Man Tiger

“An extraordinarily beautiful, sly, ribald, and compulsively readable novel”

104 days to Go
Pre-order at Amazon.com | Bookdepository.com

Aside

Man Booker International 2015 untuk László Krasznahorkai

Salah satu penulis yang saya baca beberapa tahun terakhir, László Krasznahorkai, memperoleh Man Booker International Prize 2015. Sila baca ulasan ringkas saya untuk novel Satantango, juga satir tentangnya dan beberapa penulis lain. Juga selamat kepada New Directions (ya, mereka juga akan menerbitkan buku saya), yang secara gigih menerbitkan novel-novelnya dalam bahasa Inggris.

The Hour of the Star, Clarice Lispector: Sedih Itu Kemewahan, Sastra Itu Membosankan

“Seluruh dunia dimulai dengan satu ya. Satu molekul mengatakan ya kepada molekul lain dan kehidupan dilahirkan. Tapi sebelum prasejarah ada prasejarah dari prasejarah dan ada sang-tak-pernah dan ada ya. Juga yang pernah terjadi. Aku tak tahu kenapa, tapi aku tahu alam semesta tak pernah berawal.” Maafkan saya jika terjemahannya terkesan seadanya, tapi itulah kira-kira pembukaan novel Clarice Lispector berjudul The Hour of the Star. Saya mencoba menepati janji untuk menulis tentang beberapa perempuan penulis yang saya baca, di jurnal ini, setidaknya untuk sedikit waktu ke depan (kadang-kadang kita harus keluar dari rencana perjalanan, tapi itulah yang membuat kegiatan membaca dan menulis selalu menarik). Saya pernah menulis tentang Lispector dalam konteks el boom kesusastraan Amerika Latin, tapi saat ini, mari kita ngobrol soal novelnya saja. Membaca pembukaan novel ini, apakah Anda mendengar sejenis dentang? Bagi saya, itu seperti alusi kisah biblikal, tentang penciptaan alam semesta. Tentang “Pencipta” dan “Yang Diciptakan”. Ya, pada dasarnya novel ini bercerita tentang “pencerita” dan “yang diceritakannya”, jika di sana-sini muncul kata Tuhan, Hidup, Mati, saya rasa memang novel ini mengacu ke sana, dengan humor yang sangat melimpah. Bagi kamu yang terbiasa membaca novel-novel standar (maafkan saya dengan istilah ini – yang diceritakan dengan gaya “tunjukan saja”, dengan cara yang lurus seperti sapu lidi, yang jika kebanyakan novel ditulis dengan cara seperti itu dan kenyataannya kebanyakan novel ditulis dengan cara seperti itu, seperti saya juga melakukannya, sudah jelas Lispector akan mengumpat betapa membosankannya kesusastraan di dunia ini), kamu mungkin akan mual-mual dan barangkali muntah (“Jangan muntah, apa yang kamu makan sangatlah berharga untuk dimuntahkan,” demikian seperti apa yang dikatakan si tokoh di novel ini), membaca pembukaan, monolog ngalor-ngidul si narator yang hendak menceritakan satu karakter yang bahkan awalnya ia tak tahu siapa namanya. Sebagai pencerita, ia juga tak tahu persis apa yang mau diceritakan, dan malah ngomong tentang dirinya sendiri yang, ya ampun, bahkan ia tak tahu siapa