Cantik Itu Luka

“… kita akan merasakan kenikmatan yang sama dengan nikmatnya membaca novel-novel kanon dalam kesusastraan Eropa dan Amerika Latin.”
Horison

The Tunnel, Ernesto Sábato

Para penulis Argentina saya rasa memang layak untuk dicemburui. Mereka selalu tampak memiiki kecenderungan alamiah untuk “tidak berakar”. Yang saya maksud tidak berakar adalah: mereka seperti tak peduli mengenai negeri mereka, kebudayaannya, orang-orangnya, sejarahnya, dan satu-satunya yang mereka peduli adalah kesusastraan. Tentu saja dalam karya-karya mereka kita bisa menemukan banyak hal tentang Argentina: gaucho, pampas, Buenos Aires, Peron, atau lainnya. Tapi semua itu seperti sesuatu yang tak terelakkan saja dari kenyataan sederhana bahwa mereka memang dilahirkan di sana. Di atas semua itu, jika kita membaca karya-karya mereka, pertarungan sejati mereka bukanlah negeri bernama Argentina, tapi tanah air bernama kesusastraan. Kita bisa merasakan hal itu melalui karya-karya Borges, atau Cortazar, atau penulis generasi yang lebih muda seperti César Aira, atau Andres Neuman. Bahkan kita bisa menemukannya di karya penulis yang terang-terangan memilih komunisme sebagai pilihan politiknya, Ernesto Sábato. Seperti kata Colm Tóibín dalam pengantar The Tunnel, “Tugas mereka bukanlah mencipta-ulang negeri mereka dengan gambaran mereka, tetapi menciptakan ulang kesusastraan itu sendiri, memberinya energi dan bentuk yang segar.” Seolah mereka dilahirkan di pusat-pusat kesusastraan dunia, di Paris, London atau Rusia, dan bukan di sebuah kota di satu negara dunia ketiga; lalu bicara tidak untuk manusia sebangsanya, tapi kepada siapa pun manusia di mana pun. Sábato berada dalam generasi yang sama dengan Borges dan Bioy Casares, bahkan novel The Tunnel ini awalnya terbit di majalah Sur yang juga melambungkan nama-nama tadi. Tentu ada perbedaan mencolok antara Borges dan Sábato: jika Borges seorang konservatif, Sábato seorang komunis; jika Borges memperlihatkan kecenderungan kepada fantasi, petualangan, kisah detektif yang diramu dengan spekulasi filsafat, Sábato berada dalam tradisi Dostoyevsky (yang dibenci Borges!) yang mencoba menerobos ke dalam sisi-sisi gelap manusia. Sekilas, The Tunnel seperti versi yang lebih rapi (dan lebih bikin gregetan) dari The Stranger Albert Camus, dan itulah mengapa Camus sangat mengagumi novel ini serta membawanya untuk terbit di Perancis, dan banyak orang menyejajarkannya dengan novel tersebut, menyebutnya sebagai “sebuah karya eksistensialis klasik”. Seperti Meursault, Juan Pablo Castel di The Tunnel memiliki cara pandang tersendiri tentang dunia, yang lebih banyak ditentukan oleh arus pikirannya. Sedikit berbeda, pikiran Castel terus bergerak sepanjang novel, menganalisa, membuat definisi, membuat praduga, bahkan menciptakan kesimpulan-kesimpulan yang lebih dekat kepada asumsi-asumsi. Dunia adalah apa yang dipikirkannya, bahkan meskipun itu menciptakan ilusi, kecemasan, dan pada akhirnya kenyataan yang rapuh. Mengikuti aliran pikiran Castel, kita menemukan kenikmatan membaca, sekaligus merasakan kecemasannya. “Frasa ‘masa lalu yang indah’ tak berarti hal buruk jarang terjadi di masa lalu, hanya saja – untungnya – orang-orang ini sesederhana melupakannya.” Pikiran-pikirannya penuh dengan upaya menjelaskan banyak hal, sekaligus menggiring kita masuk ke dalam ketidakpastian, sebab setiap kali sesuatu dijelaskan, sesuatu menjadi tidak jelas bersama munculnya penjelasan-penjelasan lain. Hal inilah yang membawa hubungannya dengan seorang perempuan, María Iribarne, kepada hubungan yang labil dan cenderung merusak. Awalnya hubungan mereka tampak menjanjikan: María seolah ditakdirkan sebagai satu-satunya orang yang mengerti hasrat seni Castel (ia seorang pelukis). Tapi bersama berlalunya waktu, pikiran-pikiran Castel memiliki pandangan tersendiri mengenai María, dan sebagian besar merupakan pikiran buruk (seperti dikutip di atas, ia tak percaya ‘masa lalu yang indah’, dan lebih memilih untuk mengingat banyak hal buruk). Bisa dibilang ini merupakan novel cinta, tapi alih-alih memberi rasa berbunga-bunga, novel ini memberi kita satu pertanyaan yang sangat menekan, tak adakah momen membahagiakan dalam hubungan cinta ini? Tentu saja sebagaimana hubungan asmara, pasti ada momen-momen indah. Tapi lagi-lagi bahwa apa yang kita tahu tentang dunia tak lebih dari apa yang kita pikirkan mengenai dunia. Jika pikiran kita segelap Castel, dunia akan terlihat gulita, dan demikianlah tragedi manusia dan pikirannya.

