buku yang hanya merangkum sebagian saja esai-esainya ini, Barthes menulis dari mulai gaya rambut dan keringat orang-orang Romawi di film hingga soal liburan para penulis yang dianggapnya sebagai memproletarkan diri (liburan awalnya hak anak sekolah, kemudian hak kaum pekerja). Memang, terutama Barthes bicara tentang mitos-mitos modern di belakang berbagai hal yang bahkan tampaknya banal. Potongan rambut seorang santa, misalnya, tak hanya merefleksikan ketaatan beragama tapi juga kekuasaan gereja; sebagaimana janggut lebat mencitrakan manusia bebas (karena tak harus mengikuti norma masyarakat yang harus bercukur setiap pagi). Saya jadi membayangkan para pendeta Buddha yang plontos sebagaimana orang-orang muslim yang saleh memanjangkan jenggotnya tanpa berkumis dengan dahi yang menghitam. Barthes mungkin tak membahas hal-hal itu, sebagaimana dia tak sempat melihat orang bekerja di cafe dengan laptop bergambar apel kroak, atau berjalan bergegas di trotoar sambil memegang gelas sekali pakai bergambar putri duyung hijau, tapi apa bedanya? Dia bisa membaca semua itu dan membaurkannya dengan mitos-mitos masyarakat modern. Mitos yang pada dasarnya dari abad ke abad tetap sama tapi direproduksi terus-menerus secara berbeda. Atau mungkin kita bisa menulis esai dengan sedikit berbeda, tak hanya menafsir dan mereka-reka makna di balik benda-benda, tapi juga memberikan kritik (kalau perlu yang pedas) atasnya. Aha, Barthes sudah melakukannya. Ia tak hanya menafsir Chaplin, tapi juga mengkritiknya sebagai menyederhanakan kaum ploretar sebagai kaum miskin. Juga mengejek cara pandang majalah Elle: kalian bicara bahwa perempuan bisa melakukan apa saja, tapi jangan lupa tugas kalian adalah bunting dan bikin anak (untuk lelaki). Sial bener, bukan? Atau bagaimana selain menafsir dan membuat kritik yang tajam, juga membuat perbandingan? Ini akan mengasyikkan, di mana kita bisa menciptakan hubungan fiktif yang gila-gilaan. Katakanlah arisan sebenarnya merupakan ritus pemujaan baru, atau sepakbola sebenarnya pesta orgy. Percayalah, Barthes sudah melakukannya. Di satu esai, ia membayangkan adegan striptease sebagai eksorsisme, sementara mobil dianggap sebagai katedral di zaman modern. Dan di esai lain, ia bicara tentang kandidat politikus yang mempergunakan potret diri mereka sebagai alat kampanye, dan saya merasa betapa esai itu bahkan masih berlaku sampai sekarang, termasuk di negeri ini. Apa yang tersisa untuk penulis payah macam saya, kecuali kemudian menganggap manusia macam Barthes adalah mitos itu sendiri. Kenapa saya membacanya? Mungkin biar dianggap keren? Pembuktian diri sebagai anggota masyarakat kelas borjuis kecil (sebab kaum proletar kemungkinan besar tak membacanya sebagaimana mereka kemungkinan tak membaca Marx juga)? Entahlah, buku macam begini, meskipun mental borjuis saya bisa sedikit terhibur, tapi juga sekaligus menjengkelkan. Membuat saya jadi bertanya-tanya, memangnya apa lagi yang bisa diperbuat dengan semiotika dan segala ilmu tanda serta tafsir ini?

Standard
Cool Stuff

Salah satu cara menjawab revisi UU MD3 yang baru disahkan DPR, yang berpotensi mengkriminalkan para pengkritik anggota dewan, adalah dengan terus melakukan kritik terhadap perilaku dan kebijakan mereka. Kutipan di kaos ini diambil dari cerpen Corat-coret di Toilet, yang terbit tahun 1999. Tapi kok rasanya tetap bisa dipakai, ya? Yang berminat memakai, sila mengambilnya dengan potongan harga di sini. Hanya Rp.75.000 (Rp.110.000) + ongkos kirim.

Aku Lebih Percaya Kepada Dinding Toilet

Aside
Cool Stuff

Indonesia (dan dunia) macam apa sih, yang kita inginkan? Bisakah kita (kembali) membentuknya melalui kesusastraan? Atau sudah kalah telak oleh citra yang dibangun sosial media dan berita palsu? Atau jangan-jangan kesusastraan kita sudah tercerabut dari problem-problem sosial zaman dan masyarakatnya, sehingga bahkan memimpikan dunia macam apa pun yang diinginkannya sudah tidak dilakukan lagi?

