Knut Hamsun Memimpin Pasukan Gerilya

Jika di zaman ini kita memutuskan untuk berperang melawan pemerintah yang sah, dengan kata lain membentuk pasukan gerilya, saya membayangkan pasukan itu seharusnya dipimpin oleh Knut Hamsun, atau berisi tokoh-tokoh di karyanya. Saya rasa komandan pasukan gerilyawan memerlukan sejenis kesintingan, keberanian, dan sekaligus ketidak-berakaran sejenis penulis ini. Pertama-tama, seorang gerilyawan sejati haruslah seorang pengembara, musafir, dan gelandangan abadi. Itu semua ada dalam diri Hamsun. Kita bisa menyebut hampir seluruh tokoh di karyanya merupakan pengembara, sekaligus musafir dan gelandangan. Bahkan judul-judul novelnya menyuratkan hal itu: The Wanderer, The Wayfareres, The Vagabond. Tanpa semangat mengembara dan menggelandang, pasukan gerilya akan habis dibantai tentara reguler di kesempatan pertama baku-tembak. Kualitas kedua dari pasukan gerilya, saya rasa sangatlah jelas, kita haruslah menjadi kaum pemimpi. Tak mungkin kita memutuskan masuk ke dalam hutan, atau bergerak di bawah tanah, jika kita tak punya impian. Impian yang barangkali sulit diwujudkan dengan cara sederhana dan biasa. Tokoh-tokoh Hamsun dipenuhi orang-orang (kebanyakan pemuda) yang hidup dengan impian-impian mereka. Impian yang bukan dalam arti cita-cita besar, tapi lebih sering mereka memang tenggelam dalam impian itu sendiri, yang entah apa. Yang membuat tokoh-tokoh ini seperti tercerabut dari masyarakat dan lingkungannya. Kita melihat tokoh-tokoh semacam ini di Hunger dan Mysteries. Kualitas lain yang harus dimiliki seorang gerilyawan, saya rasa kemampuannya untuk menjadi penyendiri. Ya, kita tahu, namanya juga pasukan, tentu saja pasukan gerilya harus terdiri dari banyak orang. Tapi berbeda dengan pasukan tentara reguler, seorang gerilyawan semestinya bisa beroperasi sendiri. Pertama, sudah jelas bukan hal yang mudah untuk merekrut anggota pasukan gerilya. Kedua, bahkan jika bisa membangun satu pasukan gerilya, besar kemungkinan tentara reguler berhasil menghabisi mereka hingga yang tersisa hanya komandannya, atau anggota pasukan yang paling beruntung. Kita bisa melihat kualitas-kualitas semacam ini juga ada di tokoh-tokoh Hamsun. Di novelnya yang terkenal, Growth of the Soil, kita bertemu Isak. Ia tak hanya mencerabut diri dari masyarakat, tapi terbukti mampu “beroperasi” sendiri di dalam hutan. Menebang kayu, bertani, berternak. Di novel ini kita seolah-olah melihat satu peradaban kecil, satu kekaisaran yang dibangun hanya oleh sepasang tangan manusia. Di novel lainnya, Pan, kita akan bersua Letnan Thomas Glahn yang juga menyendiri ke dalam hutan, hanya berteman senapan dan anjing peliharaan. Dan jangan lupa, di novel-novel lain yang sudah saya sebut sebelumnya, kita juga akan bertemu para penyendiri ini. Para pengembara penyendiri dan para pemimpi penyendiri. Sendirian mereka mencoba menaklukkan dunia di sekitar mereka. Baiklah, ada satu hal penting terakhir mengapa Knut Hamsun harus memimpin pasukan gerilya, atau kita balik, kenapa para anggota dan komandan pasukan gerilya harus belajar dari Knut Hamsun. Dalam sebagian besar novelnya, dan belajar dari tokoh-tokohnya, kita akan bertemu karater-karakter skeptis. Tentu ini berbeda dengan kebanyakan pasukan gerilya yang pernah ada di dunia, yang umumnya memegang teguh satu keyakinan. Saya katakan, keyakinan yang teguh cepat atau lambat akan menghentikan semua operasi gerilya. Pasukan gerilya akan berhenti oleh keyakinan mereka sendiri, baik melalui kemenangan gemilang maupun melalui kekalahan menyakitkan. Hanya orang-orang skeptis yang meragu-ragukan segala hal (Hamsun bahkan meragu-ragukan keragu-raguan itu sendiri, demikian komentar Isaac Bashevis Singer), yang bisa bergerilya terus-menerus. Melawan tanpa henti. Bergerilya untuk bergerilya.

