Eka Kurniawan

Journal

makassar

Mari berjumpa di Makassar International Writers Festival. Saya akan ada di sana tanggal 20 dan 21 Mei 2016.

cetakanbaru_mei2016

Baru datang dari Gramedia Pustaka Utama dan Bentang Pustaka. Buku-buku ini sudah tersedia kembali di toko buku: Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi (cet. 3), Corat-coret di Toilet (cet. 2/sampul baru), dan Lelaki Harimau (cet. 5).

Aib dan Martabat, Dag Solstad

Hal paling absurd dalam hidup saya adalah ketika didatangi seorang ibu dan “mengkritik” saya dengan nada pedas dan kata-kata: “Sebagai orang Indonesia, kenapa mas Eka nulis novel dalam bahasa Inggris, enggak dalam bahasa Indonesia saja?” Saya hampir mati berdiri mendengarnya. Dunia memang kejam. Ketidakpedulian itu kunci bertahan hidup, Kawan. Mari membaca penulis Norwegia yang untungnya “menulis” dalam bahasa Indonesia saja, dan semoga dia juga dimaki-maki orang se-Norwegia dengan kata-kata, “Kenapa tidak menulis dalam bahasa ibumu, yang sudah membesarkan orang dari Ibsen hingga Hamsun?” Ya, semoga ada yang memaki Dag Solstad, si penulis Aib dan Martabat seperti itu. Biar saja dia mati berdiri. Dan ketika saya membaca halaman-halaman awal novel itu, tiba-tiba terbersit deretan pertanyaan ini: Apa pentingnya ngajarin sastra untuk anak sekolah kelas terakhir (juga apa pentingnya ngajarin sastra kepada orang tua yang tak peduli)? Mau membuat mereka jadi ahli sastra yang sanggup menganalisis dengan brilian drama Itik Liar? Itu sama saja dengan menghina Henrik Ibsen! Lo pikir sang penulis susah-payah bikin karya besar semacam itu untuk dengan mudah dipahami dan dipecahkan anak SMA? (Sebagian besar pertanyaan itu sebenarnya diajukan si tokoh di novel). Saya senang dengan tokoh di novel ini, seorang guru sastra Norwegia bernama Elias Rukla. Dia hidup dalam paradoksnya sendiri. Di satu sisi, sebagai guru sastra, ia memuja intelektualitasnya. Ia melihat kesusastraan sebagai salah satu bentuk pencapaian peradaban manusia, dan hatinya bergetar hanya karena mendengar seorang guru matematika (Matematika, Sobat!) satu hari berkata, “Aku merasa agak seperti Hans Castorp hari ini.” Bayangkan, seorang guru matematika menyebut nama Hans Castorp, yang bahkan orang-orang yang sok mengaku mencintai sastra atau bahkan mengakui sebagai sastrawan pun belum tentu mengetahui siapa Hans Castrop. Itu hanya memberi satu penjelasan: orang ini pernah membaca The Magic Mountain karya Thomas Mann. Hanya orang yang tabah dan punya banyak waktu bisa melahap novel itu, dan si guru matematika mungkin melakukannya. Tapi di sisi lain, di luar antusiasmenya terhadap keluhuran peradaban yang diciptakan sastra, Elias juga merasakan kesia-siaannya. Lihat anak-anak itu: membaca drama Ibsen berulang-ulang, yang ada hanyalah tatapan penuh kebencian kepada gurunya, rasa bosan yang tak terperi. Dan jika penulis mati? Percayalah tak akan menjadi tajuk utama di halaman depan koran! Sastra itu kesia-siaan, seperti bagaimana ia menyia-nyiakan hidupnya yang puluhan tahun mengajarkan sastra dan sejarahnya kepada anak-anak SMA. Anak-anak itu dengan penuh suka cinta akan berhamburan begitu bel istirahat berbunyi. Benar, bukan? Tidakkah kita gelisah melihat bagaimana hasil budaya dan peradaban umat manusia (termasuk Itik Liar Ibsen atau apa pun) terus dielap-elap sampai mengilap, tapi pada saat yang sama mungkin tak memberi arti penting buat hidup hari ini. Tak usahlah bicara karya sastra semacam itu. Dengan agak mengolok-olok, ditampilkan juga sosok Johan Corneliussen, seorang filsuf dan marxis cemerlang. Tafsirnya atas filsafat Immanuel Kant digadang-gadang bakal menggemparkan Eropa. Tidakkah ini menggelisahkan, bahwa marxisme dari tahun ke tahun, dari dekade ke dekade, terus dielap-elap, dikutip, dibedah, dianalisis, digunting, dibongkar-pasang, padahal seperti kata Marx: yang penting mengubahnya (dunia)! Johan akhirnya takluk oleh mimpi-mimpinya, pergi meninggalkan anak dan istrinya, dan secara sarkasme berkata untuk “perjalanan dinas kapitalisme”. Untuk Elias, kesia-siaan ini menjadi sempurna: ia memiliki seorang istri yang cantik jelita dan sangat dicintai, tapi tak pernah sekalipun berkata cinta kepadanya. Saya rasa tragedi hidupnya merupakan metafora paling jitu untuk segala sampah peradaban ini. Semua karya tersebut barangkali diciptakan karena rasa cinta yang mendalam, entah untuk apa pun, yang sialnya merasa tak perlu membalas. Mungkin untuk hal ini kita juga bisa tak peduli. Kita tetap mengerjakan apa yang kita cintai. Sebab sekali lagi, ketidakpedulian itu kunci untuk bertahan hidup.

