Journal

Membaca Cerita-cerita Isaac Babel

Isaac Babel merupakan salah satu yang tersisa dari era Sovyet. “Ditemukan” oleh Maxim Gorky, dan konon terus dimentori olehnya sampai Gorky sendiri mati. Salah satu penulis cemerlang berbahasa Rusia (awalnya ia menulis dalam bahasa Prancis), seorang revolusioner, yang harus berkahir tragis ditembak mati polisi rahasia Stalin. Permohonan terakhirnya sebelum dieksekusi hanya, “Izinkan aku menyelesaikan tulisanku.” Meskipun banyak karyanya dihancurkan, dan namanya sempat dilupakan (sebelum direhabilisasi oleh rezim Sovyet kemudian), beruntunglah kita masih bisa bersua cerita-ceritanya. “Old Shloyme”. Cerpen pendek (konon karya pertamanya) tentang bangsatnya menjadi tua dan harus berubah. Ngilu. Bisa juga dibaca sebagai satir, tentang enaknya duduk di pojok hangat dan tak mau hengkang. “At Grandmother’s”. Kali ini seorang perempuan tua, dihajar rasa nyeri pada dunia yang tak adil. Di mana kebaikan dan rasa belas-kasih hanya menjadi santapan kerakusan. Ia marah dan berharap cucunya bisa berdiri merampas dunia. “Belajarlah, dan kau akan memperoleh segalanya. Kekayaan dan kejayaan!” Dan jangan percaya pada orang, pada teman. Jangan berikan uangmu, jangan berikan hatimu. Cerita yang penuh kemarahan. Tapi semarah apa pun, rumah seorang nenek tetaplah tempat tidur terbaik untuk seorang cucu. “Elya Isaakovic and Margarita Prokofievna”. Bisa jadi ini kisah seorang pelacur (dan pelanggannya) termanis yang pernah saya baca. Mereka dipertemukan oleh dua kebutuhan. Si pelacur tentu saja butuh uang untuk hidup dan sewa kamar. Si pelanggan butuh tempat berbaring, tubuh untuk dipeluk, teman untuk berbincang di kala sarapan. Mereka sadar hubungan itu hanya transaksional saja, tapi mereka tahu bagaimana mengakhiri dua malam itu dengan cara yang manis. “Mama, Rimma, and Alla”. Tentang seorang ibu dengan dua gadisnya, sementara di rumah juga ada para perjaka, mahasiswa yang menyewa kamar. Si gadis sulung ingin pergi dari rumah, bebas merdeka. Si gadis bungsu tak berkata apa-apa, sampai ketahuan bunting. Seperti mentornya, Gorky, cerita-cerita Babel penuh dengan problem-problem masyarakat jelata dengan keseharian mereka, dan selalu memiliki cara tersendiri bagaimana menyelesaikan persoalan tersebut. “The Public Library”. Sebuah sketsa tentang perpustakaan. Sedikit meromantisir kehidupan perpustakaan, meskipun kemudian disikat dengan pernyataan, di luar jendela … kehidupan tengah bermekaran. “Nine”. Ini semacam studi tentang karakter, tentang sembilan orang tamu yang berkunjung menemui seorang editor majalah. Entahlah, tiba-tiba saya membayangkan tujuh orang samurai dalam film Kurosawa. “Odessa”. Sebuah sketsa tentang kota dan para penghuninya, di satu sisi, dan studi tentang bagaimana para penulis lain (Turgenev, Dostoyevsky, Gogol, Gorky) menggambarkan kota mereka. Kenapa Gorky begitu mencintai matahari? “The Aroma of Odessa”. Masih sebuah sketsa tentang Odessa, kali ini dilihat melalui apa yang ditulis di halaman majalah, dan bagaimana ia dibentuk oleh kaum pendatangnya. Sangat jarang menemukan sketsa-sketsa semacam ini di tangan penulis-penulis kontemporer. Setidaknya mereka jarang menerbitkannya, barangkali kita terlalu terobsesi kepada sesuatu yang dramatik. “Inspiration”. Baiklah, ini lelucon kuno tentang inspirasi, tentang penulis pemula yang meledak-ledak dan merasa memiliki gagasan hebat, tapi kau tahu, yang bicara terlalu bawel dan keras biasanya tak ada isinya. Ada peribahasa soal itu, kita semua tahu. “Doudou”. Perasaan saya agak campur-aduk. Cerpen ini barangkali bisa diringkas dengan satu perkataan Doudou, si gadis yang dijadikan judul setelah ia memberikan tubuhnya kepada prajurit yang sekarat: “Ia kedinginan, ia sekarat, ia sendirian, ia memintaku, akankah kukatakan tidak?” Cerpen berikut, “Shabos-Nakhamu”, merupakan kisah komedi tentang Yahudi yang menipu sesamanya, menipu seolah ia merupakan utusan Tuhan dari dunia lain untuk memberi kabar kepada manusia. Seperti membaca sejenis kisah dari Seribu Satu Malam yang konyol. “On The Field of Honor”. Merupakan tiga kisah horor dari medan perang, tentang tiga kematian. Percayalah, tak ada yang lebih horor kecuali mati di medan perang bukan oleh musuh, tapi oleh tangan-tangan kawan sendiri, langsung tidak langsung. Terutama oleh kelemahan diri sendiri. “The Sin of Jesus”. Seorang perempuan berlumur dosa, menemui Jesus memecahkan masalah hidupnya. Jesus bertanya, bagaimana jika kau menempuh jalan yang suci saja? Jawab si perempuan: Kau pikir setiap orang harus berhenti hidup? Kau masih saja menyanyikan lagu usang! “An Evening with The Empress”. Bukan dengan ratu sebenarnya, tentu. Ini sketsa tentang sebuah perpustakaan, yang kebetulan memperoleh nama dari sang ratu. Dikisahkan oleh seorang gembel kelaparan yang mencari tempat bernaung dan tidur. “Chink”. Tentang seorang Cina, pelacur dan lelaki tua. Si Cina menawar si pelacur. Si pelacur mau, asal mereka boleh menampung lelaki tua gembel. Apa yang akan terjadi ketika ketiga orang itu ada di kamar? Saya rasa ini cerpen paling brutal dari Babel, sejauh ini. “A Tale About A Woman”. Seorang perempuan yang ditinggal mati suaminya di medan perang, dan kemudian disia-siakan orang-orang di sekelilingnya. Dalam kisah-kisah Babel, kemudian saya sadar, saya sering menemukan nasib-nasib malang manusia, kontras dengan alam yang cemerlang dan indah. Terasa nyeri jadinya. “The Bathroom Window”. Seorang bocah yang membayar demi bisa menaiki tangga dan mengintip pelacur lewat jendela. Lucu, tentu saja. “Bagrat-Ogly and The Eyes of His Bull”. Tentang seorang anak yang kehilangan sapinya, dibunuh oleh tetangganya karena cemburu. Si narator mencoba melihat rasa marah ini, yang terpantul lewat mata si sapi, untuk melihat kemarahan sosial yang lebih luas. “Line and Color”. Dalam sebuah tradisi parabel, tentang kisah kebijaksanaan. Mana yang lebih berharga, dunia imajinasi yang lebih kaya atau kenyataan yang mungkin menyakitkan? “You Missed The Boat, Captain!” Dalam cerpen-cerpen Babel yang sebagian besar sangat ringkas, saya sering membayangkan bahwa kisah-kisah ini adalah penggalan dari sebuah epik yang jauh lebih luas. Katakanlah cerpen ini, kita bisa memulai sebuah novel tentang para pelaut. Babel menulis dengan begitu detail, telaten, seolah ia hendak menulis ratusan halaman, meskipun apa yang tertulis hanya dua atau tiga halaman. “The End of St. Hypatius”. Sebuah biara yang berakhir menjadi apartemen kaum buruh, tentu selepas revolusi yang berhasil. “A Story”. Ini merupakan versi yang lebih awal dari cerpen “The Bathroom Window”. Mungkin menarik untuk membandingkannya, sekaligus menelaah semua cerpen-cerpen ini sebagai titik berangkat Babel, sebab cerpen-cerpen di atas merupakan karya-karya awal dari sang penulis.