dirinya. Modalnya sebagai pencerita, penulis di sini, hanyalah kata-kata. Kata-kata yang disusun menjadi kalimat, dan dari sana keluar satu makna rahasia. Dan tiba-tiba, si pencerita, menemukan dirinya sedang menjalani sejenis “takdir”. Nasib. “Aku si penulis dan aku sedang menulis.” Bingung? Baca saja, ini novel yang lucu dan sangat menghibur. Jika tidak terhibur, jangan kuatir, kebanyakan novel keren memang tidak ditujukan untuk semua orang. Hanya untuk pembaca yang juga keren. Atau bisa juga dibalik: novel buruk juga hanya untuk pembaca yang buruk. Dan jangan kuatir, meskipun si pencerita sempat kebingungan (atau muak) untuk bercerita, akhirnya ia menemukan satu karakter, yang awalnya hanya disebut seorang gadis yang “sangat bodoh hingga tersenyum ke semua orang di jalan. Tak ada yang membalas senyumnya sebab tak satu pun menoleh ke arahnya.” Ia yang diabaikan dan bahkan ditolak dunia. Tapi gadis itu juga, “tak tahu dirinya adalah dirinya, sebagaimana anjing tak tahu dirinya anjing.” Dalam tingkat tertentu, ia juga mengabaikan apa pun: “Ia berdoa tapi tanpa Tuhan, ia tak tahu siapa Dia, dan karenanya Dia tidak ada.” Bahkan ketika untuk pertama kalinya si gadis (ia masih perawan, ini sangat penting untuk dikatakan) punya pacar, bisa dibilang ia tak tahu apa maknanya. Bahkan ketika si pacar menghinanya sedemikian rupa “kau tak mungkin jadi bintang film, wajah dan tubuhmu tidak mendukung”, ia tak merasa itu sebagai penghinaan. Tentu saja ia berharap suatu hari mereka akan bertunangan, dan menikah, tapi bukan karena alasan cinta atau romantisme, melainkan karena itu hal lumrah yang terjadi ke semua orang. Lalu ketika ia dicampakkan, ia juga tak sedih. “Sebab sedih itu kemewahan,” kali ini si pencerita yang berkomentar. “Kesedihan hanya untuk orang kaya yang mampu memilikinya, yang tak memiliki hal lain yang lebih baik untuk dikerjakan.” Kita sedang bertemu pencerita yang sinis, tapi ia tak hanya sinis kepada dunia, kepada karakternya, tapi juga kepada diri dan tindakannya: “Aku sungguh bosan dengan kesusastraan. Hanya kesenyapan yang membuatku merasa betah. Jika aku tetap menulis, itu karena tak ada hal baik lainnya yang bisa kulakukan, sambil menunggu mati.” Apakah dunia ini juga diciptakan karena Tuhan merasa bosan dan tak ada hal lain yang bisa dilakukannya? Entahlah. Novel ini hanya bercerita tentang seorang pencerita yang bosan dengan karakternya yang dungu, tapi percayalah, bisa membawa pembaca ke mana-mana, sebagaimana sering terjadi pada novel-novel yang bagus. Saya sudah bicara tentang Djuna Barnes (dari Amerika) dan Clarice Lispector (dari Brasil), setelah ini mari kita kunjungi China dan bertemu perempuan penulis dari sana. Tapi sebelum itu, izinkan saya mengurus hal yang sangat penting dulu: pergi ke dokter gigi, untuk memperbaiki pekerjaan buruk dokter gigi lainnya.

