Eka Kurniawan

Journal

Author: Eka Kurniawan (page 1 of 31)

A Grain of Wheat, Ngũgĩ wa Thiong’o

“Kami pergi ke gereja. Mubia, dengan jubah putih, membuka Injil. Ia berkata, berlututlah untuk berdoa. Kami berlutut. Mubia berkata: Pejamkan mata. Kami melakukannya. Kau tahu, ia tetap membuka mata sehingga ia bisa tetap membaca. Ketika kami membuka mata, tanah kami telah lenyap dan pedang api berdiri berjaga.” Saya tak menemukan ungkapan sesederhana sekaligus tepat ke jantungnya tentang kolonialisme, melebihi apa yang saya baca di novel Ngũgĩ wa Thiong’o, penulis Kenya, A Grain of Wheat. Seseorang pernah mengingatkan saya bahwa agama, uang dan negara (bangsa, kerajaan, dan segala ide tentang komunitas-bangsa) merupakan tiga kekuatan yang sering menyatukan umat manusia. Saya bisa menambahkan: tiga hal itu juga yang sering menghancur-leburkan manusia dan peradabannya. Persekutuan agama dan hasrat menyebarkan peradaban dan nilai-nilai serta kerakusan yang didorong oleh uang telah menyebabkan kolonialisme, salah satu kebrutalan dalam sejarah dunia modern, dan ide tentang negara-bangsa berkelindan di sana membuatnya semakin rumit. Jelas ini novel politik, dalam tradisi yang sangat gamblang tentang perjuangan kaum tertindas melawan kaum penindas. Kisahnya sendiri berkelindan di sekitar hari-hari menjelang kemerdekaan Kenya dari pendudukan Britania, melibatkan beberapa tokoh yang tak hanya membuat novel ini sebagai sebuah novel sejarah, tapi juga sebuah epik sosial dalam sebuah pertanyaan besar, “Apa artinya menjadi bebas, menjadi merdeka?” Kita dihadapkan kepada aksi-aksi heroik, tapi sekaligus dihajar oleh pertanyaan mendasar, apa artinya menjadi pahlawan? Siapa sebenarnya pahlawan? Setelah membaca novel ini, saya rasa hal terbaik untuk membicarakannya adalah dengan mengambil satu-dua kutipan darinya dan melihat kembali apa yang terpancar dari sana. “Pengecut hidup untuk melihat ibunya sementara sang pemberani mati di medan pertarungan,” begitu novel ini berkata di satu tempat. Perjuangan kaum tertindas melawan para penindas, kita tahu tak sesederhana satu pihak lemah melawan pihak yang kuat. Novel ini menunjukkan hal yang lebih rumit dari itu: adalah perjuangan melawan ambisi-ambisi pribadi, baik di kalangan kaum tertindas maupun penindasnya sendiri. Aksi paling heroik justru bukanlah ketika seorang pahlawan berdiri menghadapi musuh dan menembaknya dengan dingin, atau bertahan dalam interogasi yang membawanya pada penyiksaan fisik; tapi justru ketika kita menghadapi manusia-manusia yang mengakui kelemahan-kelemahannya, kebusukannya, bahkan pengkhianatan-pengkhianatannya. Tak hanya pengkhianatan kepada kawan-kawan seperjuangan, tapi terutama pengkhianatan kepada tanah air dan bangsanya. Seluruh sosok di novel ini, dengan cara yang menyakitkan, pahlawan di hari kemerdekaan sekaligus pengkhianat dan pengecut yang menyedihkan, dan mereka menyambut hari tersebut dalam kabut ketidakpastian [dan bukan ironi: pejuang yang dipuji-puji di novel ini, yang kemudian menjadi penguasa Kenya, di kemudian hari mengirim penulis novel ini ke penjara]. Penuh kebrutalan tapi juga kejujuran, Ngũgĩ tak hanya melucuti watak-watak kolonial yang bengis, rakus, juga menelanjangi watak-watak budak yang menyerah dan menerima keadaan. Ada satu episode kecil tentang sebuah keluarga. Si ayah sering menyiksa si ibu, hingga akhirnya si anak lelaki datang melawan ayahnya. Tapi apa yang terjadi? Si ibu datang dan membela si ayah, menyerang si anak. “Baru belakangan ia melihat begitu banyak orang Kenya dengan bangga mempertahankan perbudakannya di mana ia bisa mengerti reaksi ibunya,” demikian si anak menyadari. Seperti kebanyakan novel politik, kisah ini juga memperlihatkan arsitektur tentang kekuasaan yang tak selalu bersikap dikotomis penindas dan tertindas. Sebagian kaum tertindas bersekutu dengan penindasnya, memperoleh sedikit kekuasaan, untuk menindas yang jauh lebih lemah. Kaum tertindas mengkhianati kawannya sendiri, untuk memperoleh sedikit kekuasaan, agar bisa bertahan di dunia yang menghancur-leburkan segala. Dan bahkan di antara pejabat-pejabat kolonial, mereka saling sikut, untuk mempertahankan kuasa masing-masing, sehingga bolehlah kita tengok apa yang dikatakan novel ini di bagian nyaris akhir: “Belakangan, kesadaran akan kuasa, kemampuan untuk menghancurkan kehidupan manusia hanya dengan menarik pelatuk, begitu memberi obsesi kepadanya sehingga menjadi kebutuhan.”

