Eka Kurniawan

Journal

Dag Solstad: Tanggung Jawab Penulis adalah Bikin Karya Bagus

Setelah berkenalan melalui novel Aib dan Martabat, saya langsung mengenali nama penulis ini ketika melihat edisi terbaru The Paris Review, di rubrik wawancara yang saya demenin di jurnal itu: “The Art of Fiction” (dia kebagian nomor 230). Di kesusastraan Skandinavia (tepatnya doi berasal dari Norwegia), konon dia dianggap sebagai “an anavoidable voice”. Saya makin demen, nih. Dan makin seneng aja ketika dia ditanya, bagaimana awalnya dia pengin jadi penulis? Jawabannya: gara-gara baca Knut Hamsun. Berasa punya temen, deh. Knut Hamsun emang gokil. Baru satu novel Dag Solstad yang saya baca (berharap bisa baca yang lainnya di kemudian hari), tapi membaca wawancaranya sungguh menyegarkan. Ada satu bagian yang saya rasa perlu menjadi perenungan ketika ia ditanya, di luar Hamsun, penulis siapa aja yang dibaca dan memengaruhi. Ia bilang, sebagian besar penulis yang disukainya (Kafka, Dostoyevsky, dan lain-lain) justru dibacanya ketika berumur akhir 20an, “Ketika sudah lewat masa penjara kanak-kanak.” Di luar bayangan kebanyakan orang dewasa yang menganggap masa anak-anak sangat menyenangkan (maklumlah, seperti kata Little Prince, orang dewasa imajinasinya payah), anak-anak seringkali terpenjara: oleh keinginan orang tua, guru, masyarakat. Enggak boleh ini, enggak boleh itu. Pikiran dan tindakan mereka dikendalikan oleh orang dewasa. Nah, menurut Solstad, justru ketika dewasa ia merasa lebih bebas. Seharusnya sih, begitu. Kenyataannya mungkin malah banyak orang semakin dewasa semakin terpenjara. Pikirannya semakin mudah dikendalikan. Enggak bisa ini, enggak bisa itu, dan yang ngelarang ternyata dirinya sendiri! Dan ini juga hal seru: mengenai komunitas. Dia merasa beruntung di awal karirnya bergabung dengan majalah sastra Profil. Dia ketemu banyak orang keren di sana, yang membaca segala hal, mengetahui banyak hal. Kecuali dirinya, ia merasa teman-temannya memiliki keistimewaan masing-masing. Pernah ia mencoba ikut berdebat, tapi tak pernah berhasil mempertahankan argumennya (karena dia enggak tahu apa-apa). Akhirnya ia memilih diam dan mendengarkan. Terus mendengarkan. Hasilnya? “Aku tak memiliki keistimewaan apa-apa, tak memberi apa-apa tapi memperoleh paling banyak.” Hahaha. Itu lucu, tapi boleh dimaafkan. Memang banyak kok orang yang cerewet dan ngomong banyak, sebenarnya bukan “memberi banyak”, tapi lebih “pengin didengar”. Argumennya enggak penting, yang penting ada yang dengar, syukur-syukur enggak dibantah. Ada yang kayak begitu, percayalah. Ada. Dan terakhir, mengenai keistimewaan penulis (memiliki kebebasan bicara, misalnya), ia ditanya mengenai tanggung jawab. Si pewawancara mengutip tentang kebebasan melahirkan tanggung jawab. Nah, apa tanggung jawab seorang penulis? Sebagai seorang komunis, lebih tepatnya seorang Maois, saya bayangkan dia bakal jawab mengenai tanggung jawab sosial, tentang mencerdaskan masyarakat, menggunting belenggu penindasan, atau sejenisnya. Ternyata dia malah bilang: tanggung jawab penulis ya bikin karya bagus. Itu yang paling penting. “If you are a writer, being able to make a good piece of art is of the utmost importance — that’s your primary responsibility.” Bener juga ya, kalau enggak merasa punya tanggung jawab semacam itu, ngapain nyebut sebagai penulis? Lu Hsun kurang-lebih pernah mengatakan hal yang sama. Jadi boleh lah saya anggap itu jawaban paling kiri. Banget. Tinggal sekarang baku-hantam saja tentang apa itu “bagus”.

“With remarkable skill, Eka tells a story about animals and human beings arguing about the existence of God, religion and our fate.” O review from The Jakarta Post by Elysa Ng.

CnZ6fGXXEAAeTBm

Schoonheid is een vloek (Dutch version of Cantik Itu Luka) review from NRC Handelsblad.

Baru kali ini mudik ke Pangandaran dan dicegat wartawan: “Eka Kurniawan dan Mimpi Kecilnya untuk Pangandaran”. Ibu, paman, bibi, adik-adik saya masih tinggal di kota kecil itu, tentu saja saya masih menganggap pergi ke Pangandaran sebagai “mudik”. Dan tentu saja masih banyak impian kecil lain di kepala saya mengenai kota ini.