Kuliah Umum

Aside
Journal

Everything I Don’t Remember, Jonas Hassen Khemiri

Ada bagian-bagian yang begitu lucu di novel ini membuat saya tergelak atau nyengir sendiri. Misalnya ketika menceritakan si nenek yang sudah pikun dan melupakan banyak hal. Si cucu meneleponnya tapi ketika terhubung, pembicaraan mereka terganggu suara TV yang kencang sekali. Si nenek mematikan TV, dan si nenek melanjutkan pembicaraan dengan si cucu. Bukan lewat telepon, tapi lewat remot TV. Dan makin lucu mendengar komentar si cucu, “Sebenernya itu lucu kalau saja itu tak begitu tragis.” Demikian juga ketika kadang si nenek tak mengenali si cucu dan menganggapnya orang asing. Si cucu punya trik untuk mengembalikan sedikit ingatannya dan mau bersikap kooperatif. Ia memakai topi bulu tua yang pernah jadi milik kakeknya. “Tapi kamu jangan terlalu dekat dengannya, sebab kadang ia ingin menggelendot dan minta cium.” Novel ini berkisah tentang seorang penulis (narator), yang ingin melacak kembali kisah hidup Samuel terutama di hari kematiannya. Samuel adalah si cucu yang tadi diceritakan. Baiklah, melihat judulnya, Everything I Don’t Remember, novel penulis muda asal Swedia ini bisa dianggap sebagai novel tentang kenangan, tentang ingatan. Itu tak salah, meskipun tentu saja juga terlalu menyederhanakan. Seperti menerawang ke balik permukaan air yang jernih dan tenang, sebab seperti itulah novel ini ditulis, kita dibawa untuk melihat begitu banyak hal di dalamnya: tentang ras, perpindahan, penerimaan, prasangka, rasa frustasi sosial, juga rasa frustasi atas politik, dan banyak hal lainnya. “… Samuel berkata bahwa ayahnya ingin ia bernama Samuel sebab ia mulai membayangkan reaksi atasan atau induk semang jika kau memperoleh nama asing. Ayahnya tak ingin si anak mengalami problem yang sama.” Kita tahu prasangka semacam itu, di mana-mana, di berbagai negeri. Jonas Hassen Khemiri menceritakannya dengan ringan, seringkali lucu, tapi pada saat yang sama kita merasakan kepedihannya, rasa sakit yang tak terperi di dalam masyarakat yang bisa juga sama sakitnya. Karena novel ini ditulis dengan sejenis penelusuran tentang kehidupan Samuel sebelum kematiannya, maka kita akan bertemu berbagai sudut pandang (dari penjaga panti jompo tempat nenek Samuel tinggal, ibunya, temannya, pacarnya, dll). Mungkin ini akan sedikit mengingatkan kita kepada cerpen Akutagawa, “In a Bamboo Grove”, terutama di bagian si orang mati juga memaparkan versi kisahnya. Yang membedakan, cerpen Akutagawa memperlihatkan betapa sebuah peristiwa bisa dilihat atau dipersepsi dengan cara yang berbeda-beda oleh saksi yang berbeda, sementara di novel ini, berbagai variasi sudut pandang lebih merupakan kepingan-kepingan puzzle yang mencoba saling melengkapi. Pusat kisahnya sendiri terutama berpusing di antara hubungan asmara Samuel dan Leide, serta persahabatan Samuel dan Vandad (dan tentu saja sikap saling mencurigai antara Vandad dan Leide dalam “memperebutkan” Samuel). Ya, di permukaan ini tampak seperti kisah asmara yang sulit, hubungan yang rawan, dan persahabatan, tapi sekali lagi, di balik itu tak bisa dienyahkan berbagai problem politik kontemporer. Sesuatu yang sulit saya rasa dicapai, kecuali oleh penulis yang demikian lihai. Bahkan keretakan hubungan Samuel dan Leide, menurut saya, memiliki latar belakang yang sangat politis. Cara pandang mereka yang berbeda terhadap persoalan, jelas tak bisa diselamatkan sesederhana oleh apa yang namanya cinta, sebesar apa pun gejolak dan saling tarik-menarik yang diciptakan oleh perasaan itu. Cara pandang yang berbeda menghasilkan rasa ketidakpercayaan, terutama ketika kita tak mampu untuk melihat dari sisi orang lain, dan rasa tak percaya merupakan racun untuk hubungan asmara, bukan? Terapkan hal ini dalam hubungan sosial, saya rasa jawabannya mungkin sama.

Standard