Göteborg Book Fair 2017 seminar program booklet is out now (in English). I will be in Sweden for the book fair, September 28-October 1, 2017. Swedish edition of Beauty Is a Wound is published by Nilsson Förlag.

Saya tumbuh di antaranya dengan membaca majalah remaja pria Hai, melebihi majalah remaja lainnya. Saya juga menulis beberapa cerita pendek di sana (diterbitkan di Corat-coret di Toilet). Hormat dan terima kasih untuk menemani masa remaja saya: Majalah Hai berhenti cetak sejak bulan ini.

“Kurniawan has become the rare Indonesian author to break through to a typically translation-allergic U.S. market […] Vengeance Is Mine promises dark, sexually charged and subversive comedy …” from “24 Incredible Books To Add To Your Shelf This Summer”, Huffington Post.

Buku kecil ini, Auman! Catatan Pembaca Prosa Eka Kurniawan, saya rasa merupakan buku pertama yang secara khusus membicarakan karya-karya saya. Isinya sekumpulan esai, atau resensi, dari beberapa penulis seperti Heri CS dan Widyanuari Eko Putra. Jika ada yang berminat (untuk penelitian skripsi, misalnya), bisa menghubungi penerbitnya, Kelab Buku Semarang.

Terkonfirmasi. Editor cerpen Kompas sendiri menyarankan inses intelektual semacam begini. Sama seperti dalam bidang biologi, hubungan sedarah kemungkinan (dikutip dari Wikipedia):

“… berpotensi tinggi menghasilkan keturunan yang secara biologis lemah, baik fisik maupun mental (cacat), atau bahkan letal (mematikan).”

