Gabriel García Márquez, Obituari

Bangun tidur dan melihat berita ringkas: raksasa kesusastraan abad 20, Gabriel García Márquez wafat pada umur 87 tahun (17 April 2014). Seharusnya itu tak mengejutkan. Ia sudah uzur, dan beberapa hari lalu masuk rumah sakit, dan alam semesta seperti juga manusia menciptakan segala sesuatu tidak untuk terus hidup abadi. Tapi bahkan dengan kesadaran seperti itu, serasa ada lubang menganga dalam peta kesusastraan di benak saya. Bagi saya, ia melebihi apa yang sering disematkan kepadanya: peraih Nobel Kesusastraan, patriarch fenomena el-boom, maskot realisme magis. Bagi saya, ia sesederhana raksasa kesusastraan abad 20 dengan sedikit pesimisme, barangkali kesusastraan dunia tak akan pernah menghasilkan manusia semacam ini lagi. Bagi saya, hanya sedikit raksasa pernah dilahirkan dan dikenal. William Shakespeare dan Miguel de Cervantes merupakan raksasa yang menandai suatu era kesusastraan modern. Setelah itu, saya ingin menyebut Herman Melville, yang terlihat seperti anak kandung dari perkawinan tak sah Shakespeare dan Cervantes. Abad 19 merupakan abad yang barangkali paling gegap-gempita, manusia mulai menengok wilayah yang selama ini seringkali diabaikan: di dalam dirinya. Era ini ditandai dua raksasa dari Rusia: Tolstoy dan Dostoyevsky. Di luar nama-nama itu, ada nama-nama penulis, ratusan atau bahkan ribuan. Mereka penulis-penulis hebat, besar, mengagumkan, tapi saya rasa kesusastraan dunia sebelum abad 20 hanya perlu dipatoki oleh lima nama itu saja. Anda bisa berdebat soal ini, tapi saya yakin kelima nama tersebut tak akan ke mana-mana. Mereka dengan penuh kepongahan telah mengencingi hampir seluruh karya kesusastraan yang diciptakan umat manusia. Abad 20 datang, dengan sisa-sisa kolonialisme yang renta, dua perang dunia, revolusi di mana-mana, negera-negara baru diciptakan, globalisasi merekatkan mereka. Penulis lahir di setiap sudut dunia, mereka hebat dan melahirkan karya-karya besar; tapi seperti sebelumnya, semua itu hanya perlu diberi tanda sederhana: abad ini melahirkan raksasa tunggal. Gabriel García Márquez. Gurunya orang-orang hebat, yang menyiapkan bahu mereka untuk pijakan raksasa ini dengan kerendahan hati: Hemingway, Faulkner, Kawabata, Kafka. Baru beberapa hari lalu saya membicarakannya dengan seorang teman, terutama mengenai esainya, yang saya rasa merupakan esai paling cemerlang tentang teknik menulis berjudul “Gabriel García Márquez Berjumpa dengan Hemingway”. Esai itu pendek saja, bercerita tentang pertemuan Márquez muda di jalanan Paris bersama Hemingway dan isterinya. Sebenarnya bukan pertemuan: si penulis melihat Hemingway di seberang jalan dan berteriak serta melambaikan tangan ke arahnya. Teman saya berkomentar pendek, sesuatu yang saya rasa sangat penting untuk diperhatikan sebab ini merupakan sedikit kunci untuk mengenali cara kerja menulisnya. “Bisa saja pertemuan dengan Hemingway itu bohong, tapi ia menuliskannya seolah-olah itu benar