Eka Kurniawan

Journal

Mustikowati: Buku pertama yg saya baca adalah Cantik itu Luka. I’m so impressed. Saya lanjutkan dengan Lelaki Harimau, S.D.R.H.D.T, dan O. Satu yg terasa beda adalah penggunaan kata “tidak” pada C.I.L anda ubah menjadi “enggak” pada novel-novel selanjutnya. Mengapa? (because I prever the first one😊). Terima kasih.

Bagi saya sesederhana itu merupakan bagian dari perubahan luas antara era Cantik Itu Luka/Lelaki Harimau (sila perhatikan kembali novel ini) ke era Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas/O yang terentang hingga 10 tahun. Mengapa? Karena itu hanya satu persoalan dari banyak hal yang menarik hati dan pikiran saya, pembicaraannya akan luas sekali. Tapi bisa kita persempit di kata “tidak” dan “enggak” saja, sesuatu yang sebenarnya pernah saya bicarakan di jurnal ini: sementara pada dasarnya saya masih mempergunakan kata “tidak” di sana-sini, pada saat yang sama saya enggak mau membunuh “enggak”. Ini sejenis diplomasi kecil, tentang kata-kata yang seringkali harus dibunuh hanya karena kebakuan, aturan, atau bahkan sopan-santun.

(dari Tanya dan Jawab)

10.000 Jam Latihan (dan Mungkin Ketololan)

Menurut penelitian Malcolm Gladwell (bukunya Outliers), dibutuhkan 10.000 jam latihan yang penuh dedikasi untuk menghasilkan orang sukses. Itu bisa dipelajari dari para pemain biola hebat, pemain skate, juga The Beatles dan Bill Gates. Melebihi bakat dan keberuntungan (ya, mungkin saja ada faktor ini meskipun kecil), latihan penuh dedikasi dan komitmen melakukannya dalam rentang waktu yang lama, memberi hasil yang jauh lebih nyata. Bagaimana dengan penulis? Saya rasa tak jauh berbeda. Dibutuhkan komitmen dan dedikasi untuk berlatih, dengan cara membaca dan menulis, selama itu. Ya, tak ada yang mudah, memang. Jika kita mendedikasikan waktu 3 jam sehari (secara konsisten, setiap hari) untuk membaca dan menulis, kurang-lebih kita membutuhkan waktu 10 tahun untuk “terlatih”. Artinya, jika berharap menjadi terlatih di umur 20 tahun, seorang anak harus terus berlatih, membaca dan menulis, setiap hari sejak umur 10 tahun! Jika komitmen ini baru dimulai umur 18 tahun, keahlian itu mungkin baru didapat umur 28 tahun. Jika hanya memiliki komitmen untuk membaca dan menulis sebanyak satu jam setiap hari (sekali lagi, setiap hari tak terputus), kita membutuhkan 30 tahun. Mulai umur 10 tahun, baru terlatih di umur 40 tahun. Berat. Memang berat. Di dunia ini, dari miliaran manusia, memang hanya sedikit yang muncul ke puncak. Karena memang hanya sedikit yang punya komitmen waktu seperti itu. Hanya sedikit yang memperoleh medali emas Olimpiade. Hanya sedikit yang menjadi juara dunia. Dan di antara jutaan penulis di dunia, tentu hanya segelintir yang karyanya terus dibaca, dari generasi ke generasi. Entah berapa banyak jam dihabiskan Shakespeare untuk menulis, membaca dan berada di gedung teater setiap hari. Jelas lebih banyak daripada kebanyakan kita. Tentu saja untuk mendaki puncak itu, tak melulu mengenai 10.000 jam. Anda bisa mengikuti riset Gladwell mengenai hal ini. Tapi yang paling menohok saya adalah salah satu hal penting ini: “Jangan habiskan waktu untuk hal-hal kecil”, yang tak berguna untuk karirmu, tak berguna banyak untuk bidangmu. Dalam skema 10.000 jam berlatih, waktu memang memegang peranan penting. Waktu sangat terbatas. Menghabiskan 3 jam sehari saja, kita butuh 10 tahun. Saya tak tahu persis apa “hal-hal kecil” dalam karir menjadi seorang penulis, kalaupun kita merumuskannya, barangkali banyak orang tak bersepakat dan berakhir dengan debat tak ada ujung (dan debat ini bisa jadi “hal-hal kecil” yang tak membawa kita menjadi penulis yang lebih terampil). Tapi saya rasa kita bisa mengukurnya sendiri: fokus terhadap tujuan keterampilan yang ingin dicapai, dan lewatkan apa yang tak mendukung itu. Bayangkan jika kita ingin berlatih menulis kalimat dengan baik, kita melakukannya berkali-kali, berjam-jam, dan lupakan urusan lain yang tak ada hubungannya. Setelah mampu melakukannya, kita lakukan kembali latihan menulis dialog, yang katakanlah, kita ingin di satu sisi tertulis dengan baku tapi terdengar alamiah. Banyak hal yang bisa kita latih dalam hal menulis, dan itu membutuhkan waktu yang sengaja disediakan. Dalam hal ini, memiliki tujuan yang jelas tentang apa yang sedang kita latih, menjadi sangat penting. Memikirkan hal ini, satu hal kemudian mengemuka: apa artinya “berhasil”? Dalam bidang penulisan, seperti apa itu penulis yang berhasil? Berpengaruh besar seperti Dostoyevski atau Kafka? Memperoleh hadiah Nobel seperti Hemingway atau Orhan Pamuk? Memperoleh uang banyak seperti J.K. Rowling? Tentu saja tak semua orang terobsesi untuk “berhasil” seperti gambaran Gladwell, dan karenanya tak perlu menyiksa diri berlatih 10.000 jam (dan terus berlatih setelah itu). Ada penulis yang cukup senang melihat karyanya dicetak, sebagai misal. Atau menyisipkan ungkapan cinta tersembunyi di dalam novel, banyak yang seperti ini. Kita punya ukuran masing-masing tentang “berhasil”. Yang ajaib tentu saja kalau orang berharap memperoleh sebutir kelereng, tapi ngamuk-ngamuk karena orang lain memperoleh segenggam berlian. Atau berharap mengarungi lautan luas, tapi usaha yang dilakukannya hanya merendam kaki ke dalam air di ember. Saya? Saya pengin melihat karya saya bersanding di rak buku dengan penulis-penulis kesayangan saya. Cita-cita saya tampak dangkal dan tolol, tapi sulit melakukannya. Setiap kali saya menyandingkan buku saya di samping buku-buku itu, saya merasa buku saya tak pantas berada di sana. Mungkin saya harus mencoba meletakkan buku saya di sisi buku-buku itu, terus-menerus selama 10.000 jam? Mungkin. Mungkin. Sebab saya yakin, 10.000 jam melakukan ketololan juga bisa berhasil membuat saya lebih tolol berkali lipat, dan sejujurnya, saya sering melakukan hal itu.