The Collected Stories of Isaac Babel terbitan W.W. Norton disebut-sebut yang paling komplet menghimpun cerita-cerita Babel dalam bahasa Inggris. Sejauh ini, saya melihat kisah-kisah ini dipenuhi gembel dan bajingan, diselingi sketsa-sketsa kasar tentang beberapa hal. Ia memiliki empati pada tokoh-tokohnya, juga lanskapnya, meskipun kadang dengan kejam juga menertawakan nasib mereka. Cerpen-cerpen berikutnya, diambil dari masa-masa Odessa. Cerpen-cerpen tentang kehidupan di kota tersebut, terutama para bajingannya. Saya merasa cerpen-cerpen ini mulai memperlihatkan darah dan daging yang lebih nyata dibandingkan kisah-kisah di awal karirnya. “The King”. Bayangkan sebuah fragmen dari sebuah film mafia. Dibuka dengan lanskap pesta pernikahan. Yang menjadi pengantin adalah adik perempuan si mafia, yang dipanggil Raja, dan sang Raja sendiri ada di sana. Pada saat yang sama, polisi distrik baru saja memperoleh kepala polisi yang baru dengan program kerja hari pertama: memberangus gerombolan bajingan pimpinan Raja di hari pernikahan adiknya. Apa yang terjadi? Sang Raja tentu saja mendahului apa yang ada dipikiran polisi. Ini merupakan perkenalan pertama dengan Benya Krik, sang raja gangster dari Odessa. “Justice In Parentheses”. Kali ini kita berhadapan dengan sesorang (yang kebetulan narator kisah ini, “si aku”), dan bagaimana akibatnya bermain-main, lebih tepatnya mempermainkan Benya Krik. Sebenarnya bukan bermaksud mempermainkannya, tapi tak lebih dari sekadar mengambil risiko, demi memberi makan keluarga. Katakanlah si aku ini mendengar seseorang bicara tentang “celah keamanan” sebuah toko koperasi yang uniknya bernama “Keadilan”. Masalahnya, celah keamanan itu bocor tentu saja memang untuk mengundang perampok masuk. Diam-diam si aku mengirimkan informasi celah keamanan ini kepada Benya. Sial. Pada hari yang sama, Benya dan gerombolannya menggeruduk toko koperasi itu, di tempat yang sama ada gerombolan perampok lain juga tengah bekerja. Benya merasa dipermalukan, harga dirinya terluka. “Keadilan” akan datang untuk si aku, meskipun pada akhirnya toh ia masih juga bertahan hidup. “How Things Were Done In Odessa”. Di cerpen inilah, kemudian kita tahu kenapa Benya Krik dipanggil “Raja”. Bukan semata karena teror yang diciptakannya, tapi bagaimana ia menegakkan hukum jalanan dengan caranya sendiri, tanpa kompromi. Ada banyak bajingan di Odessa, tapi kemudian Benya yang memperoleh sebab itu, bahkan meskipun asal-usulnya menjadi bajingan karena ia memperoleh restu dari para bajingan lain: untuk merampok seorang saudagar paling kaya di Odessa. Saudagar yang pernah coba dirampok sembilan kali oleh kelompok bajingan itu dan semuanya gagal. Benya melakukan yang kesepuluh dan berhasil. Tapi bukan itu yang membuatnya jadi raja. Bukan. Di saat melakukan perampokan, satu anak buahnya mabok dan tanpa sengaja menembak mati si penjaga toko, anak satu-satunya seorang perempuan setengah baya. Di situlah ia memunculkan dirinya menjadi raja. Tentang bagaimana ia bersikap atas kematian si penjaga toko, dan hukuman apa yang harus diterapkannya kepada si anak buah mabuk. Satu hal yang paling menarik dari kisah ini adalah bagaimana Benya bisa menjadikan kematian si penjaga toko sebagai sebuah tragedi kelas, ketika ia berpidato di pemakamannya: “Apa yang telah dilihat Josif kita tersayang dalam kehidupan? Satu omong kosong besar. Apa yang dilakukannya untuk hidup? Ia menghitung uang orang lain. Untuk apa ia mati? Ia mati untuk seluruh kelas pekerja.”

Tentu ini perjalanan yang baru beberapa langkah dalam menjelajahi cerita-cerita Babel, tapi saya putuskan berhenti dulu di sini, meninggalkan rasa penasaran yang semestinya kepada khalayak ramai.

Standard
Esai

Tempat Terbaik Bagi Buku

Di manakah tempat terbaik untuk menyimpan buku? Di rak buku? Rak buku tempat yang sangat terbatas, kecuali rumahmu bisa terus berkembang. Seiring bertambah jumlah bukumu, rak bukumu akan menjadi tempat yang sempit, dan buku-buku mulai menjajah meja kerjamu, sofa tempatmu bersantai, bahkan tempat tidurmu.

Bicara tentang rak buku, bahkan rak-rak di toko buku yang ada sekarang seringkali tak sanggup menampung kedatangan buku-buku baru dari penerbit. Toko buku bukannya semakin meluas untuk mengakomodasi pendatang-pendatang baru, yang ada semakin menyempit, berbagi dengan alat-alat tulis dan pertokoan.

Rak di toko buku bahkan mulai dilihat sebagai aset properti. Luasnya, atau daya tampungnya, harus dihitung dengan berapa banyak yang bisa dihasilkan dari sana per bulan atau per tahun. Maka buku-buku yang dianggap lambat menghasilkan, dengan cepat digusur oleh buku-buku yang dianggap lebih cepat laku. Rak di toko buku bukan gudang, apalagi lemari arsip.

Kondisi ini memang sangat menjengkelkan untuk banyak penerbit, terutama penerbit-penerbit kecil. Apalagi jika penerbit-penerbit itu menerbitkan buku yang serius, atau agak serius, yang tak terjual cepat dalam satu-dua bulan. Memangnya buku penting macam The Origin of Species karya Charles Darwin bisa mendadak bestseller? Demikian pula buku macam biografi pelukis Basoeki Abdullah?

Untunglah kesulitan kadang memberi peluang bagi jiwa-jiwa yang kreatif. Iklim yang tidak menguntungkan bagi perkembangan literasi ini didobrak oleh munculnya toko-toko buku alternatif. Pertama, tentu saja toko-toko daring di internet. Mereka tak dihadapkan oleh sewa tempat yang mencekik rekening usaha mereka yang tak seberapa. Ini membuat mereka bisa menampung segala jenis buku, dari yang super laris hingga buku yang pembacanya mungkin hanya puluhan orang.

Toko-toko buku daring ini bisa dimiliki nyaris siapa pun. Ada yang benar-benar serius berbisnis, bahkan dengan mendirikan perusahaan secara resmi. Mereka tak hanya membuka situs penjualan, tapi juga hadir dalam bentuk aplikasi. Ada pula ibu rumah tangga, atau mahasiswa, yang melakukannya secara sambilan. Berjualan melalui laman media sosial mereka seperti Facebook atau Instagram.