Man Tiger


Translated by Labodalih Sembiring
Verso Books, Forthcoming
255 days to Go

Corat-coret di Toilet

“One of the finest writers to emerge since Pramoedya Ananta Toer. I read a short story translated informally from Bahasa. Very striking prose.”
– Tariq Ali, Finnegan’s List

Clear

The Time Regulation Institute, Ahmet Hamdi Tanpinar

Nuri Efendi, si tukang memperbaiki jam, sering membeli jam bekas dari pedagang jalanan. Setelah diperbaiki, ia akan memberikannya kepada orang miskin sambil berkata, “Setidaknya kini kau akan menjadi tuan atas waktumu.” Jam, dengan cara yang aneh, telah membagi-bagi waktu, dan dengan cara itulah manusia mencoba menaklukkannya, meskipun yang terjadi akhirnya manusia terperangkap dalam kerangkeng waktu tersebut. Persis seperti yang dikatakan Nuri Efendi yang ironinya, jika ada yang datang kepadanya untuk memperbaiki jam milik mereka, si tukang jam akan mewanti-wanti, “Jangan tanya kapan selesai.” Ia tak mau diburu-buru. Ia tak mau terkungkung waktu. Sudah lama saya curiga waktu bisa dipergunakan untuk mengontrol manusia. Kendalikan waktu, maka kita akan mengendalikan manusia. Sebabnya sederhana, sebagaimana diingatkan Nuri Efendi, bahwa manusia memang terpenjara oleh waktu. Coba bayangkan, bukankah Tuhan pun “mengendalikan” ketaatan manusia salah satunya melalui waktu? Saya tak tahu bagaimana praktek ibadah di agama lain, tapi di Islam, sebagian besar ibadah pokok terikat dengan waktu. Salat lima kali sehari, di waktu yang telah ditentukan. Jumatan seminggu sekali. Berpuasa selama sebulan, setahun sekali. Dunia sekuler pun mengendalikan manusia melalui waktu. Kantor mengendalikan karyawannya melalui jam kerja dan hari kerja. Sekolah mengendalikan murid melalui jam belajar. Bahkan ada adegan di mana seorang karyawan, di jam kerja, harus berperan menjadi diri yang lain dan baru mau bicara sebagai dirinya ketika jam kerja selesai. The Time Regulation Institute, sekilas merupakan novel gagasan tentang waktu, tapi sebenarnya jauh lebih dari itu: ini merupakan novel tentang Turki, sejarahnya, obsesinya untuk menjadi modern sekaligus sekuler, pertentangan Barat dan Timur, bahkan agama, yang dengan cemerlang digambarkan oleh Ahmet Hamdi Tanpinar melalui parabel tentang jam, waktu, tukang reparasi dan sebuah institut yang memastikan masyarakat selalu punya jam yang menunjukkan waktu dengan tepat (jika tidak, mereka akan didenda!). Novel ini bisa dibilang berisi lima hal besar: wacana mengenai waktu, birokrasi, sejarah, psikoanalisis, dan mengikat semuanya adalah kisah hidup (lebih tepat kisah kemalangan) si tokoh utama bernama Hayri Irdal. Kisah dibuka dengan nasib malang keluarga Hayri yang harus mewarisi jam bandul besar, yang sebenarnya direncanakan untuk perangkat di masjid. Tapi karena keluarganya (sejak kakek) tak juga memperoleh kekayaan yang cukup untuk membangun masjid, jam bandul itu terus-menerus diwariskan dengan beban berat berupa wasiat untuk membangun masjid jika ada uang. Nasib sial yang dibawa si jam bandul membawa Hayri dari satu nasib buruk satu ke buruk lain, hingga berakhir dengan kesuksesan mendirikan Institut Regulasi Waktu. Kisah yang pada dasarnya sederhana menjadi tidak sederhana. Melalui waktu, kita bisa melihat watak asli birokrasi (yang digambarkan melalui pendirian institut tersebut), dan melalui jam bandul kita masuk ke diskusi mengenai psikoanalisis yang lucu dan penuh ejekan. Bagian paling lucu, tentu saja bagaimana Hayri, untuk memberi legitimasi terhadap lembaganya, menciptakan tokoh rekaan bernama Ahmet Sang Waktu, sebagai seorang pelopor keahlian menciptakan jam, bahkan menulis biografinya. Jika sebelumnya saya berkenalan dengan Bohumil Hrabal melalui Milan Kundera, maka perkenalan saya dengan Ahmet Hamdi Tanpinar datang melalui penulis Turki yang lain, Orhan Pamuk, yang menyebut Tanpinar sebagai, “Tak meragukan merupakan pengarang paling cemerlang dalam kesusastraan Turki modern.” Kurang lebih sama seperti pujian Kundera untuk Hrabal dalam khasanah kesusastraan Ceko. Sayang sekali baik Hrabal maupun Tanpinar sudah keburu meninggal, jauh sebelum karya-karya mereka bisa memperoleh pembaca di luar bahasa mereka, sebagaimana yang kemudian dinikmati oleh Kundera maupun Pamuk. Tapi satu hal yang saya pelajari dari mereka, membaca karya seorang penulis yang baik selalu membawa saya kepada karya penulis baik yang lain. Itu tak pernah terjadi di karya-karya buruk. Karya-karya buruk selalu tak membawa saya ke mana-mana. Karya buruk tidak membuat saya bergumam, “Sialan, penulisnya membaca buku apa, ya?”