NB: Aib dan Martabat diterjemahkan oleh Irwan Syahrir, diterbitkan oleh Marjin Kiri.

Lontar #6, The Journal of Southeast Asian Speculative Fiction, is out now. This edition is including my short story, “Caronang”, translated into English by Tiffany Tsao. The story originally published in Cinta Tak Ada Mati dan Cerita-cerita Lainnya (2005).

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (Love and Vengeance) film rights have been acquired by Jakarta-based company Palari Films. The film will be produced by Muhammad Zaidy and Meiske Taurisia; and Eka Kurniawan has been attached as co-scripwriter together with filmmaker Edwin (director and writer of Indonesian film Postcards from the Zoo, which was in competition at the Berlin International Film Festival 2012). Read more here.

Hidup Lo Drama Banget, Sih?

Raymon Carver mungkin memang sadar bahwa sebagian besar pembaca suka dengan drama. Drama dalam makna seperti kita sering dengar seseorang berkata kepada temannya, “Hidup lo drama banget, sih?” Dan brengseknya, melalui cerpen-cerpennya, dia sok berpura-pura mau memberi drama itu, memberi pembacanya rasa deg-degan yang membubung (persis seperti adegan di “drama adu penalti”), sebelum dengan kejam tidak memberi kita semua itu. Pemberi harapan palsu, kata anak gaul. Enggak ngerti apa yang sedang saya coba sampaikan? Jangan kuatir. Ibu saya yang memelihara saya sejak kecil mungkin juga enggak ngerti, tapi saya akan coba menjelajah ke cerpen-cerpennya di kumpulan yang paling heboh, What We Talk About When We Talk About Love, dan mudah-mudahan bisa mengatakan apa yang ingin saya katakan. Setidaknya, persis seperti semua (ya, semua!) cerpen-cerpen Carver, kalaupun tidak mengatakan apa yang tidak saya katakan, apa yang tidak saya katakan bisa dikatakan tanpa perlu mengatakannya. Menceritakan sesuatu tanpa menceritakannya. Bahkan ia melakukannya dengan sejenis adegan klise penuh ejekan, misalnya dalam cerpen ringkas “Popular Mechanics” (taik, ia bahkan mamakai judul “popular” dan “mechanics”). Di cerpen ini, ia seperti menyalin-rekat dari adegan yang sangat umum bisa kita jumpai di banyak cerita: adegan seorang lelaki yang hendak pergi dan seorang perempuan yang berteriak-teriak, “Pergi saja kamu! Pergi!” (tapi kayaknya dengan nada sedih). Selesai si lelaki mengepak kopernya, mereka kemudian berebut … bayi. “Aku mau bayinya,” kata si lelaki. “Tidak,” kata si perempuan. Yang satu mempertahankan si bayi, yang lain mencoba merebut. Si bayi nangis. Selesai. Kita tak tahu apa-apa sebelum dan sesudah adegan tersebut, tapi kita tahu, ada drama di sana. Kita menginginkan drama itu, dan Carver taik anjing