Menerima Kekalahan

Salah satu penutup novel yang banyak diingat orang dalam kesusastraan Indonesia, saya yakin, berasal dari novel Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia: “Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Kalimat itu diucapkan Nyai Ontosoroh kepada Minke setelah mereka berjuang keras mempertahankan Annelis dari tangan kuasa kolonial Belanda. Dalam perjuangan itu, mereka harus menelan kenyataan pahit. Kalah. Meskipun begitu, Nyai Ontosoroh menghadapinya dengan tegar. Dan, yang terpenting, penuh harga diri.

Mengenai kekalahan, ada kisah menarik dari novel Jerman karya Stefan Zweig berjudul Schachnovelle (“Kisah Catur”). Diceritakan tentang Dr. B, seorang ahli keuangan yang ditahan isolasi oleh Nazi. Untuk mengisi waktu, ia belajar catur di dalam kepalanya. Ia memecah dirinya menjadi Si Putih dan Si Hitam.

Karena keseringan bermain catur di kepala, ia mulai menderita maniak dan itulah yang membuatnya kemudian dibebaskan dari isolasi. Hingga satu hari, ia naik kapal dan bertemu seorang juara dunia catur yang masih muda. Seorang genius dengan bakat alami bernama Czentovic. Diprovokasi oleh para petaruh, Dr. B akhirnya menantang juara dunia itu.

Dr. B sangat percaya diri, karena ia sudah tahu semua langkah para master di luar kepala. Otaknya sudah demikian terlatih sehingga ia bisa memikirkan beberapa langkah ke depan. Tak hanya untuk bidaknya sendiri, tapi juga untuk bidak lawannya. Benarlah, begitu bertanding, Czentovic dengan mudah dikalahkan. Ia semakin percaya diri.

Tapi, dua hal tidak disadarinya. Pertama, si juara dunia kenyang makan asam-garam beragam pertandingan yang tak melulu urusan teknis, tapi juga mental. Kedua, ia sedang digerogoti kepercayaan-dirinya sendiri. Maka ketika si juara dunia mengalahkannya dalam tanding ulang, ia tak bisa menerima. Bukan cuma itu, ia bahkan tak percaya.

Di kepalanya terbayang adegan-adegan bidak catur ketika ia menang, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Ia mulai hidup di realitas semu, menghasilkan delusi.

Kegilaannya kumat. Sebab, ia tak bersiap untuk kalah. Ia hanya melatih dirinya terus-menerus untuk menang. Lupa bahwa kekalahan juga merupakan sesuatu yang alamiah.

Kompetisi memang merupakan roh kehidupan, dan dalam kompetisi selalu diandaikan adanya pemenang. Bahkan, sejak manusia masih berbentuk spermatozoa, kita sudah berkompetisi dengan sesama untuk berebut membuahi sel telur.

Di sekolah, kita berkompetisi untuk menjadi yang lebih pintar atau cerdas dari yang lain. Di tempat kerja, kita berkompetisi untuk memperoleh jabatan dan upah terbaik.

Kompetisi semakin nyata terlihat di bidang-bidang yang memang sangat kompetitif. Olahraga, misalnya. Demikian juga di politik, sebab tak mungkin ada dua bupati di satu wilayah, sebagaimana tak mungkin ada lebih dari satu presiden di sebuah negara.

Kita dididik untuk bisa menghadapi kompetisi ini, secara sadar maupun secara insting. Yang kerap kali lupa, kita tidak belajar untuk menerima kekalahan. Kasus Dr. B di novel Stefan Zweig memberikan ilustrasi semacam itu. Ia bisa saja memang cerdas, tapi soalnya, ia hanya berlatih untuk menang.

Ia tidak berpijak pada realitas, tidak pernah melanglang-buana dalam kompetisi sesungguhnya. Ribuan pertandingan catur yang dimainkannya hanya ada di kepalanya dan melulu merupakan latihan atau pertandingan untuk menang.

Saya rasa, di sinilah soalnya. Banyak orang, jangan-jangan, terlalu dijejali tuntutan untuk menang dan hanya bisa menerima realitas kemenangan.

Lihat, di begitu banyak film, kita menyaksikan para kekasih berjuang untuk memperoleh pujaan hati. Kita diajari film-film ini bahwa kita akan bahagia bersama sang kekasih. Ini menciptakan ilusi, bahkan di kalangan anak baru gede, begitu gagal dalam bercinta, kesedihannya berlarut-larut dan dunia seolah menjadi tamat.

Tak ketinggalan di banyak novel, kita juga diajari untuk menang. Istilah from zero to hero menjadi mantra yang ampuh.

Kita melihat kisah-kisah semacam ini: orang miskin, di lingkungan yang hanya menyediakan sekolah sederhana, tapi dengan perjuangan keras bisa menjadi sukses, misalnya. Kita belum menyebut para pahlawan lain di berbagai film maupun novel yang mengglorifikasi kemenangan.

Padahal, yang harus disadari, kekalahan merupakan hal yang jauh lebih umum. Dalam liga sepak bola, hanya ada satu pemenang dan ada sembilan belas klub yang “kalah”.

Apakah sembilan belas klub itu tamat riwayatnya? Tidak. Justru kompetisi di olahraga banyak mengajari kita bagaimana pemenang tidak menjadi penindas dan yang kalah tak harus kehilangan hak hidup.

Kita harus membuka mata lebih lebar untuk melihat bahwa dunia dipenuhi oleh orang kalah. Novel-novel John Steinbeck banyak mengisahkan orang-orang kalah.

Novel The Trial Franz Kafka memperlihatkan kepada kita tentang sosok yang dikalahkan oleh sistem. Tak hanya kesusastraan, buka surat kabar, kita akan menyaksikan kisah-kisah mereka di sana.

Belajar menerima kekalahan tak hanya mengajari kita secara mental untuk tetap berdiri di waktu jatuh. Kita juga belajar untuk bergandengan tangan dengan yang lain.

Lebih penting lagi adalah mengasah empati untuk melihat berbagai rupa kekalahan di saat kita berhasil. Untuk tidak menciptakan watak penindas karena arogansi kemenangan.

Sebab, seperti kata Chairil Anwar, bukankah “Hidup hanya menunda kekalahan?” 

Diterbitkan di Jawa Pos, Sabtu 11 Mei 2019.