Kedua, saya rasa imbas dari menjamurnya toko buku daring, juga bermunculan toko-toko buku kecil secara fisik. Mereka mungkin tak ditemukan di mal-mal yang benderang, tapi di lingkungan kampus atau komunitas-komunitas. Sama seperti toko buku daring, toko-toko ini juga menjadi tempat lain, bahkan lebih baik, bagi banyak jenis buku menunggu pembelinya. Mereka menjadi berkah bagi banyak penerbit, dan akhirnya bagi literasi di negeri ini.

Akan tetapi keadaan yang penuh optimisme ini dirusak oleh beberapa peristiwa razia buku yang datang beruntun. Pertama terjadi di Kediri, disusul peristiwa serupa di Padang. Terakhir, juga terjadi di Tarakan.

Ketiganya dilakukan oleh prajurit TNI, juga dengan kesamaan alasan: menyita buku-buku yang diduga mengandung ajaran komunisme. Dengan menduga-duga, jelas mereka belum membaca buku-buku itu. Terbukti bahkan buku-buku Soekarno, salah satu proklamator kita, juga ikut disita. Mereka mengabaikan hukum yang melarang pengambilan paksa buku tanpa izin dari pengadilan.

Ada yang mencoba berspekulasi razia ini ada hubungannya dengan politik menjelang pemilu. Apakah itu benar atau tidak, yang jelas ini merupakan pukulan bagi dunia literasi. Peristiwa-peristiwa itu menciptakan rasa takut. Takut menerbitkan buku, takut menjual buku, dan akhirnya takut membaca buku. Bahkan saking ketakutannya, dan mungkin rasa frustasi, penjual buku di Padang memutuskan mengobral bukunya dalam rangka menutup toko.

Salah satu cita-cita fundamental kita sebagai bangsa, tercantum dalam UUD 1945, adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Bagaimana kita bisa mencerdaskan bangsa, jika kita didera rasa takut berhubungan dengan buku? Beberapa dekade lalu, di bawah Orde Baru, buku-buku tak hanya dilarang. Orang yang tertangkap menjualnya bahkan masuk penjara. Apakah kita akan kembali ke masa itu?

Bagi saya, jelas itu bukan pilihan. Ketakutan ini harus dilawan, dan cara melawannya adalah persis melakukan apa yang mereka tak ingin kita melakukannya. Razia buku, sebagaimana pelarangan dan sensor, merupakan puncak dari ekspresi “kalian jangan membaca buku”. Maka untuk melawannya, ya baca buku-buku itu. Undang-undang paling tinggi di negara ini menjamin hak kita untuk cerdas, antara lain melalui buku.

Tentu saja teror bagi pembaca buku mungkin tak akan berakhir begitu saja. Razia dari toko-toko buku itu mungkin hanya awal. Diskusi-disukusi buku beberapa kali digerebek. Hal lebih buruk mungkin akan terjadi: buku ditarik dari toko. Orang yang menjual buku tertentu ditangkap. Dari sejarah runtuhnya peradaban, kita bahkan tahu, perpustakaan pun bisa dibakar.

Akan tetapi, sekali kita membaca sebuah buku, buku memperoleh tempat terbaiknya. Buku bisa dirampas, bisa lapuk, bisa dibakar, bisa dipinjam, dan bisa hilang, tapi gagasan yang tertanam di kepala hanya bisa dihapus oleh gagasan yang lain. Bagi kekuasaan yang menghendaki bangsa yang bodoh, buku menjadi berbahaya karena ia mengandung gagasan. Mereka takut gagasan itu masuk ke kepala pembaca.

Lawanlah, dengan menyimpan buku-buku itu di kepalamu. Dengan membacanya.

Diterbitkan di Jawa Pos, 12 Januari 2019.

 

Standard
Esai

Max Havelaar dan Dosa Kolektif

Kenapa novel seperti Max Havelaar begitu penting, terutama dalam konteks kolonialisme Belanda di Indonesia? Pertama, tentu karena novel itu memberi sejenis inspirasi kaum pribumi. Kedua, sebenarnya ini kekuatan terbesarnya: Ia juga memberi pengaruh besar bagi pembaca Belanda sendiri.

Setidaknya itulah yang saya sadari beberapa waktu lalu, ketika duduk satu meja dengan seorang Belanda. Dia lelaki berumur enam puluhan tahun. Mengaku pernah jadi diplomat, jadi penulis, bekerja sebagai bos penerbitan, dan pernah belajar kesusastraan Belanda.

“Terutama kesusastraan yang ada hubungannya dengan Hindia.”

Saat itulah dia bicara tentang novel-novel kesukaannya. Dari novel karya Hella Haasse, De Stille Kracht karya Louis Couperus yang versi panggungnya selalu terjual habis dalam setiap pementasan di Amsterdam, dan berakhir dengan membicarakan Max Havelaar karya Multatuli. Dia menyebutnya sebagai karya terbesar kesusastraan Belanda.

Satu jilid novel itu bahkan selalu tersimpan di gedung parlemen, dan itu bukan tanpa arti sama sekali. Menurut dia, “Novel itu membuka kesadaran kami bahwa kami melakukan kesalahan di tanah kolonial.”

Tentu tidak sekaligus, tapi bisa dibilang novel tersebut membuka kesadaran seperti keran air. Makin lama semakin membesar dan menguat.

Perbincangan tersebut kembali mengingatkan saya kepada sejenis keyakinan lama tentang karya yang hebat. Sebuah karya menjadi sangat berarti tak semata-mata karena ia membuka realitas, katakanlah memperlihatkan ketidakadilan, penindasan, kesewenang-wenangan. Banyak novel atau karya lain melakukan itu, termasuk Max Havelaar.

Ada kekuatan dahsyat lain yang terkandung di dalamnya. Apa? Menurut saya, kekuatan untuk membuka borok diri. Kekuatan yang membuat si pembaca sadar betapa brengsek dirinya, betapa jahat bangsanya. Sebuah refleksi diri bahwa untuk ketidakadilan, penindasan, dan kesewenang-wenangan itu, salah satu pelakunya adalah kita sendiri.

Itulah kehebatan novel itu, kata kawan saya. Kekuatan yang membuatnya jadi cermin. Kekuatan yang menerbitkan rasa malu tak terkira, tapi juga membuat banyak orang Belanda bersedia melewati perasaan tersebut. Tidak semua seperti itu, memang. Namun, para pembaca Max Havelaar atau De Stille Kracht yang tersadarkan juga tidak sedikit.

Lantas, apa arti kisah pertemuan saya dengan orang Belanda dan omong-omongan kami tentang kesusastraan Belanda di Hindia untuk Indonesia di masa sekarang?

Saya punya sedikit kenangan kecil bertahun lampau dengan sebuah buku. Judulnya Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma. Sampai hari ini saya masih menganggap buku itu sebagai kumpulan cerpen terbaik di Indonesia. Selain karena kisah-kisahnya, gaya menulisnya, terutama karena pengaruhnya (sastra maupun politik) terhadap saya pribadi.

Seperti banyak orang tahu, buku tersebut berisi cerita-cerita tentang pendudukan (militer) Indonesia di Timor Leste. Terutama selepas insiden Santa Cruz, Dili, 1991.

Jujur saja, sebelum membaca buku itu, saya tak tahu-menahu tentang Timor Timur (nama yang kita kenal waktu itu). Dan, menganggapnya sebagai provinsi bungsu (ke-27) yang sah. Timor Timur merupakan bagian dari Indonesia.