tak memberikannya. Biar rusuh sendiri di kepala kita. Di cerpen pembuka, “Why Don’t You Dance?” kita bertemu seorang lelaki yang mengeluarkan semua benda miliknya ke pekarangan rumah. Sepasang anak muda muncul dan tertarik dengan barang-barang itu. Mereka ngobrol, tawar-menawar, dan sepakat menjual dan membeli beberapa barang. Hingga akhirnya si lelaki memutar piringan hitam dan bertanya ke si gadis, “Kenapa tidak berdansa?” Mereka berdansa, lalu selesai dan berpisah. Jujur saja, saya mengharapkan ada drama di antara si lelaki peruhbaya itu dengan si gadis dan si pemuda. Saya suka drama. Tapi drama tak ada di sana. Dramanya ada di balik semua peritiwa jual-beli dan tawaran dansa tersebut. Jika saya harus membayangkan, membandingkan kisah-kisah ini dengan (katakanlah) memancing, Carver hanya menceritakan senar pancing yang bergoyang-goyang di permukaan air. Ia tak menceritakan siapa yang memancing. Juga tak menceritakan ikan macam apa yang terjebak mata kail. Tapi pemancing dan ikan itu jelas ada. Atau jika membandingkannya dengan percintaan: kita hanya disuguhi lenguh dan barangkali derak tempat tidur. Kita tak tahu siapa yang bergumul di sana. Juga tak tahu barangkali ada yang sesenggukan di luar jendela, menangisi percintaan. Bangsatnya, meskipun drama sesungguhnya tersembunyi di balik peristiwa, yang bajingan dari Carver adalah, di peristiwa yang disampaikannya kita seperti dipancing kepada simulasi drama. Seolah-olah akan ada drama. Jika di cerpen pertama saya gemas dengan “mungkinkah akan ada sesuatu antara si lelaki paruhbaya, si gadis dan si pemuda”, di cerpen-cerpen lain kita akan menghadapi situasi serupa. Di cerpen “I Could See the Smallest Things”, seorang perempuan mendengar bunyi gerbang dibuka di tengah malam. Sementara suaminya tidur ngorok, ia turun ke halaman. Bertemu dengan lelaki, yang tetangganya. Langsung kan, ngayal, ada sesuatu nih antara cewek dan si tetangga. Carver senang menjebak perasaan saya ke arah seperti itu, dan dia selalu berhasil menjebak. Bahkan meskipun saya tahu dia bakal menipu saya, tetap dari cerpen satu ke cerpen lain saya membiarkan perasaan saya ditipu. Barangkali karena saya suka drama. Dan percaya hidup tanpa drama memang garing dan tak layak diceritakan?

kompas20160502

Kompas, 2 Mei 2016. Foto: @sastragpu.

“My books are my love letters”, Q&A with Stevie Emilia from The Jakarta Post, paper edition.

O_bajakan

Ya ampun pembajak, bahkan motong bukunya sembarangan, dan sisa scan masih keliatan. Mbok nunggu sampe terjual sejuta kopi gitu lho, mben penulise ngerasani sugih sek *sambil ngayal beli truk*.

Belilah yang aseli, biar pengarang hepi.