Aside

Membaca di Internet

Ada yang berminat membaca cerpen-cerpen Gorky? Saya menemukan ini dengan mudah: “Short Stories by Maxim Gorky” (situs itu juga menyediakan banyak buku dari banyak penulis). Cerpen-cerpen penulis kontemporer dunia juga mudah ditemukan di laman-laman lain. Di internet, banyak yang legal, lebih banyak lagi yang ilegal. Tapi selama ada kesempatan, bacalah! Yang menghalangi seseorang dari membaca banyak buku, terutama di zaman sekarang, biasanya hanya rasa malas mencari dan membaca.

Djuna Barnes dan Bagaimana Bertahan dalam Cinta yang Menderitakan

Di Paris di antara dua perang, di antara para raksasa kesusastraan berkelamin lelaki seperti James Joyce, Ernest Hemingway, F. Scott Fitzgerald, dan Ezra Pound, ada satu perempuan penulis yang para pembaca sastra serius semestinya tak melewatkan: Djuna Barnes. Saya terpikir untuk sedikit menulis tentangnya, setelah dalam satu wawancara, saya diingatkan betapa sedikit saya membaca karya-karya para perempuan. Tentu saja saya sempat mengelak, bahwa kenyataannya kesusastraan dunia memang disesaki para lelaki dan sastra yang maskulin. Meskipun begitu, tak ada salahnya dalam beberapa jurnal ke depan, saya ingin menengok beberapa perempuan penulis yang sempat saya baca, dan barangkali menarik untuk dibagi. Novelnya yang paling terkenal, Nightwood, bukanlah jenis novel yang gampang dibaca. Disebut-sebut sebagai salah satu karya klasik dalam gerakan kesusastraan modernis (sebagaimana Finnegans Wake James Joyce), novel ini juga merupakan salah satu karya klasik dalam kesusastraan lesbian. Seperti judul yang saya pergunakan di jurnal ini, Nightwood bisa disederhanakan sebagai “bagaimana bertahan dalam cinta yang menderitakan”. Oh, tentu saja novel ini tak sesederhana itu, dan sekali lagi, ini bukan jenis bacaan yang gampang. Bercerita tentang perempuan bernama Robin Vote, yang meninggalkan seorang suami (seorang yang mengaku sebagai Baron bernama Felix, kenyataannya seorang Yahudi) setelah memberinya anak (Guido), dengan mengatakan, “Aku tak menginginkan ini.” Ini yang dimaksud adalah, ia tak menginginkan anak, tak menginginkan keluarga, tak menginginkan cinta mereka. Intinya ia tak menginginkan hidup yang dijalaninya dalam keluarga tersebut. Ia keluar rumah dan jatuh ke pelukan seorang perempuan bernama Nora, sebelum “meninggalkannya” dan berhubungan dengan perempuan lain bernama Jenny. Terlihat seperti kisah yang sederhana, dan memang kisahnya sederhana. Yang rumit (dan membuat novel ini menarik, dan saya rasa membuatnya istimewa), adalah bagaimana kisah sederhana tersebut dibawakan dengan cara yang dalam tingkat tertentu menjadi puitis. Tidak, yang saya maksud dengan “puitis” bukan dalam makna Barnes mempergunakan banyak bahasa berbunga-bunga (yang umum bisa ditemukan dalam banyak novel kita), tapi bagaimana ia memeriksa setiap peristiwa, setiap