Eka Kurniawan

Journal

Author: Eka Kurniawan (page 1 of 45)

The Man In The High Castle, Philip K. Dick

Di mana letak keindahan sebuah obyek, katakanlah benda seni? Di mana terletak keistimewaannya, nilainya? Di mana letak kesejarahan dari sepucuk senjata yang telah mengarungi banyak peperangan? “Di pikiran. Bukan di pistol itu,” kata Wyndam-Matson salah satu tokoh dalam The Man In The High Castle karya Philip K. Dick. Sebenarnya novel ini berkisah tentang sebuah andai-andai: jika Perang Dunia II ternyata dimenangi oleh Jerman dan Jepang, dan Amerika harus dibagi di antara kedua negara itu. Di masa seperti itulah kemudian muncul novel yang malah menceritakan andai-andai sebaliknya: Ternyata Sekutu menang (dan dunia dibagi di antara pengaruh Amerika dan Sovyet). Lelucon-lelucon politik dan ideologinya mengasyikkan, tapi sempilan-sempilannya tentang seni yang sebenarnya tak banyak, malah menarik perhatian saya. Seperti yang sudah saya buka di atas, di sana-sini kita bisa menemukan pembicaraan tentang seni, kadang sampai tingkat yang lumayan filosofis, kadang dalam tingkat ejekan atas selera seni kaum fasis (juga kapitalistik dengan produksi massalnya). Untuk membuktikan pernyataannya, Wyndam-Matson memperlihatkan dua geretan Zippo yang serupa. Satu di antaranya ada di saku Franklin D. Roosevelt ketika ia dibunuh. Bisa diketahui yang mana? Menurutnya, tidak. Sebab tak ada “penampakan lapisan mistis” atau “aura” dari benda itu. Kita sendiri yang menciptakan “aura” tersebut. Isu ini selalu menarik perhatian saya, tentang bagaimana sebuah karya memiliki nilai tertentu, dan benda lain dianggap sampah. Dan kita tahu, nilai-nilai itu bisa berubah, tak hanya karena yang menilai berbeda, tapi juga karena ruang dan waktu yang berbeda. Maka saya kira, eksploitasi karya seni (untuk tujuan apa pun), pada dasarnya merupakan eksploitasi pikiran manusia. Bentuklah pikiran manusia, satu generasi atau satu bangsa, maka akan terbentuk pula “selera” mereka mengenai seni seperti apa yang baik dan bagus, atau sampah. Bayangkan misalnya kesusastraan Indonesia. Saya sering curiga, kita tergila-gila dengan kesusastraan yang menampilkan watak-watak pahlawan. Sosok yang mau berjuang dan bahkan berkorban untuk orang lain, untuk kebenaran, atau untuk sebuah nilai. Sosok yang bisa jadi panutan. Saya yakin pikiran ini tentu saja dibangun oleh wacana yang barangkali sejarahnya jauh ke belakang, entah di mana. Karena itulah sangat jarang, bukannya tak ada, kita menemukan watak-watak yang sebaliknya: yang brengsek, sampah, tak membela apa-apa kecuali nafsu bejatnya sendiri. Padahal saya yakin, kesusastraan tak hanya membutuhkan model ideal, tapi juga cermin untuk melihat kebusukan, kelemahan