Eka Kurniawan

Journal

Bagaimana Menghasilkan Uang Melalui Sastra

Saya membuat judul jurnal ini “Bagaimana Menghasilkan Uang Melalui Sastra” biar banyak yang baca, sebab sepengalaman saya bertahun-tahun menulis jurnal di sini, orang cenderung tertarik hal-hal semacam itu. Siapa sih yang enggak doyan duit? Kalau ada artikel tentang menghasilkan uang hanya dengan tidur delapan jam sehari, saya juga tergoda untuk membacanya. Kenyataannya, memang judul itulah yang terpikirkan ketika membaca novel karya Marek Hlasko, berjudul Killing the Second Dog. Apakah ini novel tentang menghasilkan uang dengan cara membunuhi anjing? Tak bisa dibilang begitu juga, meskipun memang ada anjing yang dibunuh. Adegan yang, demi sopan-santun kepada semua anjing, hanya diceritakan sekilas saja. Itu pun hanya pembunuhan kedua. Pembunuhan pertama dan ketiga, atau kesekian lainnya, tak diceritakan, anggap pembaca mengerti saja. Yang lebih tepat, ini novel tentang menghasilkan uang melalui kesusastraan, atau lebih sederhananya lagi, melalui kemampuan berkisah. Sebelum saya membocorkan bagian-bagian mengenai cara menghasilkan uang melalui kesusastraan, karena saya yakin ini bagian paling menarik dari jurnal sok tahu ini, izinkan saya melipir dulu memuja-muji novel ini di bagian-bagian lainnya yang tak bisa saya abaikan. Gaya menulisnya bisa dibilang brutal, tapi penuh adegan dan dialog lucu, terutama jika mengetahui sedikit saja tentang sejarah kesusastraan dunia, sebab sesekali novel ini sedikit mengejek Shakespeare, atau Sartre, atau Chekhov, bahkan seni peran Stanislavsky. Berkisah mengenai dua lelaki, Robert dan Jacob, yang menggelandang di negara gersang dan panas (dan bisa dibilang enggak ramah) bernama Israel di sekitar tahun 1950an. Ya, tak lama setelah Perang Dunia II dan negara itu menjadi tujuan banyak orang, Yahudi maupun bukan. Mereka dua orang cerdas, tapi bisa dibilang pecundang. Kere. Keluar-masuk bui. Tak punya uang. Kelaparan. Dikejar-kejar kreditor, dan dicurigai polisi. Tak hanya itu, nasib apes juga mengekori mereka terus. Hingga mereka menemukan satu cara brilian untuk menghasilkan uang, tak hanya untuk hidup tapi juga untuk sedikit bersenang-senang, melalui kesusastraan. Dunia yang tak asing bagi mereka. Yang satu sarjana sastra Inggris, yang lain sutradara teater. Bagaimana caranya? Tunggu dulu. Saya perkenalkan dulu penulisnya. Marek Hlasko bisa dibilang tipikal penulis pemberontak: muncul nyaris mendadak (entah dari mana), bikin gempar, lalu mati muda. Ketika kesusastraan Polandia tampak lesu selepas perang, ia muncul dengan karya-karyanya yang memperlihatkan arus baru. Di novel ini, misalnya, kita bisa melihat gaya ala-ala novel hardboiled, tapi pada saat yang sama penuh alusi-alusi biblikal layaknya novel-novel klasik Eropa. Telaahnya terhadap jiwa dan psikologi manusia, meskipun dibawakan dengan ringan dan cenderung untuk meledek, bagi saya (yang membacanya bertahun-tahun kemudian setelah terbit), terasa tetap segar. Ada kesan getir generasi pasca perang, tapi dengan humor dan ekspresi-ekspresi yang apa adanya, juga memberi kesan gairah hidup yang menyala-nyala. Setidaknya dengan hidup yang berantakan dan dunia yang suram, melalui kesusastraan (yang meskipun tak mereka yakini, tapi mereka senangi), keduanya bisa memperoleh 700 dolar Amerika. Enggak banyak, tapi untuk ukuran Israel di zaman itu, kau bisa hidup foya-foya. Jadi bagaimana caranya menghasilkan duit dari kesusastraan? Saya memutuskan untuk tak menjawabnya. Mending baca sendiri novelnya dan belajar dari dua sosok gila bernama Robert dan Jacob itu.