The Street of Crocodiles, Bruno Schulz

Seorang pencerita adalah seorang penyihir yang mengubah benda-benda menjadi apa pun yang diinginkannya, persis sebagaimana dilakukan anak-anak dengan mainan mereka. Saya menyadari hal itu ketika satu hari melihat anak saya menjadikan botol bekas sebagai pesawat terbang, boneka sebagai monster, kotak-kotak pembungkus sebagai makanan yang lezat terhidang di atas meja, dan kolong meja sebagai istana megahnya, sambil menjadikan dirinya sendiri seorang puteri dari kerajaan antah berantah. Bruno Schulz adalah salah satu penyihir itu, penyihir yang memiliki kualitas terbaik sifat kekanak-kanakan abadi, yang menjadikan kecoa sebagai penyusup misterius di kolong meja, burung-burung membangun imperium dan menguasai loteng apartemen, seorang gelandangan yang tertidur di rerumputan menjelma Dewa Pan, koleksi perangko sebagai ensiklopedia yang mengetahui segala tempat dan seluruh sejarah dunia, dan peta kota dihidupkan menjadi lanskap tempat banyak peristiwa terjadi. Seorang pencerita adalah seorang penyihir yang bertarung dalam pertarungan abadi menghadapi kebosanan, melawan dunia yang beku dan hanya berputar dari satu musim ke musim lain dalam kemonotonan yang hambar. Cerita-cerita Schulz, yang sialnya hanya menyisakan dua kumpulan tipis The Street of Crocodiles dan Sanotarium Under the Sign of the Hourglass, serta tiga cerita pendek yang terpisah (buku yang saya baca merangkum semuanya), dipentaskan di lanskap yang seperti itu. Yang kehambarannya lebih menyiksa dan menderitakan melebihi sebagian besar tragedi umat manusia. Ia tak memerlukan dunia yang dilanda perang, ia tak memerlukan kota yang dilanda wabah penyakit, ia juga tak membutuhkan dunia misterius yang mengancam, maupun asmara yang menggelegak. Ia hanya membutuhkan lanskap kota dan musim yang membosankan, dan ia melawannya dengan keedanan seorang Don Quixote, sebab yang terpenting bagaimana ia menyihir semua itu menjadi lanskap yang hidup, dengan lelucon dan kesedihannya sendiri. Seorang pencerita adalah seorang penyihir yang menujum pembacanya dengan ramuan apa pun yang ada di tangannya. Di permukaan, kita tahu tak ada yang fantastik dari lanskap cerita-cerita Schulz. Ia hanya menceritakan sebuah keluarga, dari sudut pandang seorang anak (kadang ia menjelma remaja, lain kali menjadi lelaki dewasa). Seorang ayah yang gila, seorang ibu, kakak perempuan, penjaga toko, kadang-kadang muncul paman dan tetangga. Semuanya terjadi di apartemen mereka, kadang melebar ke kota, ke toko, ke sanotarium. Di luar itu, ia hanya memberi bumbu musim panas, atau musim semi, malam, topan. Sejujurnya saya sempat diserang pertanyaan, “Cerita macam apa ini? Mau dibawa ke mana kita?” Tapi di bawah permukaan, keluarga itu menjelma makhluk-makhluk fantastis, dengan peperangan, penemuan-penemuan spektakuler, petualangan asmara, pengalaman mencekam, dan saya kira hanya sedikit penulis, salah satunya Schulz, mampu melakukan hal itu untuk membuat kita terjebak di sana, diseret oleh pengaruhnya, tak berdaya untuk melepaskan diri. Seorang pencerita adalah seorang penyihir yang menjebak kita di dunia ambang, dunia nyata yang kita kenali, sekaligus di dunia imajinasi