With Borges, Alberto Manguel

Seorang remaja enam belas tahun, mengisi waktu luangnya sepulang sekolah dengan menjadi penjaga toko buku Pygmalion di satu sudut Buenos Aires. Toko itu terutama menjual buku-buku impor berbahasa Inggris dan Jerman. Satu sore, seorang pelanggan buta datang dan menawari si bocah, seandainya ia punya waktu untuk bekerja dengannya, sebagai pembaca buku. Ia menerimanya, dan dari 1964-1968, Alberto Manguel datang sekitar tiga kali seminggu untuk membacakan buku (atau apa pun) kepada si pelanggan buta. Ia menjadi satu dari sedikit orang yang beruntung pernah menjadi pembaca bagi seorang penulis yang kita tahu menjadi salah satu tonggak untuk cerita pendek, realisme magis, el boom: Jorge Luis Borges. Manguel menceritakan pengalaman istimewanya dalam sebuah buku tipis berjudul With Borges. Saya tak pernah tahu ada buku ini sebelumnya, menemukannya secara tak sengaja di sebuah toko buku bekas bernama Judd Books, di 82 Marchmont Street, London, ketika sedang iseng berjalan-jalan sambil memakan es krim. Sebenarnya bukan buku bekas, ada sebuah meja yang khusus memajang buku baru (setidaknya buku-buku dengan kondisi baru). Setiap judul ditumpuk ke atas, berisi beberapa kopi. Mungkin sisa gudang, mungkin juga si pemilik toko sengaja menyediakan buku baru atas pilihannya sendiri. Di meja itu, saya melihat ada satu novel Bolaño, ada satu ulasan tentang Garcia Lorca, kumcer Raymond Carver. Saya hanya mengambil With Borges, seharga 3,99 pound. Saya membacanya di dalam kereta, lalu melanjutkannya dalam penerbangan dari Heathrow menuju Changi. Buku ini berisi setengah memoar dan setengah ulasan, dan seolah menegaskan kecenderungan karya-karya Borges, Manguel merasa hanya perlu 74 halaman buku untuk menceritakan itu semua. Untuk seorang pembaca Borges, barangkali banyak hal di buku ini pernah diketahui, atau pernah dibaca di tempat lain, tapi saya rasa ini salah satu buku yang perlu dibaca tak hanya menyangkut Borges, tapi juga menyangkut kesusastraan. Seperti kristal, peristiwa-peristiwa pendek yang terjadi dalam kehidupan Borges dan kemudian diceritakan kembali oleh Manguel, memancarkan begitu banyak hal mengenai sastra sebagai keterampilan maupun jalan hidup. Salah satu yang baru saya ketahui dan mengharukan adalah, ketika Manguel pertama kali datang ke apartemen Borges dan menyadari (kontras dengan reputasi sang pengarang yang dikenal sebagai “pembaca banyak hal”), tak banyak buku di sana. Hanya ada rak kecil di ruang baca, dan rak lebih kecil di kamarnya. Sebagian besar buku-buku klasik, yang juga gampang ditemukan di tempat lain. Manguel kemudian teringat komentar Mario Vargas Llosa yang pernah berkunjung ke apartemen tersebut dan bertanya kenapa hanya sedikit buku di sana. Si tuan rumah menjawab, “Mungkin (mengumpulkan buku) itu yang kalian lakukan di Lima, di sini di Buenos Aires kami tak suka pamer.” Borges mulai membuta di akhir 30an, kebutaan yang teramalkan (ayah dan kakeknya menderita hal yang sama), dan buta total menjelang umur 60. Mengenai kebutaannya, Borges sendiri pernah menulis esai menarik berjudul “Blindness” (di buku Seven Nights). Memoar ini, sekali lagi ini memoar seorang pembaca buku untuk seorang penulis buta, juga banyak berputar mengenai kebutaannya. Untuk membaca buku, ia banyak dibantu oleh ibunya (“Saya pernah mengurus suami yang buta, sekarang saya mengurus anak saya yang juga buta”), dan beberapa teman yang membacakan buku untuknya. Di balik kebutaannya, Borges memiliki ingatan yang luar biasa. Ia menghapal banyak karya, kata per kata, kalimat per kalimat. Ia mengarang puisi dan cerpennya di dalam kepala, mengoreksinya di dalam kepala, hanya mendiktekannya ketika puisi atau cerpen itu telah tersusun rapi di kepalanya. Dan jika ia pergi ke toko buku, ia akan berjalan sepanjang rak dan tangannya meraba jilid buku, merasakannya, seolah ia tahu persis apa isi buku tersebut. Ia tak pernah sedih mengenai kebutaannya, tidak pernah menganggapnya sebagai sebuah tragedi, dan bahkan dengan bangga ia sering merujuk kepada Homer, penyair agung yang juga buta. Borges percaya tugas moral manusia adalah menjadi bahagia, dan kebahagiaannya terletak dalam membaca buku. Kebutaan tak pernah menghalanginya untuk membaca buku, untuk bahagia. Sekali lagi, buku ini sangat tipis. Tapi untuk seorang pembaca buku, atau penulis, buku ini seperti tonjokan tanpa ampun.

