Eka Kurniawan

Journal

Author: Eka Kurniawan (page 1 of 32)

“… habitually drives his narra­tives between the extreme poles of the crass and the sublime, the tragic and the comedic, the surreal and the real.” – South China Morning Post, “Eka Kurniawan’s brutal novel on Indonesian masculinity is not for the faint-hearted”

“It’s funny, enraging, and touching.” – Village Voice, “NYC’s Best Independent Booksellers Share Their Picks For Summer Reading”

“I believe the phrase is ‘page-turner.’” – Words Without Borders, “The Watchlist: July 2017”

The Call of Cthulhu and Other Weird Stories, H.P. Lovecraft

Kesusastraan dengan cara sederhana merupakan dua kutub penjelajahan terhadap yang gelap, yang tak diketahui, didorong oleh rasa ingin tahu maupun hasrat untuk menguasai. Penjelajahan pertama adalah menafsir hal-hal gelap menjadi sesuatu yang bisa dipahami, dengan menjalin simpul-simpul yang mencuat ke dunia yang lebih benderang. Ini berlaku untuk novel-novel detektif maupun fiksi sains, bahkan dalam cerpen-cerpen filosofis nan magis Borges. Penjelajahan kedua adalah menceburkan diri ke dalam kegelapan, melihat sendiri ada apa di sana, bahkan meskipun hasilnya merupakan sesuatu yang tak terjelaskan alias tetap gelap. Ini berlaku untuk kebanyakan novel-novel horor, weird, sebagian fiksi sains, dan saya kira H.P. Lovecraft berada di sana. Ia merupakan penunjuk jalan, pemandu dunia gelap, dan sialnya ia tak pernah bermaksud menjadi pemandu yang baik dalam arti membebaskan kita dari ketersesatan. H.P. Lovecraft bisa dianggap sebagai pemandu dunia gelap dan ia sendiri adalah bagian dari dunia itu, bagian dari terornya sendiri. Itulah yang paling brengsek dari penulis satu ini. Sebagian besar cerpen-cerpennya, setidaknya di kumpulan The Call of Cthulhu and Other Weird Stories ini, merupakan sejenis laporan yang dituliskan, atau diceritakan oleh penyintas dunia gelap yang sanggup melarikan diri dari teror. Itu cara terbaik untuk menggambarkan dunia Lovecraft. Paparannya yang membabi buta adalah kegandrungannya terhadap peta: ia menghadirkan apa saja untuk menggambarkan lanskap di sekeliling dunianya. Dalam cerpen yang paling mendekati mimpi buruk, “The Shadow Over Innsmouth” di mana si tokoh terjebak di satu kota aneh (dengan bus yang menuju kota itu hanya berisi tiga penumpang saking tak ada yang mau lewat di sana, dan penduduk dari daerah lain yang terpaksa bekerja di sana tak berani kelayapan di malam hari, dan makhluk-makhluk berbadan manusia dan berkepala ikan bisa lewat di depanmu), Lovecraft menggambarkan peta kota itu. Jalan-jalannya, gedung-gedungnya, taman-tamannya. Bagian mana yang terpapar sinar rembulan, bagian mana yang menguarkan aroma amis. Di cerpen “The Haunter of the Dark”, ia menggambar peta sebuah gereja tua, yang menyimpan misteri berbeda bagi pengunjung nekat yang berbeda. Sebagai pemandu, tentu ia memang harus melakukannya. Peta itu bukan untuk membuat kita mengerti hamparan lanskap di sana; tapi terutama dibuat agar kita mengerti, di sanalah teror itu akan berada dan kita sadar hanya celah-celah kecil yang bisa membuat kita terbebas dari sana. Kita memerlukan peta semacam itu sebab, dalam cerpen-cerpennya, Lovecraft selalu mengajak kita ke sebuah dunia yang kita kenali, tapi sekaligus dunia lain. Dunia lain dalam makna yang sebenarnya: kaum pendatang dari negeri antah-berantah, makhluk yang tak pernah ada dalam khasanah bumi dan penghuninya, makhluk semi dewa. Cerpen-cerpennya penuh dengan kisah dan upacara pemujaan terhadap makhluk-makhluk ini, dan menampilkan ekspresi yang bengis dari manusia: tak berdaya dan menjadi budak, jika bukan buronan. Kadang-kadang dunia asing itu muncul dalam bentuknya yang paling aneh, tidak mawujud kecuali dalam berkas cahaya seperti di cerpen “The Colour Out of Space”. Cahaya itu datang bersamaan dengan jatuhnya batu meteor ke sebuah lahan peternakan, dan sejak itu, cahaya tersebut menjadi teror “yang mengisap kehidupan”. Orang-orang di kota Arkham (kota ini selalu muncul, secara langsung atau tidak) bahkan tak berani membicarakannya lagi. Melalui kisah-kisah horor atau aneh (kadang dengan balutan fiksi sains dalam cerpen semacam “Herbert West — Reanimator”, sisi lain dari Frankenstein yang kocak sekilagus mengerikan), Lovecraft menyajikan tragedi manusia menghadapi dunia lain yang asing dan gelap. Kita mencoba bersahabat dengan kegelapan untuk terjebak di dalamnya, dan mencoba melawan hanya untuk dikalahkan. Lovecraft tak menyajikan dunia terang yang menghibur, ia pemandu kejam dunia kegelapan itu sendiri.