Namun, selepas membaca buku tersebut ketika masih mahasiswa, pikiran saya perlahan mulai berubah. Yang sangat mengganggu saya terutama bukan para klandestin yang disiksa, kepala manusia yang ditancapkan di pagar depan rumah, melainkan orang-orang yang melakukan penyiksaan itu.

Kenapa? Sebab, saya melihat wajah sendiri. Kita. Tentu kita tak melakukannya langsung. Namun, bagaimanapun, mereka mewakili kita: Indonesia.

Saya yakin banyak mahasiswa naif seperti saya terbuka matanya dengan buku tersebut, setidaknya di masa sebelum 1998. Tuntutan turunnya Soeharto berkelindan waktu itu dengan simpati dan dukungan untuk kemerdekaan Timor Leste. Saya rasa, penting bagi kita mengakui kebiadaban diri, didera rasa malu karena pengakuan itu, dan melewatinya.

Dengan mengingat pengalaman itu, saya bisa mengerti penjelasan kawan saya mengenai pengaruh Max Havelaar bagi pembaca Belanda di masa lalu. Bukan hanya itu, saya yakin ini bisa juga berlaku untuk dosa-dosa kolektif kita lainnya sebagai sebuah bangsa.

Bahkan, mungkin kita tak perlu menunggu ada buku dahsyat semacam buku-buku itu. Daya gugah tersebut bisa kita peroleh dari mana pun: film, berita, buku penelitian, atau lainnya. Yang terpenting adalah kehendak untuk membuka diri, kemudian mengakui kesalahan-kesalahan kolektif kita, bahkan meskipun kita tak terlibat secara langsung.

Maukah kita, misalnya, mengakui dosa-dosa kita sebagai bangsa atas penculikan dan penghilangan aktivis di masa reformasi, sebagaimana pembunuhan Munir juga dosa kita? Dan barangkali sama sulitnya dengan yang lain-lain bagi sebagian besar bangsa Indonesia, bersediakah mengakui dosa-dosa kita di Papua?

Dalam sejarah banyak negeri, pengakuan sebuah bangsa secara kolektif atas dosa-dosa mereka akan menjadi penggedor bagi langkah-langkah besar mereka di masa selanjutnya. Para elite politik sering kali merupakan orang terakhir yang memiliki rasa malu atas dosa-dosa mereka. Namun, sekumpulan warga biasa bisa bergerak lebih dulu untuk kemudian memaksa mereka. Mulailah membaca tentang reformasi, Munir, dan Papua sekarang juga. Itu akan mempermalukan kita, memang, seperti orang Belanda merasa malu saat membaca Max Havelaar. Tapi, kita harus melewatinya.

Diterbitkan di Jawa Pos, 15 Desember 2018.
Standard
Journal

Under the Jaguar Sun, Italo Calvino

Bagaimana jika kau memiliki penciuman yang tajam, yang bisa membedakan satu aroma dari berbagai keriuhan aroma lainnya? Itulah yang terjadi pada si narator dalam cerita “The Name, The Nose”. Ia bertemu seorang perempuan dengan aroma parfum yang sangat khas, dan sebagian besar waktunya merupakan usaha mencari perempuan itu, dengan bantuan indera penciumannya, tentu. Ia keluar-masuk toko parfum, untuk mencari tahu aroma apa sebenarnya yang datang dari perempuan tersebut, demi melacaknya. Tapi berbagai parfum pernah dicobanya, tak ada yang mendekati aroma parfum si perempuan (yang barangkali sudah bercampur pula dengan aroma alami tubuhnya, pakaiannya). Kisah ini merupakan salah satu dari tiga cerita dalam buku Under the Jaguar Sun. Sebetulnya Italo Calvino merencanakan proyek yang lebih panjang untuk buku ini, yakni cerita-cerita yang berhubungan dengan panca indera. Jika kita percaya manusia memiliki lima indera, seharusnya ia menulis lima cerita. Bisa pula lebih jika Calvino berpikir tentang indera-indera lain yang (mungkin) ada. Yang jelas, hingga kematiannya, ia baru menyelesaikan tiga cerita yang kemudian menjadi buku ini. Cerita pertama, “Under the Jaguar Sun”, berhubungan dengan indera pengecap (lidah). Bisa terbayang, ini semacam cerpen kuliner. Tapi jangan bayangkan sebuah kisah perjalanan dari satu tempat ke tempat lain kemudian dipenuhi komentar tentang “wah, enak sekali”, atau “tahu tidak, di balik masakan ini terdapat sejarah panjang blah blah blah”. Tidak seperti itu. Memang narator dan istrinya dalam sebuah perjalanan ke Meksiko, dan tentu saja mereka menikmati makanan lokal (sebab menikmati makanan lokal merupakan salah satu esensi dari perjalanan, yang tak tergantikan oleh gambar atau video, tidak pula oleh restoran mewah, begitu kata naratornya). Buat saya, ada dua hal yang menarik dari cerita ini. Pertama, bagaimana reaksi suami-istri atas makanan, juga cara mereka menghadapi makanan, memperlihatkan perbedaan karakter keduanya, yang jika saya tak salah tebak: seorang intropert dan seorang ekstropert. Sebuah eksperimen strategi literer yang menarik, sih. Kedua, bicara tentang ritual kuno tentang pengorbanan manusia untuk dewa. Setelah korban dibunuh, bangkainya dimakan. Pertanyaannya, dengan bumbu apa daging manusia itu dimasak, agar bisa “tertanggungkan”? Jujur, bagian itu membuat saya merasa dalam situasi horor, padahal hanya mempertanyakan bumbu, mempertanyakan kesanggupan lidah manusia. Cerpen kedua berjudul “A King Listens”, yang tentu saja mengenai pendengaran. Kisah seorang pembisik, yang membisikkan banyak hal kepada seorang raja. Saya merasa cerpen ini terutama jangan dibaca melulu isinya, tapi “bunyinya”. Sayang saya membaca dalam terjemahan Inggris. Mungkin akan terasa lebih merdu jika bisa membacanya langsung dalam bahasa Italia. Siapa tahu? Tapi setidaknya, terjemahannya pun memberi kesan bahwa cerita ini ada lebih untuk didengar, seolah-olah kita sang raja dan sang narator adalah si pembisik. Cerpen ketiga, tentang penciuman, sudah saya sebut di pembukaan. Entah apa yang akan ditulis lagi oleh Calvino seandainya ia berumur panjang. Setidaknya ia mesti menulis tentang indera peraba dan penglihatan. Mungkin juga ia menulis “panca budi indera”: tangan, kaki, mulut, anus, dan kelamin. Juga indera utama: pikiran. Yang jelas, Calvino memang penulis yang senang dengan eksperimen semacam ini, salah seorang penulis meta-fiksi yang paling berhasil. Atau seperti buku lainnya yang tak juga selesai, Six Memos for the Next Millenium (dia cuma menulis lima), ia meminta pembaca menyelesaikan yang tersisa?