Lelaki Harimau

[Lelaki Harimau] is a brilliant, tight-knit and frightening village tragedy ….
– Benedict R. O’G. Anderson, New Left Review

Charles Dickens Museum

Ruang makan keluarga itu tak terlalu besar, dengan meja makan kayu di tengah-tengahnya. Paling banter enam orang bisa duduk mengelilingi meja tersebut, dan sering kursi-kursi itu berisi teman-temannya sesama penulis atau seniman lainnya. Charles Dickens akan duduk di kepala meja, menghadap ke arah jendela. Kita bisa mendengar roda kereta kuda sesekali lewat, dan sais kereta yang meneriakkan sesuatu. Di dalam ruangan sendiri, bisa terdengar bunyi sendok atau pisau berbenturan dengan permukaan piring, diselingi suara percakapan di antara orang-orang. Begitulah kurang-lebih suasana salah satu ruangan di Charles Dickens Museum. Pengunjung seolah tak hanya dibawa masuk ke suasana rumah sang penulis besar (salah satu yang terbesar setelah Shakespeare), yang memang pernah tinggal di bangunan yang sama yang kini menjadi museum, tapi juga melemparkan kita ke banyak hal yang berbau era Victorian. Dilengkapi perangkat suara yang juga memberi ilustrasi “suara-suara” yang mungkin bisa kita dengar di masa Dickens hidup di ruangan tersebut. Seperti saya bilang, rumah yang jadi museum itu merupakan rumah tempat Dickens pernah tinggal (di masa-masa awal pernikahannya). Jadi di kiri-kanannya, saling menempel seperti perumahan yang orang Jakarta sering menyebutnya sebagai “town house”, tentu masih ada rumah-rumah lain, berpenghuni, dengan gaya yang saya yakin masih dipertahankan sejak masa yang lama. Papan namanya kecil saja di depan pintu masuk, dan tanpa papan nama itu, orang pasti tak akan mengira itu museum. Rumah Dickens terdiri dari empat lantai: bawah tanah, dasar, lantai satu dan lantai dua. Kehidupan Dickens (dan isterinya) sehari-hari lebih banyak dihabiskan di lantai dasar dan lantai satu. Lantai bawah, yang lebih rendah dari permukaan jalan, merupakan teritori para pelayan rumah tangga. Itu tempat dapur dan tempat cucian berada, juga tempat Dickens menyimpan tabungan anggur dan beragam minuman keras lainnya (bukan tipe pemabuk sebenarnya, tapi ia memang suka menjamu teman-temannya, dan minum pada tingkat yang moderat). Sementara lantai paling atas, merupakan teritori anak-anak dan pengasuh mereka. Sebagaimana orang-orang “kaya” era Victorian, kita harus membayangkan pengurus rumah tangga dan pengasuh anak ini tidak hanya satu, tapi beberapa. Mereka dipimpin oleh “kepala pelayan”, yang dalam kasus Dickens, dijabat oleh adik perempuan isterinya (ketika mereka bercerai, si adik ipar memilih tetap bersama Dickens sebagai kepala pelayan. Ini di zaman itu sempat memancing kehebohan, dan sang kakak mengirimi si adik cincin ular, sebagai tanda “pengkhianat”. Ada hubungan khusus Dickens dengan adik iparnya? Entahlah, tak ada penjelasan soal ini. Di akhir hidupnya, Dickens dekat dengan perempuan(-perempuan?) lain). Satu hal yang menarik, yang baru saya ketahui setelah mengunjungi museum tersebut, adalah kebiasaan Dickens untuk membacakan karya-karyanya di depan teman-temannya. Itu biasanya dilakukan di drawing room, yang bisa disulapnya menjadi ruang teater kecil. Ia menjadi satu-satunya aktor (dan saya rasa ia aktor yang berbakat). Di ruangan itu, kita bisa menikmati suasana bagaimana Dickens membaca potongan karyanya, dan tak salah jika saya menganggapnya sebagai rock star. Ia salah satu yang memelopori tradisi penulis membacakan karyanya, bahkan hingga menyeberang ke Amerika. Saya, yang punya sedikit rasa sentimentil untuk menganggap semua penulis lama yang saya kagumi sebagai “orang tua”, merasa kunjungan ini semacam kunjungan “mudik”. Saya memandangi bagian-bagian rumahnya, seolah mengingat kembali detail-detail rumah tempat tinggal saya yang diingat dari masa kecil (bedanya, saya mencoba mengingat detail rumah Dickens melalui apa yang dia tulis di buku-bukunya). Saking khusuknya, saya lama sekali di sana hingga tiga putaran pengunjung bahkan melewati saya, dan saya terlambat untuk berkunjung ke tempat satunya lagi yang saya rencanakan, Sherlock Holmes Museum. Tak apa, mudik sebaiknya ke satu rumah dalam satu waktu. Dan ketika meninggalkan rumah tersebut, saya memperoleh kesan bahwa tujuan utama museum itu rasanya berhasil tercapai, setidaknya untuk saya: saya jadi ingin membaca lebih banyak karya Dickens.