dan sisi gelap manusia. Kembali ke novel ini, ada ejekan menarik mengenai selera kaum fasis Jerman, yang diucapkan karakter yang lain: “Aku suka Verdi dan Puccini. Apa yang kita dapatkan di New York hanyalah musik Jerman yang berat dari Wagner dan Orff yang bombastis, dan setiap minggu kita harus pergi ke pertunjukan dramatik Partai Nazi Amerika yang klise di Taman Madison Square, dengan bendera-bendera, genderang, terompet dan kembang api.” Tentu saja Nazi memang menyukai tontonan macam begitu. Seperti dikatakan Walter Benjamin (izinkan melipir sedikit, dengan mengutip dari esai “The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction”), “Kaum fasis mengestetikkan kehidupan politik.” Atau jika boleh mempergunakan kata-kata sendiri, kaum fasis menciptakan aura dengan cara seperti itu, cara yang jitu untuk menggiring massa ke dalam politik, tapi pada saat yang sama membutakan mereka dari politik itu sendiri. Dibutakan oleh “aura”. (Saya bahkan yakin, kumis Hitler yang seperti itu juga memang sengaja sebagai upaya “mengestetikkan kehidupan politik”). Bayangkan orang-orang lapar, yang terpinggirkan secara sosial dan politik. Bukannya berpikir kritis, mengorganisir diri dan melawan secara politik, mereka malah silau oleh aura yang dibangun dalam kerangka “mengestetikkan kehidupan politik” ini: oleh jargon, oleh pawai-pawai (dengan sepeda motor tanpa helm?), emblem-emblem di baju seragam, bahkan oleh cara berpakaian Pemimpin Besar. Membawa pentungan, bahkan pedang, seolah sedang mempertunjukan sebuah teater. Mereka masuk ke dalam barisan, merasa bagian dari “aura” tersebut. Tak perlu jauh-jauh ke masa Perang Dunia II, gejala semacam itu bisa kita lihat hari-hari ini di mana-mana. Di sini, di barat maupun di timur. Ketergila-gilaan kepada aura ini bahkan bisa menciptakan sentimen yang absurd. Ketika si orang Jepang di novel ini mengusulkan si tokoh utama, Childan, untuk memproduksi massal (dengan cetakan) perhiasan logam (yang diciptakan oleh “artis” Amerika dengan tangan satu per satu), ia merasa tersinggung. Nasionalismenya terluka. Mental negeri jajahannya terbakar. Saya benar-benar tertawa di bagian ini, terutama karena Amerika yang kita kenal merupakan negeri yang dipenuhi “produksi massal”. Mungkin itu cara Philip K. Dick mengejek negerinya. Bagaimana melawan bias “aura” ini, yang tentu saja dikendalikan oleh sejenis otoritas (baik karena ideologi seperti kaum fasis, atau sekadar alasan komersial dari para pedagang)? Walter Benjamin punya jawabannya, alih-alih mengestetikkan politik, lebih baik “mempolitikkan seni.” Kata Benjamin, itu jawaban kaum komunis terhadap selera estetis fasisme. Hm, novel ini membawa saya ke mana-mana, ternyata.

