Eka Kurniawan

Journal

Author: Eka Kurniawan (page 1 of 33)

How Fiction Works, James Wood

Realisme hanyalah salah satu genre dalam fiksi, tak bisa dianggap lebih dekat dengan kenyataan dibandingkan genre lain. James Wood menyodorkan satu (sub?) genre lain: realisme komersil, sebagai salah satu brand paling kuat saat ini dalam fiksi. “… brand ini secara ekonomi akan direproduksi, terus dan terus.” Realisme (seperti genre lain) tak lebih dari satu tata bahasa dan seperangkat aturan. Karena direproduksi terus-menerus, ia menjadi konvensi, lalu menjadi kebiasaan. Memberontak atas konvensi ini? Ia akan menciptakan konvensi baru, tentu saja. “Konvensi ini, seperti metafor, tidak mati tapi selalu sekarat. Seniman senantiasa mencoba mengakalinya.”

*

Kenapa Don Quixote butuh Sancho Panza? Menurut James Wood, salah satunya adalah agar ada teman ngobrol. Bagaimana jika tak ada teman ngobrol? Si tokoh akan bicara dengan Tuhan (berdoa), sebagaimana terjadi di teks-teks keagamaan. Dalam naskah untuk pertunjukan, si tokoh akan bicara dengan penonton. Bicara kepada Tuhan kemudian kepada penonton merupakan perkembangan yang signifikan dalam teknik monolog, hingga lahirlah novel yang memberi ruang sempurna untuk apa yang disebut: ngomong (kepada diri) sendiri. Demikianlah evolusi monolog dan lahirnya arus-kesadaran.

*

Di tahun 2006, para polisi di wilayah paling garang di Mexico City diminta untuk membaca sastra. Tak tanggung-tanggung daftar bacaan mereka: Don Quixote, Pedro Paramo, The Labyrinth of Solitude, One Hundred Years of Solitude, hingga karya-karya Agatha Christie dan Edgar Allan Poe. Tujuannya, seperti diutarakan kepala polisinya, “Satu, agar polisi memiliki kosa kata yang lebih luas; dua, memiliki pengalaman tak langsung banyak aspek keduniawian (ya, seperti kata banyak orang, buku adalah jendela dunia); dan ketiga, mempertaruhkan hidupmu demi hidup dan harta orang lain membutuhkan keyakinan yang dalam … kontak dengan sastra diharapkan membuat petugas polisi lebih berkomitmen atas nilai-nilai yang harus mereka pertahankan.”

Terlepas dari perdebatan apakah tujuan sastra memang sepraktis itu atau tidak, menurut saya sih menarik, ya. Meskipun benar, menyibukkan diri baca buku untuk “mengenal dunia” terdengar seperti satu paradoks.

*

Wittgenstein pernah mengeluh bahwa kiasan-kiasan Shakespeare “dalam arti umum, buruk”. Mungkin yang dimaksud adalah metafora Shakespeare: coba tengok “the moody frontier of a servant brow”, dari Henry IV. Kata James Wood, ada pembaca yang akan keberatan bahwa “brow cannot be a frontier, and that frontier cannot be moody.” Tapi, ia melanjutkan, perumpamaan Shakespeare lebih sering merupakan dunia spekulatif daripada mekanikal, di mana pembaca (penonton) diminta untuk mencampakkan perbandingan-perbandingan yang akrab/biasa.

Sekarang mari tengok metafora Thomas Hardy dalam Far From Madding Crowd: “a scarlet handful of fire”. Segenggang pasir sih, baiklah. Tapi segenggam api? Lagipula siapa mau menggenggam api? Kembali menurut James Wood: Inilah justru kekuatan metafora, membuat yang akrab menjadi asing. Atau sebaliknya, membuat yang asing menjadi akrab?

*

Saya rasa memang tak perlu memberi komentar banyak tentang buku ini, yang pada dasarnya juga merupakan komentar atas pembacaan panjang James Wood atas novel-novel sejak Don Quixote (yang paling tua) hingga Terrorist John Updike, kecuali mengutip beberapa bagiannya yang menarik (dan ini sulit, sebab rasanya ingin mengutip seluruhnya). Ia bicara tentang strategi-strategi naratif yang berkembang bersama evolusi novel (termasuk bagian paling menarik tentang narasi-tak-langsung). Seperti telah dikatakan banyak orang, ini buku pendamping untuk para pencinta novel (fiksi secara umum), sebab ia menantang kita untuk membaca dengan cara yang segar dan berbeda.

