Eka Kurniawan

Journal

O_bajakan

Ya ampun pembajak, bahkan motong bukunya sembarangan, dan sisa scan masih keliatan. Mbok nunggu sampe terjual sejuta kopi gitu lho, mben penulise ngerasani sugih sek *sambil ngayal beli truk*.

Belilah yang aseli, biar pengarang hepi.

The Missing Year of Juan Salvatierra, Pedro Mairal

“The page is the only place in the universe God left blank for me.” Itu kutipan dari tengah novel The Missing Year of Juan Salvatierra karya Pedro Mairal. Ditulis dengan gaya yang dingin, bahkan di bagian-bagian yang humoris naratornya tetap dingin, novel ini seperti disiratkan dari judulnya, bercerita tentang tahun yang hilang. Lebih jauh lagi, tentang waktu-waktu yang hilang, yang barangkali minta ditemukan atau sebaliknya: dilupakan. Singkatnya: dua anak memperoleh warisan gulungan-gulungan kanvas lukisan ayah mereka yang baru saja meninggal. Tiap hari si ayah melukis, kadang semeter, paling banyak lima meter. Dan lukisan itu sambung-menyambung, tak ada garis pemisah antara satu dan lainnya. Bahkan dari gulungan satu ke gulungan lain, jika dihubungkan, juga tersambung. Membaca lukisan itu seperti membaca catatan harian si pelukis, Juan Salvatierra. Masalahnya, ada satu gulungan yang hilang. Ada tahun yang hilang, dan salah satu anak penasaran. Selanjutnya, seperti kisah detektif, merupakan perburuan atas gulungan yang hilang tersebut. Dibumbui usaha mereka untuk memperoleh dana agar bisa menyelamatkan lukisan-lukisan itu, dari pemerintah maupun museum swasta. Dibumbui juga oleh tekanan pengusaha toko swalayan yang ingin membeli tanah tempat gudang penyimpanan lukisan tersebut. Ada hal-hal yang tiba-tiba terpikirkan oleh saya seusai membaca novel ini (yang sebagian besar saya baca sambil berdiri menunggu antrian masuk gedung konser). Pertama dan terutama, membaca novel ini tiba-tiba pikiran saya melanglang enggak karuan ke kuliah kosmologi mengenai ruang dan waktu. Saya pernah merasakan hal yang sama ketika membaca cerpen-cerpen Jorge Luis Borges, dan tak mengejutkan jika penulis ini juga berasal dari Argentina. Benarkah ada waktu yang benar-benar hilang? Tentu saja tidak. Yang ada hanyalah momen-momen yang dilupakan, sengaja atau tidak. Momen dan waktu tempat momen itu bercokol tetap saja ada di sana. Persis seperti setahun dalam hidup Juan Salvatierra yang hilang dari kanvasnya. Hidupnya tetap ada, hanya kanvasnya yang hilang. Apakah benar waktu mengalir seperti air, sebagaimana digambarkan dalam gulungan-gulungan kanvas berisi “catatan harian” si pelukis? Konon, waktu sebenarnya tidak mengalir. Waktu persis seperti sebuah novel. Cerita di novel itu sudah ditulis lengkap, dari kata pertama hingga kata terakhir. Ada secara bersamaan. Peristiwa satu dan peristiwa lain terhubung oleh sebab-akibat, bukan oleh aliran waktu. Hanya pembaca yang membacanya secara kronologis (berurutan maupun acak-acakan), dan kesadaran akan waktu muncul di sana. Novel ini persis menggambarkan hal ini: hidup sang pelukis, jika disederhanakan dalam gulungan-gulungan kanvas lukisannya, ya seluruh gulungan itu secara keseluruhan. Jika dibakar, semuanya menyatu menjadi abu. Dan ini yang kemudian penting: peristiwa yang menghuni ruang dan waktu, pada akhirnya apa yang kita pikirkan atau ingat tentang peristiwa itu, dan bukan soal peristiwa itu sendiri. Si pelukis menafsir pengalaman hidup sehari-harinya dalam bentuk lukisan, dan itulah yang tertinggal. Yang bertahun-tahun kemudian dilihat anaknya, yang kemudian menafsir ulang mengenai apa-apa yang terjadi di masa-masa yang lewat. Yang diketahuinya hanyalah rekaan atas lukisan itu dan apa-apa yang ia ingat di masa kecil/remajanya. Bukankah sejarah juga seperti itu? Hanya setumpuk tafsir para ahli atas batu-batu bertulis, catatan perjalanan, lukisan, dan mungkin fosil? Kedua, novel ini pada akhirnya menyindir kita semua akan tragedi ruang dan waktu: jika kita berusaha mencari dan menemukan waktu atau peristiwa yang hilang, jangan-jangan kita malah memperoleh sepenggal peristiwa dan waktu itu, tapi pada saat yang sama, kehilangan apa-apa yang sudah dimiliki? Mengingat apa yang dilupakan untuk melupakan apa yang selama ini diingat? Ketiga, seperti banyak hal lainnya, ini novel serius yang sebaiknya dibaca dengan santai dan kalau bisa tidak serius: pada akhirnya pikiran kita mungkin terbakar dan apa yang kita baca hangus menjadi debu.