2015-20-Charles-Dickens-Museum_01

2015-20-Charles-Dickens-Museum_02

2015-20-Charles-Dickens-Museum_03

Berjumpa Tariq di Soho

Melihat Tariq Ali, saya tak pernah berhasil untuk tidak berpikir mengenai generasi 60an: kehidupan bohemian, pikiran radikal, tapi juga hidup di alam kreatif yang penuh daya. Untuk kali kedua saya bertemu dengannya. Pertama kali terjadi di Jakarta, beberapa tahun lalu (kami makan siang di satu restoran Jepang di Kemang); kini saya berada di kotanya, London, dan bertemu untuk makan malam di satu daerah yang pasti sangat diakrabinya sejak lama: Soho. Jika kita pergi ke Soho saat ini, terutama jika keluar dari pintu stasiun Oxford Circus, kita akan dihadapkan pada bentangan pusat perbelanjaan yang riuh. Toko H&M besar langsung berdiri di depan mata, di seberang jalan. Ke kanan, toko GAP sudah menunggu. Di deretan itu, nama-nama besar industri fashion seperti Uniqlo dan American Apparel berebut perhatian. Soho, titik pusat kota London (bahkan secara fisik, bisa lihat di peta) sama riuhnya dengan Shibuya di pusat Tokyo. Bahkan memasuki jalan-jalan kecilnya, tempat itu dipenuhi toko-toko suvenir dan restoran-restoran serta bar. Tak hanya untuk orang lokal, Soho jelas magnet untuk para turis. Saya pertama kali datang ke sana sehari sebelumnya, untuk mengunjungi pesta kecil yang diadakan penerbit saya, Verso, di kantor mereka. Verso berbagi gedung dengan induknya, jurnal prestisius di kalangan intelektual radikal, New Left Review, di satu ruas jalan kecil bernama Meard Street. Kiri-kanannya dipenuhi bar dan restoran. Kantor Verso di daerah Soho? Bahkan ketika saya baru melintasi jalanan dan lorong-lorong di sekitar itu, saya tahu pasti, tempat ini pasti sangat mahal sekali. Tariq tertawa ketika saya berkomentar soal ini, dan mengakui bahkan banyak penerbit lain (termasuk yang besar), sangat iri mengetahui Verso memiliki kantor di daerah sana. Tapi itu memang cerita yang sangat panjang, dan di balik kenapa penerbit radikal yang independen itu bisa memiliki kantor di kawasan elit, terdapat sejarah panjang daerah Soho sendiri. Meskipun begitu saya bisa sedikit meringkasnya. Daerah itu pada dasarnya sudah ramai sejak lama. Dulu, itu merupakan daerah kelas pekerja. Perumahan untuk kaum buruh. Di satu perempatan, kami berdiri dan Tariq menunjuk satu apartemen putih sekitar tiga blok dari tempat kami berdiri dan berkata, “Karl Marx tinggal di sana, di apartemen tiga kamar. Ia sangat miskin.” Itu membuat kami hening sejenak. Harus membayangkan “sangat miskin” dengan konteks Soho hari ini, yang tentu sangat aneh. Di tahun 60an, di tahun ketika Tariq masih muda dan sering turun ke jalan, Soho mulai menjadi tempat kaum bohemian. Para aktivis, seniman, musisi, dan pelacur tinggal di daerah tersebut. Iklim intelektual dan seni tumbuh subur di sana. Daerah sekitar kantor Verso merupakan tempat pelacuran, dikuasai seorang germo, dan tempat perkelahian antar germo. Kemudian ada kakak-beradik yang membeli satu bangunan di sana. Kakak-beradik yang sama-sama intelektual ternama kelas dunia. Saya kenal baik si