Dua Novel Sjón

Menurut seorang teman, membaca novel (sebenarnya membaca segala jenis buku) termasuk tindakan “mengintip”. Ya, mengintip dalam arti melihat sesuatu secara diam-diam dan tak diketahui oleh yang dilihat. Membaca novel dalam hal ini mengintip, pada tingkatan tertentu, kehidupan seorang penulis. Mengintip pikirannya, kecemasannya, gagasannya, impiannya, dan seringkali sejarah hidupnya. Mungkin juga dosa-dosa dan ketololannya. Lebih luas lagi, bisa juga sebagai tindakan mengintip satu dunia, satu kebudayaan, satu generasi, dan lain sebagainya. Barangkali dengan cara pikir seperti teman saya itu, saya punya kecnderungan untuk membaca karya seorang penulis lebih dari satu (kalau bisa semuanya yang tersedia), kecuali bukunya benar-benar menjengkelkan dan nama penulisnya di otak saya berarti semacam label “buku ini tak perlu dibaca”. Dengan cara membaca lebih dari satu buku, lubang mengintip kita semakin lebar. Jika kita bisa membaca bukunya berurutan (sesuai waktu buku itu ditulis atau diterbitkan), kita bisa mengikuti “perjalanannya” dari satu tempat singgah (buku) ke tempat singgah (buku) berikutnya. Kadang di satu tempat singgah ia tampak cemerlang (mungkin baru memperoleh pacar baru), di tempat singgah lain ia tampak terpuruk (mungkin ditinggal pasangan atau kalah main judi). Saya sudah pernah membaca satu novel Sjón berjudul The Whispering Muse, dan sebelum membaca buku terbarunya, yang keempat, saya memutuskan untuk membaca dua novelnya yang lain, yang telah tersedia. Yang pertama berjudul The Blue Fox: ini tentang seorang pemburu yang memburu rubah (biru) mistis, tapi kemudian yang dihadapinya, selain si rubah, juga keganasan alam. Musim dingin dan badai salju yang tanpa ampun. Membaca novel ini, saya tak hanya merasa mengintip dunia yang sama sekali berbeda dengan negeri saya (saya harus membayangkan seperti apa badai salju), tapi juga tradisi kesusastraan yang berbeda. Tentu saja bicara tentang binatang mistis bisa kita temukan di mana-mana. Ketika saya dalam satu kesempatan bertemu dan ngobrol dengan Sjón, kami sempat membicarakan hal ini, yang sama muncul di karya kami (harimau mistis di novel saya, dan rubah mistis di karyanya). Tapi tentu saja ada hal-hal yang juga unik menyangkut tradisi kesusastraan tertentu. Seperti kita tahu, Islandia dikenal dengan tradisi kesusastraan tradisional mereka yang disebut sebagai Saga Islandia, yang jelas tampak memengaruhi novel(-novel)nya. Novel satunya lagi berjudul From the Mouth of the Whale. Awalnya saya pikir, seperti di novel dia yang pertama saya baca, akan banyak bicara tentang laut. Ternyata tidak banyak (meskipun ada), meskipun laut (selain salju dan pulau-pulau), tampaknya memberi warna tertentu di karya-karyanya, yang tentu saja berhasil saya intip ini. Novel ini juga memadukan tradisi saga, dengan penuturan yang liris, dengan latar sejarah, magisme, petualangan, dengan alusi-alusi terhadap kisah-kisah biblikal. Ya, tampak campur-aduk, membuatnya harus dibaca perlahan. Berkisah tentang seorang lelaki yang penuh rasa ingin tahu, sejenis proto-intelek yang belajar sendiri tentang sejarah, ilmu pengetahuan, jamu-jamuan, dan di zamannya, ia kemudian malah dituduh sebagai dukun penyihir. Pendosa yang tak hanya ditakuti, tapi juga harus dihukum. Merujuk perkembangan makhluk hidup, spesies yang unggul cenderung merupakan hasil dari perkawinan silang. Saya rasa kesusastraan juga demikian. Ketika kesusastraan terutama novel dewasa ini, di mana-mana, menampilkan kecenderungan yang homogen (dan banyak orang merasa kuatir mengenai “kematian novel”), saya rasa Sjón merupakan salah satu dari (tak banyak) penulis yang terus meramu berbagai unsur, mengawin-silangkannya menjadi spesies novel miliknya sendiri. Novel-novel seperti miliknyalah, yang saya kira, yang akan membuat novel terus bergerak, tumbuh dan sehat.


