Buat Kamu yang Sering Merasa Tidak Dianggap Penting: The Festival of Insignificance

Kamu merasa sudah bekerja keras dan menghasilkan karya hebat (sudah menulis beberapa buku puisi, novel, kumcer dan merasa itu dobrakan hebat dalam kesusastraan), tapi hampir tak ada orang yang menganggap apa yang kamu lakukan penting, bahkan menengok pun tidak? Kamu merasa sudah melakukan segala hal yang terbaik untuk orang yang kamu cintai, tapi cintamu terus bertepuk sebelah tangan? Kamu sudah bekerja giat, memberi keuntungan yang melimpah untuk perusahaan, tapi tak juga naik pangkat apalagi gaji, malah sepupu si presiden direktur yang bodoh dan tak tahu apa-apa melangkahimu? Rayakan saja. Saya sering berpikir, penulis yang sudah menghasilkan beberapa buku dan semuanya tidak menarik, buku-buku berikutnya tak perlu diperhatikan sama sekali. Saya juga sering menganggap karya seorang penulis di usia tua sebagai sesuatu yang tak penting, insignifikan, dan sebaiknya diabaikan saja. Saya pikir mereka tak membutuhkan apa pun lagi, dan jika mereka masih menulis, barangkali hanya sebagai upaya agar tidak pikun saja. Saya hampir mengabaikan novel Milan Kundera terbaru, The Festival of Insignificance. Tapi judulnya membuat saya terprovokasi, seolah-olah meledek, benar kamu mau menganggapku insignifikan? Baik, aku akan merayakan pengabaianmu. Sial. Saya memutuskan untuk membacanya. Kalau jelek dan menyebalkan, toh hanya 115 halaman. Kenyataannya saya tak menyesal membaca buku ini. Saya seolah menemukan kembali Kundera dari masa-masa terbaiknya. Benar, hal itu bisa dilihat dengan cara lain: tak ada hal baru dalam karyanya. Tapi bayangkan, ia meremas segala yang dia lakukan dalam The Book of Laughter and Forgetting, The Unbearable Lightness of Being dan Immortality dalam sejilid buku kompak yang padat: kita menemukan kembali dirinya dalam bentuk hampir-filsuf, merayakan novel dalam berbagai kemungkinannya. Novel sebagai alat memeriksa hal remeh-temeh dengan cara yang penuh keseriusan, dipadu-padankan dengan anekdot sejarah yang memendar ke sana-kemari sebagai prisma, dan tentu saja telaah yang selalu luar biasa kepada tindakan-tindakan kecil tokoh-tokohnya, seolah itu merupakan kunci penting untuk memahami hakikat manusia. Sebagai contoh remeh-temeh, Kundera memulai novel ini dengan tantangan yang penting tidak penting saya rasa benar: kenapa di abad ini, daya tarik seksual perempuan bergeser ke lubang kecil bernama udel? (Ehm, saya jadi membayangkan udel-udel Seohyun, Yoona dan Taeyeon, serta semua cewek k-pop). Ia memeriksa bagian-bagian tubuh perempuan lainnya, yang menjadi titik-titik penting daya tarik seksual sebelumnya (dan tentu saja masih). Paha, bokong, dan payudara. Titik-titik itu selalu bersifat personal dalam arti, paha, bokong dan payudara setiap perempuan berbeda satu sama lain. Tapi udel tidak begitu: semua udel perempuan (yang sering dipamerkan dalam sepuluh tahun terakhir ini), bisa dibilang sama. Udel barangkali mewakili titik daya tarik seksual, tapi sekaligus (karena ketidak unikannya satu sama lain) juga menggambarkan ketidak-signifikan-an. Tapi justru itulah: ketidak-signifikan-an ini kini dirayakan. Lambang hubungan biologis anak-ibu ini menjadi bahasan yang memikat, tanpa harus bertele-tele (ingat, novel ini cuma 115 halaman), berbaur dengan lelucon tentang Stalin dan para kameradnya tentang humor. Ya, Kundera kembali ke topik kegemarannya: ejekan kepada rezim Sovyet dan bagaimana mereka menghadapi humor. Humor mati di tangan Stalin, justru digambarkan dengan cara Stalin mencoba ngebanyol di hadapan para kameradnya dan tak ada satu pun yang tertawa dan menganggapnya humor. Seperti di banyak novelnya, ia kembali membagi novel ini ke dalam tujuh bagian (ia suka angka tersebut). Seperti di banyak novelnya, ia kembali menghadirkan narator yang saya rasa tak hanya berfungsi sebagai pembawa cerita, tapi terutama sebagai seorang analis, yang mempsiko-analisis segala seseuatu, atau sejenis moderator dalam perbincangan ringan (tapi seringkali tak tertanggungkan). Saya ingat sepotong esai yang ditulis Kundera mengenai “kelucuan dalam ketidak-hadiran kelucuan” The Idiot karya Dostoyevsky. Ia mengenang seorang teman sekolahnya: sekali waktu seisi kelas ribut menertawakan sesuatu, tiba-tiba seorang teman berdiri dan tertawa tapi ia tertawa tidak seperti yang lain. Ia hanya menjiplak tawa itu. Tertawa tanpa kehadiran sesuatu yang lucu, tertawa hanya untuk tetap menonjol di antara kerumunan. Novel ini bisa dilihat begitu: upaya untuk berdiri di tengah kerumunan novel-novel Kundera lain yang telah kita kenal. Jika tak ada hal serius di novel ini sebagaimana di novel-novelnya yang lain, ia telah menjawabnya di sampul buku. Ini perayaan atas ketidak-signifikan-an, kesepelean.