Standard
Journal

Story of the Eye, Georges Bataille

Menghadapi novel ini, batas antara pornografi dan erotika bisa sekabur batas malam dan siang di waktu senja. Jika pornografi disederhanakan sebagai karya yang ditulis dengan tujuan untuk memberi rangsangan seksual, novel ini memenuhinya, tapi menyederhanakannya di titik itu saja tentu mengabaikan hal-hal lain yang terkandung di dalamnya. Seperti kisah-kisah fantasi, novel pornografi pada sudut tertentu bisa dilihat juga sebagai perayaan atas fantasi seksualitas, tentang dunia serba kemungkinan. Georges Bataille merupakan salah satu penyokong Surealisme Prancis (meski sempat berseteru dengan André Breton), dan novel Story of the Eye (terbit pertama kali 1928), saya rasa membiaskan juga hal itu. Dalam pornografi yang umum, akar realisme biasanya sangatlah kuat karena niatnya untuk mendekatkan diri kepada kenyataan, kepada fantasi yang mungkin dilakukan. Di novel ini kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan masih ada di sana, tapi sekaligus ia memberi ruang kepada wilayah-wilayah gelap ketidaksadaran. Sebelum ngalor-ngidul, saya ingin gambarkan dulu ini kisah tentang apa. Seperti umumnya novel pornografi, alur ceritanya ringkas saja. Seorang anak muda, sang narator, bertemu sepupu jauhnya, Simone. Mereka berdua di sebuah vila, si narator mulai tertarik kepadanya dan, “Aku mulai menyadari ia juga berbagi rasa gelisah yang sama denganku melihatnya, dan aku semakin merasa gelisah hari itu sebab aku berharap ia tak mengenakan apa-apa di balik pakaian luarnya.” Selanjutnya, dengan berlumuran susu di tubuh Simone, mereka larut dalam fantasi seksual masing-masing, berkahir dengan, “Kami mencapai orgasme hampir di waktu bersamaan tanpa menyentuh satu sama lain.” Petualangan masturbasi pertama itu terus terjadi hingga muncul tokoh lain, Marcelle. Mereka bercinta, kadang masturbasi, bertiga. Marcelle menjadi fantasi mereka yang lain, yang tanpa kehadirannya, fantasi seksual itu terasa basi. Terbayang? Itu baru separoh jalan. Akan muncul dua tokoh lain yang penting: orang Inggris yang (saya rasa) hasrat seksualnya terdapat pada hasrat melihat aktivitas seks orang lain, dan satu sosok tragik-komik, seorang pendeta. Di antara mereka, obsesi seksual Simone merupakan hal paling menarik. Ia menyiratkan sejenis simbolisme, yang pastinya perlu ditelaah lebih jauh. Pertama, ia tergila-gila kepada telur. Ia bisa sangat terangsang dengan meletakkan telur-telur rebus (dengan atau tanpa cangkang) di antara kedua pahanya, digelindingkan, mendekati kemaluannya. Apakah ini sejenis simbol feminitas? Perempuan dan telur? Mungkin. Ketika mereka menonton pertunjukan adu banteng, Simone juga terobsesi untuk memperoleh biji kemaluan banteng yang kalah. Biasanya itu diperebutkan untuk dijadikan menu makan malam, lambang persitisius sebagai penghormatan penonton kaya untuk petarung. Tapi di tangan Simone, sepasang biji kemaluan banteng itu merupakan alat rangsangan sesksual yang lain. Seperti telur-telurnya, ia meletakkan kedua biji kemaluan banteng itu di nampan dan mendudukinya, tentu tanpa celana dalam. Obsesi terhadap sperma jantan? Atau karena bentuknya, ia juga menyimbolkan telur? Puncaknya adalah hubungan ganjil dan mengerikan antara seks dan kematian. “Kau tahu bahwa lelaki yang digantung atau dicekik-jerat akan memiliki burung yang mengacung keras sesaat setelah pernapasannya terputus, hingga mereka ejakulasi …” kata Sir Edmund, si orang Inggris kepada si pendeta. Anda bisa bayangkan apa yang mereka lakukan kepada si pendeta di hadapan Simone? Ya, membunuhnya, agar … (bayangkan saja sendiri, meskipun di novel digambarkan sangat jelas). Apakah ini pornografi atau erotika?Membaca novel ini, saya semakin yakin kedua istilah itu hanya ada untuk menegaskan sejenis hirarki. Bahwa pornografi adalah sampah, bahwa erotika itu memiliki mutu. Novel ini saya rasa memorakporandakan hirarki seperti itu.

Standard
Esai

Politik yang Mengancam

Politik kita hari ini memang sangat riuh. Dan terdengar semakin berisik ketika nama Tuhan mulai dibawa-bawa. Sekelompok partai politik diklaim seseorang sebagai partai Tuhan, sedangkan lawannya dianggap partai setan. Selembar bendera menjadi perdebatan sengit karena berisi ikrar keesaan Tuhan. Jangan lupa, bahkan ada orang yang menganggap bencana sebagai azab Tuhan karena perilaku atau pilihan politik.

Dalam skala kecil yang remeh, itu juga terjadi. Tak jauh dari rumah saya di pinggiran Jakarta, pada sebuah tanah kosong di pinggir jalan, berdiri papan pengumuman.

Yang menarik adalah apa yang tertulis di sana, yang sekilas terlihat seperti sebaris doa: “Ya Allah, aku rela mendapat azab dari-Mu jika membuang sampah di sini. Amin YRA.”

Seingat saya, itu bukan satu-satunya pengumuman sejenis. Ada beberapa variasi lain di tempat yang berbeda. Semua diawali dengan “Ya Allah”, dilanjutkan dengan “aku rela masuk neraka” atau “aku rela miskin tujuh turunan”.

Akhirannya, jika bukan “buang sampah sembarangan”, tentu saja “kencing sembarangan”. Kita bisa menemukannya di gang yang gelap, di pinggir kali, atau di halaman rumah kosong.

Jika urusan sampah di lingkungan perumahan -yang seharusnya merupakan pekerjaan ketua RT- saja diserahkan kepada Tuhan, saya rasa tak mengherankan jika untuk hal lain, politik misalnya, Tuhan pun dibawa-bawa. Orang bisa berkilah bahwa Tuhan memang ada di mana-mana dan segala hal ada atas kehendak-Nya. Tetapi, saya kira persoalannya tak semata-mata itu.

Kita bisa belajar banyak dari papan ancaman azab tersebut dengan mencoba membacanya secara lebih teliti. Apa yang tertancap di sana bukan semata-mata sebuah pengumuman. Juga bukan sesederhana sebaris doa aneh. Ada sesuatu yang lebih dari itu, yang tersirat.

Memang pengumuman semacam itu bisa dianggap sebagai unjuk diri bahwa kita manusia religius. Kita manusia yang masih percaya kepada Tuhan, yang mengawasi perilaku kita. Tapi, di baliknya, kita bisa menangkap sejenis rasa frustrasi. Kita bisa membayangkan si pemilik tanah didera ketidakpercayaan pada tingkah laku manusia lain. Ia tak percaya pada kinerja ketua RT, juga para petugas kebersihan.

Bisakah hal itu diterapkan dalam skala yang lebih luas, terhadap jargon-jargon politik? Apakah dengan membawa nama Tuhan juga menunjukkan rasa frustrasi sekelompok orang?

Bisa jadi, meskipun sumber rasa frustrasinya bisa bermacam-macam. Termasuk kemungkinan rasa frustrasi kepada dirinya sendiri. Karena tak mampu mengubah tatanan dunia sebagaimana diharapkan. Maka, sekali lagi, ia mengharapkan sesuatu di luar dirinya.

Satu hal yang paling menarik adalah bagaimana nama Tuhan ini diekspresikan. Jika kembali ke doa aneh tersebut, segera kita merasakan sesuatu yang nyata: sebuah ancaman. Kata-katanya memang tak persis seperti itu, tapi artinya jelas. Jika membuang sampah di sini, kau akan memperoleh azab. Jika kencing sembarangan, kau akan masuk neraka atau miskin tujuh turunan.