Skjønnhet er et Sår is Norwegian edition of Cantik Itu Luka. Published by Pax Forlag, translated by Hedda Vormeland.

Buat teman-teman di Padang, akhir pekan ini, 12 dan 13 Agustus 2016, saya akan ada di sana. Ada dua acara: satu seminar di Gedung Perpustakaan Sumatera Barat (cuma-cuma, tapi harus registrasi),

seminar-sastra-padang

dan ngobrol santai di Rimbun Espresso & Brew Bar.

sastra-padang


Yuk ketemu dan ngobrolin 5 buku asyik di Aksara, Kemang. Buku-buku yang menurut saya telah ikut mewarnai lanskap kesusastraan kontemporer. 21 Agustus 2016, 11-13 WIB. Dipandu Zen Hae. 

Beauty Is a Wound serves as a crash course in contemporary Indonesian history since most of us know little about the country beyond Bali. And it is an oral history lesson well told; with all the folk ribaldry and dry humour that one associates with the rootedness of the vernacular. Indonesia offers a number of things familiar to Indians.” A review by Satyabrat Sinha, The Wire.

“Annie Tucker’s skilful translation captures Kurniawan’s matter-of-fact prose and black humour. Elements of the supernatural and oral storytelling combine powerfully to evoke a brutal past and some of the pivotal events that helped shape Indonesia today.” Review of Beauty Is a Wound and Man Tiger by Lucy Popescu, The Financial Times.

budak-setan

Kongkow bersama Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad, selain ngomongin Kumpulan Budak Setan yang akan dirilis kembali oleh Gramedia Pustaka Utama (sampul dengan sedikit perubahan di bawah), juga ngomongin tentang kemungkinan Kumpulan Budak Setan #2. Apa, nomor #2? Ya, kenapa tidak? Gagasannya tetap: tribut untuk para suhu. Kali ini diperluas tak hanya Abdullah Harahap, juga genrenya tak hanya horor, tapi bisa meliputi fantasi, cerita aneh, dan sejenisnya. Penulisnya? Kami bertiga dan kami ingin mengajak lebih banyak penulis, dengan sistem terbuka untuk siapa pun. Gagasannya, kami akan jadi kontributor sekaligus editor. Lebih detailnya menyusul, ya. Yang tertarik, siap-siap saja sambil baca-baca kembali para suhu yang kita punya.