impresi, menjadi semacam epifani. Bagaimana setiap kejadian, setiap ungkapan perasaan, bisa dibawa ke satu analogi yang menurut saya tetap menyegarkan meskipun novel ini terbit pertama kali tahun 1937. Apa yang saya maksud sebagai puitis adalah, bayangkan setiap peristiwa, setiap analogi dan epifani di novel ini, sebagai baris-baris dalam puisi. Seperti yang saya suratkan dalam judul, novel ini terutama dilihat dari sudut pandang penderitaan Felix dan Nora dalam hubungan cintanya dengan Robin. Ada satu sosok yang saya pikir berada di atas mereka semua, menjadi semacam penelaah atau cermin pantul, seorang dokter bernama Matthew. Melalui monolog dan percakapan si dokter inilah, kita kemudian bisa memeriksa bagaimana kedua orang ini bertahan dalam cinta yang menderitakan. Bagaimana Felix dan Nora tetap mencintai Robin, bahkan meskipun Robin selalu meninggalkan mereka (dan sesekali bisa muncul dalam situasi yang tak bisa ditolak). “Baronin,” kata Felix, “Selalu mencari seseorang untuk memberitahu dia bahwa dirinya inosens.” Dengan kata lain, Robin (si Baronin) merupakan orang yang terus berjalan, mencari konfirmasi, dan tak mungkin ditahan di dalam rumah. Bahkan meskipun ia ditahan di rumah, saya bayangkan ia terus bertanya kepada suaminya, “Kau mencintaiku? Aku cantik? Aku baik?” dan sang suami harus bertahan dalam pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Satu analogi yang terus terbayang oleh saya diceritakan oleh Nora. Robin sekali waktu memberinya boneka. “Ketika seorang perempuan memberikan boneka kepada seorang perempuan, itu hidup yang mereka tak bisa miliki, anak mereka, suci dan profan,” kata Nora. Tapi betapa hancurnya Nora, ketika ia tahu Robin juga memberikan boneka yang sama ke perempuan lain (Jenny). Apa boleh buat, cinta dan kebahagiaan pada dasarnya bukan hal yang sama. Saya rasa si dokter menyiratkan hal itu dalam monolognya. Jangan mengharapkan kebahagiaan dalam cinta, itu tidak seperti rasa manis dalam gula. Cinta tak selalu memberi kebahagiaan, sebagaimana seseorang bisa bahagia tanpa cinta. Itu sesederhana sesuatu yang berbeda. Dan orang-orang ini, Felix dan Nora, bisa menjadi contoh bagaimana ada manusia yang terus bertahan dalam cinta yang menderitakan, bahkan berkorban untuk itu. Entahlah, apakah itu sejenis ketololan atau bukan. Selain membaca novel ini, saya pernah membaca potret singkat Barnes yang ditulis Javier Marías di Written Lives, dan saya merasa kehidupan Barnes sendiri kurang-lebih menyerupai kehidupan Robin (meskipun dalam novel ini, kita bisa melihat simpati si penulis justru ke para “korban” Robin). Dalam potret itu Marías menulis bahwa, beberapa orang yang mengunjungi dia dan menghabiskan berjam-jam percakapan, selalu berakhir dengan sakit kepala. Saya rasa, jika Anda sakit kepala membaca novel ini dan memikirkan hubungan tokoh-tokohnya, itu pun bukan hal yang mengejutkan.