Tuhan dihadirkan bukan sebagai pembawa harapan yang menyenangkan, atau sebagai penyelamat untuk segala hal, tapi sebagai penghukum. Lebih lucunya lagi, hukuman Tuhan hadir bukan lagi karena perkara berbuat dosa, tapi karena urusan tata tertib hidup di dunia.

Tiba-tiba saya juga teringat dengan ancaman jenazah yang tak akan disalati jika ia atau keluarganya memilih calon tertentu di pemilihan kepala daerah tahun lalu. Tak ada bedanya, bukan?

Mungkin berlebihan membandingkan situasi dunia politik kita dengan urusan membuang sampah sembarangan. Meskipun begitu, ketika nama Tuhan dilibatkan, baik sebagai upaya untuk menakut-nakuti maupun sebagai sikap melemparkan urusan, manusia menjadi tersingkir. Manusia diasumsikan tak lagi perlu mengurusi urusan sendiri. Atau dianggap tak mampu melakukannya.

Bayangkan jika urusan sampah sungguh-sungguh selesai dengan doa aneh minta diazab. Saya kira masyarakat tak perlu lagi memiliki ketua RT, tak perlu lagi ada dinas kebersihan, dan tak perlu risau dengan segala limbah maupun gerakan daur ulang. Pemerintah Jakarta tak perlu bertengkar dengan masyarakat dan pemerintah Bekasi untuk urusan pembuangan sampah, apalagi sampai mengeluarkan anggaran besar.

Hal yang sama bisa kita terapkan dalam urusan yang lebih luas sebagaimana nama Tuhan dilibatkan dalam jargon-jargon politik. Pejabat pemerintah tak perlu pusing memikirkan bagaimana mengatasi banjir, atau sebaliknya, kemarau berkepanjangan. Ia hanya perlu mengumpulkan orang di stadion dan ramai-ramai berdoa. Gubernur juga hanya perlu menancapkan pengumuman sejenis di tiap-tiap sungai.

Dalam kasus membuang sampah sembarangan di dekat rumah, setiap hari saya masih melihat sampah di sana. Saya tak tahu siapa yang membuangnya, apakah orang tersebut memperoleh azab atau tidak, seketika atau kelak. Yang saya tahu, ancaman itu ternyata tak berguna sama sekali.

Di titik ini, saya mencoba membayangkan pembacaan yang berbeda. Barangkali si pemilik tanah tak benar-benar hendak mengancam, apalagi merendahkan posisi Tuhan hingga pada pengurus sampah.

Ia mungkin tengah mengingatkan kita bahwa kita tak becus mengurus perilaku sendiri. Bahwa kita tak punya malu. Bahwa kita mengaku beragama, tapi moral kita buruk. Papan pengumuman itu sejenis cermin untuk mengolok-olok.

Jika tujuannya seperti itu, rakyat yang frustrasi terhadap kegaduhan para politikus yang membawa nama Tuhan dan agama mungkin bisa membalas. Kita bisa memasang pengumuman di depan istana, misalnya, dengan tulisan: “Ya Allah, aku rela memperoleh azabmu jika tak menyelesaikan pelanggaran HAM di negeri ini.” Dan di depan gedung DPR: “Ya Allah, aku rela miskin tujuh turunan jika tertidur saat sidang.”

Kenapa tidak? Sepertinya itu tak melanggar aturan, bukan? Masak rakyat terus yang diancam dan ditakut-takuti?

Diterbitkan di Jawa Pos, 17 November 2018.
Standard
Esai

Banjir Kebohongan

Ada sebuah dongeng tentang seorang anak yang di sore hari sering berteriak dari pinggiran desa meminta tolong, ”Serigala! Serigala!”

Tapi, setiap kali penduduk desa berhamburan untuk menyelamatkannya, diketahui bahwa teriakan itu bohong belaka. Hingga suatu hari, si anak sungguh-sungguh dihadang serigala dan dia berteriak meminta tolong. Kali ini nahas, tak lagi ada yang percaya kepadanya.

Dalam beberapa waktu terakhir, politik Indonesia penuh dengan seliweran kabar bohong. Beberapa barangkali hanya mengundang geleng kepala.

Tapi, beberapa yang lain membuat masyarakat bereaksi dan para pelakunya diseret ke pengadilan.

Yang terakhir, dan saya yakin bukan puncaknya, adalah kasus yang menimpa Ratna Sarumpaet. Seniman teater itu diberitakan oleh kawan-kawan koalisi politiknya mengalami penganiayaan oleh orang tak dikenal di Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Belakangan, masyarakat (dan polisi) menemukan, wajah Ratna yang bengkak ternyata merupakan efek operasi plastik.

Banyak yang percaya pelaku-pelaku kebohongan itu pada akhirnya akan bernasib seperti si anak dan teriakannya. Mereka akan dimakan serigala kebohongannya sendiri.

Contoh kasus Ratna. Tak berapa lama setelah kebohongannya terbongkar, dia ditangkap di bandara sebelum terbang ke Cile. Bahkan, meskipun dia mengaku hendak menghadiri Konferensi Internasional Dramawati Ke-11, orang telanjur tak percaya. Banyak orang yang menudingnya hendak kabur dari masalah hukum.

Benarkah hal ini selesai hanya dengan membongkar kebohongan dan pelakunya kehilangan kepercayaan? Saya tak yakin. Pokok utamanya bukan soal kebohongan yang terkuak atau pelakunya ditangkap dan tak lagi dipercaya.

Pokok soalnya, kebohongan-kebohongan itu seperti nyaris tanpa akhir. Bermunculan setiap waktu, diteriakkan bahkan oleh orang yang berbeda-beda.

Jelas, ini bukan masalah kebohongan yang bisa dihadapi dengan pesan moral semacam, “Jika kau berbohong, hidungmu akan terus memanjang”. Bahwa tak ada asap tanpa api. Untuk menjelaskan kebohongan yang ditutupi pasti akan terkuak.

Bukan. Ini bukan saatnya kita ceramah masalah itu.

Masih ingat kartun Donald Trump dengan hidung menyerupai Pinocchio pada masa kampanye pemilihan presiden Amerika Serikat? Pesan moral jadi tak lagi penting.

Kenyataannya, Trump bahkan terpilih sebagai presiden Amerika Serikat meskipun banyak yang membuktikan kebohongan-kebohongannya. Di sini pun saya yakin, kebohongan tak akan berakhir hanya karena Ratna Sarumpaet ditangkap polisi dan bahkan dibuang kawan-kawannya sendiri.

Pertanyaannya, apa yang bisa dilakukan jika kebohongan semacam itu datang ganti-berganti? Dari waktu ke waktu?

Kita kembali ke kisah si anak yang diterkam serigala karena kebohongannya. Bayangkan, pada saat yang sama, seorang nenek berteriak-teriak karena cucunya tenggelam di sungai.

Belum usai mereka memeriksa kebenarannya, seorang petani berteriak ada gerombolan begal mencuri sapi ternaknya. Seorang istri menangis karena anak di kandungannya hilang dicuri. Seseorang membawa kabar karena gunung di daerah mereka akan meletus. Penduduk lain minta tolong karena ada perampok di rumahnya.

Setelah peristiwa dengan si anak dan kebohongan serigalanya, tentu penduduk menyangsikan semua kabar tersebut. Dan berharap bisa memeriksa kebenarannya satu per satu.

Tapi, yang mana? Dan jika mereka bisa berhasil membongkar kebohongan yang satu, apakah mereka akan bergerak ke kebohongan yang lain? Jika mereka kemudian menemukan sebagian besar adalah kebohongan, bagaimana dengan berita yang benar?

