Woolf

Menjadi seorang penulis pada dasarnya menjadi sosok-sosok dalam novel Mrs Dalloway, yakni orang-orang yang lebih sering berada dan bicara di dalam pikirannya. Mungkin saya salah (dalam arti tak semua penulis berbuat begitu), tapi setidaknya itu terjadi pada sata. Minggu ini saya berada di Australia, untuk dua festival dan terutama memperkanalkan novel saya dalam edisi bahasa Inggris. Sebagai penulis, saya pernah beberapa kali menghadiri acara serupa itu, tapi saat ini saya merasa berbeda. Di acara-acara sebelumnya, sering saya merasa kehadiran saya di acara-acara ini dan itu sesederhana karena saya “penulis Indonesia”. Mereka mencari seorang penulis dari Indonesia, mungkin karena quota mengatakan begitu, mungkin ada sesuatu yang menarik perhatian dengan negeri itu, lalu mereka memilih satu atau beberapa dari “penulis Indonesia” tersebut. Untuk kali pertama saya tak perlu merasa demikian. Sekali lagi situasinya mungkin tidak persis seperti itu, tapi seperti bisa kita mengerti dari novel Virginia Woolf ini (atau novel-novel sejenisnya), apa yang ada di pikiran, perbincangan di kepala kita, seringkali menjadi hal yang lebih penting dalam cara kita memandang dunia. Membaca Woolf dalam Mrs Dalloway adalah membaca pergeseran narator yang terus bergerak. Kadang-kadang naratornya berdiri dari satu jarak, memandang karakter-karakternya (sebagaimana kita bisa melihat Mrs Dalloway melakukan perjalanan dari rumah ke toko untuk membeli bunga), tapi kemudian ia mendekat dan dengan ajaib masuk ke dalam si karakter dan serta-merta kita menemukan Mrs Dalloway lah yang menjadi pencerita. Ia tak hanya mengamati sekitarnya, tapi juga mulai melantur ke banyak hal. Pikirannya bekerja lebih cepat daripada waktu aktual yang dialaminya, terulur ke waktu yang melompat dari kini ke masa lalu sebelum melompat ke masa kini kembali. Daripada pengembaraan “kesadaran” tokoh-tokohnya, yang semua orang tahu dilakukannya setelah membaca Ulysess James Joyce, hal paling menarik dari Virginia Woolf bagi saya terutama bagaimana ia menggeser dan mengganti-ganti narator, dari yang obyektif ke subyektif, narator yang memandang ke luar menjadi narator yang memandang ke dalam diri, bahkan narator subyektif satu berganti ke narator subyektif yang lain. Di bab yang paling panjang, di bagian tengah misalnya, dibuka dengan narator memperkenalkan keadaan Peter Walsh, dan masuk ke dalam pikirannya (“It was awful, he cried, awful, awful!”). Tapi tak berapa lama, di paragraf berikutnya, sang narator malah masuk ke pikiran karakter lain, seorang perempuan bernama Lucrezia Warren Smith (“was saying to herself, It’s wicked; why should I suffer?”). Dan terus berganti. Seperti pesta di novel itu, malam pertama saya di Melbourne adalah menghadapiri pesta kecil yang diadakan penerbit saya. Sejujurnya saya bukan “anak pesta”. Saya bukan tipe yang senang bicara dengan banyak orang, apalagi orang asing, dan berlama-lama. Perbincangan saya lebih banyak di dalam kepala. Tapi sesekali saya tak keberatan untuk acara semacam itu, dan jika beruntung bisa berkenalan dengan orang yang menyenangkan. Saya yakin, seperti di pesta Dalloway, di pesta kecil itu juga banyak orang, di antara kerumunan dan percakapan, membangun sendiri dunia mereka di dalam kepala. Jika ada seorang super narator yang memperhatikan pesta kecil itu, ia pasti bisa mengorek pikiran-pikiran kami, berpindah dari satu sosok ke sosok lain, seperti dilakukan Woolf. Malam itu saya berkenalan dengan satu sosok, yang saya yakin banyak orang mengenalnya: Jonathan Galassi. Saya sampai terdiam selama beberapa saat. Ia seorang penyair (Left Handed: Poems), seorang penerjemah (puisi-puisi Giacomo Leopardi), belum lama ini jadi novelis (Muse), dan bos penerbit (Farrar, Straus and Giroux). “Bagaimana rasanya sekarang menjadi ‘dikenal’?” Kurang-lebih seperti itu ia iseng bertanya. Seperti biasanya, saya berbalik ke kapala dan mencari jawaban itu di sana. Saya tak menemukannya. Saya tak memiliki pertanyaan itu dan tak berpikir dengan cara seperti itu. Dengan agak malu-malu saya bilang, “Tidak tahu. Ini heboh karena diterbitkan dalam bahasa Inggris aja.” Ia tersenyum lalu termenung. Saya juga larut dalam pikiran sendiri. Banyak orang punya dunia yang lebih luas di dalam pikirannya. Sambil bercakap-cakap hal lain, beberapa di antaranya gosip yang membuat saya tersenyum, kami terus asyik dengan pikiran sendiri. Dia pamit sebelum pesta berakhir, saya juga. Pesta selalu menyenangkan, tentu saja. Tapi seperti Mrs. Dalloway, banyak orang memiliki pesta yang lebih seru di dalam kepalanya.

