Eka Kurniawan

Journal

700-biaw-uk2016

Here is Beauty Is a Wound cover for United Kingdom. Published by Pushkin Press, June 2016. A small introduction to this amazing publishing house, they publish some great contemporaries like Chigozie Obioma, Andrés Neuman and Ryu Murakami, as well as a heavy weight literary classic like Stefan Zweig.

Tips Bahagia untuk Penulis

Saya punya cara untuk hidup lebih bahagia. Buka Goodreads, lihat buku-buku karya penulis hebat (sebut saja Orhan Pamuk, Mo Yan atau Herta Müller, yang kalibernya sekalian Nobel Kesusastraan), dan baca ulasan yang memberi buku mereka cuma satu bintang. My Name is Red disebut “membosankan”, “dibuat untuk menyenang-nyenangkan penulisnya, bukan pembacanya”, “saya kesulitan dengan kualitas rendah buku ini”, dan “apa yang disebut misteri pembunuhan itu sangat dangkal sebab kita tak benar-benar tahu siapa pembunuh dan korbannya”. Bagaimana dengan Red Sorghum? “Saya enggak lihat novel ini indah maupun menggugah”, “tak ada otensitas dalam usahanya menggambarkan kengerian perang”, “karakter-karakternya tak punya simpati terhadap kehidupan manusia”. Dan The Land of Green Plums? “Halusinasi pikiran sakit”, “Gaya puitisnya menjauhkanku dari karakter”, “kenapa sastra bikin kita mual?”, “plot dan karakternya jauh dari menyenangkan”. Bahkan One Hundred Years of Solitude aja ada yang nyebut (tentu dengan memberinya satu bintang saja) “cuma kumpulan anekdot” dan “gaya berceritanya datar”. Membahagiakan membaca ulasan-ulasan semacam itu, kan? Saya tak tahu siapa-siapa saja mereka yang memberi komentar-komentar tersebut, yang jelas saya bahagia membayangkan orang menjadikan kanon-kanon kesusastraan global tersebut sebagai barang tak berguna. Orang-orang ini mulai mempertanyakan, kenapa sih seleraku berbeda dengan ahli-ahli sastra ini? Apakah otakku bermasalah? Hahaha. Saya sendiri tak tahu jawabannya. Mungkin otak ahli sastra memang bermasalah. Mungkin otak si pembaca yang tumpul. Kadang-kadang saya sendiri bertanya-tanya, ya ampun, kayaknya novel semacam ini mungkin memang bukan seleranya. Kenapa dia maksa membaca? Terpengaruh ulasan yang hips di jurnal sastra? Terpengaruh penghargaan yang diperoleh penulisnya? Ujung-ujungnya geli melihat emosi yang meledak-ledak, barangkali karena kesal kenapa dunia memuja War and Peace sedangkan dia menganggap buku itu buruk minta ampun? Novel itu disebut “kering dan membosankan”, “berapa banyak pohon ditumbangkan untuk mencetak sampah ini?” dan “buku ini menghancurkan mitos populer bahwa jika buku itu tua dan dari Rusia, pasti bagus”. Pembaca-pembaca yang memberi satu bintang dan sedikit ngomel-ngomel ini barangkali merasa tertipu dengan reputasi buku-buku tersebut, dan siapa pun yang tertipu di depan mata, kita senang menertawakannya, dan tawa seringkali membawa kita kebahagiaan. Persis seperti acara-acara gags dan jebakan di televisi, yang menjebak dan menipu seseorang lewat kamera tersembunyi. Si korban tampak menderita, dan kita tertawa ngakak melihat penderitaannya. Hidup ini kalau cuma mencari bahagia sederhana, kan? Lihat saja penderitaan orang lain, dan kita setidaknya bisa senyum. Melihat penderitaan seorang pembaca menghadapi buku yang tidak disukainya saya rasa tidak mencederai siapa pun, juga tidak mempermalukan siapa pun. Kita bisa tertawa sendiri, dan pembaca itu juga menderita sendiri. Kita hanya mengintip penderitaannya. Baiklah. Saya ingin sedikit menambah dosis kebahagiaan saya. Apa yang dikatakan pembaca satu bintang untuk William Shakespeare, pujangga agung itu? Romeo and Juliet adalah “Cerita yang bodoh”, “kedua remaja ini baru kenal 3 hari, enggak perlu seheboh ini, lah”, dan “medioker seutuhnya”. Hahaha. Lebok tah! (Subtitle: makan tuh sastra!)

700-bisw-ind2016

Indian subcontinent’s edition of Beauty Is a Wound, is already released. Published by Speaking Tiger, February 2016.