The Missing Year of Juan Salvatierra, Pedro Mairal

“The page is the only place in the universe God left blank for me.” Itu kutipan dari tengah novel The Missing Year of Juan Salvatierra karya Pedro Mairal. Ditulis dengan gaya yang dingin, bahkan di bagian-bagian yang humoris naratornya tetap dingin, novel ini seperti disiratkan dari judulnya, bercerita tentang tahun yang hilang. Lebih jauh lagi, tentang waktu-waktu yang hilang, yang barangkali minta ditemukan atau sebaliknya: dilupakan. Singkatnya: dua anak memperoleh warisan gulungan-gulungan kanvas lukisan ayah mereka yang baru saja meninggal. Tiap hari si ayah melukis, kadang semeter, paling banyak lima meter. Dan lukisan itu sambung-menyambung, tak ada garis pemisah antara satu dan lainnya. Bahkan dari gulungan satu ke gulungan lain, jika dihubungkan, juga tersambung. Membaca lukisan itu seperti membaca catatan harian si pelukis, Juan Salvatierra. Masalahnya, ada satu gulungan yang hilang. Ada tahun yang hilang, dan salah satu anak penasaran. Selanjutnya, seperti kisah detektif, merupakan perburuan atas gulungan yang hilang tersebut. Dibumbui usaha mereka untuk memperoleh dana agar bisa menyelamatkan lukisan-lukisan itu, dari pemerintah maupun museum swasta. Dibumbui juga oleh tekanan pengusaha toko swalayan yang ingin membeli tanah tempat gudang penyimpanan lukisan tersebut. Ada hal-hal yang tiba-tiba terpikirkan oleh saya seusai membaca novel ini (yang sebagian besar saya baca sambil berdiri menunggu antrian masuk gedung konser). Pertama dan terutama, membaca novel ini tiba-tiba pikiran saya melanglang enggak karuan ke kuliah kosmologi mengenai ruang dan waktu. Saya pernah merasakan hal yang sama ketika membaca cerpen-cerpen Jorge Luis Borges, dan tak mengejutkan jika penulis ini juga berasal dari Argentina. Benarkah ada waktu yang benar-benar hilang? Tentu saja tidak. Yang ada hanyalah momen-momen yang dilupakan, sengaja atau tidak. Momen dan waktu tempat momen itu bercokol tetap saja ada di sana. Persis seperti setahun dalam hidup Juan Salvatierra yang hilang dari kanvasnya. Hidupnya tetap ada, hanya kanvasnya yang hilang. Apakah benar waktu mengalir seperti air, sebagaimana digambarkan dalam gulungan-gulungan kanvas berisi “catatan harian” si pelukis? Konon, waktu sebenarnya tidak mengalir. Waktu persis seperti sebuah novel. Cerita di novel itu sudah ditulis lengkap, dari kata pertama hingga kata terakhir. Ada secara bersamaan. Peristiwa satu dan peristiwa lain terhubung oleh sebab-akibat, bukan oleh aliran waktu. Hanya pembaca yang membacanya secara kronologis (berurutan maupun acak-acakan), dan kesadaran akan waktu muncul di sana. Novel ini persis menggambarkan hal ini: hidup sang pelukis, jika disederhanakan dalam gulungan-gulungan kanvas lukisannya, ya seluruh gulungan itu secara keseluruhan. Jika dibakar, semuanya menyatu menjadi abu. Dan ini yang kemudian penting: peristiwa yang menghuni ruang dan waktu, pada akhirnya apa yang kita pikirkan atau ingat tentang peristiwa itu, dan bukan soal peristiwa itu sendiri. Si pelukis menafsir pengalaman hidup sehari-harinya dalam bentuk lukisan, dan itulah yang tertinggal. Yang bertahun-tahun kemudian dilihat anaknya, yang kemudian menafsir ulang mengenai apa-apa yang terjadi di masa-masa yang lewat. Yang diketahuinya hanyalah rekaan atas lukisan itu dan apa-apa yang ia ingat di masa kecil/remajanya. Bukankah sejarah juga seperti itu? Hanya setumpuk tafsir para ahli atas batu-batu bertulis, catatan perjalanan, lukisan, dan mungkin fosil? Kedua, novel ini pada akhirnya menyindir kita semua akan tragedi ruang dan waktu: jika kita berusaha mencari dan menemukan waktu atau peristiwa yang hilang, jangan-jangan kita malah memperoleh sepenggal peristiwa dan waktu itu, tapi pada saat yang sama, kehilangan apa-apa yang sudah dimiliki? Mengingat apa yang dilupakan untuk melupakan apa yang selama ini diingat? Ketiga, seperti banyak hal lainnya, ini novel serius yang sebaiknya dibaca dengan santai dan kalau bisa tidak serius: pada akhirnya pikiran kita mungkin terbakar dan apa yang kita baca hangus menjadi debu.

pedro_marial_gg

« Older posts

© 2016 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