Journal

Barthes Mengajari Saya Memahami Bahasa Kucing

Image Music Text, Roland Barthes

Saya memelihara seekor kucing persia pemberian seorang teman. Konon, kucing akan mengeong dengan bunyi serta ekspresi yang berbeda kepada orang yang berbeda, seperti kita punya panggilan yang berbeda kepada orang yang berbeda. Mungkin benar. Setidaknya saya sering merasa tahu jika ia mengeong untuk saya (Anda bisa juga menganggap saya sok merasa tahu saja). Tapi lama-kelamaan, saya toh terpaksa belajar “bahasa” kucing, setidaknya bahasa Si Puspita (nama kucing saya, jika bahasa yang dipergunakannya ternyata berbeda dengan bahasa kucing lain). Saya bisa tahu persis jika ia mengeong dengan suara tertentu, ditambah gerakan-gerakan tertentu di dekat pintu kamar mandi, artinya “Aku ingin minum, ambilin air, dong!” Nah, ketika saya membaca buku Roland Barthes berjudul Image Music Text, terpikir juga oleh saya, barangkali buku ini bisa membantu saya memahami bahasa kucing, atau membuat saya mengerti kenapa saya paham bahasa kucing (dalam hal ini, Si Puspita). Kenapa tidak? Membaca buku ini saya merasa diajak untuk kembali belajar membaca. Ya: belajar membaca. Belajar memahami bahasa, tak melulu sebagai ekspresi linguistik, tapi juga sebagai ekspresi narasi. Bahwa “Bond saw a man about fifty” (dari Goldfinger, Ian Fleming) tak semata-mata informasi yang tersurat, tapi juga memiliki fungsi tentang deskripsi seseorang yang ditandai dengan perkiraan umur, dan informasi bahwa Bond tak begitu kenal orang tersebut, sesuatu yang akan bermakna dalam novel itu. Bahwa “meong” bukan sekadar suara seekor kucing, sebab bisa juga berarti “Aku boleh lompat ke pangkuanmu, enggak?” Buku ini merupakan kumpulan esai terpilih Barthes. Bagi banyak orang mungkin yang paling populer adalah esai berjudul “The Death of the Author” yang begitu sering dikutip (dan sering pula disalah-pahami), jadi terasa basi dan saya tak akan menyinggung-nyinggungnya lagi. Esai paling menarik menurut saya adalah “Introduction to the Structural Analysis of Naratives”. Esai itu seperti merangkum seluruh esai di buku ini, dan secara ringkas bisa dikatakan sebagai esai tentang “belajar membaca”. Begini lho cara membaca kalimat. Begini lho cara membaca wacana. Begini lho cara membaca cerita. Dan kalau ilmu dari esai itu bisa saya pakai untuk belajar membaca novel-novel James Bond, kenapa saya tak mencoba pakai untuk membaca meong-meong kucing saya? Jadi meskipun Barthes mengaku bahwa bentuk-bentuk narasi di dunia ini tak terhitung, dan mustahil meneliti semuanya untuk menemukan sejenis “kesimpulan”, ia toh mencoba mengorek-ngorek strukturnya, memotong-motongnya. Dan menurut saya, ini sungguh mengasyikkan. Saya sudah sebutkan bahwa “meong” bukan semata-mata “meong”. Ada berlapis-lapis tingkatan makna di baliknya. Setidaknya ada berlapis-lapis tingkatan deskripsi dalam setiap narasi. Yang tadi saya sebut baru tingkat fungsi. “Fifty” dalam “Bond saw a man about fifty” memiliki fungsi untuk menciptakan karakter juga. Luntang-lantung Si Puspita di depan pintu kamar mandi memiliki fungsi untuk menjelaskan bahwa ia ingin minum. Dan fungsi ini, tanpa harus diterang-jelaskan, juga merujuk ke suatu makna lain yang lebih kompleks: saya harus membuka pintu kamar mandi, ambil air dengan gayung, meletakkan gayung berisi air di lantai agar kucing saya bisa minum. Anda mungkin berpikir apakah kucing saya secerdas itu sampai bisa menyampaikan pesan sekompleks demikian kepada saya? Tidak. Kucing saya tidak secerdas itu. Dalam beberapa hal dia tolol. Dia sering tak bisa mengukur jarak, melompat tak tepat sasaran hingga jatuh atau terbentur. Pokok soalnya bukan itu. Pokok soalnya adalah bagaimana kita (saya) membaca pesan si kucing. Membaca tak hanya di tingkat harafiah, apalagi sekadar bunyi dan aksi (kucing luntang-lantung di depan pintu kamar mandi), tapi membaca tingkat-tingkat makna narasi lainnya. Baiklah, Barthes mungkin tak pernah memaksudkan esainya ini untuk dipergunakan balajar membaca atau memahami meong si kucing. Tapi apa pedulinya? Saya membaca bukunya, dan terserah saya lah menarik makna dan mempergunakan pengertian saya untuk apa. Ya, kan? (Iya, pernyataan terakhir itu terpaksa merujuk ke esainya yang lain, apa boleh buat).