abang, tak perlu disebut di sini, dan mereka menghibahkan gedung tersebut ke lembaga yang menaungi penerbit itu. Kantor itu tetap bertahan di sana, ketika Soho terus berubah, dan jalanannya serta lorong-lorongnya tak lagi dijejali pelacur atau seniman-seniman bohemian, tapi penuh diisi turis yang menenteng tas-tas belanjaan. Di satu lorong, sepasang turis sempat berhenti di depan kami dan berseru, “Tariq! Kamu Tariq yang itu, kan? Senang sekali bisa melihatmu.” Penggemar. Saya rasa dia sering harus menghadapi kejadian seperti itu di jalanan Soho. Ketika kami janjian untuk makan malam, Tariq tanya makanan apa yang saya mau (atau makanan apa yang tidak akan saya makan). Soal makanan, kadang saya sangat rewel, tapi tak jarang gampangan. Sebenarnya saya bisa makan banyak hal, tapi lebih sering saya terpaku pada makanan kesukaan saya. Selama beberapa hari di London, saya hanya makan sandwich, burger, dan pasta, dan buat saya baik-baik saja (makan saya juga tak banyak). Tapi melihat ada banyak restoran China di sekitar kantor Verso, kami memutuskan makan di salah satunya. Di pintu masuk kami dihadapkan dengan kutipan besar dari Mao: “Yang tidak makan cabe, tak bisa jadi revolusioner.” Saya tersenyum dan terpikir, setidaknya Mao masih terus mencoba berusaha terdengar di keriuhan Soho. Saya lupa nama restorannya (lagi pula papan namanya ditulis dalam bahasa dan huruf China), tapi makanannya enak. Mungkin karena saya kangen dengan nasi. Mungkin memang racikannya cocok dengan selera perut saya. Kami akhirnya ngobrol soal apa yang saya lakukan di London (saya bilang baru mengunjungi Charles Dickens Museum), proyek skenario filmnya tentang seratus tahun revolusi 1917 (yang saya yakin akan dirayakan di seluruh dunia, dua tahun ke depan), novel lain yang ingin saya tulis; hingga melebar ke berbagai isu serius seperti sejarah gerakan kiri di dunia, kemunculan Islam fundamentalis di mana-mana; lalu soal anak perempuan saya yang akan masuk taman kanak-kanak tahun ini. Juga bicara tentang Charles Dickens, yang menurut saya seperti rock star, dan Tariq membenarkan. “Di masanya, ia bisa pergi ke Amerika untuk membacakan karyanya, dan acara itu dihadiri ribuan orang. Tak ada bandingannya bahkan untuk ukuran penulis kontemporer,” kata Tariq. Soho mungkin sudah banyak berubah, tapi hal-hal kecil mungkin masih tersisa. Saya masih merasakan gairah kreatif di lorong-lorongnya. Ada satu toko buku yang khusus menjual komik dan novel grafis. Sungguh saya ingin kembali mengunjungi toko itu. Bahkan ketika berjalan kembali ke stasiun, saya sempat berjumpa satu demonstrasi mengenai tuntutan pengaturan ulang aturan (sewa?) hunian. Saya sertakan fotonya di bawah. Kami berpisah di depan restoran. Ia berjalan kaki ke arah yang berbeda, dan mungkin akan bertemu turis yang terkejut melihatnya dan menyapanya serta memintanya bersalaman. Saya berjalan ke arah stasiun. Tentu saja tak ada yang akan mengenali saya. Sebelum benar-benar berpisah, dia sempat bertanya, “Kamu akan ada di Frankfurt, Oktober ini?” Dengan cepat saya menggeleng dan menjawab, “Tidak.”