Hidung Gogol

Kang Gogol, kumaha damang? Saya baru baca cerpen “Hidung” karya sampean. Saya kok bingung ya, ketika Kovalev kehilangan hidungnya dan hendak melapor ke polisi, eh dia malah ketemu hidung itu. Si hidung turun dari kereta kuda dan bahkan memakai seragam pejabat. Saya enggak bisa bayangin hidungnya macam apa, ya?

Ah dasar sia, belegug! Matak oge ari maca pake isi babatok. Pakai imajinasi. Masa gitu aja enggak ngerti. Hidung ya hidung. Dia kehilangan hidung dan dia melihat hidungnya. Tentu saja dia segera mengenalinya. Bukankah hidung merupakan sesuatu yang paling depan ada di wajahmu. Ketika kau bercermin, apa yang paling nampak? Hidung! Kalau kau tak mengenali hidungmu sendiri, kau tak tahu rupamu sendiri. Paham? Soal bagaimana bentuk hidung itu, hanya Kovalev dan isi kepalamu yang tahu. Kalau kau enggak bisa membayangkan itu, berhenti saja baca buku. Enggak ada gunanya baca kalau enggak punya imajinasi.

Baiklah. Hampunten simkuring, Kang. Ngomong-ngomong kok sekarang jarang nulis cerpen lagi? Maksudnya di media massa, di koran atau majalah. Enggak suka ya nulis di sana?

Siapa bilang enggak suka? Cerpen “Hidung” awalnya diterbitin di majalah. Editornya Pushkin. Kenal Pushkin, kan? Eta editor anu keren, lah, ceuk barudak zaman sekarang mah. Editor sekarang enggak ada yang sekeren itu, makanya saya teh jadi males. Geuleuh lah mun ngaku editor tapi teu nyaho mana anu alus mana anu butut. Bisa diajak duel sama Pushkin. Untunglah Pushkin udah mampus, jadi editor-editor butut bisa tetep hirup.

Ternyata Kang Gogol teh galak, nya. Soal “Hidung”, ada satu penulis muda belia yang juga menulis cerpen berjudul “Hidung”. Nama penulis itu Ryūnosuke Akutagawa. Kenal?

Tentu saja kenal. Akutagawa teh salah satu penulis muda yang moncereng. Cerpen “Hidung” miliknya sudah jelas berbeda dengan “Hidung” milik saya, meskipun ada satu hal yang menautkan kami berdua. Dalam kedua cerpen, sudah jelas betapa hidung bisa sangat mengganggu kehidupan seorang manusia. Yang satu bercerita tentang kehilangan dan penemuan hidung, yang lain bercerita tentang hidung yang kelewat panjang sampai menggelambir ke bawah dagu. Saya rasa di masa depan Akutagawa bakal menjadi penulis yang sangat diperhitungkan. Sangat segar.

Itu enggak basa-basi, kan? Biasanya penulis tua sok basa-basi muji-muji penulis muda?

Si borokokok, teh! Nya henteu. Aing mah tara basa-basi. Mun cik aing butut, nya butut. Cik aing hade nya hade. Ulah sok belegug kitu tatanya, teh.

Baiklah, Kang Gogol. Satu lagi nih. Saya baca novel sampean berjudul Tarass Boulba, terbitan Balai Pustaka. Di sampulnya ditulis “Gogol lebih baik dikenal sebagai pengarang jang berbakat humoris daripada sebagai pengarang prosa klasik.” Tanggapan Kang Gogol?

Balai Pustaka aja lo denger. Enggak tahu itu penerbit antek kolonial? Dibikin buat ngeracunin otak inlander? Mikir sia teh!