Simulasi semacam itu kini benar-benar terjadi pada era digital dengan penetrasi media sosial yang luar biasa di masyarakat. Sebelumnya, dunia digital ditandai dengan keadaan ketika informasi disajikan melimpah kepada kita.

Mari kita tengok berbagai informasi yang berseliweran di waktu yang kurang lebih sama di seputar kasus Ratna Sarumpaet. Sandiaga Uno menyatakan, makan nasi dan ayam di Singapura lebih murah daripada di Jakarta.

Apakah itu benar atau salah? Anda akan menemukan banyak orang sibuk untuk membantah maupun mendukung pernyataan tersebut.

Lantas, bagaimana dengan pernyataan Ma’ruf Amin yang bilang mobil Esemka akan meluncur bulan Oktober? Benar atau salah? Bergantung pihak mana, orang akan membela atau membantahnya juga.

Kita bisa menemukan informasi sejenis, juga pada hari-hari mendatang. Polanya sama: sebagian besar ada hubungannya dengan politik.

Apa yang bisa kita pelajari dari semua keributan ini? Bagi saya jelas, para elite politik dari berbagai kubu tengah menyeret kita dalam banjir semacam ini. Teriakan-teriakan minta tolong dan cari perhatian yang tak jelas. Kita dibuat bingung, ragu, saling curiga, dan dalam keadaan seperti itu, mereka berharap kita bisa dikendalikan.

Tujuannya hanya satu tentu: ambisi kekuasaan mereka belaka, bahkan meskipun taruhannya melihat kita tenggelam satu per satu. Tenggelam dalam pertikaian tanpa akhir, tenggelam dalam keributan yang tidak produktif.

Banjir jelas sulit dihadang. Tapi, kita bisa menyelamatkan diri dengan menolak tenggelam bersama mereka. Menolak terseret arus. Terutama jika tak mampu membuat mereka berhenti menciptakan banjir kebohongan.

Diterbitkan di Jawa Pos, 10 Oktober 2018.
Standard
Esai

Karena Tribalisme Tak Dikelola Seutuhnya

Catatan Sepak Bola

Ada apa di balik kebrutalan supoter Persib yang mengeroyok hingga mati seorang suporter Persija bernama Haringga Sirila? Pertama, jelas itu kasus pembunuhan dan harus ditangani sebagai kasus kriminal berat. Kedua, yang membuatnya berbeda dari kasus pembunuhan umumnya, meskipun pembunuhan tetaplah pembunuhan, ada unsur tribalisme yang menyedihkan di sini, dan jelas penanganannya tak bisa dilepaskan dari pokok penting tersebut.

Sepak bola modern memang merupakan wujud baru dari tribalisme, dengan kultus nyaris buta kepada klub dengan segala ritual pemujaannya. Jika sepak bola merupakan agama, stadion sebagai altar tempat pemujaan, maka klub sepak bola merupakan ordo-ordo di mana orang mengelompokkan diri dalam sejenis kesukuan. Sialnya, klub sepak bola kemudian tak hanya menjadi bagian dari ekosistem sepak bola itu sendiri, ordo bagi satu agama, tapi merembet menjadi identitas bahkan di luar persepakbolaan, terutama ketika pranata sosial tradisional mulai hancur perlahan-lahan.

Tengok misalnya Jakmania dan Persija. Orang akan berpikir bahwa Persija merupakan klub sepak bola Jakarta, maka suporternya yang sebagian bergabung atau menggabungkan diri menjadi Jakmania dibayangkan sebagai orang Jakarta pula. Kenyataannya tidak begitu.

Di pinggiran, di wilayah-wilayah yang secara administrasi masuk ke Depok, Bekasi, Tangerang, bahkan Karawang, dengan mudah kita akan menemukan kantong-kantong suporter Jakmania. Siapa mereka? Bisa jadi mereka memang orang-orang Jakarta yang tergusur oleh pembangunan dan harus menetap di luar wilayah Jakarta. Hal ini saya yakin juga berlaku untuk klub sepak bola lain dan suporternya, bahkan termasuk klub sepak bola mancanegara.

Problem terbesar kenapa kasus kebrutalan suporter ini terus-menerus terjadi, saya pikir terletak dalam keengganan mengelola unsur tribalisme ini secara menyeluruh. Kita tahu kebrutalan suporter hingga menewaskan sesama suporter bukan kali ini saja terjadi. Jika harus menyebut, sekelompok suporter Persija juga pernah melakukannya, tapi tentu saja ini tak bisa dijadikan pembenaran atas kasus yang baru terjadi. Pertanyaan pentingnya, kenapa ini terus terjadi dan apa upaya radikal untuk menghentikan kebrutalan ini?

Pada dasarnya naluri tribalisme dalam sepak bola modern sudah banyak diketahui dan bahkan dengan jitu dimanfaatkan. Kelangsungan sepak bola modern sebagai industri rasanya tak akan sebesar ini tanpa kesadaran akan adanya sentimen kesukuan ini. Ikatan yang kuat antara suporter dan klub mereka tak hanya memastikan stadion dipenuhi umat pemuja, tapi juga menjamin penjualan merchandise dan menjadi alasan kuat untuk menarik sponsor.

Dalam sepak bola Indonesia, ikatan-ikatan primordial baru ini bahkan seringkali dianggap sebagai pintu masuk untuk memperoleh dukungan politik. Tak mengherankan jika kepala daerah atau politikus lokal merasa harus mengidentifikasikan diri dengan klub setempat. Bahkan ketua umum PSSI tak mau meletakkan jabatannya meskipun ia terpilih sebagai gubernur.

Industri sepak bola mengeksploitasi sentimen tribalisme ini untuk tujuan-tujuan ekonomi dan politik, tapi gagal mengelola aspek-aspek primitifnya. Kegagalan inilah yang selalu membawa banyak masalah, dari sekadar vandalisme fasilitas stadion, kerusuhan di lapangan, hingga tawuran dan pengeroyokan yang mengakibatkan kematian.

Untuk memahami selintas kecenderungan tribalisme ini, kita bisa menengok sejenak kepada sebuah novel penting yang banyak menjadi rujukan bahkan para ilmuwan. Novel ini memang tak ada hubungannya dengan sepak bola, tapi barangkali bisa membuat kita paham mengenai perilaku suporter. Novel ini berjudul Lord of the Flies, karya William Golding.

Secara singkat novel ini berkisah tentang sekelompok anak yang terdampar di sebuah pulau selepas pesawat mereka jatuh. Terisolir dari mana-mana, mereka secara alamiah membentuk kelompok, kemudian suku. Ada hasrat untuk mengatur diri sendiri, hasrat untuk berkuasa, pada saat yang sama, juga timbul persaingan, rasa cemas akan ditinggalkan, di mana aspek-aspek negatif ini akan berakhir menjadi semua memangsa semua.

Suporter sepak bola bisa dilihat dari kaca mata itu juga. Ada hasrat untuk mengelompokkan diri, tentu terpusat pada satu klub. Di dalam kelompok akan tercipta suatu persaingan antara kelompok-kelompok kecil, siapa lebih berkuasa atas yang lain. Dan pada saat yang sama, jangan lupa keberadaan kelompok lain. Sementara klub mereka bersaing dalam kompetisi yang resmi, kelompok suporter dengan beragam masalah mereka juga berkompetisi satu sama lain, kali ini tanpa wadah yang jelas.

