Kita, Tetangga, dan Papua

Ketika ibu hendak menikahkan adik perempuan saya, untuk kali pertama ia berpikir menyewa gedung. Selain karena ia sudah tua, terlalu lelah untuk mempersiapkan pesta dan segala sesuatunya, adik perempuan saya juga tak mau ribet.

Protes justru datang dari tetangga-tetangga kami. Sebagian di antara mereka telah bekerja kepada almarhum ayah saya, juga kepada adik saya, selama bertahun-tahun. Mereka bertanya kepadanya, “Jadi, Ibu tidak mau berbagi kebahagiaan dengan kami? Tidak lagi mau mempekerjakan kami?”

Memang seperti itulah cara orang-orang di lingkungan rumah ibu saya biasanya mengajukan protes. Blak-blakan, tapi juga dengan setengah bercanda setengah menyindir. Mereka bukan orang-orang yang terbiasa datang ke gedung pernikahan, dengan kode pakaian tertentu, pada jam yang telah ditetapkan pula.

Di luar itu, tentu saja pernikahan di gedung umumnya mempergunakan jasa katering. Di sini mereka juga keberatan, karena merasa tak ikut dilibatkan bekerja di dapur. Tidak, sebenarnya tak ada upah bagi para tetangga yang ikut membantu memasak di dapur atau mempersiapkan berbagai tetek bengek pesta. Buat mereka, bisa memberikan tenaga kepada salah satu di antara mereka yang punya hajat merupakan kehormatan tersendiri.

Setelah berdiskusi dengan adik perempuan saya, akhirnya ibu saya mengambil jalan tengah. Pernikahan tetap di gedung, tapi tak jauh dari rumah. Hanya berjalan kaki lima menit. Artinya, masih di lingkungan perkampungan kami. Jasa katering hanya dipakai sebagian, terutama untuk camilan yang diinginkan adik saya. Sisanya, tetap ada masak di dapur yang melibatkan para tetangga.

Solusi itu berjalan lumayan baik. Para tetangga bisa ikut berbahagia dalam pesta pernikahan tersebut. Mereka datang di waktu yang longgar karena dekat. Mereka juga gembira bisa ikut susah payah menanak nasi, memotong sayur, memasak rendang, dan lain sebagainya.

Saya teringat pesta pernikahan beberapa tahun lalu itu saat membaca berbagai kabar tentang Papua. Bukankah hubungan antartetangga di lingkungan perkampungan, dengan berbagai konflik maupun pengertiannya, juga bisa dipakai cara membaca di level hidup berbangsa?

Isu tentang Papua selalu berakhir dengan tuntutan mereka untuk menentukan nasib sendiri. Juga gugatan tentang sejarah bagaimana Papua menjadi bagian dari Indonesia. Lalu, menghadapi tuntutan itu, reaksi Jakarta juga selalu tak jauh berbeda: penangkapan dan pengiriman polisi maupun tentara yang lebih banyak ke Papua.

Di sini saya tak ingin masuk ke perdebatan mengenai hak menentukan nasib sendiri. Saya justru ingin menengok ke dalam hubungan Indonesia (atau bagian Indonesia lainnya) dan Papua. Kita bisa melihat betapa hubungan itu memang bermasalah sejak lama. Dan, tak pernah ada peta jalan untuk memperbaikinya.

Jika hubungan Papua dan daerah-daerah lain diibaratkan hubungan bertetangga di kampung, sudahkah kita berbagi kebahagiaan maupun duka bersama? Sudahkah orang-orang Papua menjadi realitas sehari-hari dalam kehidupan, katakanlah orang-orang di Jakarta? Saya rasa jauh dari itu.

Setiap kali saya pergi ke toko swalayan atau warung makan, masih mungkin saya bertemu orang sebagai pelayan maupun pemilik warung yang berasal dari Padang, Aceh, Bugis, dan Bali. Tapi, tak pernah saya bertemu orang Papua. Jika kamu bekerja di sebuah kantor, seberapa kemungkinannya kolega kerjamu orang Papua?

Kita dengan mudah menimpakan masalah-masalah itu semata-mata sebagai ketimpangan ekonomi dan pendidikan. Tentu saja itu benar, sebagian. Reaksi pemerintah, selain reaksi keamanan, sering kali material, seperti pembangunan yang masif di tanah Papua di masa pemerintahan Joko Widodo. Itu juga perlu, tapi tak cukup.

Sekali lagi, seperti kisah tetangga-tetangga ibu saya, mereka ingin membantu tanpa mengharapkan upah. Mereka ingin hadir, menjadi bagian dari sebuah kehidupan komunal. Bahkan, tak jarang mereka tak hanya memberikan tenaga, tapi malah memberikan bahan makanan untuk orang yang punya hajat.

Selama puluhan tahun, Papua nyaris tak hadir dalam kehidupan komunal Indonesia. Ya, mereka memang hadir di sepak bola atau pameran-pameran kebudayaan. Tapi, realitas sehari-hari jelas sangat tak terlihat dan itu merupakan problem yang seharusnya diperbaiki sejak awal.

Pernahkah ke toko buku dan melihat sebuah novel karya penulis Papua? Pergi ke bioskop, berapa tahun sekali Anda melihat film dengan bintang utama orang Papua? Jika Anda pemilik toko, seberapa besar kemungkinan Anda merekrut orang Papua menjadi karyawan?

Jika jawaban kemungkinannya mendekati angka nol, kita memang punya masalah dalam hubungan sosial dengan orang Papua. Dan pemerintah dengan keras kepala terus mencoba menyelesaikannya dengan senjata dan gelontoran uang, yang semakin membuat kita terasing satu sama lain.

Diterbitkan pertama kali di Jawa Pos, 7 September 2019.

Toni Morrison dan Dunia yang Tidak Tunggal

Sekali waktu Toni Morrison, yang meninggal dalam usia 88 tahun pada 5 Agustus lalu, ditanya seorang wartawan, “Apakah nanti akan menulis tentang orang kulit putih?” Selama beberapa saat ia terdiam, sebelum menjawab, “Kamu tak sadar ya betapa rasis pertanyaan itu?”.