Sesuatu untuk Diceritakan

“Orang-orang yang berpergian, memiliki sesuatu untuk diceritakan,” kata pepatah Jerman, yang saya kutip dari satu esai Walter Benjamin. Tentu saja, meskipun dalam kasus saya, seringkali saya terlalu malas untuk menceritakan kembali apa yang saya lihat atau alami (termasuk malas memotret). Saya termasuk jenis manusia yang lebih menikmati pengalaman jalan-jalan saat itu terjadi, membiarkan otak saya memilah mana yang penting untuk diingat dan mana yang tidak. Jika suatu ketika keluar kembali dalam bentuk tulisan, mungkin otak saya menganggap itu menarik. Tapi sesekali saya keluar dari kebiasaan itu, dan menuliskan sesuatu sementara ingatan tersebut masih segar, termasuk pengalaman perjalanan saya ke beberapa kota di Eropa akhir bulan lalu hingga awal bulan Oktober ini. Kunjungan saya ke kota-kota itu sebenarnya perkara sederhana: untuk membantu penerbit-penerbit mempromosikan novel saya yang terbit di sana. Saya bicara di depan forum atau bertemu dan menjawab pertanyaan wartawan. Itu saja. Tapi kunjungan kali ini menawari saya satu pengalaman untuk melihat gejolak politik Eropa dari sudut-sudutnya, yang meskipun jauh di sana, barangkali denyut-denyutnya bersilangan pula dengan peristiwa-peristiwa politik di negeri sendiri. Ketika tahu saya akan berpartisipasi di satu pameran buku di kota Goteberg, kota terbesar kedua di Swedia, seorang penulis kenalan memberitahu saya bahwa banyak penulis Swedia (juga internasional termasuk Ngũgĩ wa Thiong’o) memboikot pameran tersebut. Tentu ada pula yang tetap datang (seperti Arundhati Roy). Masalah utama dari aksi boikot tersebut adalah keputusan panitia pameran buku memberi tempat kepada kelompok media sayap kanan. Kenalan saya tak bertanya apa pun tentang keputusan saya dengan informasi itu. Tapi bukan penulis jika bisa melarikan diri dari tuntutan-tuntutan ekspresi politis: semua wartawan yang saya temui di Goteberg, meskipun diawali dengan “Anda tak perlu menjawab jika tak nyaman”, akan menanyakan perihal itu. Bagi saya jelas, saya tak punya masalah kelompok mana pun, termasuk sayap kanan, untuk ambil bagian di pameran buku. Itu bukan tindakan kriminal. Mengikuti Voltaire, saya bisa tak sependapat, tapi saya akan membela haknya untuk mengungkapkan hak (atau berada di pameran tersebut). Tapi tentu saja saya juga menghormati para penulis yang memutuskan untuk memboikot, yang barangkali memiliki alasan-alasan yang lebih memadai yang tidak saya ketahui. Saya kemudian bercerita kepada wartawan-wartawan itu tentang keputusan pemerintah Indonesia membubarkan organisasi yang tak sesuai dengan ideologi negara (HTI, dalam hal ini). Saya tak sependapat dengan pandangan-pandangan organisasi ini, tapi membubarkannya jelas saya juga tak sependapat. Pembubaran satu organisasi akan menjadi alasan (dan tabiat) untuk membubarkan organisasi apa pun yang tak sejalan dengan politik pemerintah di lain waktu dan tempat. Hal yang sama bisa diterapkan: melarang satu pihak ambil bagian di pameran, bisa jadi awal dari (tabiat) pelarangan pihak-pihak lain yang juga tak sejalan. Seolah menjadi ilustrasi bagi perdebatan soal boikot dan tidak boikot ini, di hari kedua pameran, kami tak bisa keluar dari hotel dan tempat pameran. Gara-garanya ada demonstrasi besar-besaran kelompok sayap kanan. Saya tak tahu isu apa yang mereka bawakan, yang jelas, demonstrasi ini memancing kelompok-kelompok anti fasis (antifa) dari berbagai kota Eropa berdatangan. Membuat demonstrasi tandingan. Polisi berjaga-jaga di setiap sudut jalan. Dari jendela hotel, saya hanya sanggup melihat kerumunan orang-orang ini. Pemandangan kecil tentang gejolak politik di Eropa. Kebangkitan sayap kanan, dan kalau mau jujur, wajah kelompok kiri yang tergagap-gagap setelah beberapa dekade barangkali lebih asyik bicara dan berdebat ketimbang membangun kekuatan nyata.

Dari Goteberg, dengan menyeret koper yang saya usahakan seringkas mungkin agar bisa dibawa ke kabin, saya melanjutkan perjalanan ke Spanyol. Di kamar kecil pesawat, saya mencopot satu lapis pakaian yang saya kenakan. Saya yakin Spanyol lebih hangat, sehingga tak perlu pakaian berlapis-lapis. Di negara itu saya akan mengunjungi dua kota: Madrid dan Barcelona. Orang yang mengatur perjalanan saya sudah mewanti-wanti, “Mungkin situasinya kurang tepat: sedang ada ketegangan politik di sini. Atau barangkali justru tepat: kamu bisa melihat apa yang sedang terjadi.” Ya, situasi politik yang “tak enak” itu adalah referendum wilayah Katalunya untuk memisahkan diri dari Spanyol. Pemungutan suara tepat terjadi di hari saya sedang terbang. Hasilnya mayoritas penduduk Katalunya ingin berpisah, dan tentu saja pemerintah pusat tak mengabulkannya. Jika mengikuti berita, kita tahu polisi nasional didatangkan ke sana (Katalunya juga memiliki polisi sendiri), dan terjadi bentrokan. Sebagai orang asing, saya mencoba memandang ketegangan politik itu secara santai. Membayangkannya sebagai perseteruan el-clasico antara Real Madrid dan Barcelona. Atau membayangkan novel-novel Javier Marias dan membandingkannya dengan novel-novel Enrique Vila-Matas. Di Madrid, orang-orang yang saya temui rata-rata menanggapi referendum itu dengan serba tidak enak. Sangat bisa dipahami. Mereka hanyalah warga biasa. Beberapa mungkin berasal dari Katalunya, atau punya kerabat dan teman di sana. Dan seperti di Swedia, dengan pengantar yang sama “Anda tak perlu menjawab jika merasa tak nyaman”, para wartawan meminta saya memberi komentar tentang situasi politik Spanyol ini. Di akhir jawaban saya, mereka akan memastikan kembali, “Boleh dikutip?” Tentu saja boleh. Pendapat saya adalah pendapat saya, bisa membuat senang orang atau sebaliknya. Saya tak lama tinggal di Madrid. Dengan mempergunakan kereta, saya pergi ke Barcelona. Perjalanan yang menyenangkan, sebab saya bisa melihat hamparan padang-padang rumput yang begitu luas melalui kaca jendela kereta, yang sebelumnya cuma bisa saya bayangkan ketika membaca Don Quixote (dan itu pun karya dari beberapa abad lampau!). Tiba di Barcelona, tentu saja keadaan sangat kontras berbeda. Hampir semua orang begitu bersemangat membicarakan referendum. Beberapa di antaranya bahkan demikian yakin bahwa mereka akan merdeka, bahwa deklarasi kemerdekaan akan diumumkan dalam waktu yang tak lama (ketika catatan ini saya tulis, deklarasi kemerdekaan itu sudah ditandatangani). Saya bisa keluar dari hotel, menonton reli pendukung kemerdekaan yang membuat kota menjadi lumpuh (kantor-kantor libur, transportasi tak bergerak, bahkan restoran cepat saji memilih tutup agar karyawannya bisa ikut ambil bagian, bukan karena takut rusuh seperti di Indonesia). Dan seperti di Madrid, wartawan setempat juga meminta pendapat saya tentang peristiwa ini. Tentu saja pendapat seorang penulis dari negeri jauh seperti saya sebenarnya tak penting-penting amat, juga tak mengubah apa pun. Tapi pada saat yang sama, barangkali ini semacam kesepakatan umum, bahwa seorang penulis sepatutnya punya pendapat tentang situasi sosial-politik tertentu, betapa pun jauhnya. Untuk urusan ini, baik untuk wartawan di Madrid maupun di Barcelona, saya menjawab dengan jawaban yang sama. Tentu saja konyol jika saya menjawabnya berbeda. Pengetahuan saya tentang hubungan Katalunya dan Spanyol tentu saja jauh dari pengetahuan seorang ahli, dan saya tak bermaksud sok tahu (meskipun umumnya penulis memang sok tahu). Untuk para wartawan ini, saya memutuskan untuk memberi analogi. “Menjawab pertanyaan Anda perkara ketegangan antara Katalunya dan Spanyol, lebih baik saya bercerita tentang negeri saya sendiri.” Saya kemudian bercerita tentang Papua. Sebuah negeri yang tanpa lelah mencoba memerdekan diri dari Indonesia. Anda bisa memiliki ungkapan yang berbeda untuk menceritakan bagaimana Papua menjadi bagian dari Indonesia, tergantung dari sisi mana Anda melihat: dicaplok, menggabungkan diri, pendudukan, merebut kembali. Satu hal yang penting, sebagai orang Indonesia, tentu saya berharap semuanya baik-baik saja. Kami bisa menjadi saudara, bergandengan tangan bersama-sama dalam sebuah komunitas bernama Indonesia. Tapi pada saat yang sama, jika mereka ingin memisahkan diri, saya bisa mengerti. Sangat mengerti. Kenapa? Situasinya sudah jelas rumit, tapi bisa juga disederhanakan: Indonesia memperlakukan mereka, tanah mereka, dengan sangat buruk. “Saya tahu ini berbeda, tapi setidaknya itu yang bisa saya bayangkan ketika Anda bertanya tentang Katalunya dan Spanyol.” Bahwa yang paling mendasar adalah, saya bisa mengerti kehendak mereka. Dan memberi dukungan jika itu sudah menjadi kehendak mereka. Apa pun afiliasi politiknya, wartawan di Madrid maupun di Barcelona tampaknya bisa menerima jawaban saya dengan senang hati. Sisi lainnya, saya belajar satu hal yang saya pikir sangat berguna. Memiliki pandangan politik itu satu hal, tapi mencari cara mengungkapkannya merupakan hal lain. Seringkali serumit menuliskan sebuah cerita, agar ia menjadi jelas sekaligus merangkum konteks jika ada.