Berjumpa Tariq di Soho

Berjumpa Tariq di Soho

Günter Grass, Obituari

Saya tak ingat kapan pertama kali membaca The Tin Drum. Buku itu ada di rak buku saya, ada coretan-coretan saya di dalamnya. Tapi saat ini saya sedang tak mungkin untuk mengambilnya dari rak. Saya sedang di lobi sebuah hotel di daerah Kensington, London, jam 3 dinihari. Saya terbiasa bangun sangat pagi untuk menulis, untuk mengganti kebiasaan buruk lama “begadang” (yakni tidur menjelang dinihari), dan hanya beberapa jam sebelumnya mendengar kabar meninggalnya Günter Grass (usia 87), sang penulis. Bertahun-tahun lalu ketika mengunjungi Pramoedya Ananta Toer di rumahnya di Utan Kayu, Pram pernah memperlihatkan kepada saya satu lukisan di dindingnya. “Grass yang bikin,” kata Pram. Itu memang lukisan Grass, dihadiahkan kepada Pram ketika kedua penulis bertemu di Jerman. Ada dua hal setidaknya yang sering membuat saya iri kepada Grass. Yang pertama, luasnya keterampilan seni dia. Selain menulis novel, puisi, drama, dia juga membuat patung, karya grafis dan lukisan. Di kesusastraan, saya bahkan tak bisa menulis puisi! Dan di bidang seni rupa, ingin sekali saya punya studio kecil seperti miliknya untuk keisengan saya dengan grafis. Saya selalu tergila-gila dengan cetak saring dan cukil kayu, tapi tak pernah punya waktu (alasan para pemalas) untuk benar-benar melakukannya. Sumber keirian kedua, tentu saja watak kesusastraannya. Meskipun bisa dibilang saya tak memiliki pengetahuan melimpah mengenai kesusastraan Jerman, tapi jika membandingkannya dengan beberapa penulis Jerman lain, ada hal yang unik dalam dirinya. Saya sering membayangkan kesusastraan Jerman hampir mirip dengan filsafat Jerman: analitik, kontemplatif, memiliki skala yang “grande”. Membayangkan karya-karya Thomas Mann (The Magic Mountain), Robert Musil (The Man Without Qualities), Hermann Broch (Sleepwalker), sering sama “menakutkannya” dengan menghadapi kitab-kitab filsafat Kant, Hegel, dan kemudian Marx! Seperti saya menemukan sejenis keriangan dalam filsafat Jerman melalui Nietzsche, saya merasakan hal yang sama melalui novel-novel Grass dalam kesusastraan Jerman. Jujur, saya lebih sering membayangkan karya-karya Grass berada dalam tradisi Spanyol atau Inggris daripada Jerman. Pertama kali membaca The Tin Drum, kita sadar itu merupakan novel piqaresque, satu tradisi yang banyak berkembang di Spanyol (Don Quixote), Inggris (lihat beberapa karya Dickens), dan bahkan Amerika (Huckleberry Finn). Yang cerdas dari kisah Oskar Matzerath adalah, Grass berhasil mengelola kecenderungan picaresque yang seringkali memiliki watak kritis terhadap persoalan sosial, menjadi kendaraan untuk memotret sebuah zaman: terutama cikal-bakal dan memuncaknya kekuasaan Nazi. Setelah membaca beberapa karyanya yang lain, terutama yang paling saya suka The Flounder, kita juga segera menemukan kecenderungannya yang lain, yang membuat watak picaresque Grass semakin unik: fabel. Ya, selain meminjam alusi-alusi dari fabel, karya-karyanya juga memang sering dalam tingkat tertentu merupakan fabel. Tradisi picaresque dan fabel menciptakan dalam karya-karyanya sesuatu yang riang (meksipun humornya lebih seram gelap), kekanak-kanakan, ringan (meskipun hampir selalu dalam skala epik). Jarang saya melihat kualitas-kualitas semacam itu dalam karya penulis-penulis lain. Membaca Midnight’s Children Salman Rushdie barangkali bisa sedikit mengingatkan kita ke arah sana, meskipun Rushdie lebih sering disebut-sebut sebagai penulis realisme magis (label yang juga sebenarnya kerap ditimpakan juga kepada Grass), label yang dengan gampang sering diberikan orang asal menemukan elemen-elemen magis di dalam sebuah karya (jeritan si cebol Oskar bisa membuat kaca-kaca pecah berhamburan). Tapi bukankah fabel sejak awal sering muncul juga dengan keajaiban-keajaibannya? Grass saya rasa lebih banyak berutang kepada fabel, yang di tangannya, karya-karya itu menjadi fabel-fabel politik yang unik, dan telah memberi warna kesusastraan dunia di setengah terakhir abad kedua puluh. Oskar, mari tabuh beduk kecilmu untuk kepergiannya!