Dandelions, Jika Ini Catatan Kepergian Kawabata

Pukul tiga sore ia meninggalkan rumahnya di Kamakura, untuk berjalan-jalan. Kesehatannya agak buruk, ia sangat tergantung kepada obat tidur. Beberapa temannya juga bilang, ia masih sangat bersedih atas kepergian teman kesayangannya, novelis Yukio Mishima, yang mati seppuku. Malam itu ia tidak pulang, tapi mampir ke apartemen tempatnya biasa bekerja di daerah Zushi. Hari itu 16 April 1972, dan ia berumur 72 tahun. Ketika polisi datang, pintu apartemen dalam keadaan terkunci, dan ketika mereka membuka paksa, bau gas tercium menyengat. Yasunari Kawataba sudah meninggal dengan ujung pipa gas di mulutnya. Ia tak meninggalkan catatan bunuh diri (meskipun begitu, ada juga teori yang mengatakan itu kecelakaan), tapi kemudian kita tahu, ia meninggalkan satu novel yang tak terselesaikan, berjudul Dandelions. Seperti sebagian besar novel-novel tak terselesaikan yang ditulis di akhir hayat para penulis jenius, novel ini menyajikan keindahan sekaligus misterinya yang tak terpecahkan. Ya, kita memang tak akan pernah tahu bagaimana kisah ini akan berakhir, tapi ia membentangkan hamparan masalah yang dihadapi tokoh-tokohnya: cinta, kematian, perasaan kalah, penyakit, dan kegilaan. Seperti juga novel-novelnya yang lain, ia juga menyisipkan sejenis eksotisme masyarakat Jepang, dengan lonceng besi di kuil tua dari masa Edo yang berdentang lima kali sehari, meskipun pembicaraannya terasa jauh lebih modern, dari masalah penyakit mental hingga kutipan dari Balzac tentang perempuan umur empat puluh tahun. Saya membayangkan jika novel ini merupakan catatan kepergiannya, ia merupakan percakapan muram yang tak berujung dan tak menjanjikan apa-apa. Percakapan itu terjadi, terutama di antara ibu Ineko dan kekasih Ineko bernama Kuno, selepas mereka mengantarkan Ineko ke panti orang gila di atas bukit, di sebuah kota kecil di mana pada musim semi bunga dandelion telah bermekaran. Banyak hal mereka percakapkan, dan tak jarang saling berseberangan, terutama menyangkut nasib Ineko. Ibunya percaya, tempat terbaik bagi Ineko adalah klinik tersebut, yang dikelola oleh sebuah kuil, sebab ia hanya ingin mengizinkan Ineko menikah dengan Kuno dalam keadaan sembuh. Sementara Kuno keberatan dengan keputusan tersebut, sebab percaya justru “cinta” (artinya menikah dan dirawat olehnya), yang akan membuat Ineko sembuh. Kita bisa tertawa dengan kenaifan Kuno, kenaifan yang dibawa oleh gejolak anak muda, tapi sekaligus kita tak juga menyalahkannya. Dalam pandangan Kuno, penyakit Ineko tidaklah terlalu serius. Ineko menderita kebutaan sejenak, terutama ia kadang tak bisa melihat bagian tubuh seseorang. Demikianlah sehabis bercinta, Ineko tiba-tiba tak bisa melihat wajah Kuno. Ibunya berpikir sebaliknya, itu penyakit berbahaya. Ia mendengar penyakit serupa dari dokter di mana seorang ibu mendadak tak bisa melihat wajah bayi yang dipangkunya, dan kemudian membunuhnya. Pembicaraan mereka melebar ka masa yang jauh, untuk mencari akar trauma dari penyakit tersebut. Mungkinkah karena Ineko pernah menyaksikan ayahnya yang jatuh bersama kuda tunggangan ke tebing pinggir laut? Dan apakah kematian ayahnya hanya kecelakaan biasa, atau simbol kekalahan Jepang dari perang? Bukankah sang ayah juga pernah mencoba bunuh diri di hutan, tapi diselamatkan seorang perempuan misterius, dan sejak mendengar kisah itu, Ineko merasa perempuan itu bersemayam di dalam dirinya? Novel ini bisa dilihat sebagai catatan traumatik, dan mengikuti kisahnya, saya merasakan jejak waktu yang makin lama semakin suram dan tanpa harapan. Kita tak pernah tahu apa yang terjadi selepas percakapan mereka, tapi saya membayangkan mereka tak akan pernah melihat Ineko lagi. Sebagaimana kesuraman kisah novel ini membawa kita kepada kenyataan, tak akan lagi mendengar sang penulis bercerita. “Bagaimanapun terasingnya seseorang dari dunia, bunuh diri bukanlah bentuk pencerahan. Semengagumkan apa pun dia, siapa pun yang bunuh diri jauh dari kesucian,” kata Kawabata dalam pidato penerimaan Hadiah Nobel, 1968. Jika novel ini catatan kepergiannya, jelas ia memang tak hendak memperlihatkan kesucian, ia memperlihatkan betapa rapuhnya manusia dan dunia.