Aside

Beauty is A Wound in 2015 Highlights from Text Staff

Jane Novak, publicity manager of Text Publishing, on upcoming Beauty is A Wound publication: “Both a crazy, dream-like tale of one woman who goes to remarkable lengths in order to survive and the history of one of closest neighbouring nations, this is one of the most astonishing pieces of fiction I’ve read in a long time and I’m incredibly excited about it.” Beauty is A Wound translated by Annie Tucker (original title: Cantik Itu Luka), will be published simultaneously by New Directions (US) and Text Publishing (Australia) in September.

Alf Layla wa Layla dan Charlie Hebdo

“Salah satu peristiwa besar dalam sejarah Barat adalah penemuan Timur,” kata Jorge Luis Borges. Saya merinding membaca kalimat itu. Borges, saya rasa termasuk yang mengekalkan sikap orientalis yang membayangkan Timur “ditemukan”. Apa boleh buat, ia lahir dan dibesarkan dalam tradisi Eropa. Tentu saja kita tahu ia membaca literatur Timur, dari dongeng-dongeng Cina, Jepang, India, Timur Tengah, dan kita juga tahu salah satu buku favoritnya adalah Alf Layla wa Layla (Hikayat Seribu Satu Malam). Tapi bagi dia, seluruh literatur Timur itu barangkali juga “penemuan”, seolah-olah sebelum karya-karya itu dibaca oleh para intelektual Eropa, mereka sesederhana tidak ada. Jangan dilupakan bahwa perjumpaan Borges dengan The Arabian Nights (nama lain dari Hikayat Seribu Satu Malam, yang menurut Borges kurang indah tapi sama misteriusnya) datang melalui terjemahan Richard Burton, yang “mengobrak-abrik” karya tersebut sehingga mendekati bayangan Barat mengenai Timur. Edward Said dalam Orientalism bahkan menuding penerjemahan karya tersebut merupakan agen imperialisme Eropa atas Timur Tengah. Perdebatan soal ini saya kira merupakan isu lama dan panjang, dan saya tak perlu menaburkan garam ke tengah lautan. Saya memikirkan ini sambil membuka-buka halaman The Arabian Nights: An Anthology yang baru saya beli (sekaligus mengikuti berita penembakan di kantor majalah Charlie Hebdo di Prancis yang menewaskan 12 orang, yang diduga dilakukan kaum Islamis). Buku itu merupakan kompilasi cerita-cerita Hikayat Seribu Satu Malam dari berbagai penerjemah ke Bahasa Inggris (beberapa penerjemah bisa disebut: Richard Burton, Edward Lane, John Payne), diedit dan dikompilasi oleh Wen-Chin Quyang. Saya sudah memiliki beberapa versi terjemahan kitab ini, termasuk terjemahan klasik Burton yang lengkap dan terjemahan Husain Haddawy yang lebih