Dua resensi Schoonheid is een vloek (Cantik Itu Luka) diterjemahkan dengan baik hati oleh Joss Wibisono dari dua koran Belanda: “Tjantik itu luka mengandung ramuan chusus” (oleh Wim Bossema, de Volkskrant), dan “Eka Kurniawan mengikuti djedjak Rushdie dan Márquez” (oleh Emilia Menkveld, Trouw).

In Praise of Shadows, Junichirō Tanizaki

Seperti judulnya, In Praise of Shadows, buku esai tipis ini bicara tentang bayangan. Tentang terang dan gelap, dan terutama tentang kekaguman sang penulis, Junichirō Tanizaki, terhadap bayangan. Terhadap aspek gelap dari dunia. Sekaligus memperlihatkan sikap enggan terhadap yang terang benderang, cahaya yang menyilaukan, yang menurutnya, membuang-buang enerji (memang benar kalau kita melihat lampu-lampu neon di pusat-pusat perbelanjaan, di jalanan kota, yang sebagian besar lebih sering sia-sia dan pemborosan). Mulai bicara tentang letak kakus di rumah-rumah tradisional Jepang, yang umumnya terpisah dari rumah utama, dengan pencahayaan yang biasanya remang-remang. Tempat, yang menurutnya, “Para penyair haiku selama berabad-abad menghasilkan karya-karya besar mereka.” Ia kemudian beralih kepada arsitektur rumah Jepang tradisional secara umum di mana, “Para leluhur kami memangkas keterang-benderangan di permukaan tanah dari atas dan menciptakan sebuah dunia bayang-bayang.” Saya selalu suka membaca buku-buku esai semacam ini, yang membicarakan hal-hal yang barangkali di permukaan tampak sepele, tapi sangat kaya. Terutama jika ditulis oleh seorang novelis, dengan alur pemikiran laksana membaca novel. Maka ketika seorang teman, seorang jurnalis dan penyair, Nezar Patria membicarakan buku ini di satu pertemuan kami, saya langsung mencari dan membacanya. Buku tipis ini tak hanya bicara tentang estetika bayang-bayang, tapi juga bisa untuk melihat bagaimana seorang penulis Jepang ternama memandang kontras kebudayaan Barat dan Timur, juga di mana posisi perempuan dalam estetika bayang-bayang ini. Intinya, jika saya boleh menyimpulkan, berbeda dengan estetika yang memuja keterang-benderangan (cahaya yang melimpah) di mana keindahan terletak pada segala yang tampak, estetika bayang-bayang ini justru lebih bermain pada hal-hal apa yang disembunyikan (dan karenanya akan tampak apa yang muncul). Di luar masalah arsitektur, esai ini juga dibawa ke makanan, cara penyajian makanan, bahkan tentang istilah “putih” untuk kulit, di mana putih untuk ras Eropa tidak sama dengan putih yang dibayangkan lelaki Jepang atas kulit perempuan mereka. Di luar usahanya untuk menelisik, dan terutama untuk membangun dasar atas kekagumannya terhadap segala yang berupa bayang-bayang serta kebudayaan tradisional Jepang, dalam beberapa hal pemikiran-pemikirannya sedikit mengganggu, jika tak bisa dibilang cukup bikin gemes. Misalnya, usaha Tanizaki yang sangat kontras membedakan Barat dan Timur. Bagi dia, estetika terang-benderang ini merupakan warisan kebudayaan Barat (dan masuknya ke Jepang, tentu juga merupakan pengaruh kebudayaan Barat). Tentu saja menurut saya ini agak meragukan, atau menyederhanakan. Cukup melihat lukisan-lukisannya Rembrandt, kita tahu ada sebagian Barat yang juga memuja bayang-bayang dan warna gelap. Pandangan semacam ini hanya mengekalkan sejenis orientalisme, seperti sering terjadi di kita juga. Misalnya, Timur penuh tahayul sementara Barat rasional (hah, belum lihat Conjuring?). Saya malah mengira-ngira perbedaan estetika bayang-bayang dan terang-benderang ini ada kaitannya dengan epistemologi. Keterang-benderangan, bisa jadi lahir bersamaan dengan pencerahan. Arsitektur yang membiarkan cahaya matahari masuk ke rumah secara melimpah, bisa jadi ada kaitannya erat dengan rasionalitas (Tanizaki sama sekali tak menyinggung kemungkinan-kemungkinan ini). Kita bisa mendebat argumen-argumen Tanizaki di buku ini tentu saja, apalagi bagi orang-orang yang paham kebudayaan Jepang (saya tidak termasuk), termasuk estetika mengenai kecantikan perempuan. Meskipun begitu, penjelajahannya mengenai dunia bayang-bayang ini tentu saja tetap mengasyikan, membuka ruang-ruang tafsir baru terutama di banyak hal (rasa yang samar-samar di makanan, kesunyian di dalam musik, bagian-bagian tubuh yang disembunyikan di dalam fashion, dan lain sebagainya). Saya rasa penulis harus lebih banyak menghasilkan karya semacam ini, menjelajahi satu tema dalam satu buku utuh, jangan cuma riang dan merasa cukup dengan bunga rampai esai dan pikiran sejengkal-dua jengkal.

resensi_o_kompas

Sila baca “Antitesis Cinta Monyet”, resensi Tenni Purwanti untuk novel O, di Kompas hari ini, 2 Juli 2016. Foto oleh: @sastragpu.