Standard
Journal

Misreadings, Umberto Eco

Di satu malam di satu lorong kota Bologna, seorang profesor dihadang seseorang yang tanpa basa-basi langsung memukulnya jatuh, menendangnya, dan ketika mencoba bangkit, dipukul lagi. Setelah dibawa ke rumah sakit oleh dua biarawati yang kebetulan lewat dan melihatnya tergeletak, diketahui profesor tersebut adalah Umberto Eco. Si penyerang baru diketahui beberapa hari kemudian setelah berhasil ditangkap oleh polisi. Ia seorang penulis muda bernama Dante Alighieri. Rupanya Dante kesal atas komentar sang profesor, yang diperkerjakan oleh penerbit untuk menyaring naskah dan membuat ulasan ringkas, atas karyanya yang berjudul The Divine Comedy. Sang profesor antara lain bilang, “Alighieri merupakan tipikal penulis sambilan.” Kemudian, meskipun mengakui kualitas teknisnya, ia menyarankan penerbit untuk menolak buku tersebut, sebab menurutnya buku ini terlalu posmo, ditulis dengan dialek Florence yang berat. Kalau mau menerbitkannya secara luas, harus menerbitkan versi dialek Milan dan lainnya. “Itu pekerjaan penerbit kecil.” Profesor Eco memang sering menulis di Il Verri, kadang ulasan ringkas atas karya yang akan atau telah terbit, kadang esai tentang beberapa isu, tapi gayanya yang nyeleneh dan seringkali kasar, tak urung memancing emosi banyak orang. Masih untung jika hanya mendapat sanggahan yang sama kerasnya di majalah sastra, seperti sudah ditulis di muka, kadang ia memperoleh serangan fisik. Kasus pemukulan oleh Dante jelas bukan yang pertama. Sebelumnya, sekelompok (atau seseorang?) yang menamakan dirinya sebagai Anonymous juga menghadangnya, tepat di depan apartemennya ketika ia baru pulang dari kampus agak larut malam. Polisi tak pernah berhasil mengusut siapa Anonymous ini, mereka hanya curiga, “Mungkin sekelompok hacker internet yang berusaha cari perhatian dengan cita-cita meruntuhkan tatanan lama yang telah bobrok”. Tapi tak ada klaim apa pun di internet oleh Anonymous ini mengenai penyerangan atas Profesor Eco. Apa yang terjadi, sepenuhnya bersumber dari satu sisi, sang profesor sendiri. Semuanya bermula dari ulasannya mengenai buku The Bible, yang menurut profesor ditulis oleh Anonymous. Sebenarnya profesor memuji naskah tersebut dengan bilang, “Beberapa ratus halaman pertama benar-benar mencengkeramku. Penuh aksi, memiliki segala yang diinginkan pembaca kiwari dalam sebuah cerita yang baik. Ada seks (banyak, termasuk perzinahan, sodomi, inses), juga pembunuhan, perang, pembantaian, dan lain sebagainya.” Tapi kemudian ia curiga buku tersebut sebenarnya antologi banyak penulis, terlalu banyak puisi, dan ungkapan-ungkapan yang membosankan. Segalanya ada. “Buku ini seperti hendak menyenangkan semua orang, tapi akhirnya tak membuat senang siapa pun.” Bahkan sang profesor menyarankan, buku itu harus dipenggal, terbit bagian depannya saja. Cukup lima bab. Selain itu harus ganti judul. Anonymous menyerangnya dengan kesal, mengata-ngatainya tak tahu apa-apa soal sastra dan, bahwa buku tersebut memiliki nilai jauh melebihi sekadar cerita. “Kamu salah baca,” kata Anonymous. Profesor Eco, kemudian tak yakin apakah yang menyerangnya satu orang