terjadi.” Jujur, komentar teman saya membuat saya sedikit terpaku. Selama bertahun-tahun membaca dan mengagumi esai itu, saya tak pernah terpikir oleh kemungkinan tersebut. Seluruh klaim pertemuan Márquez dengan Hemingway itu hanya datang dari si penulis sendiri, tapi peduli setan, esai itu tak banyak membicarakan pertemuan tersebut. Esai itu kemudian lebih banyak bicara tentang perbedaan cara menulis Hemingway dan Faulkner, yang saya rasa pendapatnya benar. Ia sendiri pernah berkata, satu fakta meyakinkan dari sebuah cerita, akan membuat seluruh cerita tersebut meyakinkan. Di esainya, ia membuktikan hal itu. Kecemerlangan gagasannya mengenai kepenulisan Hemingway dan Faulkner, membuat klaim pertemuan dirinya dengan sang maestro di jalanan Paris membuat itu juga tampak demikian meyakinkan. Kita tak lagi peduli benar atau salah. Seperti kebanyakan fans, saya membaca hampir seluruh karyanya. Juga wawancara dan biografi tentangnya. Juga ulasan orang tentang karya-karyanya. Satu yang saya ingat, Salman Rushdie pernah bicara tentang karya-karyanya, yang saya lupa di esai mana. Tapi saya ingat, Rushdie bicara tentang pola. Márquez selalu memulai cerita dari tengah, kemudian maju, lalu mundur, maju lagi, mundur lagi. Tapi bagi saya, itu tak sesederhana plot yang dibuka di tengah lalu maju lalu mundur. Márquez, ia seorang jurnalis dan belajar banyak dari dunianya, sadar sekali bahwa hakikat dari para pendongeng adalah memuaskan rasa ingin tahu pembaca. Dalam jurnalisme, pembaca ingin tahu terhadap satu peristiwa dan reporter atau penulis berita menyuguhkan apa yang ingin diketahui itu. Dalam penulisan fiksi, sebagaimana dalam dongeng, si penulis menciptakan sendiri rasa ingin tahu tersebut. Di sinilah, menurut saya, Márquez mempergunakan teknik yang akan membuatnya banyak dikenang: foreshadow, peramalan, pembocoran cerita. Jauh sebelum terjadi, ia sudah membocorkan mengenai Kolonel Aureliano Buendia akan berdiri di depan sederet regu tembak, bahkan sejak di kalimat pertama novel One Hundred Years of Solitude. Dan puncak teknik ini, bagi saya terletak di karya pendeknya, Chronicle of a Death Foretold. Peramalan ini tak hanya ia lakukan di pembukaan cerita, tapi terus ia lakukan di sepanjang cerita. Itulah kenapa, seperti Rushdie bilang, ada kesan bahwa alur plotnya maju-mundur. Tidak. Saya merasa ia melakukan cara bercerita yang relatif konvensional dengan alur maju, tapi dengan sisipan foreshadow. Sekali lagi, Anda bisa memperdebatkan ini. Dan saya yakin, perdebatan apa pun hanya akan menegaskan ia sebagai penulis jauh melampaui para penulis dari generasinya. Ia raksasa tak hanya untuk Amerika Latin. Ia telah mengencingi hampir seluruh karya di belahan dunia mana-mana. Saya tak tahu di abad 21, atau setidaknya di masa kita hidup, kita akan menyaksikan kelahiran raksasa lain atau tidak. Dan karya-karyanya, hampir sebagian besar, akan berada di rak dengan label pasti. Klasik. Selamat jalan, Patriarch.