Maxim Gorky dan Saran Untuk Kamu yang Mendambakan Cinta Ideal

Beberapa tahun lalu, saat masih mahasiswa, saya iseng menerjemahkan cerpen-cerpen Maxim Gorky dari kumpulan Tales of Italy. Satu hal yang saya ingat (saya tak tahu lagi di mana buku itu, termasuk edisi terjemahannya yang diterbitkan teman saya), cerpen-cerpen itu penuh dengan cinta platonik. Cinta antara lelaki dan perempuan yang diidealisasikan. Tentu saja kebanyakan tokoh-tokohnya merupakan masyakarat kelas bawah, sebagian besar nelayan. Kehidupan mereka biasanya kasar dan keras, tapi menyangkut cinta, mereka menjadi melankoli dan lembut. Beberapa hari ini, karena kesibukan pekerjaan dan perjalanan, sementara saya tetap butuh membaca, saya memutuskan untuk membaca buku-buku tipis yang bisa saya baca di waktu luang yang sangat sedikit. Saya menemukan kumpulan cerpen Gorky lainnya berjudul Chelkash and Other Stories. Isinya cuma tiga cerita pendek, dan lagi-lagi saya menemukan pola tema seperti di cerpen-cerpen yang sebelumnya saya baca. Saya membaca buku itu dari cerpen terakhir, “Twenty Six Men and a Girl”. Itu tentang dua puluh enam bujangan yang bekerja di pabrik roti. Hidup mereka nyaris seperti perbudakan: disekap di satu ruangan, jatah istirahat yang minim, dan jatah makan yang tak mencukupi. Satu-satunya hiburan mereka adalah seorang gadis berumur enam belas tahun yang sekali sehari muncul, bernama Tanya. Mereka semua menyukainya, mencintainya. Mereka mengagungkannya seperti seorang dewi. Tak pernah ada yang berani bicara buruk tentangnya, apalagi mencoba merayunya. Cinta mereka sangat tulus, sehingga mereka tak punya keberanian bahkan untuk berpikir buruk tentangnya. Hingga muncullah karyawan baru, kepala tukang roti yang awalnya seorang prajurit. Si prajurit membanggakan kegantengannya, kemampuannya menaklukkan banyak perempuan. Bahkan membuat perempuan cakar-cakaran memperebutkannya. Kedua puluh enam buruh pabrik roti ini terpesona, dan tiba-tiba mereka ingin menguji “cinta” mereka: satu di antaranya menantang si prajurit, apakah mampu menaklukkan Tanya dalam semalam. Mereka yakin Tanya merupakan dewi mereka, yang polos dan suci, tak mudah jatuh oleh rayuan gombal … di sisi lain, melihat kemampuan si prajurit, keyakinan ini mulai tergerus. Hingga akhirnya mereka harus menelan kenyataan pahit, Tanya jatuh ke pelukan si prajurit. Kedua puluh enam budak pabrik roti ini terbakar oleh amarah cinta mereka sendiri. Cerpen kedua, merupakan bentuk lain cinta platonik yang lucu tapi juga tragis, berjudul “Makar Chudra”. Judul itu sebenarnya aneh, karena Makar Chudra di cerpen itu lebih merujuk ke si narator yang mengisahkan kisah cinta dua gypsi: seorang pemuda bernama Loiko Zobar dan seorang gadis bernama Radda. Intinya, baik Loiko Zobar maupun Radda saling mencintai, tapi mereka lebih mencintai kebebasan, dan tak mau hubungan itu mengkerangkeng mereka. Radda menuntut, jika Loiko mau menjadi suaminya, Loiko harus patuh kepadanya sebagaimana banyak lelaki takluk kepada keinginan isterinya (pendapat ini diutarakan sebagai pembuka oleh si narator, Makar Chudra). Keadaan ini membuat mereka menderita. Mereka tak bisa hidup satu sama lain tanpa merasa terpenjara, tapi juga tak bisa terpisah. Cerpen ini diakhiri dengan tragedi semacam Romeo dan Juliet, di mana si lelaki membunuh si perempuan, dan ayah si perempuan terpaksa membunuh calon menantu yang disayanginya. Baiklah, saya minta maaf karena dengan penuh semangat membocorkan isi cerita masing-masing cerpen. Bahkan meskipun kamu tahu ceritanya (saya sudah pernah membaca cerpen-cerpen ini juga sebelumnya), tetap menarik melihat bagaimana Gorky membangun sebuah konflik, yang pada dasarnya konflik dalaman. Permasalahan ada di dalam pikiran si tokoh, sebelum berakhir dalam sebuah aksi. Jujur saya jadi bertanya-tanya, apakah ini sejenis kritik atas idealisme – melalui cinta platonik? Dengan kata lain, enggak usah mengkhayal tentang cinta yang ideal, hadapi saja kenyataan sesungguhnya. Mungkin saja, toh? Ada satu cerpen lagi, yang menjadi judul buku, “Chelkash”. Tapi saya rasa catatan ini saya akhiri di sini saja, sebelum saya berkhotbah lebih banyak tentang cinta, yang saya jamin, saya tak tahu apa-apa.

Aside

Perempuan Patah Hati …, A Review

Read a review of my new short story collection, Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi by Elysa Faith Ng. The book is in Bahasa Indonesia, but the review is in English. It’s a great pleasure to know a twelve years old girl enjoying my works, as I know some adults even think my works as “vulgar”, “offensive” and “21+ rated”.