Ikar/Odean just acquired Cantik Itu Luka translation right for Slovak (the 33rd language so far). And this is Taiwanese edition of the same novel, published by Ecus (in Complex Chinese).

A Beleza É Uma Ferida, Brazilian edition of Cantik Itu Luka (in Portuguese), published by José Olympio.

“No matter how serious your theme, the work should be entertaining.”

My conversation with Shreya Ila Anasuya for Scroll.in.

Kitchen Curse akan menjadi buku keempat saya dalam terjemahan bahasa Inggris, setelah Beauty Is a Wound (2015), Man Tiger (2015), dan Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash (segera terbit pertengahan 2017). Buku ini akan diterbitkan oleh Verso, berisi sekitar lima belas cerita, yang dipilih dari keempat buku kumpulan cerita pendek saya. Annie Tucker akan menerjemahkan sebagian besar cerita-cerita ini.

I prefer to see myself as an adventurer, with all the literary traditions as my map.

My latest interview with Jaya Bhattacharji Rose for Bookwitty.

Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash (translated by Annie Tucker) is one of Readings“The most anticipated books of 2017”. My third novel will be published this year by New Directions (US), Pushkin Press (UK), Text Publishing (ANZ) and Speaking Tiger (India).

Pemberontak dan Kriminal, The Sleepwalkers (3): The Realist

“Pemberontak tak harus disamakan dengan kriminal, meskipun masyarakat seringkali menganggap pemberontak sebagai kriminal, meskipun kriminal kadang-kadang berlaku sebagai pemberontak untuk membuat tindakan-tindakannya tampak terhormat.” Kutipan ini saya ambil di bagian tengah “The Realist”, bagian pamungkas The Sleepwalkers karya Hermann Broch. Saya harus bilang, novel ini jauh lebih menjelajah (dan barangkali lebih sulit untuk ditaklukkan) daripada dua bagian sebelumnya. Tak hanya meliputi bentuk dan gayanya (yang meramu banyak hal: prosa, puisi, drama, pamflet, esai), tapi terutama penjelajahan gagasan mengenai filsafat dan kadang mengenai agama. Kisah di novel ini terjadi di tahun 1918, di tengah situasi perang, dan dibuka oleh seorang prajurit Jerman bernama Huguenau yang melarikan diri dari pasukannya alias desersir. Apakah ia seorang pembangkang? Atau tak lebih dari seorang kriminal? Novel ini jelas menghamparkan dilema tersebut, tidak dalam pemaparan untuk mencari jawaban atas pertanyaan tersebut, apalagi mencoba memberi penilaian akhir terhadap si tokoh, tapi sebagaimana saya singgung di atas, mempergunakan kisah mengenai si desersir ini sebagai titik pijak untuk diskusi panjang mengenai banyak hal. Dari sejarah pemikiran hingga runtuhnya nilai-nilai. Huguenau sendiri sosok yang menarik. Kisah pelariannya dari pasukan membersitkan pertanyaan yang bergema panjang, Untuk apa semua perang ini? Ia digambarkan sebagai sosok yang berpikir bebas, tak terikat norma-norma, cenderung sinis pada nilai-nilai lama. Ia juga bisa dibilang, egois dalam arti memikirkan dirinya bahkan sampai pada tahap licik. Dalam situasi perang yang tak menentu, meskipun akhirnya ia bisa menetap di satu kota yang relatif tenang, dengan bakat yang luar biasa dalam pergaulan dan bisnis, tanpa modal sama sekali, ia bisa mengambil alih satu perusahaan surat kabar, dengan berbual bersama walikota dan orang-orang kaya kota itu. Bahkan ketika akhirnya ia ketahuan sebagai seorang pelarian (dan tentu saja buronan!), ia bisa melepaskan diri dari jebakan nasib buruk. Sebagian karena keculasannya, sebagian tentu karena keberuntungan. Di dunia ini, tentu manusia akan selalu mengalami masa-masa sulit. Kekacauan karena perang, musibah, runtuhnya nilai-nilai, atau apa pun, bisa menciptakan kesulitan. Dalam situasi seperti itu, tentu akan timbul: bermoralkah seseorang mementingkan nasib dirinya sendiri, lebih dari nasib orang lain? Itu pertanyaan moral, tentu, juga filosofis. Dari sudut pandang Huguenau, tentu ia memikirkan dirinya sendiri (bahkan meskipun mulut manisnya akan bicara tentang nasib orang-orang yang diwakilinya dalam bisnis). Tapi peduli apa tentang moral untuk manusia macam dia? Dalam situasi kacau karena perang, misalnya, siapa yang bisa menghalangi elan untuk bertahan hidup. Ia pembangkang, di tengah suara-suara yang bergelora tentang patriotisme, tentang kebersamaan, tentang “kita” melawan “mereka”. Tapi ketika ia akhirnya menodongkan pistol dan membunuh rekan kerjanya, untuk melindungi kepentingan-kepentingannya, untuk menyelamatkan dirinya, masihkah ia sesederhana pembangkang? Pemberontak? Atau ia sudah menjadi seorang kriminal. Masyarakat seringkali tak bisa membedakan keduanya, atau mungkin memang tak perlu dibedakan? Seperti Hugeunau, menjadi pembangkang barangkali hanya untuk menutupi egoisme dirinya, elan bertahan hidupnya, atau lebih jauh, membuat tindakan-tindakan kriminalnya sebagai sesuatu yang terhormat. Yang jelas, kata Hermann Broch, “Sang pemberontak berdiri sendiri.” Sendirian saja, Sobat. Tidak rame-rame.

Ljepota je njezina rana is Croatian edition of Cantik Itu Luka/Beauty Is a Wound. Just released recently by Znanje.

God and ghost? In many ways, they are similar, right? Except that people tend to believe that God created the world, including ghosts. We have funny words in Indonesia: ‘Tuhan’ for God and ‘Hantu’ for ghost. If you recite ‘Tuhan’ continuously, in the end, you can hear ‘Hantu’.

“Reading Suharto, Quran, Mahabharata and Ramayana”, The Indian Express

Older posts

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