Saya akhirnya terbebas dari hingar-bingar politik setelah tiba di Paris. Dan setelah lebih dari seminggu tak bertemu, di kedutaan besar Indonesia, saya akhirnya berjumpa nasi. Tapi rupanya saya tak benar-benar terbebas dari pembicaraan politik. Di waktu makan malam, saya sendiri yang menyeret pembicaraan ke arah politik lagi, dengan bertanya, “Apa kabar Macron?” Tuan rumah yang mengundang makan malam menjawab, “Saya tak suka dia. Tapi suami saya merasa dia baik-baik saja. Macron memang enggak kanan, tapi apa bedanya? Dia kerja untuk orang kaya, bukan untuk orang-orang gembel.”

Dua Novel Halldór Laxness

Saya tak pernah bisa membayangkan bahwa seorang penulis dan karya-karyanya, setepat apa pun, bisa mewakili tradisi dan kehidupan (atau kesusastraan) suatu bangsa, yang mestinya lebih ruwet dan beragam. Hal yang lebih tepat barangkali, seorang penulis dan karya-karyanya bisa menjadi sejenis teropong kecil untuk melihat tradisi dan kehidupan, juga spirit negerinya. Membaca buku, kurang-lebih seperti kunjungan singkat ke sebuah negeri. Kita melihat serba sedikit, atau bahkan hanya melihat apa-apa yang sudah ditunjukkan oleh pemandu atau rekomendasi para pelancong sebelumnya, tapi kita pada saat yang sama mencoba membayangkan negeri itu dari potongan-potongan serba sedikitnya. Kadang-kadang kita melihat sesuatu secara tak sengaja, sebagaimana dari sebuah buku kita memperoleh baris-baris yang tak pernah menjadi perhatian pembaca lain. Mengenai Islandia, saya tak banyak tahu kecuali negeri itu sangatlah jauh dan berbeda dari negeri saya. Sebuah negeri yang dari namanya, kita tahu sebagai negeri es, nyaris dekat dengan kutub utara. Sebuah negeri yang sangatlah sulit melihat pohon meskipun beberapa tahun terakhir mereka mencoba menanam pohon di kota untuk menangkal angin kutub yang menggigilkan. Naik bus ke luar kota, yang akan terlihat hanyalah hamparan batuan volkanik yang menghitam, kalaupun ada warna hijau, itulah hamparan padang rumput. Penduduknya sendiri hanya sekitar 360 ribu orang saja. “Kami punya banyak tanah untuk setiap orang kalau dibagi-bagi,” begitu seloroh sopir bus yang saya ajak bicara. Tak banyak yang bisa dilakukan dengan tanah itu, memang. Dari generasi ke generasi mereka lebih dikenal sebagai pelaut, meskipun salah seorang teman makan malam saya menggerutu, “Ikan-ikan terbaik kami dijual untuk ekspor.” (Dan saya menyahut, “Begitu pula biji-biji kopi terbaik kami.”) Itu sedikit yang saya ketahui setelah kunjungan singkat tempo hari, di awal September tahun ini. Selain kunjungan singkat ke Reykjavik dan sedikit jalan-jalan ke pedalamannya, saya menengok negeri ini juga melalui empat novel Sjón, yang boleh dibilang merupakan perkenalan saya dengan kesusastraan mereka. Setelah itu, saya memutuskan untuk membaca dua novel yang tersedia di tangan saya, dari satu raksasa kesusastraan Islandia. Halldór Laxness.