Lelaki Harimau

[Lelaki Harimau] is a brilliant, tight-knit and frightening village tragedy ….
– Benedict R. O’G. Anderson, New Left Review

Prestasi

1

Bayangkan kamu seorang pelari, yang sesungguhnya sanggup lari seratus meter hanya dalam sembilan detik. Bayangkan: sembilan detik saja! Itu artinya, kamu tak hanya menjadi juara dunia, tapi juga memecahkan rekor lari seratus meter, dan bisa jadi akan sangat lama rekor itu terlewati. Tapi bayangkan, kamu hanya tinggal di sebuah kampung di tengah hutan dan tak pernah pergi ke tempat lain. Di kampung itu, orang-orang hanya sanggup berlari seratus meter dalam lima belas detik, beberapa yang lain bahkan hingga dua puluh detik. Sudah pasti, kamu akan selalu juara di tengah-tengah mereka. Hal lain yang bisa dipastikan: meskipun pada dasarnya kamu punya potensi dan sanggup, kenyataannya kamu tak akan pernah berlari sembilan detik! Berlari secepat empat belas detik sudah sangat luar biasa buatmu. Kenapa? Sederhana: tak ada yang memaksa dan mendorongmu untuk menembus batas kemampuanmu. Tak ada yang memaksamu untuk berlari seratus meter dalam sembilan detik. Menurut saya, ini juga berlaku dalam dunia kesusastraan. Jika kamu hanya hidup dan berhadapan dengan para penulis dan karya medioker, sehebat-hebatnya, kamu hanya akan sedikit lebih baik dari penulis medioker. Alam semesta akan memastikan nasibmu seperti itu.

2

Jika kita tak pernah punya ukuran-ukuran yang jelas tentang prestasi, tentang karya sastra yang baik, kita akan cenderung menciptakan ukuran-ukuran sendiri. Bayangkan jika tak ada penghargaan untuk karya sastra yang baik. Atau bayangkan jika ada penghargaan untuk karya sastra yang baik, tapi para penulisnya sendiri meragukan kualitas penghargaan tersebut. Bahkan para penulis yang pernah memenangi penghargaan tersebut juga meragukan kualitasnya. Bayangkan pula dunia kesusastraan yang diisi para kritikus yang hanya bisa memuji-muji (karena semua karya ada sisi baiknya), dan di sisi lain ada kritikus yang sering kebingungan sendiri menghadapi karya seolah-olah ia seratus dua puluh langkah tertinggal di belakang. Dalam keadaan seperti itu, sekali lagi, yang akan terjadi adalah sejenis anarki: semua orang akan menentukan sendiri ukuran-ukurannya, dan semua akan tampak berprestasi. Kita akan seperti anak taman kanak-kanak, apa pun yang kita lakukan, kita akan memperoleh bintang. Saya membayangkan, setidaknya untuk diri saya sendiri: akan mengirim novel saya ke bulan, menitipkannya ke seorang astronot. Memotretnya di bawah bendera Amerika. Saya akan bilang, “Saya penulis hebat, novel saya sudah sampai ke bulan, ini buktinya, ada foto.” Itu kurang meyakinkan? Saya akan berusaha agar para jin, di dunia dedemit, mendiskusikan karya saya. Dan dengan bangga saya akan bilang, “Novel saya sudah didiskusikan para jin di dunia dedemit.” Jelas itu prestasi, sebab hanya saya yang meraihnya. Masih kurang meyakinkan? Saya akan berusaha menerjemahkan novel saya ke bahasa semut, dan di biografi saya akan ditulis, “Telah diterjemahkan ke bahasa semut, bahasa batu, dan bahasa tubuh.” Bahkan menulis novel 500 halaman dengan Rugos pun bisa jadi prestasi membanggakan, sebagaimana menulis puisi di permukaan air dengan sperma bebek. Jangan salah sangka, saya lumayan suka keadaan seperti itu. Saya seorang anarkis, dan mendukung dunia kesusastraan yang anarkis. Semua penulis layak dapat bintang, semua bisa pulang ke rumah dengan senang.

3

Menulis berarti menyuarakan sesuatu. Karena penulis itu banyak, ada banyak suara. Dunia menjadi tempat yang riuh. Masalahnya, sebagian besar ingin didengar. Bersuara tak lagi cukup. Kita berteriak. Yang berteriak paling kencang, tentu saja merasa jadi juara. Setidaknya jika tak bisa berteriak kencang, kita mencoba membungkam orang lain.

4

Dalam pembukaan komik Panji Tengkorak karya Hans Jaladara, dikatakan: “Dalam ilmu surat (sastra) tak ada nomor satu. Dalam ilmu silat, tidak ada jago nomor dua (karena yang nomor dua sudah menjadi mayat).” Soal ilmu sastra, saya rasa Hans Jaladara salah. Dalam ilmu sastra: semua nomor satu. Sebab kalau tidak nomor satu, penulis merasa jengkel sekali (oh tidak, berbeda dengan pendekar, mereka tak akan mati). Dalam hal ini saya tak tahu mana yang lebih anarkis: dunia sastra atau dunia persilatan?