Nadja, André Breton

  • Dalam pembacaan awal, saya melihatnya sebagai sejenis esai tentang kota, dalam hal ini Paris. “… patung Etienne Dolet di atas penyangganya di Place Maubert, Paris selalu menarik perhatianku sekaligus memaksa rasa tak nyaman yang tak tertanggungkan.” Paris, kota di mana kau bisa menemukan narator buku ini lewat setidaknya dalam tiga hari.
  • Bisa juga diperlakukan sebagai memoar. “Siapakah aku?” Sebab demikianlah buku ini dibuka. Si aku yang selalu “berharap bertemu, di malam hari di tengah hutan, dengan seorang perempuan cantik telanjang, atau, karena harapan semacam itu sekali dikatakan tak ada artinya sama sekali, aku menyesali kenapa tak bertemu dengannya.”
  • Saya kebetulan menemukan esai Mario Vargas Llosa di buku Touchstone tentang buku ini. Surealisme dan khususnya André Breton, memandang rendah novel, begitu katanya. Meskipun begitu, ia tak ragu untuk menyebut Nadja sebagai “novel orisinil tentang cinta.” Dan, jika itu novel, maka ini novel yang bagus, “sebab ia tak menceritakan dunia ini, meskipun berpura-pura demikian.”
  • Lebih tepatnya, dunia di novel ini dilihat dengan cara yang subyektif. Ia tak hanya mendeskripsikan dunia sebagaimana dilihat sang narator, tapi melingkupi kesan, fantasi, juga mimpi buruknya. Dunia tak melulu apa yang terhampar, tapi juga yang diketahui dari omong-omong kosong, dari potongan gambar, gagasan tak utuh, sebaris teks dari sebuah karya.
  • Mungkin memang bukan novel, bukan esai, apalagi puisi. Ia bukan apa-apa, sekaligus apa-apa.  Bagian pertama merupakan tulisan yang tampak ngalor-ngidul untuk menjelaskan “siapakah aku”, dan alih-alih mendeskripsikan tentang dirinya, narator sibuk bicara tentang banyak hal, dan menempelkan di halaman buku ini berbagai gambar yang ia berharap melengkapi ocehannya.
  • Jika Nadja adalah fiksi tentang seorang perempuan bernama Nadja, kita akan bertemu narator yang terus-menerus berusaha mendefinisikan siapakah Nadja ini, dan bagaimana perasaannya terhadap perempuan itu, serta hubungan macam apa yang dimiliki di antara mereka. “Untuk sementara waktu, aku berhenti memahami Nadja. Sebenarnya, barangkali kami tak pernah mengerti satu sama lain.”
  • Perempuan ini muncul di bagian kedua. “Aku melihat seorang perempuan muda berpakaian buruk berjalan ke arahku.” Perempuan yang di pertemuan awal itu sudah mengatakan memiliki “kesulitan finansial”. Ia pernah bekerja di toko roti, bahkan di penjagalan babi. Ia mengutip puisi, dan ia menggambar beberapa sketsa, sebab dengan cara seperti itulah kadang Nadja berbicara.
  • Gambar-gambar sketsa yang dibuat Nadja pada dasarnya bisa dinikmati secara mandiri. Kadang Nadja menerangkan apa makna, atau simbol apa yang ia coba sampaikan, tapi kadang ia juga tak mengerti apa yang digambarnya. Sketsa “Bunga Cinta” lumayan menyeramkan. Kelopak-kelopak bunga bergambar mata yang menatap tajam, sementara batangnya berawal dari seekor ular yang menganga. Begitu mungkin Nadja melihat cinta.
  • Kalau mau, boleh juga dianggap sebagai kritik sastra, atau kritik seni secara umum. “Bahagia rasanya, kesusastraan psikologis umurnya tak lagi panjang. Dan tak ada keraguan, semburan mematikan ini diembuskan oleh Huysmans.” Di novel ini, ia juga bicara tentang Chirico, Victor Hugo, hingga Robert Desnos. Puisi, novel, patung, hingga lukisan.
  • Sebagai pembaca novel, membaca Nadja memang terasa membaca sebuah “novel” yang sinis, yang terus-menerus meyakinkan pembacanya bahwa “aku bukanlah novel”. Seperti kita dibawa untuk berfantasi tentang Nadja melebihi sosok dengan tulang dan daging, kita diajak untuk terus-menerus bertanya, apa sesungguhnya sebuah novel, bagaimana novel didefinisikan? Yang jelas, seperti kata Llosa, Breton mempergunakan kebebasannya sebagai novelis untuk merdeka mempergunakan waktu, ruang dan kata-kata.

Jokes for the Gunmen, Mazen Maarouf

Untuk bertahan hidup, dalam perang maupun di hari-hari biasa, orang tak hanya memerlukan senjata, kekuatan, atau perlindungan berlapis-lapis, tapi juga membutuhkan “cerita” dan bahkan “lelucon”. Serius. Saya sering melakukannya. Di jalan, misal di dalam taksi, jika sopir taksi bertanya apa pekerjaan saya, saya suka mengarang cerita hanya agar pembicaraan berhenti dan saya bisa bebas melamun. Kadang saya mengaku sebagai pengecek stok jaringan toko baju (kalau kebetulan keluar dari mal) sambil berkata, “Jalan dari satu mal ke mal lain, ngecek apakah stok celana lelaki Zara di mal ini masih cukup, dan apakah sepatu Tumberland di toko sana masih melimpah.” Lain kali saya mengarang cerita sebagai pembuat es krim, dengan sedikit riwayat singkat bagaimana saya bisa jadi pembuat es krim. Lain kali saya ngaku sebagai developer web pakai Drupal. Sopir taksi biasanya tak minat bicara lagi. Kalau saya mengaku penulis, apalagi suka menulis di media massa, tamat sudah. Dia akan bertanya soal politik, soal ekonomi dan bisnis, bahkan soal problematika kehidupan rumah tangga sebab penulis dianggap serba tahu, dan dua puluh tahun ini saya sudah belajar hal penting sebagai penulis: jangan ngaku sebagai penulis ke sembarang orang. Kalau kamu ngaku sebagai penulis, paling apes yang terjadi adalah mendengar orang berkata, “Ah, anak saya suka menulis juga, bagaimana ya, cara menerbitkannya?” Cerpen-cerpen Mazen Maarouf dalam kumpulan cerita Jokes for the Gunmen penuh dengan kisah para tukang ngibul. Mengibul melalui cerita dan lelucon, dan sebagian besar dilakukan untuk bertahan hidup, atau setidaknya untuk membuat hidup lebih ringan dijalani. Seorang anak mengirim ibunya yang tua ke rumah perawatan, memberinya penyakit Alzeimer (meskipun tidak), dan untuk meyakinkan ibunya, setiap kali ia menjejalkan kepada ibunya kisah tentang lelaki tua yang bisa membuat mobil-mobil jadi biskuit raksasa. Si ibu mengisahkan dongeng biskuit itu ke dokter, dan dokter memberinya suntikan penenang. Itu di cerpen “Biscuit”. Di cerpen yang menjadi judul buku, si anak mencoba mengarang cerita agar ayahnya yang pecundang tampak hebat dan keren di depan teman-teman sekolahnya. Ia mengaku sering dipukul ayahnya dengan brutal. Punya ayah yang kasar dan senang mengirimkan jotosan merupakan hal keren di masa perang. Ayah paling kejam merupakan ayah paling keren. Ayah yang lemah tak menggampar anaknya dengan kejam. Ceritanya tak berhasil karena ayahnya memang payah, bahkan suatu hari ketahuan ayahnya habis dipukuli para gunmen. Bahkan ketika ayahnya kemudian kabur, meninggalkan keluarganya, sempat-sempatnya ia mengarang cerita bahwa sang ayah “diculik”. Pertanyaannya, sejauh mana orang bisa percaya atas sebuah kisah? Sejauh mana pula sebuah lelucon bisa meringankan beban hidup seseorang? Di cerpen “Matador”, seorang paman yang gagal jadi matador (cuma berhasil jadi tukang jagal), tapi memiliki kostum yang pernah dipakai Luis Miguel Dominguín, memperlihatkan perkara sebaliknya tentang bagaimana jika sebuah cerita, meskipun benar, tapi tak berhasil membuat orang memercayainya. Di cerita “Cinema”, meskipun tampak surealis, menyiratkan bahwa kisah di balik lubang proyektor, yakni di luar gedung bioskop, lebih menarik daripada yang terjadi di dalam. Jelas dalam peradaban manusia, kita bercerita tak melulu sebagai upaya untuk melarikan diri dari kenyataan hidup, untuk menghibur diri, atau sedikit lebih serius, untuk melihat kehidupan potensial. Tidak. Saya kira kita bercerita memang untuk bertahan hidup, seperti makan, tidur dan bercinta. Bahkan ketika tahu sebagian cerita hanya kibulan, sebagian cerita menyakitkan hati, dan sebagian cerita bisa membunuh orang, kita tetap bercerita dan mendengarkan cerita. Persis seperti cerpen “Curtain”, tentang suami-istri yang senang bercinta dengan jendela terbuka, hanya ditutup tirai tipis yang gampang tersibak angin, dan seorang boncel yang mengintip dari seberang. Kadang, untuk manjadikan hidup berjalan dengan baik, kita seperti pasangan yang membiarkan diri ditonton, atau menjadi si boncel yang menonton pergulatan orang lain. Sebab begitulah cerita, bukan?