pedro_marial_gg

eflyer_Yogya

jawa-pos

Surabaya: Graha Pena (Jawa Pos), 20 April 2016, 13.00 WIB.
Malang: Universitas Negeri Malang, 21 April 2016 (Kuliah, Terbatas).
Yogyakarta: Radio Buku, 27 April 2016, 16.00 WIB.
Yogyakarta: Toko Buku Gramedia (Sudirman), 28 April 2016, 16.00 WIB.

Labodalih Sembiring and I responded to some questions about Man Tiger, English translation of Lelaki Harimau, here.

Menebus Dosa, Aman Datuk Madjoindo

Novel ini karya Aman Datuk Madjoindo berjudul Menebus Dosa (jika tak salah, terbit pertama kali 1932). Madjoindo terutama dikenal melalui novel Si Doel Anak Betawi (dalam versi cetak ulang belakangan, kata Betawi berganti menjadi Jakarta). Pembukaannya rada aneh: dibuka dengan ceramah mengenai pentingnya pakansi, terutama untuk warga kota besar di Betawi (sebesar apa sih, waktu itu?) setidaknya sebulan dalam setahun. Nah, novel diawali dengan perjalanan si narator untuk liburan ke sebuah desa di lereng Pangrango, untuk menemui seorang teman. Tapi di desa itu, ia malah bertemu dengan seorang bocah yang tinggal dengan neneknya yang menarik perhatian dia. Berikutnya, sampai akhir, merupakan kisah mengenai sejarah si nenek dan bocah itu. Bagi pembaca modern macam saya, tentu gemas dengan bab pertama yang menceritakan perjalanan narator tersebut, yang bisa dibuang dan cerita langsung diawali di bab kedua. Percayalah, kisah perjalanan narator itu tak lagi disinggung kok sampai akhir novel (jika disinggung kembali, barangkali novel ini akan menjadi karya pascamodern). Meskipun begitu, saya akhirnya bisa memaklumi mengingat latar belakang kapan novel tersebut ditulis dan terbit, terutama karena saya terhibur dengan kisah si nenek dan cucunya setelah itu. Kita bisa saja menganggap pembukaan semacam itu sebagai wujud belum canggihnya teknik menulis di masa-masa awal kesusastraan modern kita (jangan berkecil hati: kita bisa gemas ingin memangkas atau mengedit novel Dostoyevsky atau Tolstoy sekalipun, kok). Tapi saya ingin melihatnya dengan sikap positif: pembukaan itu diperlukan untuk membuat yakin pembaca bahwa kisah di novel ini “benar”. Si narator (yang dipersonifikasikan sebagai si “aku” penulis) sedang berkunjung, dan ia mendengar cerita tentang nenek dan cucunya, yang kemudian dilaporkan kembali ke pembaca. Semacam cara untuk berkata, “Saya enggak ngarang lho ya, ini cerita yang betul kejadian, saya cuma melaporkan.” Seperti kita tahu, kita menulis dan berusaha meyakinkan pembaca bahwa kisah itu benar. Bahkan dalam kisah paling fantastis dan absurd sekalipun, penting untuk meyakinkan pembaca bahwa itu benar terjadi, setidaknya secara fiktif. Pembukaan novel ini bisa dilihat sebagai upaya sederhana melakukan itu, meskipun dengan berkembangnya kesusastraan, teknik “meyakinkan pembaca” tentu telah berkembang sedemikian rupa sehingga sekarang sangat jarang (meskipun ada) penulis membocorkan narator di dalam badan novel. Kembali ke novelnya, seperti saya bilang di muka, saya menikmatinya. Kisah sederhana yang tak perlu saya bocorkan di sini, tapi jika menemukan bukunya di perpustakaan atau toko buku loak, bacalah. Selalu menyenangkan membaca karya-karya lama, dalam arti yang sebenarnya, melemparkan kita ke waktu yang berbeda. Tak hanya melalui dunia rekaannya, tapi juga melalui ejaan (yang masih lama), kertas kusamnya (hati-hati untuk yang alergi), dan sesekali menemukan kejutan dari kata-kata yang sudah tak lagi dipergunakan tapi kita tahu ada dan mengerti artinya. Dibandingkan Si Doel, mungkin tak lagi banyak yang ingat novel ini. Tapi seperti makhluk hidup, ia selalu punya cara untuk bertahan dan menghampiri pembaca baru. Yang beruntung bukanlah novel itu, tapi si pembaca yang bersua dengannya.