Dalam bawah sadar, manusia sering berpikir bahwa dirinya merupakan pusat segala sesuatu, pusat semesta. Segala hal mesti tentang dirinya. Jika ia bagian dari kelompok, perasaan itu akan dibawa ke logika kelompok. Bahwa kelompoknya harus menjadi pusat kisah semesta.

Yang menjadi problem adalah ketika kelompok yang kuat, mayoritas, memaksakan narasi kelompoknya kepada kelompok lain. Memaksa kelompok lain berada di pinggiran. Atau bahkan menghapuskannya dari peta.

“Aku tak pernah meminta Tolstoy menulis untuk seorang gadis berwarna yang lahir di Ohio,” kata Toni Morrison di kesempatan lain. “Aku juga tak pernah meminta James Joyce untuk tidak menulis tentang Katolik dan orang-orang Dublin.”

Ia mengatakan itu untuk melawan orang-orang yang menganggap karya-karyanya sangat sempit: menceritakan pengalaman orang-orang kulit hitam dan diceritakan untuk orang kulit hitam. Dengan kata lain, ia menggugat, memangnya kenapa kalau hanya menulis tentang orang kulit hitam? Toh, penulis kulit putih juga sering kali menulis kisah orang kulit putih dan diceritakan dengan cara pandang orang kulit putih pula?

Rasisme muncul ketika seseorang atau sekelompok orang menolak (ras) yang lain untuk berbagi pusat. Pertanyaan si wartawan mengindikasikan terus-menerus menceritakan orang kulit hitam sebagai hal aneh atau tak patut dan ia menuntut dengan pertanyaan, kapan Toni Morrison menulis tentang orang kulit putih.

Padahal, bukankah kesusastraan global, setidaknya dalam tiga ratus tahun terakhir, dipenuhi narasi yang menempatkan orang-orang kulit putih di pusat penceritaan? Memangnya ada yang meminta Tolstoy menulis tentang orang kulit hitam? Memangnya tak boleh orang kulit hitam berada di tengah narasi?

Sekilas, orang mungkin berpendapat bahwa Toni Morrison tampaknya anti terhadap kesusastraan kulit putih. Lebih tepatnya: putih dan lelaki. Tengok semua novelnya, selain menempatkan orang kulit hitam sebagai pusat narasi, ia juga menempatkan perempuan di sana. Sethe di Beloved atau si gadis kecil yang bernama Pecola di The Bluest Eye.

Tidak. Toni Morrison bahkan berkali-kali menyebut William Faulkner, seorang penulis lelaki dan berkulit putih, sebagai orang yang berpengaruh dalam kesusastraannya. Ia bahkan belajar dari penulis semacam Faulkner, terutama bagaimana Faulkner berhasil untuk tetap menempatkan karya sastranya dalam regionalisme.

Bagi Toni Morrison, itu sangat penting. Faulkner hanya bercerita tentang orang-orang selatan, lebih spesifik lagi di wilayah fiktif yang bernama Yoknapatawpha. Ia bercerita dengan cara pandang orang selatan, dan tampaknya untuk orang selatan pula. “Kenyataannya, seluruh dunia tetap bisa membaca Faulkner,” kata Toni Morrison.

Dari Faulkner, ia belajar bahwa menceritakan lingkup yang regional sangatlah mungkin dan sangatlah bisa tak terbatas. Bicara tentang pengalaman perempuan-perempuan kulit hitam Amerika, bisa sama luasnya, baik tema maupun persoalan, dengan penulis lain mengisahkan ras-ras manusia lainnya.

Kematian Toni Morrison menjadi kehilangan yang besar, bukan hanya bagi kesusastraan, tapi terutama di tengah situasi di mana politik identitas merebak di mana-mana. Kekerasan politik, baik verbal maupun fisik, di mana orang atau kelompok saling mendesak untuk menjadi pusat narasi.

Kita tahu, Toni Morrison tak hanya mengubah lanskap kesusastraan Amerika, tapi juga ikut mengubah lanskap masyarakatnya. Ia telah menampilkan wajah Amerika yang sejati, justru dengan menuliskan narasi yang selama itu hilang. Narasi pengalaman hidup orang kulit hitam.

Itu tak hanya penting bagi orang kulit hitam sendiri, sebagaimana itu penting bagi aneka ras di Amerika, bahkan pengaruhnya meluas hingga di luar Amerika. Toni Morrison telah mengajari dunia bahwa pusat-pusat narasi itu tidak tunggal. Juga fakta sederhana bahwa jika tidak diceritakan, sebuah kelompok sosial akan “hilang” dan kelompok sosial lain merasa berhak sewenang-wenang karena berpikir mereka hidup sendiri.

Diterbitkan pertama kali di Jawa Pos, 10 Agustus 2019.

‘Hanya Mengingatkan’

Aktif di media sosial, sering kali, berarti ada banyak orang yang mengingatkanmu untuk segala hal. Kelompok orang saleh akan mengingatkanmu untuk menutup aurat dan aktivis kesehatan akan mengingatkanmu akan bahaya merokok.

Teman saya bahkan diingatkan agar jangan terlalu banyak mempertontonkan belah dadanya, oleh orang yang tak begitu dikenal. Yang lain akan diingatkan polisi bahasa bagaimana cara menulis “di” yang benar.

Dirjen Pajak dengan sigap mengingatkan seorang selebritas yang berhasil menjual ribuan potong kerudung akan kewajiban pajaknya. Demikian pula perusahaan, semacam maskapai penerbangan, akan diingatkan penumpang jika tak memberikan layanan yang baik.

Bagi saya, fenomena itu sudah melampaui apa yang dibayangkan George Orwell di novel 1984. Ini situasi yang bisa dibilang sebagai pasca-Orwellian.

Di dunia Orwellian, kita menemukan diri menjadi objek pengawasan. Tindakan, kata-kata, bahkan pikiran kita terus dipantau. Tak hanya oleh perkakas semacam telescreen, tapi juga oleh polisi pikiran dan mata-mata.