*Baru metik dari pohon* WH Smith’s “Fresh Talent: Beauty Is a Wound”.

From the legendary NYC’s Strand Book Store: “Travel the World in 13 Books”.

Kaos Merchandise

lh_sq

Biar kayak anak band (ehm), juga karena saya memang keranjingan kaos oblong, saya bikin toko merchandise untuk jualan kaos bertema buku-buku saya. Ada yang dari sampulnya, ada yang berbetuk kutipan. Untuk sementara ada tiga kaos: “Corat-coret di Toilet”, “Lelaki Harimau” dan “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas”. Kalau tertarik, sila berkunjung ke:

tokopedia.com/ekakurniawan

ccdt_sq

Di sana juga terdapat beberapa buku saya, terutama untuk yang kesulitan memperolehnya di toko-toko buku terdekat atau toko buku daring langganan.

sdrhdt_sq

tokopedia.com/ekakurniawan

The Ballad of the Sad Café, Carson McCullers

Cerpen-cerpen di kumpulan The Ballad of the Sad Café ini kebanyakan bikin sedih (seperti judulnya). Sedih yang bikin gregetan karena keadaan tokoh-tokohnya memang memaksa ceritanya jadi sedih. Jujur saya enggak terlalu kenal Carson McCulers, kecuali novel pertamanya yang sering disebut-sebut orang, The Heart Is a Lonely Hunter. Seorang teman memberi saya kado dan isinya kumpulan cerpen dia, dan itu berarti hal baik: saya mencoba membaca penulis yang belum pernah saya jamah sebelumnya. Apalagi saya sedang ingin mencekoki kepala saya dengan banyak cerpen-cerpen bagus, menyadari asupan soal genre cerpen ini memang sangat kurang sekali. Ada aroma “selatan” dalam cerpen-cerpennya, dengan lanskap yang kering, membosankan, tapi pada saat yang sama, penuh karakter yang riuh dan hidup. Meskipun begitu, alurnya lebih terasa kontemporer, dengan potongan-potongan kisah yang nyaris menyerupai fragmen, dan kita mencoba membaca apa yang ada di sebalik kisah tersebut. Kisah pertama, “The Ballad of the Sad Café” bisa dibilang sebagai sebuah novela, menghabiskan separoh buku sendiri. Inti ceritanya bisa disederhanakan oleh satu kutipan dari tengah-tengah cerpen tersebut: “Once you have lived with another it is a great torture to have to live alone.” Ya, tentang seorang perempuan hebat (kaya, jago bisnis, dan bahkan jago tinju) yang tak berdaya menghadapi rasa ditinggalkan. Ia pernah kawin dengan seorang tukang rusuh tapi ganteng, yang cuma bertahan sepuluh hari. Si tukang rusuh kabur, jadi penjahat dan masuk penjara. Lalu datang sepupunya, orang pincang jelek, tapi si perempuan bahagia