Under the Glacier. Judul asli novel ini sebenarnya kira-kira “Christianity at Glacier”, tapi mungkin judul itu tampak kurang menjual. Bisa dikira seperti laporan misionaris, meskipun sebenarnya novel ini memang ditulis bagaikan sebuah laporan tentang hal-ihwal kekristenan di daerah pedalaman. Dikisahkan sang uskup mendengar tentang satu daerah glacier di mana ritual kristen tidak diamalkan. Orang mati tidak dikuburkan dengan semestinya, dan misa serta perayaan lain tidak dilaksanakan di gereja setempat. Bahkan konon sang pastor tinggal dengan perempuan yang bukan isterinya. Kuatir mengenai hal ini, diutuslah seorang anak muda, tampaknya calon pastor, meneliti bagaimana sebenarnya kekristenan di daerah tersebut. Novel ini ditulis dalam bentuk sejenis laporan, meskipun di sana-sini kadang muncul komentar-komentar ringkas, yang ditulis oleh sang utusan. Seperti biasa, selama membaca novel ini angan saya melayang ke mana-mana sambil bertanya, agama kristen macam apa sih yang ada di sana? Hingga pertanyaan yang terus mengepung saya, untuk negeri yang tampak begitu jauh dari mana-mana secara geografis, bagaimana hal-hal dari luar membentuk negeri tersebut? Agama kristen, misalnya, jelas sebagai sesuatu yang asing yang merayap datang ke sana dengan sangat lambat (bisa jadi melalui Kerajaan Denmark). Ada kesan ini merupakan negeri antah-berantah yang terabaikan oleh dunia, pengaruh pusat-pusat peradaban karena jarak yang membentang, tampak seperti sayup-sayup saja. Jelas itu salah. Justru karena negeri tersebut berada di ujung dunia, jauh dari mana-mana, orang-orangnya menjadikan diri mereka sebagai petualang-petualang tangguh, yang menganggap samudera dan badainya sebagai pekarangan rumah belaka. Tak hanya secara fisik, tapi juga gagasan. Bahkan daerah glacier sebagaimana di novel ini, tak kurang kosmopolit dari pusat peradaban di negeri-negeri lain. Ketika sang utusan akhirnya bertemu pastor setempat, ia tak hanya menemukan sang pastor yang lebih peduli membantu penduduk memperbaiki sepatu kuda daripada mengadakan khotbah, tapi juga menemukan perdebatan spiritual. Dari kepercayaan pagan lama mereka hingga ide-ide Tao dan kepercayaan Timur, dari “pengikut Muhammad” hingga kepercayaan bahwa daerah glacier tersebut sebagai pusat semesta dan gerbang bagi komunikasi dengan makhluk-makhluk di galaksi lain. Juga tak mengherankan jika bertemu perempuan yang pernah menjadi mucikari di Buenos Aires, menjadi seorang biarawati di Spanyol, melanglang buana ke Lima, Paris, dan banyak tempat lainnya. Saya membayangkan, dari keheningan negeri tersebut (barangkali karena datang dari negeri tropis di salah satu kota yang berpenduduk terpadat di dunia, buat saya Islandia memang hening sekali), mereka menyerap berbagai hal yang terpancar dari mana-mana. Ini novel yang jauh dari permukaannya, jika kau berhasil menyelam sedikit saja, merupakan humor tentang agama dan spiritual. Humor yang tampak begitu bebas, riang, dan berani. Barangkali karena datang dari tepi dunia? Memikirkan itu, bagi saya, semakin menambah kadar kelucuannya. Uskup dan kekuasaan agama kristen bagi penduduk yang lugu ini, barangkali tak ada bedanya dengan raja dan kerajaan Denmark. Mereka ada dan berkuasa, tapi jauh di sana. Mereka mengakuinya, tapi sekaligus tak memusingkannya. Sebab bagi penduduk glacier, menemukan kuda yang lepas jauh lebih penting. Dan bagi para petualang gila, berhasil menemukan kontak dengan makhluk luar angkasa lebih berarti.

The Fish Can Sing. Berbeda dengan novel sebelumnya, di mana watak kosmopolitan lebih menonjol, novel ini tampak berusaha untuk melihat ke dalam. Kisahnya berpusat pada seorang anak muda (diceritakan sejak ia masih kecil) bernama Alfgrimur dan (barangkali alter-egonya) Gardar Holm, penyanyi opera yang berhasil “menaklukkan dunia”, bahkan bisa menyanyi di hadapan Paus dan rumah-rumah opera di kota-kota besar Eropa maupun Amerika. Ya, ini kisah tentang bagaimana negeri terpencil di sudut dunia ini, pun berhasil menyumbangkan putera terbaiknya kepada peradaban dunia. Saya jadi membayangkan Björk. Juga mengingat celoteh pemandu tur yang sepanjang jalan terus bernyanyi dan kemudian berkata, “Hampir semua orang Islandia pernah tergabung dengan kelompok musik.” Dan itu mengantarkan saya pada obrolan lain, “Dibandingkan jumlah penduduk, kami juga punya penyair yang sangat banyak.” Sebagian besar memang menerbitkan sendiri buku puisinya, dan si orang yang menceritakan itu juga mengakui, sebagian besar barangkali mutunya tak seberapa. “Soalnya bukan seberapa bermutu puisimu. Yang terpenting bagi kami, semua orang merasa boleh menulis puisi, dan kami tak berusaha menghancurkan kesenangan mereka.” Laxness berusaha meneropong ketenaran, kejembaran dunia, membandingkannya dengan ketersembunyian dan dunia yang kecil. Islandia sebagai negeri antah-berantah di ujung dunia, memandang negeri-negeri yang dianggap sebagai pusat-pusat peradaban. Penyanyi terkenal yang dipuja-puja, menghadapi bocah kecil yang hanya menyanyi di pemakaman. Bernyanyi untuk banyak orang, untuk uang yang melimpah dan mengalir tiada henti, sebagai kontras dengan bernyanyi untuk memuji Tuhan dan menemukan nada yang sejati di dalam diri. Tentang pengusaha yang mengeruk ikan dengan kapal besar, dan tentang kakek tua yang menangkap ikan sebatas kebutuhannya. Jika Gardar Holm menaklukkan dunia, hidup Alfgrimur sebatas pekarangan rumahnya. Tapi dalam kontras-kontras macam beginilah, Laxness memperlihatkan kembali humornya, juga ironinya. Alfgrimur mungkin akan mengikuti jejak Gardar Holm setelah kakeknya mengirim dia ke sekolah, kemudian mengirimnya ke luar negeri untuk belajar musik. Tapi baginya, mewakili orang-orang biasa di lingkungannya, harapan terbesarnya tak lebih hanya sekadar menjadi menangkap ikan. Dituturkan dalam bentuk kronik yang mengisahkan peristiwa-peristiwa sederhana di sekitar rumah dan tokoh-tokohnya, ada sejenis kerawanan atas kontras-kontras tersebut. Lihat si kakek, yang tak hanya menangkap ikan sebatas yang dibutuhkan, tapi juga selalu menjualnya dengan harga sama (tak peduli sedang paceklik atau melimpah). Ia memperlihatkan kehidupan yang sederhana, tanpa ambisi dan kerakusan. Tapi pada saat yang sama, ia tak bisa membiarkan cucunya (Alfgrimur sebenarnya anak telantar yang ditinggalkan perempuan tak dikenal di rumah itu) hanya hidup di sekitar pekarangan rumah dan berakhir menjadi nelayan (yang makin hari makin susah setelah datangnya kapal-kapal besar). Ia mengirim cucunya ke dunia, yang tentu saja akan menghadapi hidup yang tak sederhana lagi. Novel ini tampak memiliki banyak bias biografi penulisnya, setidaknya pencariannya. Setelah memeluk Katolik Roma di masa mudanya, Laxness menjadi seorang komunis di usia dewasa, dan di masa tua menjadi pengikut Tao. Apa yang ia cari? Seperti Alfgrimur, ia mungkin mencari nada sejati di dalam dirinya. Sebab ikan, yang sangat melimpah di negeri ini, adalah ikan meskipun bisa bernyanyi.