PS: Ini beberapa tulisan saya tentang Gabo di arsip, barangkali tertarik juga membaca:

Dua Corat-coret di Toilet

Dua Corat-coret di Toilet

Seharusnya saya sadar, barangkali banyak orang yang tak tahu tahun 2000 saya menerbitkan kumcer Corat-coret di Toilet, sehingga ketika tahun ini buku tersebut terbit kembali, banyak yang menganggapnya buku baru. Tidak. Itu bukan buku baru. Itu edisi terbit-ulang. Bedanya dengan cetak-ulang: buku tersebut diterbitkan kembali oleh penerbit yang berbeda. Kenapa saya menerbitkan kembali karya lama? Bagi saya itu bukan pertanyaan. Itu hal lumrah. Selalu ada yang belum membaca, bukan? Jika saya memutuskan menambahkan dua cerita pendek di edisi 2014, anggap saja bonus. Di atas tulisan ini, saya sertakan foto kedua versi. Jika kamu memiliki edisi 2000, saya anggap kamu spesial. Versi itu tak lebih dari 2000 kopi, seingat saya. Jika kamu punya edisi 2014, kamu keren. Punya dua-duanya? Kamu spesial dan keren :-)

Kafka, Bernofsky, Keenan

metamorphosis front final 4.indd

Meskipun tahun ini telah memutuskan untuk lebih banyak membaca karya-karya klasik dari abad sembilan belas ke belakang, saya tak menutup kemungkinan membaca karya-karya yang lebih baru, atau bahkan kontemporer, jika memang menarik perhatian saya. Beberapa hari terakhir, saya membaca beberapa buku semacam itu. Salah satunya, The Metamorphosis, karya Franz Kafka. Tentu saja saya pernah membaca novela ini (sekitar 23.000 kata). Bahkan saya pernah menerjemahkannya juga (dari versi Bahasa Inggris yang saya lupa, versi terjemahan siapa, kemungkinan versi Edwin dan Willa Muir). Itu pekerjaan iseng saya bertahun-tahun lalu, ketika saya masih kuliah, dan seorang teman nekat menerbitkannya menjadi buku. Saya membeli dan membaca versi ini, terutama karena penasaran dengan terjemahan baru Susan Bernofsky. Jika Anda mengikuti perkembangan, berita atau sekadar gosip di lingkungan kesusastraan dunia dalam bahasa Inggris (yang artinya: lingkungan para penerjemah dan terjemahan karya sastra ke Bahasa Inggris) yang sebenarnya merupakan dunia kecil, Susan Bernofsky merupakan salah satu bintang cemerlang untuk penerjemahan Jerman-Inggris. Ia salah satunya menerjemahkan ulang karya klasik Herman Hesse, Siddhartha. Alasan kedua, atau bahkan alasan terpenting kenapa saya ingin memiliki buku ini, adalah: sampulnya. Entah yang keberapa kali saya membeli buku karena sampulnya. Jika ada pepatah don’t judge a book by its cover, saya salah satu yang mengabaikan pepatah tersebut. Sebagai perancang grafis amatir, saya penikmat sampul buku, dan sampul buku bisa memengaruhi keputusan saya membeli dan membaca buku. Sampul The Metamorphosis yang ini karya perancang Inggris bernama Keenan, dan saya rasa merupakan salah satu sampul buku terbaik yang pernah saya lihat (lihat foto). Permainan tipografi judul yang membentuk ungeheures Ungeziefer (atau dalam terjemahan Bernofsky: ‘some sort of monstrous insect’), saya rasa berhasil menggambarkan ketidakpastian binatang yang dirujuk karya ini. Keadaan mengambang, tak terdefinisikan dengan pasti, saya rasa merupakan kekuatan utama kisah ini, memberi dampak teror dan horor yang lebih ketimbang seandainya Kafka menyebut binatang tersebut secara jelas spesies apa (karena dalam kadar tertentu, binatang yang dianggap menakutkan dan menjijikkan di satu tempat, mungkin dianggap lucu-imut di tempat lain). Dan sampul karya Keenan, dengan caranya yang unik, berhasil menangkap hal tersebut. Buku ini tak hanya layak untuk dibaca kembali, tapi bahkan disimpan sebagai koleksi. Saya tak akan meminjamkannya kepada siapa pun. Terlalu bagus untuk risiko kehilangan.