Senyap yang Lebih Nyaring: Blog 2012-2014

Di tengah keriuhan orang di sosial media, saya mencoba terus produktif. Sejak tahun 2001 saya rajin menulis di blog, umumnya tentang buku-buku yang saya baca. Awalnya ingin menerbitkan semuanya, tapi ternyata jadi tebal sekali. Maka rencananya akan terbit dalam beberapa jilid. Yang pertama, khusus mengambil tulisan-tulisan dari tahun 2012-2014, diterbitkan dengan judul Senyap yang Lebih Nyaring: Blog 2012-2014 (Penerbit Circa, 2019). 350 halaman, meliputi 107 esai, ditambah satu pengantar. Ini buku non-fiksi saya yang kedua, secara keseluruhan merupakan buku kesepuluh.

Buku tersebut bisa dibeli di beberapa toko buku daring:

Unbreakable, Split, Glass

Beragam pertanyaan muncul setelah menonton tiga film M. Night Shyamalan. Elijah Price di film Unbreakable yakin bahwa komik, terutama komik superhero, juga merupakan “catatan” penting mengenai sejarah manusia dan apa yang bisa mereka lakukan. Dengan kata lain, kisah tentang manusia bisa terbang, manusia yang bisa menghilang, dan dalam kasus film ini, manusia yang tak bisa dihancurkan, bukanlah dongeng omong-kosong. Jika cerita-cerita rakyat dipenuhi dengan manusia-manusia berkekuatan dewa, demikian pula karya-karya klasik penuh dengan pahlawan-pahlawan berkekuatan luar biasa, dan mereka memberi banyak pengaruh kepada peradaban manusia, kenapa buku komik tidak? Buku komik jelas merupakan lanjutan tak terputus dari “catatan” tersebut. Bahkan meskipun kita bisa yakin bahwa apa yang dikisahkan hanya fantasi, hanya dunia spekulasi manusia, setidaknya fantasi dan spekulasi ini berkesinambungan. Jika dari zaman lampau hingga industri komik ala Marvel dan DC mereka terus dilahirkan, tentu mestinya ia menjadi bagian dari kesadaran manusia, di luar konteks industrinya sekalipun. Film ini jelas bukan sekadar film tentang superhero, lebih penting dari itu, ini film tentang hubungan manusia dengan kisah superhero, dan juga tentang di mana letak buku komik dalam peradaban manusia. Di film berikutnya, yang dirilis tujuh belas tahun kemudian, Split (2017), mencoba membacanya seperti saya membaca film sebelumnya, saya membayangkan film ini sebagai penjelajahan manusia dengan fiksi sains. Memang film ini tidak bicara tentang fiksi sains (berbeda dengan film sebelumnya yang jelas memperkenalkan kita kepada pemujaan industri buku komik), tapi cerita dan pendekatan film ini mengingatkan saya kepada fiksi sains. Terutama tentang bagaimana kejahatan tercipta dan sains seringkali tak sanggup mengatasinya, setidaknya orang yang berada di belakang sains malah jadi korban. Salah satu yang sering menjadi kritik dan perbincangan mengenai fiksi sains, di luar keakuratan, adalah representasi, terutama jika yang dimunculkan adalah sosok jahat seperti berbagai kepribadian yang dimiliki Kevin Wendell Crumb. Banyak yang keberatan bahwa penganut DID akan cenderung melakukan kekerasan dan berubah menjadi monster, dan film macam begini hanya memperburuk stigma terhadap penderita mental disorder. Masalahnya, sains fiksi seringkali menjadi sains fiksi justru ketika ia melebih-lebihkan apa yang kita ketahui mengenai obyek sainsnya. Bahkan film tentang dinosaurus, tentang hiu pemangsa manusia, juga banyak dikritik para ilmuwan karena menciptakan imaji buruk tentang binatang-binatang tersebut. Pertanyaannya, mengapa kita selalu kembali ke sana? Selalu kembali kepada dunia spekulatif bahwa sesuatu (ia bisa manusia penderita DID, bisa ikan hiu ganas, bisa pula ular raksasa di hutan Amazon) bisa menjadi monster jahat? Apakah sosok jahat, sebagaimana manusia super, merupakan obsesi manusia yang terus dilahirkan sejak dari tradisi dongeng rakyat (atau bahkan lukisan gua) hingga industri film Hollywood? Di luar pertanyaan itu, film ini merupakan suguhan beragam ketegangan yang mencengkeram. Jika kamu terseret oleh pertanyaan-pertanyaan tersebut ketika menonton kedua film, mungkin kamu tak akan memperolehnya ketika melihat film ketiga, Glass (2019). Setidaknya tidak terjadi pada saya. Ia kehilangan misteri dan spekulasinya, dan meninggalkannya sebagai film superhero ditambah thriller psikologi yang sudah dijelajah sangat dalam di dua film sebelumnya. Kita hanya bertemu penjahat super, yang bukan hal baru dalam film-film sejenis, di mana sejenis pepatah seolah berkata, di atas langit kejahatan masih ada langit kejahatan lainnya.

In French

Three of my novels are already available in French translation. All of them translated by Etienne Naveau and published by Sabine Wespieser Editeur. Also available in pocket editions from Folio. Left to right in original titles: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014), Lelaki Harimau (2004), and Cantik Itu Luka (2002). Bonne lecture!