“Eka Kurniawan’s hugely inventive fiction is a potent blend of grounded realism and flighty fantasy.”

The Economist on Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash, “The secrets of Indonesia’s finest novelist”.

“Thrilling … an engrossing, emotionally rankling speed-read … original and sure-footed.”
– Jane Graham, The Big Issue

The first review of my third novel (in English translation), Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash.

A Grain of Wheat, Ngũgĩ wa Thiong’o

“Kami pergi ke gereja. Mubia, dengan jubah putih, membuka Injil. Ia berkata, berlututlah untuk berdoa. Kami berlutut. Mubia berkata: Pejamkan mata. Kami melakukannya. Kau tahu, ia tetap membuka mata sehingga ia bisa tetap membaca. Ketika kami membuka mata, tanah kami telah lenyap dan pedang api berdiri berjaga.” Saya tak menemukan ungkapan sesederhana sekaligus tepat ke jantungnya tentang kolonialisme, melebihi apa yang saya baca di novel Ngũgĩ wa Thiong’o, penulis Kenya, A Grain of Wheat. Seseorang pernah mengingatkan saya bahwa agama, uang dan negara (bangsa, kerajaan, dan segala ide tentang komunitas-bangsa) merupakan tiga kekuatan yang sering menyatukan umat manusia. Saya bisa menambahkan: tiga hal itu juga yang sering menghancur-leburkan manusia dan peradabannya. Persekutuan agama dan hasrat menyebarkan peradaban dan nilai-nilai serta kerakusan yang didorong oleh uang telah menyebabkan kolonialisme, salah satu kebrutalan dalam sejarah dunia modern, dan ide tentang negara-bangsa berkelindan di sana membuatnya semakin rumit. Jelas ini novel politik, dalam tradisi yang sangat gamblang tentang perjuangan kaum tertindas melawan kaum penindas. Kisahnya sendiri berkelindan di sekitar hari-hari menjelang kemerdekaan Kenya dari pendudukan Britania, melibatkan beberapa tokoh yang tak hanya membuat novel ini sebagai sebuah novel sejarah, tapi juga sebuah epik sosial dalam sebuah pertanyaan besar, “Apa artinya menjadi bebas, menjadi merdeka?” Kita dihadapkan kepada aksi-aksi heroik, tapi sekaligus dihajar oleh pertanyaan mendasar, apa artinya menjadi pahlawan? Siapa sebenarnya pahlawan? Setelah membaca novel ini, saya rasa hal terbaik untuk membicarakannya adalah dengan mengambil satu-dua kutipan darinya dan melihat kembali apa yang terpancar dari sana. “Pengecut hidup untuk melihat ibunya sementara sang pemberani mati di medan pertarungan,” begitu novel ini berkata di satu tempat. Perjuangan kaum tertindas melawan para penindas, kita tahu tak sesederhana satu pihak lemah melawan pihak yang kuat. Novel ini menunjukkan hal yang lebih rumit dari itu: adalah perjuangan melawan ambisi-ambisi pribadi, baik di kalangan kaum tertindas maupun penindasnya sendiri. Aksi paling heroik justru bukanlah ketika seorang pahlawan berdiri menghadapi musuh dan menembaknya dengan dingin, atau bertahan dalam interogasi yang membawanya pada penyiksaan fisik; tapi justru ketika kita menghadapi manusia-manusia yang mengakui kelemahan-kelemahannya, kebusukannya, bahkan pengkhianatan-pengkhianatannya. Tak hanya pengkhianatan kepada kawan-kawan seperjuangan, tapi terutama pengkhianatan kepada tanah air dan bangsanya. Seluruh sosok di novel ini, dengan cara yang menyakitkan, pahlawan di hari kemerdekaan sekaligus pengkhianat dan pengecut yang menyedihkan, dan mereka menyambut hari tersebut dalam kabut ketidakpastian [dan bukan ironi: pejuang yang dipuji-puji di novel ini, yang kemudian menjadi penguasa Kenya, di kemudian hari mengirim penulis novel ini ke penjara]. Penuh kebrutalan tapi juga kejujuran, Ngũgĩ tak hanya melucuti watak-watak kolonial yang bengis, rakus, juga menelanjangi watak-watak budak yang menyerah dan menerima keadaan. Ada satu episode kecil tentang sebuah keluarga. Si ayah sering menyiksa si ibu, hingga akhirnya si anak lelaki datang melawan ayahnya. Tapi apa yang terjadi? Si ibu datang dan membela si ayah, menyerang si anak. “Baru belakangan ia melihat begitu banyak orang Kenya dengan bangga mempertahankan perbudakannya di mana ia bisa mengerti reaksi ibunya,” demikian si anak menyadari. Seperti kebanyakan novel politik, kisah ini juga memperlihatkan arsitektur tentang kekuasaan yang tak selalu bersikap dikotomis penindas dan tertindas. Sebagian kaum tertindas bersekutu dengan penindasnya, memperoleh sedikit kekuasaan, untuk menindas yang jauh lebih lemah. Kaum tertindas mengkhianati kawannya sendiri, untuk memperoleh sedikit kekuasaan, agar bisa bertahan di dunia yang menghancur-leburkan segala. Dan bahkan di antara pejabat-pejabat kolonial, mereka saling sikut, untuk mempertahankan kuasa masing-masing, sehingga bolehlah kita tengok apa yang dikatakan novel ini di bagian nyaris akhir: “Belakangan, kesadaran akan kuasa, kemampuan untuk menghancurkan kehidupan manusia hanya dengan menarik pelatuk, begitu memberi obsesi kepadanya sehingga menjadi kebutuhan.”