Semalam saya berjumpa Hasan Aspahani, ngobrol. Dan tautan “O Lelaki Dendam Itu Cantik” merupakan catatannya atas obrolan itu. Mungkin karena berdasarkan ingatan saja, beberapa bagian terbolak-balik (yang ditulis tangan itu Lelaki Harimau, bukan Cantik Itu Luka, misalnya). Tapi tak apa, nikmati saja obrolan kami itu :-)

Membayangkan Enny Arrow Sebagai Tonggak Kesusastraan Indonesia

Saya sedang membaca The Strangeness in My Mind di sebuah kedai kopi, ketika seseorang datang menghampiri. “Wah, kamu membaca Orhan Pamuk!” katanya. Saya menoleh. Mungkin dia orang Turki, atau seseorang yang merasa tahu banyak tentang Turki. Ia kemudian bertanya, apa pendapat saya tentang novel(-novel) Orhan Pamuk. Saya pun ngoceh sebagai pembaca, komentar apa adanya mengenai kesan-kesan saya. Beberapa pendapat itu sejujurnya saya comot dari pendapat orang lain juga, mungkin di ulasan surat kabar, atau di halaman belakang bukunya. Yang penting bisa ngoceh. Tiba-tiba dia sedikit kesal dan berkata, “Kamu enggak bisa begitu saja menganggap Pamuk sebagai wujud kesusastraan Turki. Kesusastraan Turki jauh lebih kaya dari itu. Kamu harus baca penulis-penulis terdahulu Turki, yang sangat keren, beberapa lebih keren dari dia. Juga harus baca penulis-penulis muda mereka. Pamuk hanyalah sebutir debu dari kesusastraan Tur …” Sampai di sini saya memotong dengan menggebrak meja. Dia hampir membuka mulut lagi, tapi saya bersiap menyumpal mulutnya dengan gulungan tisu. Dia akhirnya mingkem. “Siapa yang lagi belajar kesusastraan Turki?” tanya saya. “Dengar, Bung. Saya enggak peduli kesusastraan Turki seperti yang kamu katakan. Saya saat ini hanya membaca Pamuk. Mengerti?” Hal yang sama juga terjadi dengan penulis lain dan kesusastraan nasional yang lain. Sebagai orang yang tak pernah ke Norwegia, bayangan saya tentang negara (dan kesusastraannya) dibentuk oleh bacaan saya atas buku-buku Knut Hamsun. Bayangan saya tentang kesusastraan Argentina (yang saya puja tim sepakbola nasionalnya), juga dibentuk oleh bacaan saya atas karya-karya Borges, Cortazar dan belakangan mungkin oleh Ernesto Sábato. Apakah kesusastraan Argentina cukup dipahami hanya dengan membaca tiga penulis itu? Orang tolol di neraka juga tahu itu tidak mungkin. Mereka hanya tiga dari (barangkali) ribuan penulis yang membentuk kesusastraan Argentina. Tapi memangnya saya membaca karya-karya mereka dalam rangka memahami kesusastraan Argentina secara utuh? Ya enggak. Icip-icip sedikit, mungkin iya. Tapi utamanya ya, tetap untuk membaca mereka, sebagai diri mereka sendiri. Apakah Mo Yan mewakili kesusastraan Cina secara umum? Tidak. Tapi jangan salahkan pembaca asing yang membaca karyanya, jika ia membangun imajinasi sendiri mengenai kesusastraan dan negeri Cina, meskipun hanya membaca Mo Yan. Kadang-kadang saya tersesat ke artikel-artikel di internet mengenai ambisi-ambisi untuk memperkenalkan kesusastraan nasional negeri tertentu (biasanya negeri-negeri yang kesusastraannya memang tak terlalu dikenal) ke masyarakat dunia. Kadang-kadang tersirat ambisi konyol: mereka berharap dunia memahami kesusastraan nasional seperti mereka memahami kesusastraan nasional mereka sendiri. Lengkap dengan sejarah dan kanon-kanonnya. Ingin dunia memahami kesusastraan Korea seperti orang Korea memahami kesusastraan Korea, misalnya. Persis seperti orang di kedai kopi, yang ngomel-ngomel karena saya tak paham kesusastraan Turki, seperti bagaimana dia memahaminya. Ngomel dan jengkel karena saya cuma (merasa) kenal Pamuk (dan belakangan Ahmet Hamdi Tanpinar), sementara ada ribuan penulis di Turki. “Orang macam begini enggak selow,” pikir saya. Tapi saya juga bisa berempati, kok. Bisa memahami perasaannya. Bayangkan jika kita menerjemahkan karya-karya Enny Arrow. Bayangkan jika novela-novelanya yang tipis itu, terbit di The Paris Review atau Granta. Bayangkan jika orang-orang di luar negeri suatu saat membaca terjemahan karya-karya Enny Arrow itu, dan berpikir tentang Indonesia dan kesusastraannya melalui karya-karya itu. Pasti banyak orang Indonesia yang jengkel, sambil siap sedia ceramah tentang sejarah dan peta kesusastraan Indonesia. Dari Raja Ali Haji hingga penulis paling kekinian. Mereka juga bersiap membuat telaah-telaah kritis bahwa karya-karya itu tak hanya mesum, tapi juga tak ada nilai sastranya. Nulisnya aja ngawur. Karakternya datar. Tak ada alur cerita. Bla bla bla. Tapi sebagian besar dari pembaca asing itu mungkin tak peduli. Mereka kadung senang dan hanya mau baca Enny Arrow. Titik. Saya sih enggak bakalan jengkel. Saya malah rada berharap itu bisa terjadi. Seru. Sudah jelas saya sendiri enggak ada apa-apanya dibandingkan penulis satu ini. Pasti menyenangkan membayangkan orang asing membaca Enny Arrow lalu mereka membayangkan sastra Indonesia seperti novel-novel itu. Barangkali ada pembaca yang lebih gila: membayangkan Enny Arrow sebagai tonggak kesusastraan Indonesia. Mereka akan bilang: jika tujuan novel porno adalah untuk bikin pembaca terangsang, novel-novelnya berhasil secara sempurna. Mahakarya tak terbantah. Sastra kelas satu yang dihasilkan anak bangsamu! Penulis terbaik Indonesia dalam tujuh dekade! Dan seperti orang di kedai kopi, orang Indonesia jengkel. Presiden, menteri, kritikus, guru sastra, penulis, pemandu sorak kesusastraan, semua jengkel. Jengkel dan enggak selow. Beberapa jengkel mungkin karena pernah bikin novel porno tapi gagal bikin orang terangsang. Sebagian mewek di belakang meja. Mewek dalam arti sebenarnya, sebab memang banyak yang cengeng. Meraung-raung meminta tulung dan menghimpun kumpulan. Beberapa mulai membuat teori konspirasi tentang usaha-usaha asing menghancurkan kesusastraan dan kebudayaan Indonesia. Hahaha. Hail Enny Arrow!