kbs

The Sleepwalkers (1): The Romantic

Membaca bagian pertama (dari trilogi) The Sleepwalkers karya Hermann Broch berjudul “The Romantic”, tampak seperti membaca roman picisan saja. Tentang kisah cinta segitiga, dan kemudian segi empat dengan munculnya satu pengganggu yang kurang ajar dan menyebalkan. Milan Kundera sangat mengagumi novel ini, bahkan memberi satu bagian khusus membicarakan novel ini di buku The Art of the Novel, sementara kesusastraan Jerman menganggapnya sebagai salah satu dari tiga novel besar berbahasa Jerman di paruh pertama abad kedua puluh (dua lainnya: The Magic Mountain dan The Man Without Qualities, nama-nama penulisnya cari sendiri saja, deh. Gampang, kok). Tentu saja kita tak perlu setuju dengan mereka, juga tak perlu ikut-ikutan mengagung-agungkan karya yang enggak ada hubungannya dengan periuk nasi kita, apalagi ranjang kita, tapi penasaran baca boleh, dong. Masa penasaran saja enggak boleh. Kalau rasa penasaran saja dibunuh, apa bedanya dengan hidup di negeri fasis? Terutama kalau merasa diri dongok dan tolol, seperti saya, ya wajib menjaga rasa penasaran dan rasa ingin tahu. Saya sangat haus bacaan, dan kalau ada yang bilang: novel ini bagus, lho, tentu saja langsung napsu pengin baca. Terutama setelah nulis empat novel, dan saya mencoba menengok kembali diri saya ke belakang, dan saya merasa cuma pinter nyampur-nyampur ini-itu doang. Cerita silat dicampur sedikit horor, ditambahi pseudo-sejarah, dan sedikit komentar politik. Lain kali sok-sokan menganalisa psikologi karakter, padahal ya enggak banyak tahu soal psikologi. Nyampur-nyampur drama, kisah cinta, misteri, petualangan. Diperparah dengan bahasa yang segitu doang. Semakin memikirkan itu, semakin saya berpikir untuk jadi petani saja. Tapi karena enggak pengalaman bertani, ujung-ujungnya kembali baca buku. Pengin tahu kenapa orang lain bisa begitu pinter nulis. Kembali menyiksa diri dengan pura-pura belajar. Kembali ke novel ini, lebih tepat bagian pertamanya (habis tebel, saya bacanya nyicil sambil duduk di kakus). Ceritanya bisa diringkas begini: Joachim, seorang prajurit dan anak tuan tanah, jatuh cinta sama gadis penghibur bernama Ruzena. Kepadanya ia merasa nyambung secara rasa maupun seksual. Ngepas, bahasa anak gaulnya. Pada saat yang sama, ia dijodohkan dengan tetangganya, dari kasta yang sederajat, sesama anak tuan tanah: Elisabeth. Pinter, dan tentu secara sosial cocok. Dia bingung. Minta nasehat sama temannya, jebolan tentara juga yang memutuskan jadi pengusaha bernama Bertrand. Sialnya, selain nasehat-nasehatnya rada-rada kasar dan apa adanya, diam-diam dia menggoda kedua cewek itu. Ruzena sih ogah sama dia, tapi Elizabeth terpukau dengan keterus-terangannya. Bener, kan, kayak novel picisan sebenarnya? Saya suka dengan sosok si Bertrand, yang ganggu dan tukang manas-manasin orang dengan pikiran-pikiran bebasnya. Satu hal yang terpikir oleh saya membaca “The Romantic” (julukan ini tampaknya ditujukan kepada Joachim), kita bisa melakukan studi mengenai karakter. Meskipun ditulis dengan gaya realis yang tertib dan dingin, saya tak bisa menahan diri menangkap kesan kocak dan karikatural dari karakter-karakternya. Empat karakter yang berbeda (bisa lebih jika kita menghitung ayah Joachim, dan calon mertuanya), menghadapi berbagai macam isu yang berbeda (persahabatan, cinta, karir, pernikahan). Bahkan di akhir cerita, ketika Joachim dan Elizabeth terdampar di satu kamar hotel dalam perjalanan bulan madu mereka, keduanya tampak sangat komikal. Sangat canggung memandang apa arti perkawinan dan malam pertama mereka. Benar-benar kisah yang lucu. Cuma itu? Sementara cuma segitu yang terpikirkan, sebab cuma memikirkan itu saja kepala saya sudah nyut-nyutan dan rada panas. Tapi saya berjanji akan membaca bagian berikutnya, yang kedua dan ketiga. Tentu saja nanti di kesempatan “pup” berikutnya. Saya pakai kata “pup”, sebab konon itu kata paling sopan untuk tindakan duduk di kakus, juga untuk memperbanyak kosakata saya yang menyedihkan ini. Pup. Pup. Pup.

« Older posts

© 2016 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