Call of the Wild, Jack London

Saya sedang memandangi iPod sambil bertanya-tanya bagaimana mengatur ulang sistem benda itu. Saya memutuskan membuka Google, tapi pertanyaan yang terlintas di kepala saya malah: “How to reset my brain to factory settings?” Saya memutuskan tak menanyakan hal itu kepada Google, dan menjawabnya sendiri dengan membaca Call of the Wild, novel karya Jack London. Siapa tahu itu bisa membawa otak saya kembali menjadi anak-anak yang membaca novel petualangan seekor anjing. Lagipula novel itu bicara tentang anjing piaraan yang terpaksa harus kembali ke alam liar. Dengan kata lain, novel itu sejenis juga kan dengan jawaban jika pertanyaannya, “How to reset a dog to factory settings?” Baiklah, otak saya tak kembali ke pengaturan pabrik, tapi Buck, si anjing peranakan St Bernard dan Scottish Collie yang merupakan tokoh utama novel itu, sedikit banyak bisa mengajari saya apa jadinya jika kita, manusia, kembali ke pengaturan awal saat kita diciptakan: tanpa pengalaman, tanpa pengetahuan, tanpa perangkat mengolah pengalaman dan pengetahuan, dan semata-mata hanya mengandalkan insting bawaan atau naluri alamiah untuk bertahan hidup. Mungkinkah? Seperti kebanyakan penulis, tentu saja Jack London bersikap sok tahu. Tapi sikap sok tahu merupakan hal paling menarik dari seorang penulis, bukan? Tentu saja Buck tidak mendadak kembali ke keliaran. Novel ini justru menunjukkan, bagaimana seluruh pengalaman yang diperoleh Buck sebagai anjing piaraan, harus menghadapi alam liar. Permasalahannya barangkali jauh lebih mudah jika Buck tak pernah memiliki pengalaman dan pengetahuan sebagai anjing piaraan. Ia kembali ke alam liar dengan membawa beban pengalaman hidup yang tak cocok di sana. Ia seperti iPod saya yang akhirnya berhasil saya atur ulang seperti pengaturan dari pabrik: bahwa ternyata iPod saya tak berhasil menjadi seperti baru keluar dari pabrik karena selama “pengalaman” benda tersebut dipakai, saya pernah mencoba mengutak-atik sistemnya, mengunggah lagu tidak dengan semestinya (artinya tidak lewat iTunes), sehingga semua pengalaman itu justru malah menjadi beban, menjadi konflik, ketika bertemu dengan pengaturan awal dari pabrik. Bagaimanapun, kita dibentuk oleh pengalaman, seperti Buck dibentuk sebagai anjing piaraan. Pengalaman, yang kemudian menjadi pengetahuan itu, menjadi pemandu bagaimana kita menjalani hidup. Meskipun begitu, sebagaimana saya belajar dari Buck, ada hal-hal yang tersembunyi di kedalaman, yang ditimbun oleh pengalaman (dalam hal Buck, ditimbun oleh penjinakan generasi demi generasi). Hal-hal primordial. Hal-hal yang akan muncul ketika kita berada dalam situasi tidak biasanya, tertekan atau terasing. Baiklah, saya mulai seperti seorang psiko-analis. Mereka akan mengatakan: hal-hal primordial itu tersimpan di alam bawah sadar. Dalam kasus Buck, hal primordial itu adalah insting untuk bertarung, untuk memperlihatkan kekuasaan, dan akhirnya: untuk menjadi pemimpin. Dalam hal ini, ia harus berhadapan dengan