Eka Kurniawan

Journal

Kitchen Curse akan menjadi buku keempat saya dalam terjemahan bahasa Inggris, setelah Beauty Is a Wound (2015), Man Tiger (2015), dan Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash (segera terbit pertengahan 2017). Buku ini akan diterbitkan oleh Verso, berisi sekitar lima belas cerita, yang dipilih dari keempat buku kumpulan cerita pendek saya. Annie Tucker akan menerjemahkan sebagian besar cerita-cerita ini.

I prefer to see myself as an adventurer, with all the literary traditions as my map.

My latest interview with Jaya Bhattacharji Rose for Bookwitty.

Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash (translated by Annie Tucker) is one of Readings“The most anticipated books of 2017”. My third novel will be published this year by New Directions (US), Pushkin Press (UK), Text Publishing (ANZ) and Speaking Tiger (India).

Pemberontak dan Kriminal, The Sleepwalkers (3): The Realist

“Pemberontak tak harus disamakan dengan kriminal, meskipun masyarakat seringkali menganggap pemberontak sebagai kriminal, meskipun kriminal kadang-kadang berlaku sebagai pemberontak untuk membuat tindakan-tindakannya tampak terhormat.” Kutipan ini saya ambil di bagian tengah “The Realist”, bagian pamungkas The Sleepwalkers karya Hermann Broch. Saya harus bilang, novel ini jauh lebih menjelajah (dan barangkali lebih sulit untuk ditaklukkan) daripada dua bagian sebelumnya. Tak hanya meliputi bentuk dan gayanya (yang meramu banyak hal: prosa, puisi, drama, pamflet, esai), tapi terutama penjelajahan gagasan mengenai filsafat dan kadang mengenai agama. Kisah di novel ini terjadi di tahun 1918, di tengah situasi perang, dan dibuka oleh seorang prajurit Jerman bernama Huguenau yang melarikan diri dari pasukannya alias desersir. Apakah ia seorang pembangkang? Atau tak lebih dari seorang kriminal? Novel ini jelas menghamparkan dilema tersebut, tidak dalam pemaparan untuk mencari jawaban atas pertanyaan tersebut, apalagi mencoba memberi penilaian akhir terhadap si tokoh, tapi sebagaimana saya singgung di atas, mempergunakan kisah mengenai si desersir ini sebagai titik pijak untuk diskusi panjang mengenai banyak hal. Dari sejarah pemikiran hingga runtuhnya nilai-nilai. Huguenau sendiri sosok yang menarik. Kisah pelariannya dari pasukan membersitkan pertanyaan yang bergema panjang, Untuk apa semua perang ini? Ia digambarkan sebagai sosok yang berpikir bebas, tak terikat norma-norma, cenderung sinis pada nilai-nilai lama. Ia juga bisa dibilang, egois dalam arti memikirkan dirinya bahkan sampai pada tahap licik. Dalam situasi perang yang tak menentu, meskipun akhirnya ia bisa menetap di satu kota yang relatif tenang, dengan bakat yang luar biasa dalam pergaulan dan bisnis, tanpa modal sama sekali, ia bisa mengambil alih satu perusahaan surat kabar, dengan berbual bersama walikota dan orang-orang kaya kota itu. Bahkan ketika akhirnya ia ketahuan sebagai seorang pelarian (dan tentu saja buronan!), ia bisa melepaskan diri dari jebakan nasib buruk. Sebagian karena keculasannya, sebagian tentu karena keberuntungan. Di dunia ini, tentu manusia akan selalu mengalami masa-masa sulit. Kekacauan karena perang, musibah, runtuhnya nilai-nilai, atau apa pun, bisa menciptakan kesulitan. Dalam situasi seperti itu, tentu akan timbul: bermoralkah seseorang mementingkan nasib dirinya sendiri, lebih dari nasib orang lain? Itu pertanyaan moral, tentu, juga filosofis. Dari sudut pandang Huguenau, tentu ia memikirkan dirinya sendiri (bahkan meskipun mulut manisnya akan bicara tentang nasib orang-orang yang diwakilinya dalam bisnis). Tapi peduli apa tentang moral untuk manusia macam dia? Dalam situasi kacau karena perang, misalnya, siapa yang bisa menghalangi elan untuk bertahan hidup. Ia pembangkang, di tengah suara-suara yang bergelora tentang patriotisme, tentang kebersamaan, tentang “kita” melawan “mereka”. Tapi ketika ia akhirnya menodongkan pistol dan membunuh rekan kerjanya, untuk melindungi kepentingan-kepentingannya, untuk menyelamatkan dirinya, masihkah ia sesederhana pembangkang? Pemberontak? Atau ia sudah menjadi seorang kriminal. Masyarakat seringkali tak bisa membedakan keduanya, atau mungkin memang tak perlu dibedakan? Seperti Hugeunau, menjadi pembangkang barangkali hanya untuk menutupi egoisme dirinya, elan bertahan hidupnya, atau lebih jauh, membuat tindakan-tindakan kriminalnya sebagai sesuatu yang terhormat. Yang jelas, kata Hermann Broch, “Sang pemberontak berdiri sendiri.” Sendirian saja, Sobat. Tidak rame-rame.

Ljepota je njezina rana is Croatian edition of Cantik Itu Luka/Beauty Is a Wound. Just released recently by Znanje.

God and ghost? In many ways, they are similar, right? Except that people tend to believe that God created the world, including ghosts. We have funny words in Indonesia: ‘Tuhan’ for God and ‘Hantu’ for ghost. If you recite ‘Tuhan’ continuously, in the end, you can hear ‘Hantu’.