Intelektual Publik

Apa rasanya jika kamu telah menyelesaikan pendidikan bertahun-tahun di bidang tertentu, kemudian pandanganmu didebat habis-habisan oleh orang awam yang bahkan belum lulus sekolah?

Apa rasanya jika kamu seorang ahli penuh pengalaman di pekerjaan tertentu, tapi keputusan-keputusanmu dipertanyakan oleh orang yang bahkan penganggur?

Jika pandangan mereka memang menantang nalar atau memberi sudut pandang baru, mungkin kita akan tercengang. Akan tetapi, yang lebih sering terjadi, kadang-kadang pendapat itu tak hanya ngawur, bahkan tak memiliki dasar argumen yang kuat, tak memiliki referensi yang dipercaya, tapi orangnya ngeyel tak mau kalah. Saya yakin, dalam situasi kedua itu, kita lebih sering jengkel dan mungkin frustrasi untuk menjelaskan panjang lebar.

Apa boleh buat, kita telah, tengah, dan akan terus menghadapi hal seperti itu di masa kita, terutama dengan penetrasi luar biasa media sosial. Pendidikan, pengalaman, dan bahkan kepakaran seseorang tiba-tiba terasa tidak ada artinya.

Yang lebih penting, tampaknya, siapa yang bisa lebih ribut dan kemudian memiliki pendukung lebih banyak. Mereka menciptakan kor untuk semakin ribut dan akhirnya menenggelamkan suara ahli.

Bayangkan pula, suatu hari tiba-tiba seseorang bicara di akun media sosialmu. Mungkin itu kenalan jauhmu atau teman lamamu. Dia mengajakmu untuk hijrah, untuk beribadah lebih sering, untuk menutup auratmu lebih rapat, sementara kamu tahu hidupnya juga tak saleh-saleh amat. Ketika kamu merasa tak nyaman dengan khotbahnya, dia hanya akan berkata, “Maaf, cuma mengingatkan.”

Sementara itu, seseorang yang benar-benar memiliki kapasitas di bidang hukum, sosial, atau agama ketika mencoba mengingatkan sesuatu dengan mudah diledek sebagai SJW. Social justice warrior. Meskipun istilah itu mungkin baik, ledekan tersebut lebih sering merupakan upaya membungkam dan meremehkan.

Sekali lagi, sialnya, hal itu tak terelakkan. Internet dengan berbagai produk terkininya menciptakan dunia yang lebih terbuka. Nyaris tanpa sekat. Selama memiliki akses terhadap layanannya, siapa pun bisa bertemu di sana. Tanpa memandang kelas ekonomi, suku, bangsa, agama, dan tentu saja tingkat keilmuan.

Situasi itu pada dasarnya anugerah. Jika di dunia nyata orang terkotak-kotak oleh kategori-kategori itu (kecil kemungkinan seorang janitor di sebuah perusahaan berdebat dengan direktur utama, bahkan mengenai kebersihan toilet sekalipun), internet memungkinkan kita menghapus sekat-sekat tersebut. Siapa pun bisa bicara.

Saya mengatakan anugerah karena di bidang lain, ruang itu menampilkan wajah yang hampir sama tapi dengan efek yang berbeda. Jika media sosial diganti dengan layanan pasar bersama semacam Tokopedia, Shopee, atau Bukalapak, hasilnya: Pedagang rumahan kadang bisa bersaing serius dengan pemilik brand ternama. Bahkan, beberapa perusahaan ritel mulai menutup banyak toko karena serbuan pemain-pemain kecil di pasar daring.

Bisa dibayangkan para pemain besar itu juga jengkel sebagaimana para pakar. Mereka sudah berinvestasi bertahun-tahun di sebuah produk, melakukan riset yang lama, tiba-tiba industri rumahan hanya dengan modal kecil dan coba-coba malah menggerus omzet mereka. Biaya iklan yang jor-joran tiba-tiba terasa tiada artinya.

Tentu saja korban pemain kecil juga berlimpah. Para penjual pulsa telepon merupakan orang-orang yang menjerit oleh kemudahan membeli pulsa melalui ATM maupun layanan toko digital. Demikian juga ojek pangkalan, kena hantam layanan berbasis aplikasi. Pasar hotel tergerus layanan Airbnb, di mana kamar rumah pun bisa disewakan.

Di bidang ekonomi itu, internet membuat para pemain besar maupun kecil bisa berjaya sekaligus bisa tumbang. Pokok soalnya, menurut saya, ada di lingkungan yang berubah. Ada yang beradaptasi dengan baik, ada yang tidak.

Ibu rumah tangga di kompleks rumah saya salah satu yang beradaptasi dengan baik. Tanpa punya warung, kini dia bisa berjualan pempek. Pelanggannya datang dari radius 10 kilometer hanya karena aplikasi layanan antar.

Bagaimana dengan dunia media sosial, dengan kejengkelan para pakar menghadapi gerombolan orang-orang awam yang ribut dan sok tahu? Pertama, bisa saja para pakar itu merupakan pemain lama yang juga kaget dengan lingkungan baru. Seperti perusahaan-perusahaan besar yang brand-nya tak lagi dilirik karena orang beralih untuk berbelanja di toko daring.

Kedua, meskipun kejengkelan mereka bisa dimengerti, seperti di bidang ekonomi, bukankah dunia internet dan digital juga memungkinkan kita memperoleh gagasan-gagasan baru dan hebat yang datang bukan dari “pakar” secara tradisional? Persis sebagaimana kita menemukan penjual kue pisang di layanan antar, yang enak luar biasa meskipun tak punya merek?

Kita tak bisa melupakan kenyataan bahwa tak semua orang memiliki akses terhadap pendidikan sebagaimana tak semua orang punya akses pada modal. Yang terpenting justru bagaimana memperbaiki situasi ini.

Sebagaimana komunitas ekonomi (pemerintah, bank, bahkan konsumen) bahu-membahu mendidik pelaku ekonomi kecil untuk meningkatkan kualitas produk dan akses pasar, komunitas intelektual bisa melakukan hal yang sama. Pendidikan dan para pakar tak lagi harus dijalankan dan dihasilkan melalui sekolah maupun perguruan tinggi.

Seperti banyak bisnis, artis, selebriti, bermunculan melalui dunia internet dan digital. Saya yakin dunia intelektual juga seharusnya demikian. Apa yang disebut sebagai intelektual publik, yakni intelektual atau pakar yang tidak berasal dari lingkungan akademis, justru sangat mungkin lahir dalam kultur tersebut.