Pusat pengawasan itu berakhir di Saudara Besar, yang bisa berupa sosok atau mungkin sistem. Jika seseorang tepergok melanggar aturan-aturan atau nilai-nilai, ia bisa diciduk. Dibikin hilang atau semacam direindoktrinasi.

Tidak. Situasi masyarakat media sosial tidak persis seperti itu. Tak ada sosok maupun sistem tunggal bernama “Saudara Besar”. Yang ada adalah masyarakat, negara, kapital, atau siapa pun, saling mengawasi satu sama lain.

Dengan kata lain, yang kita hadapi bukanlah kekuasaan terpusat yang sangat kuat, tapi kekuasaan yang memencar dan terus-menerus mencari perimbangan dalam dirinya. Sebagian merupakan kelompok-kelompok kuat, baik karena jumlah, uang, maupun teknologi.

Kelompok-kelompok kecil pun bukan berarti gampang dihadapi. Sering kali mereka lebih berisik, mengganggu. Mati satu tumbuh seribu.

Penyebaran ini tak hanya menyangkut siapa yang mengawasi siapa, juga tidak berhenti di siapa mengingatkan siapa, tapi sering kali berakhir dengan kekerasan. Verbal maupun fisik. Kekerasan verbal seorang warga negara kepada kekuasaan bisa berakhir dengan kekerasan fisik atau penahanan.

Jika harus dibayangkan, dunia Orwellian itu seperti dunia di mana moncong senapan ada di mana-mana, dikendalikan kekuasaan. Dunia sekarang, kita seperti menghadapi situasi di mana semua orang diberi senapan dan senapan-senapan itu bisa mengarah ke siapa pun.

Dalam konteks warga negara menghadapi negara atau kekuasaan yang terpusat, situasinya mungkin jauh lebih mudah dipetakan, meskipun tak bisa dibilang mudah. Solidaritas warga bisa sama-sama melawan atau menghadapi kekuasaan serupa itu.

Yang merepotkan adalah jika seorang warga harus menghadapi sekelompok warga lain. Kasus bagaimana seseorang yang memutuskan berpindah agama, kemudian dirundung banyak orang, bisa menjadi gambaran. Orang tak lagi hanya mengingatkan, tapi banyak juga yang menghujat, atas nama keyakinan dan nilai-nilainya sendiri.

1984 mengajari kita bagaimana kekuasaan Saudara Besar bisa mengatur dengan siapa kita boleh menikah, seks semacam apa yang harus dilakukan, dan sejarah mana yang boleh dianggap benar. Dunia Orwellian ini percaya keyakinan bisa diciptakan, melalui berbagai cara: persuasi maupun teror.

Di dunia kita hari ini, banyak orang (jika tak bisa mengatakan semua orang) masing-masing merasa sebagai Saudara Besar. Percaya bisa menjejalkan keyakinan kepada orang lain, dengan berbagai cara. Mereka merasa berhak untuk menjadi pengawas, untuk menjadi mata-mata yang melaporkan, dan dalam kasus-kasus tertentu menjadi polisi yang melakukan penindakan.

Media sosial di dunia pasca-Orwellian pada dasarnya sedang mengajari kita, semua orang, bagaimana rasanya memiliki “kekuasaan”. Itu kata magis yang di masa lalu hanya dinikmati orang-orang terpilih.

Seperti orang-orang di masa lalu, kekuasaan sering terlalu liar bagi pemiliknya.

Siapa pun bisa merasa menjadi ahli arsitektur dan membuat tafsir tentang bentuk sebuah masjid. Bisa pula merasa menjadi ahli ekonomi dan membaca data dengan caranya sendiri.

Di media sosial, siapa pun kamu, kamu adalah Saudara Besar. Yang risi melihat orang pamer belah dada. Risi orang Jakarta ngomong keminggris. Tanpa sadar, orang juga risi dengan kelakuanmu dan terus mengawasimu. Saya hanya mengingatkan.

Diterbitkan pertama kali di Jawa Pos, 20 Juli 2019.

Angsa Liar, Mori Ōgai

Buku ini hasil kolaborasi banyak pihak. Awalnya tahun lalu dikompori Fajar dari percetakan Utama Offset agar saya bikin penerbitan dan menerbitkan buku. Dibantu adik ipar, saya pun bikin lembaganya. Lama terbengkalai, saya menghubungi ibu Ribeka Ota, apakah beliau bersedia menerjemahkan salah satu novel Jepang yang menyenangkan ini. Kemudian saya bertemu teman-teman Berdikari di Yogya, dan Marjin Kiri di Jakarta. Tentu dengan maksud agar mereka membantu menjualkan bukunya. Di luar itu ada yang membantu mengedit, juga melayout, dan terutama kasih semangat pantang menyerah. Sekarang sudah bisa dipesan di situs Berdikari dan Marjin Kiri. Untuk reseller, sila menghubungi kedua toko daring tersebut. 

Serigala Berbulu Domba

Tentu kita sering mendengar perumpamaan “serigala berbulu domba”. Itu bukan sekadar orang jahat yang berperilaku manis, tidak juga sekadar niat busuk yang dibungkus kata-kata indah. Terutama, bagi saya, bagaimana muslihat dilakukan melalui penampilan permukaan.

Itu bisa berlaku bagi iklan di televisi yang menjanjikan hal-hal hebat, tapi kenyataannya ia hanya menjual barang ala kadarnya. Bisa juga berlaku untuk politisi yang menjanjikan angin surga di masa kampanye, tapi memberi neraka dunia di waktu menjabat.

Berjanji tak akan melakukan penggusuran? Tak akan mereklamasi pantai? Tunggu sekitar dua tahun setelah menjabat. Perilaku sesungguhnya akan terlihat, menggantikan kata-kata indahnya. Sebagaimana semua berjanji tak akan menjarah uang rakyat, tapi sebagian dari mereka berakhir menggunakan seragam oranye Komisi Pemberantasan Korupsi.

Untuk urusan itu, apa boleh buat, kita memang gampang tertipu. Tak hanya sekali, bahkan bisa berkali-kali. Siapa sih yang tak tertipu oleh penampilan seekor domba? Dengan bulu lebat yang lembut, wajah menggemaskan, dan kita tahu tak akan menjadi predator karena kita tahu mereka hanya memakan rumput?