yang asing dengan segala pengaruhnya: membuat kita senang ataupun takut. Kita tak pernah benar-benar yakin, ketika si anak tersesat dari gedung teater ke rumah hanya untuk mengambil dompet ayahnya, apakah ia mengalami petualangan yang nyata atau khayalan. Apakah kota dan sanotarium itu dunia mimpi atau kenyataan sesungguhnya. Bahkan Schulz memaksa kita untuk berada di ambang fantasi, metafor atau sejenis hiperbola, ketika misalnya menulis, “Ia demikian tak punya pikiran di mana ia kadang membuat saus putih dari surat dan kertas tagihan tua”, sebagaimana kita selalu berada dalam kebimbangan apakah sedang menghadapi situasi komedi atau tragedi. Kita bisa memercayai segala hal yang terjadi di sini, sekaligus meragukannya. Jebakan dunia ambang ini, saya rasa, sudah terjadi bahkan di bentuknya. Apakah yang kita hadapi ini sekumpulan cerita yang bisa berdiri sendiri, atau sebuah novel yang aneh? Kamu bisa menganggap satu di antaranya, atau meragukan keduanya. Ia adalah kesinambungan sekaligus keterputusan di sana-sini. Seorang pencerita adalah seorang penyihir yang seringkali menakutkan, memiliki dunia sendiri yang kadang tak dipahami oleh manusia-manusia awam. Saya selalu menaruh curiga kepada novel-novel yang menyenangkan. Sebab, seperti makanan yang penuh dengan gula atau garam, seenak apa pun seringkali memberi jebakan berbagai penyakit. Makanan yang sehat, kata ibu saya, lebih sering tak enak dimakan. Buku yang baik, yang mengganggu saya, juga seringkali begitu. Saya tak akan bilang buku ini menyenangkan. Membacanya menuntut tak hanya nyali dan ketabahan, tapi juga pengendalian diri. Saya merasa bukan bagian dari buku ini, terlempar dan tertolak. Tapi ketika menyelesaikannya, ia menyisakan rasa pahit yang lama, yang tak mau hilang, dan bagian-bagian terbaik dari isinya terus menghantui saya setelah itu. Saya yakin ia tak akan pergi, akan terus bersemayam, seperti wajah monster menakutkan jika kau pernah sekali saja menemukannya. “Sebab buku-buku yang biasa itu seperti meteor. Masing-masing dari mereka memiliki satu momen, momen ketika ia menjulang menjerit seperti burung hong, seluruh halamannya membara. Untuk momen tunggal itu kita mencintainya, meskipun setelahnya mereka luruh menjadi abu.” Schulz jelas tak menulis buku macam begitu. Ia menciptakan monster. Seorang pencerita adalah penyihir yang membuka banyak pintu dan berbagai kemungkinan, bahkan meskipun ia hanya meninggalkan sedikit saja untuk kita. Hidup Schulz terbilang tragis. Ketika tentara Nazi datang ke kotanya, sebagai seorang Yahudi, ia tak sempat melarikan diri. Bakat menggambarnya menarik minat seorang perwira Jerman, yang memintanya menggambar mural untuk kamar anak. Ia memperoleh perlindungan. Sial, pelindungnya membunuh Yahudi lain, dan Jerman pelindung Yahudi itu membalas dendam. Menembak mati Schulz di jalan sambil berkata kepada kolega Jermannya: “Kau bunuh Yahudiku, kubunuh milikmu.” Ia hanya meninggalkan buku ini, serta setumpuk gambar dan surat-surat, tapi saya kira buku ini merupakan pintu luar biasa. Pintu yang bisa membawamu ke berbagai kemungkinan. Sejenis pintu yang telah dibuka oleh Kafka atau Cervantes. Pintu yang mustahil untuk ditutup kembali.