Jonas Hassen Khemiri

Bagaimana seorang pembaca menemukan penulis atau buku baru untuk dibaca? Di bandara udara Keflavik, jauh di luar kota Reykjavik, saya menunggu penjemput. Sudah hampir setengah jam dan tak ada tanda-tanda penjemput saya datang. Saya hanya bisa mengirim surel, tapi tak juga memperoleh balas. Telepon genggam tak berfungsi, dan saya terlalu malas untuk menukar dengan nomor setempat. Kalau tak ada yang juga menjemput, saya bisa tidur di bandara, atau mencari cara lain pergi ke kota dan langsung menuju hotel yang sudah disediakan. Saya sudah membiasakan diri untuk tidak panik pada hal-hal semacam itu. Nyatanya kemudian saya bertemu wajah yang saya kenal, seseorang dari penerbit di mana kami pernah bertemu sebelumnya di Frankfurt. Dan ternyata di ruang tunggu, juga ada segerombol penulis yang sama menunggu. Gerombolan penulis itu dibagi dua. Saya bersama dua penulis, cowok dan tampaknya seusia, mengikuti orang dari penerbit itu, yang tahun ini sedang cuti untuk mengurus festival. Satu dari teman perjalanan saya itu menarik perhatian saya karena ia jangkung banget. Mungkin antara 185-200 centimeter. Entahlah. Jangkung banget, sehingga kami mempersilakannya duduk di depan, menemani pengemudi, agar kakinya bisa leluasa. Ketiga penulis (saya satu di antaranya), rupa-rupanya sama pendiam. Kami hanya sempat berkenalan nama secara ringkas, dan dengan cepat lupa nama-nama itu. Selama beberapa saat tak ada yang bicara. Saya sebenarnya senang saja kalau tak harus bicara dengan orang asing. Saya memang tak terlalu suka banyak ngomong, kecuali dengan orang-orang yang saya kenal baik. Tapi karena perjalanan kami panjang, saya rasa jaraknya lebih jauh dari Ciputat ke bandara Soekarno-Hatta karena jalanan lengang, sesekali toh kami ngobrol juga. Dari pembicaraan sekilas-sekilas itu saya tahu juga bahwa Si Jangkung ini penulis dari Swedia. Ini bukan kunjungan pertamanya ke Islandia, dan pertama kali datang adalah sepuluh tahun lalu. Saya bayangkan saat itu mungkin ia hanya seorang penulis pemula, mungkin hanya dikenal di Swedia atau setidaknya di negara-negara Nordic, lebih pemalu dari saat ini. Hanya itu saja yang saya ketahui dari pembicaraan ringkas kami di dalam mobil. Meskipun kami tinggal di hotel yang sama, saya hampir tak pernah bertemu atau bicara dengannya lagi di sana. Pikir saya, saya akan lihat di buku katalog untuk mengetahui namanya, juga karyanya. Biasanya dengan cara seperti itulah saya memburu penulis-penulis baru dan karya mereka untuk dibaca. Tapi karena berbagai acara, dan tur ke daerah glacier yang mendadak saya ambil, saya lupa membaca-baca katalog festival. Mungkin saya terlalu malas, atau terlalu asyik dengan kota, negeri dan cuaca yang menyenangkan di sana. Saya pun lupa dengan Si Jangkung ini, sampai saya meninggalkan Reykjavik untuk pindah ke Italia. Saya punya jadwal berikutnya di pertengahan September itu, yakni berpartisipasi di festival sastra kota Mantova. Sebuah kota kecil di Italia, dengan bangunan-bangunan tua, tapi festivalnya konon merupakan yang paling seru di Eropa (setelah saya melihatnya sendiri, saya bisa bilang, memang seru). Hari pertama saya tak punya acara, dan saya pakai untuk berjalan sedikit melihat-lihat kota, hingga ke stasiun kota. Kota kecil itu dijejali turis, yang berjalan atau nongkrong di cafe. Dan ketika saya tanya, apakah setiap hari kota kecil itu dipenuhi turis, seseorang menjawab, memang banyak turis, tapi biasanya tak sesesak ini. “Mereka datang untuk festival.” Festival sastra? Ya. Puji Tuhan! Dan memang di sana-sini, di ruangan terbuka (pindah ke dalam ruangan jika cuaca memburuk), ada diskusi dan pembacaan. Tak heran bahwa Janet, direktur Ubud Writers and Readers Festival juga datang (saya bertemu dengannya di malam kedua). Mungkin untuk studi banding, mungkin berburu penulis. Siapa tahu? Satu hal yang tak bisa saya lupakan dari Mantova adalah makan malam pertama saya. Publisis dari penerbit lokal saya mengajak makan malam di satu restoran. Saya tak akan menceritakan menu atau suasana restorannya, tapi ketika kami terburu-buru menuju ke sana karena gerimis (di lorong-lorong yang sempit), di pintu masuk restoran itu saya bertemu dengan seseorang yang saya merasa akrab. Ia baru saja makan di sana. Si Jangkung! Hah, ternyata kami memiliki rute perjalanan yang sama. Reykjavik-Mantova. Sebenarnya ketika di Reykjavik saya bertemu dengan Yaa Gyasi yang juga akan pergi ke Mantova, tapi di Mantova saya tak lagi bertemu dengannya. Saya pun ber-hai-hai dengan Si Jangkung ini. Sok akrab, tentu saja, karena tampaknya dia juga tak punya banyak teman di Italia ini. Karena rasanya tak sopan untuk bertanya siapa namanya, saya berjanji pada diri sendiri untuk melihat katalog festival Mantova. Tapi lagi-lagi saya tak sempat buka-buka katalog itu, apalagi melihat acara-acara yang melibatkan penulis lain. Selalu begitu, memang (lagipula, kalau waktunya sudah luang, saya bisa membuka-buka katalog tersebut belakangan). Hingga akhirnya di malam terakhir, semua partisipan dan relawan festival menghadiri pesta penutupan (berupa makan malam yang konon dimasak oleh para mahasiswa tataboga). Saya kembali melihat Si Jangkung di satu meja yang agak jauh. Awalnya ia sendirian, tapi makin lama, kursi di sekitarnya pun terisi. Akan aneh rasanya untuk mendekatinya hanya untuk sekadar ngobrol. Karena teman yang menemani saya hotelnya dekat dengan tempat makan malam, saya memutuskan pulang sendiri ke hotel. “Jangan kuatir, saya tahu jalan pulang.” Sebenarnya saya tak tahu, tapi saya merasa bisa mengandalkan Google. Atau setidaknya bertanya ke orang, karena hotel saya kebetulan tepat di dekat plasa tengah kota. Ketika sedang berjalan itulah, menjelang tengah malam dan kota mulai senyap, saya melihat sosok Si Jangkung di depan. Saya tak bisa memanggilnya, karena tak tahu namanya. Saya mempercepat langkah, menjejerinya, dan menyapa, “Hai!” Kami berjalan bersama, dan saya tak memerlukan Google, karena dia akrab dengan kota tersebut dan kami menginap di tempat yang tak berjauhan. Ini bukan pertama kali ia ke Mantova. Setelah ngobrol ngalor-ngidul sambil jalan, saya akhirnya bertanya, “Apakah bukumu sudah ada dalam bahasa Inggris? Saya mau mencari dan membacanya.” Dia bilang sudah. Dia lupa apakah bukunya (dalam terjemahan Inggris) ada di koper atau tidak, tapi kalau ada, dia mau memberikannya kepada saya besok pagi. “Tak usah repot-repot, saya pasti bisa menemukannya.” Saya pun memberinya alamat surel, sebab dia janji mau memberitahu judul bukunya. Malam itu saya sampai hotel langsung beres-beres, kemudian tidur, karena paginya saya harus segera pergi. Jam 7.30 saya harus pergi ke stasiun, tapi di waktu yang mepet itu, saya menyempatkan diri untuk ambil sarapan pagi. Syukurlah saya melakukan itu, karena ketika saya sedang sarapan, resepsionis menghampiri saya dan meletakkan sejilid buku berjudul Everything I Don’t Remember. Di dalamnya ada tulisan tangan bertuliskan nama saya dan “lovely to meet up in first Iceland and then Italy”. Menemukan penulis atau buku baru untuk dibaca kadang merupakan pengalaman ajaib sendiri. Saat itu barulah saya tahu nama Si Jangkung dengan pasti dari buku tersebut: Jonas Hassen Khemiri.