Image

Kumcer Esquire

20150320-155016.jpg

Majalah Esquire Indonesia, yang rutin menerbitkan cerpen di setiap edisinya, untuk pertama kali menerbitkan kumpulan cerpen mereka. Dua buku ini menghimpun cerpen-cerpen terpilih dari 4 tahun pertama, dan ada karya saya di kedua buku ini (“Semua Orang Pandai Mencuri” dan “Riwayat Kesendirian”). Meneruskan tradisi Esquire Internasional yang sangat dekat dengan kesusastraan, saya rasa mereka juga telah ikut mewarnai dunia cerpen kita. Di buku terbaru saya, Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi ada beberapa cerpen yang awalnya terbit melalui majalah ini.

Image

Perempuan Patah Hati …, di Toko Buku

Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi

Kumcer keempat saya, Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi (Bentang Pustaka, 2015) sudah beredar di toko buku maupun toko daring. Yang menang kuis kumcer ini, buku segera meluncur ke alamat masing-masing. Sekadar info, kumcer pertama saya Corat-coret di Toilet (Gramedia Pustaka Utama, 2014) juga diterbitkan kembali tahun lalu dan bisa diperoleh di toko buku. Selamat membaca dan selamat menikmati akhir pekan.

Mau Ke Mana Cerita Pendek Saya?