Orang bisa belajar pemrograman dan bahkan merakit mesin melalui internet. Jadi, kenapa tidak belajar sosial, politik, agama, juga filsafat? Sekarang pokok soalnya, bagaimana kita menciptakan pakar-pakar baru sama baiknya melalui perguruan tinggi maupun YouTube atau layanan lain. Itu seharusnya menjadi tantangan baru dunia intelektual kita.

Diterbitkan di Jawa Pos, 6 April 2019.

Sastra yang Mendefinisikan Indonesia

Diskusi panas terjadi mengiringi pernyataan yang ditulis Pamela Allen dan diterbitkan National Center for Writing, Inggris, berjudul ”Where are all the Indonesian writers?”.

Esai itu diterbitkan dalam rangka menyambut Indonesia sebagai Market Focus dalam perhelatan London Book Fair yang berlangsung minggu depan. Ia antara lain menulis:

“Bahkan sejak ‘permulaan’ kesusastraan Indonesia modern pada awal abad ke-20, para penulis terlibat dengan proyek menciptakan dan mendefinisikan identitas Indonesia, sebuah upaya yang berkembang dari gerakan nasionalis. Kesusastraan dipandang tak sekadar produk konsumsi dan hiburan, tapi juga bagian penting dari proyek pembangunan nasional.”

Esai tersebut sebetulnya sudah terbit beberapa waktu di jurnal In Other Words dengan judul berbeda. Selepas memancing polemik dan mengundang beberapa esai bantahan, entah kenapa, National Center for Writing menghapus esai tersebut dari lamannya semula.

Tulisan itu kurang lebih mencoba menjawab kenapa kesusastraan Indonesia tak begitu tampil di dunia. Melanjutkan pernyataan di atas, ia mencoba menjawab, “… apresiasi penuh atas banyak karya sastra Indonesia bergantung pada pemahaman atas konteks sosial-politik”, yang akhirnya, “untuk beberapa pembaca, ‘keliyanan budaya’ ini terlalu menantang, terlalu kompleks, atau memang terlalu sulit.”

Di sinilah saya kira masalahnya muncul. Pertama, adakah yang salah dengan proyek menciptakan dan mendefinisikan identitas nasional? Hampir sebagian besar kesusastraan negara-bangsa di dunia, langsung tidak langsung, terlibat dalam proyek semacam ini.

Amerika tak hanya dibangun oleh para pemburu emas, tapi juga oleh The Adventures of Huckleberry Finn dan Moby-Dick. Bahkan Cien años de soledad tak hanya disebut memberikan imajinasi bagi Kolombia, tapi bahkan bagi Amerika Latin.

Kedua, apakah “keliyanan budaya” membuat sebuah karya jadi sulit dibaca? Tentu saja saya akan sedikit bersusah payah untuk membaca Shakespeare dengan konteks sosial dan bahasa Inggris abad ke-16.

Saya juga harus susah payah membaca novel-novel Hungaria, Ceko, atau Polandia pada masa cengkeraman komunisme, sesuatu yang tak terpikirkan oleh pembaca Indonesia di mana orang-orang komunis justru dibantai habis.

Dengan segala kesusahpayahan tersebut, apakah kedongkolan harus ditujukan kepada Shakespeare, László Krasznahorkai, Bohumil Hrabal, atau Witold Gombrowicz beserta kesusastraan nasional mereka? Saya kira tidak.

Setiap karya sudah pasti memberikan tantangan bagi pembaca. The Tin Drum karya Günter Grass sudap pasti berkaitan erat dengan Jerman di antara dua Perang Dunia. Demikian pula Midnight’s Children Salman Rushdie memiliki keterkaitan dengan sejarah dan nasionalisme India.

Kita tak hanya menghadapi keliyanan budaya, tapi juga kelas, sejarah, agama, termasuk gender. Dalam tingkat tertentu, semua karya bisa menyulitkan bagi sembarang pembaca. Justru di situlah salah satu fungsi kesusastraan, untuk menjembatani dinding-dinding pemisah keliyanan tersebut.

Ketiga, tanpa menampik keberadaan “keliyanan budaya” yang sama, kita juga sebaiknya curiga dengan apa itu proyek penciptaan dan pendefinisian identitas Indonesia ini. Kenapa ia cenderung mengabaikan kesusastraan yang “sekadar” produk konsumsi dan hiburan? Lihat, misalnya, bagaimana periodisasi kesusastraan Indonesia secara umum sejalan dengan lini masa peristiwa sosial-politik besar.

Banyak hal menarik dalam esai Pamela Allen. Satu hal yang menjadi perdebatan panas adalah kenapa pertanyaan mengenai kesusastraan Indonesia itu justru dijawab pengamat luar -meski ia telah sangat lama mempelajari dan menerjemahkan karya sastra Indonesia.

Saya tak akan masuk ke pembicaraan tersebut, yang telah banyak diperbincangkan para penulis dengan baik, dan akan kembali ke masalah proyek menciptakan dan mendefinisikan identitas Indonesia.

Telaah-telaah semacam Novel Populer Indonesia karya Jacob Sumardjo, misalnya, seberapa sering memperoleh tempat yang baik? Juga karya-karya yang dibahasnya, di mana tempatnya dalam kesusastraan Indonesia?

Proyek-proyek penerjemahan karya sastra, sebagaimana mengiringi perhelatan semacam Frankfurt dan London Book Fair, lebih sering meng-kelas-dua-kan mereka.

Tentu banyak masalah di luar sana. Dalam konteks kesusastraan global, rezim dan selera penerbit-penerbit asing yang bisa jadi sangat “Barat” merupakan satu masalah. Dominasi bahasa Inggris adalah masalah lain. Mentalitas kolonialisme sebagai struktur dunia, yang pengaruhnya tetap kuat hampir seabad setelah Perang Dunia II, juga menjadi catatan.

Namun, jejaring-jejaring di dalam kesusastraan Indonesia sendiri, saya rasa, perlu memperoleh sorotan. Jejaring seperti Lontar Foundation jelas memberikan banyak pengaruh kuat terhadap ilusi mengenai identitas Indonesia dalam karya sastra ini. Tentu beserta akibatnya: pengabaian terhadap kecenderungan-kecenderungan kesusastraan yang lain.

Pengaruh itu bisa jadi karena posisi mereka dalam distribusi karya sastra maupun kekuatan kapital yang mampu menggerakkan aktivitas mereka secara berkesinambungan. Lontar, sebagai salah satu contoh, memperoleh momentum yang penting di antara pergelaran Frankfurt dan London Book Fair, di mana karya-karya sastra Indonesia dalam terjemahan menjadi produk yang dipamerkan.