Hal-hal yang Sulit Dituliskan

Semalam saya ngobrol dengan seorang sutradara, kebanyakan perkara teknis mengenai produksi film. Obrolan kami sampai kepada tema mengenai adegan-adegan yang menurutnya sulit untuk diambil gambarnya (maksudnya, sulit untuk dibikin menarik, setidaknya sampai ke atas standar dia). Menurut teman saya ini, adegan di meja makan merupakan adegan yang paling sulit, dan ia sering frustasi jika menghadapi adegan tersebut. Bagaimana tidak? Di meja makan, orang cenderung diam, percakapan pun biasanya terbatas, dan peletakan kamera juga tak terlalu menguntungkan. Hal yang sama juga terjadi di meja judi kartu (ia memberi contoh serial James Bond di Casino Royale). Saya yakin setiap seniman pasti memiliki aspek-aspek tertentu dalam bidangnya, yang dia anggap sulit dan memberi tantangan berlebih. Saya jadi ingat kepada pekerjaan menulis saya, dan hal-hal yang menurut saya sulit dilakukan (oleh saya). Dulu saya beranggapan menulis percakapan merupakan hal yang paling sulit. Saya selalu merasa, bahasa Indonesia merupakan bahasa yang tidak diciptakan untuk percakapan. Ini bahasa untuk dituliskan. Novel pertama saya dibangun dengan kesadaran bahwa bagian percakapan sebaiknya tidak terlalu banyak. Struktur utama novel itu (Cantik Itu Luka) dibangun oleh narasi, diselingi adegan dan deskripsi, dan percakapan memperoleh porsi yang lebih kecil. Kebanyakan percakapan merupakan konfirmasi tokoh-tokohnya untuk narasi atau adegan, lain kali lebih banyak befungsi sebagai punch-line (“kalimat tonjokan”?) untuk menciptakan humor, ironi, atau membuat pernyataan. Di novel kedua (Lelaki Harimau), saya mengambil sikap yang lebih ekstrem: saya nyaris menghilangkan percakapan. Tentu saja masih ada percakapan di sana, tapi bisa dibilang sangat sedikit. Novel itu hampir sepenuhnya dibangun oleh narasi, dengan sedikit selingan adegan dan deskripsi. Tentu saja jika ada yang bertanya kenapa di kedua novel itu jarang ada percakapan, tentu saya akan menjawab mereka memang didesain dengan cara seperti itu. Tapi bagi saya ini sangat menggelisahkan. Saya tak bisa membiarkan kesulitan saya menuliskan percakapan membuat saya “terpaksa” menulis novel dengan cara seperti yang telah saya lakukan. Selama bertahun-tahun saya melatih diri untuk bisa menulis cerita, terutama yang bertumpu pada percakapan. Hal pertama yang ingin saya taklukkan adalah: bahasa Indonesia harus terasa enak dalam percakapan. Saya ingin mementahkan asumsi awal di kepala saya. Saya mencoba mendengarkan bagaimana orang bicara, mencoba mencatatnya. Saya menonton film Indonesia (kebanyakan gagal membuat saya senang, jika percakapannya tidak terasa kaku, biasanya kelewat encer). Saya mencoba menulis cerpen dengan percakapan yang padat. Tidak mudah. Selain tak terbiasa, saya juga menuntut bahwa percakapan seharusnya berfungsi ganda (atau lebih): tak hanya sekadar percakapan, ia juga sebaiknya mengantarkan narasi, menyisipkan deskripsi, bahkan jika mungkin mengasumsikan adegan. Saya ingin melawan ketakutan dan ketidakmampuan diri dengan memberi tantangan: novel ketiga sebaiknya dibangun oleh sebagian besar percakapan dan adegan. Itu yang kemudian saya lakukan di Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Jika ada hal yang membuat saya bahagia dengan novel itu, salah satunya tentu karena saya (merasa) berhasil menaklukkan kesulitan saya dengan teknik menulis percakapan, setidaknya saya berhasil menghadapi ketakutan saya. Saya ingat seorang penulis pernah berkata, menulis pada akhirnya perkara keterampilan. Kita menghadapi kesulitan, dan kita mencoba memecahkannya. Kita merasa tak mahir dalam melakukan satu hal, kita melatihnya, berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan bertahun-tahun. Percakapan dengan teman sutradara saya membuat saya memikirkan hal ini, serta kesulitan-kesulitan lain dalam penulisan, dan mau tak mau itu harus dipecahkan. Novel ketiga saya mengingatkan, bahwa setiap tulisan merupakan pelajaran tambahan. Mengenai menulis sebagai perkara keterampilan, sekarang saya ingat, García Márquez yang mengatakannya.