The Seven Madmen, Roberto Arlt

Makhluk-makhluk di novel ini tak hanya sekumpulan orang-orang gila, sampah masyarakat dan yang terabaikan, tapi juga sekaligus sebagai barang mainan dari dunia yang bengis. Buenos Aires bagi Roberto Arlt (seperti Jerusalem bagi Yesus, kata Roberto Bolaño), adalah padang gembalaan dengan domba-domba yang minta diselamatkan sekaligus sadar bahwa dunia hanya akan meluluh-lantakkan mereka, jika bukan dihancurkan oleh diri sendiri. Oleh ketololan dan kegilaan. Kesusastraan Argentina dari kejauhan, dari negeri tropis yang melenakan ini, seringkali berada di bawah bayang-bayang keglamoran Borges (juga Bioy Casares): intelek, penuh permainan, metafisis, dan tentu saja menyihir. Kehidupan yang berbaur dengan mitologi, sosok-sosok setengah filsuf, para gaucho yang beradu duel pisau, hingga teka-teki personal yang misterius. Tapi tidak, Kawan. Kesusastraan Argentina juga memperlihatkan sisi baliknya yang brengsek, gelap, kacau, dalam diri Roberto Arlt, yang hidup sezaman dengan Borges (meskipun lebih pendek). Brengsek bahkan dalam tingkatan yang paling menyedihkan: novel-novelnya dijejali dengan kesalahan tatabahasa dan logika yang ugal-ugalan (seperti disinggung Nick Caistor, penerjemahnya). Bagi para pemuja, ia jenius; bagi para pembenci, ia sampah. Dan seperti tokoh-tokohnya, Arlt merupakan yang terabaikan. Menggelandang ke sana-kemari, sesekali muncul kembali pengaruhnya dalam diri penulis belakangan. Cortazar atau Bolaño, bisa disebut. The Seven Madmen bisa dikatakan, sekali lagi, tentang orang-orang gila yang mencoba mengubah dunia. Atau lebih tepatnya, menghancurkan dunia yang telah menghancurkan mereka, yang telah melahirkan mereka dalam ketidakbahagiaan akut. Ketidakbahagiaan yang sudah bersemayam di dalam diri mereka, seperti dikatakan salah satu karakter, Hipólita. Pusat dari kegilaan ini barangkali terletak di diri Si Peramal, yang meyakinkan sekelompok orang gila lainnya untuk mendirikan kelompok rahasia dengan tujuan utama: melancarkan revolusi. Novel ini ditulis dan diterbitkan, persis beberapa tahun sebelum masa-masa yang penuh gejolak dalam politik Argentina, ketika tentara berkali-kali berusaha mengambil-alih kekuasaan, sebelum akhirnya berhasil dilakukan oleh Peron. Kejeniusan Arlt terletak bagaimana ia bisa menangkap seluruh keresahan itu, juga kegilaan, di zaman yang tak menentu. Rencana revolusi mereka barangkali merupakan rencana paling tolol yang pernah ada dalam sejarah revolusi, sebab mereka tak tahu persis apa dasar moral, dasar keyakinan, dari revolusi mereka. Si Peramal berkali-kali menyebut Lenin, juga Mussolini, juga bandit abad kesembilan belas bernama Abdala-Abn-Maimun, bahkan mengagumi organisasi Klu-Klux-Klan. Buat Si Peramal sebenarnya sederhana saja. Ia bisa menghasut kaum buruh dan merah dengan gagasan-gagasan revolusioner ala komunis, tapi menghadapi orang-orang religius, kita bisa mengumbar ayat-ayat kitab suci. Yang penting menggalang massa, yang penting membuat mereka senang. “Kebahagiaan manusia terletak dalam kebohongan metafisikal,” jika ada satu kutipan paling penting dari mulutnya, inilah kutipan itu, dan bisa jadi jika ada, inilah inti dasar revolusi yang diangan-angankannya. Dan kembali ia berkata