atau beberapa orang. Ia ditemukan pagi hari dalam keadaan babak belur dan tak sadarkan diri. Di luar itu, ia juga pernah membuat kesal sekelompok sutradara film, karena membocorkan resep mereka dalam membuat cerita. Resep yang disimpan dalam lemari terkunci di studio, tapi entah bagaimana Profesor Eco berhasil mendapatkannya. Ia diadukan ke pengadilan oleh Antonioni, Jean-Luc Godard, Luchino Visconti dan beberapa yang lain dengan tuduhan, “Membocorkan rahasia hak cipta pola menulis cerita film”. Ia kalah di pengadilan dan harus membayar denda yang membuatnya nyaris bangkrut. Untunglah tak lama selepas itu, novel sang profesor, The Name of the Rose, meledak tak hanya di Italia tapi di seluruh dunia, membuat kondisi finansialnya membaik, bahkan melebihi sebelumnya. Rupanya kasus pengadilan itu tak membuatnya kapok, ia terus menulis ulasan dan esai di majalah sastra Il Verri, dan terus membuat masalah dengan banyak orang. Ia mengomentari Justine karya Sade sebagai terlalu banyak filosofi. “Pembaca sekarang mau lebih banyak seks, seks, dan seks.” The Trial, karya seorang bujangan bernama Franz Kafka dikatainya sebagai “seolah ditulis di bawah rezim otoriter” dan harus diedit, sementara Finnegans Wake karya James Joyce dianggapnya tidak jelas ditulis dalam bahasa apa, yang jelas bukan bahasa Inggris. Tapi kasus yang mungkin merusak reputasinya adalah ketika Porfesor Eco menerbitkan cerita (masih di majalah yang sama) berjudul “Granita”. Banyak orang langsung menuduhnya melakukan plagiat atas novel berjudul Lolita. Memang tak sama persis. Di cerita yang ditulisnya, Eco mengganti si gadis kecil Lolita dengan seorang nenek bernama Granita. Ya, ini tentang seorang lelaki yang tergila-gila kepada perempuan yang sudah tua. Meskipun ada perbedaan tersebut, orang tetap menganggapnya melakukan plagiat. Coba lihat pembukaan ceritanya: “Granita. Bunga masa remajaku, derita malam-malamku. Akankah aku melihatmu lagi? Granita. Granita. Gran-i-ta.” Bahkan akhirnya Vladimir Nabokov menyeretnya ke pengadilan. Ini pengadilan kedua untuk Profesor Eco. Kali ini, dengan pembelaan yang penuh semangat dan melibatkan begitu banyak referensi, Eco berhasil meyakinkan hakim tentang perbedaan plagiat dan parodi. Pengadilan membebaskan Eco dalam kasus tersebut. Meskipun begitu, banyak mahasiswanya yang dipenuhi jiwa-jiwa muda yang membara, tetap merasa kecewa. Mereka mulai mempertanyakan reputasinya sebagai profesor, dan berombongan meninggalkan kuliah-kuliah semiotiknya, beralih ke kuliah teologi yang menurut mereka lebih memberi kepastian mengenai bagaimana menafsir segala sesuatu. Dengan berbagai kasus tersebut (tidak semuanya ditulis di sini), Profesor Eco akhirnya berhenti menulis di Il Verri. Tapi ketika namanya sebagai novelis maupun profesor semiotik semakin moncer, penerbit berniat untuk menerbitkan tulisan-tulisan tersebut dalam sejilid buku. Meski awalnya ragu, akhirnya Profesor Eco setuju. Tapi untuk menghindari masalah-masalah lebih lanjut, terutama serangan mematikan di jalanan dari penulis atau orang yang kecewa, dan teringat kepada Anonymous, Profesor Eco memberi judul buku tersebut sebagai Misreadings.