PS: Saya rasa sangatlah keterlaluan jika ia tak memperoleh Nobel Kesusastraan, atau karya-karyanya dianggap sepele, insignifikan?

Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi

“Kalian orang-orang tolol yang percaya kepada mimpi.”

Pesan di: Bukabuku | Parcelbuku

Aside

Review Pertama

Hmm, sekadar mengingatkan, ulasan pertama versi Indonesia Cantik Itu Luka ditulis oleh Maman S. Mahayana dalam tulisan berjudul “Air Bah dalam Novel ‘Cantik Itu Luka’“, Media Indonesia, 2 Maret 2003. Seperti penulis muda umumnya, saya pernah merasa marah (dan sedih), dengan frasa-frasa “tetap akan berada di garis belakang” atau “over confident” atau “air bah yang mengalir deras tak terkendali”. Tapi bersama berlalunya waktu, saya kini merasa bersyukur dengan ulasan itu, yang lebih banyak membentuk saya sebagai penulis daripada yang saya sadari sebelumnya.

Aside

Empat Festival

Baru saja mengamankan visa ke Australia: Saya akan menjadi bagian dari Melbourne Writers Festival (20-30 Agustus), berlanjut ke Brisbane Writers Festival (2-6 September). Pulang dari sana, saya juga akan menjadi bagian dari Brooklyn Book Festival, New York, pada akhir September. Rangkaian festival sastra ini akan ditutup di negeri sendiri, Ubud Writers and Readers Festival, akhir Oktober. Yang kebetulan ada di tempat-tempat tersebut, mari bersua.

Kita Ingin Menceritakan Kisah Orang Lain, Pada Akhirnya Kita Menceritakan Diri Sendiri