Aside

Terjemahan Sastra Indonesia

Dari komentar di jurnal saya, sastra Indonesia jarang diterjemahkan? Tidak persis begitu, sih. Karya-karya Pramoedya Ananta Toer telah diterjemahkan sejak tahun 60an sampai sekarang. Buku pertama Andrea Hirata, jika tak salah, sudah diterjemahkan ke lebih dari 20an bahasa. Di penerbit Italia, Metropole d’Asia, selain karya saya L’Uomo Tigre, juga telah diterbitkan sebelumnya karya Ayu Utami dan Nukila Amal. Di “75 Notable Translations of 2014″ yang dirilis World Literature Today, selain Andrea, Anda bisa menemukan Afrizal Malna dan Putu Oka Sukanta. Mungkin saatnya pembaca Indonesia lebih jeli memerhatikan, sebelum pembaca asing lebih menikmati kesusastraan kita.

Image

Sampul Buku “L’Homme-Tigre”

700-lht2015

Salah satu yang menarik dari banyak buku di Perancis, termasuk di penerbit buku saya, mereka sangat percaya diri pada isi buku dan menempatkan pepatah “Jangan lihat buku dari sampulnya” dalam tindakan nyata. Sampul buku L’Homme-tigre, edisi terjemahan Lelaki Harimau yang akan diterbitkan oleh Sabine Wespieser Éditeur, tampak sederhana. Hanya judul dan nama penulis. Persis sama dengan buku-buku lain yang mereka terbitkan. Buku ini direncanakan terbit September 2015. Setelah novel ini, mereka juga akan menerbitkan La beauté est une blessure (diterjemahkan dari Cantik Itu Luka).