Standard
Journal

Noli Me Tangere, José Rizal

Setelah beberapa lama cuma niat, akhirnya kesampaian juga membaca novel ini. Awalnya karena hendak membicarakan buku Benedict Anderson, Di Bawah Tiga Bendera: Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial, saya merasa harus membaca setidaknya satu (dari dua) novel José Rizal, sebab buku tersebut hampir sepertiganya bicara tentang sang revolusioner Filipina. Demikianlah akhirnya saya membaca Noli Me Tangere (saya membaca versi terjemahan Inggris lawas, yang judulnya jadi The Social Cancer, sementara edisi yang baru mempergunakan judul asli dengan terjemahan Inggris di dalam kurung sebagai: Touch Me Not). Ini sebuah novel dengan latar masa kolonial Spanyol di Filipina, dan bisa juga disebut sebagai novel epik Filipina, tak hanya karena isinya, tapi juga efek yang diciptakan oleh penerbitan novel ini. Membaca beberapa bab awal, kita sudah disajikan dengan kebrutalan kekuasaan kolonial. Dikisahkan Crisóstomo Ibarra, sang tokoh utama, selepas bertahun-tahun mengembara di daratan Eropa akhirnya pulang ke Filipina hanya untuk menemukan ayahnya sudah meninggal (dan selama itu tak ada yang memberitahunya). Ia kemudian tahu bahwa ayahnya telah dihukum mati oleh konspirasi penguasa-penguasa lokal, yang meliputi penguasa kolonial serta para pemimpin gereja. Tak hanya itu, ketika ia mencari kuburannya, Ibarra tak menemukan kuburan itu. Ia akhirnya bertemu seseorang yang memberitahu: mayat ayahnya telah digali dan dibuang ke danau. Di sinilah ia mulai terlecut, kemarahannya kepada kekuasaan kolonial mulai membara, tapi ternyata kebrutalan tersebut belum cukup sampai di sana. Apa yang membuat kekejian kolonialisme terasa menyayat, terutama karena di novel ini, José Rizal berhasil membawa masalah sosial tersebut menjadi kisah-kisah individu. Kisah cinta Ibarra dan María Clara memiliki porsi yang sangat signifikan di sini, di mana kisah cinta mereka harus berakhir tragis lagi-lagi oleh konspirasi jahat antek-antek kolonial dan gereja. Di titik ini, pembaca Indonesia mungkin akan teringat kepada novel Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer (dengan kisah Minke dan Annelisnya), setidaknya saya merasakan sejenis bayang-bayang tersebut. Mungkin Pram terinspirasi novel ini (Noli Me Tangere terbit 1887, hampir satu abad sebelum novel Pram)? Dan sekuelnya, El Filibusterismo mungkin juga membayangi Anak Semua Bangsa, terutama dalam konteks “globalisasi”-nya. Selain kisah cinta dua anak muda yang berakhir tragis dipisahkan oleh kuasa kolonial, ada hal-hal yang juga bisa diperbandingkan: baik Minke maupun Ibarra sama-sama bisa dibilang “elit lokal”, yang sama-sama memperoleh pendidikan kolonial (Ibarra lebih dari itu, ia bisa sekolah ke luar negeri, dan dalam tubuhnya juga mengalir darah Basque, ia seorang mestizo). Tapi tentu saja ada beberapa perbedaan mencolok. Bumi Manusia bisa dibilang roman sejarah, sementara novel ini justru bisa dilihat mendahului gerakan-gerakan revolusioner Filipina. Ia semacam inspirasi bagi kaum revolusioner Filipina untuk bangkit melawan, dan José Rizal sendiri, beberapa tahun kemudian, tak hanya diasingkan, tapi juga dihukum mati sebagai pahlawan bangsanya (dan banyak yang mengaitkan dirinya sebagai Ibarra). Selain itu, dua hal mencolok dalam novel Rizal: kebrutalannya (tak hanya hukuman mati, mayat digali, tapi juga penggantungan di muka umum, bahkan seorang anak dipenggal kepalanya dan digantung di muka rumah ibunya), juga keterlibatan kekuasaan gereja yang membuat rakyat Filipina seperti dijajah dari kiri dan kanan, di mana di-ekskomunikasi oleh gereja sama menakutkannya daripada dipenjara. Di luar itu, novel ini juga memberi sejenis keajaiban seperti dicatat Ben Anderson: Di Republik Kesusastraan Global, novel ini lahir dari pinggiran. Ia tak hanya merupakan novel modern paling awal yang menggetarkan Asia Tenggara, tapi juga mendahului banyak novel besar di Asia (ya, bahkan terbit duluan sebelum Max Havelaar, meskipun kemudian José Rizal juga mengagumi novel ini). Untuk memahami kenapa bisa seperti itu, buku Ben Anderson di awal tulisan ini mungkin perlu dibaca, sebagai pengantar yang menarik sebelum menikmati novel ini, terutama bagi yang tak terlampau akrab dengan sejarah Filipina atau konteks zaman di abad sembilan belas.