John McGlynn, editor penerbit Lontar, dalam wawancara dengan The Jakarta Post pada 2017 mengatakan, “Penerbit (asing) tak mencarimu, mereka mencari Indonesia.”

Jika dia percaya dengan apa yang dikatakannya, lantas seperti apa “Indonesia” yang dia maksud? Bukankah dia tak perlu mencari genius-genius kesusastraan? Dia hanya perlu mencari para penulis yang cocok dengan bayangannya tentang Indonesia –dan tepat di titik seperti inilah salah satu masalah kesusastraan Indonesia berawal.

Diterbitkan di Jawa Pos, 9 Maret 2019.

Membaca Cerita-cerita Isaac Babel

Isaac Babel merupakan salah satu yang tersisa dari era Sovyet. “Ditemukan” oleh Maxim Gorky, dan konon terus dimentori olehnya sampai Gorky sendiri mati. Salah satu penulis cemerlang berbahasa Rusia (awalnya ia menulis dalam bahasa Prancis), seorang revolusioner, yang harus berkahir tragis ditembak mati polisi rahasia Stalin. Permohonan terakhirnya sebelum dieksekusi hanya, “Izinkan aku menyelesaikan tulisanku.” Meskipun banyak karyanya dihancurkan, dan namanya sempat dilupakan (sebelum direhabilisasi oleh rezim Sovyet kemudian), beruntunglah kita masih bisa bersua cerita-ceritanya. “Old Shloyme”. Cerpen pendek (konon karya pertamanya) tentang bangsatnya menjadi tua dan harus berubah. Ngilu. Bisa juga dibaca sebagai satir, tentang enaknya duduk di pojok hangat dan tak mau hengkang. “At Grandmother’s”. Kali ini seorang perempuan tua, dihajar rasa nyeri pada dunia yang tak adil. Di mana kebaikan dan rasa belas-kasih hanya menjadi santapan kerakusan. Ia marah dan berharap cucunya bisa berdiri merampas dunia. “Belajarlah, dan kau akan memperoleh segalanya. Kekayaan dan kejayaan!” Dan jangan percaya pada orang, pada teman. Jangan berikan uangmu, jangan berikan hatimu. Cerita yang penuh kemarahan. Tapi semarah apa pun, rumah seorang nenek tetaplah tempat tidur terbaik untuk seorang cucu. “Elya Isaakovic and Margarita Prokofievna”. Bisa jadi ini kisah seorang pelacur (dan pelanggannya) termanis yang pernah saya baca. Mereka dipertemukan oleh dua kebutuhan. Si pelacur tentu saja butuh uang untuk hidup dan sewa kamar. Si pelanggan butuh tempat berbaring, tubuh untuk dipeluk, teman untuk berbincang di kala sarapan. Mereka sadar hubungan itu hanya transaksional saja, tapi mereka tahu bagaimana mengakhiri dua malam itu dengan cara yang manis. “Mama, Rimma, and Alla”. Tentang seorang ibu dengan dua gadisnya, sementara di rumah juga ada para perjaka, mahasiswa yang menyewa kamar. Si gadis sulung ingin pergi dari rumah, bebas merdeka. Si gadis bungsu tak berkata apa-apa, sampai ketahuan bunting. Seperti mentornya, Gorky, cerita-cerita Babel penuh dengan problem-problem masyarakat jelata dengan keseharian mereka, dan selalu memiliki cara tersendiri bagaimana menyelesaikan persoalan tersebut. “The Public Library”. Sebuah sketsa tentang perpustakaan. Sedikit meromantisir kehidupan perpustakaan, meskipun kemudian disikat dengan pernyataan, di luar jendela … kehidupan tengah bermekaran. “Nine”. Ini semacam studi tentang karakter, tentang sembilan orang tamu yang berkunjung menemui seorang editor majalah. Entahlah, tiba-tiba saya membayangkan tujuh orang samurai dalam film Kurosawa. “Odessa”. Sebuah sketsa tentang kota dan para penghuninya, di satu sisi, dan studi tentang bagaimana para penulis lain (Turgenev, Dostoyevsky, Gogol, Gorky) menggambarkan kota mereka. Kenapa Gorky begitu mencintai matahari? “The Aroma of Odessa”. Masih sebuah sketsa tentang Odessa, kali ini dilihat melalui apa yang ditulis di halaman majalah, dan bagaimana ia dibentuk oleh kaum pendatangnya. Sangat jarang menemukan sketsa-sketsa semacam ini di tangan penulis-penulis kontemporer. Setidaknya mereka jarang menerbitkannya, barangkali kita terlalu terobsesi kepada sesuatu yang dramatik. “Inspiration”. Baiklah, ini lelucon kuno tentang inspirasi, tentang penulis pemula yang meledak-ledak dan merasa memiliki gagasan hebat, tapi kau tahu, yang bicara terlalu bawel dan keras biasanya tak ada isinya. Ada peribahasa soal itu, kita semua tahu. “Doudou”. Perasaan saya agak campur-aduk. Cerpen ini barangkali bisa diringkas dengan satu perkataan Doudou, si gadis yang dijadikan judul setelah ia memberikan tubuhnya kepada prajurit yang sekarat: “Ia kedinginan, ia sekarat, ia sendirian, ia memintaku, akankah kukatakan tidak?” Cerpen berikut, “Shabos-Nakhamu”, merupakan kisah komedi tentang Yahudi yang menipu sesamanya, menipu seolah ia merupakan utusan Tuhan dari dunia lain untuk memberi kabar kepada manusia. Seperti membaca sejenis kisah dari Seribu Satu Malam yang konyol. “On The Field of Honor”. Merupakan tiga kisah horor dari medan perang, tentang tiga kematian. Percayalah, tak ada yang lebih horor kecuali mati di medan perang bukan oleh musuh, tapi oleh tangan-tangan kawan sendiri, langsung tidak langsung. Terutama oleh kelemahan diri sendiri. “The Sin of Jesus”. Seorang perempuan berlumur dosa, menemui Jesus memecahkan masalah hidupnya. Jesus bertanya, bagaimana jika kau menempuh jalan yang suci saja? Jawab si perempuan: Kau pikir setiap orang harus berhenti hidup? Kau masih saja menyanyikan lagu usang! “An Evening with The Empress”. Bukan dengan ratu sebenarnya, tentu. Ini sketsa tentang sebuah perpustakaan, yang kebetulan memperoleh nama dari sang ratu. Dikisahkan oleh seorang gembel kelaparan yang mencari tempat bernaung dan tidur. “Chink”. Tentang seorang Cina, pelacur dan lelaki tua. Si Cina menawar si pelacur. Si pelacur mau, asal mereka boleh menampung lelaki tua gembel. Apa yang akan terjadi ketika ketiga orang itu ada di kamar? Saya rasa ini cerpen paling brutal dari Babel, sejauh ini. “A Tale About A Woman”. Seorang perempuan yang ditinggal mati suaminya di medan perang, dan kemudian disia-siakan orang-orang di sekelilingnya. Dalam kisah-kisah Babel, kemudian saya sadar, saya sering menemukan nasib-nasib malang manusia, kontras dengan alam yang cemerlang dan indah. Terasa nyeri jadinya. “The Bathroom Window”. Seorang bocah yang membayar demi bisa menaiki tangga dan mengintip pelacur lewat jendela. Lucu, tentu saja. “Bagrat-Ogly and The Eyes of His Bull”. Tentang seorang anak yang kehilangan sapinya, dibunuh oleh tetangganya karena cemburu. Si narator mencoba melihat rasa marah ini, yang terpantul lewat mata si sapi, untuk melihat kemarahan sosial yang lebih luas. “Line and Color”. Dalam sebuah tradisi parabel, tentang kisah kebijaksanaan. Mana yang lebih berharga, dunia imajinasi yang lebih kaya atau kenyataan yang mungkin menyakitkan? “You Missed The Boat, Captain!” Dalam cerpen-cerpen Babel yang sebagian besar sangat ringkas, saya sering membayangkan bahwa kisah-kisah ini adalah penggalan dari sebuah epik yang jauh lebih luas. Katakanlah cerpen ini, kita bisa memulai sebuah novel tentang para pelaut. Babel menulis dengan begitu detail, telaten, seolah ia hendak menulis ratusan halaman, meskipun apa yang tertulis hanya dua atau tiga halaman. “The End of St. Hypatius”. Sebuah biara yang berakhir menjadi apartemen kaum buruh, tentu selepas revolusi yang berhasil. “A Story”. Ini merupakan versi yang lebih awal dari cerpen “The Bathroom Window”. Mungkin menarik untuk membandingkannya, sekaligus menelaah semua cerpen-cerpen ini sebagai titik berangkat Babel, sebab cerpen-cerpen di atas merupakan karya-karya awal dari sang penulis.