Yang Menghibur dan Yang Nyastra, Graham Greene

Bertahun-tahun lalu, saya iseng membaca buku kecil berjudul The Tenth Man karya Graham Greene. Di tengah-tengah karirnya sebagai novelis, Greene pernah meneken kontrak dengan MGM untuk menyuplai cerita film. Dengan kontrak yang nyaris seperti perbudakan (itu kata-katanya sendiri, sic!), Greene menulis rancangan cerita (treatment), dari mulai sepanjang 2 halaman hingga 30000 kata. The Tenth Man merupakan salah satu yang lumayan panjang hingga bisa diterbitkan menjadi buku (yang royaltinya tentu mengalir ke MGM, bukan kepada si penulis). Graham Greene merupakan salah satu penulis yang secara sadar membedakan karya-karyanya ke dalam dua jenis genre: hiburan (entertainment, kata dia), dan sastra. Nah, sudah jelas The Tenth Man merupakan karya yang sejak awal diniatkan sebagai cerita hiburan. Bertahun-tahun kemudian, tepatnya beberapa minggu terakhir, saya berkesempatan membaca novelnya yang lain, yang dia anggap sastra (dan banyak dianggap karya terbaiknya), The Heart of the Matter. Sebenarnya buku itu sudah lama nongkrong di rak buku saya, bersama tiga buku Greene lainnya (termasuk satu yang sudah saya sebut), tapi baru sekarang sempat dibaca. Pertanyaannya, apa bedanya kedua novel tersebut? Apa perbedaan “yang menghibur” dan “yang nyastra” dalam kedua novel Greene? Meskipun di belakang hari Greene tak lagi mempergunakan kedua kategori tersebut (dan menyebut mereka semua sebagai “novel”), rasanya menarik untuk sedikit menengok kembali kedua contoh karya itu. Baiklah, dilihat dari gaya menulis, keduanya tak memperlihatkan perbedaan yang mencolok. Greene menulis dengan bahasa yang bisa dibilang sederhana, di mana kata-kata ditempatkan fungsional agar mudah dimengerti dan tak sulit dibaca. Ia bukan jenis penulis yang gemar menempatkan begitu banyak ornamen di kalimat-kalimatnya. Kita juga bisa menyebut gaya berceritanya sebagai “sinematik”, di mana ia memberi tekanan yang kuat terhadap adegan, sekuens, aksi dan dialog. Fungsi narator hampir menyerupai mata kamera dalam film. Meskipun begitu, bukan berarti tak ada perbedaan. Hal paling mencolok ketika membaca The Heart of the Matter, adalah dilema moral. Barangkali itulah yang membuat novel ini “serius”, dan membuat penulisnya menganggap itu “sastra”. Novel ini bercerita tentang Scobie, seorang polisi yang ditempatkan di tanah koloni di pantai barat Afrika, di masa perang dunia. Ia memiliki seorang isteri, Lousie (seorang snob, penggemar karya seni dan gaya hidup kota), yang tak betah dengan kehidupan koloni dan ingin pergi. Scobie yang gajinya pas-pasan, terpaksa meminjam uang dari rentenir (dicurigai juga menyelundupkan permata) Siria bernama Yusef, demi bisa mengirim isterinya keluar dari koloni tersebut. Dilema moral pertama muncul: bolehkah seorang polisi memiliki utang budi kepada seorang (kemungkinan besar) kriminal? Setelah isterinya pergi, ada kapal nyasar yang salah satu penumpangnya seorang janda muda bernama Helen. Scobie terlibat affair, Helen meminta mereka melakukan hubungan serius dan terbuka. Beragam persoalan moral muncul, yang paling menonjol tentu saja masalah suami beristeri yang memiliki kekasih. Tapi yang menarik perhatian saya, jika dua orang saling mencintai tapi keadaan mereka mengharuskan hubungan itu dilakukan sembunyi-sembunyi (sekoloni tahu Scobie punya isteri, dan si janda baru saja kehilangan suaminya), haruskan menggenapi cinta tersebut dengan “pengakuan” masyarakat dalam arti tak perlu sembunyi-sembunyi? Problem semakin serius ketika Yusef mengetahui hubungan ini, dan mulai mengancam si polisi, untuk ditukar dengan “perlindungan”. Saya mengira, yang dianggap “sastra” oleh Greene barangkali memang tema-tema serius mengenai moral kehidupan manusia semacam ini. Sebab di novel “hiburan”nya, The Tenth Man, problem tersebut tidak menonjol meskipun bukan tidak ada sama sekali. Di novel ini diceritakan mengenai para tahanan. Satu di antara sepuluh akan dibunuh. Seorang pengacara kaya bernama Chavel terpilih. Ia menawarkan seluruh kekayaannya kepada siapa pun yang menggantikannya. Seorang pemuda bernama Janvier menerima, dan kekayaan Chavel jatuh ke keluarga Janvier yang kemudian dieksekusi mati. Ya, itu novel yang menghibur, tapi bukan berarti tanpa dilema moral dan keseriusan. Saya bertanya-tanya tentang apa makna kekayaan, kematian, dan terutama: kepengecutan. Kita tahu, di akhir karirnya, Graham Greene kemudian meninggalkan kedua kategorisasi tersebut. Ia tak lagi peduli dengan “hiburan” ataupun “sastra”. Baginya, karya-karya itu semua sesederhana disebut “novel”, dan saya rasa itu pilihan yang tepat. Membaca The Heart of the Matter sangat menghibur, bisa dibaca dengan mudah, tapi juga serius. Hal yang sama juga terjadi pada The Tenth Man. Menghibur atau tidak menghibur, bagi saya bukan satu kategori. Sesuatu bisa menghibur untuk kepala manusia yang satu, tapi tidak untuk kepala manusia yang lain, siapa bisa menentukan? Tapi pertanyaan-pertanyaan penting tentang kehidupan, bisa muncul di karya jenis apa pun dengan tujuan apa pun, jika lahir dari penulis yang memang memandang kehidupan ini dengan beragam pertanyaan dan rasa penasaran, juga ketakjuban. The Tenth Man mungkin awalnya hanya ditulis untuk sekadar hiburan Holywood, thriller dengan balutan romantisme, tapi pertanyaan-pertanyaan dasar tentang hidup toh tak bisa lepas juga dari sana.