“Even within this region, an awareness of each other’s literary works is to be encouraged. It is just unfortunate that Malaysians should need to be told of an Indonesian author by an American publisher.” Sebuah ulasan dari satu media Malaysia tentang Beauty Is a Wound.

Saya harap situasinya tak terus begitu. Saya membaca beberapa buku dari penulis Malaysia (memang belum banyak). Dan dalam beberapa bulan ke depan, setidaknya empat buku saya akan beredar di Malaysia dalam bahasa aslinya, diterbitkan oleh Dubooks.

“DPR Ingin Bangun Perpustakaan Terbesar Se-Asia Tenggara”. Menurut berita tersebut, rencana itu muncul setelah kunjungan sejumlah intelektual yang terdiri dari Rizal Mallarangeng, Ignas Kleden, Ayu Utami, Nirwan Dewanto, dan Nirwan Arsuka ke DPR.

Secara pribadi, saya menolak gagasan ini. Apa fungsinya? Untuk pamer? Kita tak memerlukan perpustakaan (ter)besar. Pertama dan terutama, kita memerlukan perpustakaan umum yang tersebar di seluruh pelosok negeri, setidaknya setiap kecamatan, dan koleksi yang layak untuk perpustakaan-perpustakaan sekolah.

Apa kabar, Bandung? Mari bertemu membincangkan novel O, di Pusat Studi Bahasa Jepang, Unpad. Rabu, 23 Maret 2016, 12.30 WIB.

« Older posts

© 2016 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