melanjutkan sambil menerangkan si bandit Maimun yang dikaguminya: “Izinkan kukatakan bahwa pemimpin gerakan ini seorang sinis yang luar biasa, yang tak memercayai apa pun. Kita akan mengikuti contoh mereka. Kita akan menjadi Bolshevik, Katolik, fasis, ateis, militeris, tergantung tingkat inisiasi.” Bangsat betul, bukan? Ini dunia yang tidak dijejali pahlawan, tapi sekaligus tidak mengglorifikasi anti-pahlawan. Mereka bukan pahlawan juga bukan anti-pahlawan. Mereka hanya gembel-gembel yang penuh dengan ketulusan, impian, cinta kasih, sekaligus kesedihan, luka, kejahatan dan kedengkian. Gembel di luar dan gembel di dalam. Sebab, seperti kemudian dikatakan kembali oleh Si Peramal, semua manusia pada dasarnya gila, setidaknya di dalam pikiran. Yang membedakan satu dan yang lainnya: ada yang mengungkapkan pikiran-pikiran sintingnya, ada yang mendekamnya. Si tokoh utama (sebenarnya saya ragu mengatakan dia sebagai tokoh utama, mengingat kemunculan dirinya seringkali menjadi pengantar bagi kemunculan sosok-sosok lainnya di novel ini), Remo Erdosain bisa dibilang menyimpan kesintingannya rapat-rapat. Ia mencoba menghadapi hidup seolah semuanya baik-baik saja, padahal kita tahu, segala sesuatu di luar dirinya merupakan kekejian yang tak ada ampun untuk dirinya. Ia memandang dirinya sendiri sebagai penemu. Ia membayangkan banyak penemuan, dan bermimpi mewujudkan penemuannya serta menghasilkan uang. Tapi itu tak pernah terjadi. Uang tak pernah datang kepadanya dan penemuan-penemuan itu hanyalah gagasan-gagasan naif. Hidupnya berakhir menjadi tukang tagih, yang dengan sedikit kecerdikannya, bisa mencuri uang dari tuannya, yang belakangan menjadi masalah besar yang membuatnya terbenam jauh ke dalam lumpur dunia. Persoalannya tak hanya itu: ia menikahi seorang perempuan, yang tak hanya tidak pernah diciumnya, tapi juga tak pernah berani disetubuhinya. Ketika ia akhirnya mencoba menjamah isterinya, si isteri menolak, dan itu memaksanya untuk menghabiskan perkawinan mereka dalam masturbasi. Hingga satu hari, ia melihat isterinya pergi dengan lelaki lain. Ke mana-mana ia membawa pistol di saku celananya, dan memang pantas sekali jika ia punya pikiran untuk menembak kepalanya. Hanya satu pelor, logam kecil, dan segala ketidakadilan dunia dan ketidakbahagiaannya akan berakhir. Tapi makhluk-makhluk brengsek Buenos Aires ini dilahirkan untuk melata lebih lama, bahkan meskipun mereka tak sanggup sekadar menertawakan nasib, dan malahan berpikir untuk meluluh-lantakkan dunia untuk menatanya kembali. Arlt membawa mereka pada akhir yang jenius, juga menyedihkan sebenarnya. Memikirkan semua rencana revolusi itu, mereka terhenyak ketika seorang tentara berkata: “Organisasi kaum buruh bereaksi dan mengumumkan pemogokan; kata-kata ‘revolusi’ dan ‘Bolshevisme’ akan menyebarkan ketakutan sekaligus harapan. Kemudian, ketika serangkaian bom telah melanda seluruh kota, ketika semua selebaran sudah dibaca, dan agitasi revolusi sudah mencapai puncaknya, itulah waktu ketika kami orang militer mengambil alih …” Novel ini tak hanya membicarakan tujuh orang gila, tapi juga dunia yang sinting. Kita harus membaca lebih banyak Arlt, sambil mencabik-cabik apa yang kita pikir tentang novel dan kesusastraan.