Mungkinkah kita mencurigai seluruh domba di dunia ini? Masak kita akan menangkap semua domba dan menyibak bulunya satu per satu?

Juga, apakah mungkin mencurigai semua orang yang berperilaku baik? Bagaimana jika skenarionya dibalik: Ada seekor domba yang lahir dengan wajah dan penampilan mirip serigala? Ia akan menjalani hidup sial, saya yakin.

Sebenarnya, siapa yang sedang ditipu oleh muslihat serigala? Kita? Para petani pemilik gerombolan domba? Sesama serigala? Meskipun siapa pun bisa ikut tertipu, tentu saja tujuan paling utama adalah menipu gerombolan domba itu sendiri. Agar serigala bisa masuk ke kerumunan domba, ia harus berperilaku dan berpenampilan sebagai serigala. Hanya dengan cara itulah dengan mudah ia bisa diterima.

Saya jadi ingat satu cerita rakyat dari negeri Tiongkok yang kemudian menjadi film Disney, Mulan. Di masa itu, setiap keluarga dimintai satu orang lelaki untuk maju berperang.

Karena ayahnya sudah tua dan adiknya masih kecil, Mulan maju untuk menggantikan mereka. Selama dua belas tahun dia berperang demi bangsa dan rajanya. Tapi, dia hanya bisa melakukan itu dengan menyamar menjadi lelaki.

Kisah tentang Mulan dan perumpamaan tentang serigala berbulu domba bagi saya memiliki irisan yang menarik. Keduanya mengasumsikan satu hal ini: Jika ingin diterima dengan mudah di satu kelompok, jadilah sebagaimana kelompok itu, meskipun harus berpura-pura. Dalam perilaku maupun dalam wujud. Itu bukan semata-mata soal tipu muslihat kejahatan yang berbungkus kebaikan, tapi juga memiliki sisi lain yang mungkin jarang dibicarakan.

Tentu, sebagai mekanisme pertahanan diri, domba akan berkumpul dengan domba lagi. Paling banter, mereka berkumpul dengan sesama binatang ternak. Mereka hanya percaya kepada sesama domba dan tentu tak percaya kepada binatang predator macam serigala. Bagaimana jika ada domba tapi sialnya berwajah dan berbulu serigala? Tidak, mereka tak akan memercayainya.

Begitu juga Mulan. Dia hanya mungkin diterima karena kenyataan semua prajurit adalah lelaki. Bahkan, dalam kasus Mulan, dia bukanlah orang yang menyamar dengan niat jahat. Meskipun begitu, jika diketahui dia seorang gadis, sudah jelas Mulan akan dikeluarkan.

Dari sini, kita bisa melihat dua sisi perumpamaan itu. Di satu sisi, kita melihat kejahatan yang menyamar dalam tipu muslihat rupa yang baik dan manis. Di sisi lain, ada mekanisme pertahanan diri yang hanya percaya kepada sesama kelompok dan curiga terhadap segala yang berbeda. Apalagi jika tertanam di dalam pikiran, kelompok berbeda dianggap berbahaya.

Kita melihatnya dalam bentuk yang lebih ekstrem, itu menjadi cikal bakal rasialisme. Juga menjadi awal mula dari kelompok-kelompok nasionalis radikal, yang anti-imigran. Termasuk juga prasangka atas dasar orientasi seksual, kelas ekonomi, agama, maupun etnis.

Ada sebuah karakter di novel The Plotters karya Kim Un-su, yang saya rasa menarik untuk melihat fenomena tentang itu. Novel tersebut berkisah tentang pembunuh bayaran, dan si pembunuh bayaran selalu dipasok informasi mengenai target pembunuhannya oleh seseorang dengan nama alias Shadow.

Suatu hari dia ditanya, “Bagaimana kamu bisa menyamar mengumpulkan berbagai informasi tanpa ketahuan?” Jawabannya, kurang lebih, jadilah orang biasa. Sebab, hanya dengan jadi orang biasa, berbaur, kamu tak akan dicurigai. Hanya orang-orang unik, orang yang berpenampilan berbeda, yang menarik perhatian.

Benar, kita harus selalu waspada kepada siapa pun yang tiba-tiba berperilaku dan berwujud seperti kita. Pura-pura kere atau pura-pura religius.

Pada saat yang sama, tentu kita juga harus belajar melihat bahwa dunia tidak sesederhana rupa dan kulit luar. Agar kita tahu serigala berbulu domba tetaplah serigala dan yang berwajah serigala, siapa tahu, hanyalah seekor domba yang manis.

Diterbitkan di Jawa Pos, 15 Juni 2019.