Sifat tribalisme ini seharusnya bisa dikelola dengan memberi ruang bagi kelompok-kelompok suporter sebagai bagian tak terpisahkan dari komunitas persepakbolaan. Suporter seharusnya menjadi bagian dari klub, sehingga ambisi tribalisme bisa disalurkan ke lapangan. Ke dalam pertandingan, melalui klub.

Suporter di Indonesia dalam tingkat tertentu mirip anak-anak di Lord of the Flies. Mereka hidup di alam rimba yang tak ada hukum, tak ada aturan main. Mereka berebut untuk menancapkan panji-panji kelompok, dan pada titik tertentu mengobarkan perang.

Mereka tercampak dari sistem persepakbolaan itu sendiri. Sebagian besar dari mereka tak pernah punya akses terhadap kebijakan-kebijakan klub. Pada saat yang sama, mereka terus dieksploitasi untuk kepentingan klub dan industri sepakbola secara umum. Kompetisi mereka berkobar di luar lapangan. Menjadi kebrutalan.

Lihat bagaimana sikap PSSI, otoritas tertinggi sepak bola, atas kasus ini. Mereka hanya menyampaikan belasungkawa, menyerahkan tragedi ini kepada kepolisian. Seolah PSSI tak punya wewenang apa pun. Padahal jelas, PSSI memiliki otoritas, tapi enggan mempergunakannya. Itu bukti bahwa masalah suporter seolah bukan masalah sepakbola.

Mengelola tribalisme suporter seharusnya merangkul mereka menjadi bagian dari klub, dan dalam hal ini, klub seharusnya ikut bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Dengan kata lain, Persib seharusnya bertanggung jawab atas tragedi ini. Otoritas sepak bola seharusnya punya nyali untuk bertindak, misalnya mendiskualifikasi atau menghukum Persib tidak bertanding selama sekian tahun. Menghukum Persib hanya bertanding tanpa penonton mempertunjukan sikap lembek, mendidik klub untuk tak pernah bertanggung jawab dan merasa tak perlu mengelola suporternya.

Jika suporter bisa kita anggap rakyat, jelas ada keengganan para pemegang otoritas, elit sepak bola, untuk berbagi kuasa dengan mereka.

Kematian Haringga tak hanya tragedi kemanusiaan, tapi juga wujud nyata bahwa suporter hanya dianggap ada untuk dieksploitasi secara ekonomi dan politik. Nyawa mereka hanya berharga beberapa pertandingan tanpa penjualan tiket. Itu membuat tragedi ini lebih memilukan lagi.

Diterbitkan di Jawa Pos, 25 September 2018.
Standard
Journal

Barthes Mengajari Saya Memahami Bahasa Kucing

Image Music Text, Roland Barthes

Saya memelihara seekor kucing persia pemberian seorang teman. Konon, kucing akan mengeong dengan bunyi serta ekspresi yang berbeda kepada orang yang berbeda, seperti kita punya panggilan yang berbeda kepada orang yang berbeda. Mungkin benar. Setidaknya saya sering merasa tahu jika ia mengeong untuk saya (Anda bisa juga menganggap saya sok merasa tahu saja). Tapi lama-kelamaan, saya toh terpaksa belajar “bahasa” kucing, setidaknya bahasa Si Puspita (nama kucing saya, jika bahasa yang dipergunakannya ternyata berbeda dengan bahasa kucing lain). Saya bisa tahu persis jika ia mengeong dengan suara tertentu, ditambah gerakan-gerakan tertentu di dekat pintu kamar mandi, artinya “Aku ingin minum, ambilin air, dong!” Nah, ketika saya membaca buku Roland Barthes berjudul Image Music Text, terpikir juga oleh saya, barangkali buku ini bisa membantu saya memahami bahasa kucing, atau membuat saya mengerti kenapa saya paham bahasa kucing (dalam hal ini, Si Puspita). Kenapa tidak? Membaca buku ini saya merasa diajak untuk kembali belajar membaca. Ya: belajar membaca. Belajar memahami bahasa, tak melulu sebagai ekspresi linguistik, tapi juga sebagai ekspresi narasi. Bahwa “Bond saw a man about fifty” (dari Goldfinger, Ian Fleming) tak semata-mata informasi yang tersurat, tapi juga memiliki fungsi tentang deskripsi seseorang yang ditandai dengan perkiraan umur, dan informasi bahwa Bond tak begitu kenal orang tersebut, sesuatu yang akan bermakna dalam novel itu. Bahwa “meong” bukan sekadar suara seekor kucing, sebab bisa juga berarti “Aku boleh lompat ke pangkuanmu, enggak?” Buku ini merupakan kumpulan esai terpilih Barthes. Bagi banyak orang mungkin yang paling populer adalah esai berjudul “The Death of the Author” yang begitu sering dikutip (dan sering pula disalah-pahami), jadi terasa basi dan saya tak akan menyinggung-nyinggungnya lagi. Esai paling menarik menurut saya adalah “Introduction to the Structural Analysis of Naratives”. Esai itu seperti merangkum seluruh esai di buku ini, dan secara ringkas bisa dikatakan sebagai esai tentang “belajar membaca”. Begini lho cara membaca kalimat. Begini lho cara membaca wacana. Begini lho cara membaca cerita. Dan kalau ilmu dari esai itu bisa saya pakai untuk belajar membaca novel-novel James Bond, kenapa saya tak mencoba pakai untuk membaca meong-meong kucing saya? Jadi meskipun Barthes mengaku bahwa bentuk-bentuk narasi di dunia ini tak terhitung, dan mustahil meneliti semuanya untuk menemukan sejenis “kesimpulan”, ia toh mencoba mengorek-ngorek strukturnya, memotong-motongnya. Dan menurut saya, ini sungguh mengasyikkan. Saya sudah sebutkan bahwa “meong” bukan semata-mata “meong”. Ada berlapis-lapis tingkatan makna di baliknya. Setidaknya ada berlapis-lapis tingkatan deskripsi dalam setiap narasi. Yang tadi saya sebut baru tingkat fungsi. “Fifty” dalam “Bond saw a man about fifty” memiliki fungsi untuk menciptakan karakter juga. Luntang-lantung Si Puspita di depan pintu kamar mandi memiliki fungsi untuk menjelaskan bahwa ia ingin minum. Dan fungsi ini, tanpa harus diterang-jelaskan, juga merujuk ke suatu makna lain yang lebih kompleks: saya harus membuka pintu kamar mandi, ambil air dengan gayung, meletakkan gayung berisi air di lantai agar kucing saya bisa minum. Anda mungkin berpikir apakah kucing saya secerdas itu sampai bisa menyampaikan pesan sekompleks demikian kepada saya? Tidak. Kucing saya tidak secerdas itu. Dalam beberapa hal dia tolol. Dia sering tak bisa mengukur jarak, melompat tak tepat sasaran hingga jatuh atau terbentur. Pokok soalnya bukan itu. Pokok soalnya adalah bagaimana kita (saya) membaca pesan si kucing. Membaca tak hanya di tingkat harafiah, apalagi sekadar bunyi dan aksi (kucing luntang-lantung di depan pintu kamar mandi), tapi membaca tingkat-tingkat makna narasi lainnya. Baiklah, Barthes mungkin tak pernah memaksudkan esainya ini untuk dipergunakan balajar membaca atau memahami meong si kucing. Tapi apa pedulinya? Saya membaca bukunya, dan terserah saya lah menarik makna dan mempergunakan pengertian saya untuk apa. Ya, kan? (Iya, pernyataan terakhir itu terpaksa merujuk ke esainya yang lain, apa boleh buat).

Standard