Standard
Journal

The Encyclopedia of the Dead, Danilo Kiš

Simon Magus bisa jadi sejenis olok-olok tentang kisah para nabi, rasul, orang suci, santa, wali dan sejenisnya yang penuh dengan mukjizat dan pengorbanan. Seperti para rasul, dia juga berkeliling untuk berkhotbah (tujuh belas tahun setelah kematian Yesus dari Nazareth), tapi dia meyakinkan orang-orang bahwa, “Aku bukan rasul.” Ya, benar. “Mereka menjanjikan keselamatan abadi, aku menawarkan pengetahuan dan keheningan.” Hingga ia mengejek omong-omong tentang mukjizat, yang membuat berang Peter yang kemudian menantangnya untuk menampilkan mukjizat sendiri. Kisah ini juga memperlihatkan kearoganan orang-orang yang merasa dirinya saleh, pengikut juru selamat (digambarkan melalui Peter dan murid-muridnya). Simon Magus memperlihatkan kepada mereka bahwa ia bisa terbang, meskipun kemudian ia harus jatuh dan remuk. Tapi itu tak membuktikan kelemahannya sebagai “manusia biasa” yang “bukan rasul” itu. Dalam kisah ini, itu membuktikan ajarannya bahwa “hidup manusia membusuk dan binasa, dan dunia berada di tangan tiran. Dikutuk oleh yang terbesar dari semua tiran, Elohim.” Itu merupakan cerita pertama dalam kumpulan cerita Danilo Kiš, The Encyclopedia of the Dead. Jika membayangkan ia seorang penulis yang mengolah sejarah, mitos, tradisi kesusastraan, yang terobsesi dengan politik dan membalutnya dengan fantasi, jelas itu salah khususnya mengenai fantasi. Ia tak percaya fantasi, meskipun dalam cerpen-cerpennya tampak pengaruh kuat dari Borges maupun Bruno Schulz. “Definisiku tentang kesusastraan,” katanya, “merupakan suatu usaha atas visi umum realitas dan kehancurannya yang berkesinambungan.” Kisah hidup penulisnya sendiri barangkali sama ajaibnya dengan fiksi-fiksinya. Ia lahir tahun 1935 di Yugoslavia, negeri yang sudah terhapus oleh sejarah (di Wikipedia, saya melihat wajahnya dicetak di prangko Serbia juga Montenegro), dan menulis dalam bahasa Serbo-Kroasia, yang dipergunakan di beberapa negara tapi mereka lebih suka menamainya dengan nama masing-masing dan kemudian memiliki standarnya masing-masing. Ia seperti ditakdirkan untuk “terkubur”, tapi seperti bayi-bayi agung yang mengawali hidupnya dengan cara yang menyedihkan, penulis ini dan buku-bukunya, terutama setelah kematiannya di tahun 1989, mulai memperoleh pembaca di mana-mana. Cerpennya yang lain, yang menjadi judul kumpulan ini, barangkali semakin mengingatkan kita pada Borges. Itu merupakan ensiklopedi orang-orang yang sudah mati. Semua orang yang sudah mati, kecuali orang itu ditulis di ensiklopedi yang lain (jadi ini ensiklopedi khusus orang-orang biasa). Beberapa saat setelah kematian ayahnya, si narator menemukan buku ini di satu perpustakaan di Swedia dan ia membaca entri tentang ayahnya. Kisah hidup orang biasa yang barangkali mewakili sebagian besar orang biasa. Tapi berbeda dengan Borges, Kiš tak tertarik dengan metafisika maupun spekulasi filsafat. Ia lebih tertarik kepada keajaiban yang ditawarkan oleh kehidupan sehari-hari, oleh realitas yang “lebih ajaib dari fiksi”. Demikianlah cerpen-cerpennya menjadi sejenis kisah realis biasa yang digempur oleh berbagai keajaiban tanpa harus menjadikannya fantasi maupun fantastik. Hanya ada sembilan cerpen di dalamnya, tapi saya kira ini merupakan salah satu buku yang harus ditengok berkali-kali, terutama bagi penggemar cerita pendek, terutama karena Kiš memang tak menerbitkan banyak karya. Sangat layak berada di tempat yang sama dengan Ficciones Borges maupun The Street of Crocodiles Bruno Schulz, sebagaimana juga berjejer bersama cerpen-cerpen karya Cortazar.