Juga resensi Cantik Itu Luka (Schoonheid is een vloek) untuk edisi Belanda: “Schoonheid is een vloek heeft een speciale gekruidheid” di harian pagi de Volkskrant.

Hadiah Lebaran juga meliputi hak terjemahan Cantik Itu Luka ke bahasa Ibrani, akan diterbitkan oleh Shocken Publishers.

Bagaimana Menghasilkan Uang Melalui Sastra

Saya membuat judul jurnal ini “Bagaimana Menghasilkan Uang Melalui Sastra” biar banyak yang baca, sebab sepengalaman saya bertahun-tahun menulis jurnal di sini, orang cenderung tertarik hal-hal semacam itu. Siapa sih yang enggak doyan duit? Kalau ada artikel tentang menghasilkan uang hanya dengan tidur delapan jam sehari, saya juga tergoda untuk membacanya. Kenyataannya, memang judul itulah yang terpikirkan ketika membaca novel karya Marek Hlasko, berjudul Killing the Second Dog. Apakah ini novel tentang menghasilkan uang dengan cara membunuhi anjing? Tak bisa dibilang begitu juga, meskipun memang ada anjing yang dibunuh. Adegan yang, demi sopan-santun kepada semua anjing, hanya diceritakan sekilas saja. Itu pun hanya pembunuhan kedua. Pembunuhan pertama dan ketiga, atau kesekian lainnya, tak diceritakan, anggap pembaca mengerti saja. Yang lebih tepat, ini novel tentang menghasilkan uang melalui kesusastraan, atau lebih sederhananya lagi, melalui kemampuan berkisah. Sebelum saya membocorkan bagian-bagian mengenai cara menghasilkan uang melalui kesusastraan, karena saya yakin ini bagian paling menarik dari jurnal sok tahu ini, izinkan saya melipir dulu memuja-muji novel ini di bagian-bagian lainnya yang tak bisa saya abaikan. Gaya menulisnya bisa dibilang brutal, tapi penuh adegan dan dialog lucu, terutama jika mengetahui sedikit saja tentang sejarah kesusastraan dunia, sebab sesekali novel ini sedikit mengejek Shakespeare, atau Sartre, atau Chekhov, bahkan seni peran Stanislavsky. Berkisah mengenai dua lelaki, Robert dan Jacob, yang menggelandang di negara gersang dan panas (dan bisa dibilang enggak ramah) bernama Israel di sekitar tahun 1950an. Ya, tak lama setelah Perang Dunia II dan negara itu menjadi tujuan banyak orang, Yahudi maupun bukan. Mereka dua orang cerdas, tapi bisa dibilang pecundang. Kere. Keluar-masuk bui. Tak punya uang. Kelaparan. Dikejar-kejar kreditor, dan dicurigai polisi. Tak hanya itu, nasib apes juga mengekori mereka terus. Hingga mereka menemukan satu cara brilian untuk menghasilkan uang, tak hanya untuk hidup tapi juga untuk sedikit bersenang-senang, melalui kesusastraan. Dunia yang tak asing bagi mereka. Yang satu sarjana sastra Inggris, yang lain sutradara teater. Bagaimana caranya? Tunggu dulu. Saya perkenalkan dulu penulisnya. Marek Hlasko bisa dibilang tipikal penulis pemberontak: muncul nyaris mendadak (entah dari mana), bikin gempar, lalu mati muda. Ketika kesusastraan Polandia tampak lesu selepas perang, ia muncul dengan karya-karyanya yang memperlihatkan arus baru. Di novel ini, misalnya, kita bisa melihat gaya ala-ala novel hardboiled, tapi pada saat yang sama penuh alusi-alusi biblikal layaknya novel-novel klasik Eropa. Telaahnya terhadap jiwa dan psikologi manusia, meskipun dibawakan dengan ringan dan cenderung untuk meledek, bagi saya (yang membacanya bertahun-tahun kemudian setelah terbit), terasa tetap segar. Ada kesan getir generasi pasca perang, tapi dengan humor dan ekspresi-ekspresi yang apa adanya, juga memberi kesan gairah hidup yang menyala-nyala. Setidaknya dengan hidup yang berantakan dan dunia yang suram, melalui kesusastraan (yang meskipun tak mereka yakini, tapi mereka senangi), keduanya bisa memperoleh 700 dolar Amerika. Enggak banyak, tapi untuk ukuran Israel di zaman itu, kau bisa hidup foya-foya. Jadi bagaimana caranya menghasilkan duit dari kesusastraan? Saya memutuskan untuk tak menjawabnya. Mending baca sendiri novelnya dan belajar dari dua sosok gila bernama Robert dan Jacob itu.

*Baru metik dari pohon* WH Smith’s “Fresh Talent: Beauty Is a Wound”.

From the legendary NYC’s Strand Book Store: “Travel the World in 13 Books”.

« Older posts

© 2016 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