Jika hendak berkenalan lebih lanjut, sila tengok cerpennya “As You Would Have Told It To Me (Sort Of) If We Know Each Other Before You Die”.

Here are some recent reviews for Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash (New Directions, Pushkin Press, Text Publishing, Speaking Tiger):

“And as high-end pulp fiction, Vengeance is Mine, All Others Pay Cash is superb.” – Tim Hannigan, Asian Review of Books.

“A darkly comic tale of boyhood” – Jane Yong Kim, The Atlantic.

Vengeance is wonderfully entertaining, and highly cinematic, its critique of patriarchal Indonesian society wrapped in picaresque adventure and anarchic comedy.” – Keshava Guha, The Hindu.

“Indonesian-born Eka Kurniawan is one of the most exciting writers active today. Vengeance Is Mine, All Other Pay Cash is a madcap noir featuring an impotent gangster who undertakes a violent and epic quest to regain use of his ‘little bird’. encountering bewitching martial artists, truck drivers, and vicious criminals along the way.” – The Culture Trip.

I had some interviews with Italian media when I was in Mantova last week, here one of them form Il Libraio (for those who read Italian): Eka Kurniawan, che ha portato “il realismo magico nella varietà della letteratura indonesiana”.

And here is my short story published by Vice, translated by Annie Tucker. Originally published in Indonesian as “Pengantar Tidur Panjang”. This is one from my first story collection in English translation, Kitchen Curse, forthcoming from Verso Books.