Pada awalnya novel ini seperti novel lainnya: bagian pertama mengisahkan persahabatan seorang bocah dengan seorang anak perempuan yang sedikit lebih tua, diawali oleh sebuah gempa yang membuat orang-orang berhamburan keluar rumah. Si anak perempuan dikisahkan sebagai keponakan lelaki misterius bernama Raúl, yang merupakan tetangga si bocah. Persahabatan itu membawa mereka ke satu kesepakatan: si bocah akan memata-matai kehidupan Raúl dan melaporkannya ke si anak perempuan. Memasuki bagian kedua, saya segera sadar novel ini tidak sebagaimana novel pada umumnya. Setidaknya tidak terlalu umum. Bagian kedua menceritakan si aku, seorang penulis yang sedang berjuang menyelesaikan novelnya (novel kesekian), serta hubungannya dengan Eme, mantannya. Seperti kebanyakan novelis, ia harus berjuang menyelesaikan bab pertama novelnya, mengedit, menghapus, menulis ulang, dan satu-satunya harapan adalah Eme mau membacanya. Jika Eme suka dengan apa yang ia tulis, setidaknya ia punya harapan untuk melanjutkan. Eme mencari-cari dalih untuk tidak membacanya. Satu hal yang sangat jelas, bagian awal novel yang sedang ditulis si penulis ini adalah bagian awal novel yang baru saja saya baca: tentang persahabatan si bocah dengan anak perempuan selepas gempa. Tentu saja awalnya saya menganggap ini sejenis kegenitan, hal konyol yang sering menghinggapi generasi saya. Saya merasa berhak menyebut penulis novel ini sebagai “generasi saya”, karena kebetulan ia juga lahir di tahun 1975, meskipun tentu saja dalam kandungan tradisi yang jauh berbeda: Alejandro Zambra lahir di Santiago, Chile, ketika negeri itu masih dalam kekuasaan Allende, sebelum jatuh ke tangan Pinochet. Judul novelnya Ways of Going Home, jika tak salah merupakan novel ketiganya. Ia salah satu dari 39 penulis berumur di bawah 40 dalam daftar yang disebut sebagai Bogotá39, sebuah inisiatif untuk menemukan para penulis muda terbaik dari Amerika Latin. Sebagian besar nama-nama itu belum saya kenali karyanya, kecuali dua: Andrés Neuman (Argentina) dan Juan Gabriel Vásquez (Kolombia). Zambra merupakan nama ketiga dari daftar itu yang karyanya saya baca. Bogota39 kemudian melahirkan Beirut39 (untuk kesusastraan Arab) dan Africa39 (untuk kesusastraan Afrika). Saya sendiri punya sedikit obsesi tentang umur 40: Gabriel García Márquez menerbitkan Cien anos de soledad di umur 40, Pramoedya Ananta Toer dianggap “berbahaya” dan ditangkap sebelum dibuang ke Buru pada umur 40. Saya anggap itu memang umur istimewa untuk kesusastraan. Saya pernah mengusulkan agar lomba-lomba kesusastraan dikhususkan saja untuk para penulis di bawah umur 40, dan uang negara (jika ada) dipergunakan sebagian besar untuk mengirim para penulis di bawah umur 40 ke berbagai festival sastra di dunia. Tanggapan? Banyak yang jengkel kepada saya dengan alasan, “Mutu kesusastraan tak bisa diukur dengan umur.” Baiklah. Lupakan. Kembali ke Zambra. Sebagai penulis saya rasa ia berbagi banyak pengalaman dengan sebagian besar kita di sini: tidak mengalami atau masih terlalu kecil untuk melihat seorang diktator despotis naik ke puncak kekuasaan. Ia dengan satu atau lain kata, dibesarkan oleh Pinochet. Tak jauh berbeda dari saya dan para penulis seumuran saya: kami tak melihat bagaimana ratusan ribu orang dibunuh untuk melapangkan jalan bagi Soeharto naik ke kuasaan, malah kami menikmati pertumbuhan ekonomi dan pendidikan yang relatif baik dan murah di bawah kekuasaannya. Tapi ketika saya melihat stiker di bak truk dengan foto sang tiran serta kata-kata, “Piye, Dab, enak zamanku, toh?” (Bagaimana kabarmu, Sobat, lebih enak zamanku, kan?), kepala saya mendidih dan marah, meskipun saya masih bisa menerimanya sebagai sejenis ejekan penuh humor. Si penulis di novel ini, juga marah ketika ayahnya berkata, “Pinochet seorang diktator, ia membunuh banyak orang, tapi setidaknya di masa itu ada keteraturan.” Ia marah, barangkali karena meskipun bisa menikmati keteraturan, ekonomi dan pendidikan, ia menikmati itu semua di atas pembantaian manusia-manusia lain. Kisah tentang penguasa tiran, barangkali merupakan kisah para korban kekejiannya. Tapi novel ini mengingatkan: kisah itu pada dasarnya merupakan kisah semua orang. Bahkan orang yang diam, yang tak berpolitik, pada dasarnya telah memberi andil besar dengan membiarkan kekejaman kemanusian terjadi di depan matanya. Novel ini mencoba menceritakan kisah sebuah keluarga (si anak perempuan) yang harus tercerai-berai oleh kekuasaan Pinochet, tapi akhirnya ia menceritakan kisah keluarganya sendiri (orang tua si penulis, yang memilih diam dan apolitis dan membiarkan semua itu terjadi), sebagaimana dikatakan si penulis, “Meskipun kita barangkali ingin menceritakan kisah orang lain, pada akhirnya kita selalu menceritakan kisah tentang diri sendiri.”