Standard
Journal

The Wretched of the Earth, Frantz Fanon

Beberapa hari terakhir ini pekerjaan saya menunggui rumah sambil mengurus dua makhluk: anak perempuan saya dan kucing persia pemberian teman. Tak ada soal. Tinggal memastikan makanan mereka terpenuhi. Masalah suka muncul ketika saya memasak sesuatu, membuka pintu dapur, kemudian seekor kucing kampung (baru melahirkan dua anak) tiba-tiba nyelonong masuk. Lebih sialnya lagi, dia seperti sudah tahu harus ke mana: masuk dengan cepat ke arah tempat makan kucing kami, dan memakan pakan kucing. Kesel? Tentu saja. Saya merasa dirampok di depan mata saya sendiri. Naluri saya segera mengejarnya, menghardiknya, dan memaksanya keluar rumah. Tapi begitu dia sudah di luar pintu, memandang saya dengan tatapan memohon, apalagi dua anaknya bergabung, hati saya runtuh. Kenapa saya memberi makan persia saya dengan begitu melimpah, sementara si kucing kampung malah saya hardik? Saya sedang mempraktekan rasialisme? Saya akhirnya masuk, meraup makanan kucing kami dan memberikannya kepada si kucing kampung yang segera makan dengan lahap. Saya bahkan memeriksa lemari, mengumpulkan sisa-sisa makan sahur (sisa ayam atau ikan) dan memberikannya juga. Semua kejadian itu terjadi, sementara saya dengan sok intelek membaca buku tentang kolonialisme, rasialisme, kekerasan, perbudakan. “Dua abad lalu, satu bekas koloni Eropa memutuskan untuk mengejar Eropa. Ia berhasil begitu gemilang membuat Amerika Serikat menjadi sejenis monster, di mana noda-noda, penyakit dan kebiadaban Eropa telah tumbuh ke arah dimensi yang mengerikan. Kawan, tak punyakah kita pekerjaan lain selain menciptakan Eropa ketiga?” Frantz Fanon dalam bukunya The Wretched of the Earth sedang bicara tentang dosa Eropa, dosa yang sisa-sisanya bahkan masih tersisa hingga hari ini di sebagian besar permukaan bumi: kolonialisasi. Dan kolonialisasi jelas bukan semata-mata datangnya pasukan Eropa ke Afrika, Asia dan Amerika lalu menguasai tempat-tempat tersebut, di sana ada pemaksaan nilai-nilai, perampokan sumber daya alam, rasialisme yang berujung kepada perbudakan. Di dalam banyak aspek, kolonialisme telah menjadikan manusia biadab, manusia yang kehilangan kemanusiaannya. Tentu saja sangat jomblang dan