ditemaninya. Hingga si tukang rusuh kembali dan si pincang jadi penguntitnya, pengagumnya, dan berdiri di pihak si tukang rusuh itu. Ada satu hal yang tak pernah diceritakan di sini: bagaimana Miss Amelia, si perempuan ini, berpisah dengan si tukang rusuh Marvin Marcy. Tapi kemudian saya ingat, bahwa kadang dalam cerpen yang bagus seperti ini, memang ada hal-hal yang sengaja (atau tak sengaja) tidak diceritakan. Dibiarkan terbuka untuk diisi oleh imajinasi pembaca. Kita tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di malam pertama mereka, dan malam-malam setelahnya sebelum mereka berpisah. Kita hanya tahu, mereka tak baik-baik saja. Cerpen-cerpen lain jauh lebih pendek, hanya delapan hingga dua belas halaman, dan beberapa di antaranya sangat saya sukai. “Madame Zilensky and the King of Finland” merupakan humor lempeng yang, kita tak tega untuk menertawakannya. Tentang guru musik yang karena seriusnya menghadapi musik, seperti tak menganggap hal lain di luar itu sebagai hal penting untuk dianggap serius. Bahkan ketika berbohong, ia tak sadar telah berbohong. “A Domestic Dilemma” juga humor pahit yang membuat kita ingin mem-puk-puk karakternya. Tentang keluarga “selatan” yang harus pindah ke jantung megapolitan bernama Manhattan. Si isteri mulai tak bahagia, dan jadi pemabuk. Dua anaknya jadi sering terbengkalai. Suaminya sering kesal, membencinya, tapi tak berdaya karena juga mencintainya. Sialnya, karena sebelum membaca cerpen-cerpen ini saya iseng membaca biografi McCullers, saya jadi merasa banyak cerpen-cerpen ini dipenuhi oleh pantulan kisah dirinya sendiri. Boleh kan, membanding-bandingkan karya dan penulisnya? Suka-suka saya dong sebagai pembaca. Isteri yang tak bahagia dan suami yang benci-dan-cinta mungkin dirinya (nyatanya ia bercerai dan kawin dengan suaminya beberapa kali). Termasuk banyak pembicaraan tentang musik (ada murid sekolah musik, guru musik, mantan yang memainkan piano), juga tak terlepas dari keinginan awal McCullers untuk menjadi pemusik sebelum memutuskan menjadi penulis. Soal musik ini, ada satu cerpen yang saya rasa dibangun dengan sangat indah (menyayat-nyayat hati, sih), melalui deskripsinya tentang musik dan permainan piano. Judulnya “The Sojourner”, tentang seorang lelaki yang mengunjungi mantan isterinya, dan tercabik-cabik melihat keluarga mantan isterinya hidup bahagia. Ah, kalau soal ini, siapa sih yang tahan melihat mantan bahagia?