Grotesque

Seperti kebanyakan orang, dulu waktu masih remaja saya menganggap seni yang baik itu tentu saja yang “indah”. Maksudnya, jika itu lukisan, tentu itu lukisan pemandangan yang memperlihatkan tanah subur, hijau oleh dedaunan dengan gunung membiru di kejauhan; jika lukisan orang, isinya perempuan cantik dan lelaki ganteng. Tentu juga dilukis dengan semirip mungkin. Jika itu karya sastra, saya membayangkan kata-katanya harus puitis, penuh umpama dan kiasan. Tokoh-tokohnya dengan cepat mengundang simpati. Jika ia menderita, ia akan berjuang keras untuk menggapai impiannya. Ditulis rapi, dengan plot yang terukur, perkembangan karakter yang dinamis. Jangan lupa pesan moral. Itu dulu, sebelum saya berjumpa dengan seni-seni yang “tidak indah”. Sebelum saya tahu Marc Chagall melukis petani-petani degan gaya lucu, dan Picasso melukis kuda yang plantat-plentut. Di kesusastraan, saya akhirnya bertemu tokoh konyol semacam Don Quixote. Bukan pahlawan hebat, tapi juga bukan penjahat menyebalkan. Bertemu Tristram Shandy. Saya juga membaca kata-kata yang tidak puitis: coretan di toilet, grafiti di badan truk. Hingga akhirnya bertemu dengan istilah itu. Grotesque. Sesuatu yang aneh, sangat tidak alamiah (dalam konteks kita tidak terbiasa), dan tentu saja secara sederhana: buruk. Si Bongkok dalam novel The Hunchback of Notre-Dame karya Victor Hugo tentu saja grotesque. Demikian pula monster yang diciptakan Dr. Frankenstein. Dalam tradisi pewayangan, di luar para pangeran gagah dan puteri-puteri yang cantik, kita juga tahu ada Semar. Ada Gareng dan Petruk. Togog dan Bagong. Mereka grotesque. Menghadapi karakter-karakter semacam itu barangkali lama-kelamaan kita bisa terbiasa, meskipun tetap saja dalam alam bawah sadar, semua yang jelek dan buruk ini hanya ada untuk bahan olok-olok, dan sama sekali tidak untuk wilayah romantis maupun keksatriaan. Rasanya tak mungkin kan, membayangkan sosok buruk rupa, dengan wajah tidak proporsional, terlibat kisah asmara ala Harlequin? Tapi grotesque tentu saja tak hanya berurusan dengan karakter. Jika kita menengok kepada tradisi seni rupa atau arsitektur, dalam kesusastraan ia juga mestinya merasuk kepada gaya maupun tradisi. Menulis novel tanpa plot, tanpa karakter, dan hanya menampilkan berbagai lema dalam susunan macam ensiklopedia (Nazi Literature in Americas, misalnya, atau dengan cara yang sama saya membayangkan ada novel berjudul Makanan Tak Enak dari Pelosok Nusantara yang barangkali akan mengolok-olok selera kuliner kita) karena tampak aneh dan tidak biasa, dan dalam cita rasa tertentu jadi terlihat buruk, tentu saja bisa disebut grotesque. Sekarang bayangkan beragam kemungkinan-kemungkinan lain: novel yang tak punya konsistensi, tak punya koherensi. Bahkan novel yang ditulis dengan susunan kalimat yang berantakan. Logika yang payah. Pokoknya segala sesuatu yang keluar dari aturan pokok novel yang baik (dan cantik). Menurut saya, sudah pasti itu novel grotesque. Jadi, kalau suatu hari tanpa sengaja bertemu novel yang buruknya minta ampun (bahkan jika dibaca bisa membuat perut mual dan ingin muntah), jangan dulu menghakiminya sebagai novel yang buruk. Siapa tahu itu novel grotesque. Novel yang hadir untuk menggedor-gedor selera borjuis kita, yang terlalu nyaman dengan segala yang indah dan cantik. Setidaknya, jika novel itu memang buruk, kita tak perlu menyakiti penulisnya dengan kejujuran semacam itu. Anggap saja dia sedang berusaha menciptakan rute baru dalam kesusastraan, penjelajahan baru dalam tradisi grotesque. Penulisnya pasti senang, dan membuat orang lain senang saya yakin ada pahalanya. Ya, ya, meskipun kesusastraan tak pernah ambil pusing sesuatu ada pahalanya atau tidak.