This is an excerpt from Beauty Is a Wound in Traditional Chinese:

傳說有個名叫倫嘉妮斯的公主十分美麗,見了她的人都願意為她而死。馬曼根登一晚醒來,覺得他為了得到那樣的女人,願意和任何人一戰,於是一一搖醒他的手下,問他們倫嘉妮斯公主住在哪。他們答道,當然是在哈里蒙達啊,坐著獨木舟沿海岸往西划,就會到達。

Read more here.

The Man In The High Castle, Philip K. Dick

Di mana letak keindahan sebuah obyek, katakanlah benda seni? Di mana terletak keistimewaannya, nilainya? Di mana letak kesejarahan dari sepucuk senjata yang telah mengarungi banyak peperangan? “Di pikiran. Bukan di pistol itu,” kata Wyndam-Matson salah satu tokoh dalam The Man In The High Castle karya Philip K. Dick. Sebenarnya novel ini berkisah tentang sebuah andai-andai: jika Perang Dunia II ternyata dimenangi oleh Jerman dan Jepang, dan Amerika harus dibagi di antara kedua negara itu. Di masa seperti itulah kemudian muncul novel yang malah menceritakan andai-andai sebaliknya: Ternyata Sekutu menang (dan dunia dibagi di antara pengaruh Amerika dan Sovyet). Lelucon-lelucon politik dan ideologinya mengasyikkan, tapi sempilan-sempilannya tentang seni yang sebenarnya tak banyak, malah menarik perhatian saya. Seperti yang sudah saya buka di atas, di sana-sini kita bisa menemukan pembicaraan tentang seni, kadang sampai tingkat yang lumayan filosofis, kadang dalam tingkat ejekan atas selera seni kaum fasis (juga kapitalistik dengan produksi massalnya). Untuk membuktikan pernyataannya, Wyndam-Matson memperlihatkan dua geretan Zippo yang serupa. Satu di antaranya ada di saku Franklin D. Roosevelt ketika ia dibunuh. Bisa diketahui yang mana? Menurutnya, tidak. Sebab tak ada “penampakan lapisan mistis” atau “aura” dari benda itu. Kita sendiri yang menciptakan “aura” tersebut. Isu ini selalu menarik perhatian saya, tentang bagaimana sebuah karya memiliki nilai tertentu, dan benda lain dianggap sampah. Dan kita tahu, nilai-nilai itu bisa berubah, tak hanya karena yang menilai berbeda, tapi juga karena ruang dan waktu yang berbeda. Maka saya kira, eksploitasi karya seni (untuk tujuan apa pun), pada dasarnya merupakan eksploitasi pikiran manusia. Bentuklah pikiran manusia, satu generasi atau satu bangsa, maka akan terbentuk pula “selera” mereka mengenai seni seperti apa yang baik dan bagus, atau sampah. Bayangkan misalnya kesusastraan Indonesia. Saya sering curiga, kita tergila-gila dengan kesusastraan yang menampilkan watak-watak pahlawan. Sosok yang mau berjuang dan bahkan berkorban untuk orang lain, untuk kebenaran, atau untuk sebuah nilai. Sosok yang bisa jadi panutan. Saya yakin pikiran ini tentu saja dibangun oleh wacana yang barangkali sejarahnya jauh ke belakang, entah di mana. Karena itulah sangat jarang, bukannya tak ada, kita menemukan watak-watak yang sebaliknya: yang brengsek, sampah, tak membela apa-apa kecuali nafsu bejatnya sendiri. Padahal saya yakin, kesusastraan tak hanya membutuhkan model ideal, tapi juga cermin untuk melihat kebusukan, kelemahan dan sisi gelap manusia. Kembali ke novel ini, ada ejekan menarik mengenai selera kaum fasis Jerman, yang diucapkan karakter yang lain: “Aku suka Verdi dan Puccini. Apa yang kita dapatkan di New York hanyalah musik Jerman yang berat dari Wagner dan Orff yang bombastis, dan setiap minggu kita harus pergi ke pertunjukan dramatik Partai Nazi Amerika yang klise di Taman Madison Square, dengan bendera-bendera, genderang, terompet dan kembang api.” Tentu saja Nazi memang menyukai tontonan macam begitu. Seperti dikatakan Walter Benjamin (izinkan melipir sedikit, dengan mengutip dari esai “The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction”), “Kaum fasis mengestetikkan kehidupan politik.” Atau jika boleh mempergunakan kata-kata sendiri, kaum fasis menciptakan aura dengan cara seperti itu, cara yang jitu untuk menggiring massa ke dalam politik, tapi pada saat yang sama membutakan mereka dari politik itu sendiri. Dibutakan oleh “aura”. (Saya bahkan yakin, kumis Hitler yang seperti itu juga memang sengaja sebagai upaya “mengestetikkan kehidupan politik”). Bayangkan orang-orang lapar, yang terpinggirkan secara sosial dan politik. Bukannya berpikir kritis, mengorganisir diri dan melawan secara politik, mereka malah silau oleh aura yang dibangun dalam kerangka “mengestetikkan kehidupan politik” ini: oleh jargon, oleh pawai-pawai (dengan sepeda motor tanpa helm?), emblem-emblem di baju seragam, bahkan oleh cara berpakaian Pemimpin Besar. Membawa pentungan, bahkan pedang, seolah sedang mempertunjukan sebuah teater. Mereka masuk ke dalam barisan, merasa bagian dari “aura” tersebut. Tak perlu jauh-jauh ke masa Perang Dunia II, gejala semacam itu bisa kita lihat hari-hari ini di mana-mana. Di sini, di barat maupun di timur. Ketergila-gilaan kepada aura ini bahkan bisa menciptakan sentimen yang absurd. Ketika si orang Jepang di novel ini mengusulkan si tokoh utama, Childan, untuk memproduksi massal (dengan cetakan) perhiasan logam (yang diciptakan oleh “artis” Amerika dengan tangan satu per satu), ia merasa tersinggung. Nasionalismenya terluka. Mental negeri jajahannya terbakar. Saya benar-benar tertawa di bagian ini, terutama karena Amerika yang kita kenal merupakan negeri yang dipenuhi “produksi massal”. Mungkin itu cara Philip K. Dick mengejek negerinya. Bagaimana melawan bias “aura” ini, yang tentu saja dikendalikan oleh sejenis otoritas (baik karena ideologi seperti kaum fasis, atau sekadar alasan komersial dari para pedagang)? Walter Benjamin punya jawabannya, alih-alih mengestetikkan politik, lebih baik “mempolitikkan seni.” Kata Benjamin, itu jawaban kaum komunis terhadap selera estetis fasisme. Hm, novel ini membawa saya ke mana-mana, ternyata.

Older posts

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