“Reading Suharto, Quran, Mahabharata and Ramayana”, The Indian Express

Without the storytelling traditions of his native Indonesia, writer Eka Kurniawan says he’d “just be a boring writer who literally followed what was being said by language teachers at school. – “Jaipur blows out candles on decade of promoting Asian writing”

Just received cover image of Kauneus On Kirous. This is Finnish edition of Cantik Itu Luka/Beauty Is a Wound, expected publication in August 2017 by Gummerus.

A School for Fools, Sasha Sokolov

Bagaimana jika seorang tolol mengisahkan sebuah cerita? Hasilnya kurang-lebih tentu saja A School for Fools. Si tukang cerita bahkan tak sanggup melihat dirinya siapa, kadang ragu apakah dirinya seorang narator atau seseorang yang sedang diceritakan, atau bahkan seorang pembaca. Ia juga tak bisa membedakan waktu, bingung apa bedanya hari ini, kemarin dan besok. Juga tak mengerti perbedaan beberapa hari dan beberapa tahun. Dengan semua kekacauan-berpikir seperti itu, bagaimana dia bisa diandalkan sebagai seorang pencerita? Buat Anda pembaca yang waras dan cerdas, mungkin akan frustasi mengikuti novel Sasha Sokolov ini. Persis seperti profesor fisika atau astronomi yang harus menghadapi manusia-manusia yang percaya bumi itu datar dan langit itu sejenis kubah. Frustasi, Kawan. Tapi kalau kita mau menghadapinya dengan ringan, kita bisa menertawakan mereka. Menertawakan kebodohan-kebodohan ini. Maka hasilnya kita berhadapan dengan novel penuh humor, komedi tolol yang tak hanya menertawakan kebodohan penceritanya, tapi juga mungkin menertawakan (sok) kecerdasan pembacanya. Oh, kadang-kadang ia waras, mengisahkan cerita cerdas sebagaimana barangkali yang sebagian kita harapkan. Ini muncul, misalnya, saat ia menceritakan seorang tukang kayu di tengah padang pasir. Sebuah parabel yang mengharukan, tentang betapa tak bergunanya seorang tukang kayu, tanpa paku dan kayu untuk diolah. Hingga ia akhirnya sekelompok orang datang memberinya dua palang kayu dan paku, serta seorang lelaki untuk disalibkan di sana. Ia melakukannya demi memperoleh beberapa bilah kayu dan apa pun untuk membuat keahliannya sebagai tukang kayu di tengah gurun pasir berguna. Jadi, sebenarnya ia tidak bodoh? Entahlah, yang jelas ia dimasukkan ke sekolah khusus, sekolah untuk orang-orang bodoh. Jadi jelas, ia setidaknya dianggap bodoh. Ngomong-ngomong tentang sekolah, bukankah sekolah dibuat untuk menghapus kebodohan? Untuk menjadikan si bodoh sebagai si pintar? Tapi tengok sekolah-sekolah di negeri ini, bahkan mungkin di semua tempat di dunia. Untuk masuk ke sekolah, Anda harus menghadapi test. Anak-anak yang memperoleh nilai terbaik, memperoleh kursi untuk belajar di sekolah. Artinya? Sekolah tidak mencari orang bodoh untuk dibikin pintar. Hampir semua sekolah mencari anak pintar, untuk dijejali pengetahuan. Sebagian menjadi lebih pintar, sebagian malah menjadi bodoh. Untuk orang yang bodoh sejak awal, inilah dia: sekolah khusus untuk orang bodoh. Satu di antaranya, mencoba menceritakan pengalaman hidupnya, melalui novel ini. Dengan cara bercerita yang amburadul dan berantakan. Tapi tunggu, apa itu amburadul dan berantakan? Jangan-jangan, itu cuma prasangka kita saja, yang terbiasa membaca novel atau cara bercerita yang lain daripada yang kita hadapi di novel ini? Jangan-jangan, menurut si narator ini, caranya bercerita tak kurang tertib dan adikuat dibandingkan yang seharusnya, dan jangan-jangan cara orang lain menulis, justru menurutnya amburadul dan berantakan? Siapa berhak menentukan mana yang tertib dan mana yang berantakan? Kita telah lama, dan mungkin akan terus begitu, hidup di tengah prasangka bahwa manusia lain tolol dan bodoh, atau lebih tolol dan bodoh dari kita. Jika mereka bercerita atau menulis, berbeda dari cara kita biasanya bercerita atau memperoleh cerita, kita menganggapnya sebagai narator tolol yang tak meyakinkan. Novel ini, jelas secara langsung mempertanyakan itu semua. Mempertanyakan siapa sebenarnya lebih bodoh dari siapa, dan adakah satu sistem naratif yang bisa dianggap lebih cerdas daripada yang lainnya?

Giovanni aka Ipang: Mas Eka, saya ingin membuat photo essay tentang Mas Eka, tentang kehidupan sehari-hari Mas Eka. Saya bukanlah seorang fotografer profesional, cuma seorang yang punya passion di fotografi.

Dengan sangat menyesal, saya tak bisa memenuhinya. Sebagai penulis, jika berkenan sila membaca tulisan saya yang sudah terbit. Kehidupan pribadi saya, kehidupan sehari-hari saya, sangatlah tidak penting untuk kebanyakan orang. Biarlah itu menjadi milik saya sendiri, yang saya bagi cuma dengan sedikit orang.

(dari Tanya dan Jawab)

« Older posts

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