Beberapa kali saya kembali membaca esai Bolaño berjudul “Advice on the Art of Writing Short Stories” di kumpulan esai dan artikelnya Between Parenthesis. Sejujurnya bukan esai yang cemerlang, tapi nasihat tetaplah nasihat. Seperti bisa diperhatikan, beberapa tahun terakhir saya tak lagi banyak menulis cerpen. Menerbitkan satu cerpen dalam setahun sudah cukup produktif bagi saya. Ada rasa bosan membaca cerpen-cerpen di koran, dan ada rasa bosan menuliskannya juga. Saya tak mau berpusing-pusing memikirkan keadaan cerpen dalam kesusastraan kita, meskipun tak keberatan memberikan pendapat jika ada yang bertanya, dan lebih senang melihatnya sebagai problem internal saya sendiri. Tulisan ini barangkali akan lebih menarik jika berjudul “Mau Ke Mana Cerita Pendek Kita?”, tapi saya rasa terlalu berlebihan untuk mengurusi “kita” saat ini, dan saya tahu persis sebagian besar penulis tak suka diurusi. Kebosanan ini problem internal, titik, dan menggelisahkan hal ini patut saya syukuri: setidaknya saya masih sedikit waras untuk bertanya kepada diri sendiri. Menjelang terbitnya kumcer keempat saya, Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi, saya mencoba melihat sejauh apa yang telah saya lakukan. Hal paling gampang untuk dilihat tentu saja jumlah: lebih dari lima puluh cerpen telah saya tulis sejak tahun 1999, dan empat buku telah saya terbitkan. Bagi banyak orang, mungkin itu banyak sekali; bagi saya setidaknya itu lebih dari cukup, lebih dari itu bisa saya anggap berlebihan. Berbeda dengan cara kerja saya menulis novel, yang sering saya bayangkan seperti membangun rumah tanpa rancang-gambar, yang membuat saya begitu senang menulis ulang sebuah novel berkali-kali sebelum menerbitkannya; cerpen bagi saya seperti ruang laboratorium penulisan. Kadang-kadang saya punya gagasan kecil di kepala, bisa berupa olok-olok ringan maupun andai-andai berat, lalu saya mencobanya di “laboratorium”, dan jadilah sepotong cerpen. Bagaimana jika Thomas de Quincey, penulis Confession of an English Opium Eater ternyata penduduk Hindia Belanda di masa kolonial dan menulis dalam bahasa Melayu pasar? Hasilnya adalah cerpen “Pengakoean Seorang Pemadat Indis”. Bagaimana jika kita pergi ke satu tempat, bertemu orang-orang dan mendengar cerita mereka, lalu menuliskannya? Cerpen-cerpen seperti “Gerimis yang Sederhana”, “La Cage aux Folles” dan “Penafsir Kebahagiaan” ditulis dengan eksperimen seperti itu. “Caronang” awalnya merupakan eksperimen untuk menulis cerpen dengan pendekatan catatan perjalanan, tapi hasil akhirnya berbeda, sementara “Pengantar Tidur Panjang” merupakan memoar dengan obsesi yang berlebihan: menangkap sejarah republik melalui kacamata sebuah keluarga, tak lebih dari 2000 kata. Saya senang melakukan hal itu di cerpen karena alasan yang sederhana: bentuknya pendek, sehingga saya dengan mudah berpindah dari eksperimen satu ke eksperimen lainnya. Satu disiplin yang rasanya tak akan saya lakukan untuk novel. Sementara eksperimen-eksperimen samacam itu saya percaya layak untuk terus dilakukan, lebih dari lima puluh cerpen dan empat buku tetaplah jumlah yang banyak. Di sisi lain, saya juga percaya, sesuatu tak bisa dilakukan secara berkepanjangan. Ada satu titik di mana seseorang harus berhenti, metode dipertanyakan, dan kepercayaan diri yang berlebihan harus dihancurkan. Ini akan berat untuk saya, tapi rasanya mengurangi menulis cerpen sama sekali bukan jalan keluar yang memuaskan. Saya perlu berhenti setelah buku keempat ini. Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi akan menandai jeda panjang saya, hingga beberapa tahun ke depan. Dan tahun-tahun tersebut akan memberi saya banyak waktu untuk menjelajahi beragam khasanah cerita pendek. Saya menyukai penulis-penulis cerpen klasik, dari Chekhov, Gogol, Maupassant, Akutagawa, bahkan cerpen-cerpen konyol O. Henry. Bolaño menyuruh kita membaca Borges, Juan Rulfo, Edgar Allan Poe, hingga Enrique Vila-Matas dan Javíer Marias. Saya sudah membaca mereka. Di luar itu saya kira banyak penulis-penulis kontemporer, dari abad lalu maupun abad sekarang, yang patut untuk dibaca. Belum lama saya membaca cerpen-cerpen Ludmilla Petrushevskaya, yang membawa tradisi panjang kesusastraan Rusia (kapan-kapan saya akan menulis tentangnya di sini). Etgar Keret dan Hassan Blasim, semestinya dibaca sebagaimana kita membaca penulis cerpen klasik. Jangan lupa Raymond Carver. Juga Primo Levi. Dan Ellen Chang. Dan tentu saja César Aira. Saya pernah berhasil berhenti merokok, berhenti bergaul di Twitter dan Facebook (yang memberi saya waktu melimpah untuk membaca buku), rasanya saya akan sanggup melewati yang ini. Berhenti menulis cerpen untuk jangka waktu yang lama, mungkin terasa menyiksa dan menyedihkan; tapi mengetahui akan ada banyak yang bisa dibaca dan belajar kembali dari mereka sambil bertanya “Mau ke mana cerita pendek saya?”, saya rasa layak untuk dilalui. Sebab, mengutip Borges, kegiatan membaca lebih intelek daripada menulis. Dan lebih menyenangkan, tentu saja.