The Collected Stories of Isaac Babel terbitan W.W. Norton disebut-sebut yang paling komplet menghimpun cerita-cerita Babel dalam bahasa Inggris. Sejauh ini, saya melihat kisah-kisah ini dipenuhi gembel dan bajingan, diselingi sketsa-sketsa kasar tentang beberapa hal. Ia memiliki empati pada tokoh-tokohnya, juga lanskapnya, meskipun kadang dengan kejam juga menertawakan nasib mereka. Cerpen-cerpen berikutnya, diambil dari masa-masa Odessa. Cerpen-cerpen tentang kehidupan di kota tersebut, terutama para bajingannya. Saya merasa cerpen-cerpen ini mulai memperlihatkan darah dan daging yang lebih nyata dibandingkan kisah-kisah di awal karirnya. “The King”. Bayangkan sebuah fragmen dari sebuah film mafia. Dibuka dengan lanskap pesta pernikahan. Yang menjadi pengantin adalah adik perempuan si mafia, yang dipanggil Raja, dan sang Raja sendiri ada di sana. Pada saat yang sama, polisi distrik baru saja memperoleh kepala polisi yang baru dengan program kerja hari pertama: memberangus gerombolan bajingan pimpinan Raja di hari pernikahan adiknya. Apa yang terjadi? Sang Raja tentu saja mendahului apa yang ada dipikiran polisi. Ini merupakan perkenalan pertama dengan Benya Krik, sang raja gangster dari Odessa. “Justice In Parentheses”. Kali ini kita berhadapan dengan sesorang (yang kebetulan narator kisah ini, “si aku”), dan bagaimana akibatnya bermain-main, lebih tepatnya mempermainkan Benya Krik. Sebenarnya bukan bermaksud mempermainkannya, tapi tak lebih dari sekadar mengambil risiko, demi memberi makan keluarga. Katakanlah si aku ini mendengar seseorang bicara tentang “celah keamanan” sebuah toko koperasi yang uniknya bernama “Keadilan”. Masalahnya, celah keamanan itu bocor tentu saja memang untuk mengundang perampok masuk. Diam-diam si aku mengirimkan informasi celah keamanan ini kepada Benya. Sial. Pada hari yang sama, Benya dan gerombolannya menggeruduk toko koperasi itu, di tempat yang sama ada gerombolan perampok lain juga tengah bekerja. Benya merasa dipermalukan, harga dirinya terluka. “Keadilan” akan datang untuk si aku, meskipun pada akhirnya toh ia masih juga bertahan hidup. “How Things Were Done In Odessa”. Di cerpen inilah, kemudian kita tahu kenapa Benya Krik dipanggil “Raja”. Bukan semata karena teror yang diciptakannya, tapi bagaimana ia menegakkan hukum jalanan dengan caranya sendiri, tanpa kompromi. Ada banyak bajingan di Odessa, tapi kemudian Benya yang memperoleh sebab itu, bahkan meskipun asal-usulnya menjadi bajingan karena ia memperoleh restu dari para bajingan lain: untuk merampok seorang saudagar paling kaya di Odessa. Saudagar yang pernah coba dirampok sembilan kali oleh kelompok bajingan itu dan semuanya gagal. Benya melakukan yang kesepuluh dan berhasil. Tapi bukan itu yang membuatnya jadi raja. Bukan. Di saat melakukan perampokan, satu anak buahnya mabok dan tanpa sengaja menembak mati si penjaga toko, anak satu-satunya seorang perempuan setengah baya. Di situlah ia memunculkan dirinya menjadi raja. Tentang bagaimana ia bersikap atas kematian si penjaga toko, dan hukuman apa yang harus diterapkannya kepada si anak buah mabuk. Satu hal yang paling menarik dari kisah ini adalah bagaimana Benya bisa menjadikan kematian si penjaga toko sebagai sebuah tragedi kelas, ketika ia berpidato di pemakamannya: “Apa yang telah dilihat Josif kita tersayang dalam kehidupan? Satu omong kosong besar. Apa yang dilakukannya untuk hidup? Ia menghitung uang orang lain. Untuk apa ia mati? Ia mati untuk seluruh kelas pekerja.”

Tentu ini perjalanan yang baru beberapa langkah dalam menjelajahi cerita-cerita Babel, tapi saya putuskan berhenti dulu di sini, meninggalkan rasa penasaran yang semestinya kepada khalayak ramai.