Spitz, pemimpin kawanan anjing tersebut. Pertarungan di antara mereka, didorong hal primordial yang keluar dari bawah sadar, tak terelakkan. Spitz merupakan petarung karena dilatih sebagai petarung. Buck petarung karena ia memiliki darah petarung dari nenek-moyangnya. Buck memiliki apa yang tak dimiliki Spitz: imajinasi (ah, dalam hal ini mungkin Tuan Jack London benar-benar sok tahu). Buck mengalahkan Spitz bukan dengan cara menggigit lehernya, tapi dengan cara mematahkan dua kakinya. Imajinasi merupakan kata lain dari kelicikan. Yang licik, bukan yang kuat, akhirnya yang bertahan hidup. Di luar kisah Buck dan Spitz, yang paling mengharukan dan sekaligus mengganggu adalah kisah Dave, si tipikal anjing pekerja. Bagi yang belum membaca novel ini, ini kisah tentang anjing-anjing yang “kerja paksa” menarik kereta di keliaran alam utara, di hamparan salju Alaska di masa perburuan emas Klondike. Dave sekali waktu patah tulang kakinya, dan sakit. Posisinya digantikan anjing lain. Harga dirinya terluka. Ia bertarung memperebutkan tempatnya bekerja. Ia adalah anjing pekerja, tak satu pun boleh mencerabutnya dari itu. Bahkan manusia pun merasa aneh melihatnya mempertahankan pekerjaan, yang sebenarnya perlahan-lahan tengah membunuhnya. Tapi harga diri merupakan sesuatu yang primordial di sini. Bekerja bagi Dave, sama seperti memimpin bagi Buck. Hidup Dave akhirnya harus berakhir dengan pelor dari revolver tuannya, yang mungkin tak tahan melihatnya menderita. Berapa banyak manusia bersedia mati demi harga diri, demi hasrat primordial mereka? Kadang-kadang kita terpaksa belajar hal begini dari anjing-anjing. Kembali ke novel ini. Saya mencoba mengingat detail-detail kecilnya, nama-nama anjing dan manusia di dalamnya, berharap suatu malam jika anak perempuan saya minta didongengi (ia kadang-kadang meminta), saya bisa menceritakan dongeng tentang Buck. Bagian akhirnya mengandung sedikit ironi: Buck yang mendengar panggilan alam liar jatuh cinta kepada John Thornton, yang sekali waktu menyelamatkan hidupnya. Buck berkali-kali membayar utang nyawa tersebut. Hubungan mereka membuka kembali bagian insting Buck yang lain, yang primordial: untuk menjadi tuan atau dipertuan. Dalam hubungannya dengan manusia, anjing pada akhirnya dipertuan. Memperoleh tuan yang baik seperti John bisa merupakan anugerah, memperoleh tuan yang buruk tentu saja petaka. Tapi bagaimanapun, dipertuan manusia jelas bukan merupakan hal alami bagi anjing. John Thornton mati dibunuh Indian, dan Buck untuk pertama kali membunuh manusia sebagai pembalasannya. Pembunuhan ini menguarkan harga diri yang misterius dalam diri Buck. Dan menurut saya ini agak berbau Freudian. Untuk memutus hubungan tuan dan yang dipertuan, untuk kembali ke alam liar, untuk kembali ke gerombolan serigala: anjing harus membunuh manusia. Tapi tunggu, kenapa saya tiba-tiba sampai di sini? Bukankah saya sedang berusaha mengatur ulang iPod? Bukankah saya sedang berusaha mengembalikan otak saya ke keadaan saat keluar dari pabrik?