Tokyo Ueno Station, Yu Miri

“Aku bisa beradaptasi dengan berbagai macam pekerjaan, justru menghadapi kehidupanlah aku tak bisa menyesuaikan diri.” Suara itu datang dari seorang gelandangan tua, yang menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya di Taman Ueno, Tokyo, bersama tuna wisma lainnya. Ia hanya berusaha menyambung hidup dari hari ke hari, dengan sisa-sisa makanan yang disumbangkan dari restoran atau toko serbaada. Jika musim dingin atau badai menghantam, mereka hanya perlu berlindung di gedung-gedung museum, yang memberi ruang-ruang hangat bagi mereka. Saya pernah melihat sendiri gelandangan-gelandangan Tokyo ini, dan yang mengejutkan, mereka seringkali menjadi tuna wisma bukan karena tak punya rumah, tak (pernah) memiliki pekerjaan, atau bahkan tak punya keluarga yang mau mengurus (meskipun alasan-alasan itu bisa saja berlaku untuk beberapa di antara mereka). Seringkali mereka memilih menjadi gelandangan karena itu adalah pilihan yang paling masuk akal, sebab pilihan lain lebih tak tertanggungkan. “Aku bisa beradaptasi dengan berbagai macam pekerjaan, justru menghadapi kehidupanlah aku tak bisa menyesuaikan diri.” Ini juga merupakan suara novel ini secara keseluruhan, Tokyo Ueno Station karya Yu Miri. Kita bisa melihat kehidupan, terutama kehidupan pasca perang, menghajar habis seorang lelaki tanpa belas kasihan. Jepang selepas perang memang hanya sebentar saja merasakan masa suram. Ditandai oleh Olimpiade 1964, gelombang kebangkitan ekonomi merebak ke seluruh negeri, meski denyut terbesarnya berada di pusat: Tokyo. Anak-anak muda dari kampung-kampung terseret ke kota itu, demi membebaskan diri dari kemiskinan, demi uang dan hidup yang lebih baik. Mereka memang memperoleh apa yang mereka cari. Uang yang beberapa kali lipat dari yang bisa mereka hasilkan di daerah asal, selain bisa menopang hidup sendiri di kota, sebagian bisa dikirim ke rumah untuk membiayai hidup istri, anak-anak, bahkan orang tua dan adik-adik. Sekaligus mereka memperoleh kutukan dan siksaannya: kehilangan keintiman keluarga, tak melihat dan tak mengenal bagaimana anak-anak tumbuh. Mereka mesin, sekrup paling kecil yang bekerja paling keras. “Aku bisa beradaptasi dengan berbagai macam pekerjaan, justru menghadapi kehidupanlah aku tak bisa menyesuaikan diri.” Seorang gelandangan bernama Shige juga memperlihatkan bagaimana pengetahuan seringkali jadi sia-sia dan tak berdaya di hadapan kejamnya hidup. Tokoh kita sering membayangkan Shige dulunya seorang guru, atau sejenisnya. Ia senang membaca. Ia mengumpulkan majalah dan buku bekas, dan mengumpulkannya di dalam tenda miliknya. Tak hanya itu. Ia sejenis perpustakaan berjalan. Ia tahu berbagai peristiwa, ia bisa memberi latar belakang mengenai berbagai monumen di kota itu, sebagaimana ia bisa menggambarkan peta dan lanskap kota, serta perkembangannya. Tapi, entah apa pun yang terjadi padanya, ia juga dihancurkan oleh hidup, yang menyeretnya tinggal di dalam tenda gelandangan hanya berteman seekor kucing, yang akhirnya harus ditinggalkannya juga ketika ajal kemudian menjemput. “Aku bisa beradaptasi dengan berbagai macam pekerjaan, justru menghadapi kehidupanlah aku tak bisa menyesuaikan diri.” Ketika kita pergi ke kota, pulang setahun sekali, kerja keras mengumpulkan uang demi istri, orang tua, dan anak-anak, hidup sementara mungkin memiliki tujuan. Tapi, apa yang terjadi jika kemudian anakmu mati di pondokannya, padahal ia baru saja meraih prestasi di kuliahnya? Lalu, satu malam, istrimu juga mati dalam tidurnya, di sampingmu? Apa makna hidup jika seseorang tak lagi memiliki alasan untuk itu? “Kau tidak beruntung,” kata ibunya, dan apakah itu cukup untuk menjelaskan hidup yang sial? Novel ini bagus, bukan karena memaksa kita melihat bengisnya sisi lain kehidupan, tapi karena ia memperlihatkan bahwa yang bengis itu justru dihasilkan oleh proses yang sama yang membuat kehidupan, di sisi yang ekstrem lain, demikian gemerlap. Atau jangan-jangan kehidupan ini memang tak lebih dari upaya menggelandang. Kita berharap bertahan hidup hari ini, agar besok bisa mengulangi perjuangan yang sama dalam upaya untuk kembali bertahan hidup.

Celestial Bodies, Jokha Alharthi

Dalam beberapa kali penerbangan ke Eropa, melintasi garis pantai semenanjung Arab bagian timur sambil memperhatikan peta di layar kecil depan tempat duduk pesawat, saya sering melihat titik sebuah kota bernama Muscat. Saya sering bertanya-tanya, kota macam apakah itu? Apakah penuh dengan gunung-gunung batu, padang gersang dengan diselingi petak kurma semacam Madinah atau Mekah? Atau serupa Dubai dan Abu Dhabi, yang gemerlapnya sering saya lihat di video? Melalui novel Celestial Bodies, karya Jokha Alharthi, saya bisa mengintip sekilas. Sekilas saja, karena novel ini justru berlatar lebih jauh lagi, ke sebuah kota pinggiran di negeri bernama Oman tersebut. Sebuah pembacaan yang membawa saya ke sebuah negeri asing, dengan lanskap yang asing, bahkan hubungan-hubungan sosial yang dalam tingkat tertentu juga terasa asing. Seasing membayangkan “kuburan gersang tanpa pepohonan”, sebab sejauh yang saya ingat, kuburan selalu merupakan tempat paling teduh. Saya membayangkan novel ini semacam ensiklopedia berbagai karakter perempuan (plus beberapa karakter lelaki, yang saya rasa lebih sebagai pendamping dan bumbu penyedap, meskipun salah satunya menjadi narator penting, Abdullah). Perempuan-perempuan yang terhubung satu sama lain oleh hubungan darah, perkawinan, seks, bahkan perbudakan. Dibuka dengan Mayya, anak pertama dari tiga bersaudara perempuan, yang di bagian-bagian awal kita tahu sering berdoa, “Tuhan, aku hanya ingin melihatnya,” (kita tak tahu siapa yang ditunggunya) kemudian dilamar oleh seorang lelaki anak saudagar kaya, Abdullah. Mereka menikah, tapi saat suaminya bertanya, “Apakah kau mencintaiku?” Mayya tak pernah menjawabnya. Pun, mereka memiliki anak, salah satunya London yang menurut bibi dan neneknya, “Macam mana memberi anak dengan nama kota orang-orang Kristen?” Kelak, kita tahu London memiliki hubungan asmara yang naif dengan seorang penyair gembel, berpendidikan tinggi dan calon dokter yang cemerlang, tapi dibutakan cinta. Adik Mayya yang kedua, Asma, merupakan gadis yang penuh rasa ingin tahu, dan teman terbaiknya adalah buku-buku klasik yang ditinggalkan kakeknya. Ia mencintai pengetahuan, penuh rasa ingin tahu, tapi akhirnya menerima lamaran seorang lelaki anak imigran, dari keluarga pelarian karena konflik perang saudara di Oman. Keluarganya mengungsi ke Mesir sebelum pulang kembali. Adik bungsunya, Khawla, barangkali yang paling tragis: sewaktu kecil ia berjanji dengan sepupunya bahwa mereka kelak akan menikah. Si sepupu malah pergi ke Kanada, dan si gadis tetap menunggu, menolak belasan lamaran. Sepupunya? Di Kanada ia punya pacar dan kumpul kebo. Ketika kehabisan uang, ia pulang dan akan memperoleh warisan, hanya jika ia mengawini Khawla. Ia memang menikahinya, tapi meninggalkannya lagi ke Kanada, balik ke pacarnya. Ia hanya pulang dua tahun sekali, hanya untuk menidurinya dan meninggalkannya dalam keadaan bunting. Sepuluh tahun menghasilkan lima anak. Sekali lagi, jangan terkejut jika menemukan begitu banyak karakter, terutama perempuan di novel ini, dan mereka memiliki kisahnya masing-masing. Beberapa berkelindan, yang lain berjalan sendiri. Ada kisah tentang perempuan Badui bernama Qamar, yang mencintai seorang lelaki beristri. Tidak, ia tak ingin merebut lelaki itu. Tak menuntutnya untuk dinikahi. Ia bahagia hanya menjadi kekasih tersembunyi. Tapi justru si lelaki yang menderita, merasa “tak memilikinya”. Kelar membaca novel ini, entah kenapa, memberi saya tidur yang tak nyaman hampir sepanjang malam. Berkali-kali saya merasa berada di hadapan perempuan-perempuan ini, juga para lelakinya, dan harus menghadapi problem-problem mereka, yang bagi saya terasa berat dan memberi efek depresif. Barangkali pengetahuan saya yang tak seberapa tentang adat kebudayaan Arab, sejarah Oman yang nyaris tak tahu apa-apa, dan kesusastraan mereka yang jauh dari radar, keterasingannya memberi saya rasa penasaran sekaligus ketidaknyamanan. Seperti salah satu fabel yang dikisahkan di tengah novel ini, saya seperti seekor serigala yang mengetuk kandang, berpura-pura jadi induk kambing. Dua anak kambing terperdaya dan saya memakannya, memakan isi novel ini, sebelum lelap tak berdaya dalam kekenyangan.