Kata-kata yang Dibunuh

Ketika beberapa tahun lalu saya membaca berita mengenai penerbitan novel Huckleberry Finn karya Mark Twain di Amerika yang disensor, dengan cara menghilangkan seluruh ekspresi kata “nigger”, saya bereaksi sangat kesal. Meskipun saya tahu dalam banyak hal Amerika memang terkenal rada-rada munafik, saya tetap kesal. Saya tahu, kata itu sering dipakai untuk menghina ras kulit hitam (meskipun di negara lain mungkin sama sekali tidak), tapi pikirkanlah hal ini: satu kata dilarang, disensor, percayalah manusia bisa menemukan kata lain untuk mengekspresikan penghinaan. Sekarang kata “black” saja sudah rada-rada dianggap menghina, dan mereka merekomendasikan “Afro-Amerika”. Sampai kapan? Suatu ketika mungkin “Afro-Amerika” pun akan dibreidel, dihilangkan secara paksa. Kita bisa menghina orang kulit putih dengan menyebut mereka “redneck” atau “yankee”, atau apa pun (“bule”, misalnya). Kata-kata itu disensor? Saya tidak mendengarnya. Justru menyensor kata “nigger” memperlihatkan bias kebijakan yang sejatinya rasis. Saya bisa bersepakat kita harus mengikis, sampai habis, bibit-bibit kebencian, bibit-bibit permusuhan. Tapi tentu saja bukan dengan menyensor kata-kata, yang saya percaya tak memiliki dosa. Kepada teman Cina saya di sekolah, saya tak segan mengomelinya, “Dasar cokin!” Semua orang tahu, “cokin” merupakan ekspresi ledekan, penghinaan. Tapi sekali lagi, kata-kata itu tak salah. Yang salah saya, jika saya memang bermaksud menghina. Tapi teman saya tahu, saya tak bermaksud menghinanya. Kami bisa tertawa mendengar hal itu. Ya, tentu saja ada orang yang mengatakan kata tersebut memang dengan maksud menghina. Apa bedanya? Kata itu bisa Anda ganti dengan “anjing”, “babi”, atau apa pun yang menghina. Akan menyensor semua kata-kata itu? Belakangan, teman -teman saya yang Cina ini, juga tak segan-segan mengomeli saya, “Dasar tiko, lo!” Beruntunglah kami punya selera humor yang memadai. Kami akan tertawa, dan jika saya berbuat sedikit bodoh, saya tak segan berkata, “Beginilah tiko.” Saya mengingat semua ini di tengah membaca kembali petualangan Huck Finn, serta karena sering mendengar beberapa pembaca saya, merasa risih dengan bahasa saya yang menurut mereka seringkali vulgar. Apa itu vulgar? Mengatakan sesuatu yang orang lain, takut mempergunakannya? Saya selalu berusaha mempergunakan kata “kontol”, “penis”, “kemaluan”, “burung”, secara bergantian, atau tergantung situasi yang menurut saya cocok. Saya tak ingin menganak-emaskan satu kata di atas yang lain. Semua kata-kata itu merujuk ke barang yang sama. Percayalah, bias pengertian kita akan kata-kata akan selalu berubah, mematoknya pada pengertian tertentu dan kemudian takut (atau malu) mempergunakannya, merupakan perkara sia-sia. Tentu saja setiap penulis memiliki hak untuk memilih satu kata di atas kata yang lain. Yang saya maksud: jangan sampai kita membunuh satu kata karena kita tak menyukainya. Zaman dulu, kita diperkenalkan dengan istilah “bersetubuh”, untuk memperhalus kata “sanggama”. Belakangan, bahkan banyak penulis agak segan menggunakan kata “bersetubuh”, dan menggantinya dengan “bercinta”. Oh, Tuhan, suatu ketika kata “bercinta” mungkin akan hilang dan kita memakai kata, misalnya, “bersatu” atau “bersekutu”. Kata-kata yang semestinya dirawat baik-baik, perlahan-lahan, kita bunuh. Kata-kata akan selalu merupakan metafor, ia bukan realitas itu sendiri. Membunuh kata-kata, tak jauh berbeda dengan memukul bayangan sosok buruk di permukaan air. Sosoknya yang asli tak terpukul, dan di waktu yang tak berapa lama, ketika air kembali tenang, bayangan itu akan kembali muncul. Penghalusan kata di negeri ini memang sudah sampai taraf mengerikan dan menyedihkan, dan saya kuatir bahwa kecenderungan ini merupakan gambaran nyata mentalitas kita. Kita lebih mementingkan penampilan (yang tampak sopan), daripada hal yang lebih esensial. Dengan cara itulah, koruptor tanpa segan-segan tiba-tiba memakai jilbab, dan orang bersimpati. Pemerkosa kemudian pakai kupluk dan pergi pengajian. Ketika ada lelaki memerkosa perempuan, kita menyalahkan si perempuan karena berpakaian minim, karena pulang malam. Kenapa kita tidak bisa dengan tegas menyalahkan kontol si lelaki yang ngaceng? Mentalitas ini saya rasa berhubungan. Jika Anda membaca novel dan menemukan kata “memek”, dan Anda merasa risih karena kata “memek” menggambarkan sesuatu yang menurut Anda tak patut, coba periksa kembali pikiran Anda: jangan-jangan Anda yang berpikir tak patut? Jangan-jangan hanya karena membaca kata “memek”, memek Anda benar-benar basah dan Anda merasa berdosa (seolah melakukan zina) lalu menyalahkan penulisnya, menyalahkan kata-katanya. Jika kita ingin memperlakukan sesama manusia dengan cara adil, saya rasa kita bisa memulainya dengan memperlakukan kata-kata dengan cara adil. Sebab sejarah telah mencatat, hari ini Anda membunuh sebuah kata, hari lain sangat mungkin Anda membunuh manusia yang mempergunakannya. Hari ini Anda membunuh sebuah pemikiran, hari lain Anda membunuh orang-orang yang memikirkannya.

NB: Saya membaca ulang tulisan ini dan saya pikir ada bagian yang kurang tepat menyangkut selera humor. Humor, saya rasa selalu bersifat khusus. Apa yang lucu untuk saya, mungkin tidak untuk orang lain. Terutama menyangkut rasialisme, tentu saja tak bisa disamaratakan. Tapi pokok pikiran saya tetap. Rasialisme dan sensor saya rasa memiliki akar yang sama: penolakan terhadap yang lain. Maka melawan rasialisme saya rasa tidak bisa dilakukan dengan sensor (sebagaimana kasus Huckleberry Finn).