
Novel terbaru karya istriku, Ratih Kumala, berjudul Kronik Betawi. Ya, benar, ini tentang masyarakat Betawi di Jakarta. Berbeda dengan kedua novel sebelumnya, gaya bahasanya lebih ringan dan, tentu saja lucu. Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, mulai beredar 4 Juni 2009. Selamat membeli dan membaca.
Buat yang malas atau enggak sempat ke toko-buku, bisa pesan di sini seharga Rp. 40.000 (sama dengan harga di toko). Ongkos kirim gratis untuk wilayah Indonesia. Silakan tinggalkan komentar untuk pemesanan buku. baca selengkapnya »
Share on Facebook
Ketika saya membaca bagian awal novel ini, sekonyong saya merasa suka. Pertama-tama adalah alasan personal. Persis sebagaimana pembukaan novel itu: Sekitar dua tahun lalu, nenek saya meninggal. Kakek saya, yang tinggal sendirian di desa, memutuskan untuk menikah lagi. Calon istri barunya seorang janda yang jauh lebih muda daripada kakek.
Bisa dibayangkan, ibu saya, anaknya yang paling tua, merupakan yang paling sewot. Jika tidak salah, ia masih marah saat Kakek menjelang meniggal. Tentu saja adik-adik ibu saya yang lain juga ngedumel. Hanya ada satu orang paman saya yang tampaknya merestui pernikahan ini, dengan alasan yang mencoba masuk akal: kakek sudah tua, butuh seseorang yang akan mengurus.
baca selengkapnya »

Estetika di mana kotoran (tai) diabaikan dan dianggap tak ada merupakan estetika kitsch, kata Milan Kundera di bagian akhir novel The Unbearable Lightness of Being. Jika saya tak salah ingat, berkali-kali ia membicarakan hal yang sama di novel yang lain. Mungkin di The Joke atau di Life is Elsewhere. Yang jelas, gagasan (atau kemuakan) atas kitsch barangkali merupakan salah satu yang penting dalam novel-novelnya.
Dan tentu saja kitsch yang paling tak disukainya adalah kitsch gaya estetika Komunis Rusia. Sudah menjadi rahasia umum, Kundera membenci hampir segala hal mengenai Rusia. Bahkan tak jarang ia menolak wawancara jika diketahuinya wartawan tertentu berasal dari Rusia. Sebagaimana umum diketahui, ia harus meninggalkan negerinya (Ceko) tak lama setelah negeri itu diinvasi tentara Rusia, dan tinggal di Paris sampai hari ini. Tema mengenai invasi itu, bahkan sudah muncul sejak novel pertamanya, The Joke.
baca selengkapnya »

Desain sampul untuk buku kumpulan cerpen Vivi Diani Savitri, Menanti Sekarini. Sempat terputus karena harddisk jebol, saya mengerjakannya kembali dari awal. Di bawah ini beberapa draft sebelum versi final:
baca selengkapnya »
Salah satu yang menyenangkan dari Facebook adalah, selain bertemu teman-teman lama, juga melihat foto-foto lama yang dikirim teman-teman lama. Ini beberapa di antaranya.
(Baca Komentar: 5)

Pernahkah kamu kedatangan seorang tamu dan tiba-tiba tamu itu membuatmu merasa tidak nyaman di rumahmu sendiri? Tamu itu mulai menguasai rumahmu, dan karena kamu menghormatinya, kamu tak bisa mengingatkannya, apalagi mengusirnya?
Seperti itulah kira-kira ini pertunjukan “Keluarga Tot” yang dipentaskan Teater Gandrik selama empat hari (mulai malam ini, 17 April). Diterjemahkan dan diadaptasi dari naskah karya István Örkény, berjudul asli Totek.
baca selengkapnya »
Awalnya saya malas mengomentari Pemilihan Umum 2009 kali ini, tapi setelah berpikir-pikir, mungkin ada bagusnya saya mencatat kekesalan saya. Paling tidak, untuk mengingatkan saya bahwa hal ini pernah terjadi. Sejak saya memperoleh hak pilih saya, untuk kali pertama, saya tak memperoleh hak itu.
Saya merupakan warga negara yang baik. Saya belum pernah dihukum karena tindakan kriminal. Penghasilan saya dipotong pajak. Umur saya lebih dari cukup. Saya juga memiliki Kartu Tanda Penduduk yang sah. Tapi entah kenapa, negara tiba-tiba menghilangkan nama saya dari Daftar Pemilih Tetap yang berhak memilih wakil rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat.
baca selengkapnya »
Di sini negeri kami
Tempat padi terhampar
Samuderanya kaya raya
Tanah kami subur, Tuhan …
Di negeri permai ini,
Berjuta rakyat bersimbah luka
Anak kurus tak sekolah
Pemuda desa tak kerja
Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami,
Tuk membebaskan rakyat
Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami,
Padamu kami berjanji
Padamu kami berbakti
baca selengkapnya »
Jangankan pendidikan gratis, kursi SD saja belum dibayar ....