The Film Club, David Gilmour

Satu siang sepulang dari sekolah, anak perempuan saya bertanya, “Ayah, kalau wajah Kinan ditukar sama wajah Kamia (teman dia), gimana?” Saya segera tahu, pertanyaan itu tak hanya harus dilihat sebagai pertanyaan naif seorang anak lima tahun, tapi sekaligus tantangan berat untuk seorang ayah: apa yang kamu bisa lakukan dengan pancingan pertanyaan semacam itu? Ada satu memoar yang saya sukai karena banyak ngebahas film, tapi juga karena godaan praktisnya: The Film Club karya David Gilmour (saya baca terjemahan Indonesia, “Klub Film”, empat tahun lalu. Yang berminat, tampaknya harus cari di loakan). Bagi penggemar film, buku itu merupakan penjelajahan khasanah film dunia, penuh dengan kritik tersembunyi sekaligus lelucon. Tapi lebih dari itu, saya menyukai gagasan mendasarnya: kamu bisa belajar dari apa pun. Inti ceritanya (spoiler, tapi apa salahnya? Buku yang baik akan kamu baca berulang-ulang meskipun tahu isinya. Buku yang kamu ogah baca karena sudah tahu isinya, mungkin memang tak layak dibaca, bahkan sekali pun): seorang anak putus sekolah dan si ayah pusing bagaimana bisa mendidik anaknya tanpa harus mengirimnya ke sekolah. Ia akhirnya bikin kesepakatan dengan si anak: boleh enggak sekolah, asal nonton tiga film dalam seminggu. Nah, si ayah (yang kritikus film) mulai mengkurasi film apa yang harus ditonton si anak. Setelah menonton mereka ngobrol, diskusi. Dari obrolan itulah si ayah, tak hanya menyisipkan segala hal pengetahuan mengenai film, tapi juga mengajari si anak mengenai matematika, sosiologi, sejarah, geografi, segala hal yang diperlukan anak lima belas tahun. Saya yang pada dasarnya tak suka sekolah, dan punya pengalaman buruk dengan sekolah (ya, ya, dikeluarkan dari sekolah ketika berumur empat belas tahun, persis seusia si anak di buku ini) tentu saja dengan cepat memiliki ikatan dengan buku tersebut. Memang banyak buku tentang anak-anak dan pendidikan, bahkan di Indonesia. Tapi sialnya, sebagian besar buku ditulis untuk orang-orang yang ingin sekolah. Sekadar ingin sekolah, atau ingin sekolah tinggi hingga ke luar negeri. Tak ada yang salah dengan itu. Mungkin memang banyak orang ingin sekolah dan kesulitan memperoleh akses terhadap lembaga tersebut. Keinginan saya justru sebaliknya: enggak pengin sekolah. Seandainya ayah saya membaca buku ini, atau berpikir seperti David Gilmour, mungkin pada akhirnya saya tak perlu kembali ke sekolah. Alangkah senangnya kan, jika bisa di rumah saja, menonton film, mendengar dan main musik, membaca buku, tanpa harus memikirkan pekerjaan rumah, bangun pagi karena jam tujuh harus ada di kelas, harus pakai seragam, harus potong rambut dengan rapi (saya mulai menguap). Buku ini saya rasa sama sekali tak menganjurkan orangtua untuk menarik anaknya dari sekolah, tapi yang terutama bagaimana orangtua terlibat dalam pendidikan anaknya dengan cara menyenangkan. Siapa pun bisa tetap seperti David Gilmour meskipun anaknya (suka) pergi sekolah. Tantangan terberatnya, tentu saja mempersiapkan orangtua untuk menjadi jembatan ke banyak pengetahuan, dan berhenti berpikir bahwa tugas ngajarin anak itu seratus persen kerjaan guru. Kalau gurunya ngajarin yang enggak bener, baru ngomel-ngomel di belakang. Kembali ke pertanyaan awal, sebagaimana juga banyak pertanyaan anak kecil lainnya, bukankan itu tak sekadar pertanyaan naif, tapi juga pertanyaan spekulatif yang bisa membawa ke banyak soal di dunia? Mendengar pertanyaan itu, sambil memikirkan buku The Film Club, saya jongkok (selalu menyenangkan bicara dengan anak kecil, dengan posisi mata sejajar) dan bertanya balik kepadanya (yang saya sendiri harus mikir untuk menjawabnya): “Kalau wajah Kinan dan Kamia ketuker, terus siapa ayah Kinan dan di mana rumah Kinan?” Saya rasa ia tak hanya sedang belajar sosiologi, tapi juga filsafat.

The society tends to simplify it as “magical realism,” just because of how it shows up, both fantastically and realistically. We rarely identify Kafka as a magical realist writer, despite the fact there are many fantastic elements in his works. And why are the comic characters from DC and Marvel not called magical realism, even though they have plenty of fantastic elements? The magic aspects in my novel are influenced by horror and silat (Indonesian martial art) novels of the 1970s. Beauty Is a Wound is quite tricky, as it’s difficult to put it in one genre. Classifying it as “magic realism” would be easier for people to figure it out.

Read my conversation with Electronic Literature.

A round-up of the critical response to Man Tiger, from Verso Books.

“10 Other Magical Books ‘Harry Potter’ Fans Should Read”, according to Huffington Post. One of them is Man Tiger.

Pre-order novel O dibuka kembali, 24-31 Januari 2016. Kali ini tidak pakai bonus t-shirt, tapi diskon 15% (dan bertanda tangan). Sila menghubungi: bukabukularis.com, demabuku.com, Katalis Book Store dan Kedai Boekoe. Novel direncanakan terbit 22 Februari 2016.

CZbOE24XEAEC4oU.png-large

“If Mr Eka feels burdened by other people’s expectations, he does not show it. Small, slight and bespectacled, with a thoughtful elfin manner and a ready grin, he looks perhaps half his age, and chats freely and easily, without any apparent writerly agony.”

LOL. That’s me, a profile by Jon Fasman from The Economist, “Burning Bright”.

« Older posts

© 2016 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