Menerima Kekalahan

Salah satu penutup novel yang banyak diingat orang dalam kesusastraan Indonesia, saya yakin, berasal dari novel Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia: “Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Kalimat itu diucapkan Nyai Ontosoroh kepada Minke setelah mereka berjuang keras mempertahankan Annelis dari tangan kuasa kolonial Belanda. Dalam perjuangan itu, mereka harus menelan kenyataan pahit. Kalah. Meskipun begitu, Nyai Ontosoroh menghadapinya dengan tegar. Dan, yang terpenting, penuh harga diri.

Mengenai kekalahan, ada kisah menarik dari novel Jerman karya Stefan Zweig berjudul Schachnovelle (“Kisah Catur”). Diceritakan tentang Dr. B, seorang ahli keuangan yang ditahan isolasi oleh Nazi. Untuk mengisi waktu, ia belajar catur di dalam kepalanya. Ia memecah dirinya menjadi Si Putih dan Si Hitam.

Karena keseringan bermain catur di kepala, ia mulai menderita maniak dan itulah yang membuatnya kemudian dibebaskan dari isolasi. Hingga satu hari, ia naik kapal dan bertemu seorang juara dunia catur yang masih muda. Seorang genius dengan bakat alami bernama Czentovic. Diprovokasi oleh para petaruh, Dr. B akhirnya menantang juara dunia itu.

Dr. B sangat percaya diri, karena ia sudah tahu semua langkah para master di luar kepala. Otaknya sudah demikian terlatih sehingga ia bisa memikirkan beberapa langkah ke depan. Tak hanya untuk bidaknya sendiri, tapi juga untuk bidak lawannya. Benarlah, begitu bertanding, Czentovic dengan mudah dikalahkan. Ia semakin percaya diri.

Tapi, dua hal tidak disadarinya. Pertama, si juara dunia kenyang makan asam-garam beragam pertandingan yang tak melulu urusan teknis, tapi juga mental. Kedua, ia sedang digerogoti kepercayaan-dirinya sendiri. Maka ketika si juara dunia mengalahkannya dalam tanding ulang, ia tak bisa menerima. Bukan cuma itu, ia bahkan tak percaya.

Di kepalanya terbayang adegan-adegan bidak catur ketika ia menang, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Ia mulai hidup di realitas semu, menghasilkan delusi.

Kegilaannya kumat. Sebab, ia tak bersiap untuk kalah. Ia hanya melatih dirinya terus-menerus untuk menang. Lupa bahwa kekalahan juga merupakan sesuatu yang alamiah.

Kompetisi memang merupakan roh kehidupan, dan dalam kompetisi selalu diandaikan adanya pemenang. Bahkan, sejak manusia masih berbentuk spermatozoa, kita sudah berkompetisi dengan sesama untuk berebut membuahi sel telur.

Di sekolah, kita berkompetisi untuk menjadi yang lebih pintar atau cerdas dari yang lain. Di tempat kerja, kita berkompetisi untuk memperoleh jabatan dan upah terbaik.

Kompetisi semakin nyata terlihat di bidang-bidang yang memang sangat kompetitif. Olahraga, misalnya. Demikian juga di politik, sebab tak mungkin ada dua bupati di satu wilayah, sebagaimana tak mungkin ada lebih dari satu presiden di sebuah negara.

Kita dididik untuk bisa menghadapi kompetisi ini, secara sadar maupun secara insting. Yang kerap kali lupa, kita tidak belajar untuk menerima kekalahan. Kasus Dr. B di novel Stefan Zweig memberikan ilustrasi semacam itu. Ia bisa saja memang cerdas, tapi soalnya, ia hanya berlatih untuk menang.