The Saint-Fiacre Affair, Georges Simenon

Di lobi hotel itu ada perpustakaan kecil. Tak tertahankan, saya mendatanginya meskipun di sudut-sudut lain ada tawaran lain: komputer dengan internet gratis, permainan sepakbola meja, bahkan camilan. Tak banyak bukunya memang, mungkin sekitar seratus jilid. Sebagian besar berbahasa setempat. Jika ada yang berbahasa Inggris, biasanya novel klasik yang sangat tebal, tak mungkin dibaca sambil bersantai di lobi. Bahkan dibawa masuk ke kamar pun, mungkin membutuhkan waktu berhari-hari tanpa melakukan apa pun. The Saint-Fiacre Affair karya Georges Simenon tergeletak di sana, seperti bekas dibaca seseorang. Saya belum pernah membaca Simenon dan tokoh inspektur polisi rekaannya, Inspektur Maigret. Tapi saya tahu ia menulis novel-novel fiksi kriminal, dan ia penulis berbahasa Perancis asal Belgia. Seperti pelancong yang memutuskan untuk mengarungi setapak atau gang di tengah kota yang tak dikenalinya, saya mengambil buku itu, membawanya ke kamar dan mulai membacanya. Adakah cerita kriminal di mana inspektur polisinya nyaris enggak ngerjain apa-apa dan pelaku kejahatan akhirnya ketahuan dengan sendirinya? Setidaknya, novel ini salah satunya. Tapi itu bukan masalah. Setidaknya buat saya, fiksi kriminal yang ideal bukanlah terletak di jagonya sang detektif memecahkan kasus kriminal melalui tanda-tanda (dan betapa jagonya penulis mengecoh pembaca melalui tanda-tanda yang sama), melainkan terletak pada watak-watak di dalamnya. Watak-watak kriminal di mana setiap tersangka memiliki jejak kemungkinan untuk menjadi pelaku kejahatan, tak hanya karena motif, tempat dan waktu memungkinkan. Telaah mengenai watak manusia yang tampak dan tak tampak (atau hanya tampak dalam situasi tertentu, seperti menghadapi peristiwa kejahatan), bagi saya merupakan hal paling mengasyikan dari fiksi kriminal. Lagipula adegan “pembunuhannya” juga tidak normal: seorang perempuan setengah baya, mati mendadak di kursi gereja. Kata dokter, kena serangan jantung. Tak ada luka, tak ada bekas kekerasan. Satu-satunya petunjuk untuk Inspektur Maigret bahwa itu pembunuhan, hanyalah karena ia menerima surat yang meramalkan kematian perempuan itu beberapa hari sebelumnya, dan bahwa ia menemukan potongan berita palsu di buku doa perempuan itu, yang kemungkinan besar terbaca dan membuatnya kena serangan jantung. Pelaku yang edan sekaligus jenius, bukan? Bagian itu saja pasti bisa bikin pengadilannya menjadi ruwet, jika cerita berlanjut hingga pengadilan. Satu hal yang menarik dari Maigret, ia tak hanya ada di sana sebagai detektif yang dingin memecahkan masalah, tapi juga bagian dari persoalan cerita. Perjalanannya ke Saint-Fiacre tak hanya untuk mengungkapkan kasus kematian yang telah diramalkan, tapi juga perjalanan emosional dirinya: Saint-Fiacre merupakan masa lalunya. Saya tak tahu apakah hal yang sama bisa saya temukan di judul-judul lainnya (Simenon menulis 75 novel Maigret), saya akan coba membaca yang lain jika ada kesempatan. Yang jelas novel ini melebihi harapan saya mengenai fiksi kriminal, seperti hal-hal mengejutkan bisa saya temukan di gang asing yang dengan nekat saya masuki. Bahasanya yang ekspresif, bahkan awalnya agak aneh, seperti grafiti di dinding rumah yang awalnya terasa meneror tapi kemudian menjadi hiburan yang akrab. Misal penggunaan kalimat pasif yang saya jarang temukan di dalam bahasa Inggris: dari dalam kamar bahasa Inggris terdengar diucapkan (alih-alih dari dalam kamar terdengar mereka bicara dalam bahasa Inggris). Mungkin perkara terjemahan, mungkin memang gayanya seperti itu, tapi setelah terbiasa, saya menemukan keasyikan sendiri. Dan kembali soal bagaimana kasus ini terbuka dengan sendirinya: si inspektur polisi bukanlah dewa yang menentukan mana dan bagaimana kebenaran. Intinya novel ini merupakan drama pembunuhan, dan inspektur polisi hanyalah satu dari sekian bidak di dalam drama tersebut. Bidak dengan persoalannya sendiri, sebagaimana para tersangka pembunuhan: anak si perempuan, seorang pemuda yang merupakan sekretaris sekaligus simpanannya, pastor, manajer keuangannya, serta anak si manajer keuangan. Kadang-kadang mengasyikkan menyesatkan diri ke bacaan-bacaan yang terasa asing, baru, dan mungkin di luar radar pengetahuan kita. Lagipula, kalau William Faulkner dan André Gide saja membaca Simenon, masa saya tidak tertarik?

Some Prefer Nettles, Junichirō Tanizaki

Saya ingin memulai perbincangan mengenai novel ini dari satu percakapan: “… para lelaki yang terlalu tergila-gila perempuan di waktu muda umumnya menjadi kolektor benda antik ketika tua. Perabot minum teh dan lukisan menggantikan seks.”//“Tapi ayah tetap ngeseks. Dia punya O-hisa.”//“Perempuan itu salah satu benda antiknya.” Itu perbincangan antara Kaname dan istrinya, Misako dalam Some Prefer Nettles karya Junichirō Tanizaki. Percakapan itu tak semata-mata sebuah ledekan anak dan menantu kepada ayah, atau sekadar ledekan terhadap generasi tua, tapi menurut saya menggambarkan apa yang ada di novel ini secara keseluruhan. Pertama-tama, tentu mengenai hubungan pernikahan Kaname dan Misako sendiri. Mereka digambarkan sebagai pasangan yang sebenarnya nyambung dalam pikiran, selera, gaya, tapi satu sama lain tak memiliki gairah seks. Atau dengan kata lain: mereka tak saling memuja tubuh pasangannya. Pernikahan dan hubungan ranjang yang hambar, yang membawa mereka kepada keputusan untuk bercerai. Urusan perceraian ini merupakan tulang punggung keseluruhan novel. Kedua, kontras atas hubungan mereka yang hambar, adalah hubungan si lelaki tua (ayah Misako) dengan simpanannya yang muda bernama O-hisa. Mereka berbeda dalam banyak hal, tapi O-hisa yang ditempatkan laksana geisha memiliki sejenis submisivisme yang senang melakukan hal-hal yang diinginkan si lelaki tua. Belajar menyanyi, memainkan alat musik, menjamu teh, nonton pertunjukan teater boneka, bahkan menulis kaligrafi. Ketiga, ini tentang benturan “peradaban baru” dan “tradisi lama”. Pernikahan dan perceraian berhadapan dengan tradisi perempuan penghibur layaknya geisha (di novel ini juga digambarkan Misako sebagai penyuka Jazz dan banyak hal dari barat, sementara ayahnya menyukai musik tradisional). Jujur, biasanya saya tak terlalu suka dengan novel-novel ala “kartu pos”. Yang saya maksud dengan “kartu pos” adalah, novel-novel yang mengeksploitasi keindahan, keunikan, bahkan keeksotisan suatu kebudayaan atau adat-istiadat untuk menyenang-nyenangkan pembaca. Seperti kartu pos, orang yang membaca novel itu kemudian akan bilang, “ah, begini toh tradisi mereka,” seperti kita melihat kartu pos. Membaca tema seperti itu dalam bentuk kajian antropologi atau esai (seperti di buku esai Tanizaki, In Praise of Shadows tentang arsitektur Jepang, misalnya), bagi saya merupakan pilihan yang lebih baik. Tapi rupanya saya bisa menikmati novel ini, meskipun di sana-sini terselip serpihan-serpihan pandangan Tanizaki mengenai kebudayaan dan tradisi Jepang. Saya dengan tak berdaya dibawa oleh Tanizaki ke dalam percakapan mengenai teater boneka, kegelisahannya, kekagumannya, keindahannya dan bahkan reportoarnya. Di bagian lain, juga tanpa daya, Tanizaki mengajak kita mendiskusikan perbedaan-perbedaan antara teater boneka Osaka dan Awaji, daerah yang dianggap sebagai asal-muasal teater boneka Jepang. Menurut saya, rahasia kecerdikan Tanizaki (yang memang, setelah terpengaruh kebudayaan barat di masa mudanya, di puncak karirnya sebagai penulis justru kembali ke habitat kebudayaan tradisional Jepang) dalam mengolah hal ini tanpa membuatnya terasa seperti “kartu pos”, karena ia memang tak menempatkan keunikan tradisi (di sini teater boneka), sebagai pusat novelnya. Inti novel ini, sekali lagi, adalah usaha Kaname dan Misako untuk bercerai, yang diulur-ulur karena memikirkan anak, orang tua, dan kesiapan mereka sendiri. Pembahasan perceraian ini, dengan segala dramanya, seringkali berganti-ganti tempat: di gedung teater, di festival teater boneka, di pelabuhan, di rumah orang tua yang sangat rigid dengan arsitektur tradisional. Nah, pada kesempatan itulah, Tanizaki masuk dengan cerdik ke berbagai topik tradisi. Menjadikannya taut-bertautan dengan melodrama kehidupan perkawinan Kaname dan Misako. Di sinilah saya rasa, suatu tradisi lokal menjadi unik sekaligus tidak asing.