Gabriel García Márquez, Obituari

Bangun tidur dan melihat berita ringkas: raksasa kesusastraan abad 20, Gabriel García Márquez wafat pada umur 87 tahun (17 April 2014). Seharusnya itu tak mengejutkan. Ia sudah uzur, dan beberapa hari lalu masuk rumah sakit, dan alam semesta seperti juga manusia menciptakan segala sesuatu tidak untuk terus hidup abadi. Tapi bahkan dengan kesadaran seperti itu, serasa ada lubang menganga dalam peta kesusastraan di benak saya. Bagi saya, ia melebihi apa yang sering disematkan kepadanya: peraih Nobel Kesusastraan, patriarch fenomena el-boom, maskot realisme magis. Bagi saya, ia sesederhana raksasa kesusastraan abad 20 dengan sedikit pesimisme, barangkali kesusastraan dunia tak akan pernah menghasilkan manusia semacam ini lagi. Bagi saya, hanya sedikit raksasa pernah dilahirkan dan dikenal. William Shakespeare dan Miguel de Cervantes merupakan raksasa yang menandai suatu era kesusastraan modern. Setelah itu, saya ingin menyebut Herman Melville, yang terlihat seperti anak kandung dari perkawinan tak sah Shakespeare dan Cervantes. Abad 19 merupakan abad yang barangkali paling gegap-gempita, manusia mulai menengok wilayah yang selama ini seringkali diabaikan: di dalam dirinya. Era ini ditandai dua raksasa dari Rusia: Tolstoy dan Dostoyevsky. Di luar nama-nama itu, ada nama-nama penulis, ratusan atau bahkan ribuan. Mereka penulis-penulis hebat, besar, mengagumkan, tapi saya rasa kesusastraan dunia sebelum abad 20 hanya perlu dipatoki oleh lima nama itu saja. Anda bisa berdebat soal ini, tapi saya yakin kelima nama tersebut tak akan ke mana-mana. Mereka dengan penuh kepongahan telah mengencingi hampir seluruh karya kesusastraan yang diciptakan umat manusia. Abad 20 datang, dengan sisa-sisa kolonialisme yang renta, dua perang dunia, revolusi di mana-mana, negera-negara baru diciptakan, globalisasi merekatkan mereka. Penulis lahir di setiap sudut dunia, mereka hebat dan melahirkan karya-karya besar; tapi seperti sebelumnya, semua itu hanya perlu diberi tanda sederhana: abad ini melahirkan raksasa tunggal. Gabriel García Márquez. Gurunya orang-orang hebat, yang menyiapkan bahu mereka untuk pijakan raksasa ini dengan kerendahan hati: Hemingway, Faulkner, Kawabata, Kafka. Baru beberapa hari lalu saya membicarakannya dengan seorang teman, terutama mengenai esainya, yang saya rasa merupakan esai paling cemerlang tentang teknik menulis berjudul “Gabriel García Márquez Berjumpa dengan Hemingway”. Esai itu pendek saja, bercerita tentang pertemuan Márquez muda di jalanan Paris bersama Hemingway dan isterinya. Sebenarnya bukan pertemuan: si penulis melihat Hemingway di seberang jalan dan berteriak serta melambaikan tangan ke arahnya. Teman saya berkomentar pendek, sesuatu yang saya rasa sangat penting untuk diperhatikan sebab ini merupakan sedikit kunci untuk mengenali cara kerja menulisnya. “Bisa saja pertemuan dengan Hemingway itu bohong, tapi ia menuliskannya seolah-olah itu benar terjadi.” Jujur, komentar teman saya membuat saya sedikit terpaku. Selama bertahun-tahun membaca dan mengagumi esai itu, saya tak pernah terpikir oleh kemungkinan tersebut. Seluruh klaim pertemuan Márquez dengan Hemingway itu hanya datang dari si penulis sendiri, tapi peduli setan, esai itu tak banyak membicarakan pertemuan tersebut. Esai itu kemudian lebih banyak bicara tentang perbedaan cara menulis Hemingway dan Faulkner, yang saya rasa pendapatnya benar. Ia sendiri pernah berkata, satu fakta meyakinkan dari sebuah cerita, akan membuat seluruh cerita tersebut meyakinkan. Di esainya, ia membuktikan hal itu. Kecemerlangan gagasannya mengenai kepenulisan Hemingway dan Faulkner, membuat klaim pertemuan dirinya dengan sang maestro di jalanan Paris membuat itu juga tampak demikian meyakinkan. Kita tak lagi peduli benar atau salah. Seperti kebanyakan fans, saya membaca hampir seluruh karyanya. Juga wawancara dan biografi tentangnya. Juga ulasan orang tentang karya-karyanya. Satu yang saya ingat, Salman Rushdie pernah bicara tentang karya-karyanya, yang saya lupa di esai mana. Tapi saya ingat, Rushdie bicara tentang pola. Márquez selalu memulai cerita dari tengah, kemudian maju, lalu mundur, maju lagi, mundur lagi. Tapi bagi saya, itu tak sesederhana plot yang dibuka di tengah lalu maju lalu mundur. Márquez, ia seorang jurnalis dan belajar banyak dari dunianya, sadar sekali bahwa hakikat dari para pendongeng adalah memuaskan rasa ingin tahu pembaca. Dalam jurnalisme, pembaca ingin tahu terhadap satu peristiwa dan reporter atau penulis berita menyuguhkan apa yang ingin diketahui itu. Dalam penulisan fiksi, sebagaimana dalam dongeng, si penulis menciptakan sendiri rasa ingin tahu tersebut. Di sinilah, menurut saya, Márquez mempergunakan teknik yang akan membuatnya banyak dikenang: foreshadow, peramalan, pembocoran cerita. Jauh sebelum terjadi, ia sudah membocorkan mengenai Kolonel Aureliano Buendia akan berdiri di depan sederet regu tembak, bahkan sejak di kalimat pertama novel One Hundred Years of Solitude. Dan puncak teknik ini, bagi saya terletak di karya pendeknya, Chronicle of a Death Foretold. Peramalan ini tak hanya ia lakukan di pembukaan cerita, tapi terus ia lakukan di sepanjang cerita. Itulah kenapa, seperti Rushdie bilang, ada kesan bahwa alur plotnya maju-mundur. Tidak. Saya merasa ia melakukan cara bercerita yang relatif konvensional dengan alur maju, tapi dengan sisipan foreshadow. Sekali lagi, Anda bisa memperdebatkan ini. Dan saya yakin, perdebatan apa pun hanya akan menegaskan ia sebagai penulis jauh melampaui para penulis dari generasinya. Ia raksasa tak hanya untuk Amerika Latin. Ia telah mengencingi hampir seluruh karya di belahan dunia mana-mana. Saya tak tahu di abad 21, atau setidaknya di masa kita hidup, kita akan menyaksikan kelahiran raksasa lain atau tidak. Dan karya-karyanya, hampir sebagian besar, akan berada di rak dengan label pasti. Klasik. Selamat jalan, Patriarch.