Göteborg Book Fair 2017 seminar program booklet is out now (in English). I will be in Sweden for the book fair, September 28-October 1, 2017. Swedish edition of Beauty Is a Wound is published by Nilsson Förlag.

Saya tumbuh di antaranya dengan membaca majalah remaja pria Hai, melebihi majalah remaja lainnya. Saya juga menulis beberapa cerita pendek di sana (diterbitkan di Corat-coret di Toilet). Hormat dan terima kasih untuk menemani masa remaja saya: Majalah Hai berhenti cetak sejak bulan ini.

“Kurniawan has become the rare Indonesian author to break through to a typically translation-allergic U.S. market […] Vengeance Is Mine promises dark, sexually charged and subversive comedy …” from “24 Incredible Books To Add To Your Shelf This Summer”, Huffington Post.

Buku kecil ini, Auman! Catatan Pembaca Prosa Eka Kurniawan, saya rasa merupakan buku pertama yang secara khusus membicarakan karya-karya saya. Isinya sekumpulan esai, atau resensi, dari beberapa penulis seperti Heri CS dan Widyanuari Eko Putra. Jika ada yang berminat (untuk penelitian skripsi, misalnya), bisa menghubungi penerbitnya, Kelab Buku Semarang.

Terkonfirmasi. Editor cerpen Kompas sendiri menyarankan inses intelektual semacam begini. Sama seperti dalam bidang biologi, hubungan sedarah kemungkinan (dikutip dari Wikipedia):

“… berpotensi tinggi menghasilkan keturunan yang secara biologis lemah, baik fisik maupun mental (cacat), atau bahkan letal (mematikan).”

Older posts

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