modern dan lebih saya sukai, tapi saya selalu tak berdaya untuk memilikinya lagi. Selalu tak berdaya untuk membacanya kembali, meskipun hanya melompat dari satu cerita ke cerita lainnya. Meskipun begitu, barangkali benar “penemuan” The Arabian Nights merupakan salah satu peristiwa besar dalam kesusastraan Eropa, mungkin sama pentingnya dengan momen ketika Eropa “menemukan” terjemahan-terjemahan filsafat Yunani dari tangan para penerjemah Muslim. Meskipun latar-belakang penemuan itu tidak enak (stereotif tentang Timur dan dalam kasus sempit tentang Arab dan Islam), dan efeknya juga tidak enak (kolonialisme, imperialisme), bahkan meskipun istilah penemuan itu problematik, saya masih bisa melihat sisi indahnya: sisi kekanak-kanakan Eropa ketika bertemu dengan sesuatu yang mereka anggap misterius sekaligus seksi. Dunia yang dipenuhi jin, karpet terbang, taman penuh selir, bahkan budak yang lebih pintar daripada para alim ulama. Apa yang dipikirkan Barat tentang dunia Seribu Satu Malam di abad ke-21? Saya tak yakin mereka masih berpikir tentang jin, karpet terbang, taman penuh selir dan sejenisnya. Bayangan itu barangkali telah berganti dengan gambaran tentang bom bunuh diri, orang-orang bodoh, fanatik, pembunuh, bahkan tukang-kawin (dan lain sebagainya). Pada hakekatnya itu masih sama seperti bayangan mereka ketika membaca terjemahan Burton pertama kali: pokoknya sesuatu yang “bukan Barat”. Tentu saja orang-orang Islam (bahkan Timur secara umum) juga memiliki stereotif-stereotif mereka sendiri tentang Barat, yang tak hanya buruk, tapi juga mungkin berbahaya. Tiba-tiba saya terpikirkan kembali berita penembakan di Paris itu. Islam dan Prancis. Barangkali bukan kebetulan, Hikayat Seribu Satu Malam pertama kali diperkenalkan ke Barat melalui terjemahan ke bahasa Prancis oleh Antoine Galland (Le mille et une nuits). Jika benar asumsi para pemikir orientalisme bahwa penerjemahan kitab itu tak semata-mata penerjemahan, tapi gambaran mengenai “penaklukan” yang membawa dunia ke salah satu momen sejarah yang kelam bernama kolonialisme dan imperialisme, peristiwa di kantor Charlie Hebdo juga membuktikan bahwa kekerasan demi kekerasan tidak lahir dari ruang kosong (apa pun alasannya, kita harus mengutuk kekerasan ini), bahwa pikiran kita belum sepenuhnya menerima yang liyan, bahwa dunia kita belum pernah berhasil membereskan masalah laten berabad-abad ini. Problem laten perjumpaan. Dan problem itu ada di dalam kepala kita. Di Barat maupun di Timur.