“This is an almost unbelievably fun and weird novel.” A starred review for Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash from Publishers Weekly.

“Avec une fable mémorable, sur une lignée de femmes redoutables, Eka Kurniawan signe un chef-d’œuvre.” This is a review from Livres Hebdo for Les Belles de Halimunda, French edition of Cantik Itu Luka.

Ferdydurke, Witold Gombrowicz

Sebuah novel yang sangat sensual tanpa sekali pun ada adegan seks; sebuah novel politik tanpa buih-buih khotbah tentang kekuasaan lalim dan kelas jelata yang tertindas; juga sebuah novel brutal tanpa sekali pun menumpahkan darah; dan di sisi lain ini sebuah novel filosofis tanpa rujukan garing kepada pemikiran-pemikiran filsafat; kau bisa menyebut novel ini sebagai novel apa pun dan pada saat yang sama hal itu tersembunyi di belantara komentar-komentar dan pelintiran kisah yang nyeleneh. Seperti itulah Ferdydurke karya Witold Gombrowicz. Komentator kelas dunia menyebutnya sebagai mahakarya “pascamodern”, sementara yang lain menganggapnya sebagai puncak karya “modernisme Eropa”. Nah, bahkan para komemtator pun tak bisa bersepakat apakah ini karya modern atau pascamodern. Dibuka oleh kisah seorang pemuda 30 tahun bernama Joey, yang kelewat banyak mikir dan melamun dan meracau, hingga ia melihat cermin dan menemukan dirinya yang lain. Dirinya berumur 17an tahun, dan semua petualangan setelahnya adalah kisah tentang remaja yang merasa bukan remaja, tentang orang dewasa yang harus menghadapi problem-problem a-be-geh. Jika ada yang membandingkannya dengan petualangan Alice masuk ke lubang kelinci, tentu saja tak mengherankan. Tapi Joey tak bertemu makhluk-makhluk fantastis sebagaimana terjadi di dunia Alice, meskipun teman-temannya di sekolah, guru-gurunya, keluarga yang menampungnya mondok, keluarga bibinya yang kemudian menemukannya, semua tak kalah fantastis. Petualangannya menghadapi dunia di antara yang dewasa dan a-be-geh yang tak bisa dipahami tapi memerangkapnya, bisa membuat orang memperbandingkannya juga dengan dunia Kafka. Tak berlebihan juga, meskipun dalam Gombrowitcz ini menjadi sejenis humor ketimbang teror. Oh, novel ini juga merupakan novel tentang novel, tentang seni bercerita, meskipun lagi-lagi kita tak menemukan hal terang-benderang mengenai hal itu, kecuali kau mau manyun sedikit dan menenangkan diri, kemudian manggut-manggut di beberapa bagian menyadari novel ini berkisah tentang dirinya sendiri. Apakah seni harus melayani manusia, ataukah manusia harus melayani seni? Jawab saja sendiri. Tantangan terberat membaca novel ini tentu saja memahami humornya. Sebagaimana penerjemahnya mengakui, bukan hal mudah menerjemahkan Gombrowitcz. Ia tak semata-mata menulis dalam bahasa Polandia, tapi terutama ia menulis dalam bahasa Gombrowitcz. Hanya penulis yang sudah mencapai tingkat ilmu ketujuh bisa melakukannya, dan si penerjemah harus mengupas ilmunya selapis demi selapis, agar pembaca jelata macam tutup botol Fanta bisa mengerti sekaligus tak tersesat dan dibikin gila. Kenapa saya mempergunakan metafor-metafor jelek macam begitu? Itu tidak jelek, Kawan. Grombowitcz jelas sudah melakukannya lebih dulu daripada a-be-geh-a-be-geh di media sosial, dan ia melakukannya dengan lebih baik, lebih bertubi-tubi. Ini novel yang harus dibaca banyak orang, betapa pun sulitnya, untuk menjajal apakah kita punya kepala benar-benar kepala atau sekadar “mangkuk”, dan bokong kita benar-benar bokong dan bukan sekadar alas untuk gaplokan tangan. Dan jangan tersinggung dengan kata-kata yang agak kasar tersebut. Itu tak ada apa-apanya dengan cara sang penulis menutup novelnya: “It’s the end, what a gas. And who’s read it is an ass!” Salam kepala isi mangkuk!

“Whether or not a political fable is intended, the squelch of blood and the crack of breaking bones tends to muffle any deeper message.” Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash review from Financial Times.

“Despite Vengeance Is Mine’s consistent bloodshed, it’s a very funny book.” And this one is from Los Angeles Review of Books.

Older posts

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