The stunning Pushkin Press’ Beauty Is a Wound cover was created by acclaimed designer Nathan Burton. Read the interview about the process of designing here.

Catatan saya mengiringi Euro 2016, “Sepak Bola Sebagai Drama”, Jawa Pos, 10 Juni 2016.

Daripada termakan puja-puji, sebelum membaca buku-buku saya, barangkali ada baiknya membaca catatan ini: “Eka Kurniawan: Seks, Hantu Ndak Jelas dan Membosankan” (terima kasih untuk anonim yang merujuk tautan tersebut)

Menulis (dengan Penuh Gaya) Bersama Raymond Queneau

Buku pertama Raymond Queneau yang saya baca, ironisnya terbit tidak mempergunakan namanya (ia memakai nama Sally Mara), berjudul We Always Treat Women Too Well. Isi ceritanya agak gokil, bergaya novel bubur kertas (boleh enggak sih, pulp fiction diterjemahkan begitu?), yang memperlihatkan kecenderungan Queneau untuk bereksperimen dengan bebas dan ringan, membuatnya menjadi salah satu figur menonjol dalam kesusastraan Prancis (tapi karena gayanya yang nyeleneh seperti itu, mungkin menjadi sulit diterima di belahan dunia lain). Novel ini secara ringkas adalah: “Sebuah kantor pos di tengah kota Dublin diserang sekelompok orang bersenjata, yang menyebut dirinya sebagai pejuang Republik Irlandia. Mereka berhasil membunuh beberapa pegawai pos, dan dengan cepat juga adu tembak dengan tentara Britania yang mengepung mereka. Sialnya, ada seorang gadis pegawai pos yang terjebak di dalam gedung. Mengingat sucinya perjuangan mereka, para pemberontak ini tak mau membunuh seorang gadis. Tapi apa daya, satu orang malah tergoda kebinalan gadis itu dan kehilangan keperjakaan, dan teman lainnya menyusul. Ketika tentara Britania berhasil melumpuhkan mereka, dan dua pemberontak menyerah, mereka berharap si gadis tak mengatakan apa-apa. Itu bisa menyembunyikan aib si gadis, sekaligus menasbihkan mereka sebagai pahlawan suci yang menjaga kehormatan seorang gadis. Sial, si gadis menipu semua pihak dengan mangatakan, para pemberontak mencoba menyibakkan gaunnya.” Bisa membayangkan isi novelnya? Atau cara saya meringkas masih terlalu kering? Baik, mari saya coba lagi: “Aku sembunyi di toilet perempuan, hingga mereka menemukanku. Para pemberontak yang menyedihkan. Mereka mencoba menginterogasiku, tapi sekilas saja aku tahu betapa naif orang-orang ini. Mereka akan berakhir menjadi bangkai, mereka tak akan mungkin mengalahkan pasukan Britania. Tapi masalahnya, mungkin saja aku juga menjadi bangkai, ditembak pemberontak atau tertembak pasukan pemerintah. Aku harus berusaha bertahan hidup. Aku menggoda satu di antara mereka, yang napasnya langsung tersengal begitu menyentuh tubuhku. Lututnya gemetar dan ia meminta tobat berkali-kali, meskipun tanpa daya menghampiriku. Kemaluannya telah mengendalikannya. Dan si bujang ini memasuki kemaluanku, hanya dalam hitungan waktu yang ringkas. Aku bisa menaklukkan mereka. Dan menyadari hal ini, mereka mulai merengek. Memintaku untuk tak mengatakan apa pun yang telah terjadi, jika mereka tertangkap. Menjadi pahlawan yang terhormat jauh lebih penting buat mereka daripada nyawa atau apa pun. Mereka pikir aku tak akan mempermalukan diri sendiri. Tentu saja itu benar. Aku tak akan mempermalukan diriku, tapi aku akan mempermalukan mereka. Dalam hidup dan mati.” Masih terasa enggak asyik? Jangan kuatir, kamu bisa menceritakan kisah tersebut dengan caramu sendiri, dengan berbagai gaya. Saya menyadari hal itu setelah membaca buku Raymond Queneau yang lain (kali ini benar-benar mempergunakan namanya sendiri), berjudul Exercises in Style. Itu benar-benar buku latihan yang penuh gaya, yang saya rasa wajib dibaca semua penulis, dan dianggap sebagai mahakarya Queneau. Buku ini lebih ajaib dari buku pertama yang saya baca, yang sok ingin jadi novel bubur kertas itu, karena hanya menceritakan kisah yang lebih ringkas: tentang seorang lelaki naik bus, kesal dengan penumpang lain, lalu dua jam kemudian ketemu temannya yang memberinya saran untuk menambahi kancing di mantelnya. Cuma itu! Yang menjadikannya unik, adegan yang bisa ditulis dua paragraf tersebut ditulis sebanyak 99 kali dengan gaya yang berbeda. Dari gaya metaforis, mimpi, sampai gaya orang menulis blurb di belakang buku. Juga gaya surat resmi sebuah perusahaan dan teks pidato. Serius tapi konyol minta ampun. Setidaknya, buku ini bisa menjadi bahan ejekan: berapa kali kamu sudah mencoba menuliskan ceritamu dengan cara yang berbeda hingga menghasilkan tulisan paling asyik?