Ia tidak berpijak pada realitas, tidak pernah melanglang-buana dalam kompetisi sesungguhnya. Ribuan pertandingan catur yang dimainkannya hanya ada di kepalanya dan melulu merupakan latihan atau pertandingan untuk menang.

Saya rasa, di sinilah soalnya. Banyak orang, jangan-jangan, terlalu dijejali tuntutan untuk menang dan hanya bisa menerima realitas kemenangan.

Lihat, di begitu banyak film, kita menyaksikan para kekasih berjuang untuk memperoleh pujaan hati. Kita diajari film-film ini bahwa kita akan bahagia bersama sang kekasih. Ini menciptakan ilusi, bahkan di kalangan anak baru gede, begitu gagal dalam bercinta, kesedihannya berlarut-larut dan dunia seolah menjadi tamat.

Tak ketinggalan di banyak novel, kita juga diajari untuk menang. Istilah from zero to hero menjadi mantra yang ampuh.

Kita melihat kisah-kisah semacam ini: orang miskin, di lingkungan yang hanya menyediakan sekolah sederhana, tapi dengan perjuangan keras bisa menjadi sukses, misalnya. Kita belum menyebut para pahlawan lain di berbagai film maupun novel yang mengglorifikasi kemenangan.

Padahal, yang harus disadari, kekalahan merupakan hal yang jauh lebih umum. Dalam liga sepak bola, hanya ada satu pemenang dan ada sembilan belas klub yang “kalah”.

Apakah sembilan belas klub itu tamat riwayatnya? Tidak. Justru kompetisi di olahraga banyak mengajari kita bagaimana pemenang tidak menjadi penindas dan yang kalah tak harus kehilangan hak hidup.

Kita harus membuka mata lebih lebar untuk melihat bahwa dunia dipenuhi oleh orang kalah. Novel-novel John Steinbeck banyak mengisahkan orang-orang kalah.

Novel The Trial Franz Kafka memperlihatkan kepada kita tentang sosok yang dikalahkan oleh sistem. Tak hanya kesusastraan, buka surat kabar, kita akan menyaksikan kisah-kisah mereka di sana.

Belajar menerima kekalahan tak hanya mengajari kita secara mental untuk tetap berdiri di waktu jatuh. Kita juga belajar untuk bergandengan tangan dengan yang lain.

Lebih penting lagi adalah mengasah empati untuk melihat berbagai rupa kekalahan di saat kita berhasil. Untuk tidak menciptakan watak penindas karena arogansi kemenangan.

Sebab, seperti kata Chairil Anwar, bukankah “Hidup hanya menunda kekalahan?” 

Diterbitkan di Jawa Pos, Sabtu 11 Mei 2019.

Dandelions, Jika Ini Catatan Kepergian Kawabata

Pukul tiga sore ia meninggalkan rumahnya di Kamakura, untuk berjalan-jalan. Kesehatannya agak buruk, ia sangat tergantung kepada obat tidur. Beberapa temannya juga bilang, ia masih sangat bersedih atas kepergian teman kesayangannya, novelis Mishima Yukio, yang mati seppuku. Malam itu ia tidak pulang, tapi mampir ke apartemen tempatnya biasa bekerja di daerah Zushi. Hari itu 16 April 1972, dan ia berumur 72 tahun. Ketika polisi datang, pintu apartemen dalam keadaan terkunci, dan ketika mereka membuka paksa, bau gas tercium menyengat. Kawabata Yasunari sudah meninggal dengan ujung pipa gas di mulutnya. Ia tak meninggalkan catatan bunuh diri (meskipun begitu, ada juga teori yang mengatakan itu kecelakaan), tapi kemudian kita tahu, ia meninggalkan satu novel yang tak terselesaikan, berjudul Dandelions. Seperti sebagian besar novel-novel tak terselesaikan yang ditulis di akhir hayat para penulis jenius, novel ini menyajikan keindahan sekaligus misterinya yang tak terpecahkan. Ya, kita memang tak akan pernah tahu bagaimana kisah ini akan berakhir, tapi ia membentangkan hamparan masalah yang dihadapi tokoh-tokohnya: cinta, kematian, perasaan kalah, penyakit, dan kegilaan. Seperti juga novel-novelnya yang lain, ia juga menyisipkan sejenis eksotisme masyarakat Jepang, dengan lonceng besi di kuil tua dari masa Edo yang berdentang lima kali sehari, meskipun pembicaraannya terasa jauh lebih modern, dari masalah penyakit mental hingga kutipan dari Balzac tentang perempuan umur empat puluh tahun. Saya membayangkan jika novel ini merupakan catatan kepergiannya, ia merupakan percakapan muram yang tak berujung dan tak menjanjikan apa-apa. Percakapan itu terjadi, terutama di antara ibu Ineko dan kekasih Ineko bernama Kuno, selepas mereka mengantarkan Ineko ke panti orang gila di atas bukit, di sebuah kota kecil di mana pada musim semi bunga dandelion telah bermekaran. Banyak hal mereka percakapkan, dan tak jarang saling berseberangan, terutama menyangkut nasib Ineko. Ibunya percaya, tempat terbaik bagi Ineko adalah klinik tersebut, yang dikelola oleh sebuah kuil, sebab ia hanya ingin mengizinkan Ineko menikah dengan Kuno dalam keadaan sembuh. Sementara Kuno keberatan dengan keputusan tersebut, sebab percaya justru “cinta” (artinya menikah dan dirawat olehnya), yang akan membuat Ineko sembuh. Kita bisa tertawa dengan kenaifan Kuno, kenaifan yang dibawa oleh gejolak anak muda, tapi sekaligus kita tak juga menyalahkannya. Dalam pandangan Kuno, penyakit Ineko tidaklah terlalu serius. Ineko menderita kebutaan sejenak, terutama ia kadang tak bisa melihat bagian tubuh seseorang. Demikianlah sehabis bercinta, Ineko tiba-tiba tak bisa melihat wajah Kuno. Ibunya berpikir sebaliknya, itu penyakit berbahaya. Ia mendengar penyakit serupa dari dokter di mana seorang ibu mendadak tak bisa melihat wajah bayi yang dipangkunya, dan kemudian membunuhnya. Pembicaraan mereka melebar ka masa yang jauh, untuk mencari akar trauma dari penyakit tersebut. Mungkinkah karena Ineko pernah menyaksikan ayahnya yang jatuh bersama kuda tunggangan ke tebing pinggir laut? Dan apakah kematian ayahnya hanya kecelakaan biasa, atau simbol kekalahan Jepang dari perang? Bukankah sang ayah juga pernah mencoba bunuh diri di hutan, tapi diselamatkan seorang perempuan misterius, dan sejak mendengar kisah itu, Ineko merasa perempuan itu bersemayam di dalam dirinya? Novel ini bisa dilihat sebagai catatan traumatik, dan mengikuti kisahnya, saya merasakan jejak waktu yang makin lama semakin suram dan tanpa harapan. Kita tak pernah tahu apa yang terjadi selepas percakapan mereka, tapi saya membayangkan mereka tak akan pernah melihat Ineko lagi. Sebagaimana kesuraman kisah novel ini membawa kita kepada kenyataan, tak akan lagi mendengar sang penulis bercerita. “Bagaimanapun terasingnya seseorang dari dunia, bunuh diri bukanlah bentuk pencerahan. Semengagumkan apa pun dia, siapa pun yang bunuh diri jauh dari kesucian,” kata Kawabata dalam pidato penerimaan Hadiah Nobel, 1968. Jika novel ini catatan kepergiannya, jelas ia memang tak hendak memperlihatkan kesucian, ia memperlihatkan betapa rapuhnya manusia dan dunia.