keterlaluan membandingkan kolonialisasi dan perbudakan manusia dengan pengalaman mengurus kucing ras dan menghardik kucing kampung. Tapi pada saat yang sama, buku itu dengan gamblang menunjukkan banyak hal tentang asal-usul kekerasan yang melekat di kita, prasangka ras dan kelas, dan ketimpangan tak hanya ekonomi tapi juga pendidikan. Saya tak memungkiri kadang punya prasangka atas kucing kampung: kotor, tukang rampok, tukang kawin, dan intinya: savage. Lalu berpikir: kucing kampung juga kalau dipelihara dengan baik dan diberi makan makanan yang baik, tentu juga akan baik (dari perilaku, kebersihan, bahkan mungkin gambaran kita tentang kecantikan). Tapi jelas itu penyederhanaan, dan mungkin penuh bias. Sama seperti penyederhaan jika orang Afrika (atau Asia) seharusnya diberi pendidikan Eropa, tinggal di Eropa, makan makanan Eropa, baju Eropa, agar ia menjadi seperti orang Eropa. Buku yang benar-benar menggedor tak hanya nalar kita, tapi juga nurani. Bagian paling menariknya, karena selain aktivis dan simpatisan kemerdekaan Aljazair, Fanon juga seorang dokter dengan spesialisasi psikiatri, ia bisa bicara dari sudut pandang penyakit-penyakit mental, baik individu maupun sosial. Kolonialisme jelas telah mewariskan banyak masalah sosial, juga masalah mental. Tak hanya di negara jajahan, tapi di negeri-negeri Eropa. Dalam hal ini, bolehlah juga saya curiga, cara pandang kita terhadap kucing peliharaan dan kucing kampung juga sebenarnya dosa manusia yang telah berumur panjang: sejak masa kita mendomestikasikan kucing. Benarkah kucing kampung ingin dipelihara? Jangan-jangan perilaku kucing kampung, yang suka merampok, tukang kawin, dan kotor itu juga “diciptakan” manusia? Sebagaimana para penjajah sering menyebut panduduk negeri jajahan sebagai “pemalas” (dan juga “tukang kawin”?), dan julukan ini juga akhirnya diadopsi sebagian penduduk bekas negeri jajahan (kelas borjuasi kecil yang naik peringkat, dan merasa sudah meng-Eropa) untuk mengata-ngatain rekan sebangsanya yang tidak beruntung. Saya tak tahu apa yang dipikirkan kucing kami ketika ia melongok di jendela dan melihat kucing kampung bergelung di trotoar pinggir jalan. Ada yang mau nulis sehebat Fanon tapi dengan tema kucing? Monggo.

Standard