Den Haag, Setelah Sepuluh Tahun

Pertama kali pergi ke luar negeri, saya pergi ke Den Haag tahun 2006 untuk menghadiri festival Winternachten (dan itu pula alasan pertama saya akhirnya punya paspor). Meskipun ada beberapa penulis Indonesia lainnya saat itu (A.S. Laksana dan Dinar Rahayu), kami jalan sendiri-sendiri dengan jadwal penerbangan yang berbeda. Jadi bisa dibayangkan betapa gelisahnya saya selama belasan jam di pesawat. Bagaimana kalau nanti tak ada yang jemput, atau tak bertemu yang jemput di bandara Schiphol? Tidur di mana? Hubungin siapa (zaman itu telepon genggam belum secanggih sekarang, lah)? Bagaimana kalau nyasar? Ya, terdengar norak. Untunglah apa yang saya kuatirkan tak terjadi, meskipun bukan berarti tak ada kekonyolan. Malam pertama saya di kamar hotel merupakan sejenis penderitaan karena saya kedinginan, harus menimbun diri di balik selimut dan penutup kasur, hanya karena saya tak tahu bagaimana menghidupkan penghangat ruangan. Hahaha. Yang membuat saya diundang ke festival itu adalah sebuah cerpen berjudul “Kutukan Dapur”. Saya pikir, mungkin karena cerpen itu sedikit lucu dan ada Belandanya, dan kebetulan ada versi terjemahan Inggrisnya, jadi mereka bisa mengerti. Waktu itu novel Cantik Itu Luka, yang berkisah tentang seorang indo sejak akhir kolonial hingga Indonesia kemarin sore, tentu sudah terbit. Tapi bisa dibilang tak ada yang menyinggung soal novel tersebut. Novel itu hanya tersedia dalam bahasa Indonesia (dan Jepang), jadi bisa dimaklumi jika tak diketahui, kecuali oleh orang-orang yang secara khusus menaruh minat kepada kesusastraan Indonesia (dan kebetulan menemukan novel saya). Tentu saja selama rentang waktu itu sempat ada pembicaraan tentang kemungkinan menerjemahkan novel itu ke bahasa Belanda, sayang sekali tak menemukan penerbit. Padahal dulu saya pikir, jika novel tersebut diterjemahkan ke bahasa asing, ke bahasa Belanda merupakan kemungkinan paling besar dan pertama. Alasannya sederhana. Indonesia dan Belanda memiliki ikatan sejarah, dan mungkin emosional; novel itu juga menyinggung pendudukan Belanda di Indonesia; selain itu faktanya ada beberapa karya sastra Indonesia diterbitkan di Belanda. Ternyata itu tak terjadi, dan saya sadar: saya naif. Hingga akhirnya tahun ini diterbitkan oleh Lebowski dengan judul Schoonheid is een Vloek, diterjemahkan oleh Maya Liem dan Sven Aalten. Yang sedikit menyedihkan (atau tak perlu sedih? Kenaifan saya enggak sembuh-sembuh), editor dari penerbit ini tahu novel tersebut bukan dari edisi Indonesia (tidak pula dari orang Indonesia), tapi dari edisi bahasa Inggris, diperkenalkan oleh editor saya di Amerika (bahkan akhirnya memakai sampul yang sama dengan versi New Directions). Kadang-kadang jalan memang harus memutar. Karena buku itu, akhirnya saya datang kembali, dan ketika tiba di bandara Schiphol, baru saya sadar tentang jeda sepuluh tahun itu. Gara-gara delay lama, sekarang saya malah benar-benar ditinggal penjemput sehingga harus naik taksi sendiri ke hotel, tapi tak apa-apa. Sudah pernah terlunta-lunta di bandara negeri orang, bahkan ditinggal kereta, jadi lebih siap mental. Bahkan pernah masuk detention room berjam-jam (meskipun akhirnya dilepas tanpa interogasi apa pun), di masa ketika pengamanan bandara sedang gila-gilanya. Sepuluh tahun, rasanya lama sekali. Selain akan ngobrol soal novel tersebut, saya ingin menebus apa yang tak saya lakukan sepuluh tahun lalu: pergi ke Amsterdam dan mengunjungi salah satu pelukis kesayangan saya. Vincent van Gogh. Tentu, museumnya. Dan kali ini saya tak perlu pusing mencari di mana tombol penghangat ruangan kamar hotel. Musim panas sudah datang menjelang.

« Older posts

© 2016 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