Nadja, André Breton

  • Dalam pembacaan awal, saya melihatnya sebagai sejenis esai tentang kota, dalam hal ini Paris. “… patung Etienne Dolet di atas penyangganya di Place Maubert, Paris selalu menarik perhatianku sekaligus memaksa rasa tak nyaman yang tak tertanggungkan.” Paris, kota di mana kau bisa menemukan narator buku ini lewat setidaknya dalam tiga hari.
  • Bisa juga diperlakukan sebagai memoar. “Siapakah aku?” Sebab demikianlah buku ini dibuka. Si aku yang selalu “berharap bertemu, di malam hari di tengah hutan, dengan seorang perempuan cantik telanjang, atau, karena harapan semacam itu sekali dikatakan tak ada artinya sama sekali, aku menyesali kenapa tak bertemu dengannya.”
  • Saya kebetulan menemukan esai Mario Vargas Llosa di buku Touchstone tentang buku ini. Surealisme dan khususnya André Breton, memandang rendah novel, begitu katanya. Meskipun begitu, ia tak ragu untuk menyebut Nadja sebagai “novel orisinil tentang cinta.” Dan, jika itu novel, maka ini novel yang bagus, “sebab ia tak menceritakan dunia ini, meskipun berpura-pura demikian.”
  • Lebih tepatnya, dunia di novel ini dilihat dengan cara yang subyektif. Ia tak hanya mendeskripsikan dunia sebagaimana dilihat sang narator, tapi melingkupi kesan, fantasi, juga mimpi buruknya. Dunia tak melulu apa yang terhampar, tapi juga yang diketahui dari omong-omong kosong, dari potongan gambar, gagasan tak utuh, sebaris teks dari sebuah karya.
  • Mungkin memang bukan novel, bukan esai, apalagi puisi. Ia bukan apa-apa, sekaligus apa-apa.  Bagian pertama merupakan tulisan yang tampak ngalor-ngidul untuk menjelaskan “siapakah aku”, dan alih-alih mendeskripsikan tentang dirinya, narator sibuk bicara tentang banyak hal, dan menempelkan di halaman buku ini berbagai gambar yang ia berharap melengkapi ocehannya.
  • Jika Nadja adalah fiksi tentang seorang perempuan bernama Nadja, kita akan bertemu narator yang terus-menerus berusaha mendefinisikan siapakah Nadja ini, dan bagaimana perasaannya terhadap perempuan itu, serta hubungan macam apa yang dimiliki di antara mereka. “Untuk sementara waktu, aku berhenti memahami Nadja. Sebenarnya, barangkali kami tak pernah mengerti satu sama lain.”
  • Perempuan ini muncul di bagian kedua. “Aku melihat seorang perempuan muda berpakaian buruk berjalan ke arahku.” Perempuan yang di pertemuan awal itu sudah mengatakan memiliki “kesulitan finansial”. Ia pernah bekerja di toko roti, bahkan di penjagalan babi. Ia mengutip puisi, dan ia menggambar beberapa sketsa, sebab dengan cara seperti itulah kadang Nadja berbicara.
  • Gambar-gambar sketsa yang dibuat Nadja pada dasarnya bisa dinikmati secara mandiri. Kadang Nadja menerangkan apa makna, atau simbol apa yang ia coba sampaikan, tapi kadang ia juga tak mengerti apa yang digambarnya. Sketsa “Bunga Cinta” lumayan menyeramkan. Kelopak-kelopak bunga bergambar mata yang menatap tajam, sementara batangnya berawal dari seekor ular yang menganga. Begitu mungkin Nadja melihat cinta.
  • Kalau mau, boleh juga dianggap sebagai kritik sastra, atau kritik seni secara umum. “Bahagia rasanya, kesusastraan psikologis umurnya tak lagi panjang. Dan tak ada keraguan, semburan mematikan ini diembuskan oleh Huysmans.” Di novel ini, ia juga bicara tentang Chirico, Victor Hugo, hingga Robert Desnos. Puisi, novel, patung, hingga lukisan.
  • Sebagai pembaca novel, membaca Nadja memang terasa membaca sebuah “novel” yang sinis, yang terus-menerus meyakinkan pembacanya bahwa “aku bukanlah novel”. Seperti kita dibawa untuk berfantasi tentang Nadja melebihi sosok dengan tulang dan daging, kita diajak untuk terus-menerus bertanya, apa sesungguhnya sebuah novel, bagaimana novel didefinisikan? Yang jelas, seperti kata Llosa, Breton mempergunakan kebebasannya sebagai novelis untuk merdeka mempergunakan waktu, ruang dan kata-kata.