PS: Ini beberapa tulisan saya tentang Gabo di arsip, barangkali tertarik juga membaca:

Dua Corat-coret di Toilet

Dua Corat-coret di Toilet

Seharusnya saya sadar, barangkali banyak orang yang tak tahu tahun 2000 saya menerbitkan kumcer Corat-coret di Toilet, sehingga ketika tahun ini buku tersebut terbit kembali, banyak yang menganggapnya buku baru. Tidak. Itu bukan buku baru. Itu edisi terbit-ulang. Bedanya dengan cetak-ulang: buku tersebut diterbitkan kembali oleh penerbit yang berbeda. Kenapa saya menerbitkan kembali karya lama? Bagi saya itu bukan pertanyaan. Itu hal lumrah. Selalu ada yang belum membaca, bukan? Jika saya memutuskan menambahkan dua cerita pendek di edisi 2014, anggap saja bonus. Di atas tulisan ini, saya sertakan foto kedua versi. Jika kamu memiliki edisi 2000, saya anggap kamu spesial. Versi itu tak lebih dari 2000 kopi, seingat saya. Jika kamu punya edisi 2014, kamu keren. Punya dua-duanya? Kamu spesial dan keren :-)

Kafka, Bernofsky, Keenan

metamorphosis front final 4.indd

Meskipun tahun ini telah memutuskan untuk lebih banyak membaca karya-karya klasik dari abad sembilan belas ke belakang, saya tak menutup kemungkinan membaca karya-karya yang lebih baru, atau bahkan kontemporer, jika memang menarik perhatian saya. Beberapa hari terakhir, saya membaca beberapa buku semacam itu. Salah satunya, The Metamorphosis, karya Franz Kafka. Tentu saja saya pernah membaca novela ini (sekitar 23.000 kata). Bahkan saya pernah menerjemahkannya juga (dari versi Bahasa Inggris yang saya lupa, versi terjemahan siapa, kemungkinan versi Edwin dan Willa Muir). Itu pekerjaan iseng saya bertahun-tahun lalu, ketika saya masih kuliah, dan seorang teman nekat menerbitkannya menjadi buku. Saya membeli dan membaca versi ini, terutama karena penasaran dengan terjemahan baru Susan Bernofsky. Jika Anda mengikuti perkembangan, berita atau sekadar gosip di lingkungan kesusastraan dunia dalam bahasa Inggris (yang artinya: lingkungan para penerjemah dan terjemahan karya sastra ke Bahasa Inggris) yang sebenarnya merupakan dunia kecil, Susan Bernofsky merupakan salah satu bintang cemerlang untuk penerjemahan Jerman-Inggris. Ia salah satunya menerjemahkan ulang karya klasik Herman Hesse, Siddhartha. Alasan kedua, atau bahkan alasan terpenting kenapa saya ingin memiliki buku ini, adalah: sampulnya. Entah yang keberapa kali saya membeli buku karena sampulnya. Jika ada pepatah don’t judge a book by its cover, saya salah satu yang mengabaikan pepatah tersebut. Sebagai perancang grafis amatir, saya penikmat sampul buku, dan sampul buku bisa memengaruhi keputusan saya membeli dan membaca buku. Sampul The Metamorphosis yang ini karya perancang Inggris bernama Keenan, dan saya rasa merupakan salah satu sampul buku terbaik yang pernah saya lihat (lihat foto). Permainan tipografi judul yang membentuk ungeheures Ungeziefer (atau dalam terjemahan Bernofsky: ‘some sort of monstrous insect’), saya rasa berhasil menggambarkan ketidakpastian binatang yang dirujuk karya ini. Keadaan mengambang, tak terdefinisikan dengan pasti, saya rasa merupakan kekuatan utama kisah ini, memberi dampak teror dan horor yang lebih ketimbang seandainya Kafka menyebut binatang tersebut secara jelas spesies apa (karena dalam kadar tertentu, binatang yang dianggap menakutkan dan menjijikkan di satu tempat, mungkin dianggap lucu-imut di tempat lain). Dan sampul karya Keenan, dengan caranya yang unik, berhasil menangkap hal tersebut. Buku ini tak hanya layak untuk dibaca kembali, tapi bahkan disimpan sebagai koleksi. Saya tak akan meminjamkannya kepada siapa pun. Terlalu bagus untuk risiko kehilangan.